IMPOSSIBLE LOVE – Part 3 End

Part 1 Part 2

Leeteuk

“Yeoboseyo . . .! Ne . . .”

Aku melenggang keluar kamar. Kulihat Ryeowook sedang beres-beres.

“Wooky . . .”

Wooky mendongakkan kepalanya padaku. “Mwo?”

“Kemana yang lain?”

“Tidak tahu.”

“Baiklah. Kau jangan pergi kemana-mana. Ada yang mau aku bicarakan. Aku akan mencari yang lain dulu.”

Saat akan melangkah, aku mendengar sedikit keributan di kamar Kangin. Aku mendekati pintu kamar Kangin, dan mencoba mendengar dari balik pintu. Tapi aku tidak bisa mendengar dengan jelas. Aku khawatir Kangin sedang berbuat ulah. Jadi kuputuskan untuk masuk tanpa ijin kedalam kamar. Yang kulihat bukan hanya Kangin yang berada dikamar, tapi semua dongsaeng-dongsaengku minus Ryeowook yang sedang membereskan vila.

“Kalian sedang apa?”

“Kami tidak sedang melakukan apa-apa. Hanya mengobrol saja.”

“Mengobrol? Dan kalian membiarkan Wooky beres-beres sendirian? Sekarang kalian keluar bantu-bantu Wooky!” bentakku.  Mereka semua langsung berlarian keluar untuk membantu Wooky.

Setelah mereka selesai beres-beres, ku mengumpulkan mereka di ruang tamu. Kulihat mereka semua menundukkan kepala. Mungkin karena aku marah.

“Mianhae,,, tadi aku memarahi kalian.” Ucapku membuka pembicaraan. “Aku mengumpulkan kalian karena ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian.” Semua mendongakkan kepala mereka. “Setelah makan siang nanti bereskan barang-barang kalian. Malam ini kita pulang ke Seoul.”

“Mwo??” ucap mereka bersamaan.

“Bukankah kita masih punya waktu 3 hari lagi?” protes Shindong.

“Ne,,, aku tahu. Tapi tadi manager menelponku. Katanya ada pekerjaan yang harus kita selesaikan dan tidak bisa di tunda. Setelah kita menyelesaikan tugas itu, kita akan mendapat tambahan libur. Tapi mungkin tidak langsung. Mungkin liburan musim dingin kita yang akan ditambah.”

Malam itu kami pulang ke Seoul. Kami menyetir secara bergantian.

Heechul

“Sepertinya, Jungsu sudah lupa tentang Min Jee.” Ucapku. Kami menggunakan dua mobil dan aku tidak semobil dengan Jungsu. Begitu aku biasa memanggilnya. Jadi aku bebas membicarakan Jungsu tanpa diketahui olehnya.

“Molla,,, tapi sepertinya iya. Soalnya dari tadi pagi, wajahnya tidak telihat sedih.” Jawab Yesung.

Perjalanan kami tempuh kurang lebih selama dua jam. Sampai di Dorm, kami langsung istirahat.

KEESOKAN PAGINYA

“Heechul ayo bangun!!” terdengar seseorang memanggilku dari luar kamar. Yang memanggilku tanpa panggilan hyung, siapa lagi kalau bukan Leeteuk. Aku berjalan menuju pintu dan membukanya.

“Ayo cepat bangun dan mandi. Jam 8 kita ditunggu manager di kantor.” Ucap Leeteuk saat aku berada dihadapannya dengan mata masih mengantuk.

“Ne,,,” jawabku malas-malasan. Meskipun mataku masih tertutup, tapi kudengar Leeteuk mengetuk satu persatu pintu kamar member yang lain. Aneh, sama sekali bukan kebiasaannya. Pikirku. Aku tidak mau membuat Leeteuk marah, jadi aku segera melaksanakan perintahnya untuk segera mandi. Aku tahu saat ini keaadaan hatinya sedang tidak baik. Jadi aku tidak mau cari masalah dengannya.

