The Story of Love – Creating Destiny

AUHTOR : Yuyu

A/N ::: annyeong^^~ ini ff oneshoot nya SHINee (Key Story) happy reading ya :]

 

Disiang hari yang berawan ini, jalanan yang kulalui sangat ramai. semua orang berbondong-bondong mengerumuni sesuatu dijalan tersebut. Seorang namja kecil tergeletak bersimbah darah, sebuah buket bunga putih ditangannya pun ikut terkena percikan darah tersebut. Para orang dewasa sibuk memanggil-manggil anak kecil iut agar membuka matanya. Orang yang menabrak anak kecil itu pun segera membawanya masuk ke dalam mobilnya, bermaksud untuk mengantar anak kecil tersebut ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan. Tapi mereka tidak tau, itu semua percuma. Secepat apapun mereka membawanya ke rumah sakit, anak kecil itu tidak akan tertolong. Dua menit lagi.. dua menit lagi semuanya akan berakhir bagi anak itu, dua menit lagi akan ada malaikat maut yang menjemputnya.

***

Aku berjalan santai menuju rumahku. Beberapa cuplikan kecelakaan tadi kembali teringat. Aku melihatnya dengan jelas, sepeda yang dikendarai anak itu kehilangan keseimbangan, sebuah BMW silver yang melaju cukup cepat langsung menghantam tubuh anak itu, tanpa bisa dihindari. Buket bunga yang ingin diberikan pada noonanya, masih tergenggam erat ditangan mungilnya. Aku melihatnya, bahkan sebelum kecelakaan itu terjadi, tapi aku sama sekali tidak berbuat apa-apa, hanya menunggu hingga apa yang kulihat menjadi kenyataan.

Kubuka pintu rumah dengan kunci yang kupunya, tapi langkahku terhenti. Aku ‘melihat’ anak itu telah sampai di rumah sakit, dokterpun telah mengatakan bahwa tak mungkin lagi bagi anak itu untuk diselamatkan. Seorang yeoja yang tidak bisa kulihat wajahnya, menangis meraung-raung di koridor rumah sakit. Kalau saja aku melakukan sesuatu, yeoja itu tidak akan menangis seperti itu.

“hyung?? Kenapa kau melamun saja?” tanya seorang namja yang tiba dihadapanku sambil memegang cemilannya. Aku menggelengkan kepalaku pelan dan mendahuluinya masuk ke kamarku.

Kurebahkan tubuhku dan menatap langit-langit kamar yang berwarna biru langit. Tanpa kusadari, perutku berbunyi nyaring. Aku mengelus-elus perut kosongku, tepat ketika aku ‘melihat’ petugas pizza delivery berjalan ke rumahku. Aku sedikit meloncat dari tempat tidurku dan keluar menuju pintu rumah,Taemin yang masih memegang cemilannya sambil menonton tv menatapku heran.

Aku mengacuhkannya dan membuka pintu rumah, petugas pizza delivery yang baru saja akan menekan bel sedikit terkejut melihatku yang sudah membukakan pintu untuknya. Aku membayarnya dan membawa sekotak pizza tersebut ke ruang nonton.

“hyung! Bagaimana kau bisa tau kalau aku memesan pizza? Ugh, benar-benar tidak ada hal yang bisa dirahasiakan darimu” oceh Taemin sambil melotot padaku. Aku hanya nyengir padanya dan mulai memasukkan sesuap pizza.

“sama saja, aku dan semua orang juga tidak akan bisa merahasiakan sesuatu darimu.” Balasku. Kini giliran dia yang nyengir padaku.

***

“Key!” seseorang melambai padaku. Aku memicingkan mataku untuk melihat seseorang yang berdiri didepan ruang kelas.

“yo!” sapaku santai setelah melihat wajahnya dengan jelas.

“aaaah~ aku lapar sekali. Aku belum sempat makan nih.” Jonghyun merengek sambil memegang perutnya.

“kalau begitu ayo kita makan di kantin.” Aku mengajaknya, dan sebuah senyuman langsung terukir diwajahnya.

“tapi, bagaimana dengan kelas kita? 2 menit lagi kan dimulai.” Jonghyun terlihat ragu dan melirik jam tangannya.

“tenang saja. Dosennya tidak akan datang. Ban mobilnya kempes.” Jawabku santai dan langsung berjalan ke kantin, Jonghyun dengan senang hati langsung mengikutiku.

