THE HAPPINESS MOMENT IN MY LIFE – PART 1

Super Junior

Author  : Vay ^_^

Cast       : Super Junior; Shinee; Park Min Jee/Ga Eul; Lee Jin Ah

Category: Love/Friens series; Chapter

Tahun . . . (terserah reader mu tahun berapa, author bingung)

“Horeee . . .” suaraku memecah kesunyian kelas saat mata kuliah Hidrologi berlangsung. Semua mata tertuju padaku termasuk pak Jang dosen Hidrologiku. Aku malu, “Maaf pak!” pak Jang sepertinya tidak perduli dengan kegaduhan yang aku buat di mata kuliahnya, karena beliau langsung melajutkan mengajarnya.

“Hei, kamu kenapa?” bisik Jin Ah yang kebetulan duduk di sebelah ku.

“Suju mau ngadain Super Show 2 di tempat kita. Di pulau Jejudo. Akhirnya.”

“Wah yang bener?” Jin Ah ikut antusias dengan berita yang kuberitahu padanya, “Kapan?”

“Baru tahun depan sih. Makanya dari sekarang aku mau nabung buat beli tiketnya.”

“Iya. Aku juga mau ikutakn.”

“Hei kalian berdua,” tiba-tiba pak Jang menunjuk kami berdua. “Dari tadi kalian berdua ngobrol terus.”

“Maaf pak!” ucap ku memelas.

“Dari pada kalian ribut di mata kuliah saya, lebih baik kalian keluar!”

“Maaf pak!” pak Jang masih memberi kesempatan kepada kami untuk tetap mengikuti mata kuliahnya.

Satu tahun kemudian . . .

Berita tentang Super Show 2 Suju  ramai dibicarakan dimana-mana, dimulai dari facebook, tabloid, ataupun baligo-baligo yang dipasang di pinggir-pinggir jalan.

“Min Jee, tabungan kamu sudah berapa?” Tanya Jin Ah padaku.

“Tabunganku baru delapan ratus ribu. Kalau kamu?”

“Aku juga baru ngumpulin delapan ratus ribu.”

“Uang kita masih kurang. Padahal bulan depan konsernya, tiket juga udah mulai dijual minggi depan. Apa kita bisa ngumpulin uang dua ratus ribu selama seminggu?” keluhku.

“Hei, kamu jangan putus semangat gitu dong!” Jin Ah menyemangatiku, “Kita cari kerja aja, aku dengar toko diseberang jalan kampus kita lagi butuh pegawai, kita coba aja kerja disana.”

Sepulang dari kampus, kami langsung menuju toko yang dimaksud Jin Ah. Beruntunglah, pemilik toko mau menerima kami sebagai pegawai part time, meskipun upah yang kami terimapun hanya setengah dari gaji pokok yang dijanjikan. Lumayanlah buat tambah-tambah.

“Jin, uang yang kita kumpulkan udah cukup untuk membeli tiket.”

***

Seminggu kemudian . . .

“Jin, sekarang kita jangan masuk kuliah dulu. Kita beli tiket. Kalo nunggu pulang kuliah, pasti udah abis, soalnya penjualan tiketnya online.”

“Iya, baru juga aku mau ajak kamu bolos. Lagian aku lagi males masuk mata kuliah pak Jang.”

Semenjak pagi, kami terus derada di depan laptop. Berlomba-lomba membeli tiket konser Suju.

“Yeah . . .!!” Jin Ah berteriak kegirangan.

“Kamu bisa Jin?”

“Iya, udah kita gak usah online lagi.”

“Terus aku gimana?”

“Udah, aku udah beli dua kok!”

“Sekarang kita ke toko pak Kim aja. Siapa tahu kalo kita dating lebih pagi, kita bisa dapet bonus.”

Aku hanya bisa tersenyum, menyetujui ajakan Jin Ah.

***

Tempat yang dipakai untuk konser Suju benar-benar penuh dengan manusia. Kami berlomba-lomba masuk kedalam. Antriannya pun panjang sekali.

“Jin Ah, kita terus pegangan tangan ya!”

“Iya, aku juga takut kita terpisah. Antriannya panjang.”

Tapi . . .

