You Are My Soul {Hyena’s POV}

My Home. 16 Oktober 2010 – 10.12PM

Kehidupanku sebelumnya sangatlah bahagia, bisa menikah dengan orang yang sangat aku cintai dan juga mencintaiku. Pernikahan kami sudah berjalan selama hampir satu tahun, dan selama itu kami sama sekali tidak pernah bertengkar. Kami keluarga yang bahagia. Sampai akhirnya mertuaku menuntut agar aku segera memberikan mereka cucu. Awalnya, suamiku tidak pernah mengeluh tentang anak. Tapi akhir-akhir ini dia berubah. Jarang pulang, sekali pun pulang itu larut malam sekali. Seperti hari ini.

Jam digital menunjukan pukul 23:50. Aku beranjak dari dudukku menuju pintu rumah. Aku membuka pintu itu, berharap dia sudah pulang. Tapi nihil. Aku tak menemukan siapapun disana. Setelah menunggu selama hampir sepuluh menit, aku menyerah. Kembali kumasuki rumah yang sekarang lebih terasa sepi. Sama sekali tidak ada kehidupan. Aku mendudukan diriku di sofa ruang tamu. Mengedarkan pandangan keseluruh penjuru rumah yang memang ‘kebesaran’ untuk kami berdua. Hingga akhirnya mataku tertuju pada pigura besar berukuran panjang hampir satu meter. Itu foto pernikahanku. Foto pernikahanku dengan Han Geng. Suamiku adalah Han Geng, anak tunggal sekaligus pewaris perusahan konstruksi terbesar di Korea. Mataku memanas melihat foto penikahanku itu, tak terasa aku sudah meneteskan air mataku. Aku melamun, kembali mengingat hari pernikahanku dulu juga kenangan saat dulu kami bersama. Seperti sebuah film yang diputar kembali, semua kejadian itu bertebaran di dalam pikiranku. Aku merindukannya. Sangat merindukan Han Geng.

Aku menghapus air mataku. Aku ingin tegar. Tidak boleh cengeng. Aku membaringkan tubuhku diatas sofa untuk menunggu Han Geng pulang. Setiap hari aku selalu menunggunya di sofa, agar kalau nanti dia datang, aku tidak perlu turun tangga. Menunggunya berjam-jam seperti ini, ternyata membuatku mengantuk, sampai akhirnya aku tertidur.

***

My Home. 16 October 2010 – 07.05AM

Aku merasakan ada yang mengguncang-guncangkan tubuhku. Sedikit demi sedikit aku mengumpulkan kesadaranku. Samar-samar aku mendengar suara seseorang memanggilku. “Jagiya, bangun” kata suara itu lembut. jagiya? Siapa yang menggilku dengan nama seperti ini? Hanya Gege yang boleh memanggilku dengan nama itu. Perlahan aku membuka mataku. Aku melihat wajahnya, pagi ini aku melihat wajahnya tepat dihadapanku sambil tersenyum.

“Gege” panggilku.

“kenapa tidur disini?” tanyanya.

“aku menunggumu pulang” kataku. Gege membantuku bangun dari sofa. Lalu duduk disampingku. Wajahnya jadi sedikit berubah muram.

“maaf” katanya pelan.

“untuk?”

“membuatmu seperti ini”

anniyo. Aku tidak apa-apa. Gege tidak perlu minta maaf”. Kataku menenangkannya.

“eumh, mau aku buatkan sarapan?” tawarku.

“boleh. Tapi aku ingin mandi dulu” katanya.

“baiklah, aku akan menyiapkan bahannya dulu” kataku lalu bangun dari dudukku.

“Hyena” ucapnya sambil menarik tanganku.

“hmm?” aku membalikan tubuhku menghadapnya. Dia juga berdiri menyejajarkan tubuhnya denganku.

“aku menyayangimu” sahutnya sambil menarikku kedalam pelukannya. Dia memelukku erat. Sangat erat. Pelukan ini adalah pelukan yang sangat aku rindukan.

