The Last Time – Part 1

Leeteuk POV

“Hyung, apa kau sakit? Kau pucat sekali?” ucap Eunhyuk saat kami akan perform di SBS.

“Aniyo, kwaench’ana! Aku baik-baik saja, pikirkan saja tentang dirimu sendiri. Jangan sampai membuat kesalahan saat menari nanti.” Ucapku sambil menyunggingkan sebuah senyum dibibirku.

Kami naik keatas panggung. Kudengar teriakan ELF dari setiap sudut ruangan, itu membuatku semangat dan bahagia. Sampai pada pertengahan lagu, deg . . . apa ini? Kenapa tiba-tiba kepalaku pusing sekali? Aku tidak boleh jatuh, bisa kacau kalau aku sampai pingsan. Akhirnya lagu berakhir, aku langsung berlari ke belakang stage. Member lain mengejarku. Aku langsung berlari menuju toilet. Kepalaku pusing dan perutku mual. Aku muntah disana.

“Hyung kwaench’ana?” ucap Yesung yang pertama kali muncul. Disusul member lain.

“Ne, mungkin aku hanya masuk angin.” Aku dan member lain kembali ke ruang tunggu.

“Hyung minum ini!” Ryeowook memberikan segelas air hangat padaku.

“Ne, gomawo.”

“Hyung perlu aku pijit?” tawar Donghae.

“Aniyo, aku baik-baik saja.”

Setelah merasa baikan, kami semua pulang ke dorm. Aku langsung masuk kedalam kamar dan tidur. Donghae menyusulku dari belakang.

“Hyung, kau mau langsung tidur? Mau aku bawakan obat, supaya badanmu lebih enakan.” Tanya Donghae sambil menyimpan barang-barangnya.

“Ne, baiklah.”

“Tunggu ya hyung!”

Beberapa menit kemudian, Donghae mengantarkan obat untukku. Aku langsung meminumnya dan tidur.

“Istirahatlah hyung!” Donghae keluar kamar sambil mematikan lampu.

Heechul POV

“Jungsu sudah tidur?” tanyaku pada Donghae yang baru keluar dari kamarnya.

“Ne, setelah kuberikan obat dia langsung tidur.”

“Baguslah, aku juga mau tidur. Ah . . . aneh rasanya tidur sendiri.” Celetukku untuk menghilangkan rasa rinduku pada Hankyung yang tidak lagi tinggal di dorm.

Keesokan harinya . . .

Yesung POV

“Donghae, hyung sudah bangun?”

“Ani, aku tidak berani membangunkannya. Dia kelihatan lelah sekali.”

“Lalu bagaimana ini? Kita ada jadwal jam delapan nanti, tapi sampai sekarang hyung belum bangun.”

“Tidak apa-apa, kali ini aku ijinkan dia untuk istirahat. Kalian pergi saja!” ucap manager Kim yang tiba-tiba datang.

“Baguslah kalau begitu.”

Leeteuk POV

Mataku merasa silau karena cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Pandanganku langsung beralih pada jam dinding di hadapanku. “Jam 10? Aku terlambat.” Aku segera turun dari kasur, tapi baru saja kakiku menginjak lantai tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa di kepalaku. “Aaaaaa . . .” aku berusaha menahannya, tapi tidak bisa.

Aku mencium bau yang tidak biasa di hidungku. Perlahan kubuka mataku, pandanganku masih kabur. Semuanya serba putih, apa aku berada di surga?

“Hyung kau sudah bangun?”

Aku membuka lebar-lebar mataku. “Shindong? Aku ada dimana?”

“Hyung ada di rumah sakit. Saat kami pulang tadi, kami menemukan hyung pingsan. Langsung saja, kami bawa hyung kesini.”

“Lalu yang lainnya mana?”

“Setelah mengantar hyung kesini, mereka langsung pergi lagi karena masih ada jadwal. Kebetulan hanya aku saja yang kosong siang ini, jadi aku yang menemanimu. Mulai saat ini, kami akan giliran menjagamu hyung.”

“Ah . . . kalian berlebihan.”

Rokkugo . . . rokkugo . . . rokkugo . . .

Tiba-tiba handphone Shindong bordering.

“Hyung, aku angkat telepon dulu.”

