One Year Later part 2 [end]

Author : Mei Ying

*a few minutes to 11 october*lingmei fangjian*

*lingmei pov*

Aku menyalakan lilin kue tart. Hari ini, uhm beberapa menit lagi ulang tahun henry. Tapi ngga ada satu kabar pun. Uh mahluk satu itu..

Aku melihat jam. 11.59PM.

Hm, ok aku akan merayakan ulang tahunmu walau kamu ngga ada.

Ok! Tart ok. Lilin ok. Time ok. Tinggal countdown aja nih..

Toktoktok! Ada yg mengetuk kaca jendela beranda kamarku.

“nuguseyo?”

Kaca jendela terbuka dan…

“henry?”

dajung han miso, seckshihan noonbit, ungddoonghan yehgi nalsshi baggwideut ddehron jimjakdo halsoo ubssuh yeah~

itneun geudehro ggoomiji anneun sarangseuruh ooh

nah eh geudehga nuhya nah eh geudehga nuhya

your gentle smile, your sexy eyes, your weird words that are sometimes unpredictable like the weather, yeah~

just as you are, without having to fix anything, the person that is so lovable to me is you, that person is you, yeah~

*henry pov*

Walau aku kesal. Ya, jelas aku kesal karna tadi siang itu.

Tapi aku harus menepati janjiku. Aku akan menemuinya, dan setelah itu selesai. Mungkin aku ngga akan kembali lagi ke Taipei.

Aku mengetuk kaca jendela berandanya. Aiyo~ kamar ini masih sama seperti dulu.

“toktoktok”

Ngga ada yg berubah. Aku jadi ingat aku sering masuk ke kamar ini lewat jendela.

Ia menyebut namaku, “henry?”

Aku cuman bisa tersenyum tipis.

“bukannya ini waktuku meniup lilin ya?” aku melihat matanya berkaca-kaca. Ia lalu tersenyum dan memelukku erat. Aku pun melingkarkan tanganku ke pundaknya.

*lingmei pov*

“henry.. henry.. huhuhu” aku menangis memeluknya. Akhirnya akhirnya. Kamu pulang henry!

“hei sampai kapan kamu mau nangis bodoh?”

“shenme? Bodoh? Aku ngga bodoh he!” aku melepas pelukanku.

“ayo aku mau tiup lilinku” aku tertawa.

“oke. Ayo silakan hehe” tapi ia menggeleng, “apa lagi hah?”

“ngga nyanyi buatku ya?”

“hm.. oke oke haha..” aku menyanyikan lagu untuknya.

geudae ga geudae ga nan geudae ga “saranghae saranghae nul saranghae”

lago malhalddae naleul midgae dweh

geudae ga guedae ga nan geudae ga gamanhi gamanhi nae nooneul bomyuh

ooseul ddae nado ootgae weh niga joeun iyoo

you you, when you say “love you love you, i love you” you make me believe

you you, when you silently silently look into my eyes and laugh you make me laugh

the reasons why i like you

*henry pov*

Aku meniup lilin. “saengil chukae henry”

“ne komawo” ia tersenyum begitu manis. Uh, apa aku harus pergi meninggalkan Taipei lagi dan melupakan senyum itu?

“aku benar benar senang kamu pulang henry.. aku senang kamu menepati janjimu”

“hm ya..”

“dan aku kangen kamu henry…”

Aku juga. Tapi…

“taruhan itu kamu masi ingat?” katanya. Ya ingat. Aku kalah kan?

“oh ya. Oke aku kalah taruhan ya?” aku membuang muka, dan duduk di tepi ranjang.

“ha? Tau dari mana kalah?”

“hmm.. udalah.. ingat jgn kenalkan dia padaku. Paham?”

Ia memandangku heran. Lalu tertawa terbahak-bahak. Ia duduk disampingku.

“kamu tadi siang ke sekolah ya?”

“aniyo”

“bohong, lantas tau dari mana kamu kalah?”

“itu…”

“ne, kamu kalah henry. Tadi siang ada yg menyatakan cintanya padaku. Xiaoyu cakep pintar. Ngga kalah imut koq darimu”

“YA~” uh berhentilah membicarakannya.

“dia romantis juga loh.. dia..”

“GEUMANAE! Enough.”

