Mianhaeyo YEOBO – – – Part 1

annyeonghasaeyo, aku author baru disini. salam kenal semuanya. buat author yang udah lama, mohon bantuannya ya.

Seoul International Hospital. 10 September 2010 – 08.12AM

Hyena POV

“Tuhan, aku mohon selamatkan dia. Aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin kehilangan dia. Aku akan melakukan apa pun asal dia selamat. Aku mohon.” Aku tak henti-hentinya berdo’a dalam hati. Aku tidak bisa berhenti menangis. Aku baru saja pulang dari liburan semester, langsung shock seketika, ketika mendengar bahwa orang yang yang sangat aku sayangi sedang terbaring dirumah sakit berjuang untuk hidup. Kurapatkan cardigan coklat milikku, lalu menggosok-gosokan kedua tanganku agar terasa lebih hangat. Tapi tidak mempan, karena yang dingin adalah hatiku.

“Hye Na-ya…, haraboeji memanggilmu. Cepatlah masuk” suruh ummaku yang baru saja keluar dari ruangan rawat inap dan tidak henti menangis. Aku bangun dari dudukku dengan lesu. Aku sangat takut kalu ini akan menjadi pertemuanku yang terakhir dengannya. Ya, mungkin kata-kataku terlalu berlebihan, tapi entahlah. Aku sangat takut. Harabojji sangat menyayangiku, begitupun dengan aku.

‘kreeettttt’ hanya suara itu yang terdengar saat aku membuka pintu kamar. Aku membukanya dengan sangat pelan dan hati-hati agar tidak mengganggu istirahatnya. Tapi ternyata dia sudah bangun dan bersandar pada bantal. “cucuku…” panggilnya. Membuat langkah ku terhenti. Aku memperhatikan rambunya yang mulai memutih, dan tubuhnya yang mulai renta. “harabojji…” jawabku pelan. “kemarilah, aku merindukanmu” pintanya lagi. Aku pun mendekat, kemudian duduk dikursi yang ada disampingnya. Kupegang tanganya yang kurasakan mulai rapuh ‘Tuhan, jangan ambil kakekku sekarang. Aku belum membahagiakannya’ batinku.

“kenapa menundukan kepalamu?” tanya kakek. Kakek melepaskan tanganku, kemudian mengangkat daguku. Aku dapat melihat matanya begitu bening.

“jangan menangis. Kau cucuku yang paling tegar dan yang paling cantik.” Gurau kakekku. Disaat seprti ini kakek masih bisa membuat senyum kecil di sedut bibirku, itu membuatku semakin tidak mau kehilangannya.

“kakek…” pekikku. Hanya itu yang bisa ku ucapkan. Mulutku seakan membisu melihat keadaannya. Bagaimana tidak, sebulan yang lalu saat aku pamit berlibur, kakek masih sangat segar-bugar dan mengantarku ke stasiun. Tapi sekarang keadaannya benar-benar membuatlku ingin menangis.

“duduk disini” pintanya sembari menepukkan tangannya di kasur, agar aku duduk di sampingnya. Aku menuruti keinginannya.

“satu bulan tidak bertemu, apa tidak kangen pada kakek? Kau biasanya sangat cerewet, kenapa jadi pendiam begini.” tanya kakek. Aku hanya bisa menjawabnya dengan pelukan, yang sangat erat.

“kau masih ingat hal apa saja yang kakek benci kan?” tanya kakek lagi.

“kakek tidak suka aku membuat ibu menangis”

“kakek tidak suka aku menangis”

“kakek tidak suka aku tidak mengakui kesalahan”

“kakek tidak suka aku tidak berani minta maaf”

“kakek tidak suka aku berbohong”

“kakek tidak suka aku membangkang dan tidak menuruti kata-kata kakek” jawabku dengan isak tangis masih memeluknya.

“baguslah kalau kau masih ingat.” serunya. Perlahan kakek melapaskan pelukankku.

“ada yang mau kakek bicarakan. Kau dengarlah baik-baik. Karena mungkin ini akan jadi permintaan terakhirku.” jelasnya membuatku semakin deras mengeluarkan air mata.

“kakek ingin sekali sebelum meninggal, bisa menggendong cicit darimu.tapi sepertinya itu tidak mungkin melihat keadaan kakek sekarang ini.” terangya sedikit sedih. Aku makin membenamkan wajahku dengan menutupinya dengan tangan.

“Tapi sepertinya ada satu harapan kakek, yang masih bisa kau wujudkan yaitu…” terang kakekku lagi, tapi perkataanya terpotong. Kudongakkan kepala menatapnya. “apa itu?” tanyaku.

“kakek ingin melihatmu menikah” jawab kakek datar. tangisku pun kembali pecah.

*****

Aku keluar dengan langkah lesu. Aku shcok mendengar permintaan kakek. Appa, Umma, Onnie dan Oppaku langsung menghampiriku dengan tergesa.

“Hye Na, apa kakek berbicara padamu?” tanya oppa.