***

Sambil menunggu masakanku matang. Aku mengisi waktu dengan beres-beres rumah. Aku tidak bekerja, jadi aku hanya ibu rumah tangga biasa. Setelah mencuci beberapa piring kotor, aku mulai mencuci baju. Sebelum dicuci, aku selalu membalikan dulu baju atau celana yang akan dicuci *kebayang gak*. Dan aku menemukan sesuatu didalam saku celana Gege. Seperti sebuah kertas. Aku pun merogohnya, lalu mengeluarkannya dari dalam celana. Sepertinya ini sebuah struck pembayaran. Akun pun mulai membacanya. “MOTEL??” kagetku. Detik itu juga bermacam-macam pikiran jelek bermunculan dibenakku. Aku mengambil kemeja Gege yang dipakai sepasang dengan celananya, aku pun mencium bau dari kemeja ini *jorok. kekeke*, tidak bau parfum perempuan, hanya sedikit bau alcohol.

“Jagiya, makanannya sudah siap?” tiba-tiba Gege sudah berada tepat dihadapanku. Dengan segera aku menyembunyikan kemejanya di belakangku.

“ah, ne. aku akan siapkan sekarang” kataku gugup.

My Home. 1 November 2010 – 08.12AM

Hubungan kami sekarang sudah mulai membaik. Sanagt baik malahan. Gege sudah berubah seperti biasa lagi. Tidak ada lagi permasalahan mengenai anak. Itu membuatku lebih tenang. Tapi sekarang, aku merasakan sesuatu yang aneh dalam perutku.

Hooeeks. Hooeeks. Hooeeks.

Aku terus merasakan mual diperutku. Sudah dua hari ini aku seperti ini. Aku pikir hanya masuk angin biasa, tapi sepertinya ada yang bermasalah dengan kesehatanku.

“Jagiya, hari ini mual-mual lagi?” tanya Gege dengan wajah panik dan langsung menghambur menghampiriku. Aku hanya mengaggukan kepala.

Hooeeks. Hooeeks. Hooeeks.

“kita harus ke dokter. Ini ada yang tidak beres” katanya sambil memijit-mijit tengkukku.

I’m going International Go Go, International Go Go.

Sepertinya Handphone Gege berdering. Dia langsung merogoh sakunya. Lalu mengangkat telpon.

“Hallo?”

“…”

“iya, saya sendiri. Ini dengan siapa?”

“…”

“ah, kau” tiba-tiba raut wajahnya berubah. Seperti tidak senang dan sedikit khawatir.

“Jagiya, aku keluar sebentar. Ini dari kantor” katanya cepat. Lalu keluar dari kamar mandi.

***

Setelah merasa baikan, aku mendudukan tubuhku ditepi ranjang. “semoga semuanya baik-baik saja” batinku.

“Jagiya, bagaimana?” Gege langsung duduk disampingku.

“lebih mendingan” kataku sambil tetap memegangi perutku.

“eumh, mianhae. Aku tidak bisa menemanimu ke dokter. Ada urusan penting di kantor. Tapi nanti pulangnya aku jemput. Bagaimana?” tanyanya dengan nada menyesal.

“iya, aku bisa sendiri ko. Gege tidak perlu khawair.” Kataku.

“kalu begitu aku pergi duluan” pamitnya lalu mengambil mantel hitam yang tergantung di tepi lemari pakaian. Sebelum keluar kamar dia mencium keningku lembut.

“buru-buru sekali” batinku.

Klinik. Gangnam-Seoul 1 November 2010 – 09.00AM

Kini aku berada didalam sebuah klinik di Gangnam. Karena aku merasa penyakitku tidak parah, aku memutuskan untuk ke klinik saja sudah cukup. Aku duduk dikursi panjang yang sediakan untuk para pasien. Aku sedang menunggu namaku dipanggil untuk berkonsultasi dengan dokter. Karena tadi aku sudah melakukan beberapa test kesehatan.

“Han Hyena agasshi” panggil seorang perawat. Aku langsung berdiri menghampiri perawat itu.

“sebelah sini nona” katanya. Aku pun mengikutinya dari belakang.

annyeonghasaeyeo, uisa” sapaku sambil membungkukan badanku.

“selamat pagi nona Hyena” kata dokter itu ramah.

Aku pun duduk di kursi pasien. Dokter itu langsung mengambil amplop yang ada didepannya. Mengambil sebuah kertas dari dalam amplop itu. Aku yakin, itu adalah hasil dari test kesehatan yang aku lakukan tadi. Detak jantungku berdetak dua kali lipat. Aku tegang. Aku takut hasil itu tidak sesuai dengan harapanku. Tapi dokter itu malah tersenyum ketika membacanya. Aku mengrenyitkan keningku.

