My Memory with You

ini ff bikinan onnie aku tercinta. Priyanka ‘Jaejoong’ Adindanoor . CHU’!

***

Tittle: My Memory with You

Author: Ahnka ‘bubu’

Lenght: One Shoot

Genre: Angst

Cast:

– Intan Maharani Minoz as Choi Hye Na

– Hangeng

– Heechul (female)*exist nama doang*

Cekidot

……………………………………….

Dapat terlihat dengan jelas, sosok gadis yang sedang tersenyum itu adalah sesosok gadis yang begitu rapuh. Gadis yang hidup terus bergantung pada obat-obatan, gadis yang tidak boleh merasakan lelah sedikitpun. Siapapun akan merasa tidak tega, jika menyaksikan jantung gadis ini yang tiba-tiba menjadi sesak dan wajahnya membiru, persis seperti sesaat sebelum gadis ini memaksakan senyumnya.

“Gwaenchana Hye Na?”, cemas seorang ibu yang benar-benar takut akan keadaan anak gadisnya itu.

“Gwaenchana. Aku sudah tidak apa-apa umma.”, ucap Hye Na pelan, tidak itu lebih seperti bisikan. Setelah ia membuat panik semua orang karena serangan tiba-tiba itu. Sang ibu tersenyum, senyum yang begitu miris.

“Sekarang istirahat ya nak.”, pinta sang ibu lembut, Hye Na mengangguk pelan, ia memejamkan matanya untuk beranjak tidur.

“Umma, oppa dimana?”, tanya Hye Na, yang selang beberapa detik ia langsung membuka matanya, hanya karena ia merindukan kakaknya itu.

“Oppa sedang pergi bersama Heechul onnie.”, jelas sang ibu yang terampil membelai rambut anaknya itu. Deg. Hye Na memegang dadanya, rasanya sakit sekali. Tapi ini bukan sakit karena penyakitnya. Ini sakit yang lain, sakit karena mendengar sang kakak yang pergi dengan kekasihnya. Hye Na tersenyum benar-benar terpaksa.

“Aku mau tidur.”, ucap Hye Na yang kembali memejamkan matanya, walau sebenarnya sulit sekali memaksa untuk tenggelam di dunia bawah sadar.

Choi Hye Na, gadis berumur 15 tahun. Gadis riang yang sayangnya mengidap kelainan jantung sejak kecil. Tahukah apa yang ada dalam benak Hye Na dan keluarganya sejak dulu? Iya. Kematian. Tahun ini, bahkan bulan ini divonis dokter sebagai bulan terakhir hidup Hye Na. Hye Na benar-benar menunggu itu, menunggu kematiannya, rasanya begitu lelah dimana harus mengingat kapan jadwal ia meminum obatnya, lelah hanya terus berada di kamar menonton televisi, lelah saat penyakitnya tiba-tiba kambuh, lelah melihat keluarganya menangis karenanya, lelah harus terus tersenyum agar tidak ada yang khawatir padahal itu begitu sakit. Semua hanya tinggal menghitung hari.

…..

“Ahhhh.”, ringis Hye Na. Ia mencengkram kuat seprai tempat tidur rumah sakit dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangan yang lain mencengkram baju pasien yang ia kenakan. Jantungnya kembali mendapat serangan.

“Hye Na.”, panik seorang namja, yang tak lain adalah Hangeng, kakak laki-laki Hye Na yang sedang bertugas menjaga Hye Na malam ini. Ia memegang pundak Hye Na. Tidak ada jawaban, Hye Na terus meringis, tangan kirinya terus menekan dadanya, menahan sakitnya sampai akhirnya berangsur normal. Sakit itu mereda lama-kelamaan. Hye Napun dapat bernafas normal kembali, ia memejamkan matanya, lalu membuka matanya, setelah benar-benar normal.

“Tidak apa-apa oppa.”, bicaranya dengan senyum. Hangeng meneteskan air matanya, ia genggam jari-jemari milik adiknya.