“iyah, kau kan cucu kesayangannya. Apa yang dia katakana?” tanya appa.

“ayo, cepat ceritakan. Tadi saat umma masuk, kakek tidak berbicara sedikitpun.” perintah umma.

“i-ii iya. Tadi kakek berbicara padaku” jawabku lesu.

“lantas apa yang kakek ceritakan?” tanya umma tak sabaran.

“hhhheeeeeuh” desahku. Aku kembali menangis membayangkan kehidupanku nanti.

“ayo bilang, kakek bilang apa?” tanya ummaku lagi. aku mengedarkan pandanganku menatap umma, appa, oppa dan onnie bergantian.

harabojji ingin melihat aku menikah.” Jawabku akhiranya. tangisku makin kencang, tapi kali ini yang aku tangisi adalah keadaanku, bukan keadaan kakekku. Kenapa takdirku seperti ini???

“MWO” tanya mereka berbarengan. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan. Seketika appa dan ummaku langsung menangis dan berpelukan. Mungkin mereka juga sedih mendapati nasibku seperti ini. Onnie yang merupakan istri dari oppaku yang dari tadi hanya diam saja, akhirnya menghampiriku lalu memeluku, dia sepertinya mengerti perasaanku saat ini.

“itu tidak mungkin.” Akhirnya oppa membuka suara setelah sekitar satu jam kami dalam keheningan.

“masalahnya, aku tidak tau siapa yang harus jadi suamimu. Kau tidak pernah mengajak namja chingu-mu kerumah” terang oppaku dengan sangat datar. kulihat onnie langsung menyikutnya.

“ada” jawabku .

“maksudmu?” tanya onnie, akhirnya membuka suara.

“calon suamiku… ada. Kakek sudah mempersiapkannya!”

jeongmal” tanya oppa. “hhhhmmm” jawabku lirih.

“WAAA, HOREEE” teriak appa, umma dan oppa berbarengan. Aku saling menatap dengan onnie, membuat kami bingung dengan apa yang mereka lakukan.

appa sampai stress memikirkan masalah ini. Tapi syukurlah kalo kakek sudah menyiapkannya.” Kali ini appa dan umma kembali berpelukan.

“jadi tadi umma dan appa menagis karena memikirkan siapa yang akan menjadi calon suamiku, bukan menangis karena aku harus menikah?” tanyaku berharap mereka menjawab tidak. Tapi aku salah, mereka malah menggangguk dan tertawa kecil.

onnieeee” rengekku. Aku kembali menangis di pelukan onnieku. Kenapa aku harus memiliki keluarga seperti ini??

****

“kakek sudah memilihkan calon suami untukmu. Jadi kau tidak usah khawatir. Dia cucu teman bisnis kakek dulu. Dan kakek memang sudah berjanji akan menjodohkan cucu kami kelak” kata-kata itu terus saja terngiang di kepalaku. Apakah aku benar-benar harus menikah sekarang ini? Tapi bagaimana mungkin menikah sementara aku sama sekali tidak mengenal siapa calon suamiku itu. Kumainkan air dikolam renang dengan kakiku, saat ini aku berada di taman belakang rumahku. Aku ingin menjernihkan pikiran dan sedikit menghirup udara segar.

“Hyena, ayo ke rumah sakit. Kondisi kakek drop lagi” pinta oppaku setengah berteriak dari arah belakangku.  Aku masih melongo dan tak bergerak. “ppali” suruhnya lagi. Baiklah kek, aku akan mengabulkan keinginanmu itu.

****

Aku terus menangis setelah pernikahanku selesai. Hancur sudah semua impinku. Dilamar ditepi pantai, dan melakukan pernikahan diatas kapal pesiar, lalu berbulan madu di Paris. Aku malah menikah di ruang rawat kakekku. Yang hadir hanya keluargaku dan keluarga laki-laki itu. Selama pernikahan berlangsung, aku hanya menangis, tak bicara sedikitpun hingga aku pulang kembali kerumah.

“Hyena, buka pintunya. Sampai kapan kau mau didalam?” teriak umma di balik pintu.

“kuu..mo.hon, bii.arrkan aku sendiri” isakku.

“YAK, cepat buka! Kalo tidak, umma akan mendobraknya” teriaknya lagi. ‘Tuhan, kenapa kau beri aku ibu sekejam ini?’ batinku.

..to be continued..

bagaimana? mudah”an pada suka ya. ada yang bisa nebak siapa cowoknya?

15 thoughts on “Mianhaeyo YEOBO – – – Part 1”

  1. chingu~
    masih ingt aq gk????
    *siapa loe???*
    bkn org penting,,

    dTggu part 4.a~
    *emg udh bca part 2-3 nya??*

      1. wuakaka~
        aku babo~~ *smbunyi*😄
        maklum eonni, aku sedang stress bin gila ini😄
        jangn kyu ya eonn . plis~ aku jeles ntar -,-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s