Sepanjang perjalanan ke kantin tidak henti-hentinya kami mengobrol dan tertawa bersama.

“loh, mau kemana kalian? Nanti kalian telat masuk kelas.” Sahut Minho yang berpapasan dengan kami.

“kata Key dosennya tidak akan datang, ban mobilnya kempes.” Jonghyun menarik tangan Minho agar mengikuti kami ke kantin.

“jinjja? Aissssh~ kalau tau dosennya tidak akan datang, untuk apa aku mengerjakan tugasnya sampai semalaman?” gerutu Minho.

“eh, tapi bukan kau kan yang mengempeskan ban mobilnya?” tanya Minho menyelidik.

“geuromyo. Memangnya aku sudah gila sampai-sampai harus berbuat seperti itu pada dosen?” omelku pada Minho.

“ayo makan!!!” teriak Jonghyun sambil menatap makanannya dengan lapar, sementara aku dan Minho hanya memesan minuman.

Aku tertawa geli melihat cara makan Jonghyun, dia seperti tidak makan sebulan saja. Sedetik kemudian pandanganku kosong dan aku ‘melihat’ sesuatu lagi, akan segera terjadi perang. Kali ini aku mencoba untuk menahan tawaku.

“wae?” tanya Minho yang heran melihat tingkahku, dan Jonghyun menghentikan kegiatan makannya untuk melihat ke arahku juga.

“aniya, Jonghyun-ah. Kusarankan kau segera menghabiskan ayam gorengmu, atau menyembunyikannya.”

“eh?” tanya Jonghyun bingung. Belum sempat aku menjawab, aku mendengar suara teriakan dan derap langkah ke tempat kami.

“senangnya! Hari ini kita tidak ada kelas jam pertama. Apa kalian tau? Tadi waktu aku mau berangkat ke sekolah, aku melihat dosen kita. Baru saja aku mau mengejar mobilnya dan memberi salam, tiba-tiba dia keluar dari mobilnya. Kupikir ada apa, ternyata ban mobilnya kempes. Langsung deh aku cepat-cepat kabur. Wah, ayam goreng kesukaanku!” cerocos Onew tanpa memberikan kesempatan pada kami untuk meresponnya, dan langsung menyerobot ayam goreng Jonghyun. Alhasil mereka berdua terlibat pertengkaran—Onew yang ingin merebut ayam goreng dan Jonghyun yang berusaha untuk mempertahankan ayam gorengnya—kecil..

Mataku beralih ke Minho, aku merasakan tatapan curiganya padaku sejak Onew selesai berbicara.

“bagaimana kau bisa tau kalau ban mobil dosen kita kempes? Arah rumahmu dan Onew kan berbeda.” Selidik Minho.

“hmm, kebetulan?” jawabku dengan pertanyaan. Aku langsung pamit sebelum Minho kembali bertanya macam-macam padaku.

Aku menyeruput ice capucino ku dengan berjalan santai tak tentu arah. Kelas berikutnya baru akan dimulai satu jam lagi. Lebih baik aku keperpustakaan saja.

Aku tersenyum kecil pada penjaga perpustakaan yang sedang asyik menuliskan sesuatu. Dengan langkah pasti, aku berjalan ke rak paling belakang, kemudian mendudukkan diriku menyender rak tersebut. Kalau aku tidur di sini, tidak akan ada yang menyadarinya kan? Aku memejamkan mataku, dengan cepat aku mulai merasa mengantuk karena suasana perpustakaan yang sunyi.

Tapi lagi-lagi aku ‘melihat’ kejadian yang tidak ingin kulihat. Aku melihat seorang yeoja dan seorang namja sedang bermesraan di taman belakang kampus yang memang jarang dikunjungi oleh orang-orang. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, mencoba membuang penglihatan itu jauh-jauh, tapi aku masih saja melihatnya, bagaimana mereka saling berangkulan dan kemudian berciuman. Wajah yeoja yang sangat kukenal, yeoja yang mengisi hatiku. Bukan kali pertama aku melihatnya dengan namja itu, tapi aku tidak pernah mengatakan apapun padanya. Aku takut kehilangan dia. Dia mengira aku tidak tau apapun, tapi dia salah. Aku tau semuanya. Meskipun dia bermesraan dengan namja itu di planet lainpun, aku tetap bisa ‘melihat’ nya.

