IMPOSSIBLE LOVE – Part 2

Eunhyuk

Jam sudah menunjukkan pukul 23.00

“Donghae-ah, aku kasihan melihat Teuki hyung. Aku punya ide. Bagaimana kalau kita bantu dia mencari tahu tentang noona Min Jee. Aku yakin, dia belum menikah.”

“Ne. aku setuju denganmu. Monkey, kau pintar juga.”

Tanpa diketahui Teuki hyung, aku dan Donghae mencari informasi tentang noona Min Jee.

Lee Teuk

Aku tahu Min Jee sudah menikah, tapi semenjak hari itu aku jadi sering bertemu dengannya. Bahkan kadang kami mengobrol dan bermain bersama Wo Bin di pantai. Salahkah aku melakukan itu? Setiap berada di dekatnya, aku selalu tenang.

“Min Jee, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

“Ne.” ucapnya sambil menatap matahari yang hampir tenggelam.

“Apa itu yang kau pakai di kepalamu?”

“Ini namanya kerudung. Oppa tidak tahu?”

“Kenapa kau memakai itu? Dan kenapa seluruh tubuhmu selalu tertutup? Hanya telapak tangan dan wajahmu saja yang terlihat?”

Dia tersenyum mendengar paertanyaanku. Apakah itu pertanyaan babo?

“Oppa tahu kan di dunia ini ada yang namanya agama Islam?”

“Ne, aku tahu. Memangnya kenapa?”

“Itulah aku oppa. Sebagai seorang muslimah, aku diwajibkan menutup seluruh auratku. Terkecuali telapak tangan dan wajahku.” Jelasnya sambil tersenyum.

Aku tahu dengan agama yang dibicarakan Min Jee, tapi aku tidak pernah tahu pakaian mereka seperti apa yang dikenakan Min jee.

“Sudah mau jam enam oppa. Kau mau mapir ke vilaku?”

“Ani, aku sebaiknya pulang. Dongsaeng-dongsaengku pasti mencariku.”

“Baiklah. Sampai jumpa lagi.”

Kami berpisah sore itu. Sebenarnya aku ingin sekali mengunjungi vilanya, tapi aku tidak melakukan itu. Aku takut. Aku takut, kalau nanti aku melihat kemesraannya dengan suaminya nanti.

Hampir setiap sore aku selalu menghabiskan waktu dengannya. Melihat matahari tenggelam. Tak lupa Wo Bin pun ikut serta dengan kami. Karena setiap kami bertemu, Min Jee selalu membawanya.

“Min Jee . . .”

“Ne . . .”

“Aku . . . aku . . . aku ingin bertanya sesuatu padamu.”

“Wae?”

“Maaf, kalau pertanyaanku akan menyinggungmu. Selama aku selalu bermain kesini, apa suamimu tidak marah?”

“Suami?” ucapnya. Ekspresi wajahnya terlihat sekali kalau dia bingung. “Apa maksud oppa dengan suami?”

“Bukankah kau sudah menikah?”

Bukannya langsung menjawab pertanyaanku, dia malah tertawa.

“Kau kenapa tertawa?” tanyaku bingung.

Setelah tenang, dia baru berbicara. “Apakah aku terlihat sudah menikah?”

“Maksudmu?” aku tidak mengerti.

“Kenapa oppa berpikir kalau aku sudah menikah?”

“Wo Bin? Dia selalu memanggilmu umma.”

Dia tertawa lagi. “Wo Bin adalah anak onnieku. Kami memang sangat dekat. Jadi kadangkala Wo Bin selalu memanggilku umma.” Dia melanjutkan tawanya.

Hatiku senang sekali mendengarnya. Rasanya aku ingin loncat-loncat kegirangan mendengar berita yang barusan aku dengar. Tapi tentu saja aku tidak melakukannya. Aku seorang bintang,aku harus menjaga imageku di depan public. Terlebih lagi didepan gadis yang aku sukai.

“Oppa kenapa senyum-senyum seperti itu? Hati-hati oppa, orang bisa beprasangka lain.”

“Ani, Min Jee bolehkah aku bermain ke vilamu dan bertemu dengan keluargamu?”

“Tentu saja. Kenapa tidak boleh. Mereka pasti senang sekali bertemu denganmu. Kalau begitu sekarang saja.”

