There’s an Angel [Wings 5]

HEE CHUL POV

“annyeong~~!” sapaku begitu masuk ke kamar Teukie. Tapi lagi-lagi dia menyuguhiku dengan ‘tontonan’ yang tidak mengenakkan—bagiku—karena membuatku terlihat sebagai pengganggu.

“Chullie-ah, waeyo?” tanya Teukie, berpura-pura untuk tenang, padahal aku tau kalau dia sama sekali tidak tenang, hehe.

“sepertinya kau harus ganti kode pintu kamarmu deh. Lain kali ganti yang baru dan jangan beritau aku, jadi aku tidak akan menerobos masuk saat kalian sedang bermesraan.” Jawabku santai.

“Chullie oppa~!” teriak Sarang dengan suara imutnya, dengan cepat dia berlari ke kamar mandi, membanting pintu cukup keras.

“sejak kapan dia memanggilmu Chullie juga? Pakai oppa segala?” tanya Teukie.

“memangnya Cuma kamu saja yang boleh?” aku menjulurkan lidahku padanya.

Teukie tidak mempedulikanku, dia mengambil beberapa kertas dan membacanya.

“hei, Youn Ji tidak ke sini ya?” tanyaku menyelidik.

“tidak, kenapa dia harus ke sini? Cari saja di kamarnya.”

“dia tidak ada.” Jawabku lesu.

“memangnya ada apa kau mencari dia?”

“kudengar album lagu penyanyi kesukaannya sudah keluar, aku mau mengajaknya ke sana.” Kataku dengan bersemangat.

“mwo? Ada apa nih? Tidak biasanya kau baik sekali pada Youn Ji.” Cibir Teukie.

“hei, hei, aku tidak sejahat itu kan?” tanpa menunggu jawaban dari Teukie, aku berlalu pergi meninggalkan kamarnya.

 

LEE TEUK POV

Kesambet setan apa tuh anak? Aku sih gak heran kalau belum sampai satu jam yang lalu dia marah-marah tidak jelas dan sekarang bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa, mood dia kan memang yang paling tidak bisa diprediksi. Tapi gak biasa-biasanya dia mengajak Youn Ji membeli kaset. Semoga saja tidak akan ada badai malam ini, doaku dalam hati.

Sarang masih saja mengurung diri di dalam kamar mandi. Aku mencoba memfokuskan diriku pada laporan-laporan yang harus kuselesaikan, tapi tidak bisa. Pikiranku terus melayang ke adegan tadi.

Ada apa dengan diriku? Tidak biasanya aku mesum seperti itu. Omo~ kalau saja Chullie tidak datang dan menjadi pengganggu, entah akan jadi apa Sarang sekarang ini..

***

kesibukanku tetap saja tidak berakhir. Untunglah, festival kebudayaan akhirnya datang juga. Setelah acara ini berakhir, aku bisa bersantai~

“Chulli-ah, kenapa kau? Cemberut lagi nih.” Aku menepuk pundah Chullie pelan.

Yah, beberapa hari belakang ini dia selalu saja cemberut. Entah apa lagi yang membuat dia cemberut seperti ini.

“bagaimana aku tidak kesal? Youn Ji itu kenapa sih? Marah-marah tidak jelas.” Omelnya.

“Youn Ji? Marah bagaimana?” tanyaku penasaran.

“dia mencuekiku. Tidak biasanya dia seperti itu kan? Yang boleh cuek itu kan Cuma aku saja, menyebalkan!!” rutuknya semakin menjadi-jadi.

“benar juga ya, sepertinya akhir-akhir ini aku tidak pernah melihat kalian berdua bertengkar lagi. Apa Youn Ji menjauhimu?”
”mana kutau, dia saja tidak mau bicara denganku. Dia selalu saja ngobrol dengan Ye Sung itu.”

“Ye Sung kan menyukai Youn Ji, kalian tidak tau ya?” sambung Eun Hye.

“pantas saja Ye Sung selalu bertanya tentang Youn Ji unnie padaku~” diikuti oleh Sarang.

“mwoo? Ye Sung menyukai Youn Ji? Kupikir kecuali Teukie, tidak akan ada orang lain yang bisa menyukainya.” Teriak Chullie, dilanjutkan dengan ringisannya karena aku memukul kepalanya cukup keras.

“tapi, Youn Ji unnie akhir-akhir ini benar-benar aneh deh. Dia sepertinya selalu sibuk membantu pembuatan setting drama hampir 24 jam. Apa dia tidak kecapekan ya?”

