Impossible Love – Part 1

Leeteuk

“Hyung kau mau kemana?” ucap Kyuhun dongsaengku yang paling kecil.

“Aku mau berjalan-jalan di pantai. Kau mau ikut?”

“Tidak, aku mau main game. Tapi kalau kau bertemu dengan gadis cantik, kenalkan padaku!”

“Kau ini. Kalau makan siang sudah siap, hubungi aku.”

“Ne.”

Aku berjalan keluar rumah, sebenarnya bukan sebuah rumah tapi sebuah Vila milik kami, member Super Junior. Yah, pasti kalian yang menyukai lagu-lagu Korea pasti tahu dengan nama itu. Kami adalah sebuah grup Boy Band yang saat ini sedang naik daun.

Sepi . . . benar-benar tidak ada orang lain selain aku. Aku terus menyusuri pantai. Kakiku basah karena tersapu ombak. Hei, ada sesorang disana. Tidak jauh dari tempatku berdiri. Seluruh tubuhnya tertutup. Aku mencoba mendekatinya. Tapi saat jarakku dengannya tinggal satu meter, dia berbalik. Seperti mengetahui kedatanganku. Aku benar-benar kaget dibuatnya. Dia tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya. Wajahnya benar-benar bercahaya, bukan karena sinar matahari tapi benar-benar dari dalam dirinya.

“Annyong . . .” dia membungkukkan badannya. “Ada yang bisa saya bantu?”

Aku membalasnya. “Tidak . . .” jawabku kikuk dibuatnya. Aku benar-benar kikuk, tidak bisa menjawabnya. Karena terpesona dengan cahaya yang dipancarkan wajahnya.

“Maaf, aku harus pergi.”

Dia pergi. Aku belum tahu namanya. Aku tidak bisa mengejarnya. Kakiku dan lidahku rasanya membeku tiba-tiba. Aku berdiri sekitar limabelas menit tanpa bergerak. Aku disadarkan oleh dering telponku. Kyuhyun, aku menyuruhnya untuk menelponku bila makan siang sudah siap.

“Hyung, makanan sudah siap. Cepat pulang!”

“Ne.”

Aku segera membalikkan tubuhku kemudian berjalan menuju vila.

@@@

Aku membuka mataku. Sinar matahari yang masuk lewat jendela menyilaukan mataku. Aku bangun kemudian berjalan ke balkon kamarku. Udara pagi di sini memang segar, karena tidak terkena polusi seperti di kota. Kulihat Kyuhyun dan Kangin sedang bermain-main di pantai, mereka sedang kejar-kejaran. Aku tersenyum melihat kegilaan mereka. Kangin memang jagonya menjaili orang. Aku menoleh saat terdengar pintu terbuka.

“Hyung kau sudah bangun?” Sungmin yang dating. Dia langsung berjalan menuju lemari.

“Ne. kau sedang mencari apa?” saat kulihat dia seperti mencari sesuatu di lemari.

“Ani, bukan apa-apa.”

“Katakan padaku, mungkin aku bisa membantu.”

“Hyung melihat bajuku yang berwarna merah?”

“Yang mana?”

“Yang diberikan oleh fansku. Yang bergambar lambang Ferrari.”

“Ani, coba kau tanyakan pada Kibum. Mungkin dia melihatnya.”

“Semua orang sudah aku tanyakan, tapi mereka tidak tahu.”

“Kau sudah coba cari ditempat cucian kotor?”

“Ani, aku akan mencarinya disana. Gomawo hyung.” Sungmin langsung berlari keluar kamar. Lucu sekali kalau meliaht wajahnya yang sedang bingung.

Aku berjalan keluar kamar. Keadaan vila seperti kapal pecah, barang-barang berantakan. “Kemana orang-orang?” aku langsung membereskannya sendiri, percuma kalau hanya menyuruh. Dongsaeng-dongsaengku. Mereka pasti memiliki beribu alasan untuk menghindar.

Ryeowook

“Apa yang sedang dilakukan Teuki hyung?” aku mengintip dari balik pintu dapur.

“Wooki, kau sedang mengintip siapa?” aku menoleh saat seseorang berbisik ke telingaku.

“Hyung, kau mengagetkanku saja. Aku sedang mengintip Teuki oppa.” Ternyata Kangin hyung.

“Memangnya kenapa dengan dia?”

“Lihat, Teuki oppa sedang beres-beres. Padahal kita yang buat berantakan.”

“Wooki, ayo sana bantu hyung! Aku mau ke toilet dulu.”