“bagaimana dok? Apakah saya baik-baik saja?” tanyaku gugup.

“silahkan dibaca sendiri” dokter inu menyerahkan amplopnya kepadaku. Aku pun menerimanya. Dengan perlahan aku membukanya, lalu mengeluarkan kertas dari dalam amplop itu. Ada beberapa tabel yang tidak aku mengerti. Sampai aku tertuju pada huruf merah bercetak tebal POSITIF HAMIL. Senyumku langsung mengembang. Aku bahagia sekali.

“saya hamil dokter?” tanyaku memastikan. Dokter itu mengangguk.

“selamat nona, anda positif hamil 3 minggu. Anda harus menjaga janinnya, perbanyak minum vitamin kandungan juga banyak minum sayuran” kata dokter itu lagi. Aku pun mengangguk.

chamsahamnida usia, saya pamit dulu. Selamat pagi.” Pamitku sambil membungkuk.

***

Aku melewati koridor sambil senyum-senyum sendiri. Beberapa dari mereka yang berpapasan denganku, sepertinya merasa aneh. Tapi aku tidak peduli. Yang aku rasakan saat ini adalah kebahagiaan. Aku hamil. Anak dari suamiku. Itu berarti ommonim tidak akan mempermasalahkan tentang cucu lagi.

Seperti janjinya, sekarang aku sedang berdiri didepan klinik menunggu Gege menjemput. Tadi aku sudah meneleponnya. Mungkin sebentar lagi juga sampai. Dan benar saja. Mobil sedan putih berhenti tepat didepanku. Aku langsung menghampirinya dan masuk kedalam mobil.

“Gege” panggilku riang.

“hemm” sahutnya. Entah ini perasaanku atau bukan, tapi aku merasa wajahnya sedikit tidak bersahabat. Terlihat murung.

“jangan lupa sabuk pengamannya” kata mengingatkan. Aku pun memasangkan sabuk pengaman.

“Gege, ada yang mau aku beritahukan. Tapi nanti saja kalu sudah sampai dirumah” kataku sambil senyam-senyum sendiri.

“baiklah. Aku juga ada sesuatu yang ingin dibicarakan” katanya dingin. Aku meliriknya. Tapi dia terus menatap lurus kedepan.

***

My Home. 1 November 2010 – 11.49AM

“mau memberitahuku apa?” tanyanya. Sekarang kami sedang duduk disofa ruang tengah.

“eumh, Gege duluan saja” kataku. Gege membenarkan duduknya menjadi lebih tegak. Aku mempersiapkan diriku untuk mendengarkan apa yang dikatakannya.

“apakah aku boleh menikah lagi?” katanya. Apakah aku tidak salah dengar? Menikah lagi?

“maksudnya?” tanyaku tidak mengerti.

mianhae Jagiya. Jeongmal mianhae” terdengar sekali nada menyesal dari suaranya. Ini bukan bercanda ternyata.

“tapi kenapa?” aku berusaha menstabilkan suaraku. Sebenarnya ingin sekali menangis. Tapi aku harus kuat.

“aku menghamilinya.” Kali ini dia menundukan kepalanya.

“Apa?” aku shock sekali mendengarnya. Amplop yang sekarang sedang kupegang ditangan kiriku aku remas dengan kuat.

“dua minggu yang lalu, saat aku pulang pagi. Malam itu aku mabuk, dan dibawa oleh seorang wanita ke motel. Saat bangun aku sudah..sudah, aku juga tidak sadar dengan apa yang aku lakukan. Aku sama sekali tidak dapat mengingatnya. Sebelum pergi aku sempat meninggalkan nomor handphoneku, karena takut terjadi apa-apa. Dan tadi pagi dia menghubungiku. Dia bilang kalau dia hamil” jelasnya panjang lebar. Aku berusaha mencerna semua penjelasaanya.

“kalau begitu kita harus memberitahukannya pada ommonim dan abbonim, segera” kataku sambil tersenyum dan memaksakan wajah bahagia.

“maksudmu?”

ommonim dan abbonim pasti akan merasa sangat senang karena mereka akan segera mendapatkan cucu darimu. Anak kandungmu” terangku lagi.