“iya, akhir-akhir ini dia juga selalu makan banyak cemilan di kamar. Hee Chul-ah, apa lagi yang kau lakukan padanya?” Eun Hye mendelikkan matanya ke Hee Chul.

“jangan tanya aku, tanya saja pada Teukie. Apa urusannya denganku?”

“ya, ya, ya, kenapa jadi aku yang disalahkan? Aku kan selalu baik pada Youn Ji!” elakku, enak saja mau menyalahkanku. Aku tidak pernah jahat pada Youn Ji.

“hei, ada yang pingsan!” teriak salah satu siswa.

 

HEE CHUL POV

“itu Youn Ji sunbae kan?”

“kenapa dia?”

“omo~ wajahnya pucat sekali.”

Terdengar suara siswa-siswa yang berbisik, tidak bisa dibilang berbisik sih, karena suara mereka terdengar jelas ditelingaku. Para siswa mulai mengerumuni backstage yang akan digunakan untuk penampilan drama hari ini.

Kami semua—aku, Eun Hye, Sarang & Teukie—langsung berlari bersamaan ke tempat kerumunan itu. Aku berlari lebih cepat dari mereka, aku duluan yang sampai dan menerobos kerumunan itu.

Benar, itu Youn Ji, pucat sekali. Tanpa pikir panjang, aku langsung menggendong Youn Ji dengan bridal style. Kulihat wajah-wajah panik dari Teukie, Sarang dan Eun Hye.

“kenapa dia?” tanya Eun Hye.

“Youn Ji unnie ..”

“Chullie-ah, apa kau mau membawanya ke rumah sakit?” tanya Teukie.

“ani, aku akan membawanya ke kamarku saja.” Jawabku sambil terus melangkah secepat mungkin.

“baiklah, aku ikut.” Lanjut Teukie.

“aniya, kalian bertiga di sini saja, kalian kan harus mengkoordinir festival ini. Biar aku saja yang menjaganya. Aku akan mengabari kalian kalau Youn Ji sudah bangun.

***

“Youn Ji-ah, gweanchana?” aku mengganggam tangannya lebih erat ketika kulihat Youn Ji sudah sadar. Hampir setengah jam aku duduk di sampingnya dan terus menunggu dia sadar.

“Hee Chul? Dimana aku? Kenapa aku bisa ada di sini?” Youn Ji mencoba untuk duduk, aku membantu memegangi punggungnya agar dia bisa duduk.

“kau ada di kamarku, kau pingsan.” Jawabku singkat. Segera kutelpon Teukie untuk mengabari keadaan Youn Ji. Dari seberang telpon, kudengar suara Sarang dan Eun Hye yang terdengar lega karena Youn Ji sudah siuman.

“kau ini, bisa tidak sih jangan membuat kami khawatir? Sudah tau pencernaanmu tidak baik, masih saja makan banyak dan kerja gila-gilaan. Kau itu manusia, butuh istirahat juga kan?” omelku panjang lebar.

Youn Ji hanya menundukkan wajahnya dan diam, tidak menanggapi kata-kataku. Jangan-jangan pencernaannya yang tidak baik ini juga ikut mengganggu otaknya?

Kalau dia normal, dia pasti sudah membalas perkataanku, dan seperti yang sudah-sudah, kami pasti akan adu mulut.

“haaa, sudahlah, nih, makan obatmu.” Aku menghela nafas—menyerah dengan sifat barunya yang aneh—sambil menyodorkan beberapa butir obat yang diperlukannya. Youn Ji memalingkan wajahnya dan menggeleng. Dia ini, benar-benar paling susah kalau di suruh makan obat.

“yaa, Youn Ji-ah, cepat makan obatmu, kalau tidak kau tidak akan sembuh-sembuh.” Aku kembali menyodorkan obatnya, tapi lagi-lagi dia tidak menanggapiku. Kesabaranku sudah habis.

Kumasukkan obat-obat itu ke dalam mulutku sendiri, kuraih dagu Youn Ji dan memutar wajahnya menghadapku. Belum sempat Youn Ji bereaksi, kutempelkan bibirku padanya. Youn Ji membuka mulut, hendak protes, tapi itu justru memberi akses bagi lidahku untuk masuk ke mulutnya. Obat yang tadi ada di dalam mulutku kini kudorong masuk ke mulut Youn Ji. Setelah yakin semua obatnya sudah ditelan Youn Ji, aku melepaskan bibirnya, kusodorkan segelas air hangat padanya. Tapi Youn Ji hanya menatapku dengan kesal.

“mau minum sendiri, atau mau kubantu lagi?” ancamku.