“Ne.”

Shindong keluar kamar untuk menerima telepon.

“Yoboseyo?” ucap Shindong saat masih di mulut pintu.

Ah . . . sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku sering sekali sakit kepala?

“Hyung, aku harus pergi sekarang. Mian, tidak bisa menemanimu. Aku akan menelpon yang lain untuk menjagamu.”

“Kwaench’ana, tidak perlu begitu. Aku bisa jaga diri sendiri. Lagi pula disini banyak suster dan dokter, kau tidak perlu cemas.”

“Aku pergi hyung!”

“Ne, hati-hati!”

Aku memencet tombol untuk memanggil suster. Tidak lama seorang suster datang ke kamarku.

“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya suster itu ramah.

“Aku ingin bertemu dengan dokter yang memeriksaku.”

“Baiklah, aku akan memanggilnya.”

Aku menunggu kurang lebih selama 15 menit. Dokter yang memeriksaku datang.

“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya dokter itu ramah. Dia datang bersama suster yang tadi mendatangiku.

“Akhir-akhir ini aku sering pusing. Sebenarnya, apa yang terjadi padaku?” Dokter itu tidak langsung menjawabku, dia menundukkan kepalanya. “Dokter, jawab aku!”

“Mianhamnida, hasil lab belum keluar. Jadi aku belum bisa memastikan apa penyakitmu, tapi . . .” dokter itu menggantungkan kalimatnya.

“Tapi apa?”

“Melihat gejala yang kau alami, kau terkena kanker otak.”

Deg . . . seperti tersambar petir aku mendengarnya. Rasanya seperti akan mati besok. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Menangis? Tidak, aku harus tegar.

“Tenanglah, itu baru dugaanku saja. Hasil laboratorium belum keluar.”

“Dokter, bisa tinggalkan aku sendiri?”

“Tenanglah!” dokter dan suster itu keluar dari kamarku.

Aku menatap kosong. Rasanya air mata ini berdesak-desakan meminta keluar. Aku berusaha menahannya, tapi tetap saja tidak bisa. Air mataku akhirnya mengalir lancar di pipiku. Aku menekuk kakiku dan menenggelamkan wajahku disana.

Sungmin POV

Langkahku terhenti didepan pintu kamar Leeteuk hyung. Kulihat dia menangis, ada apa dengannya? aku tidak mau tiba-tiba saja masuk dan menggangunya. Aku memutuskan menunggu di depan kamarnya, sampai tangisnya reda.

10 menit . . .

15 menit . . .

Aku mengintip lagi lewat kaca pintu. Hyung sudah tertidur. Akhirnya aku masuk kedalam. Kutatap wajahnya yang tertidur, terlihat lelah sekali. Mungkin karena menangis. Untuk menghilangkan rasa bosan, aku memainkan game di laptopku.

60 menit berlalu . . .

“Sungmin? Kau sudah lama disini?”

“Hyung kau sudah bangun? Mian, kau pasti terganggu karena suara gameku.”

“Aniyo, aku memang sudah ingin bangun.”

“Hyung, kapan kau diperbolehkan pulang?”

“Molla.” Jawab hyung sekenanya. Aku meneruskan permainan gameku.

“Hyung aku mau membeli makanan. Mau titip sesuatu?”

“Ne, aku ingin kimchi dan jus strawbery.”

“Baiklah. Tunggu ya hyung!”

Leeteuk POV

Beberapa menit setelah Sungmin pergi, dokter yang memeriksaku datang dengan senuah amplop besar warna cokelat. “Selamat sore Leeteuk!”

“Sore dokter! Itu hasil lab?” ucapku menunjuk amplop yang dibawanya.

“Ne, kau bisa melihatnya sendiri. Aku akan meninggalkanmu.”

Aku menerima amplop yang diberikan dokter. Aku menatap lekat-lekat ampolop itu. Aku ragu untuk membukanya. Tapi aku sangat penasaran sekali. Kubuka amplop itu pelan-pelan, kukeluarkan kertas yang ada didalamnya . . .

TBC . . .

kira-kira apa ya isi dari amplop itu??

don’t be silent reader and don’t forget for coment!

Iklan

6 thoughts on “The Last Time – Part 1”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s