Darahku terasa mendidih karena sangat marah. Setelah tidak bisa mengusir penghilatanku tentang dia, sekarang aku mencoba memfokuskan pikiranku pada hal lain yang ada di perpustakaan ini agar aku ‘melihat’ hal lainnya, bukan yeoja itu.

Beberapa detik kemudian, penglihatanku berubah, ada yeoja lain—tapi aku tidak tau siapa karena wajahnya tidak terlihat jelas dipenglihatanku—di perpustakaan ini yang akan mendapatkan kecelakaan kecil, berjarak tepat 3 rak dari tempatku duduk. Seperti biasanya, yang kulakukan hanyalah melihat, aku sama sekali tidak pernah bermaksud untuk mengubah masa depan ataupun penglihatanku. Tapi kali ini, kakiku bergerak tanpa menunggu perintah otakku. Dan tau-tau aku sudah berdiri di depan yeoja itu. Kali ini aku bisa melihat wajah yeoja itu dengan jelas, dia balik menatapku heran karena aku terus menatapnya tanpa berbicara apapun.

“aaaaaargh! Awas!” terdengar suara penjaga perpustakaan yang berteriak. Yeoja itu langsung melihat kebelakang dan mendapati sebuah dus besar berisi buku-buku yang kelihatannya cukup tebal sedang dalam perjalanan mendarat ke kepalanya. Tapi aku tidak perlu melihat ke arah dus itu, karena aku sudah melihatnya bahkan beberapa menit sebelum dus itu jatuh. Dengan sigap aku menjadikan tubuhku sebagai tamengnya, aku memeluk yeoja itu dan menutupi kepalanya dengan kedua lenganku.

Suara dentaman keras terdengar bersamaan dengan rasa nyeri yang menghantam punggungku.

“Park Haeji-ssi, kau tidak apa-apa?” penjaga perpustakaan itu muncul dari rak sebelah.

“gwe-gweanchana. Aku baik-baik saja.” Kata-katanya terdengar sedikit bergetar karena syok.

“omo~ Key?” tanya penjaga perpustakaan itu lagi begitu menyadari bahwa akulah yang terkena hantaman dus itu.

“cheongsohamnida. Aku ingin merapikan dus-dus itu, tapi justru jatuh dan mengenaimu.”

“gweanchana, aku baik-baik saja.” Aku memasang sebuah senyum manis meski punggungku masih berdenyut nyeri.

“ayo, kuantar kau ke ruang kesehatan.” Yeoja bernama Haeji itu menarikku dengan hati-hati. Aku tidak membantah dan mengikuti langkahnya.

Sesampainya di ruang kesehatan, tidak terlihat Lee songsaenim, pemilik ruangan ini.

“ottokhae? Lee songsaenim tidak ada.” Tanyanya panik.

“tolong ambilkan salep di kotak p3k itu.” Kataku sambil menunjuk kotak yang ada ujung ruangan. Haeji mengikuti perintahku, sementara Haeji mengambil kotak itu, aku membuka jaket yang kupakai, kemudia kemeja kotak-kotak merah yang memang tidak kukancingkan, dan terakhir kubuka kaos putihku. Haeji menyodorkan salep dengan menatap ke arah yang berlawanan, wajahnya terlihat sedikit memerah karena melihatku yang topless.

Karena aku tidak juga mengambil salep yang disodorkannya, diapun memandangku, hanya sedetik lalu kembali memalingkan wajahnya yang semakin memerah.

“kau tidak mau membantuku mengoleskannya? Apa kau pikir aku bisa mengoles memar yang ada dipunggungku sendiri?.” tanyaku. Dia hanya diam saja dan terlihat berpikir. Tapi akhirnya dia menghela nafas kecil dan membantuku mengoleskannya.

“mianhae, kau jadi terluka karena melindungiku.”

“aku sudah sering membantu orang lain, tapi ini kali pertamanya aku mengubah hal yang seharusnya terjadi.” Kataku datar.

“sudah selesai.” Jawabnya dan langsung pamit karena dia sudah harus masuk kelas.

Aku memakai bajuku kembali, secara perlahan. Karena masih terasa sedikit perih ketika aku mengerakkan tubuhku.