Tanpa sadar pegangan tanganku terlepas dari genggaman tangan Jin Ah. Aku terus mencari dan memanggil-manggil Jin Ah. Aku keluar dari barisan, bermaksud bisa menemukan Jin Ah di luar barisan. Ingatan ku akan Leeteuk dan Suju pergi entah kemana. Yang ada di pikiranku hanyalah menemukan Jin Ah. Antrian sudah hampir habis, Jin Ah belum ditemukan juga. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk kedalam, dan mencarinya didalam sana. Aku berusaha merogoh dompet yang ada di celanaku, tapi . . .

Gak mungkin ilang.

Dompet dan HP ku ikut lenyap. Mungkin saat mengantri tadi ada yang mengambilnya. Aku tidak bisa masuk kedalam. Aku langsung terbengong didepan pintu masuk. Tidak ada yang bisa kulakukan. Aku berjalan menuju samping gedung. Aku memilih sudut gedung untuk duduk dan menangis. Aku tidak bisa menghentikan tangisanku. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Aku mendongakkan kepalaku. Sungguh aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku hanya bisa diam membisu. Orang itu menatap ku penasaran, sementara aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat saat itu.

“Gwaenchanayo?” Tanya orang itu.

Aku masih tetap diam membisu. Super Junior Apa aku bermimpi? Pikirku.

Orang itu menepuk pundakku lagi, kali ini dia menepuknya lebih keras. Ternyata aku tidak bermimpi. “Kau tidak apa-apa?” Tanya orang itu sekali lagi. Aku mengerutkan keningku.

Kemudian dating seorang laki-laki, dari seragamnya saja sudah terlihat kalau dia adalah seorang security. Dan mencoba bertanya padaku. Orang itu mundur beberapa langkah untuk memberi ruang kepada security itu.

“Gwaenchanayo? Namamu siapa?” Tanya satpam itu ramah.

Aku masih tetap diam membisu. Raut wajah Cowok itu dan beberapa temannya terlihat sangat kasihan padaku, tapi sekaligus terburu-buru.

“Hyung Bagaimana ini? Kita harus segera naik panggung, para fans sudah menunggu kita.” Ucap salah satu cowok yang kelihatannya manja sekali kepada cowok yang bertanya padaku itu.

“Sebentar, kasihan gadis ini.”

“Baiklah.” Kemudian cowok itu berbisik pada seseorang, kemudian orang yang dibisiki itu berbicara sesuatu kepada security. Security itu mengangguk.

“Hati-hati, kami pergi dulu.”

Saat orang itu dan teman-temannya mau pergi, tangisku tumpah lagi. Kemudian aku berlari dan memeluk erat orang itu. Security tadi berusaha melepaskan pelukanku, tapi aku bertahan. Cowok itu mengalah, pasrah dipeluk olehku.

Benar-benar nyaman dan hangat berada dipelukannya.

Setelah keadaan hatiku tenang, aku menjelaskan semuanya pada mereka. “Namaku Min Jee. Aku terpisah dari temanku saat kami mau masuk. Aku berniat mencari temanku itu didalam. Tapi saat aku mau mengambil tiket di dalam dompet. Ternyata dompet ku pun hilang.” Tangisku tumpah lagi.

Tiba-tiba cowok itu menggandeng tangan ku. Aku bingung sekaligus senang karena orang yang menggandeng tanganku adalah Leeteuk, leader Superjunior. Salah satu anggota suju yang sangat aku sukai. Aku pasrah, Leeteuk terus menggandeng tanganku. Aku sangat senang sekali karena bisa bertemu dengan semua member suju dari dekat. Leeteuk membawaku ke sebuah ruangan, kami melewati lorong-lorong yang cukup panjang. Kami pun berhenti di sebuah pintu. Leeteuk membuka pintu itu, terdengar suara riuh gemuruh dari orang-orang. Aku masih tidak mengerti, Leeteuk akan membawaku kemana? Dipojok panggung di sediakan beberapa kursi, sepertinya untuk tempat istirahat para member.

“Kau duduk disini. Dari sini kau bisa melihat performance kami dengan jelas.” Ucap Leeteuk sambil mendudukkanku di kursi itu.