Youn Ji menurut dan mengambil gelas itu, meminumnya hingga habis.

“cepatlah sembuh, melihat kau sakit, tidak seperti Oh Youn Ji yang kukenal tau.” Kataku acuh.

“aku ini kan juga manusia, wajar saja kalau aku bisa sakit.” Balasnya sengit.

“oh ya? Kupikir kau itu makhluk jadi-jadian, manusia superkuat atau hal-hal semacamnya.”

“sudahlah, pergi kau. Aku tidak mau melihatmu!”

“tapi ini kan kamarku.”

“aargh~ baiklah, kalau begitu aku yang pergi.” Baru saja Youn Ji mau bangun, segera kutahan dengan kedua tanganku.

“kenapa sih kau ini? Kenapa tidak pernah mau memperlihatkan sisi lemahmu padaku? Kenapa harus selalu Teukie, orang yang kau sandarkan? Kenapa kau selalu memilih menangis dihadapannya, bukan dihadapanku? Memangnya aku sangat tidak bisa diandalkan ya?” tanyaku sungguh-sungguh.

Youn Ji tidak menjawab, hanya menggigiti bibir bawahnya.

“kenapa? Kenapa harus Teukie? Orang yang kau sukai, kenapa harus Teukie? Padahal aku juga selalu ada di sisimu. Apa kau tidak bisa melihat keberadaanku?” kutundukkan wajahku, tidak berani menatapnya. Tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya, bahwa aku akan mengatakan hal ini padanya. Kudengar isakan tangis, kuangkat wajahku dan mendapati Youn Ji menangis dihadapanku.

“y-ya, ya, Youn Ji-ah. Uljima~” kataku panik.

“kau kan tidak suka melihat orang menangis dihadapanmu, aku tidak mau kau membenciku, makanya aku tidak mau menangis dihadapanmu. Karena aku menyukaimu, aku tidak mau kau membenciku.”

“a-araseo. Sudahlah, berhenti menangis. Yaa~ jakanman~ kau bilang apa tadi? Kau menyukai? Bukankah orang yang kau sukai itu Teukie?” tanyaku bingung.

“kapan aku bilang aku menyukai Teukie? Aku kan bilang aku menyukaimu~!”

“ta-tapi, malam itu, kalian—“ kata-kataku terputus, tidak tau apa yang harus kukatakan.

“itu hanya salah paham. Teukie hanya sedang menggodaku, tentang menangkap hatimu. Dia mempraktekan cara menciummu, tapi kami tidak benar-benar ciuman, lagipula bagiku Teukie itu sudah seperti oppa ku sendiri.” Tangisan Youn Ji mulai mereda.

“jinjja? Baguslah kalau begitu.” Saking senang dan leganya, aku langsung membenamkan wajah Youn Ji di dadaku.

“ah, matta, kenapa kau menjauhiku akhir-akhir ini? Aku salah apa padamu??” aku melepaskan pelukanku dan menatap Youn Ji dengan tajam, wajahnya langsung memerah.

“kupikir kau menyukai Sarang. Habis aku sampai mengizinkannya memanggilmu Chullie oppa.”

“kau cemburu ya?” godaku, sambil tersenyum nakal padanya.

Diluar dugaan, kupikir Youn Ji akan menyangkal, ternyata dia justru mengangguk dengan wajahnya yang lebih memerah sekarang.

“pabo,” kuelus rambutnya ,”kalau bagimu Teukie adalah oppa, maka bagiku Sarang adalah dongsaeng. Tapi yeoja yang special dimataku, hanya kau seorang, araseo? Lagipula yang disukai Sarang itu adalah Teukie.”

 

LEE TEUK POV

Acara festival budaya berlangsung dengan baik. Untuk merayakannya, kami menggelar pesta kecil-kecilan bersama para staff yang ikut membantu persiapan. Sayang Youn Ji masih belum begitu sehat, jadi dia tidak bisa ikut kami, Chullie juga terus menjaga Youn Ji.

Akhirnya, aku, Sarang, dan Eun Hye memutuskan untuk mengelar pesta trip kedua khusus untuk anggota OSIS, di kamar Chullie.

“jangan mengotori kamarku, araseo?” omel Chullie.

“ne, ne” jawabku singkat.

“apa yang harus kita lakukan nih?” tanya Sarang.

“bagaimana kalau kita main truth or dare?” ajakku.

“wah, boleh juga tuh. Kalau kalian tidak mau menjawab, kalian harus minum satu kaleng bir, dan kalau tidak mau melakukan tantangan kalian harus bugil, oke?” usul Chullie, semuanya setuju.