“kau tidak marah?” tanyanya. Pertanyaan bodoh. Tentu saja aku marah. Aku menggelangkan kepalaku dan tetap tersenyum.

“aku bahagia. Sangat bahagia.” Bohongku.

gomawo jagiya. Terimakasih sudah sangat mengerti aku.” Gege lalu menarikku kedalam pelukannya. Dia memelukku erat. Aku pun membalasnya.

“sekarang, apa yang akan kau beritahukan?” tanyanya.

DEG. Apakah aku harus mengatakannya sekarang? Sepertinya tidak perlu. Cucu yang selama ini dinantikan sudah ada di istri barunya kelak. Memberitahu tentang janinku, itu sudah tidak perlu.

anniyo, bukan masalah yang penting lupakan saja” kataku lalu menyembunyikan remasan surat yang tadi di belakang tubuhku.

“ah, kapan Gege akan menikah?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“tiga hari lagi” jawabnya.

“kalau begitu, kapan Gege akan mengenalkannya padaku?”

“kau ingin mengenalnya?”

“tentu saja. Aku kan istri tua, jadi dia harus bertemu denganku dulu. Hehhe” ucapku dengan tawa yang dipaksakan.

“besok kami akan bertemu di café, kau bisa ikut jagiya.”

“eumh, baiklah.”

Strawberry’s Town. 2 November 2010 – 03.30PM

Kami datang lebih dulu ke café ini. Aku memesan ice cream starawberry untuk menutupi kegugupanku. Gege tidak memesan apapun. Sedari tadi dia terus menggenggam tanganku dan tidak mau melepaskannya. Tiba-tiba seorang wanita sepertinya dua tahun lebih muda dariku menggunakan tanktop pink dan rok pendek selutut berwarna senada menghampiri meja kami.

oppa” panggilnya imut.

“ah, kau sudah datang? Silahkan duduk. Jagiya, ini Thresia. Dia, dia.”

“hai” potongku lalu mengulurkan tangan. Dia pun tersenyum dan membalas uluran tangunku.

“Theresia, dia istriku” Gege mengenalkanku sambil merangkul pundakku.

“ah, anneyonghasaeyo onnie” sapanya ceria.

***

Yang sedang kami bicarakan saat ini adalah tentang pernikahan akan dilaksanakan lusa besok. Aku hanya mengangguk setuju ketika ditanyai bagaimana pendapatku. Pembicaran mereka sama sekali tidak ada yang masuk dalam kepalaku. Sebenarnya aku ingin pergi dari sini dan menangis. Hanya menangis yang ingin aku lalukan sekarang. Sepertinya Gege bisa merasakan perasaanku yang mulai tidak enak. Aku merasakan tangannya erat menggenggam tanganku, padahal matanya tertuju pada Thresia. “aku seperti wanita bodoh” pikirku.

“baiklah kalau begitu kita bertemu besok lusa di gereja. Tidak perlu terlalu banyak undangan hanya keluarga dekat saja. Bagaimana?”

“aku setuju oppa” jawab Thresia.

“Jagiya, bagaimana?” tanyanya lagi.

“ah aku setuju saja” jawabku.

“kalau begitu aku pulang dulu” pamit Thresia.

“tunggu, wanita hamil tidak boleh pulang sendiri. Gege ayo antarkan” kataku lalu menarik tangan Gege,

“yasudah, ayo kita pulang bersama” Gege kembali menarik tanganku.

ani. Kalian berdua saja.”

“tapi onnie,..”

“tidak apa-apa. Aku mau ke supermarket sebentar.” Potongku cepat.

“Gege, ayo pergi” usirku lembut.

“hati-hati dijalan” katanya sambil mencium keningku seperti biasa.

Aku menatap punggung suamiku yang semakin menjauh berjalan beriringan dengan calon istri barunya. Apakah tindakanku ini benar?

My Home. 3 November 2010 – 11.20AM

Aku mendudukan tubuhku diteras belakang. Melihat kebun bunga kecil yang selalu aku rawat setiap hari. Aku memegang perutku.

“baby, maafkan umma. umma tidak bisa memberitahukan keberadaanmu pada ayahmu” bicaraku.