Aku hanya bisa mengangguk. Leeteuk dan member lain meninggalkanku dengan sebuah senyuman di wajah mereka. Aku membalas senyuman mereka. Malam itu mereka menyanyikan lagu-lagu andalan mereka. Tak lupa, sub-group pun menampilkan performance mereka. Mulai dari K.R.Y, suju H, suju T, dan suju M. penampilan mereka sangat memukau malam itu. Performance mereka berlangsung kurang lebih selama tiga jam. Sampai pada lagu terakhir . . .

“Ayo!” ucap Leeteuk.

Sungguh aku tidak mengerti maksudnya. Dia mau mengajakku kemana? Leeteuk menggandeng tanganku lagi. Lampu berkelap kelip dimana-mana. Semua member tersebar disetiap sudut panggung. Leeteuk mengajakku ke tengah panggung. Apa yang akan dia lakukan? Ada dua buah kursi di tengah panggung. Leeteuk mendudukkanku di salah satu kursi. Dan dia duduk disebelahku. Saat aku duduk, terlihat sekali raut wajah para ELF yang memakiku karena iri. Suara music mulai mengalun. Aku tahu benar kalau itu adalah lagu Marry U.

Eunhyuk mulai bernyanyi. Diikuti oleh para ELF yang masih memberikan wajah sinisnya padaku. Ada perasaan takut tapi juga senang. Takut kalau para ELF benar-benar mengutukku dan senang karena aku bisa bersanding dengan Leeteuk. Aku larut dengan kemeriahan konser malam itu sampai aku melupakan kejadian yang telah aku alami.

Setelah selesai bernyanyi, mereka semua berkumpul di tengah-tengah panggung. Aku pun ikut serta. Kami membungkukkan badan dan memberikan ucapan terima kasih pada para ELF. Leeteuk menggenggam tangan ku lagi, menggandengku ke sebuah ruangan yang ada di belakang panggung. Kami semua berkumpul disana. Aku sangat senang bisa bertemu langsung dengan para member suju. Aku duduk di sofa yang berada di pojok ruangan. Sementara para member suju berganti pakaian dan menghapus make up-nya. Aku terus memperhatikan kegiatan mereka saat itu. Siwon, Hankyung, Shindong, dan Kangin sedang membersihkan wajah mereka dari make up. Sedangkan Sungmin, Kyuhyun, Ryeowook, dan Kibum sedang berganti pakaian. Dan Leeteuk, Eunhyuk, Donghae, dan Yesung. Mereka malah menjahili Heecul yang sedang tidur di sofa yang ada diseberangku. Aku hanya cengar-cengir melihat kegilaan mereka. Mereka mewarnai wajah Heechul dengan spidol.

Saat Heechul terusik, mereka berhenti. Dan langsung memasang wajah tak bersalah. Heechul menggeliat. “Hoaam . . . badanku pegal-pegal sekali.”

“Hyung, kau pegal?” ucap Eunhyuk sambil menahan tawa. “Mau aku pijat tidak?”

“Aahhhh . . . ada apa dengan dongsaengku yang satu ini? Apa yang kau inginkan dariku?” selidik Heechul sambil menyipitkan matanya. Padahal matanya sudah sipit.

“Ah, hyung kau jangan curiga seperti itu. Aku memang ingin membantumu.”

“Baiklah. Tapi kau tunggu disini dulu, aku mau ke toilet.”

Eunhyuk hanya mengangguk. Saat Heechul sedang di kamar mandi, akhirnya mereka bisa tertawa lepas. Tiba-tiba . . .

“Aaaaarrrggghhh . . . “ terdengar suara teriakan Heechul dari dalam toilet. Mendengar suara teriakan Heechul dari dalam kamar mandi. Leeteuk, Eunhyuk, Donghae, dan Yesung tetawa makin keras. Aku hanya hanya bisa ikut cekikikan sendiri.

BRAK . . .

Heechul membuka pintu toilet dengan keras. Heechul terlihat sangat marah sekali. Semua mata di ruangan itu memandang kepadanya. Wajahnya penuh dengan tinta.

“Siapa yang melakukan ini?”

Eunhyuk, Donghae, dan Yesung langsung menunjuk Leeteuk.

“Hyaa . . . aku tidak melakukannya sendiri. Mereka juga ikutan.”

