The Last Time Part 11

Sebelumnya . . .

“Kangin-ah, bukankah ada yang ingin kau bicarakan pada kami?” ucap Eeteuk hyung di sela-sela makannya. Kami semua menatap Kangin hyung penasaran, seketika itu pula raut wajah Kangin hyung berubah. Dia meletakkan sumpit dan mangkuk makannya ke meja. Kangin hyung hanya menunduk, sepertinya dia sedang merangkai kata-kata yang akan dibicarakannya. Kangin hyung mengangkat kepalanya dan menatap kami satu persatu dengan serius. Dia menghela napas.

THE LAST TIME Part XI

“Bulan depan aku akan ikut wamil.”

“Mwo?” ucap kami bersamaan.

“Minggu kemarin surat panggilannya datang.” Kami masih bengong tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kangin hyung, apalagi Eeteuk hyung. Kulihat dia sangat shok, setelah kemarin Boom hyung yang menjalani kewajiban negara itu, kali ini sahabat terdekatnya sendiri yang akan menjalankannya.

“Kenapa kau baru memberitahu kami?” Tanya Heechul hyung lirih.

“Aku tidak mau mengganggu pikiran kalian dengan berita ini. Jadi kuputuskan, setelah konser kemarin aku akan memberitahu kalian.”

“Selamat hyung, andai saja aku juga mendapatkan panggilan itu. Tapi sepertinya masih lama.” Ucapku memecah keheningan.

“Aku bisa membayangkan bagaimana tampannya hyung nanti.” Ucap Donghae. Kulirik Eeteuk hyung di tempat tidurnya, dia hanya tersenyum kecut mendengar obrolan kami.

Leeteuk POV

Jam sudah menunjukkan pukul 1 pm. Kusuruh semua member pulang, tentu saja karena mereka masih harus menjalankan jadwal kegiatan yang lain. Termasuk Kangin, karena kupikir dia sudah terlalu lelah menemaniku semalam suntuk. Aku sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya seorang dokter yang memeriksaku.

“Ne, aku sudah merasa lebih baik.”

“Jadi, kapan kau akan mulai?”

“Mulai hari ini aku akan menjalani chemotherapy. Tapi kumohon, jangan sampai ada yang tahu. Hanya aku, kau dan suster itu.” Ucapku.

“Baiklah, aku akan merahasiakannya. Bahkan dokter, suster, dan seluruh staff rumah sakit tidak akan ada yang tahu.” Aku mengangguk senang.

“Kalau begitu, kita bisa mulai sore ini. Bagaimana?” tawarku.

“Tentu saja.”

Selama kurang lebih seminggu di rumah sakit, aku diam di rumah sakit. Aku melakukan perawatan karena kecelakaanku kemarin dan chemotherapy karena penyakitku ini.

Kini aku sedang bercermin di kamar perawatanku. Aku merasa rambutku ini benar-benar tidak beraturan, kemudian aku merapikannya dengan sisir. Tapi kulihat banyak sekali rambutku yang tersisa di sisir yang aku pakai. Kenapa banyak sekali rambutku yang rontok? Apa karena sudah seminggu ini aku tidak keramas? Sebaiknya aku keramas.

“Hyung . . .” tiba-tiba sebuah suara mengangetkanku.

“Donghae, apa yang kau lakukan? Kau mengagetkanku saja.”

“Mianhae hyung, aku hanya ingin memberi kejutan saja. Apa yang sedang hyung lakukan?” ucap Donghae sambil mendekatiku. Aku segera menyembunyikan rambut-rambut rontokku ke laci meja di dekatku.

“Kau tidak menggantikanku di Sukira?”

“Ani, malam ini giliran Kyuhyun yang siaran. Karena tadi sore aku sudah menggantikanmu di Teukigayo.”

“Mianhae!” ucapku tertunduk lemas.

“Wae?” ucap Donghae menepuk pundakku.

“Karena telah menyusahkan kalian semua. Jadwal kegiatan kalian jadi berlipat ganda karena kau.”

“Hyung . . .” ucap Donghae memeluk tubuhku. “Hyung, kau anggap kami apa?” Kubasahi pundak Donghae dengan air mataku. “Kami keluargamu kan? Kami melakukan ini karena hyung adalah hyung kami yang selalu membela kami. Dan sekarang saatnya kami membalas pengorbanan hyung pada kami.” Donghae menuntunku duduk di sofa. Aku masih menangis sesegukkan. “Hyung, aku mohon jangan menangis lagi. Kau mau aku juga menangis?” aku berusaha tenang.

“Gomawo!” ucapku setelah tenang.

Kami banyak mengobrol malam itu, sampai tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 am.

“Ya! Kau tidak akan pulang?”

“Ye, aku akan menemani hyung sampai besok.”

“Kau tidak ada kegiatan?”

“Aniyo, besok kukhususkan menemani hyung seharian. Hyung tidak boleh protes, kecuali hyung mau kena marah Heechul hyung. Aku pasrah, tidak ada yang bisa kulakukan kalau Heechul sudah memaksakan kehendaknya seperti itu. “Sekarang hyung tidur, ini sudah malam. Aku akan menemani hyung.” Ucap Donghae menyelimutiku. Aku tersenyum dan mencoba menutup mataku, tapi tidak bisa. Rasa kantuk itu tidak juga datang, malah membuatku gelisah. Aku takut besok aku tidak bisa membuka mataku.

“Donghae-ah, kau sudah tidur belum?” tanyaku pada Donghae yang berbaring di sofa.

