The Last Time Part 5

Sebelumnya . . .

“Hyung, mianhae! Andai saja aku tidak terlalu sibuk, aku pasti bisa mengantarkan Kangin hyung.”

“Kau jangan menyesal seperti itu, kami tahu tentang kesibukanmu.”

“Hyung pun harus begitu. Hyung harus bicara pada kami semua bila hyung mempunyai masalah. Hyung adalah leader terbaik diantara semua leader.” Leeteuk hyung tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Aku dan Leeteuk hyung berpisah menuju kamar kami masing-masing.

THE LAST TIME Part V

Leeteuk POV

Kulihat punggungnya yang menghilang dibalik pintu kamarnya. Dipundaknya kulihat rasa lelah, ingin sekali kurangkul dia dan menyuruhnya untuk beristirahat. Terlalu banyak kegiatan yang dia lakukan. Terutama acting yang sangat menyita waktunya. Kibum-ah, jaga kesehatanmu! Jangan sampai kau seperti aku. Kemudian aku masuk kedalam kamar. Aku berbaring di kasurku, kucoba untuk menutup mataku dan tertidur. Tapi tidak bisa, kenapa? Karena terlalu banyak masalah yang menimpa kami atau karena penyakitku ini? Ah . . . jangan pernah pikirkan penyakitku itu! Leeteuk, pikirkan tentang Super Junior dan dongsaeng-dongsaengmu. Itu lebih penting! Hiburku dalam hati. Benar-benar tidak bisa tidur, aku duduk kasurku. Kutatap Donghae yang sedang tidur terlelap.

“Donghae-ah, maafkan hyungmu ini yang tidak bisa selamanya  menjagamu! Sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku pada appamu. Mianhae!” air mata mulai menetes lagi dari mataku. Aku melangkah keluar kamar lagi. Kumasuki satu persatu kamar dongsaeng-dongsaengku. Heechul, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Donghae, Ryewook, Kibum, dan Kyuhyun. Sayang sekali, Hankyung dan Siwon tidak ada disini. Setelah semua kamar kutengok, kuberjalan menuju ruang tengah. Tempat biasa kami semua berkumpul. Kutatap setiap sudut sofa, pikiranku melayang pada saat-saat kami semua berkumpul bersama. Kuteteskan lagi airmataku, kali ini lebih deras.

“Hankyung-ah, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau sudah makan? Ah . . . untuk apa aku pikirkan dia sudah makan atau belum, dia kan pintar memasak nasi goreng Beijing. Sepertinya aku harus bertemu dengannya, aku rindu sekali padanya.”

Keesokan harinya . . .

“Hyung . . . hyung bangunlah!” sebuah suara memanggil namaku. Perlahan kubuka mataku. Kulihat Ryeowook.

“Ah . . . Wookie, sudah jam berapa sekarang?” ucapku sambil membenarkan posisiku menjadi duduk. Ryeowook duduk di sampingku.

“Masih pagi hyung, baru jam 6 pagi. Kenapa hyung tidur disini, dan mata hyung . . .” Ryeowook menggantungkan kata-katanya.

“Waeyo?”

“Hyung menangis?”

“A . . . aniyo, kau cepatlah memasak! Aku akan mandi dan membangunkan member lain. Hari ini kalian ada jadwal performlagi bukan?”

“Kali ini, hyung tidak akan ikut lagi?”

Aku menundukkan kepalaku dan tiba-tiba tersenyum padanya, “Tentu saja aku ikut. Kalian mana bisa bila tanpa aku.” Aku tertawa dan mengacak-ngacak rambut Ryeowook. Kemudian meninggalkannya masuk kamar.

“Hyung . . .!” ucapnya kesal.

,,,

Kutatap satu persatu wajah dongsaeng-dongsaengku yang kelelahan setelah menyelesaikan video clip Bonamana.

“Leeteuk kemarilah!”

“Waeyo hyung?”

“Besok pagi kalian harus bangun lebih pagi, jam 7 aku jemput untuk pemotretan.”

“Tapi hyung, sekarang saja sudah jam 1 pagi. Kami sampai dorm saja mungkin jam 2 atau jam 3. Kalau jam 7 hyung sudah menjemput kami, kami harus bangun jam 5. Jadi kami hanya diberikan waktu istirahat selama 2 sampai 3 jam. Aku mohon hyung, bisa lebih siang sedikit tidak menjemput kami!” aku mencoba memohon.

“Tidak bisa Jungsu-ah, setelah pemotretan besok kalian harus menghadiri acara di SBS. Untuk promo album baru kalian. Setelah itu, kalianpun diundang untuk acara Strong Heart.”

“Tapi hyung, bukankah untuk acara Strong Heart sudah ada aku, Eunhyuk dan Shindong?”

“Aniyo Jungsu-ah, kau, Eunhyuk, dan Shindong disana bukan hanya sebagai Super Junior tapi Teukigayo bukan? Lagipula, malamnya kau dan Eunhyuk harus siaran di Sukira bukan?”