“Aku takut.”, pelannya. Hye Na menghapus air mata yang mengalir itu dengan ibu jarinya.

“Tidak akan terjadi apa-apa padaku.”, tenangkan Hye Na. Hangeng tersenyum, ia tau adiknya berbohong untuk menenangkannya.

“Ne aku tau.”, saut Hangeng. Hye Na balik tersenyum.

“Bagaimana hubungan oppa dengan onnie?”, tanya Hye Na sambil berusaha mendudukan diri dari tidurnya. Hangeng refleks membantu Hye Na dan duduk di tempat tidur, agar Hye Na bisa bersandar pada tubuhnya.

“Pernikahan akan berlangsung dua bulan lagi. Dan kau yang akan menjadi pendampingku.”, kata Hangeng. Hye Na tersenyum miris, ada air mata yang ingin keluar dari mata yang memiliki lingkaran hitam itu. Keduanya menjadi hening. Hye Na mengatur nafasnya. Perasaan ini sudah terlalu berat ia simpan sendiri.

“Oppa.”, panggil Hye Na lirih. Hangeng menengok pada Hye Na.

“Wae?”, saut Hangeng. Hye Na memejamkan matanya.

“Saranghae oppa.”, ucapnya sambil memeluk erat Hangeng. Air matanya jatuh mengalir. Hangeng membelai rambut adiknya itu.

“Na do saranghae.”, balas Hangeng. Hye Na mengambil nafasnya, ini sulit.

“Apa oppa mencintaiku seperti mencintai Heechul onnie?”, tanya Hye Na. Hangeng merenggangkan pelukan. Dilihatnya wajah adiknya yang basah akan air mata. Ia tidak mengerti ini.

“Mencintaimu, seperti mencintai adik kandungku sendiri. Adik manis yang tuhan ciptakan untukku.”, jelas Hangeng. Ia kira itu jawaban yang benar. Tapi salah, jawaban itu membuat perasaan Hye Na sakit, karena bukan jawaban itu yang ia inginkan.

“Memang harus seperti itu. Aku bodoh.”, gumam Hye Na mencoba menghapus air matanya dan langsung bersikap aneh.

“Hye Na.”, cemas Hangeng akan sikap Hye Na. Hye Na tersenyum.

“Aku selalu berharap bisa menjadi kekasihmu oppa. Bodoh ya. Haha. Kita kan kakak adik. Mana mungkin. Hye Na bodoh.”, racau Hye Na terlihat menyakitkan. Hanya Hye Na yang tau kalau dia begitu mencintai Hangeng. Pria tampan yang 8 tahun lalu menjadi kakak tirinya. Ibu Hye Na menikahi pria berkewarganegaraan Cina yang tak lain adalah ayah Hangeng, setelah 5 tahun ditinggal mati oleh ayah kandung Hye Na. Betapa senangnya Hye Na mendapati kakak tirinya itu begitu menyayanginya. Mereka begitu dekat, sampai tidak akan terlihat kalau mereka hanyalah bersaudara tiri. Tapi siapa yang tau, kedekatan mereka mencintapkan perasaan cinta terpendam dalam diri Hye Na. Dan sekarang semua Hye Na bongkar di waktu yang tidak tepat. Dimana Hangeng akan menjadi suami wanita lain. Dimana umur Hye Na hanya tinggal menghitung hari.

“Apa? Hye Na kau?”, tidak percaya Hangeng. Hye Na tertawa.

“Hahaha. Lupakan oppa, tidak usah dipikirkan kata-kataku tadi. Aku mau tidur, mengantuk. Malam oppa.”, Hye Na menepuk bantal di sampingnya, dan kemudian memaksa tidur hanya untuk menekan perasaannya. Ia tidak ingin menangis. Ia tidak ingin menatap Hangeng. Cukup untuk malam ini.

