[FF/ongoing/PG-15] Ring Ding Dong – Chapter 1 “Butterfly”

Author’s Note : Akhirnya dipost juga Ring Ding Dong setelah lebih dari sebulan harus sabar untuk tidak nulis ini dulu karena masih banyak hutang FF. Tapi karena udah mentok banget di otak dan tangan gatal pengen nulis, ya sudah di post lebih cepat dari yang direncanakan. FF-nya juga cukup lama dipikirkan karena author sendiri bingung mau memakai sudut pandang apa. Penentuan nama pemain special performancenya pun perlu dipikir ulang jadinya banyak nama pemain yang diubah. Dan maaf untuk Laras, di Chapter 1 ini belum muncul karena tuntutan cerita. Tapi di Chapter selanjutnya gx bakal kalah banyak kok dengan yang lainnya. Jadi sabar ya ^-^ Ok, let’s start it. Happy reading >.<. FF ini terinspirasi setelah author nonton MV SHINee yang berjudul Ring Ding Dong.

Title : Ring Ding Dong
Author : Miki
Author’s blog: http://miki501.wordpress.com
Rating : PG-15
Genre : Fantasy, Romance
Location : South Korea
Language : Indonesian
Pairing : SHINee
Special Performance :
– Park Hyunhae Acha as Minji
– Ran Hyunsaeng Acha as Yunha
– Dwita Nitoayu Astari as Hyunri
– Dinianty Poullyne as Shinrin
– Chan Chan Greenpeas as Sunmi
– f(x)
– The Grace
– Super Junior

Disclaimer: I don’t own the SHINee members either f(x). They belongs to SM Entertainment. But the plot is pure mine. All the things happen in this story just a fictional

Ring Ding Dong

Butterfly

Shinrin pagi itu memasuki SMA Shin yang telah lama ia impikan untuk bisa masuk ke salah satu sekolah elit di Seoul tersebut. Shinrin tertarik akan namanya, Shin, yang berarti “Dewa”. Tahun ajaran baru di bulan Juli ini menjadi sambutan hangat musim panas bagi Shinrin. Ia menggandeng tas ransel merahnya dengan seragam musim panas barunya menuju aula sekolah untuk penyambutan murid baru. Awalnya Shinrin sedikit kesulitan menemukan tempat yang akan ia tuju. Tetapi ia mengikuti beberapa murid yang tampaknya murid baru juga seperti dirinya. Shinrin memasuki aula yang sudah dihias sedemikian rupa untuk menyambut para murid baru. Ia duduk di barisan keempat dari depan, sehingga ia dapat dengan jelas melihat keadaan di depannya. Semua tempat duduk di aula itu hampir punuh, kecuali barisan-barisan belakang. Semua murid ingin dengan jelas dapat melihat ke panggung.

Seseorang menuju panggung dan menaiki podium. Dari penampilannya, Shinrin dapat menebak bahwa ia pasti Ketua OSIS atau semacamnya. Pakaiannya rapih dan elegan tanpa lekukan. Sorot matanya hangat. Wajahnya yang tampan tampak begitu meyakinkan bahwa ia salah satu murid terbaik di sekolah.

“Selamat pagi semuanya. Saya Ketua OSIS Onew mengucapkan selamat kepada para murid baru. Semoga kalian semua senang bersekolah di sini. Saya akan mengumumkan beberapa aturan yang berlaku di sekolah ini. Pertama, sekolah dimulai pukul delapan pagi dan berakhir pukul empat sore. Tidak boleh ada yang datang terlambat maupun pulang terlebih dahulu dengan lainnya. Semua murid dilarang bekerja sambilan. Dilarang berada di sekolah lebih dari pukul 6 sore, kecuali jika ada keperluan dan dengan persetujuan guru atau OSIS. Hanya itu yang perlu aku sampaikan. Sisanya kalian bisa lihat sendiri di lembar pengumuman penerimaan kalian. Silahkan ke kelas kalian masing-masing. Jangan terburu-buru. Dan sekali lagi, selamat datang di SMA Shin!” Ketua OSIS mengakhiri pidato singkatnya dengan aplaus para murid baru yang segera berdesak-desakkan menuju keluar aula dan menyambut kelasnya masing.

“Kalau tidak salah, aku kelas 1 C,” kata Shinrin padanya dirinya sendiri sembari mengecek kartu siswanya. Benar, 1 C. Tapi dimana itu?

“Shinrin? Kelas 1 C?” Seorang murid lelaki menghampiri Shinrin yang masih bingung akan memilih jalur mana. Lelaki itu sepertinya seumuran dengan Shinrin dan juga murid baru.

