Henry Lau, Saranghaeyo!

author : andri_gamekyu

“Mwo?! Korea?!!” seruku
Appa mengangguk.”Sudah tidak ada gunanya kita disini. Ibumu sudah mengkhianati kita,” ucap appa.
“Appa…,” ucapku, menitikkan air mata.
“Waeyo…? Kenapa kau menangis?!” tanya appa.
“Appa… huweeee…,” aku menangis sejadi-jadinya dan appa memelukku.
Appa tertawa.”Kau ini… appa tidak apa-apa, untuk sementara, kita tinggal di rumah nenek, di Seoul,” ujar appa, lalu tertawa lagi.

Aku tiba di bandara Incheon. Huekkkhhh…! Aku mau muntah…!! Ini pertama kalinya aku naik pesawat yang menurutku tak terhingga lamanya dan menempuh perjalanan udara ke Korea yang sangat jauh dari Indonesia. Ya, aku dari Indonesia. Appa-ku keturunan Indonesia-Korea dan eomma-ku keturunan Jepang. Eomma-ku, seperti yang dikatakan appa-ku, dia “mengkhianati” kami. Dia berselingkuh!! Padahal appa-ku jauh lebih tampan dari pada selingkuhannya itu! Apalagi selingkuhannya itu sudah tua! Huuuhhh… apa yang dipikirkan eomma-ku itu sih!?

Setelah appa tahu bahwa eomma selingkuh, appa langsung menjatuhkan talak tiga di pengadilan, dan setelah itu, resmi lah mereka bercerai. Aku juga setuju kalau appa-ku yang tampan itu meninggalkan eomma yang sudah mengkhianatinya. Aku sebenarnya sedih mereka berpisah, tetapi aku juga tidak rela appa dipermainkan eomma.