Vision eyes, apa kalian percaya ada kemampuan seperti itu? Atau bahkan kalian pernah mendengarnya? Kalau saja aku tidak tau apa-apa dan seseorang mengatakannya padaku, bahwa dia memiliki vision eyes, pasti aku akan tertawa terbahak-bahak dan mengatakan bahwa orang itu sakit atau tidak waras. Tapi aku tau vision eyes itu memang ada, dan aku memilikinya. Beberapa menit sebelum sesuatu terjadi, aku bisa melihatnya melalui penglihatanku. Jika aku memang menghendakinya, aku bahkan bisa melihat apa yang akan terjadi pada seseorang beberapa hari yang akan datang. Dan karena vision eyes inilah, aku merasa menjadi pembunuh. Aku melihat banyak orang yang mengalami kesialan yang bahkan sampai merengut nyawa mereka. Tapi aku tidak pernah berani mencoba untuk mengubah masa depan, aku tidak pernah berani mencoba untuk mengubah penglihatanku.

***

“Key-ssi, bagaimana memarmu?” tanya Haeji yang menghampiriku di kantin. Jonghyun, Minho dan Onew menghentikan segala aktifitas mereka—apapun itu—dan langsung menatapku dan Haeji bergantian. Haeji terlihat sedikit risih dengan tatapan mereka.

“berhentilah menatapnya seperti itu, kalian membuat dia takut.” Hardikku dan membuat mereka bertiga jadi salah tingkah.

“memarnya sudah hampir sembuh kok.” Jawabku sambil tersenyum, berusaha menenangkannya.

“oh, jadi yeoja ini yang kau selamatkan beberapa hari yang lalu?” tanya Onew. Aku mengangguk dan mereka pun berkenalan.

“ke mana saja kau? Kenapa aku tidak melihatmu masuk kuliah?” tanyaku penasaran. Sudah dua hari sejak kecelakaan itu, aku berusaha mencarinya di kampus, tapi teman-temannya bilang dia izin. Sementara vision eyesku sendiri tidak bisa melacaknya, maksudku aku tidak bisa melihat dia menggunakan vision eyesku. Aku tidak tau kenapa, padahal aku bisa melihat orang lain dengan mudah.

“ah, kemarin adalah 40 hari meninggalnya dongsaengku. Jadi aku izin untuk mengurus hal itu.” Jawabnya datar, tapi terlihat jelas semburat kesedihan terpancar dari matanya.

“dongsaegnmu meninggal?” tanya Minho prihatin.

‘ne, kecelakaan. Padahal dia baru berusia 12 tahun.” Haeji tersenyum, berusaha tegar.

“kenapa kau yang mengurusnya? Mana orangtua dan kerabat kalian?” kali ini Jonghyun yang bertanya. Aku sendiri tidak tau harus berkata ataupun bertanya padanya.

“eomma dan appa sudah meninggal sejak 6 tahun yang lalu, dan kami hanya berdua saja di Seoul. Aku tidak kenal dengan kerabatku yang lainnya.” Kali ini setetes airmata turun dari mata sayunya. Aku menyodorkan tisu padanya.

‘sudahlah, kenapa kaliah harus bertanya hal-hal seperti itu sih?” omelku, berharap mereka tidak bertanya yang macam-macam dan membuat Haeji lebih sedih lagi. Aku tidak mengerti dengan dia dan diriku sendiri. Aku tidak bisa melihat apa yang akan terjadi padanya, dan kali pertama dalam hidupku—sejak aku sadar bahwa aku dikaruniai mata ini—aku ingin sekali bisa melihat apa yang akan terjadi padanya.

“ah, mian. Aku jadi menangis dihadapan kalian. Aku masih ada kelas, aku duluan ya.” Sahutnya sambil berjalan meninggalkan kami yang masih asyik duduk di kantin karena jam kami kosong.

“Key-ah, kau selingkuh dari Jessica ya?” tanya Jonghyun begitu sosok Haeji sudah menghilang.

“mwo?” tanyaku ogah-ogahan.

“tapi aku setuju kalau kau bersama dengan Haeji, dia terlihat seperti yeoja baik-baik.” Sahut Onew.

“benar, dan pastinya dia tidak akan tega berselingkuh dibelakangmu.” Kata Minho dengan nada sarkartis. Aku hanya menghela nafas pelan.