…..

“Pagi dokter.”, sapa Hye Na riang saat sang dokter masuk ke dalam ruangannya dan bersiap memeriksa kondisi tubuhnya. Sang dokter tersenyum.

“Gadis manis sudah meminum obatkah pagi ini?”, gurau sang dokter. Hye Na mengangguk.

“Pahit.”, timpalnya dengan senyum di bibir.

“Anak nakal.”, ledek dokter yang memang menangani Hye Na sejak kecil. Ia langsung mulai memeriksa kondisi Hye Na.

“Dia baik-baik saja kan dok?”, tanya Hangeng yang tampak cemas setelah sang dokter selesai memeriksa.

“Baik-baik saja. Gadis ini pintar.”, kata sang dokter membuat Hye Na terkikik. Hangeng mengambil nafas leganya.

“Dokter. Aku kan baik-baik saja. Boleh aku buat permintaan?”, kata Hye Na dengan wajah memelasnya. Sang dokter mengerenyitkan keningnya.

“Apa?”, tanya sang dokter penasaran.

“Bolehkah aku pergi ke taman bermain?”, pinta Hye Na. Sang dokter tersenyum sangsi.

“Mianhae Hye Na. Kau tau kan penyakitmu.”, ragu sang dokter. Hye Na menelan ludahnya.

“Satu hari saja dokter. Aku ingin tau, seperti apa taman bermain. Sejak kecil aku hanya tau rumah dan rumah sakit. Aku ingin tau bagaimana dunia ini. Boleh ya. Aku mohon.”, pinta Hye Na nadanya seperti bergurau. Tapi bagi siapapun yang mendengar, itu seperti teriris pisau.

“Tapi Hye Na.”, tolak sang dokter yang merasa kasihan. Hye Na tersenyum, ia mengisyaratkan agar sang dokter mendekat padanya. Sang dokter menuruti, ia mendekat pada Hye Na.

“Aku mohon ajjhusi. Ini permintaan terakhirku, sebelum aku pergi.”, bisik Hye Na. Jleebb. Seperti tertusuk pisau, perasaan sang dokter dipermainkan. “Bolehkan dok?”, ceria Hye Na setelah nadanya yang terdengar pilu sebelumnya. Sang dokter menatap gadis itu lekat-lekat, ‘Dia harus bahagia sebelum pergi’, batin sang dokter berbisik pada relung hatinya.

“Anak manja. Baiklah. Tapi ada syaratnya. Harus ingat meminum obatmu. Tidak boleh berlari apalagi menaiki wahana-wahana berbahaya. Dan kau gunakan kursi rodamu. Kau harus patuh, jika mau aku ijinkan.”, kecam sang dokter. Hye Na mengangguk senang, lain halnya dengan Hangeng ada yang tidak disetujuinya, dia tidak ingin adiknya kenapa-kenapa.

“Tapi dok, it…”, belum selesai Hangeng berbicara seseorang memotongnya.

“Oppa. Kata dokter boleh, berarti tidak apa-apa. Pokoknya oppa harus temani aku pergi sabtu ini.”, galak Hye Na memajukan bibirnya. Hye Na tidak pernah seperti ini. Hangeng menggigit bibirnya. Dia tidak bisa menolak.

“Baiklah. Tapi kau harus yakinkan aku, kau tidak apa-apa. Janji padaku.”, pinta Hangeng, wajahnya cemas sekali. Hye Na mengangguk.

“Oke oppa.”, saut Hye Na mengacungkan kedua ibu jarinya. Senang.

‘Sebelum aku pergi, aku ingin membuat kenanganku denganmu oppa.’, batin Hye Na di tengah senyumannya menatap sendu wajah Hangeng.

…..