“Ayo cepat!” kami langsung bangkit dari duduk. Setelah memanggil Wo Bin yang sedang bermain ombak. Kami menuju vila Min Jee dan keluarganya.

Aku bertemu noona Min Jee, Min Hae namanya dan suaminya yang bernama Min Ho. Noona Min Hae sama cantiknya seperti Min Jee. Mereka baik sekali. Aku terlalu asik mengobrol dengan mereka, tanpa terasa hari sudah malam. Mereka mengundangku untuk makan malam disana. Tentu saja aku mengiyakannya, karena sebelum aku menyatakan rasa sukaku pada Min jee. Aku harus kenal terlebih dahulu dengan keluarganya. Saat makan malam, handphoneku bordering.

“Maaf, aku harus terima telppon.” Aku meninggalkan meja makan dan berjalan keluar.

“Yeoboseyo?”

“Hyung kau dimana? Kami sudah lapar. Kami menunggumu untuk makan malam.”

“Mianhae, aku tidak bisa makan malam bersama kalian. Aku sedang diluar. Mungkin akan larut pulangnya. Kalian makan saja, tidak perlu menungguku.”

“Kenapa hyung tidak memberi tahu dari tadi?”

Klik.

“Dasar anak ini. Ki bum . . . Ki Bum . . .”

Kemudian aku langsung kembali masuk kedalam rumah. Dan melanjutkan makan malam bersama keluarga Min Jee. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00. sudah waktunya aku pulang.

“Min Jee, sudah malam. Aku pulang dulu. Sampaikan salamku pada kakakmu.”

“Ne.”

Aku berjalan menyusuri pantai menuju vila. Suara angin dan ombak memecah kesunyian malam itu. Ditambah lagi dengan suasana hatiku yang sedang baik. Terdengar alunan lagu Angela milik kami di telingaku.

Saat sampai di halaman vila, kulihat dongsaeng-dongsaengku sedang duduk-duduk disana.

“Kalian sedang apa?”

“Kami sedang menunggumu hyung. Kau kemana saja?” ucap Yesung.

“Kau membuat kami khawatir. Tidak biasanya kau pulang selarut ini kecuali masalah pekerjaan.” Lanjut Donghae.

“Aku memang ada pekerjaan. Sudahlah, sekarang kalian masuk! Tidak baik angin malam untuk tubuh. Nanti kalian sakit, terus aku juga yang repot.” Aku langsung melenggang masuk kedalam dan masuk kamar.

Sementara para dongsaengku melihat heran kearahku.

KEESOKAN HARINYA . . .

“Hyung bangun!!” terdengar suara orang berteriak-teriak memanggilku. Aku berjalan malas menuju pintu kemudian membukanya. “Wae?” ucapku dengan mata tertutup karena masih mengantuk. Setelah membukakan pintu untuk orang yang memanggilku tadi aku langsung balik badan dan membatingkan tubuhku ke tempat tidur.

“Hyung ayo bangun!” orang itu mendudukkan tuibuhku. Dia menggoyang-goyangkan tubuhku. Akhirnya aku mengalah dan membuka mataku.

“Wae Hyukjae, kau menggangguku. Aku masih mengantuk.”

“Kami punya kabar bagus hyung.” Ucp Donghae antusias.

“Mwo?”

“Ternyata noona Min belum menikah. Wo Bin itu anak kakaknya.”

“Lalu?”

“Itu artinya, kau punya peluang untuk mendekatinya.”

“Ne.” aku melepaskan genggaman tangan Hyukjae dan Donghae dari tubuhku, kemudian melanjutkan tidurku.

“Hyung, kau tidak tertarik dengan berita kami?”

Donghae mengangguk, “Ne. kami sudah susah payah mencarikan informasi untukmu. Tapisepertinya kau tidak tertarik.”

“Sekarang kalian keluar, jangan lupa tutup lagi pintunya. Setelah bangun aku berbicara dengan kalian sekarang keluar. Aku mau tidur. Jangan ada yang ganggu aku lagi.”

Donghae dan Hyukjae keluar sambil menundukkan kepalanya. Sementara aku tersenyum dan kemudian melanjutkan tidurku.