Minho memang pernah mengatakan padaku kalau dia beberapa kali melihat Jessica bermesraan dengan senior kami di kampus, bahkan Onew dan Jonghyun juga pernah melihatnya diluar kampus bersama namja itu. Mereka mengira bahwa aku tidak percaya kalau Jessica berselingkuh dibelakangnku. Lagi-lagi itu salah. Aku tau, aku tau itu. Hanya saja.. aku tidak ingin mengakuinya, aku tidak ingin kehilangan dia. Apakah mereka tidak mengerti perasaanku?

***

“hyung, kau kenapa? Wajahmu pucat.” Tanya Taemin yang entah sejak kapan masuk ke kamarku.

“jam berapa sekarang?” tanyaku berusaha untuk bangun, tapi kepalaku langsung pusing, akhirnya aku memilih untuk kembali berbaring.

“sudah hampir jam 7, aku mengetuk pintu kamarmu sejak setengah jam yang lalu, tapi kau tidak menjawabnya. Apa kau sakit? Kau berkeringat banyak sekali hyung.” Cerocos Taemin.

Aku sendiri tidak tau, kemarin aku baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda aku akan sakit. Apa mungkin karena memar dipunggungku?

“memar terkadang memang bisa menyebabkan demam hyung. Harusnya kau berobat ke rumah sakit untuk mengobati memarmu. Sudahlah, hari ini kau tidak usah kuliah saja ya. Aku harus ke sekolah sekarang, aku hampir terlambat.”

Aku mengangguk mengikuti nasihat Taemin. Padahal baru kemarin aku bertemu dengan Haeji lagi, dan hari ini aku kembali tidak bisa melihatnya karena deman tolol ini. Kenapa harus sekarang sih? Omelku pada diriku sendiri.

“Haeji? Siapa dia hyung? Bukannya pacarmu itu Sica noona? Kalau kau begitu ingin bertemu dengan Haeji, sebaiknya kau suruh saja dia datang.” Kata Taemin sebelum dia melangkah keluar dari kamarku.

“yaaaaa! Berhentilah membaca pikiranku!” omelku kesal dan melemparkan bantal ke arahnya, tapi dengan cepat dia menutup pintu, hingga bantalku mengenai daun pintu dan terjatuh.

“aku pergi hyung!!!! Jangan lupa suruh Haeji noona untuk datang, aku ingin melihatnya!” teriak Taemin dari luar kamarku. Dasar dongsaeng kurang ajar. Apa dia tidak tau kalau pikiran itu adalah privasi?

Setelah Taemin pergi ke sekolah, aku menghubungi Onew untuk memintakan izinku. Lalu aku kembali tidur selama beberapa jam, dan terbangun ketika Taemin kembali mengangguku.

“hyung, apa kau sudah minum obatmu?” tanya Taemin sambil menggoyang-goyangkan tubuhku pelan. Aku terlalu malas menjawab dan hanya menggeleng. Bagaimana bisa minum obat, aku bahkan belum makan sejak pagi.

“aigoooo~ dasar hyung manja. Kau harus makan dan minum obat teratur supaya sembuh. Tunggu di sini, akan kubuatkan bubur untukmu, setelah itu kau bisa minum obatmu.” Dengan buru-buru Taemin beranjak ke dapur. “jangan banyak protes hyung!” teriaknya lagi dari dapur ketika aku meragukan kemampuan memasaknya. Aku merasa sudah lebih baik dari tadi pagi. Aku memegang kepalaku yang pusing ketika vision eyesku menyala, kali ini penglihatanku sedikit buram, apa mungkin karena aku sedang sakit? Kulihat teman-temanku datang dan menjengukku. Kurapikan sedikit rambutku yang berantakan dan duduk menyadar di tempat tidurku. Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara Onew yang memanggil namaku dan suara pintu yang dibuka oleh Taemin.

“Key! Bagaimana keadaanmu?” teriak Jonghyun.

“nih, kubawakan banyak daging untukmu, kau harus cepat sembuh.” Celoteh Onew yang mendapat jitakan dari Minho.

“kalau menjenguk orang sakit harusnya kau bawa buah-buahan, bukannya daging.” Minho memprotes Onew yang hanya bisa cemberut.

“hei, aku melihat Taemin menggunakan celemek, apa dia sedang memasak sesuatu?”

“ne, dia memasak bubur untukku.” Jawabku lemas tak bertenaga.

