Nothing’s Gonna Change My Love For You [part 3-end]

Tags: Key, SHINee member

~Jung Minhyo PoV~

Aku duduk diam di kursi rumah sakit, ditemani oleh member SHINee yang lain. Aku menjalin kedua tanganku, dan terus berdoa untuk Key.

“Hyung… kau pasti baik-baik saja,” gumam Taemin disampingku. Aku menepuk pundaknya.”Key pasti baik-baik saja,” ujarku, menyemangati Taemin.

“Ne, dia pasti baik-baik saja…,” kata Onew, mengacak-acak rambut Taemin.

“Hyung… hwaiting,” ucap Minho pelan.

“Haha, Key pasti baik-baik saja, aku yakin. Dia kan “The Almighty”, dia tidak akan kalah dengan penyakitnya,” ujar Jonghyun.

Air mata bergulir di pipiku.”Semua… mianhae… cheongmal mianhae… aku… aku tidak bisa membantu Key disaat seperti ini,” ucapku, suaraku bergetar.

“Hyaa… jangan menangis, noona, kau tidak salah,” ujar Taemin, menenangkanku.

“Sekali lagi, maafkan aku…,” gumamku, sambil terisak.

***

-Keesokan harinya, di rumah sakit-

“Minhyo, kau bisa bawa member SHINee yang lain ke rumah sakit ini, secepatnya?” ujar Hyun Jae oppa, dengan raut wajah serius.

“Kurasa bisa,” jawabku ragu-ragu.

“Kalau bisa sekalian dengan orang tua Kibum-sshi,” tambah Hyun Jae oppa.
Aku melangkah keluar ruangan kerja Hyun Jae oppa dengan langkah berat dan agak terseret-seret. Penyakit apa yang sebenarnya di derita Key?

***

“Oppa… kumohon, kalau bisa datanglah hari ini dengan member SHINee yang lain dan juga orang tua Key, ya?” ujarku.

Orang yang ada di seberang sana terdiam sebentar, Onew.”Sore ini kami bisa ke sana,” jawab Onew.

“Promise?” pintaku.

“Promise,” jawab Onew mantap.

“Baiklah kalau begitu, sampai nanti, oppa… annyeong,” ucapku, lalu menutup telepon.

***

Para member SHINee dan orang tua Key berada di dalam ruangan kerja Hyun Jae oppa. Karena aku sangat ingin tahu tentang penyakit Key, aku memberanikan diri menguping pembicaraan mereka.

“Mm… bagaimana aku memulainya ya…,” gumam Hyun Jae oppa.

“Penyakit Kibum… mulai dari situ saja…”

“Penyakitnya…,” kudengar Hyun Jae menghela nafas.”Kanker otak, stadium akhir,” jawab Hyun Jae oppa.

Di dalam ruangan hening. Kemudian kudengar suara isak tangis seorang wanita, ibu Key.

Aku merasa sulit bernafas. Darahku seakan-akan membeku. Kanker otak, stadium akhir? Tidak bisa disembuhkan…? Kemudian aku teringat pada profesi Hyun Jae oppa, yang memang seorang dokter spesialis Kanker. Aku mengumpat dalam hati. Kenapa Hyun Jae oppa tidak pernah memberitahuku?!

Tanpa dapat kutahan, air mataku terjatuh dari pelupuk mataku.”Key…,” ucapku pelan, lalu berlari kearah ruang rawatnya. Suara langkah kakiku bergema di koridor rumah sakit yang sepi. Begitu sampai di depan ruang rawat Key, langkah kakiku tiba-tiba terasa berat bagai timah. Aku memaksakan diri membuka pintu ruang rawat Key…

“Key…,” panggilku pelan.

“Mmm…? Minhyo? Masuklah…,” ucap seseorang, lemah.

“Key……,” ucapku, air mataku merebak.

“Minhyo… kenapa kau menangis?” tanya Key, mengerutkan dahinya.

Aku melangkah pelan kearah Key, lalu memeluknya.”Key… mianhae-yo… mianhae… aku sangat menyayangimu… aku tidak ingin kau pergi dariku… cheongmal mianhae karena tidak mengatakannya kemarin… cheongmal mianhae…,” ujarku, membenamkan wajahku di bahunya.

“Hei, hei… jangan terlalu banyak berkata “mianhae”. Aku pusing mendengarnya,” ucap Key, tertawa pelan.

“Aku serius… bagaimana kalau aku menerimamu sekarang? Apa sudah terlambat?” tanyaku pada Key.

“Eh? Apa maksudmu?” Key balik bertanya.

“Saranghae, Key… saranghae youngwonhi, Key……,” ucapku, mempererat pelukanku.

“Minhyo… gomawo,” gumam Key, membalas pelukanku.

***

~Author PoV~

Tengah malam, Key mengerang karena sakit kepalanya yang tidak tertahankan. Minhyo buru-buru menenangkannya dan memanggil Dokter Lee Hyun Jae. Kadang Minhyo mengecup dahi Key, saat Key gelisah dalam tidurnya. Mengelus-elus kepalanya, hingga Key kembali tenang.

“Minhyo… saranghae…,” gumam Key dalam tidurnya.

“Mmm… nado saranghae, Key…,” ucap Minhyo, lalu kembali mengelus rambut Key pelan…

Tiba-tiba Key tersadar.”Minhyo? kau masih disini??” tanyanya, suaranya bergetar karena lemas.

“Ehmm… ne,” jawab Minhyo, tersenyum.

“Pulanglah… kau pasti capek…,” ujar Key.

“Aniyo… aniyo… aku tidak apa-apa,” gumam Minhyo, meletakkan tangan Key di pipinya.

“Tidurlah lagi,” tambahnya, lalu menyanyikan lagu One For Me untuk Key. Key tersenyum, lalu kembali tertidur.

***

“Minhyo…?” gumam Key.

“Ne, chagi… aku disini,” jawab Minhyo, lalu berjalan mendekati Key.

“Minhyo… eomma dan appa-ku tidak ke sini?” tanya Key.

“Ehmm… tadi mereka ada disini, mereka duduk lama sekali… tetapi, kau tidak kunjung bangun… jadi, mereka pulang… dan berkata akan menjengukmu lagi sore ini,” ujar Minhyo.

“Hyo… apa kau benar-benar serius denganku?” tanya Key pada Minhyo, membuat Minhyo kaget.

“Apa maksudmu?” Minhyo balik bertanya.

“Yah… aku kan sudah di diagnosa penyakit yang sudah tidak mungkin disembuhkan… masih akan menyukaiku?” ujar Key.

“Nothing’s gonna change my love for you, Key…,” ucap Minhyo, lalu mengacak-acak rambut Key.

“Mwo? Jadi kau tidak peduli walaupun aku ini gila, atau sakit atau apalah…,” gumam Key tidak jelas arahnya.

Minhyo tersenyum.”Ne, aku tidak peduli. Aku akan selalu mencintaimu.”

“Minhyo…,” ucap Key.

“Kematian pun tidak akan memisahkan kita, apakah itu cukup untukmu?” tanya Minhyo, lalu tersenyum lebar, menyemangati Key.

“Ne… kau tidak boleh melupakanku,” jawab Key, lalu tersenyum lebar.

***

~Jung Minhyo PoV~
“Hyaaaa…!! Aku telat!!” seruku, sambil berlari di koridor universitas…
-Di kelas-
“Psstt… katanya Key SHINee…”

“Ha? Masa sih?! Bohoooongg!!!”

“Aku rela menggantikan dia kalau memang bisa!!”

“Minhyo!!” seru Sung In, memegang bahuku.

“A-apa?” tanyaku, gugup.

“Apa benar Key terkena penyakit Kanker Otak!?” tanya Sung In, aku menggeleng.”Aku… aku tidak tahu…,” jawabku.

“Bohong! Kau kan suster pribadi Key!” ujar Sung In.

“Sung In… sst…,” gumamku putus asa.

“Oh, mianhae… cheongmal mianhae… aku lupa…,” ucap Sung In, menggelengkan kepala.

“Ne, gwenchana…,” kataku, menjatuhkan diri di kursiku.

“Jadi… berita itu benar, Minhyo?” tanya Sung In.

“Ne… ne, itu benar…,” jawabku. Tanpa dapat kutahan, air mataku merebak lagi.

Sung In langsung memelukku.”Ssst… jangan menangis, Minhyo… Key pasti akan sedih kalau mengetahui dirimu menangis disini,” ucap Sung In, menepuk-nepuk punggungku.

“Ini menyakitkan, Sung In… disaat dia menyatakan perasaannya padaku…kenapa? apa aku membawa sial untuknya?” tanyaku, membenamkan wajahku dibahu Sung In, menangis sesenggukan.

“Ani… aniyo, kau tidak membawa sial, Minhyo… percayalah…,” jawab Sung In.

“Huu… huhu…,” isakku.

***

~Author PoV~
-Kediaman keluarga Jung-
Suasana pagi di kediaman Jung kelihatan begitu tenang, sampai……
Drrrtt… drrrtt… drrrtt… hp Minhyo bergetar, ada yang menelepon.

“Hyaa… yeoboseyo?” tanya Minhyo sambil menahan kantuk.

“Noona?! Noona kan?!” seru seseorang dari telepon, Taemin.

“Emm… ne, ada apa, Taemin-ah?” tanya Minhyo, sedikit tersadar dari kantuknya karena teriakan Taemin.