Jam 7.30 semua member sudah siap. Kami berjalan bersama menuju kantor manager. Leeteuk mengetuk pintu kantor manager. Saat kami masuk, bukan hanya ada manager disana. Tapi juga ada seseorang. Kami tidak tahu itu siapa, karena tubuhnya membelakangi kami. Kami hanya bisa lihat sedikit kepalanya karena tertutupi sofa.

“Hyung ada apa?” ucap Leeteuk. Terlihat sekali kalau dia tidak senang liburannya diganggu.

“Ada seseorang yang ingin aku kenalkan pada kalian.”

Kami semua mendekat menuju sofa. Saat dihadapan orang itu, dia masih menundukkan kepalanya. Rasanya aku pernah melihatnya.

“Annyong,,,” ucap kami bersama-sama.

Orang itu mengangkat wajahnya. “Min Jee?!,,, Min Jee noona?!” ucap kami bersamaan.

“A,,,a,,,apa yang sedang kau lakukan disini?” ucap Jungsu.

“Annyong,,,” ucapnya.

“Kalian sudah saling kenal?” ucap manager.

“Kami bertemu di pantai.” Jawab Min Jee santai. Sementara kami. Masih dengan mulut terbuka karena kaget dan bingung.

“Baiklah kalau begitu. Baguslah kalau kalian sudah kenal. Mulai sekarang Min Jee akan bekerja bersama kita. Dia akan bekerja sebagai asistenku. Dan untuk menggantikan untuk sementara waktu. Karena lusa aku harus pergi ke Amerika untuk urusan SM.

“Apa?” ucap Leeteuk.

“Kenapa? Kau keberatan? Kalau kau keberatan, silakan kau hubungi presiden SM.”

“Ani,,,” Leeteuk menundukkan kepalanya. Terlihat raut wajahnya langsung berubah lagi. Dia terlihat sedih. Aku mengusap punggung Leeteuk pelan.

“Aku ke toilet sebentar.” Leeteuk ijin meninggalkan ruangan dengan kepala masih tertunduk. Aku tahu saat ini dia pasti sedih sekali. Kulihat Donghae mengejarnya tapi kutahan, karena aku tahu saat ini Jungsu pasti ingin sendiri. Kulirih wajah Min Jee. Ternyata bukan hanya Leeteuk, tapi kulihat raut kesedihan pula di wajah Min Jee. Tapi dia masih berusaha tegar didepan kami.

“Baiklah, ayo kita mulai rapatnya.” Ucap Manager mebuyarkan lamunanku.

Leeteuk

Aku keluar ruangan dan berlari menuju atap gedung. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Melepaskan semua amarahku dan kesedihanku. Akupun mengangis sampai mataku ini kering rasanya. Cukup lama aku disana, sampai aku memutuskan untuk kembali ke kantor setelah keadaan hatiku sudah tenang.

“Maaf lama menunggu!” ucapku saat memasuki kantor manager. Mereka semua menatapku cemas. Aku tahu itu, termasuk Min Jee.

“Jungsu, apa kau baik-baik saja? Kalau kau sedang tidak enak badan kembalilah ke kamar dan istirahat.”

“Ani,,, aku baik-baik saja. Kita lanjutkan, sudah sampai mana?”

“Begini,,,” lanjut manager. Kami hari itu seharian rapat tentang penjadwalan ulang kami. Karena manager harus pergi ke Amerika jadi kami harus mengatur jadwal kami lagi dengan Min Jee.

“Baiklah kalau begitu, sepertinya sudah selesai. Aku akan pergi ke Amerika dengan tenang kalau begini. Kalian boleh kembali ke kamar dan istirahat. Min Jee, kau pulang dengan siapa?”

“Aku dijemput oleh,,,” Min Jee tidak menyelesaikan kalimatnya. Matanya melirik kearahku.

“Manager, kami kembali ke kamar dulu.” Aku segera keluar tidak mau berlama-lama disana. Aku merasakan mata Min Jee terus melirikku.

Saat sampai di kamar aku langsung mengambil kunci mobilku.