Aigoooo!! Aku lupa bahasa Korea maupun bahasa Inggrisku tidak terlalu bagus…!! Hangeul-ku berantakan… bahasa inggris-ku bisa di bilang not bad, not good. andwae! matilah aku…
“Minhyo, gwaenchanayo?? Wajahmu pucat sekali,” ucap appa.
“Gwaenchana,” jawabku singkat.
Appa menggamit tanganku.”Appa! kita seperti orang pacaran saja!” ujarku.
“Tidak apa-apa kan?? Lagipula wajahku masih seperti anak muda yang cakep,” ucap appa.
Appa benar. Wajahnya tidak seperti pria setengah baya berusia 37 tahun. Masih seperti pria dewasa berusia 21 tahun. Aku mengikik dengan pikiranku sendiri.
“Minhyo!! Itu nenekmu!!” seru appa
“Minhyo!!!” seru nenek, memelukku erat.
“Annyeong, Halmeoni,” ucapku, membalas pelukan nenekku.
“Omona! Kau sudah besar sekarang! Terakhir kali aku bertemu denganku, kau masih sangat kecil,” ujar nenek, semangat.
“Eomma, Minhyo pasti capek, jadi kita harus cepat pulang,”
“Ne, aku mengerti. Jangan menceramahiku, Yuuri, kau itu anakku,” ujar nenek, mendongkol.
“Ahhhhh!! Yuuri ahjumma!” seruku lalu memeluk wanita itu.
“Ne, kau masih mengingatku. Sekarang kau jadi gadis yang cantik ya??” ucap Yuuri ahjumma, mengacak-acak rambutku.
“Minho, ayo berkenalan dengan sepupumu,” ucap Yuuri ahjumma pada anak laki-laki kecil yang digandengnya.
“Mwoya?! Minho?! Aigo~ imut sekalii!!” seruku lalu memeluk Minho.
“Noona… haruuummm…,” ucap Minho lalu memelukku juga.
“Omonaaaa…! Kamu lucu sekaliiii!!” ucapku, mencubit pipi Minho yang tembam menggemaskan.
“Berapa umurnya??” tanyaku pada Yuuri ahjumma.
“Tahun ini 4 tahun,” jawab Yuuri ahjumma, tersenyum.
“Namanya hampir sama denganku,” gumamku.
“Aku sengaja, biar kau bisa mengingat namanya,” ujar Yuuri ahjumma, lalu tertawa.
“Aniyooo… Aku tidak sepelupa itu, ahjumma!” seruku, lalu ikut tertawa.
“Hehehe… noona lembut,” ucap Minho lalu mencium pipiku.
“Aiihh… kau baru berumur 4 tahun, tapi sudah pintar merayu ya??” ujarku lalu Minho tertawa senang.
“Ayo pulang!” ucap nenek, menggandeng tangan appa

~~~~~~~~~~

“Minhyo noona! Ini untukmu,” ucap Minho memberikanku setangkai bunga mawar, entah dia memetiknya darimana, sekarang kan musim salju.
“Gomawo, Minho,” kataku lalu mengajaknya duduk di sampingku.
Seseorang membuka pintu pagar.”Minho! aku datang lagi nih,”
“Hyuung!!” seru Minho lalu memeluk cowok itu.
“Ne, aku datang untuk memainkan biola untukmu,” ujar cowok itu.
“Ayo, kukenalkan pada pacarku!!” ucap Minho semangat
Pacar….? pikirku bingung
“Minhyo noona!! Kenalkan, ini Henry Lau, orang yang pernah menolongku kemarin! Dia pintar sekali main biola!!” ujar Minho semangat.
Aku membungkuk.”Annyeong, aku Jung Minhyo,” ucapku.
“Henry Lau,” kata Henry lalu nyengir.
Heh?! Aneh sekali orang ini, pikirku
“Ayo main kan biolanya!!” seru Minho gak sabaran
“Ne, sabarlah Minho,” ucap Henry lalu tertawa.