Heechul langsung mengambil spidol dan menghampiri Leeteuk. Mereka berdua saling berhadapan. Leeteuk tertegun. Heechul langsung mencorat-coret wajah Leeteuk dengan spidol ditangannya. Leeteuk diam pasrah tidak bisa melawan. Begitu juga dengan Eunhyuk, Donghae, dan Yesung pun tidak bisa lari dari kemurkaan Heechul. Setelah ketegangan itu, mereka tertawa lepas. Tanpa sadar, tawa ku akhirnya keluar dengan lepas. Aku benar-benar tidak bisa berhenti tertawa melihat kegilaan mereka.

Hari sudah benar-benar larut malam. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.00 tapi mereka belum juga tidur. Karena terlalu lelah, aku ketiduran di sofa tempatku duduk.

Aku membuka mataku. Aku melihat sekelilingku, ruangan itu didominasi oleh warna cokelat. Aku tahu posisi badandu tidak lagi duduk seperti tadi malam. Tapi badanku sekarang sedang tertidur. Tapi dimana? Aku langsung terbangun. Ruangan itu disinari oleh cahaya matahari yang masih tertutup tirai. Kulihat ada seseorang yang tidur di sofa yang ada di depanku. Aku menghampirinya. Perlahan kudekati wajahnya, berharap itu adalah orang yang kukenal. Aku mengerutkan keningku dan mundur beberapa langkah. Leeteuk? Jadi tadi malem aku memang gak mimpi? Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku berdiri tertegun dihadapan orang itu. Hampir tiga puluh menit aku berdiri diam tak bergerak dari tempatku. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan beberapa orang datang berhamburan. Aku mundur beberapa langkah. Salah satu dari mereka mendekatiku dan yang lainnya membangunkan Leeteuk yang tidur di sofa.

“Gwaenchana?” tanyanya. Yang ku yakini itu adalah Kibum. Aku masih diam tidak bicara. Kemudian Kibum, mendudukan ku di sofa. Semua orang yang datang tadi terus memandangku.

“Kau tidak sedang bermimpi.” Ucap salah seorang dari mereka sambil tersenyum. Kali ini aku yakin kalau itu adalah Donghae. Sepertinya bisa membaca pikiranku.

Aku diberi segelas air putih. Aku meminumnya, berharap bisa sedikit tenang. Benar saja, aku merasa lebih lega dari sebelumnya. Setelah aku tenang, mereka mulai menanyaiku.

“Kami Superjunior. Siapa Namamu?” ucap Kibum.

“Namaku Ga Eul.”

Aku sengaja tidak memberikan nama asliku. Entah kenapa aku ingin melakukannya. Mereka sangat baik padaku. Selama beberapa jam aku bersama mereka. Aku sangat senang sekali. Aku terus bersama mereka dan mengikuti beberapa kegiatan mereka, seperti belanja di mall dan berjalan-jalan di pantai. Aku pun dibelikan beberapa barang oleh mereka.

Malam ini mereka packing, karena besok mereka akan pulang kembali ke Seoul. Aku diam di kamar Leeteuk oppa. Semenjak dekat dengan mereka, aku sudah terbiasa memanggil mereka dengan sebutan oppa. Mereka pun menganggapku sebagai dongsaengnya. Aku terus memperhatikannya yang sedang membereskan baju-bajunya ke dalam koper. Aku berusaha menahan tangisku. Karena tidak tahan lagi, aku pergi ke toilet. Aku menangis disana. Leeteuk oppa tidak curiga. Dia masih sibuk packing. Karena takut Leeteuk oppa curiga, aku pergi keluar kamar.

“Ga Eul, kamu mau kemana?” Tanya Leeteuk oppa.

Aku tidak menjawabnya, dan tidak memalingkan wajahku padanya. Karena takut ketahuan kalau aku menangis.

“Ga Eul . . .!!” panggil Leeteuk oppa setengah berteriak.

Aku berkeliling koridor hotel, mengintip setiap kamar member Suju. Mereka semua sedang sibuk packing seperti Leeteuk oppa. Aku sedih sekali. Kenapa? Padahal aku baru dua hari bersama mereka. Harusnya paling tidak aku senang sudah bertemu dengan mereka. Aku sudah merasa kalau mereka oppa-oppaku sendiri.

Sambil berkeliling, air mataku pun terus mengalir. Pandangan ku benar-benar kosong. Aku tertunduk. Sampai tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Dengan segera aku mengusap air mataku, dan memasang sebuah senyuman di wajahku.

“Oh oppa!!”