“Hyung kau mau kemana?” ucap Donghae.

“Aku mau jalan-jalan.”

“Boleh aku ikut?”

“Tidak, kau bermain saja dengan Monkey.”

“Hyung, aku bukan anak kecil.”

“Terserah,,, aku pergi dulu. Tidak usah menungguku untuk makan malam.”

Aku langsung menuju basemen gedung mengambil mobilku yang terparkir disana. Kulajukan mobil sampai dengan kecepatan diatas normal. Saat melewati pintu masuk gedung, aku melihat Min Jee masuk kedalam mobil bersama seorang laki-laki. Aku tidak tahu itu siapa. Karena aku yakin itu bukan Minho hyung. Tapi kulihat dibangku belakang ada Wo Bin. Aku rindu sekali pada anak itu. Aku terus melajukan mobilku dan terus melihat Min Jee dari kaca spion mobil. Setelah hilang dari pandanganku, barulah mataku melihat kedepan. Tapi . . .

Kepalaku sakit dan mataku berkunang-kunang. Penglihatanku tidak jelas, tapi aku bisa memastikan kalau semuanya serba putih. Kudengar seseorang berbicara.

“Dok, pasien sudah sadar.”

“Coba periksa denyut nadinya.”

“Normal dok.”

“Baiklah, ayo kita keluar. Beritahu keluarganya.”

“Hyung, kau baik-baik saja?” kudengar lagi seseorang memanggilku, aku tahu itu suara siapa. Perlahan aku membuka mataku. Kulihat Donghae, Hyukjae, Heechul, Yesung, Kyuhyun, dan Hankyung. Mereka mengelilingiku.

“Aku dimana?” lirihku.

“Hyung ada di Rumah Sakit. Hyung kecelakaan. Hyung ingat?” ucap Kyuhyun.

“Aku,,,aku,,,” aku mencoba mengingat tapi saat aku mengingatnya, kepalaku langsung sakit.

“Jangan dipaksakan hyung.” Ucap Donghae.

Aku mengalami kecelakaan. Aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi padaku. Aku melihat seorang gadis di pintu. Aku tidak tahu itu siapa.

“Siapa dia?” ucapku sambil menunjuk gadis yang berada di pintu.

“Dia Min Jee noona, hyung tidak ingat?” ucap Eunhyuk.

“Tidak, aku tidak ingat padanya, memangnya siapa dia?”

“Hyung, coba kamu sebutkan nama kami?” pinta Donghae.

“Kau bercanda?” ucapku sambil tertawa.

“Lakukan saja.” Paksa Eunhyuk.

Kemudian aku menyebutkan nama mereka satu persatu, “Donghae, Hyukjae, Heechul, Yesung, Kyuhyun, Hankyung.” Jawabku datar.

“Sebutkan semua nama-nama dongsaengmu!” kali ini Yesung yang memakasa. Aku menurutinya lagi mulai dari Heechul sampai magnae Kyuhyun aku sebutkan nama mereka satu persatu.

“Kau ingat manager Lee?” ucap Hankyung.

“Tentu saja.”

“Kau ingat liburan kemarin?”

“Kemarin? Maksudmu liburan musim dingin yang lalu?”

“Hyung, kau tidak ingat kemarin kita baru pulang liburan dari pantai?”

“Ani,,,”

“Hyukjae, cepat kau panggil dokter. Ada yang tidak beres.” Ucap Yesung.

“Ne,,,” Hyukjae berlari keluar kamar. Sementara aku masih bengong melihat raut wajah dongsaeng-dongsaengku yang terlihat kebingungan.

Kulihat Yesung keluar kamar untuk menelpon. Dari kejauhan gadis itu seperti menitikkan air mata. Beberapa menit kemudian dokter dating dan langsung memerikasaku. Setelah memeriksaku, dokter itu keluar bersama Yesung daN Hankyung.

Yesung dan Hankyung memanggil Donghae, Hyukjae, Heechul, dan Kyuhyun. Sementara aku ditemani gadis yang bernama Min Jee tadi.