“Ah ya. Bagaimana kau tahu namaku?” tanya Shinrin.

Lelaki itu menunjuk ransel merah Shinrin yang bertuliskan namanya di bagian depan. Sedari itu Shinrin merasa amat konyol. Ia tersenyum tidak jelas pada lelaki itu dengan malu.

“Kau tahu dimana kelas 1 C?” tanya lelaki itu sembari berjalan di tengah kerumunan. Sekarang Shinrin yakin bahwa murid kelas 2 dan 3 mulai beredar di kerumunan tersebut.

“Tidak. Aku sedang mencarinya.”

“Kalau begitu aku yakin pasti ke arah situ. Ayo.” Tanpa menoleh lagi lelaki itu langsung menyambar lengan Shinrin dan menyeretnya di tengah kerumunan. Cowok ini aneh, batin Shinrin, ia bahkan tidak menyebut namanya atau apapun.

Lelaki itu tetap menyeret Shinrin menuju ujung lorong yang sudah tidak seramai tadi. Mereka berhenti di depan sebuah kelas betuliskan 1 C di depan pintunya.

”Kau sudah tahu sejak awal ruangannya di sini kan?” tebak Shinrin.

”Tidak. Aku juga tadi hampir tersesat sepertimu,” kata lelaki itu. ”Ayo masuk. Bagaimana kalau kau duduk bersamaku? Aku belum mengenal siapapun di sekolah ini. Kecuali hyungdeul-ku yang sudah kelas 2 dan 3.”

Shinrin duduk di meja ketiga dari depan dan lorong pertama, di sebelah kirinya terhalang tembok. Lelaki itu duduk di sampingnya.

”Hyung?” (A/N: hyung = sebutan lelaki untuk lelaki yang lebih tua)

”Ya. Ah ya, namaku Taemin.” Akhirnya lelaki itu menyebutkan namanya sembari mengulurkan tangannya yang meminta jabatan Shinrin yang dengan ragu menerima uluran tangan Taemin.

“Shinrin.”

“Ya, aku sudah tahu. Ngomong-ngomong, golongan darahmu apa?” Taemin bertanya sembari mengembangkan senyuman manis.

“B.” Shinrin dengan polosnya menjawab pertanyaan Taemin yang punya maksud tertentu.

“B? Sama sepertiku.” Senyum manis Taemin berubah menjadi seringai nakal saat mendengar huruf “B”.

==========================

========

“Minji!”

Seseorang memanggil Minji dari belakang. Minji tidak menoleh. Ia tahu persis siapa yang memanggilnya dan ia sedang sebal campur marah dengan orang itu. Orang yang memanggilnya bersender di depan ruang 3 B. Minji berjalan dengan kecepatan penuh hingga dirinya dan orang itu kini berjarak lebih dari 15 meter.

“Minji!”

Minji masih bisa mendengar suara orang itu walau sangat pelan karena ramainya sekitar. Minji tersenyum menang karena membuat orang itu kesal.

“Minji! Perlu berapa kali kupanggil, hah?!” Tanpa perlu sedetik orang itu sudah menepuk bahu Minji dan memutar balikkan badannya hingga menghadap dirinya. Minji kaget karena tiba-tiba orang itu sudah ada dihadapannya.

“Jonghyun! Bukannya tadi kau sedang ada disana?” Minji menunjuk ruang kelasnya yang berjarak 15 meter lebih darinya. “Bagaimana kau bisa ada disini tiba-tiba?”

“Kau itu! Aku lari mengejarmu, tahu!” Jonghyun merapatkan tubuhnya ke Minji. Satu tangannya merangkul di bahu Minji dan menuntunnya kembali ke kelas. “Kau marah padaku?”

“Cih, siapa juga yang marah?” Minji memalingkan wajahnya, kesal dengan sikap sok manis Jonghyun. Ya betul, ia marah dan kesal pada Jonghyun, karena cemburu.

“Kau itu kalau marah tambah manis.” Jonghyun mengucapkan kalimat itu tanpa beban. Wajah Minji langsung berubah merah. Ah, ada apa denganku ini? Batin Minji.

“Jonghyun oppa!” Seorang gadis menghampiri Jonghyun dan Minji dengan wajah dibulatkan, tanda bahwa ia kesal. “Oppa, hari ini jadi tidak kita pulang bersama?”

“Wah Krystal. Sepertinya tidak bisa deh. Oppa hari ini harus pulang sama Minji. Lain kali saja ya.” Jonghyun berkata seperti itu tanpa memedulikan perasaan lawan bicaranya.