“masih ada yg harus kamu tau henry”

“ngga perlu” cukup. Aku sudah muak.

“xiaoyu, aku..” aku memotong pembicaraannya, “BISA tidak gausa menyebut nama itu LAGI?”

“xiaoyu dan aku..” aku makin kesal mendengar ia masih menyebut nama itu.

Aku mendekatkan wajahku padanya dan mencium bibirnya.

Perlahan aku membuka mata dan melihat dia menangis.

“ya~ ngapain kamu nangis~” aku panik.

Ia melihat mataku dan memeluk leherku, “buyao shuo, ni haohao ting wo shuo” (jangan berbicara, kamu dengarkan perkataanu baik-baik)

“ne..”

“aku dengan xiaoyu ngga ada apa-apa” ia menarik nafas, “aku gabisa bersama xiaoyu”

Aku terdiam. Ia melanjutkan perkataannya, “taruhan ini kamu yg menang henry”

Aku melihatnya lekat. Ia tersenyum.

“wae? Ngga bisa ngomong ya? Hahahaha..” ia dgn konyol menertawakanku.

Aish~ gadis bodoh ini bisa menipuku~ hm, aniyo~ dia ngga bohong.

Aku sendiri yg salah menyimpulkan, aiyo bodohnya aku.

“jadi aku menang? HM.. memang aku pasti menang sih. Itu memang sudah sepantasnya. Hahaha”

“ya~ tadi siapa yg bilang kamu kalah? Hello? Tadi siapa yg dgn tolol marah-marah ga jelas yiaaa??” katanya meledekku. Ia tertawa lagi. Aish!

“lingmei, wo xihuan ni” tawanya berhenti. Ia terdiam melihatku. (lingmei aku menyukaimu)

“lingmei, wo zai seoul zhende zhende hen haoxiang ni, ranhou wo faxian le..” aku menarik nafas dan melanjutkan perkataanku, “wo faxian le, wo zhende ai ni”

(lingmei, di seoul aku sungguh-sungguh merindukanmu, lalu aku mnyadari), (aku menyadari aku sungguh mencintaimu)

Ia hanya tersenyum dan memelukku.

“ikutlah denganku ke seoul”

Ia melepaskan tangannya dari leherku dan berkata, “yao qu shima di fang, wo yiting geng ni yiqi zou”

(kemanapun, aku pasti pergi bersamamu)

Lalu ia mencium bibirku perlahan dan tersenyum, “wo ye ai ni henry”

(aku juga mencintaimu henry)

Aku mengacak rambutnya, “jadi ngga ada yg bisa ngalahin cakep dan imutnya aku kan? HAHA”

“o~ meiyou..” ia tertawa kecil. (ngga ada)

“wo de shengri liwu ne? nali? Gei wo ba~” (hadiah ultahku mana? Mana? Berikan padaku.)

“eh? Meiyou! Wo buyao gei ni liwu!” (ngga ada! Aku gamau kasi kamu hadiah!)

“weishenma?” aku protes. (kenapa?)

“satu tahun pergi ngga ada kabar. Aku menghubungimu pun ngga bisa. Huu~” ia mencibir.

“mianhae jagiya, aku takut, kalau aku menghubungimu, aku semakin ngga bisa menahan kangenku.. jadi kuputuskan ngga ada contact sama sekali selama setahun ini, duibuqi la~” (maaf ya~)

Ia mencubit kedua pipiku.

“YA~ wae? Sakit tauuu.. aduuuhh..”

“itu hukumannya henry!”

Aku cengengesan. Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya.

“mwo ya?” tanyanya.

“kalau gitu aku mau hadiah yg lain…” aku mengulum bibirnya lagi dan perlahan mendorongnya berbaring di ranjang..

Dan… OKE. Ngga perlu aku ceritakan detailnya kan? Hehe..

geudae ga geudae ga nan geudae ga “saranghae saranghae nul saranghae”

lago malhalddae naleul midgae dweh

geudae ga guedae ga nan geudae ga neh yuppeh neh yuppeh dagawa

neh geh gidel ddeh himeul odggeh dweh

you you, to me, when you say “love you love you, i love you” you make me believe

you you, to me, when you come beside me beside me and lean on me, i gain strength

the reasons why i like you

FIN

2 thoughts on “One Year Later part 2 [end]”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s