“Ani, kita lakukan berdua. Aku akan tunggu hyung sampai selesai.”

“Kalau kau tunggu aku sampai selesai, nanti keburu selesai. Kau ajak yang lain saja.”

Kangin hyung langsung berlari meninggalkanku sendiri mengintip Teuki hyung. Aku benar-benar tidak tega melihat Teuki oppa melakukan itu. Aku akhirnya memutuskan menghampiri Teuki hyung dan membantunya.

“Hyung, kau baru bangun?” aku mencoba untuk sedikit berbasa-basi. Teuki hyung hanya tersenyum melihatku. Aku jadi merasa malu. Sambil mengobrol, aku merapikan majalah yang ada dihadapanku.

“Wooki, kemana yang lainnya?” akhirnya Teuki oppa mau berbicara juga. Itu membuatku tenang.

“Tidak tahu hyung. Mungkin sedang jalan-jalan di pantai. Hyung, sebaiknya kau mandi dulu. Kau baru bangun kan. Biar lebih segar.”

“Nanti saja. Aku harus membereskan ini dulu.”

“Biar aku yang meneruskan. Hyung mandi saja.”

“Ani . . .”

Teuki hyung masih terus beres-beres. Aku dibuat tidak enak olehnya. Lama-kelamaan member yang lain mulai bermunculan. Tapi mereka sepertinya tidak perduli dengan apa yang dilakukan oleh Teuki hyung dan aku. Aku benar-benar tidak tega melihat Teuki hyung. “Hyung, aku ke toilet sebentar.”

“Ne.” jawabnya singkat kemudian melanjutkan beres-beres.

Aku menyelinap ke lantai atas. Satu persatu pintu kamar kuketuk.

“Wae?” ucap Yesung hyung yang kelihatan sekali sebal karena aku mengganggunya.

“Mianhae hyung aku mengganggumu. Tapi aku tidak tega melihat Teuki hyung membereskan rumah sendirian. Padahal kita yang membuat berantakan.” Setelah aku mengatakan itu, Yesung hyung menoleh melihat kea rah Teuki hyung. Disusul dengan yang lainnya. Bersama-sama mereka turun ke lantai satu membantu Teuki hyung.

“Hyung, kau beres-beres rumah kenapa tidak ajak-ajak kami?” ucap Shindong hyung sambil tertawa. Menghilangkan rasa canggung.

“Ani, aku hanya tidak ada kerjaan saja. Aku tidak mengajak kalian karena aku tahu, kalian pasti lelah.”

“Hyung, kau tidak boleh seperti itu. Bagaimanapun kita harus membereskan rumah ini bersama-sama.” Ucap Yesung hyung.

Ada senyuman di wajah Teuki oppa. Aku tahu dia senang karena dongsaeng-dongsaengnya mau menyadari kesalahnnya.

@@@

Leeteuk

Aku tersenyum, lucu melihat kelakuan dongsaeng-dongsaengku. Tidak seharusnya mereka melakukan itu. Tapi biarlah, biar mereka bisa bertanggung jawab dengan apa yang mereka lakukan.

Selesai membereskan vila, aku berjalan-jalan ke pantai. Berharap bisa bertemu dengan gadis yang bertemu denganku di pantai. Aku terus berjalan di pantai, menuju tempat kemarin kami bertemu. Aku tunggu dia disana, tapi selama satu jam aku menunggu, dia tidak dating. Hari sudah sore, aku memutuskan kembali ke vila.

“Hyung, kau kenapa? Wajahmu lesu begitu.” Ucap Shindong saat kami bertemu di mulut pintu.

“Ani, aku hanya kelelahan.” Aku menjawab Shindong, tanpa menatap wajahnya. Aku terus berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Aku tahu Shindong pasti heran melihat sikapku itu. Tapi aku benar-benar sedang tidak bersemangat.

Aku membantingkan tubuhku ke sofa yang ada di kamar. Pikiranku melayang, membayangkan gadis yang kemarin bertemu denganku. Wajahnya terus terbayang dipikiranku. Aku tersadar dari lamunanku saat Donghae menepuk pundakku.

“Hyung, kau mau ikut tidak. Kami semua mau jalan-jalan.”

“Ne. kalian tunggu aku sebentar. Aku mau ganti baju dulu.”

Donghae langsung keluar kamar meninggalkanku. Mungkin aku memang lebih baik jalan-jalan keluar bersama dongsaeng-dongsaengku, setidaknya mungkin aku bisa lupa dengan gadis itu.