“Min Jee noona!” panggil Donghae dari luar kamar. Kemudian gadis itu memenuhi panggilan Donghae dan ikut keluar kamar.

Yesung

“Teuki hyung amnesia.” Ucapku.

“Mana mungkin. Buktinya dia ingat namaku.” Jawab Kyuhyun.

“Dokter bilang, Teuki hyung kehilangat sebagian ingatannya. Dia tidak ingat hal-hal yang membuat pikirannya tertekan.” Jelas Hankyung.

“Jadi, dia hanya tidak ingat pada saat kita liburan di pantai saja.” Lanjutku.

“Itu artinya, saat oppa bertemu denganku pun dia tidak ingat.” Ucap Min Jee. Kulihat Min Jee menitikkan air matanya.

Kami semua menundukkan kepala ikut sedih. Memang sangat disesalkan, hyung tidak ingat kepada Min Jee. Padahal saat bertemu Min Jee, baru kali itu aku melihat Teuki hyung sangat bahagia. Sejak dia putus dengan So Eun noona, dia tidak pernah sebahagia saat bertemu dengan Min Jee.

“Sampai kapan hyung amnesia?” ucap Donghae.

“Kata dokter mungkin berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun atau bahkan mungkin selamanya.” Jelas Hankyung.

Leeteuk

Aku sudah seminggu dirawat di rumah sakit. Setiap hari dongsaeng-dongsaengku bergantian untuk menjagaku. Kecuali Kibum yang jadwalnya memang padat. Tapi dia pun selalu menjengukku walau Cuma sebentar. Min Jee pun selalu dating untuk menjengukku. Meskipun dia sudah setiap hari datang menjengukku aku tidak bisa ingat siapa dia. Yang aku tahu dia adalah pengganti manager Lee, selama pergi ke Amerika.

Hari ini aku sudah diperbolehkan untuk pulang. Donghae, Eunhyuk dan Min Jee yang menjemputku.

Aku lihat ada kebahagiaan dan kesedihan di wajah Min Jee. Kenapa? Batinku. Aku tidak berani bertanya padanya karena kami tidak terlalu dekat. Aku takut malah akan menyakiti hatinya.

DORM SUJU

“Hyung kau sudah pulang,,,” sambut Kangin saat aku masuk kamar. Semua berkumpul di kamarku. Ternyata, mereka tidak ikut menjemputku karena mereka menyiapkan acara penyambutan untukku. Semua ada disana. Termasuk orangtua dan noonaku. Di kamarku yang kecil itu, kami emua berkumpul meskipun agak sesak.

Setelah istirahat cukup lama, aku kembali ke rutinitasku sebagai member Super Junior. Menyanyi, pemotretan, DJ radio dan wawancara diberbagai acara televise atau majalah. Apalagi setelah kecelakaanku, banyak yang ingin mengetahui keadaanku saat ini.

Selama melakukan rutinitasku itu, hubunganku dan Min Jee layaknya manager dan artisnya. Tapi aku tidak mengerti kenapa dongsaeng-dongsaengku selalu menanyakan pertanyaan yang sama padaku setiap hari. “Hyung, apakah kau sudah ingat kepada Min Jee noona?” itu yang selalu mereka tanyakan padaku setiap hari. Aku benar-benar tidak mengerti. Aku tidak ambil pusing dengan pertanyaan yang mereka lontarkan padaku. Sebab setiap aku berusaha mengingat sesuatu, kepalaku selalu pusing. Min Jee pun sepertinya tidak terlalu ambil pusing. Dia melakukan pkerjaannya sebagai manager kami dengan baik.

“Oppa, ada yang menawari untuk jadi bintang iklan. Kau mau menerimanya?” ucap Min Jee saat kami sedang berlatih.

“Iklan apa?” tanyaku.

“Iklan minuman. Kau mau menerimanya tidak?”

“Apakah hanya aku sendiri?”