Hyukjae

“Ada apa dengan Teuki hyung. Kenapa dia tidak tertarik dengan berita dari kita?”

“Aneh . . .”

Aku dan Donghae duduk berdua di ayunan yang ada di halaman vila.

“Menurutmu, kita harus melakukan apa?”

“Molla . . .!”

Aku menimpuk Donghae dengan bantal kursi yang aku pegang. “Kau berpikirlah sedikit. Jangan selalu aku.”

“Ne. ini juga aku sedang berpikir.”

“Kau tidak seperti sedang berpikir.”

“Hyukjae, aku sedang berpikir.”

“Kau bohong.”

“Ani, aku tidak bohong.”

“Hei . . . kalian sedang apa? Kalian selalu bertengkar tentang hal yang tidak berguna.” tiba-tiba Siwon dating.

“Diam kau!” ucapku dan Donghae bersamaan.

“Mwo, kenapa jadi aku yang kena semprot?”

“Hei . . . hei . . . kalian kenapa bertengkar?” tiba-tiba Yesung oppa dating.

“Ani, kami hanya sedang berdiskusi.” Jawabku. Karena takut dimarahi Yesung hyung.

“Berdiskusi, suara kalian sampai terdengar ke dalam. apa yang sebenarnya kalian perdebatkan?”

Akhirnya aku menjelaskan ideku dan Donghae kepada Yesung hyung dan Siwon.

“Ne, aku tahu tentang itu. Tadinya aku juga akan bertanya langsung pada Teuki hyung, tapi aku takut dia akan marah. Jadi tidak melakukannya.” Ucap Yesung hyung.

“Lalu hasil dari penyelidikannya bagaimana?”

“Hasilnya, noona Min Jee belum menikah. Wo Bin itu anak kakaknya.” Ucap Donghae antusias.

“Lalu bagaimana dengan Teuki hyung setelah mendengarnya?”

“Dia datar-datar saja. Sepertinya sama sekali tidak tertarik.” Jawab Donghae.

“Hyung, bagaimana kalau kita mengundang noona Min Jee makan disini.” Ucap Siwon.

“Bagus juga idemu. Kapan? Siapa yang akan mengundangnya?”

“Hyung, aku dan Hyukjae akan belanja bahan makanan. Dan Siwon yang akan mengundang noona Min Jee untuk makan disini.”

“Wae? Kenapa harus aku?”

“Karena aku dan Hyukjae yang akan belanja.”

“Tidak apa-apa, biar aku yang akan menemanimu nanti.” Ucap Yesung hyung.

“Hyung, apa kita perlu memberi tahu yang lain tentang rencana ini?”

Lee Teuk

Aku melenggang keluar kamar. “Sepi. Kemana orang-orang?” pikirku. Aku turun ke lantai bawah. Ada Ryeowook di ruang tengah sedang menonton TV.

“Wooky, kemana yang lain?”

“Aku tidak tahu. Saat aku keluar kamar, sudah tidak ada orang.”

Aku berjalan mendekati Wooky dan duduk disampingnya. Ikut menonton TV.

“Wooky, kau sudah mandi belum?”

“Apa maksud hyung bertanya seperti itu?” ucap Ryewook, tidak terima dengan pertanyaan yang aku lontarkan.

“Ani, aku hanya bertanya. Kau sedang menonton apa?”

“Drama televise.” Wooky memang suka menonton drama tv. Pada suatu hari, akupun pernah memergokinya menangis karena salah satu adegannya.

“Apa judulnya?”

“Boys Before Flower.”

“Bukankah itu drama televise Hyun Joong?”

“Ne.”

“Kenapa kau suka sekali drama tv? Menurutku kisahnya sama-sama saja.”

“Hyung, sekarang aku Tanya. Kenapa hyung suka menyanyi?”

“. . .”

“Hyung tidak bisa menjawab kan? Aku pun begitu. Rasanya, saat menonton drama ada sesuatu yang menrikku untuk menontonya.”

“Berlebihan kamu. Sudah, aku mau ke toilet.”

“Hyung, setelah dari toilet. Sekalian bawakan aku minum ya. Aku hais sekali.”

“Kau menyuruhku? Kenapa tidak kau ambil sendiri?”

“Ani, aku hanya minta tolong. Aku tidak mau terlewat satu adegan pun.”