“Sebenarnya kita mau kemana?” tanyaku bingung karena dari tadi kami hanya berkeliling-keliling saja.

“Molla, kami hanya ingin jalan-jalan keluar hyung. Diam di vila terus kan bosan.” Jawab Eunhyuk padaku. Sambil menampangkan wajah tak berdosanya.

“Aish, kalian ini. Mau mengerjaiku ya?”

“Ani hyung, kami hanya ingin jalan-jalan.” Jawab Sungmin dengan wajah memelasnya.

“Kalau kalian tidak punya tujuan. Sekarang aku yang menentukan. Kangin-ah, kita ke taman bermain saja.”

“Tapi hyung, disana terlalu ramai. Apa tidak terlalu bahaya untuk kita?” protes Kangin.

“Ani, kita pakai topi dan kacamata saja. ELF pasti tidak mengenali kita.”

“Ne.” jawab mereka serempak.

Kangin memarkirkan mobil, sementara kami bersiap-siap menyamar agar tidak dikenali oleh para ELF. Setelah kami semua siap, kami turun dari mobil dn berjalan-jalan di taman bermain. Kami membagi menjadi beberapa grup agar tidak dicurigai oleh para ELF. Aku, Heechul, Kangin, Eunhyuk dan Donghae menuju Roller Coaster. Sungmin, Ryeowook, Kyuhyun, Siwon, dan Kibum menuju bianglala. Sementara Shindong, Yesung, dan Hankyung mereka menuju tempat makan. Yah, mereka memang paling suka makan.

Setelah selesai bermain roller coaster, kami berlima memutuskan untuk menyusul Shindong, Yesung, dan Hankyung. Karena perut kami sudah mulai minta diisi. Saat bertemu Shindong dan yang lainnya di tempat makan, kami tidak bertemu dengan gerombolan Kyuhyun.

“Kemana Kyuhyun dan yang lainnya? Hari sudah mulai sore. Lebih baik kita pulang.” Ucapku pada Yesung.

“Tidak tahu hyung, mungkin mereka masih bermain.”

Aku langsung mengambil handphoneku dan mendial nomor Sungmin. “Tidak diangkat.” Ucapku kepada yang lainnya. “Aku akan mencarinya, kalian tunggu disini saja.”

“Ne.” ucap mereka bersamaan.

“Hyung, kami ikut!” pinta Eunhyuk dan Donghae.

“Ne. Kaza!” kami bertiga yang akhirnya mencari Kyuhyun, Sungmin, Ryeowook, Siwon dan Kibum. Ditengah perjalanan, aku melihat gadis yang bertemu denganku di pantai. Tapi . . . dia menggendong seorang anak kecil. Apa mungkin itu anaknya? Kakiku langsung lemas. Tak kuasa untuk berdiri tegak.

“Hyung kau kenapa?” ucap Eunhyuk yang langsung menyandarkan tubuhku padanya. Dia melihatku yang lemas, dan hampir jatuh.

“Ani, aku tidak apa-apa.”

“Hyung, kau aku antar ke mobil. Biar Hyukjae yang mencari kyuhyun dan yang lainnya.” Ucap Donghae cemas.

“Ani, aku tidak apa-apa. Kaza, kita cari mereka lagi.”

Mataku masih terus menatap gadis itu. Sepertinya dia sadar kalau aku memperhatikannya. Dia menoleh ke arahku. Tapi aku langsung membalikkan tubuhku, sehingga dia tidak tahu kalau aku memperhatikannya. “Ayo!” aku berusaha berdiri tegak lagi.

“Hyung, kau sudah baikan?” ucap Eunhyuk cemas.

“Aku baik-baik saja. Ayo jalan.”

Aku langsung masuk kamar saat sampai di vila, tak ada satupun dari dongsaengku yang berani bertanya. Karena melihat rawut wajahku yang terlihat sedang marah. Dengan keras aku membanting pintu kamarku.

Donghae

“Hyukjae, hyung kenapa?” ucapku sambil menyenggol badan Hyukjae.

“Molla.” jawab Hyukjae yang ikutan bingung.

Semua mata member menatap aneh dan cemas kepada Teuki hyung. Terlebih lagi, Sungmin hyung, Ryeowook, Kyuhyun, Siwon, dan Kibum. Mereka merasa bersalah, karena merasa kemarahan Teuki hyung karena kesalahan mereka. Sulit ditelpon. Tapi selama perjalanan tadi, saat mereka meminta maaf, hyung bilang tidak apa-apa. Itu artinya bukan karena mereka hyung bersikap seperti itu. Tapi tetap saja mereka merasa bersalah. Lalu kenapa dengan hyung?