“Taemin memasak? Kenapa aku jadi ngeri membayangkannya?” Minho terlihat sedikit bergidik. Yah, mereka tidak butuh vision eyes untuk tau hasil masakan seperti apa yang akan Taemin hidangkan untukku.

“aigooo! Untunglah kita membawa bala bantuan.” Onew mengelus dadanya, merasa lega. Bala bantuan? Apa maksudnya? Tapi aku tidak ingin bertanya karena merasa tubuhku lemas.

Tidak sampai setengah jam mereka bertiga pamit pulang padaku.

“hei, kalian tidak sedang merencanakan sesuatu yang aneh-aneh kan?” tanyaku pada mereka, karena penglihatanku menunjukkan tampang mereka yang terkikik geli di sepanjang perjalanan pulang mereka nanti.

“mwo?” tanya Onew bingung.

“apa maksudmu? Kami tidak merencanakan hal yang aneh-aneh kok.” Lanjut Jonghyun.

“benar, kau istirahat sajalah. Kami pulang dulu.” Aku hanya menatap mereka keluar dari kamarku dengan pandangan tidak percaya.

“hyung! Buburnya sudah jadi! Aku pergi dulu ya, selamat bersenang-senang.” Teriak Taemin dari luar. Apa maksudnya bersenang-senang? Aku kan sedang sakit. Aku melangkah turun dari tempat tidur, tapi sebuah suara membuatku terkejut.

“kenapa kau bangun? Kau kan masih sakit, berbaring saja!” teriaknya.

“Haeji? Sejak kapan kau di sini?” tanyaku heran.

“tadi aku datang bersama Minho, Onew dan Jonghyun, aku langsung membantu adikmu memasak. Mereka tidak memberitaukanmu?” aku hanya menggeleng dan kembali duduk di tempat tidurku. Jadi ini yang mereka tertawakan sampai seperti itu? Mereka mengerjaiku? Huh! Dan lagi, kenapa aku tidak melihat kehadiran Haeji dalam penghilatanku? Padahal aku melihat ketiga sahabatku dan Taemin yang membuka pintu.

“gomawo.” Ucapku begitu selesai memakan bubur dan meminum obatku.

“kenapa kau berterimakasih padaku? Kau kan sakit karena aku.”

“aniya, aku sendiri yang memutuskan untuk menolongmu. Kau tidak memaksaku, jadi aku sakit bukan karenamu, tapi karena diriku sendiri.” Jawabku santai, sementara Haeji hanya tersenyum.

“sepertinya sudah sore, sebaiknya aku pulang saja.” Haeji bangun dari tempat duduknya, sesuatu dalam diriku tidak ingin dia pergi, aku merasa masih ingin bersamanya. Aku menarik tangannya cukup kuat hingga dia terduduk ditempat tidur di sampingku. Keningnya berkerut memandangku, mulutnya terbuka hendak protes, tapi dengan cepat kutempelkan bibirku padanya. Matanya semakin membulat dan bersiap mendorongku, tapi aku memeluk pinggangnya semakin erat dan akhirnya Haeji ikut memejamkan matanya, melingkarkan kedua tangan mulusnya dileherku.

“apa-apaan ini!!!?” aku dan Haeji menoleh bersamaan ke sumber suara. Jessica berdiri diambang pintu dan terlihat murka.

“Mi-mianhae..” kata Haeji terbata dan langsung mengambil tasnya, berlari pergi. Aku menarik tangan Jessica, mencegah dia mengejar Haeji.

“please, sica. Kita akan membicarakan hal ini besok, tidak sekarang.” Kataku lelah.

“tapi –“

“sekarang pulanglah, aku ingin beristirahat.” Kataku sedikit memohon. Dia terlihat ingin protes, tapi mengurungkannya dan menurutiku. Awalnya aku agak takut kalau dia akan mencari Haeji dan melukainya. Tapi penglihatanku menunjukkan Sica pulang ke rumahnya dengan keadaan super kesal.

***

“jadi, apa yang ingin kau jelaskan padaku?” tanya Sica sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Aku hanya menghela nafas, tidak tau harus berbicara apa.

“kau berselingkuh dariku dan sekarang kau tidak mau mengatakan apapun?” tanyanya lagi. Dan aku masih tidak tau harus berkata apa, sesuatu yang tidak akan melukai Sica maupun aku, dan juga Haeji.