“Kau ini. Anak kecil.”

Donghae

“Kami pulang . . .” ucapku saat memasuki rumah. Kulihat Ryeowook sedang menonton acara tv favoritnya. Drama televisi. “Wooky, Teuki hyung sudah bangun belum?”

“Sudah. Dia sedang di toilet.”

“Hyukjae-ah, aku akan ajak Teuki hyung jalan-jalan. Kau dan Wooky yang akan memasak.”

“Ne.”

Kulihat Teuki hyung keluar dari toilet.

“Hyung, aku ingin jalan-jalan. Temani aku ya!” aku berjalan mendekati Teuki hyung langsung menempel dengan tubuhnya.

“Hei, kau kenapa?” Teuki hyung menatapku heran. “Biasanya kau selalu bersama Monkey. Hei Monkey, temani Donghae jalan-jalan.”

“Andwae, aku ingin bersamamu. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Jawabku tegas.

“Ne, baiklah. Aku akan menemanimu. Ayo.”

Akhirnya aku berhasil mengajak Teuki hyung. Tapi kemana aku akan mengajaknya?

“Kita mau kemana?” ucap Teuki hyung saat kami akan melangkah pergi.

“Bagaiman kalau kita ke batu karang. Disana pemandangannya bagus.”

“Baiklah.”

Lee Teuk

“Donghae-ah, sudah hampir malam. Kita pulang!”

“Sebentar lagi hyung . . .”

“Kau ini aneh sekali.”

“Shining star, like a little diamond . . .” terdengar hanphone Donghae bordering.

“Yeoboseyo? Ne.”

“Hyung, ayo pulang!”

“Barusan, telpon dari siapa?”

“Bukan siapa-siapa. Ayo hyung kita pulang, aku sudah lapar.”

Saat sampai di halaman vila, aku merasa ada yang aneh. Tidak biasanya seramai ini. Apa ada tamu? Aku melangkahkan kakiku ragu-ragu kedalam.

“Hyung, ayo masuk. Kenapa bengong. Aku sudah lapar.” Ucap Dnghae sambil menarik tanganku. Aku hanya pasrah Donghae menyeret tubuhku kedalam.

“Kami pulang . . .” ucapku. Aku benar-benar tidak percaya dengan sosok yang aku lihat di ruang tamu. Dia tersenyum padaku. “Kenapa kau bisa berada disini?” tanyaku heran.

“Aku diundang makan malam oleh mereka.” Ucap orang itu sambil melirik dongsaeng-dongsaengku yang cengar-cengir tidak karuan.

“Terima kasih. Kalian memang mengerti aku.” Ucapku dalam hati.

“Hyung ayo duduk.” Donghae menarik tubuhku untuk duduk di sofa dengan Min Jee. Ya, mereka mengundang Min Jee untuk makan malam bersama kami.

Kulihat Min Jee tertunduk, mungkin dia malu. “Min Jee-ah, maafkan dongsaeng-dongsaengku. Mereka memang kurang waras.”

“Tidak apa-apa oppa. Aku suka. Jadi aku tidak canggung.”

“Noona, siapa diantara kami yang belum kau kenal?” ucap Ryeowook.

“Aku baru tahu, Leeteuk oppa, Kangin, Shindong, Kibum, dan Siwon.” Jawabnya malu-malu.

“Min Jee-ah, kau tidak mengenalku?” sungut Heechul tidak terima jawaban Min Jee.

“Mianhamnida oppa, tapi aku benar-benar tidak tahu.”

“Heechul-ah, kau jangan seperti itu. Kau membuatnya taku. Baiklah aku akan memperkenalkan dongsaeng-dongsaengku satu persatu.”

Aku memperkenalkan dongsaeng-dongsaengku satu-persatu mulai dari Heechul sampai Kyuhyun. Memang tidak mudah mengingat nama-nama kami satu-satu yang berjumlah tiga belas orang ini.

“Makanan sudah siap . . .” ucap Ryeowook yang dating dari arah dapur bersama Eunhyuk.

“Min Jee, ayo!” aku terus menemani Min Jee, karena aku tidak mau Min Jee merasa tidak dianggap olehku.