“Bagaimana sih oppa? Kan sudah janji!” Krystal semakin mengembungkan wajahnya dan mengerutkan dahinya.

“Jangan begitu dong, Krystal. Wajahmu lebih manis kalau tersenyum lho.”

Minji memandang Jonghyun dengan kesal. Dasar playboy! Semua gadis ia bilang cantik, semua gadis ia dekati, semua gadis ia godai. Jonghyun playboy!

Seluruh murid kelas 3 B masuk ke kelas, termasuk sang Ketua OSIS, Onew. Onew duduk di barisan kedua dari belakang. Sedangkan Jonghyun duduk bersama Minji di bagian kiri kelas. Onew diam seribu bahasa di tempat duduknya, membaca sesuatu yang sepertinya sangat menarik perhatiannya. Berbeda dengan Jonghyun yang sibuk berbasa-basi dengan gadis-gadis penggemarnya. Minji tahu apa saja yang dibacarakan Jonghyun pada gadis-gadis itu tanpa harus mendengar dengan detail percakapan mereka. Pasti Jonghyun sedang memuji-muji atau membuat janji-janji palsu pada gadis-gadis malang itu. Setahu Minji, Jonghyun dan Onew adalah saudara sepupu dan tinggal bersama. Tetapi kepribadian mereka sama sekali berbeda. Jika Onew adalah anak yang tidak banyak tingkah dan bicara, maka Jonghyun sebaliknya.

“Hey lihat ini! Seorang murid SMA Param ditemukan hanyut di sungai dengan bagian dada dicabik-cabik. Dan lagi-lagi jantungnya diambil.” Eunhyuk membacakan headline yang baru saja ia dapat entah dari mana di depan kelas dengan suara lantang yang membuat kelas hening.

“Lagi?” tanya Dana dengan suara hampir hilang. Wajahnya dengan jelas tersirat ketakutan. Ia memandang Sunday, teman sebangkunya yang juga menampakkan kekhawatiran.

“Ya. Kini sudah ada delapan korban. Dan semuanya murid SMA, dan…. wanita.” Eunhyuk mengucapkan kata terakhir dengan takut-takut sembari memandang Dana dan Sunday yang sudah menutup wajah mereka saking ketakutan.

Minji juga merasakan hal yang sama dengan Dana dan Sunday. Ia merasa suatu saat bisa menjadi korban selanjutnya meski ia berharap dapat menghilangkan bayangan itu. Minji mengguncang-guncang tubuhnya untuk menghilangkan pikiran itu. Jonghyun yang berada di sebelahnya meletakkan tangannya di bahu Minji dan menenangkannya.

“Apa sudah ada korban dari sekolah kita?” tanya Sunday hati-hati pada Eunhyuk.

“Belum. Dan jangan sampai.” Eunhyuk membanting koran tersebut seakan ingin merobek-robeknya. “Siapa sih psikopat itu?!”

“Tapi… kalian tidak mendengar berita tentang Amber?” Dana kembali dari ketakutannya dan memandang semua murid kelas yang kini terfokus padanya, termasuk Onew.

“Memangnya ada apa dengannya?” tanya Jonghyun.

“Sudah tiga hari ini ia menghilang tanpa jejak. Tidak seorang pun tidak bisa mendapat kabar darinya.”

“Amber kelas 3 A? Si tomboy itu?” tanya Heechul.

“Ya. Dia menghilang tiga hari lalu saat libur musim panas saat ia pulang malam dari kerja sambilannya,” jelas Dana lagi.

Semua kelas hening. Semua saling berpandangan atau menatap kosong. Yang terdengar hanya suara ketukan pensil ke meja yang dimainkan oleh Jonghyun.

Tiba-tiba Onew memecahkan keheningan tersebut.

“Cukup sesi ceritanya. Karena itu, aku sudah bilang berkali-kali, jangan kerja sambilan apalagi mengambil jam malam. Rasakan kan akibatnya.” Onew pergi keluar kelas tanpa bicara sedikit pun selain kalimat terakhirnya yang membuat seluruh isi kelas membatu.

===================================

Sunmi mengumumkan sesuatu yang sepertinya membuatnya tidak bisa tersenyum. Ia mengambil sesi pidato singkat wali kelas yang biasa dilakukan saat awal minggu sekolah.

“Teman-teman semua. Dua hari lagi ulang tahunku dan aku ingin mengundang kalian semua ke pestaku.” Sunmi mengumumkan pestanya dengan berseri-seri yang langsung direspon dengan sorakan kegembiraan murid kelas 2 A. “Tunggu sebentar, pestanya tidak asal pesta. Ini pesta topeng. Jadi kalian semua harus memakai topeng saat di pestaku nanti.”