“Kita sudah sampai.”, ucap Hangeng dengan senyuman untuk adiknya sesaatnya sampai di lahan parkir Taman Hiburan terbesar di Korea. Hye Na mengerjapkan matanya memperhatikan sekitarnya. Ini luar biasa. Halaman parkirnya saja sudah terlihat begitu menyenangkan. Apalagi jika ia menjejakan kakinya di dalam, pasti akan sangat jauh menyenangkan.

“Ayo oppa kita turun. Cepat.”, tidak sabaran Hye Na, senyum sumringah tidak lepas sedetikpun dari bibirnya. Hangeng tertawa kecil. Ia mengacak rambut adiknya gemas.

“Tunggu ya. Oppa ambilkan kursi rodamu dulu.”, lembut Hangeng penuh sayang. Ia beranjak keluar dari mobil, tapi dengan cepat sebuah tangan menahan gerakannya. Hangeng berbalik pada Hye Na.

“Waeyo?”, heran Hangeng. Hye Na tersenyum.

“Tidak usah oppa. Aku akan melanggar yang itu. Aku ingin jalan dengan kakiku. Aku tidak ingin terlihat seperti orang sakit. Aku ingin seperti gadis lain. Boleh kan?”, rajuk Hye Na. Hangeng membuang nafasnya.

“Baiklah, tunggu aku bantu.”, Hangeng segera keluar dari mobil, terhenti ketika menutup pintu itu. Air matanya mengalir dan dengan cepat ia hapus. Ia berlari mengitar untuk membukakan pintu untuk Hye Na.

“Kkaja.”, Hangeng membantu Hye Na keluar dari mobilnya. Hye Na tersenyum, sudah lama ia tidak menggunakan kakinya untuk berjalan.

Dengan langkah lambat, mereka berjalan. Cukup sulit untuk Hye Na berjalan cepat. Hangeng membantu Hye Na dengan tangan yang merengkuh bahu kecil Hye Na itu. Tapi semua bukanlah sebuah masalah.

“Oppa ini indah. Aku baru melihat ini.”, sorak Hye Na. Ia ingin meloncat-loncat, tapi urung karena tatapan tajam Hangeng yang berbicara ‘Ingat Jantungmu’.

“Oppa kita naik itu.”, pinta Hye Na menunjuk sebuah istana boneka. Sebenarnya ia ingin menaiki wahana yang lain, tapi ia sadar wahana lain tidak boleh dinaiki oleh seseorang yang memiliki penyakit sepertinya.

“Baiklah.”, terima Hangeng. Hye Na mengangguk, merekapun dengan riang berjalan menuju tempat yang dituju.

“Oppa bisa lebih pelan jalannya.”, pinta Hye Na nafasnya mengisyaratkan kalau ia lelah. Padahal ia belum melakukan apapun, selain jalan menuju wahana rumah boneka itu dan ini baru setengah perjalanan. Hangeng menghentikan langkahnya.

“Kau lelah?”, cemas Hangeng. Hye Na menggeleng.

“Hanya terlalu cepat. Aku tidak lelah.”, bohong Hye Na. Hangeng merengkuh wajah Hye Na, memperhatikan dengan seksama wajah itu. Dia tau adiknya lelah, wajah adiknya penuh keringat dan pucat.

“Oppa lelah. Kita duduk dulu ya. Lima menit.”, ajak Hangeng. Hye Na mengangguk, ia sadar tidak bisa mengelabui kakaknya.

“Aku merepotkan oppa ya?”, lirih Hye Na. Hangeng menatap tajam Hye Na.

“Jangan berpikir seperti itu. Tidak pernah ada yang kau repotkan.”, marah Hangeng. Hye Na tersenyum.

“Oppa disini indah. Ayo kita foto. Pinjam ponsel oppa. Ayo.”, Hye Na mengubah topik dengan cepat. Ia tidak mau suasana menjadi tidak enak. Hangeng segera mengeluarkan ponselnya.

“Siap.”, isyarat Hangeng, mengarahkan ponselnya membidik mereka berdua.