Sampai pukul Sembilan malam kami masih berkumpul di ruang tengah. Membicarakan sikap Teuki hyung sore tadi.

“Donghae-ah, kau kan cukup dekat dengan hyung. Lebih baik sekarang kau yang ke kamarnya, bujuk dia agar tidak marah lagi.” Ucap Kangin hyung.

“Ani.” Jawabku tegas. “Besok pagi saja. Mungkin besok pagi Teuki hyung lebih baik.”

“Benar kata Donghae. Aku setuju dengannya.” Ucap Hyukjae.

Tidak seperti biasanya, semua member minus Teuki hyung. Pada pukul 06.00 sudah berkumpul di ruang tengah. Mereka benar-benar khawatir dengan keadaan Teuki hyung, termasuk aku. Karena biasanya, Teuki hyung yang selalu bersemangat. Dia hampir tidak pernah menunjukkan kalau dia marah, sedih, lelah atau kecewa dihadapan kami. Para dongsaengnya. Dia selalu menjadi penyemangat kami dan selalu memberikan senyuman diwajahnya kepada kami. Walau terkadang kami tahu dia sedang ada masalah, tapi dia selalu menunjukkan wajah cerianya pada kami.

“Kalian sedang apa? Tumben kalian jam segini sudah bangun. Biasanya harus aku yang membangunkan.” Tiba-tiba Teuki hyung dating menghampiri kami dengan sebuah senyuman.

‘Hyung, aku tahu itu bukan senyuman yang dating dari hatimu’ batinku.

“Hyung, kau tidak apa-apa?” aku mendekati Teuki hyung.

“Ada apa denganmu?” ucap hyung sambil tertawa dan mengacak-ngacak rambutku. Kemudian langsung duduk di sebelah Heechul hyung.

“Wae?” ucapnya heran sambil tertawa. Sementara kami semua masih bengong melihat sikap hyung yang berbanding terbalik dengan kemarin. “Aku tahu kalian pasti heran dengan sikapku kemarin. Tapi sudahlah! Lupakan yang kemarin, aku baik-baik saja. Jangan bengong seperti itu. Hari masih pagi. Siapa yang mau ikut denganku lari pagi. Ayo!” ucap Teuki hyung sambil berlari kecil menuju mulut pintu.

“Tunggu hyung, aku ganti baju dulu.” Ucap Kyuhyun sambil berlari menuju lantai atas.

“Ne. aku tunggu di depan.”

Akhirnya kami semua mengikuti Kyuhyun ke lantai atas untuk ganti baju. Kami melakukan ini karena kami merasa khawatir akan keadaan Teuki hyung. Kami takut akan terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan saat Teuki hyung berolahraga. Setelah kami semua siap, kami langsung berlari-lari di pantai. Tanpa terasa, kami sudah sangat jauh dari vila. Matahari pun sudah mulai naik.

“Hyung, kita sudah terlalu jauh.” Ucap Hankyung.

“Aku tahu. Kita pulang naik kendaraan saja. Aku yakin, kalau aku ajak kalian pulang jalan kaki. Pasti kalian tidak mau.”

Akhirnya kami memutuskan pulang dengan naik kendaraan, tapi karena daerah tempat kami berada sekarang memang sangat sepi dan jarang ada mobil yang lewat. Sehingga kami memutuskan untuk berjalan. Berharap ada mobil yang lewat untuk bisa kami tumpangi.

Leeteuk

Kasihan dongsaeng-dongsaengku, mereka pasti kelelahan.

“Kita istirahat dulu. Kakiku sakit, tidak kuat untuk berjalan lagi.” Kami istirahat di bawah pohon rindang yang ada di pinggir jalan. “Kalian istirahat dulu disini. Aku mau cari tempat istirahat yang nyaman. Tidak usah ada yang menemaniku.”

“Tapi hyung . . .” ucap Kibum protes.

Aku hanya melotot kepada mereka. Dengan cara seperti itu, mereka tidak akan melawanku lagi. Aku berjalan-jalan sendirian. Sekitar 50 meter aku berjalan, aku melihat tangga menuju sebuah bukit. Aku kesana dan naik keatasnya. Setelah naik keats, kulihat ada sebuah taman yang indah sekali. Ditambah dengan pemandangan laut, menambah keindahan taman itu. Kulihat ada sebuah pohon yang sangat besar disana. Segera aku memanggil dongsaeng-dongsaengku dari atas bukit.