Aku tidak bisa lagi melawan kata-kata manager hyung, semua yang dibicarakannya memang benar. Aku tidak tega menyampaikan ini pada mereka, tapi harus bagaimana lagi. Ini memang resiko yang harus kami jalani. Ini salah satu rintangan yang harus kami lewati. Benar saja, semua tanggapan mereka sama.

“Ah hyung, kenapa tidak bilang dari tadi? Aku baru saja membuat janji pada eomma akan mengunjunginya besok pagi.” Ucap Yesung.

“Kenapa besok tiba-tiba saja ada jadwal pemotretan, bukankah pemotretan dilakukan pada jam 1 siang?” keluh Kyuhyun.

“Iya aku . . .” Leeteuk benar-benar tidak diberi kesempatan bebicara.

“Hyung, besok aku ingin bangun siang. Bukankah hari ini kita sudah bekerja sampai selarut ini, kenapa kita harus bangun pagi?” kali ini Ryeowook yang berkomentar. “Itu artinya aku harus bangun lebih awal lagi.” Tentu saja dia yang paling protes, karena jam tidurnya akan lebih sedikit dibandingkan dengan yang lain. Karena dia harus menyiapkan sarapan untuk kami semua.

“Kalian semua berisik!” bentak manager hyung. Kami semua terdiam kaget karena bentakannya. “Sekarang kalian pulang. Ingat, jam 7 besok aku jemput kalian. Kalau kalian semua belum siap, kalian akan tahu akibatnya.”

Sampai dorm . . .

Siwon yang meskipun rumahnya dekat dengan dorm kami, untuk malam ini dia tidur di dorm karena takut besok akan bangun kesiangan.

“Ya!” ucapku lembut sebelum semua member masuk kedalam kamarnya masing-masing. “Malam ini kalian harus langsung tidur. Besok pagi tidak ada yang boleh bangun kesiangan. Jangan lupa pasang alarm! Kyu-ah, berikan mainanmu itu!”

“Mwo? Waeyo?”

“Aku tidak mau kau main terus dan tidak tidur. Aku tahu kau pasti akan memainkannya sebelum tidur, itu akan membuat jam tidurmu menjadi lebih sedikit.” Dengan cemberut Kyuhyun memberikan gamenya itu padaku. “Sekarang masuklah ke kamar kalian, ingat kalian harus langsung tidur.”

“Hyung, kenapa kali ini kau cerewet sekali sih hyung?” keluh Eunhyuk kemudian masuk kedalam kamarnya.

“Hyung, kenapa diam saja? Ayo masuk kamar, hyung pun harus istirahat!” ajak Donghae.

“Ne.” kemudian aku mengikutinya dari belakang.

Donghae memang dongsaeng yang patuh, setelah mengganti bajunya dia langsung tertidur pulas. Sementara aku sudah mencoba untuk menutup mataku, tapi tetap saja tidak bisa. Aku takut bila aku tidur, aku akan bangun kesiangan. Aku berjalan keluar kamar dan mulai mengecek satu persatu kamar dongsaeng-dongsaengku. Ternyata mereka patuh, mereka semua sudah tertidur pulas. Aku duduk di ruang tengah, kulirik jam di tanganku. Jam 3. Aku memutuskan untuk menonton DVD. Tiba-tiba handphoneku bordering. Kulihat layar ponselku. Nomor tak dikenal.

“Yoboseyo?”

“. . .”

“Yoboseyo?”

“Hyung . . .” akhirnya ucap sebuah suara diseberang sana.

“Hankyung, kau kah itu?”

“Ne.”

“Bagaimana kabarmu? Ada apa tiba-tiba kau menelponku? Kenapa kau belum tidur? Di China sekarang jam 2 bukan?”

“Ne, hyung sendiri kenapa belum tidur?”

“Aku baru pulang, dan tidak bisa tidur. Ada apa kau menelponku?”

“Tiba-tiba saja aku ingin menelponmu. Entahlah, perasaanku tidak enak.”

“Han, jadi kau belum tahu tentang Kangin?”

“Waeyo? Ada apa dengannya?”

“Kemarin malam, dia menabrak seorang anak kecil. Saat itu dia sedang mabuk.”

“Mwo? Sekarang bagaimana keadaannya?”

“Perusahaan mengskors dia. Sekarang dia berada di rumah orang tuanya untuk menenangkan diri. Hankyung-ah, jaga kesehatanmu! Jangan terlalu lelah, sering-seringlah menelpon kami! Terutama Heechul, dia sangat merindukamu.”

“Hyung, mianhae!” ucapnya, kudengar dia sedikit terisak.

“Waeyo? Kau tidak punya salah padaku, kenapa meminta maaf?”

“Karena aku sudah membebanimu dengan masalahku.”