Jepraaat.. Jeppreet..Mereka mengambil banyak foto berdua. Dalam foto itu mereka tampak benar-benar seperti sepasang kekasih. Hye Na tersenyum melihat hasilnya.

“Oppa cetakan ini untukku.”, pinta Hye Na menunjuk foto dimana Hye Na tengah mencium pipi Hangeng. Hangeng menatap sedih Hye Na yang kini sibuk menatap layar ponsel. Ada sesal dimana dia tidak bisa membalas cinta Hye Na sebagaimana Hye Na mau.

“Nanti oppa cetak semua.”, kata Hangeng. Hye Na mendongak sekilas, lalu kembali menatap layar ponsel.

“Masukkan ke dalam peti matiku nanti ya oppa.”, bicara Hye Na tidak menyadari apa yang ia katakan.

“Hye Na.”, marah Hangeng. Hye Na terkejut. “Jangan katakan apapun, kau tidak akan pergi secepat itu.”, bentak Hangeng. Hye Na menelan ludahnya, ia kini menyadari, ia salah bicara.

“Aahh oppa, ayo kita lihat boneka-boneka lucu.”, Hye Na mencoba bangkit. Jangan bahas apapun lagi. Hangeng membuang nafasnya kasar.

“Kkaja.”, Hangeng merengkuh tubuh Hye Na membantu untuk berjalan.

Di dalam rumah boneka, Hye Na tidak hentinya berlaku riang melihat boneka-boneka lucu yang bergerak-gerak sendiri.

“Oppa boneka itu cantik.”, senang Hye Na menunjuk boneka dengan pakaian tradisional Korea.

“Cantik sepertimu.”, Hangeng membelai lembut rambut Hye Na. Hye Na tersenyum.

“Pangerannya juga tampan seperti oppa.”, balas Hye Na. Hangeng tersenyum. “Aku sayang oppa.”, lanjut Hye Na yang kini sudah berhasil memeluk Hangeng untuknya.

“Oppa juga menyayangimu.”, balas Hangeng lembut. Hye Na tersenyum. Itu berarti untuknya.

…..

Setelah puas menaiki wahana yang bisa Hye Na coba dan berhubung ini sudah sore. Akhirnya Hye Na mengaku tubuhnya lelah. Dia butuh istirahat.

“Ayo kau harus makan, lalu minum obat. Kau sudah terlambat minum obat hari ini.”, ingatkan Hangeng dengan cerewetnya. Hye Na tersenyum lebar, ia menyadari dengan sangat kalau ia salah melalaikan jadwal minum obatnya.

“Cerewet sekali.”, ledek Hye Na. Hangeng jadi terkikik mendengarnya.

“Biarkan, kalau tidak begitu, kau nakal.”, gurau Hangeng. “Oh iya, kau mau makan apa Hye Na?”, tanya Hangeng. Hye Na menggembungkan pipinya, menggemaskan.

“Sushi saja oppa. Sama ice cream ya.”, manja Hye Na.

“Ice cream? Kau ini.”, tidak setuju Hangeng. Hye Na menggembungkan pipinya lagi tanda protes.

“Tidak jadi makan.”, ancam Hye Na. Hangeng tertawa, ia mencubit pipi Hye Na.

“Baiklah, hehe. Habis itu minum obat ya.”, kata Hangeng. Hye Na mengangguk. Hangengpun memesan makanan yang dimau Hye Na dan cepat kembali.

“Kau senang?”, tanya Hangeng. Hye Na mengangguk.

“Sangat oppa. Gomawo mau menemaniku.”, senang Hye Na. Hangeng tersenyum.

“Habis ini kita pulang ya.”, kata Hangeng. Hye Na menggeleng.

“Aku mau ke namsan tower oppa. Aku ingin melihat kota Seoul dari atas sana.”, rajuk Hye Na seperti anak kecil. Hangeng pasrah, ini demi adiknya.