Ternyata Kyuhyun oppa.

“Kamu sedang apa?” Tanya Kyuhyun oppa lembut.

“Oppa . . . kau mengagetkanku.” Jawabku sambil mengerucutkan mulutku.

“Maaf. Kau sedang apa disini? Kau harusnya membantu Leeteuk hyung membereskan barang-barangnya.”

“Aku hanya ingin melihat oppa-oppa yang lain sedang packing.”

“Baiklah kalau begitu. Aku mau packing, kau mau membantuku?”

“Mianhae . . . aku sudah janji pada Leeteuk oppa untuk membantunya.”

“Baiklah kalau begitu. Aku masuk ke kamar dulu. Aku mau packing.”

Aku mengangguk. Kami pun berpisah.

Waktu itu pun tiba. Waktu dimana mereka harus kembali ke Seoul. Tok . . . tok . . . tok . . . Leeteuk oppa mengetuk pintu kamar mandi. Sedari tadi pagi aku mengurung diri di kamar mandi.

“Ga Eul, ayo keluar. Kami mau pulang. Kamu tidak mau mengantar kami ke bandara?” teriak Leeteuk oppa dari luar. Aku terus menangis dan tidak menjawab panggilan Leeteuk oppa. Sepertinya aku sudah dua jam berada di dalam kamar mandi. Tubuhku mulai menggigil kedinginan. Bukan hanya suara Leeteuk oppa yang kudengar kali ini, tapi hampir semua member Suju mencoba memanggilku. Aku sudah tidak tahan, aku ingin keluar dari kamar mandi. Tapi tubuhku tidak sanggup lagi untuk bangun. Kakiku pun terasa kesemutan. Penglihatanku sudah mulai gelap, kepalaku pun terasa sangat pusing. Sampai akhirnya aku pun pingsan disana.

“Ga Eul, sadarlah!!” aku mendengar suara memanggil namaku. Aku membuka mataku, “Ga Eul, gwaenchana?” ucap Leeteuk.

Saat membuka mata, aku mengedarkan pandanganku. Aku tahu, ini bukanlah kamar mandi, aku sudah berada di kamar. Kulihat semua member mengelilingiku. Rawut wajah mereka terlihat sekali kalau mereka sangat khawatir. Kulihat Kyuhyun oppa ada di sampingku. Aku tersenyum padanya. Dia membalas senyumku.

“Gwaenchana” Tanya Kibum oppa. Aku mengangguk.

Leeteuk oppa menempelkan punggung tangannya ke keningku. “Badannya masih panas.” Ucapnya kepada member lain. Member lain pun bergantian menempelkan punggung tangannya ke keningku.

“Hyung, apa kita akan memaksakan pulang hari ini, sementara dongsaeng kita sedang sakit? Aku tidak tega meninggalkannya.” Ucap Yesung pada Leeteuk.

“Aku juga berpikir demikian. Tapi kita harus pulang hari ini. Besok kita ada jadwal wawancara. Tidak bisa di batalkan.”

“Bagaimana kalau kita membawanya ke Seoul saja. Aku ingin sekali mempunyai dongsaeng perempuan.” Ucap Kyuhyun oppa semangat.

“Hya . . . Kyun, ada apa kau ini. Kau menyukai Ga Eul?” ucap Eunhyuk oppa curiga.

Wajah Kyuhyun memerah. “Tidak, aku hanya perduli padanya saja. Tidak boleh?” bantah Kyuhyun oppa.

“Mungkin itu memang jalan satu-satunya. Kalau kita pulang sekarang pun, kita tidak akan tenang meninggalkan Ga Eul. Tapi bagaimana dengan keluarganya?” Ucap Leeteuk.

“Ga Eul, kamu mau tidak ikut kami ke Seoul?” ucap Leeteuk oppa. Aku mengangguk cepat. “Tapi bagaimana dengan keluargamu?”

“Aku sudah tidak punya keluarga. Aku hidup sendirian.” Aku berbohong lagi pada mereka. Maafkan aku oppa. Aku melakukan ini, karena aku ingin bersama kalian. Aku menyanyangi kalian.

Hari itu juga aku pergi ke Seoul bersama mereka. Kami sampai di Seoul pada pukul 01.00 siang.