Selesai makan malam, aku mengajak Min Jee mengobrol di halaman vila. Kami duduk di bangku taman.

“Min Jee-ah, kamsahamnida. Kau mau menerima undangan makan malam kami.”

“Aku juga oppa. Aku senang sekali bisa mengenal kalian semua. Kalian semua ternyata berbeda sekali.”

“Maksudmu?”

“Kalian sangat berbeda jauh saat kalian berada di panggung, ataupun didepan public.”

“Tentu saja. Sebenarnya kami ingin memperlihatkan siapa sesungguhnya kami kepada public. Tapi karena profesi kami, kami dituntut sempurna oleh perusahaan apabila didepan public.”

“Aku mengerti oppa.”

“Min Jee-ah, aku . . . aku . . . aku . . .  sebenarnya semenjak pertama kali aku bertemu denganmu. Aku tidak bisa menghilangkanmu dari pikiranku. Kau tahu apa artinya itu?” ucapku dengan tetap menundukkan kepalaku. Aku tidak berani menatapnya.

“Oppa . . .” lirih Min Jee. Suaranya seperti sedang menangis.

Aku mengangkat kepalaku dan kuberanikan diri untuk menatapnya. Kulihat air mata mengalir di pipinya. Tanganku bergerak, ingin mengahapus air matanya. Tapi . . . dia menghindarinya. Kemudian, mengusap sendiri air matanya.

“Kenapa? Kau kenapa menangis?”

Di belum juga menjawabku. Aku menunggu dia membuka mulutnya untuk berbicara.

“Oppa, saranghae . . .”

Hatiku sangat senang mendengarnya. Tapi . . .

“Mian . . .”

Aku benar-benar kaget mendengar ucapannya barusan.

“Wae?” ucapku. Aku benar-benar takut mendengar lanjutan kalimatnya.

“Oppa . . .” lirihnya. “Mianhae, aku tidak bisa menerimanya.”

“Wae?”

“Karena kita berbeda. Aku tidak bisa menerimamu. Seandainya kita sama.”

“Kita memang berbeda.”

“Kita berbeda keyakinan.” Ucapnya tegas.

Rasanya jantungku dihujam benda yang sangat keras saat Min Jee mengatakan hal itu. Aku menundukkan kepalaku. Aku ingin menangis, tapi kutahan.

“Mianhae oppa! Sebaiknya aku pulang. Sudah malam.” Ucapnya sambil berdiri dan beranjak pergi. Tapi kutahan.

“Min Jee, sudah malam. Aku akan mengantarmu.”

“Tidak usah. Kita bukan muhrim, kita tidak boleh jalan berdua.”

“Aku akan ajak dongsaeng-dongsaengku. Kau mau kan?”

“Ne, baiklah kalau begitu.”

Akhirnya aku ditemani Eunhyuk dan Donghae untuk mengantar Min Jee pulang. Selama perjalanan kami saling diam tidak berbicara. Eunhyuk dan Donghae yang meramaikan perjalanan kami. Mereka saling ejek. Kadang kulihat Min Jee tersenyum karena lawakan Eunhyuk dan Donghae. Setelah kejadian ini, apa aku akan melihat senyum itu lagi diwajahnya? Atau yang lebih parah, apakah aku tidak akan bertemu lagi dengannya? Oh Tuhan, kuatkan hatiku.

“Terima kasih sudah mengantarku.” Aku tersadar dari lamunanku. Ternyata sudah sampai. Rasanya cepat sekali. “Aku masuk dulu.” Ucapnya sambil tersenyum, tapi ada kesedihan wajahnya.

“Min Jee . . .”

“Ne . . .”

“Aku masih bolehkan bertemu denganmu?”

“Tentu saja.” Ucapnya seraya masuk kedalam rumah.

Kami baru pergi setelah kulihat Min Jee benar-benar masuk kedalam rumah.

“Hyung, kau sudah menyatakan perasaanmu padanya kan?” ucap Euhyuk antusias.

“Ne.” ucapku malas-malasan.

“Kau kenapa hyung?” ucap Donghae khawatir. “Kenapa kau tidak semangat seperti itu?” lanjutnya.

Aku diam saja tidak menjawab. Mereka terus bertanya padaku. Aku masih diam beribu bahasa sampai kami sampai di vila. Aku langsung masuk kedalam kamar dan mengurung diri disana.