“jawab aku Key! Atau kau ingin aku mencari yeoja itu dan bertanya langsung padanya? Bertanya bagaimana dia menggodamu!?” bentak Sica, yang berhasil membuatku bereaksi.

“Sica! Dia tidak pernah menggodaku, dan satu-satunya orang yang berselingkuh di sini adalah kau! Kalau kau menghargai perasaanku, kalau kau menganggapku sebagai namjachingumu, tidak seharusnya kau selingkuh dengan sunbae itu!” teriakku tidak mau kalah. Sica terdiam, raut wajahnya sedikit berubah.

“a-aku.. Key, kau berselingkuh dan menudingku berselingkuh? Apa kau sedang mencari alibi?”

“aku tidak sedang mencari alibi, Sica. Aku sudah bosan terus-terusan menutup mata tentang perselingkuahnmu.” Kataku pasrah.

“Key, apakah teman-temanmu yang mengatakannya? Kau lebih percaya mereka daripada aku?” tanya Sica tidak percaya.

“ne, mereka yang mengatakannya padaku. Tapi aku juga melihatnya sendiri Sica, aku melihat kau berselingkuh tepat di depan mataku sendiri. Sica, jebal, jangan membuatku membencimu. Selama ini aku pura-pura tidak tau karena aku tidak ingin kehilanganmu, tapi rasanya semua sudah cukup. Sekarang, yang kuinginkan adalah mengakhiri hubungan kita. Sekarang aku bisa kehilanganmu, tapi aku tidak ingin kehilangan Haeji.” Tanpa menunggu jawabannya, aku berjalan pergi.

“Key! Key!!!” samar-samar teriakan Sica semakin melemah ditelingaku.

Mungkin ini gila. Aku sudah menyukai Sica sejak 2 tahun yang lalu, dan selama itu pulalah kami pacaran dan aku selalu takut kehilangan dia. Tapi, Haeji tiba-tiba saja muncul dikehidupanku—hanya beberapa hari—dan membuat segalanya berubah.

“chukkae!” teriak Onew begitu aku masuk ke ruang kelas. Jonghyun dan Minho ikut-ikutan tersenyum di samping Onew. Aku hanya mengerutkan keningku, tanda tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

“kau putus dengan Jessica kan?” tanya Jonghyun yang membuatku akhirnya mengerti arah pembicaraan ini.

“akhirnya kau lepas juga dari jeratan dia. Sepertinya kemarin terjadi sesuatu antara kau dan Haeji, iyakan?” tanya Minho dengan insting detektifnya. Aku hanya tersenyum kecut. Apa yang dipikirkan Haeji ya? Apa mungkin dia berpikir kalau aku mempermainkan dia? Aku mencoba memfokuskan pikiranku setelah duduk di samping Onew, aku mencoba mencari tau apa yang akan terjadi pada Haeji, tapi lagi-lagi tidak bisa. Bayangan Haeji sama sekali tidak muncul. Ada apa ini? Kenapa hanya Haeji yang tidak bisa kulacak?

Begitu jam pelajaran habis, aku langsung berlari keluar kelas dan mencari Haeji, aku menemukannya sedang berjalan santai keluar dari salah satu kelas.

“Haeji!” panggilku. Haeji menoleh dan tersenyum sekilas. “bisa bicara?” tanyaku lagi. Aku dan Haeji duduk di ruang kelas yang kosong. Kami sama-sama diam, tidak tau harus berkata apa.

“soal kemarin—“ kataku yang langsung dipotong oleh Haeji.

“mianhae, pacarmu jadi salah paham.” Katanya sambil menunduk.

“aniya. Itu bukan salahmu, toh aku yang memulai, seharusnya akulah yang minta maaf.” Sunyi lagi ketika aku selesai berbicara.

“Sica dan aku pacaran sejak 2 tahun yang lalu. Kami dari SMA yang sama. Setahun setelah hubungan kami, aku tau kalau dia selingkuh. Teman-temanku juga tau. Tapi aku mencoba untuk menutup mata karena aku sangat menyayanginya. Tapi aku justru salah, caraku menyayanginya justru menghancurkan dirinya dan perasaanku padanya. Perasaanku padanya sudah sangat memudar dan pada saat itu kau muncul dan mengusir dia dari penglihatanku.” