Mianhaeyo YEOBO – – – Part 2

jreeeng. jreeeng. hhe . . .

Hyena’s Room. 15 September 2010 – 04.21PM

“ada apa lagi sih? Aku sudah melaksanakan permintaan kakek, tidak bisakah biarkan aku sendiri?” terangku yang sekarang sudah berdiri di depan pintu kamarku.

“nah, karena dirumah ini tidak ada kamar kosong lagi, jadi kau tidur di kamar ini saja ya. Tidak keberatankan?” jelas ummaku pada seseorang di sampingnya dan tidak memperhatikan keberadaanku. ah itu adalah laki-laki yang sekarang jadi suamiku.

ANDWAE!! Ibu macam apa kau ini yang membiarkan putrinya tidur sekamar dengan pria tak dikenal” teriakku lantang. Air mataku pun kembali pecah. Sepertinya nasib buruk akan segera menghampiriku.

“YAK, kau ini tidak sopan berteriak seperti itu. Lagi pula pria ini bukan orang lain. Dia itu suamimu.” Jelas umma tak kalah berteriak.

“maaf atas sikap anakku” kata umma pada laki-laki yang masih berdiri mematung itu.

“ah, gwenchana ahjjuma” jawabnya.

“panggil aku umma, karena sekarang kau juga anakku.” Terang umma dengan sangat ramah.

ne,baiklah.” Jawabnya lagi.

Bosan sekali melihat pemandangan seperti ini sementara aku malah diacuhkan. Kulangkahkan kaki berbalik hendak menutup pintu kamar, tapi ditahan tangan ummaku.

“kau mau kemana? Ajak suamimu masuk” pinta umma lantang.

“tidak mau, bawa saja pria itu pulang. Bukankah dia juga punya rumah sendiri” teriakku.

“dari tadi kau hanya memanggil dia pria, suamimu ini punya nama. PARK JUNG SO. Namanya Park Jung So” jelas ummaku.

“sudah, jangan bertengkar terus. Jung So-shi, orang tua mu akan pulang, sebaiknya pamitan dulu. Kau juga Hyenaa, temuilah mereka dan berikan salam” jelas appa yang tiba-tiba datang.

“baiklah” jawab laki-laki itu. Kemudian umma dan appa turun berbarengan kelantai bawah. Dan lali-laki itu?? DUK “aaaawww” ringisku saat dia masuk kekamar dan menyikutku. “hheuuuh”desahku. Dia meletakan tasnya diatas tempat tidur lalu kembali keluar kamar. Aku hanya meperhatikan tingkah lakunya dari pintu. Tapi langkahnya terhenti di tepi tangga, lalu berbalik.

“jangan melihatku seperti itu. Aku tidak suka” jelasnya dingin.

“atau jangan-jangan kau sudah mulai menyukaiku ya?” terkanya.

“CIH” jawabku.

Neo, tidak pernahkah diajari sopan santun? Kau masuk kamarku seenaknya, padahal aku belum mengizinkanmu.” Jelasku dengan mata menyipit padanya.

“karena sekarang, ini juga kamarku, jadi aku tidak perlu izin darimu” jawabnya santai.

“sudahlah, ayo turun. Orang tua kita sudah menunggu.” Ajaknya lalu membalikan lagi tubuhnya. Sementara aku masih tetap mematung. Tiba-tiba dia berbalik lagi lalu berjalan kearahku, membuatku sedikit terkejut.

ppali” pintanya lalu menarik tanganku.

“awwwww” ringisku. Karena dia menariknya cukup keras. “lepaskan, aku bisa jalan sendiri” ucapku sambil melepaskan tangannya lalu berjalan menuruni tangga duluan.

***

appa, umma, noona, hati-hati dijalan” ucap Jungso pada keluarganya.

“jaga dirimu baik-baik, jangan menyusahkan mertuamu. Dan juga jaga istrimu dengan baik. Jangan bertengkar terlalu sering, itu tidak baik” nasehat ayah mertuaku.

ne appa” jawab Jungso singkat. Sementara ibunya tidak berbicara sedikitpun, dia hanya menangis saat memeluk Jungso.

“kalau begitu kami pergi dulu, anneyong” pamit ayah mertuaku ramah. Ku bungkukkan badanku untuk memberi salam pada mereka, tepatnya appa dan onnie baruku. Karena dari tadi umma mertuaku sama sekali tidak melirikku. Apakah dia marah karena kata-kataku tadi? Ah, molla.

***

“YAK! Apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“kau buta yah? Aku sedang tidur” jawabnya.

“aku tau kau sedang tidur. Tapi kenapa tidur diranjangku?” tanyaku lagi.

“besok aku harus ke kantor pagi-pagi. Dan hari aku sudah sangat lelah. Jadi kumohon biarkan aku tidur” jelasnya lalu menarik selimutnya.

“tidak bisa. Kau tidur dibawah” teriaku lagu menarik selimutnya.

“arrrrgggghhhh. Kau ini perempuan bukan sih? Kejam sekali! Kau juga dari tadi hanya berteriak” ucapnya.

“a-ak…”

“satu lagi, kau harusnya memanggilku oppa! Karena aku 11 tahun lebih tua darimu!” teriaknya.

bb-booe? Kau 11 tahun lebih tua dariku?” tanyaku heran.

“ya. Terus kenapa? Wajahku tidak mencerminkan umurku kan? Hahaha” tawanya bangga.

“Kau lebih pantas ku panggil AHJJUSI dari pada oppa” teriakku.