“Ne,,, perusahaan itu menginginkan kau sebagai model iklannya. Kalau kau menyetujuinya, besok aku akan bertemu dengan agency iklan untuk mengambil surat kontraknya.”

“Ne,,,” jawabku singkat. “Tapi,,, perlukah aku ikut denganmu ke kantor iklan itu?”

“Kalau kau besok tidak ada jadwal, boleh saja. Itu lebih baik. Pekerjaanmu akan lebih cepat selesai.”

“Baiklah, aku ikut saja.”

“Ne, besok kita berangkat jam delapan.”

_KEESOKAN PAGINYA_

“Sebentar . . .!” ucapku saat kudengar pintu kamar diketuk. “Min Jee . . .”

“Oppa, kau sudah siap?”

“Ne, aku sudah siap. Aku ambil tasku dulu didalam. Min Jee, kita pakai mobilmu kan? Karena aku belum bisa membawa mobil sendiri.”

“Ne,,,” jawabnya datar. Saat akan masuk mobil kulihat ada seorang anak kecil sedang duduk di kursi belakan. “Itu anakmu?”

“Bukan, dia anak onnieku.”

Saat aku masuk kedalam mobil, anak kecil itu langsung menyapaku. “Annyong oppa!”

“Annyong,,,” ucapku ramah. “Namamu siapa?”

Raut wajah anak kecil itu langsung berubah saat aku menanyakan namanya.

“Hyung lupa namaku?”

“Apa maksudmu? Aku tidak pernah bertemu denganmu. Jadi mana mungkin aku lupa namamu.”

“Amma, kenapa Teuki hyung tidak ingat namaku?” ucapnya pada Min Jee.

“Amma? Kau bilang dia bukan anakmu?”

“Ne, dia memang bukan anakku. Tapi dia selalu memanggilku amma karena kami sangat dekat.”

Aku mengangguk mengerti. “Amma jawab aku!” pintanya memaksa pada Min Jee.

“Mianhae Wo Bin. Teuki hyung hanya lupa namamu. Ayo perkenalkan dirimu lagi.”

Kemudian anak itu memperkenalkan namanya padaku. Masih terlihat raut kebingungan di wajahnya.

“Oppa, kau tidurlah. Perjalanan kita masih jauh.”

“Baiklah,,, aku akan tidur sebentar.”

“Saat sampai nanti aku akan membangunkanmu.”

Aku menutup mataku. Dalam beberapa menit saja aku sudah tertidur lelap.

Aku merasakan angin di pipiku dan kudengar suara ombak. Rasanya seperti mimpi. Aku kemudian membuka mataku. Aku benar-beanr kaget saat kulihat laut didepan mataku. Aku kira aku bermimpi, tapi aku berada di mobil Min Jee. Aku berjalan keluar. Tidak ada siapapun disana. Min Jee pun tidak ada. Aku terus berjalan menyusuri pantai. Kulihat seseorang berdiri tidak jauh dariku. Aku mendekatinya. Seluruh tubuhnya tertutup. Tapi saat jarakku dengannya tinggal satu meter, dia berbalik. Seperti mengetahui kedatanganku. Aku benar-benar kaget dibuatnya. Dia tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya. Wajahnya benar-benar bercahaya, bukan karena sinar matahari tapi benar-benar dari dalam dirinya.

“Min Jee,,,” ucapku kaget.

“Annyong . . .” dia membungkukkan badannya. “Ada yang bisa saya bantu?”

Tiba-tiba kepalaku sakit sekali. “Aaaaa . . .”

“Oppa kau kenapa?”

“Aaaaa . . .” aku meringis kesakitan sambil memegang kepalaku. Rasanya seperti mau pecah. Aku hanya bisa mendengar suara Min Jee yang sangat cemas.

Kepalaku sakit dan mataku berkunang-kunang. Penglihatanku tidak jelas, tapi aku bisa memastikan kalau semuanya serba putih. Kudengar seseorang berbicara.

“Dok, pasien sudah sadar.”

“Coba periksa denyut nadinya.”