“Belum hyung, ada apa?”

“Aku hanya masih ingin mengobrol denganmu. Aku belum mengantuk.”

“Wae? Hyung harus istirahat!”

“Donghae-ah, bagaimana kalau besok aku pergi dan tidak kembali lagi. Apa yang akan kau lakukan?”

“Hyung, apa yang kau katakan? Memangnya hyung mau pergi kemana?”

“Jawab pertanyaanku dulu!”

“Kemanapun hyung pergi, aku akan selalu ikut. Lagipula hyung sudah janji padaku dan appa. Hyung akan selalu menjagaku, itu artinya akupun harus ikut kemanapun hyung pergi.”

“Donghae-ah, kau harus tahu. Aku tidak mungkin selamanya berada disisimu. Suatu saat nanti aku akan mati.”

“Hyung sudahlah, jangan berbicara itu lagi. Kalau hyung membicarakan itu lagi, lebih baik aku yang mati duluan.” Ucap Donghae kemudian keluar kamar.

“Donghae-ah!” teriakku, tapi dia tidak perduli dan terus berjalan keluar.

“Donghae-ah, mianhae!” ucapku tertunduk menyesal.

Sinar matahari menyinari ruang perawatanku. Kulihat Donghae yang sedang tertidur di sofa. Aku berjalan mendekatinya dan mengusap lembut kepalanya. Dia terusik, lalu perlahan membuka matanya.

“Hyung, ada apa?”

“Aniyo, kau nyenyak sekali. Jam berapa kau kembali?”

Donghae membenarkan posisi  menjadi duduk, “Tidak lama, aku hanya membeli minum.”

“Kau tidak ada jadwal hari ini?”

“Tidak ada.” Jawabnya enteng.

“Benarkah? Jangan membohongiku.” Aku segera mengambil handphoneku yang tergeletak di tempat tidur.

“Hyung, mau apa?”

“Aku akan menelpon manager hyung.”

“Untuk apa?”

“Aku akan menanyakan kegiatanmu hari ini.”

“Ya! Hyung, jangan lakukan itu. Baiklah aku mengaku, hari ini aku ada jadwal kegiatan.”

“Kalau begitu cepatlah pulang, kau kena marah manager hyung?”

“Ye.” Ucap Donghae langsung melengos keluar kamar.

Hari ini aku akan menjalani chemo terakhirku selama di rawat di rumah sakit. Karena mulai nanti siang, aku sudah diperbolehkan pulang. Dan aku akan melakukan rawat jalan untuk chemotherapyku. Aku memesan sebuah taksi untuk pulang ke dorm. Aku tidak memberitahu satupun member kalau hari ini aku pulang. Rambutku semakin rontok, aku meminta kepada supir taksi untuk mengantarkanku ke salon langgananku.

“Hai . . .” sapaku kepada Yu Jeen, piñata rambut langgananku.

“Owh, Eeteuk-shi. Kapan kau keluar rumah sakit? Mianhae, aku tidak menjengukmu. Aku sangat sibuk.”

“Ne.”

“Ada apa? Kau mau creambath atau potong rambut?”

“Aku ingin kau membuatkanku wig.”

“Untuk apa?”

“Aku ingin, wig itu sama persis dengan rambutku sekarang.”

“Kau aneh, katakan padaku untuk apa?”

“Kau jangan banyak bertanya, lakukan saja perintahku. Dan jangan beritahu siapapun tentang permintaaku ini. Mengerti?”

“Ye.”

“Aku akan membayarmu mahal, kalau kau mau melakukan itu.”

“Ye.”

Setelah memesan wig, aku langsung pulang ke dorm. Keadaan dorm sangat sepi, tentu saja. Mereka semua sedang melakukan aktifitas seperti biasanya. Kulangkahkan kakiku untuk menyimpan tasku, setelah itu aku menuju dapur. Mencari makanan. Kutemukan ramen, aku memasaknya. Benar-benar sepi. Tidak ada yang bisa aku lakukan, acara tv-pun tidak ada yang menarik. Aku menyalakan computer dan langsung menyambungkannya ke internet. Aku membuka cyworldku yang entah sejak kapan tidak pernah aku buka. Otakku menggerakkan tanganku untuk menuliskan sesuatu disana.

Agustus 2010

Tidak ada yang abadi di dunia ini . . .

Semua akan kembali padanya

Dalam beberapa detik saja, banyak sekali ELF yang mengomentari statusku barusan. Aku memilih dan membaca salah satunya.

Vay ^_^

Teuki oppa, ada apa denganmu?

Memang tidak ada yang abadi

Tapi dirimu akan selalu abadi didalam hatiku dan pikiranku

Meme

Sebenarnya siapa dirimu sekarang ini?

Tanyakan itu pada dirimu sendiri.

Aku seperti sudah tidak mengenalmu lagi

Tanpa sadar kumenitikkan airmata, aku merenungi satu persatu komentar-komentar ELF padaku. Kebanyakan dari semuanya, mereka mengkhawatirkanku. Aku memutuskan sambungan internet dan mematikan komputernya. Aku berjalan menuju balkon, memandang keramaian kota Seoul. Aku merentangkan tanganku sambil menutup mataku, dan menghirup udara dalam-dalam. Entah apa yang aku lakukan, tapi aku merasakan kalau tubuhku sangat ringan seperti sedang terbang.

To Be Continue . . .

 

5 thoughts on “The Last Time Part 11”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s