Semua orang melihatku, raut wajah mereka menunjukkan ingin tahu siapa aku. Dan kenapa aku bisa bersama Suju. Aku menundukkan kepalaku karena malu. Leeteuk oppa merangkul pundakku. Aku merasakan rasa aman berada dalam rangkulannya. Kami semua naik lift. Satu persatu, para member turun di lantai yang berbeda. Ya karena kamar mereka berada di lantai yang berbeda. Tinggal aku, Leeteuk oppa, Donghae oppa, Heechul oppa, Hankyung oppa, dan Shindong oppa yang masih berada di lift.

“Kita sudah sampai.” Ucap Leeteuk oppa.

Kami berhenti di lantai 13. Kami menyusuri lorong dengan kamar-kamar, persis seperti di hotel. Aku, Leeteuk oppa dan Donghae oppa berhenti di depan sebuah pintu. Pintu itu diberi nomor 13 pula. Aku pikir, kenapa sih Leeteuk oppa harus memilih lantai dan kamar bernomor 13? Kan serem.

“Ayo masuk!” ajak Donghae oppa. Aku mengangguk kemudian mengikuti mereka masuk. Kamar itu memang tidak cukup besar, tapi cukup untuk ditinggali dua orang. Kamar itu minimalis sekali. Warna dinding yang berwarna biru langit membuat kamar itu lebih nyaman. Aku langsung duduk di sofa yang ada di pojok kamar. Aku memperhatikan Leeteuk oppa dan Donghae oppa membereskan koper mereka.

Mereka rapi sekali, meskipun mereka itu seorang laki-laki.

Aku mendekati mereka dan mencoba membantu mereka untuk membereskan barang-barangnya. Leeteuk oppa dan Donghae oppa tersenyum melihatku. Rawut wajah mereka terlihat senang sekali. Leeteuk oppa mengusap kepalaku dengan tangannya. Aku sangat senang Leeteuk oppa melakukan itu padaku. Tak berapa lama terdengar pintu diketuk. Tuk tuk tuk . . . aku membukakan pintunya. Ternyata Kyuhyun oppa yang datang.

“Wae?” ucapku.

“Hyung!” panggil Kyuhyun oppa pada Leeteuk oppa.

“Wae?” jawabnya malas.

“Aku mau ajak Ga Eul jalan-jalan. Boleh kan?”

“Dia baru sampai. Biarkan dia istirahat dulu. Lagipula dia sedang sakit. Kau tega mengajaknya jalan-jalan? Kau mau dia tambah parah?” ucap Leeteuk oppa memarahi Kyuhyun oppa. Kyuhyun oppa tertunduk kecewa. Dia kembali ke kamarnya. Aku kasihan melihatnya.

Saat Kyuhyun oppa baru berjarak 20 meter dariku. Aku mengerjarnya. “Kyuhyun oppa!!” panggilku. Tapi Kyuhyun oppa tak menggubrisku. Aku terus mengerjarnya. Saat jarak kami mulai dekat, aku menyentuh dan menggenggam tangannya. “Kyuhyun oppa!!” Kyuhyun oppa berbalik dan memandangku. “Mianhae . . .!” ucapku. Berharap Kyuhyun oppa tidak sedih lagi karena baru dimarahi oleh Leeteuk oppa.

Kyuhyun oppa tersenyum, kemudian mencium lembut keningku. Dan pergi ke kamarnya. Aku benar-benar tidak menyangka kalau Kyuhyun oppa akan melakukan itu padaku. Setelah Kyuhyun oppa sudah hilang dari pandanganku. Aku kembali ke kamar. Kulihat Leeteuk oppa dan Donghae oppa sudah tertidur di sofa yang tadi kududuki. Mereka terlihat kelelahan sekali. Aku tahu mereka tidur di sofa karena ingin aku tidur di kasur. Setelah menyelimuti mereka, aku pun tidur di kasur yang sudah mereka siapkan untukku.

Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 malam. Langit diluar sudah terlihat gelap. Aku tidur lama sekali. Gumamku. Kulihat Leeteuk oppa dan Donghae oppa sudah tidak ada di sofa. Sepertinya mereka sudah bangun. Aku mengambil inisiatif untuk mencari mereka. Aku keluar dari kamar. Keadaan di luar sangat sepi, lampu-lampu pun sudah dinyalakan. Aku terus menyusuri lorong-lorong dorm. Sampai aku di depan sebuah pintu.