“Normal dok.”

“Baiklah, ayo kita keluar. Beritahu keluarganya.”

“Hyung, kau baik-baik saja?” kudengar lagi seseorang memanggilku, aku tahu itu suara siapa. Perlahan aku membuka mataku. Kulihat Donghae, Hyukjae, Ryeowook, Yesung, dan Siwon . Mereka mengelilingiku.

“Aku dimana?” lirihku.

“Hyung, kau sudah sadar?” ucap Ryeowook.

“Kenapa aku bisa disini?”

“Hyung pingsan.” Jelas Hyukjae.

“Pingsan?” ucapku heran.

“Kau kenapa hyung?” ucap Siwon.

Tidak terasa air mataku jatuh. Aku ingat kejadian saat aku lihat Min Jee bersama seorang laki-laki.

“Hyung kau kenapa menangis?” ucap Yesung. Aku akan memanggil dokter.

“Jangan!” ucapku menghentikan Yesung.

Semua menatapku heran. “Hyung kau baik-baik saja kan?” ucap Hyukjae.

Kulihat Min Jee berdiri di mulut pintu. Menatapku, wajahnya rerlihat sangat cemas. Aku membalas tatapannya dengan dingin. Dia merasakn tatapan dinginku padanya, karena dia langsung menghilang dari sana.

“Lho, Min Jee noona kemana?” ucap Hyukjae yang berniat mengajaknya masuk. “Aku akan mencarinya.”

Eunhyuk

Aku keluar kamar, untuk mencari Min Jee noona. Nihil, dia tidak ada disana. Aku mencari kesetiap sudut rumah sakit. Sampai pada akhirnya aku menemukannya sedang duduk di taman rumah sakit. Aku mendekatinya. Dia tidak menyadari kedatanganku karena wajahnya tertunduk. Kulihat tangannya basah. Dia menangis. Aku memegang pundaknya. Tangannya langsung mengusap air mata di pipinya dan kemudian mengangkat wajahnya. Masih terlihat sisa airmata di pipinya yang basah.

“Noona kenapa?”

“Ah Hyukjae, kau mengagetkanku.” Dia masih berusaha tersenyum padaku.

“Jangan tersenyum noona. Aku tahu kau menangis. Menangislah.” Ucapku sambil duduk disampingnya. Dia masih menahan air matanya jatuh. “Noona apa yang kau tangisi. Harusnya noona senang karena Teuki hyung tidak apa-apa. Dia sudah sadar sekarang.”

“Tentu saja aku senang.” Ada sebuah senyuman yang dipaksakan disana.

“Ceritakan padaku noona!” paksaku.

“Aku takut,,,”

“Takut kenapa?”

“Saat aku berdiri di pintu tadi, oppa menatapku dingin. Ada kesedihan dan kemarahan disana. Mungkin dia sudah ingat semuanya.”

“Kau kan belum memastikannya. Ayolah, mungkin itu hanya perasaanmu saja. Lagi pula, baguskan kalau dia sudah ingat semuanya.”

“Bagiku, lebih baik dia tidak ingat aku. Karena jika dia ingat aku, dia pasti membenciku.”

“Apa maksudmu dengan dia akan membencimu? Memangnya apa yang sudah kau lakukan padanya?”

“. . .”

“Sudahlah, ayo kita jenguk Teuki hyung.”

“Baiklah.”

Kami berdua berjalan menuju kamar Teuki hyung. Ada kecemasan dan ketakutan di wajah noona, tapi aku terus menyemangatinya.

Saat sampai di depan pintu kamar Teuki hyung, Min Jee noona menghentikan langkahnya.

“Hyukjae, aku ragu.”

“Kau tidak boleh seperti itu. Ayo!” aku membukakan pintu untuknya. Saat kami masuk, ternyata semua member sudah berkumpul. Teuki hyung belum melihat kedatangan Min Jee noona karena terhalang oleh member lain yang sedang mengerumuninya.