“Hei . . .” aku melambaikan tanganku agar mereka melihatnya. “Cepat kemari!” kulihat mereka segera berlari menyusulku. Satu persatu mereka muncul, dengan wajah yang sangat lelah sekali. Tapi saat mereka sampai dipuncak, rasa lelah itu rasanya hilang seketika.

“Wah hyung, indah sekali.” Sungmin berdecak kagum. Kami semua istirahat dibawah pohon rindang itu. Tanpa terasa kami tertidur disana.

“Hyung . . . hyung bangun!” rasanya ada yang mengoyang-goyangkan tubuhku. Suara itu aku mengenalnya. Aku membuka mataku. Kulihat Wooky sudah ada di atas tubuhku.

“Wae?” ucapku sambil membetulkan posisi tubuhku.

“Hari sudah sore. Kita harus pulang.”

“Memangnya sekarang sudah jam berapa?”

“Jam 03.00 sore.”

“Apa? Baiklah. Kemana yang lain?”

“Mereka sudah dibawah. Menunggu ada mobil yang lewat.”

“Kalau begitu ayo cepat.” Aku dan Wooky menyusul yang lainnya dibawah bukit. “Bagaimana?” ucapku saat bertemu dengan mereka dibawah.

“Tidak ada hyung.” Ucap Yesung putus asa.

“Kalau begitu kita jalan saja. Sekalian menikmati matahari tenggelam. Lagi pula, tenaga kalian sudah kembali kan?”

“Ne.” ucap mereka sempak.

Akhirnya kami pulang dengan berjalan kaki. Menyusuri pantai yang tadi pagi kami lewati. Saat sampai ditempat aku bertemu dengan gadis itu. Aku melihatnya lagi disana. Aku menghentikan langkahku. Para dongsaengku menatapku khawatir. Karena aku yakin, saat ini wajahku pasti terlihat pucat.

“Hyung kau kenapa?” ucap Shindong.

“Ani. Ayo jalan!” aku terus menunduk, karena aku tidak mau gadis itu tahu akan kedatanganku.

Tapi, tiba-tiba . . .

“Hei . . .” aku mendengar suara yang sangat lembut di telingaku. Aku mendongak. Kulihat senyum itu lagi.

“Kau, laki-laki yang kemarin kan?” Tanyanya padaku sambil menatapku. Aku menjadi kikuk dilihat seperti itu. Sementara member lain menatapku dan gadis itu bingung.

“Ne.” jawabku bingung, sambil menggaruk-garuk kepala yang sama sekali tidak gatal.

“Maaf kemarin aku meninggalkanmu begitu saja.”

“Tidak apa-apa. Lagi pula kemarin, aku juga sedang buru-buru.”

“Maaf, aku belum memperkenalkan diriku. Chonun Min Jee imnida.” Ucapnya sambil membungkuk.

Aku membalasnya, “Namaku . . .” belum selesai aku memperkenalkan diriku. Dia memotong pembicaraanku.

“Aku sudah tahu. Kalian Super Junior kan.”

“Kau ELF juga?” Tanya Yesung penuh antusias.

“Ne.” ucapnya malu-malu.

“Ah . . . senangnya bertemu ELF di tempat sunyi seperti ini.” Ucap Kangin. Aku tahu apa yang ada dipikiran Kangin sekarang. Pasti makanan.

“Mianhamnida . . . sebenarnya aku belum mengenal nama kalian semua. Karena aku baru dua bulan ini menjadi ELF.” Ucapnya lagi sambil membungkuk meminta maaf.

“Tidak apa-apa. Itu wajar. Karena tidak mudah menghapal nama-nama kami yang berjumlah 13 ini.” Ucap Yesung sedikit sombong. Aku memukul pelan kepalanya.

“Aww . . .” ucapnya meringis.

“Kau benar-benar tidak sopan. Mianhamnida, atas kelakuan Yesung.” Ucapku sambil membungkuk.

“Tidak apa-apa. Kalian disini sedang apa?”

“Kami sedang berlibur. Maukah kau mampir ke tempat kami?”

“Mianhamnida, mungkin lain kali. Hari ini aku sedang sibuk.”

“Sedangkan kau sedang apa disini?”

“Akupun sedang berlibur bersama keluargaku.”

Saat kami sedang mengobrol, ada anak kecil mendekati Min Jee. Umurnya sekitar tiga tahun.