Setelah membuat sedikit peraturan, kamipun mulai bermain. Chullie yang memutar botol pertama kali, dan botol itu mengarah padaku.

“truth or dare?”

“hhm~ dare.” Jawabku ragu.

“apa ya tantangan untukmu?” Chullie mengelus-elus dagunya sambil berfikir.

“Telpon appa dan katakan padanya kalau kau menghamili Sarang.” Kata Chullie dengan santai.

“MWOOOO?” aku dan Sarang teriak hampir berbarengan.

“ayolah, kan kau yang memulai semua ini, kau harus bertanggung jawab.” goda Eun Hye.

“geure Teukie-ah, jangan lari dari kenyataan.” Younie tertawa kecil di samping.

Aku melirik Sarang yang wajahnya kini memerah, tidak bisa berkata apa-apa. Aissssh~ jinjja, benar kata mereka, kan aku yangm memulai, bagaimanapun aku harus bertanggung jawab. Dengan berat hati kutekan nomor telpon appa.

“appa, aku menghamili Sarang!” kataku. Dengan cepat kuputus sambungan telpon sebelum appa sempat bereaksi.

“good job!” Chullie mengacungkan jempolnya padaku.

Kini giliranku yang memutar dan berhenti di Eun Hye.

“truth or dare?” tanyaku bersemangat.

“truth!” jawab Eun Hye cepat.

“hhm, menurutmu, siapa yang lebih tampan? Aku atau Chullie?” tanyaku.

“jujur ya? Menurutku Teukie.”

“yess!” teriakku.

“ya! Ya! Ya! Pertanyaan macam apa itu?” protes Chullie.

Permainan dilanjutkan dan kini botolnya berhenti tepat di Chullie.

“beritaukan kami satu rahasiamu.” Tantang Eun Hye karena Chullie memilih dare. Chullie memang tidak suka menceritakan rahasianya pada kami, makanya Eun Hye menantangnya.

“rahasiaku? Kalian benar-benar ingin tau?” Chullie mengerutkan alisnya. Serentak kami menganggukkan kepala.

 

AUTHOR POV

“baiklah. Akan kuberitaukan satu rahasiaku pada kalian. Aku dan Youn J—“ belum selesai Hee Chul berbicara, Youn Ji langsung membekap mulut Chullie.

“stop! Jangan diteruskan!” teriak Youn Ji.

“ya! Segitu inginnya ya kau melihatku bugil?” protes Hee Chul yang berhasil membuatnya Youn Ji mendaratkan pukulan yang cukup keras di kepalanya.

“wah, ada apa nih? Kalian sudah baikan ya?” tanya Eun Hye.

“bukan hanya baikan, kami sudah pacaran sekarang.” jawab Hee Chul sambil memamerkan deretan gigi putihnya.

“jinjja?” Lee Teuk langsung terlonjak dari duduknya dan menatap kedua sahabatnya dengan tatapan tidak percaya.

“loh, memangnya kapan aku bilang mau jadi pacarmu?” omel Youn Ji.

“kan kau bilang kau menyukaiku, berarti kita pacaran sekarang.”

“tapi kan—“

“kenapa? Mau protes?” potong Hee Chul.

“Chullie oppa, Youn Ji unnie, apakah permainannya tidak mau kita lanjutkan?” Sarang menyela pertengkaran kecil mereka.

“benar, ayo lanjutkan permainannya. Kalian bisa bertengkar kapan saja kalian mau, tapi jangan sekarang.” Eun Hye menyetujui ucapan Sarang yang dikuti anggukan dari Lee Teuk.

“nah, kena kau Sarang. Truth or dare?” tanya Hee Chul bersemangat ketika putaran botolnya berhenti tepat di Sarang.

“aku pilih truth, tapi oppa jangan bertanya yang aneh-aneh ya.”

“siapa orang yang kau sukai?” tanya Hee Chul terus terang.

“mwooo?” Sarang terlihat panik mendengar pertanyaan Hee Chul dan memilih untuk pass, sebagai gantinya dia harus meneguk habis sekaleng bir yang sudah mereka siapkan.

Permainan berlanjut sekitar satu setengah jam. Sarang yang terus mendapat pertanyaan-pertanyaa aneh dari sunbae-sunbaenya memilih pass berkali-kali.

“waah, dia mabuk tuh, Teukie-ah, sebaiknya kau antar dia balik ke kamar.” Tunjuk Hee Chul.

“ne, sepertinya dia sudah parah. Kalian juga istirahatlah.” Balas Lee Teuk.