“Noona, cepatlah ke rumah sakit sekarang! Key hyung! Kondisinya labil lagi!!” seru Taemin, panik. Karena Taemin panik, aku pun ikut panik.

“Hyaaa!! Aku akan segera kesana, Taemin-ah!!” seruku, lalu melempar hp-ku entah kemana.

***

~Jung Minhyo PoV~

-Rumah Sakit-

“Noona!!” seru Taemin-ah, berlari kearahku.

“Ta-Taemin-ah… keadaan Key?” tanyaku, terbata-bata.

“Keadaannya mulai stabil lagi, tapi sekarang masih di ruang ICU…,” jawab Taemin. Aku mendesah lega, lalu memeluk Taemin.

“Hyaaa… ada apa denganmu, noona?” tanya Taemin, agak kaget dengan reaksiku.

Aku melepaskan Taemin.”Gomawo, Taemin-ah…,” ucapku, tersenyum padanya.”Gomawo sudah memberitahu keadaan Key padaku.”

Taemin membalas senyumku dengan agak canggung.”Cheonmaneyon, noona,” katanya.

-Ruangan ICU-

“Key…,” panggilku pelan. Kulihat matanya tertutup, dadanya naik turun, bernafas. Aku mendesah lega. Dia hidup. Dia hidup dan sedang tertidur sekarang…

Aku mengelus kepalanya pelan.”Chagi… aku disini, cepat sadar ya? aku menunggumu,” ucapku sambil tersenyum.

Kepala Key bergerak sedikit, mengedik kearahku. Matanya perlahan terbuka. Dia sadar!

“Hyo…,” panggil Key.

“Omomo~ apa suaraku mengganggumu?” tanyaku, pelan.

“Aniyo… aku hampir mati saat kau tidak ada,” ujar Key, menahan tanganku yang hendak berdiri.

“Key… kurasa kau masih perlu istirahat…,” ucapku.

“Ne, temani aku tidur…,” pinta Key, dengan puppy eyes.

“Uuuhh… ne, chagi… kutemani,” jawabku.

***

~Key PoV~

-Malam harinya-

“Chagi, temani aku ke taman rumah sakit dong…,” pintaku manja pada Minhyo.

“Mmmmmmm… oke,” jawab Minhyo, sambil tersenyum manis.

-Taman Rumah Sakit-

Minhyo mendorong kursi rodaku dengan ceria. Tapi, aku bisa melihat kesedihan dari matanya… Minhyo terlalu mudah dibaca. Walaupun dia tidak mengatakan apapun, aku tahu apa yang dipikirkan dan diinginkannya. dari bahasa tubuhnya, aku tahu dia berat melepaskanku.

“Huwaaa… lihat, Key! Lihat langit… indah ya?” ujar Minhyo, merengkuh leherku dari belakang.

“Ne, indah…,” jawabku, pelan.

“Aku… benar-benar tidak akan melewatkan setiap kesempatan untuk bersamamu, Key… ini momen yang berharga…,” ujar Minhyo, suaranya bergetar menahan tangis.

“Mmmm… yaaahhh… benar sekali,” komentarku, datar.

“Key?”

“Kurasa… aku tidak bisa bertahan lama untuk membuat kenangan indah bersamamu, Minhyo…,” gumamku.

“Wae-yo?” tanya Minhyo, agak gusar.

“Aniyo,” jawabku, pendek.

Hening sesaat.

“Minhyo… saranghae, saranghantago,” ucapku, akhirnya.

“Ne, aku tahu…,” jawab Minhyo, sambil mempererat rengkuhannya.

***

~Jung Minhyo PoV~

“Huuaahhmm…,” aku menguap pelan.

Lho? Sejak kapan aku berada dikamarku ini? Mm… kalau tidak salah… terakhir kali, aku diantar oleh Jonghyun dan Minho… sesampainya dirumah? Aku langsung tertidur… ohya… aku pabo sekali.

Drrrtt… drrrtt… drrrrtt…

“Hhmm… yeobose—“

“Minhyo!!! Cepat ke rumah sakit!! Ga pake lama!!” seru Onew, lalu menutup telepon.

“Eh?! Apa lagi yang terjadi dengan Key!?” seruku. Tanpa menunggu lagi, aku segera ke kamar mandi dan menggosok gigi, lalu pergi ke rumah sakit.

***

-Rumah Sakit-

“Oppa… apa yang terjadi?” tanyaku pada Onew.

“Em…,” Onew terdiam. Taemin berjalan kearahku, lalu memegang tanganku.”Mianhae-yo, noona…,” ucapnya.

“Wae?” tanyaku.

“Key… Key hyung…,” ucap Minho, matanya memerah.

“Eh? Ada apa dengan Key?” tanyaku, agak gusar.