“Baiklah.”, setuju Hangeng. Ia tersenyum amat manis. Hye Na tidak salah mencintai pria ini.

…..

“Oppa seperti inikah Seoul di malam hari? Kenapa rasanya nyaman.”, bicara Hye Na sambil menggenggam jari jemari kakaknya. Hangeng mengangguk. Ia memeluk Hye Na dari belakang, membiarkan Hye Na bersandar padanya sambil memandang pemandangan Seoul di malam hari dari puncak menara.

“Kau suka. Gelap tidak selalu kelam, ada keindahan disana.”, kata Hangeng dengan perkataan yang penuh mengandung arti. Hye Na mengangguk, ia mengerti ada motivasi untuknya dalam kata-kata Hangeng.

“Oppa hari ini aku sangat bahagia. Ini akan menjadi kenanganku dengan oppa. Terimakasih.”, lirih Hye Na sekarang tatapannya kosong. Hangeng mengecup puncak kepala Hye Na.

“Sama-sama. Oppa juga sangat senang.”, balas Hangeng. Dan jelas, itu membuat Hye Na meneteskan air matanya. Ia menatap tangan Hangeng dalam genggamannya.

“Oppa jika nanti aku pergi, jangan lupakan aku ya.”, pinta Hye Na sepenuh hati. Hangeng mengambil nafasnya.

“Hye Na, kenapa selalu berbicara kau akan pergi.”, lirih Hangeng. Hye Na menundukan wajahnya.

“Karena memang akan begitu oppa. Oppa aku titip umma. Oppa tau aku lelah oppa.”, tangis Hye Na akhirnya pecah. Ia membalikan badannya untuk memeluk Hangeng.

“Jangan terus mengingat itu. Tidak ada yang pergi. Akan tapi tidak sekarang.”, bisik Hangeng, ia terus membelai sayang rambut adiknya itu. Hye Na menggeleng.

“Sudah sulit oppa.”, bantah Hye Na terus mengeratkan pelukannya. “Terimakasih oppa sudah menjadi oppaku. Aku benar-benar mencintaimu oppa.”, racau Hye Na. Hangeng merengkuh wajah yang memerah untuk menatapnya.

“Maafkan aku.”, sesal Hangeng. Hye Na menggeleng.

“Tidak ada yang salah, untuk apa minta maaf.”, tolak Hye Na. Hangeng tersenyum.

“Hentikan pembicaraan ini. Kita pulang. Sudah sangat malam.”, ucap Hangeng. Hye Na mengangguk setuju.

“Oppa aku tidak kuat berjalan.”, pelan Hye Na, ia menghapus air matanya. Hangeng tersenyum.

“Kau bisa andalkan aku.”, Hangeng langsung saja menggendong tubuh Hye Na.*bride style* Hye Na tertawa kecil, ia lingkarkan tangannya di leher Hangeng. Ia pejamkan matanya. Sepertinya ia lelah seharian terus berada di luar.

….

-Hye Na POV-

Aku pejamkan mataku.Rasanya sangat lelah.Tapi sepertinya ini berbeda.Kenapa semua putih.Dan sepertinya ringan sekali.Tidak ada rasa sakit.

Hah.Aku mengantuk.Terimakasih oppa untuk kenanganku denganmu.Selamat malam.

The End

Iklan

19 thoughts on “My Memory with You”

  1. jadi saat itu hye na-nya….T____T
    yups..pasti pergi dgn tenang stlh akhirnya mendapatkan kesempatan bersama han oppa^^

  2. crta.a hye na ‘pergi’ gak???
    huaaah!!!
    author mesti tanggung jawab!!!!
    T^T

    sakit hatiku~
    T^T *skt knpa??*
    gak ush nanya!!!! *weesss, galak amat jadi cwe*
    huhuhuhuhuhu,, *aneh*

    comment diatas gaje,, jgn diperhatikan….
    NICE FF…
    dT^Tb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s