“Ayo semuanya minggir!” ucapku. Min Jee noona berjalan dibelakangku. Semua member member jalan pada kami berdua. Kulihat Teuki hyung sedang tertawa. Tapi saat aku mendekatinya, dia menghentikan tawanya. Benar, tatapannya sangat dingin saat mengetahui aku dating bersama Min Jee noona.

“Hyung kau ingat siapa dia?” ucpku.

“Apa maksudmu?” ucapnya heran.

“Jawab saja.”

“Dia Min Jee, memangnya kenapa?”

“Kau tahu siapa dia?”

“Dia, asisten manager Lee.”

“Ah,,, hyung kau sudah ingat. Terima kasih Tuhan.” Ucapku seraya memeluk Teuki hyung.

“Apa yang kau lakukan?” ucap Teuki hyung sambil melepaskan diri dari pelukanku.

“Kau tidak ingat, kurang lebih selama seminggu kau amnesia. Ya memang tidak sepeuhnya amnesia, karena kau masih ingat kami. Tapi kau hanya tidak ingat kepada Min Jee noona saja.”

“Apa benar?” Teuki hyung menatap satu-persatu wajah dongsaeng-dongsaengnya. Mereka mengangguk. “Aku tidak ingat.”

“Sudahlah jangan memaksakan. Yang penting sekarang hyung sudah ingat semuanya.” Ucap Yesung hyung.

Leeteuk

“Bagaimana keadaanmu Teuki?” ucap dokter yang tiba-tiba datang bersama suster.

“Dokter?” ucapku seraya tersenyum padanya.

“Sepertinya ingatanmu sudah kembali. Selamat.”

“Kapan hyung boleh pulang dokter?” ucap Sungmin.

“Kalau kau mau hari ini pun kau bisa pulang.”

“Yeah,,,” ucap dongsaeng-dongsaengku bersemangat. Tapi,,, setiap kali aku menatap Min Jee hanya ada kemarahan di hatiku. Aku berusaha untuk tidak menatapnya karena aku tidak mau membencinya.

Sore harinya aku sudah pulang. Dan kembali ke Dorm. Aku kangen sekali dengan Dorm. Rasanya sudah lama sekali.

“Oppa, kau sudah di sampai di Dorm. Sekarang lebih baik aku pulang. Sudah malam.” Ucap Min Jee berpamitan padaku.

“Tunggu! Hyukjae, antar Min Jee pulang!”

“Ne,,,” jawab Hyukjae singkat.

Meskipun aku membencinya, tapi tetap saja aku khawatir dia ulang sendirian malam-malam.

“Terima kasih oppa. Aku pulang dulu.” Tatapanku masih saja dingin padanya. Tapi dia pun berusaha tersenyum padaku.

Sudah seminggu semenjak ingatanku kembali. Hubunganku dan Min Jee menjadi canggung. Kini dia adalah managerku dan aku adalah artisnya. Tidak ada hubungan special diantara kami. Meskipun dulu kami pernah berteman. Hubungan kami kaku, aku hanya bicara padanya bila diperlukan. Tapi saat tidak ada yang bisa aku tanyakan padanya, kami saling diam. Begitupun sebaliknya.

Pagi itu aku menerima telpon.

“Yeoboseyo?” ucapku.

“Ini aku manager Lee. Teuki, kudengar kau kecelakaan. Apa kau baik-baik saja?”

“Ne, aku sudah sembuh. Kapan kau akan pulang ke Korea?”

“Hari ini. Aku sekarang sedang di bandara.”

“Baiklah. Hati-hati di jalan”

“Ne.”

Setelah menerima telpon dari manager Lee, aku memberi tahu member yang lain tentang kepulangan manager Lee. Aku tidak member tahu Min Jee karena aku yakin, dia pasti sudah tahu tentang kepulangan manager Lee.

seminggu hari setelah kepulangan manager Lee dari Amerika.

Kami berkumpul di kantor manager Lee. “Pagi semua!” sapanya pada kami.