“Noona, mianhae… tapi, Key hyung… sudah tidak bisa diselamatkan lagi,” ucap Taemin. Aku termangu. “Key… sudah tidak bisa diselamatkan lagi?”

“Key Hyung… sudah tidak bisa diselamatkan lagi,”

“Tidak bisa diselamatkan lagi,”

Kata-kata itu terus terulang di dalam kepalaku. Berulang kali… berulang kali… hingga akhirnya air mataku merebak.”Taemin-ah… kau bohong kan?” tanyaku pelan. Semua terdiam.

“BOHONG KAN!?” tanyaku, kali ini dengan nada lebih tinggi.

Taemin memelukku.”Noona… aku minta maaf… seandainya aku berbohong, aku akan mengatakannya dari tadi…,” ucapnya.

Kakiku lemas. Pandanganku kabur.”Key…,” ucapku.

***

~Author PoV~

Kaki Minhyo lemas. Pandangannya kabur.”Key…,” ucapnya, lalu kehilangan kesadarannya.

“Noona?! Noona!!” seru Taemin.

“Minhyo?! Ya ampun… Minhyo, sadarlah!! Minhyo!” seru Jonghyun, tak kalah panik.

***

“Umm…,” Minhyo tersadar.

“Noona, gwenchana-yo?” tanya Taemin, mengerutkan dahi.

“Aku… dimana?” tanya Minhyo.

“Rumah sakit,” jawab Minho, sambil bersandar di dekat pintu.

“Key? dimana Key? aku ingin bertemu dengannya,” ucap Minhyo, pelan.

“Hyo… kumohon… Key sudah…” ucap Onew, tertahan.

“Aku tahu, oppa… aku boleh melihatnya kan? untuk yang terakhir kali,” ujar Minhyo, datar.

***

~Jung Minhyo PoV~

“Key… ehm… Kibum-ya… tenanglah disana, ya?” gumamku, sambil meletakkan bunga lily di makam Key.

“Kau tahu? Aku tidak akan melupakanmu,” ucapku, lalu tersenyum.

-lima tahun kemudian-

“Mmmm… pengantin wanitanya agak mendekat sedikit ke pengantin prianya, ya… lalu dasi pengantin prianya tolong dirapikan… agak berantakan,” ucap seorang photographer.

Aku mendekat kearah sang pengantin pria, lalu membetulkan dasi yang dikenakannya.

“Emm… seperti ini? Sudah?” tanyaku, sambil tersenyum manis.

“Yap, sempurna sekali!” ucap sang photographer, lalu memotret pasangan pengantin itu, aku yang merasa tugasku selesai, langsung beranjak pulang.

“Hyaaaa… satu pasangan bahagia bertambah lagi di dunia!” seruku gembira, sambil merentangkan tangan.

Yap yap. Inilah aku, sekarang aku seorang WO. Mengingat dulu, aku sangaat mencintai Key, dan pernah membayangkan akan menikah dengannya suatu saat nanti.

Aku mungkin belum menemukan penggantinya, bahkan tidak akan ada yang dapat menggantikan Kibum-ku seorang, but now… I’m happy…

Aku melihat kearah langit.”Kibum-yaa…! Kau melihatku dari atas sana, bukan? Kau melihatku bahagia kan? jadi… kau harus tenang disana ya…,” ucapku, pelan.

Chagiya… gomawo sudah mengisi kehidupanku, walau hanya sebentar. Gomawo karena kau sudah mencintaiku selamanya, bahkan hingga akhir hayatmu. Gomawo… I love you, chagy…

“Saranghae-yo, Kibum-yaa…,” bisikku, lalu tersenyum bahagia.

“Yaaakkk! Masih banyak pasangan yang menunggumu, Minhyo!” seruku lalu berlari pergi dengan semangat.

The End.

Maaf ya, kalo sad ending 😥 *bowed* cheongmal mianhae-yo, semuaa…

7 thoughts on “Nothing’s Gonna Change My Love For You [part 3-end]”

  1. HUAAAAHHH~~~
    betulkan~
    T^T,, Key~
    *untg cma FF*
    jdi bisa bernafas lega~
    fiuh~ tapi tetep aja!!!!!
    T^T

    NIce FF dha!!!
    dT^Tb

      1. wah~
        plmpiasan ke FF.a nie crta.a???
        wkwkwkwk,,
        gwenchanayo~

        kan yg bqn saeng,,
        jdi t’srh saeng mw bkin crta.a
        aq cma ksh komment~
        :p

        dTggu FF lain.a~
        ^^

  2. huahhhhh.. ga kebayang kalo Key yg super bawel itu bisa terbaring lemah di rumah sakit.. jgn ampe deh sii almighty key jdi kyk gitu.. amit”..!! hahahaha.. gomawo ya chingu.. FFnya bagus kok..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s