“Ah, ribet sekali!” ujar Kangin.

“Biarlah. Biar seru.” Sunmi menjulurkan lidahnya ke Kangin.

“Sunmi rajin banget ya buat pesta segala. Ya nggak, Key?” Hyunri berbicara pada Key, teman sekelasnya yang persis duduk di belakangnya.

Key daritadi sedang asyik menyumpal telinganya dengan headset, tidak peduli dengan perkataan Sunmi yang terus bercekcok dengan Kangin tentang pesta ulang tahunnya.

“Key! Kau dengar tidak sih?” Hyunri mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Key yang mengatupkan matanya. “Key? Kau tidur?”

Dalam sekejap Key menangkap tanagn Hyunri yang terus mengibas-ibas di depan wajahnya tanpa ragu. Kini tangan Hyunri dipegang erat dengan Key. Hyunri menelan ludah.

“Kau bisa diam tidak? Atau tanganmu mau kupatahkan?” ancam Key. Hyunri mengangguk singkat dan segera memutar badannya kembali menghadap Sunmi.

Selama lima belas menit Hyunri terus mengerucutkan bibirnya dengan sebal. Sekali-kali ia melirik ke belakang dan takjub Key masih diam dalam keadaan seperti yang terakhir ia lihat. Di tengah-tengah kegelisahan hatinya, tiba-tiba Minho muncul di samping Hyunri. Duduk disebelahnya tanpa alasan yang jelas.

“Kau ikut ke pesta Sunmi?” tanya Minho dengan lembut yang membuat kegelisahan dan kekesalan di hati Hyunri hilang.

“Ya, sepertinya. Kau?”

“Aku ikut. Aku sedang menebak apakah aku bisa menebakmu di balik topengmu?” Minho memutarkan bola matanya dari tatapan ke depan kelas ke arah Hyunri yang berada di sebelah kirinya.

Hyunri tersenyum aneh tanda tidak mengerti apa yang sedang dibicarakannya Minho saat itu.

==================================

Bel pulang sekolah berdering tepat pukul empat sore. Shinrin segera membereskan segala macam barang yang berada di atas mejanya dan memasukkannya ke tas merahnya. Di sampingnya, Taemin juga melakukan hal yang sama.

“Kau pulang naik apa?” tanya Taemin setelah mereka keluar kelas.

“Naik bus.” Shinrin bimbang apakah ia harus balik bertanya pada Taemin apa tidak. Tapi rasanya tidak perlu.

“Aku akan pulang bersama hyungdeul-ku.” Tanpa perlu Shinrin bertanya, Taemin akan memberitahunya sendiri. “Tuh, disana!” Taemin menunjuk sebuah mobil mewah yang terparkir di salah satu halaman sekolah. Disana sudah menunggu Minho, Key, Onew, dan Jonghyun.

Kesan pertama Shinrin terhadap kakak-kakak Taemin adalah “mengerikan”. Walau Shinrin juga merasa bahwa Taemin sama mengerikannya dengan kakak-kakaknya. Shinrin yang sudah melihat Ketua OSIS Onew pagi tadi, sekarang dapat melihatnya dengan jelas. Onew kini tidak tampak seperti murid teladan lagi, tapi lebih mengerikan dengan sorot mata yang gelap.

“A…a…aku pulang dulu. Bye, Taemin!” Shinrin segera berlari tanpa menoleh ke belakang sembari melambaikan asal tangannya.

“Siapa Taemin?” tanya Jonghyun. “Teman baru?”

“Kurasa begitu,” kata Taemin tetap memperhatikan arah perginya Shinrin.

“Kupu-kupu baru?” tanya Minho dingin.

“Tidak apa-apa sih. Asal tidak seceroboh Onew saja sampai menghilangkan Amber.” Jonghyun berbicara seperti itu sembari melirik Onew yang langsung mengerutkan dahinya.

“Hari-hari ini mau berburu kupu-kupu lagi?” tanya Onew balik pada Jonghyun.

“Tidak. Aku kenyang,” jawab Jonghyun sambil masuk ke dalam mobil.

TO BE CONTINUED

===================================

Don’t be silent readers. Hargailah author dengan commentmu.

6 thoughts on “[FF/ongoing/PG-15] Ring Ding Dong – Chapter 1 “Butterfly””

  1. oh,, jadi yg ngumpetin amber itu onew. Wah.. Anak shinee sebenernya siapa nih ?
    Lompat ke part 2 ah
    over all, daebak buat ff’a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s