Henry memainkan biolanya dengan lembut. Waahh… aku terpesona dengan permainannya yang luar biasa. Cowok ini benar-benar hebat… wajahnya imut, pintar main biola pula. Aish! Aku ini mikir apa?? Aku dan dia kan baru saja kenal…
“Hebaaaaatt!!” seru Minho lalu memeluk Henry.
Aigooo~ mereka berdua mirip sekali!! sama-sama imuuutt!! pikirku.
“Henry-ah, kau mau minum??” tanyaku
“Tidak usah repot, aku—“
“Hee?! Kau mau menolak tawaran dari pacarku, Henry-hyung!?” ujar Minho, dengan tampang marahnya.
“Mwo? Anio, aku cuma—“
Henry menatapku, lama sekali, aku jadi salah tingkah.
Duesh!!! Pukulan telak melayang ke wajah Henry yang innocent itu. Pukulan Minho dengan tangan kecilnya itu! Aduduh… Minho!! Kau kejam sekali!!
“Yaakkkk?! Minho! Kau tidak boleh begitu pada tamu!” ujarku, memegang bahu Minho.
“Dia mau menggoda noona sih!!!” seru Minho
Aish… anak ini… biarpun imut, ternyata keras kepala…
“Henry-ah?? Gwaenchanayo???” tanyaku
“G-Gwaenchana,” jawabnya, tetapi tetap memegang hidungnya.
“Biarkan aku melihat hidungmu,” ucapku
“Yakkk!? Berdarah!!” ucapku, kaget. Begitu keras pukulan Minho ke hidung Henry.
Aku berteriak.”Ahjumma!! aku minta kotak P3K!!”
“Eh?! Siapa yang luka…?” ucap Yuuri Ahjumma, sambil membawa kotak P3K
“Henry-ah, dia ditonjok Min—“
Minho menangis.”Huwweee… Henry-hyeong mengambil noona dariku!!”
Aku meringis.”Aduuhh… ahjumma, bisakah ahjumma mengurus Minho?? Aku akan mengurus Henry-ah,” ujarku, tetap meringis.
“Arasseo, kasihan Henry-ah, pukulan telak dari Minho memang sakit,” ucap Yuuri ahjumma lalu membawa Minho masuk ke dalam rumah.
“Aish… sakit sekali,” kata Henry sambil meraba hidungnya.
“Mianhae, Henry-ah… aku belum pernah melihatnya seperti itu,” ujarku.
“Ne, tidak apa-apa,” jawab Henry, nyengir lagi.
“He? Kau selalu nyengir kepada orang-orang yang baru kau kenal ya??” tanyaku
“Aniyo, aku hanya suka nyengir, kebiasaan,” jawab Henry.
Aku tertawa.”Orang aneh!” kataku.
“Oh ya, aku baru pernah melihatmu… baru pindah ya??” tanyaku
“Ne, aku baru pindah dari Indonesia,” jawabku.
“Mwo? Indonesia? Aku juga ingin sekali kesana!” ujar Henry.
“Eh…?? Kamu ingin??” tanyaku
Henry mengangguk semangat.”Ya, sangat ingin! Aku ingin sekali melihat bengunan tinggi yang ada emas diatasnya itu secara langsung! Aduuuhh… namanya apa sih… aku lupa, hemm… oh ya! monas!!” ujarnya semangat ’45.
“Hahaha, menaranya tinggi sekali. Aku pernah kesana, tapi langsung merasa pusing,” gumamku.
“Phobia ketinggian??” tanya Henry
“Begitu lah,” jawabku singkat
Henry melihat jam tangannya.”Wah… sudah jam segini, aku harus pulang,” gumamnya.
“Eh… gomawo, sudah datang,” ucapku, membungkuk.
“He-eh, besok aku akan kesini lagi, boleh??” ujar Henry, lalu memakai topinya.
Aku mengangguk.”Tentu,” jawabku.
Henry tersenyum.”Kamsahamnida,” ucapnya lalu berlari menerobos salju.