Dengan sigap Lee Teuk memapah Sarang kembali ke kamar mereka.

“oppa!!” teriak Sarang tiba-tiba begitu mereka sampai di kamar.

“ne?” tanya Lee Teuk.

“kenapa kau bergoyang-goyang seperti itu? Kau membuat kepalaku pusing!”

“aku tidak bergoyang-goyang, kaulah yang bergoyang-goyang. Sudahlah, sebaiknya kau tidur sekarang.” Lee Teuk membaringkan Sarang di tempat tidurnya, tapi Sarang justru bangun dan duduk di tempat tidurnya.

“waeyo?” tanya Lee Teuk dan duduk di tepi ranjangnya.

“oppa gweanchana?”

“eh? Aku kenapa? Yang mabuk itukan kau.” Sebuah tawa kecil menyusup keluar dari mulut Lee Teuk.

“bagaimana rasanya oppa? Melihat orang yang kau sukai menyukai bahkan pacaran dengan orang lain? Aku tau bagaimana rasanya.” Kata Sarang masih setengah sadar.

“jinjja? Bagaimana?” pancing Lee Teuk.

“apha. Jeongmal aphayo. Oppa!” setetes airmata mengalir di pipi Sarang dan membuat Lee Teuk tersentak.

“ya, kenapa kau malah nangis?”

“oppa!!” bulir-bulir airmata Sarang mengalir lebih deras. Sarang mengalungkan kedua lengannya di leher Lee Teuk dan memeluknya. “neomu neomu johaeyo. Teukie oppa, saranghae.”

Mata Lee Teuk membelalak lebar, bukan hanya mendengar kata suka dari Sarang, tapi dia juga mendengar Sarang menyebut namanya, yang berarti kata-katanya ditujukan untuknya.

“Sa-Sarang-ah..” panggil Lee Teuk.

Tapi tidak ada jawaban yang muncul dari bibir Sarang. Perlahan-lahan Lee Teuk melepaskan pelukan Sarang dan mendapati kedua mata Sarang yang tertutup rapat.

“jeongmal, baru saja menembakku, sekarang dia malah tidur.” Cibir Lee Teuk.

Lee Teuk kembali membaringkan Sarang di tempat tidurnya, membenarkan posisi selimut agar menutupi seluruh tubuh Sarang dengan benar. Sebelum beranjak, Lee Teuk menatap Sarang selama beberapa menit, kemudian beralih ke tempat tidurnya sendiri.

 

To Be Continue . . .


PREVIEW FOR CHAPTER 6

SARANG POV

“benarkah itu? Kau akan pindah kamar asrama?” tanyaku tanpa mempedulikan pertanyaannya.

“ne, biarpun aku menyamar menjadi yeoja, aku tetap saja seorang namja. Tidak baikkan kalau kita terus tidur sekamar? Lagipula kau pasti juga merasa tidak nyaman sekamar denganku. Jadi aku memutuskan untuk pindah.” Teukie oppa memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan memandang lurus ke mataku.

“geundae—“ kata-kataku terputus ketika mendengar suara seorang yeoja yang meneriakan nama Teukie oppa.

“Teukie-ah!!? Benarkah itu kau?” suara yeoja itu, Teukie oppa menoleh ke sumber suara yang berasal dari belakangnya. Begitu Teukie oppa menoleh, yeoja itu langsung memeluknya dan membuatku terbelalak.

“gomawo~ gomawo karena kau telah kembali, Teukie-ah, bogoshipo.” Yeoja itu semakin mengeratkan pelukannya.

“nado bogoshipo …” balas Teukie oppa dan balas memeluknya.

 

6 thoughts on “There’s an Angel [Wings 5]”

  1. omo~~
    kirain leeteuk hamilin sarang betulan
    t’nyta~~
    jujur nekat tho….(betul gk??)

    Lanjut eonni!!!!
    ^0^/Hwating!!!

  2. Hahaha….chuLLie akhirnya jadian juga ma Youn Ji pacaran. Keke~

    Wah, Sarang kenapa g pas sadar aja ngungkapin suka ma Tukienya???

    Aduh kyknya da pengganggu antara Sarang & Tukie nich!!!

    Dtunggu Lanjutannya. HWATING ^o^

  3. hohoho akhirnya heechul oppa jadian ma younji. Hohoy… Seneng dengernya. Chukkae ya buat kalian🙂.

    Sekarang tinggal sarang ma teukie oppa. Ayooo oppa, tunjukkan kalo kau bisa(?). Oppa, hwaiting!!!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s