“JANGAN PERNAH PANGGIL AKU AHJJUSI, mengerti!!!” teriaknya. Membuatku sedikit ketakukan, karena wajahnya menyeramkan sekali. Lalu dia kembali tidur diranjangku. Baiklah, saat ini akan kubiarkan dia, karena sepertinya dia marah sekali saat kupanggil ahjjusi tadi.

***

Jungso POV

“huh, anak ini pemalas sekali” gerutuku sambil merapihkan dasiku di depan cermin. Bukankah seharusnya seorang istri bangun lebih dulu daripada suaminya. “ahhh, kalau begitu dia tidak usah kubangunkan saja. hehehe” batinku… setelah selesai, kuambil jasku lalu berjalan ke arah pintu. “arrrrggghh” teriakku. Kubalinkan kembali tubuhku.

“YAK, ireonna

“AWW. tidak bisakah membangunkanku lebih manusiawi?” teriaknya. Sebenarnya tadi aku sempat terpesona saat melihat wajahnya yang sedang tidur. Tapi karena tidak tahu harus membangunkannya seperti apa, jadu kutarik saja hidungnya.

“sudahlah cepat bangun. Ini sudah jam 7, kau harus sekolah” suruhku.

“aku hari ini libur” jawabnya lalu kembali kebawah selimutnya.

“libur apa?” tanyaku.

“dengar yah, bukankah setiap orang yang sudah menikah besoknya pasti libur karena capek” jelasnya.

“kau capek apa? Kemarin tidak banyak tamu yang datang. Semalam juga tidak melakukan apapun” lantangku, membuatnya sedikit berpikir.

“m-mmaksudmu?” tanyanya. Apakah aku salah menjelaskan?

“sudahlah, sana mandi. Nanti kau kesiangan” suruhku lagi.

“huh, kau menyebalkan.” Gerutunya.

“besok tidak usah membangunkanku lagi, karena omma yang biasa melakukannya” teriaknya.

“tidak akan. Karena ommonim sudah memberiakan tugas itu padaku” terangku.

“APA??”teriaknya.

***

Hyena POV

“huh, kenapa didepan orang tuaku dia manis sekali” gerutuku. Sambil memanyun-manyunkan bibirku dan memainkan sepiring sarapan pagiku.

“Hyena, kau ini kenapa? Jangan mengaduk-ngaduk makanan seperti itu. Kalau tidak lapar, lebih baik jangan makan” tegur appa membuatku sedikit kaget, karena biasanya appa tidak pernah melarangku. Membuatku hilang mood saja.

“ne appa” seruku pelan. Ku tekuk kepalaku. Aku ingin menangis.

“mulai hari kau akan berangkat sekolah bersama dengan suamimu” kata appa setelah kita semua selesai makan.

Aku mendongak tak percaya. “tidak usah, aku bisa naik bis” kataku.

“Hyena, bisa tidak kau sekali saja tidak membantah dan langsung menuruti permintaan appa” kata appa tegas. Aku menunduk. Selama ini appa tidak pernah seperti ini padaku.

“appa bilang sekali saja? memangnya kapan aku pernah tidak menuruti permintaan appa? Selama ini akun selalu diam dan menuruti semua permintaan appa, meskipun itu tidak sesuai dengan keinginanku. Aku juga menuruti permintaan kakek untuk melakukan pernikahan aneh ini! Kenapa tidak ada yang mengerti perasaanku, aku seperti boneka yang harus menuruti semua permintaan kalian, termasuk dalam menjalani kehidupanku.” Jawabku sambil terisak. Aku tidak tahan. Aku tidak berbicara sekeras ini sebelumnya. Kulihat umma menunduk. Sementara appa, wajah mengkerut penuh dengan amarah. Dan laki-laki itu? Dia memundurkan kursinya, lalu berdiri. Aku pikir dia akan pergi meninggalkanku. Tapi,

abboiem, ommonim, kami berangkat dulu” pamitnya lalu menarik tanganku. Aku tak menolak saat dia menggandeng tanganku. Entahlah, yang ada malah rasa nyaman. Aku masih menangis sampai aku masuk ke mobil hitamnya. Dia lalu memasangkan sabuk pengaman. Setelah itu menuju kepintunya, lalu menginjak pedal gas. Selama perjalanan aku hanya diam. Begitu juga dengan dia. Tapi tangisku sudah mereda sekarang.

“kau harus minta maaf pada abboniem” katanya membuka suara.

“aku tahu. Akan kulakukan nanti jika pulang” jawabku.

Mobilnya berhenti didepan gerbang sekolahku. Aku pun melepaskan sabuk pengaman lalu membuka pitu mobil. Tapi dia menarik tanganku.

“pakai tissue ini, masih ada air mata di sudut matamu” sahutnya sambil menyerahkan selembar tissue.

“gomawo” kataku lalu turun dari dalam mobil.

“hyena” panggilnya lagi ketika aku menutup pintu mobil. Aku menurunkan kepalaku sejajar dengan jendela mobil.

“jangan menangis. Kau tidak kelihatan cantik!” katanya. Aku melongo, masih belum bisa mencerna apa yang dia katakan. Tapi saat aku telah mendapakan kesadaranku kembali, kulihat mobilnya sudah melesat menjauhi sekolahku.

..to be continued..

bagaimana? aneh? makim gaje? mian ya. aku harap pada suka. hehe

8 thoughts on “Mianhaeyo YEOBO – – – Part 2”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s