“Eomma . . . eomma . . .!” ucapnya yang kemudian langsung digendong oleh Min Jee.

“Wae? Kau sudah makan?” ucapnya lembut pada anak kecil itu.

“Ne. Eomma mereka siapa?”

“Mereka Super Junior.”

“Super Junior?”

“Hallo adik kecil, apa kau mengenal kami?” ucap Heechul seraya mendekatkan wajahnya pada anak kecil itu.

“Molla . . .”

“Kau tahu lagu Sorry Sorry?”

“Ne. aku tahu.” Anak kecil itu kemudian turun dari pangkuan Min Jee dan menirukan dance Sorry Sorry. Lucu dan menggemaskan.

Kami semua tertawa melihat anak kecil itu.

“Siapa namanya?” ucap Kyuhyun. Dia memang menyukai anak kecil.

“Wo Bin. Umurnya baru tiga tahun.”

“Lalu umurmu?” ucap Heechul.

Sekali lagi aku memukul kepala Heechul.

“Aww . . . Jungsu, apa yang kau lakukan?”

“Kau tidak sopan.”

“Tidak apa-apa. Umurku . . .”

Belum selesai Min Jee menyelesaikan kata-katanya, terdengar seseorang memanggilnya dari dalam rumah.

“Min Jee-ah kau dimana? Cepat kemari!”

“Ne.” ucapnya menjawab panggilan itu.

“Maaf, aku harus masuk kedalam. Annyong!” dia berlari sambil menggendong Wo Bin kedalam.

Kami semua membungkuk menjawab salam darinya.

“Wah, dia cantik sekali. Tapi saying dia sudah menikah.” Ucap Eunhyuk sambil membayangkan wajah Min Jee.

“Sudahlah, ayo cepat kita pulang. Hari sudah mau malam.” Ajakku.

Kali ini sepertinya aku sudah bisa menerima keadaan gadis itu. Min Jee namanya. Saat sampai di vila, aku langsung masuk ke kamar untuk mandi. Rasa segar kurasakan dibadanku setelah mandi. Wajahku basah karena terkena air yang jatuh dari rambutku. Pikiranku melayang saat bertemu dengan Min Jee sore tadi.

“Ya . . . sepertinya sekarang aku harus bisa menerima keadaannya yang sudah menikah. Andai saja dia seorang janda . . . aish, apa yang kupikirkan. Itu tidak mungkin.” Aku berbicara sendiri di kamar sambil memukul-mukul kepalaku. “Babo . . . babo . . .”

Lamunanku tersadar saat seseorang mengetuk pintuku. Aku berjalan menuju pintu dan membukanya. Ternyata Eunhyuk dan Donghae yang dating.

“Kalian mau apa malam-malam begini dating?”

“Kami hanya mau memberitahu kalau makan malam sudah siap. Tapi sebelumnya ada yang ingin kami bicarakan dengan hyung.”

Tanpa aku persilakan, mereka melenggang masuk. Dan langsung berbaring di tempat tidurku.

“Yaa . . . kalian jangan mengacak-ngacak tempat tidurku!”

Mereka malah perang bantal. “Apa yang ingin kalian bicarakan padaku?” mereka masih tidak peduli dengan kata-kataku. “Yaaa . . .” aku berbicara cukup keras. Akhirnya mereka diam.

“Ne. kami hanya mau menanyakan, hyung suka pada gadis itu ya?” ucap Donghae sambil menyidikkan matanya padaku.

“Gadis? Gadis mana?”

“Hyung tidak perlu pura-pura seperti itu. Gadis itu, noona Min Jee.” Ucap Hyukjae.

“Apa maksudmu?”

“Hyung tidak usah pura-pura lagi. Saat kita bertemu dengannya sore tadi, kami lihat tatapan mata hyung padanya.”

“Mau kami bantu untuk mendekatinya tidak?” ucap Donghae

“Are you crazy? Dia sudah menikah, kau mau suaminya membunuhku dan kalian akan kehilangan hyung kalian yang paling baik ini.”

“Hyung yakin dia sudah menikah? Hyung tahu dari mana?”

“Buktinya anak kecil itu? Anak kecil itu memanggilnya umma.”

“…”

“Sudahlah, ayo kita turun untuk makan. Aku sudah lapar.” Aku melenggang keluar kamar meninggalkan mereka berdua.

“Hyung tunggu kami!” ucap mereka berdua bersamaan. Kemudian berlari mengejarku.

to be comtinue

5 thoughts on “Impossible Love – Part 1”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s