Aku membuka pintu itu. Kulihat ada beberapa orang remaja laki-laki yang sepertinya seumuran denganku. disana sedang berlatih menari dan menyanyi. Wajah mereka asing bagiku. Aku tidak seluruhnya memasukkan kepalaku. Aku mengintip dari balik pintu. Salah satu dari mereka melihatku. Aku yang sadar akan hal itu, langsung keluar. Syukurlah dia tidak mengerjarku. Aku terus berjalan berharap segera bertemu dengan salah satu member suju. Sejujurnya, aku sangat takut berjalan sendirian di tempat yang sangat asing bagiku. Aku mulai cemas. Sudah berjalan selama 30 menit, tapi aku belum bertemu dengan siapapu. Aku tidak berani turun atau naik ke lantai yang lain. Aku sudah sangat merasa lelah. Kondisi badanku yang belum cukup sehat membuatku cepat lelah. Aku memutuskan kembali ke kamar.

“Ah, gak ada siapa-siapa.” Aku berjalan menekati jendela. Aku memandang keadaan kota Seoul saat malam hari. Hanya terlihat sorotan lampu-lampu dari mobil dan gedung-gedung-gedung. Aku duduk termenung disana. Perutku pun sudah minta diisi. “Hufh, lapar.” Gumamku.

Klek,

Kudengar suara pintu dibuka. Aku langsung memalingkan pandanganku ke pintu. Kulihat, Kyuhyun oppa membawa sesuatu ditangannya.

“Apa yang sedang kau lakukan disana?” ucapnya sambil berjalan mendekatiku.

“Tidak ada.” Jawabku singkat. Kemudian tersenyum padanya.

“Aku tahu kau pasti lapar, aku membawakan sesuatu untukmu.” Kyuhyun oppa memberikan bungkusan yang dibawanya tadi, kemudian dibukanya.

Aku langsung memakannya. Aku makan lahap sekali. Aku lihat dia terus memperhatikanku saat makan. Aku merasa risih terus dilihat olehnyya.

“Wae?” ucapku ketus.

“Ternyata kamu sangat lucu kalau sedang makan.” Ucapnya sambil senyum-senyum. Aku mengerucutkan bibirku. Dan dia malah tertawa makin lebar. Karena aku sedikit marah, aku menghentikan makanku.

“Wae? Mianhae!! Kamu jangan marah. Aku hanya bercanda.”

Setelah mendapat permintaan maafnya, aku melanjutkan makanku. Kyuhyun masih tetap saja memperhatikanku dan tertawa-tawa sendiri. Tapi aku menghiraukannya, karena aku lapar. Selesai makan, aku diajak ke suatu tempat. Dia menggandeng tanganku. Kami berhenti didepan sebuah pintu di lantai dua. Kyuhyun oppa mendorong pintu itu. Saat kulihat ternyata itu sebuah ruangan yang besar. Dinding-dindingnya dikelilingi oleh cermin-cermin. Aku melihat heran pada Kyuhyun oppa. Apa yang ada dipikirannya? Pikirku.

“Ayo masuk!!” ucapnya menarik tanganku kedalam ruangan.  Ternyata semua member suju ada disana. Mereka sedang latihan. Saat aku masuk, semua melihat kearahku dan tersenyum. Aku membalas senyum mereka. Leeteuk oppa mendekatiku. Kemudian menyimpan punggung tangannya ke keningku.

“Sepertinya kau sudah lebih baik. Sekarang kau duduk disana.” Leeteuk oppa menunjuk sebuah kursi dipojok ruangan. Aku mengikuti perintahnya. Aku menemani mereka selama latihan. Tak disangka, mereka kompak sekali.

Jarum jam menunjukkan pukul 11.00 malam. Tak ada rasa lelah yang kurasakan selama menemani mereka. Mereka terlihat lelah sekali. Aku mengambil inisiatif mengambilkan minuman untuk mereka.

“Kamsahamnida! Aku harap kau akan selalu bersama kami.” Ucap Shindong oppa.

“Aku akan selalu bersama kalian. Sekarang, kalian lah keluargaku.”

TO BE CONTINUE . . .

3 thoughts on “THE HAPPINESS MOMENT IN MY LIFE – PART 1”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s