“tapi percayalah, appa pasti sangat menyanyangimu” kataku lagi. Air mataku kembali mengalir. Bagaimana masa depan anakku nanti?

“Jagiya?” panggilnya sambil memelukku dari belakang. Segera kuhapus air mata agar tak dilihatnya. Tapi terlambat.

“hei, aku bisa melihat air matamu. kenapa menangis?” tanyanya sambil duduk disampingku.

“aku tidak menangis. Hanya kelilipan, anginnya kencang sekali membuat debu jadi bertebaran dan mengenai mataku.” Kataku berbohong.

“kau tidak bisa membohongiku. Kalau kau tidak setuju dengan pernikahan ini aku bisa membatalkannya sekarang juga” katanya.

“jangan. Aku baik-baik saja. Aku sangat bahagia.” Bohongku lagi.

Jagiya, maaf membuatmu terluka seperti ini. Ini semua kesalahanku”

“tidak apa-apa. Setidaknya Gege sudah mau bertanggung jawab, itu sudah cukup”

“ah, Gege.” Panggilku.

“ada apa?”

“nanti sore, aku akan kerumah umma. boleh tidak? Aku sangat merindukannya.” Pintaku.

“tapi bagaimana dengan pernikahannku besok? Aku tidak akan melakukannya kalau kau tidak ada” jawabnya.

“aku akan datang. Pagi-pagi sekali aku akan pulang dan langsung ke gereja” jelasku.

“baiklah”

Hyena’s Room. 3 November 2010 – 02.34PM

Aku menuruni anak tangga dengan perlahan sambil menenteng koper kecil. Aku mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru rumah.

“Gege, aku pergi dulu” aku menghampirinya di teras belakang.

“kenapa membawa koper segala?” tanyanya sambil merengut.

“hanya koper kecil ko” kataku.

“baiklah, hati-hati” ucapnya lalu mengantarku ke teras depan. Taxi yang aku pesan sudak menunggu didepan gerbang rumah.

“kenapa tidak mau aku antar?” katanya dengan nada sedih.

“pengantin laki-laki tidak boleh keluar sebelum hari pernikahan” gurauku.

“kau ini” katanya sambil mengacak-acak rambutku.

“Gege, boleh aku memelukmu?” tanyaku. Dia tak menjawabnya, malah langsung menarikku dalam pelukannya. Aku memeluknya erat. Karena ini pelukan terakhirku.

Incheon Airport. 4 November 2010 – 07.12AM

agasshi, ini tiketnya” kata supir taxi yang tadi kusuruh untuk membeli tiket pesawat. Yah. Sekarang aku sedang berada dibandara. Aku akan meninggalkan Seoul. Meninggalkan semua yang aku punya disini. Aku ingin melanjutkan hidupku, tapi tidak disini. Untunglah, kedua orang tuaku setuju dengan keinginanku. Mungkin mereka juga mengerti bagaimana hancurnya perasaanku.

Aku berdiri lalu menarik koperku ketika kudengar pengumunan pesawat menuju Jepang akan segera take off. Aku akan ke Jepang. Memulai hidup baruku disana.

“baby, ayo kita pergi” kataku pada janin dalam perutku. Sebelum pergi aku menengokkan kepalaku ke belakang untuk yang terakhir kalinya.

“selamat tinggal Gege” batinku.

Tokyo – Jepang. 14 Agustus 2013 – 11.23AM

Aku berlari terburu-buru. Hari ini aku telambat menjemput Joongie dari sekolahnya. Setelah pindah ke Jepang aku harus membiayai kebutuhannku juga anakku sendiri. Sebenarnya umma menawarkan untuk membiayai semuanya, tapi aku menolaknya. Aku ingin mandiri.

Dari kejauhan aku melihatnya sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang berjongkok agar bisa menyejajarkan tingginya dengan Joongie. Dia memberikan sesuatu pada Joongie. Aku semakin khawatir. Jangan-jangan dia orang jahat.

“Joongie” panggilku sambil setengah berteriak.

umma” ia pun berteriak lalu menghambur kepelukanku.

“bagaimana sekolahnya?” tanyaku sambil mengendongnya.

“ceru. Tadi joongie belajal banyak walna umma” katanya polos.

“Bagus. Joongie memang anak baik” ucapku sambil mengelus kepalanya sayang.

“ayo kita pulang” ajakku.