~~~~~~~~~~

“Sudah pernah berkeliling sekitar sini belum??” tanya Henry
Aku menggeleng.”Aku… belum terbiasa dengan suasana asing ini,” jawabku
“Kalau tidak keluar, mana mungkin terbiasa,” ucap Henry
“Ne, aku tahu. Tapi, aku takut… mimisan,” kataku
“Eh?? Mimisan??”
“Iya, aku kan orang Indonesia yang sudah terbiasa sama iklim tropis. Disini kan sub-tropis, aku bisa mimisan,” jawabku
“Kau sudah ke sekolah kan? Tapi, tidak mimisan kan??” tanya Henry.
“Tidak… ya, aku tidak mimisan,” jawabku
Aaaahhh… orang ini cerewet sekali, pikirku.
“Ayo, aku ajak kau jalan-jalan,”
“Eh?? Kau mau mengajakku jalan-jalan??”
Henry mengangguk, aku tersenyum lalu masuk sebentar ke dalam rumah, mengambil tas dan mantelku.
“Sudah siap??” tanya Henry.
Aku mengangguk.”Ya!”
Henry menggenggam tanganku. Tangannya hangat sekali… walaupun dia hanya menggenggam tanganku, aku merasa dilindungi olehnya.
“Aish…. Dingin sekaliii!!” seruku.
“Dingin?? Kau sudah pakai mantel kan???” tanya Henry
“Iya, aku tahuuuuuu…! Tapi, dingin sekaliii!!” ujarku sambil memegang telingaku.
Poff! Henry memasang topi miliknya di kepalaku.”Lain kali bawa topi, okay??”
“Gomawo, Henry-ah,” ucapku.
Henry nyengir lagi.”Hehehehe.”
“Enaknya makan apa ya… kalau musim dingin…??” gumam Henry.
“Ngg… kimchi?” usulku.
“Ya!! benar!! Kimchiiii!!” ujar Henry, menarik tanganku lagi.
Kami memakan kimchi, lalu jalan-jalan di JangGeun Park, lalu pergi ke Sungai Han…
“Heh… sungai…,” ucapku
“Kenapa??” tanya Henry
“Ngg.. aku suka,” jawabku
Henry tersenyum lalu mulai memainkan biolanya. Hemmm… aku sangat suka dengan permainan biolanya. Benar-benar keren. Apalagi kalau dia sedang begitu menghayati… uwwaaahh!! Dia imut sekali!
“Keren,” kataku.
“Hehehe, semua orang yang mendengarku memainkan biola pasti bilang begitu, aku senang sekali,” kata Henry, tersenyum. Aduduuh… wajahnya jadi tambah imut…
Aku merasa badanku semakin hangat, wajahku memanas…
“Minhyo, kau tidak apa-apa??” tanya Henry
“Ne, ne… aku tidak apa-apa,” jawabku.
Tetapi pandanganku berbayang, aku limbung lalu aku merasakan sesuatu mengalir dari hidungku…
“Mi… mimisan?!” seru Henry
“Henry-ah…,” panggilku.
Aku merasa pusing sekali…
“Minhyo!!” seru Henry

~~~~~~~~~~

“Aish… kepalaku sakit sekali,” gumamku.
Bluuuggh! Aku dipeluk oleh Minho yang menangis meraung-raung.
“Huweee!! Kupikir Minhyo noona mati!! Huweeeee…!!!” seru Minho. Aku tertawa.”Mana mungkin noona-mu yang imut ini mati,” ucapku.
“Bagaimana aku bisa sampai di rumah, ahjumma??” tanyaku
“Henry-ah mengantarmu kesini, dia terus-terusan minta maaf karena membawamu pergi jalan-jalan, padahal kau sudah menolak, aduuuhh… anak itu baik sekali,” ucap Yuuri ahjumma.
“Di-dimana dia sekarang??” tanyaku
“Mungkin di studio-nya di ujung jalan sana,” jawab Minho.
“Studio ya…??” gumamku lalu menarik mantelku dan membawa topi pemberian Henry, lalu keluar dari rumah menerobos salju yang pastinya akan membuatku mimisan lagi.

di depan studio henry aku berteriak.“Henry-aaaahhh!!!!”
“Eh?! Minhyo!! Kau kan masih sakit!!” seru Henry, mengajakku masuk ke studionya.
“Uwh… dingin,” kataku, memegang telingaku.
“Kau bawa topi, tetapi tidak memakainya??” tanya Henry
“Ya, ini kan milikmu,” jawabku.
“Tapi…,” Henry memegang telingaku yang memerah karena dingin,”Telingamu jadi merah begini, karena kau gak pakai topi,” tambahnya.
“Heumpft… emang merah banget ya??” tanyaku
Kakiku gemetaran, wajahku memerah sampai ke telingaku. Aduuuhh… aku benar-benar akan roboh kalau begini terus…
“Minhyo, mianhae,” ucap Henry lalu membungkuk
“Kau meminta maaf karena apa??” tanyaku
“Karena memaksamu ikut denganku,” jawab Henry
“Tidak apa-apa. Aku yang salah, karena tidak membiasakan diri dengan suasana asing,” kataku.
Henry tertawa.”Yaaahh… tetap saja, aku… merasa bersalah karena membawamu jalan-jalan—“
Aku memeluk Henry.”Aku baik-baik saja! Sungguh!”
“Mi-Minhyo…,”
“Aku… sejak pertama kali bertemu, aku mengagumi Henry-ah! Karena Henry-ah memainkan biola dengan penuh perasaan, apalagi saat memainkannya untuk Minho, kau terlihat sangat senang, makanya…,” aku tidak melanjutkan kata-kataku. Wajahku sudah memanas, aku tidak sanggup mengatakan hal yang lain.
Henry membalas pelukanku.“Aku juga menyukai Minhyo, karena… Minhyo adalah orang yang baik, menerima ajakanku, meskipun kau tahu kalau pergi keluar lama-lama akan membuatmu mimisan, tetapi kau tidak menolak ajakanku,” ucapnya.
Aku tersenyum dan Henry mengecup dahiku.”Saranghaeyo, Minhyo,” ucapnya.
“Saranghaeyo, Henry-ah!!” seruku.

The end.

maaf kalo ff prtamanya kacau banget . tolong dikomen yaa, komen para readers pasti berharga banget buat aku..

11 thoughts on “Henry Lau, Saranghaeyo!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s