Aneh, Min Jee tidak ada disana. Biasanya dia selalu ada setiap manager Lee mengumpulkan kami. Mungkin dia sedang keluar.

“Pagi hyung.” Ucap kami bersamaan.

“Min Jee kemana hyung?” ucap Yesung. Dia pun merasakan ketidakhadiran Min Jee.

“Itu yang mau aku bicarakan dengan kalian. Duduklah.” Kami menuruti permintaan manager. “Seperti yang kalian tahu,” lanjutnya. “Min Jee hanya manager sementara kalian. Hari ini kontraknya sudah habis sebagai penggantiku.”

“Mwo?” ucap kami bersamaan.

“Maksud hyung?” uca Sungmin.

“Dia sudah keluar. Mulai hari ini kalian akan dimanageri olehku lagi.”

Kulihat ada raut kesedihan di wajah member yang lain. Akupun sebenarnya merasa sedih, tapi kututupi itu dengan rasa benciku padanya.

“Teuki, ini untukmu.” Manager Lee memberikan sebuah amplop berwarna biru sapphire. “Ini dari Min Jee untukmu.”

Aku ambil surat itu dari tangan manager Lee. Tercium wangi parfum yang biasa dipakai Min Jee di amplop itu.

“Lalu, kenapa tidak perpanjang saja kontrak kerja Min Jee noona dengan SM?” ucap Donghae.

“Aku sudah menawarinya. Tapi dia menolak, karena dia bilang. Dia akan melanjutkan kuliah ke Jerman. Dia bilang hari ini dia berangkat.”

Aku mengangkat wajahku. “Jam berapa dia berangkat?” teriakku. Aku berusaha menahan air mataku jatuh.

“Teuki kau kenapa?”

“Cepat katakan!”

“Jam 10.”

Aku segera berlari. Mengemudikan mobilku dengan cepat. Saat sampai di bandara, aku berlari mencari Min Jee di setiap sudut bandara. Semua orang menatapku. Mereka menyadari kalau aku adalah Super Junior Leeteuk. Tapi aku tidak mempedulikannya. Mataku terus mencari Min Jee. Tapi aku tidak berhasil. Pesawat yang dinaiki Min Jee sudah berangkat setengah jam yang lalu. Aku kembali ke Dorm. Aku langsung masuk kedalam kamar. Dan membuka ampolop yang diberikan Min Jee padaku. Sebuah surat.

Teuki oppa.

Maafkan aku karena telah menyakiti hatimu. Aku senang karena aku sudah pernah mengenalmu. Maafkan aku karena tidak menerima cintamu. Bukan tidak ingin tapi aku tidak bisa. Kau akan menemukan gadis yang lebih baik dariku. Jangan tunggu aku, karena setelah kuliahku selesai. Aku akan menikah dengan laki-laki yang sudah aku kenal sebelum aku mengenalmu.

Min Jee

Tak terasa air mataku jatuh. Ya, ini adalah kedua kalinya aku patah hati karena seorang gadis yang aku cintai. Dan surat itu menjadi kenangan terakhir yang diberikan Min Jee padaku. Karena setelah meneriman surat itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Dia bagaikan ditelan bumi. Sebelumnya akupun masih berusaha mencari Min Jee dengan selalu dating ke pantai. Berharap dia sedang berlibur dengan disana. Tapi kenyatannnya selalu nihil. Hidupku harus terus berjalan. Tidak boleh putus asa karena seorang gadis.

_The End_

4 thoughts on “IMPOSSIBLE LOVE – Part 3 End”

  1. Omo~~ ajussi qu khilangan cintany .
    Tnang ajh ajussi, masii ada aq dsini ^^ ..

    Maap yaa author sblumny, tp da beberapa bgian yg salah tulis yaa . Harusny ‘hyung’ jd ‘oppa’ . Hehehe
    tp critany mantap . Aq suka ^^

  2. aihhh..sedddddddiiiiihhhhh,,,
    oppa, pasti ada gadis yg lbh baik yg bakal bahagiain oppa^^
    hwaiting !!!
    nice story ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s