Yesung

“Donghae-ah. Hyung kenapa?” ucapku merasa khawatir melihat wajah Teuki hyung yang ditekuk seperti itu.

“Molla,,, semenjak tadi dia terus begitu. Kami sudah bertanya sampai mulut kami kering. Tapi hyung tidak menjawabnya.”

“Apa mungkin cinta hyung ditolak?” celetuk Ryeowook. “Aww . . .” Ryeowook meringis sakit karena aku memukul kepalanya.

“Kau jangan bicara sembarangan. Mana ada gadis yang berani menolak hyung kita.”

“Tapi hyung, kau tidak perlu memukul kepalaku kan?” ucap Ryeowook tidak terima aku memukul kepalanya. Tapi aku menghiraukannya.

Yang ada dipikiranku saat ini hanyalah Teuki hyung. Apa yang harus kami lakukan?

_KEESOKAN PAGINYA_

Kini aku sudah berada di depan pintu kamar Teuki hyung. Setiap kali aku ingin mengetuk, aku takut kalau Teuki hyung tidak mau menerima kehadiranku.

“Apa yang sedang kau lakukan?” aku mendengar suara yang tidak asing bagiku. Aku menoleh ke sumber suara. Aku benar-benar kaget.

“Hyung, kau sudah bangun?”

“Ne, aku baru selesai mandi. Kau sudh mandi?”

Raut wajahnya benar-benar tidak seperti orang yang sedang sedih. Malah kebalikannya. Pagi ini, wajahnya begitu cerah tidak ada kesedihan sedikitpun. Tidak seperti tadi malam.

“Hyung, kau baik-baik saja?” aku menatap heran.

“Apa maksudmu?” ucap Teuki hyung sambil membuka pintu kamarnya dan aku mengikuti dari belakang. “Kenapa kau mengikutiku? Aku mau memakai baju. Kau mau melihatku pakai baju?”

“Ani,,,” aku melenggang keluar.

Aku masih tidak habis pikir dengan tingkah laku Teuki hyung akhir-akhir ini. Apa yang harus aku lakukan? Aku berjalan menuju lantai bawah. Kulihat Ryeowook sedang beres-beres.

“Hyung ayo kemari bantu aku.”

“Andwae, kenapa harus aku?”

“Karena hanya ada kau disini.”

“Memang yang lain kemana?”

“Mereka sedang berkumpul di kamar Kangin hyung.”

“Sedang apa?”

“Molla, mungkin membicarakan Teuki hyung.”

“Kalau begitu aku juga akan kesana.”

“Hyaa,,, hyung kau mau kemana? Bantu aku!” aku tidak mempedulikan panggilan Ryeowook. Aku benar-benar ingin mengetahui apa yang dongsaeng-dongsaeng dan hyung-hyungku bicarakan di kamar Kangin.

Tanpa mengetuk pintu kamar Kangin, aku langsung melenggang masuk.

“Hyaa, hyunh kau membuat kami kaget. Aku kira Teuki hyung yang masuk.” Ucap Kangin.

“Mianhae,,, apa yang kalian bicarakan? Kenapa tidak mengajakku.” Ucapku seraya duduk di tempat tidur. “Aku benar-benar khawatir dengan keadaan Teuki hyung. Lusa kemarin dia gembira, lalu sedih, terus gembira lagi, sedih lagi, pagi ini dia tersenyum tanpa beban padaku.” Jelasku panjang lebar.

“Justru itu yang sedang kami bicarakan.” Ucap Kyuhyun.

“Jadi, apa rencana kita selanjutnya.”

“Aku sih inginnya kita menanyakan langsung pada hyung atau pada Min Jee.” Ucap Kangin.

“Menurutku kita jangan menanyakan langsung pada hyung. Itu malah akan membuatnya sedih lagi.” Jelas Donghae.

“Tapi, kalau kita menanyakan langsung pada noona Min Jee, itu juga akan membuatnya sedih.” Lanjut Eunhyuk.

Kami semua berpikir keras pagi itu. Apa yang harus kami lakukan pada hubungan Teuki hyung dan Min Jee.

to be continue

2 thoughts on “IMPOSSIBLE LOVE – Part 2”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s