“Aniyo, kau adalah dongsaengku. Jadi kau tidak akan pernah membebaniku dengan masalahmu. Tenanglah! Sekarang kau istirahatlah, kudengar kau akan mengeluarkan album solomu. Kau harus jaga kesehatanmu!”

“Ne, hyung pun harus begitu. Bagaimana penjualan album baru?”

“Kami banyak melakukan promo, masyarakatpun sepertinya menyukai lagunya.”

“Baguslah kalau begitu. Aku tutup telponnya hyung sudah malam, hyung cepatlah tidur.”

“Ne.”

Klik.

Aku tidak kuasa menahan tangisku. Ku menutup mulutku dengan bantal kursi didekatku, agak tangisku ini tidak mengeluarkan suara. Kuusap air mataku cepat, saat kudengar suara pintu terbuka.

“Hyung, kau belum tidur?”

“Kyu-ah, kau sendiri kenapa tidak tidur?”

“Aku tidak bisa tidur karena PSP-ku kau ambil.” Ucap Kyuhyun sambil mendekatiku.

“Kalau begitu ambil ini!” kuberikan PSP miliknya.

“Aku akan menemani hyung disini.”

“Ne.”

Tanpa disuruh, Kyuhyun langsung berbaring dengan kepala berada di pahaku sambil memainkan PSP miliknya. Aku mengusap kepalanya lembut. Setelah 30 menit, akhirnya dia tertidur juga. Aku tersenyum melihat wajahnya yang lembut seperti bayi saat sedang tidur.

 

Tiba-tiba alarm handphoneku berbunyi, “Kyuhyun-ah, bangun sudah jam 5. Ayo siap-siap!” perlahan Kyuhyun membuka matanya. “Aku akan membangunkan yang lain, kau cucilah wajahmu!” satu persatu kubangunkan member yang lain. Setelah mencuci mukanya, Ryeowook dan Sungmin langsung pergi ke dapur untuk memasak untuk kami.

“Hyung, kau tidak tidur?” Tanya Kyuhyun.

“Aniyo, tentu saja aku tidur. Tidak lama setelah kau tidur, akupun tertidur.” Ucapku bohong. Tapi sepertinya dia percaya.

Jam 12 siang di SBS

Kami sedang di make up di ruang tunggu, sambil menunggu giliran di make up. Beberapa member ada yang bercanda-canda dan makan siang. Aku termasuk kedalam yang menunggu untuk di make up. Aku ingin beegabung bersama Eunhyuk dan Donghae yang sedang bermain-main, tapi badanku lemas rasanya sehingga kuurungkan niatku. Aku manatap nasi box di meja, tapi aku tidak lapar. Akhirnya aku hanya duduk di sofa melihat kegiatan mereka masing-masing sambil menunggu giliranku di make up.

“Hyung, ini jatah makan siangmu. Makanlah dulu, kau kan baru sembuh dari sakit.” Ucap Ryeowook menyodorkan sekotak box makanan padaku.

“Nanti saja, kau simpan saja dulu. Nanti akan aku makan.”

“Jungsu-ah, kau kan punya maag. Kau jangan sampai telat makan, jangan buat kami cemas padamu lagi.” Ucap Heechul.

“Ne, tapi aku belum lapar. Aku janji akan memakannya, kau sendiri sudah makan belum?”

“Aku belum lapar, karena tadi pagi aku makan agak banyak. Aku tahu, tadi pagi kau hanya makan sedikit. Cepat makan!”

“Ne, tapi setelah aku selesai di make up.” Ucapku sambil melangkah menuju meja rias.

“Super Junior, 5 menit lagi!” ucap salah satu staff SBS. Dan itu menandakan kami harus sudah siap. Kami semua keluar ruangan, tapi tiba-tiba kepalaku sakit.

“Hyung, kau kenapa?” ucap Sungmin yang melihatku memegang kepalaku.

“Tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing, tapi tidak apa-apa. Aku akan makan aspirin, kau duluan saja. Aku akan menyusul.”

“Ne.”

Dengan cepat korogoh isi tasku mencari obat penghilang sakit kepala yang diberikan dokter. Tentu saja itu bukan aspirin yang kukatakan barusan. Itu obat untuk penyakitku. Aku duduk sejenak menunggu obatku bekerja. Setelah menunggu selama 5 menit, akhirnya sakit di kepalaku hilang juga. Aku melangkah keluar ruangan menyusul member yang lain. Saat aku masuk kedalam studio, semua menatapku.

“Waeyo?” ucapku tertawa.

“Hyung, kwaench’ana?” ucap Sungmin.

“Wae? Aku sudah makan aspirin.”

“Ani, aku hanya khawatir saja.” Aku mengacak rambut Sungmin lembut supaya tatanan rambutnya tidak rusak.

To Be Continue . . .

By           : Vay ^_^

Cast       : Super Junior/Friends

 

4 thoughts on “The Last Time Part 5”

  1. lanjuttttkaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan~~~~
    😀

    keren, eonni 😀 bisa ngilangin stressku~ haha :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s