“tunggu, tadi aku diberi coklat oleh paman tampan.” Katanya lagi.

“tampan?” tanyaku sambil tersenyum. “tapi tidak akan lebih tampan dari ayahmu” batinku.

ne, paman itu bilang kalau hidung dan mata Joongie sama sepeltinya” jelas Joongie lagi.

“benarkah? Dimana paman itu sekarang?” tanyaku.

“disana.” Tunjuknya. Aku mengikuti arah tekunjuknya. Kini mataku bertemu deanagn matanya. Mata yang sudah selama hampir tiga tahun ini tidak aku lihat. Yang selama ini sangat aku rindukan.

“Gege!” panggilku.

“Hyena!”

***

Kami sedang duduk dikursi panjang sebuah taman di dekat sekolah Joongie. Tidak ada yang membuka pembicaraan. Semuanya diam. Aku terus memperhatikan Joongie yang sedang menaiki mobil-mobilan. Sebenarnya ada banyak sekali yang ingin aku ceritakan padanya. Tapi aku terlalu menjaga gengsiku. Baiklah. Aku menyerah.

“kenapa bisa ada di Tokyo?” tanyaku membuka suara.

“sejak tiga tahun yang lalu aku pindah kesini.” Jawabnya singkat.

“benarkah? Untuk apa?” tanyaku lagi.

“aku mencarimu.”

“lho, lantas bagaimana dengan Theresia juga anakmu? Aigoo, jahat sekali meninggalkan isrti dan anak seperti itu.”

“lalu bagaimana denganmu yang meninggalkanku?” tanyanya tepat. Aku diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Disisi lain apa yang aku lakukan ini memang salah.

“aku tidak jadi menikah dengan Theresia. Itu bukan anakku.” Jelasnya. Aku membelalakan mataku tak percaya.

“ceritanya panjang. Aku akan menceritakannya nanti. Sekarang, ada yang ingin aku tanyakan.” Ucapnya dengan nada serius. Gege lalu membalikan badannya menghadapku.

“apakah anak laki-laki itu anakku?” tanyanya dan terus mengunci mataku. Aku menunduk.

“kenapa tidak memberitahuku dari awal?” tanyanya.

“saat itu aku mau memberitahumu. Tapi Gege lebih dulu bilang kalau akan menikah lagi.”

“tapi kau kan tetap bisa memberitahuku”

“aku takut merusak semuanya” mataku kemabali memanas. Aku menangis. Kristal bening ini mulai jatuh dari mataku. Gege menarikku dalam pelukannya.

mianhae. Jeongmal mianhae Jagiya.” Katanya sambil mengelus rambutku.

Gege merenggangkan pelukannya. “Maukah kau kembali menjadi istriku dan kita mulai semuanya dari awal lagi?” Tanyanya. Aku tak menjawabnya. Hanya mengangguk.

“Joongie, mau main dengan appa?” teriak Gege. Joongie pun menatapku.

“Joongie, dia ayahmu” kataku. Joongie pun turun dari mobil-mobilan yang sedang dinaikinya.

appaaaaaaaaaaa” teriaknya menghambur kepelukan Gege.

Tuhan, terimakasih atas semuanya. Aku sangat bahagia sekarang. Jangan pisahkan kami lagi.

END

17 thoughts on “You Are My Soul {Hyena’s POV}”

  1. huwaaa~ kereen~
    onn, aku nangis nih~ T__T
    tanggung jawab! *onn : sapa suruh bca ini ff?*

    aku sukaaa :’) lanjutkan !

      1. iyaa~ onn, tamatama T__T
        *dlempar tisu sma intan onn*

        gapapa deh >< mungkin aku terbawa suasana aja .
        soalnya baru skali ini baca ff ttg han gege lagi *kangen sama han gege*

  2. Huwah….pas baca nich ff ngedukung bgt Lg dengerin Lg meLow & aku jd inget seseorang yg bakaL puLang kNegarany a skrng *curcoL* . Tambah bikin mewek dah aku. T.T

    Keren euy ff nya ^.^
    Ditungu yg Hageng POV ya😀

  3. Wah..hyena keren bgt,ngerestuin suami nkah lg. Klo sya,JELAS tdk boleh! Haha
    kirain bkal sad ending,tNyta hepi ending..like it

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s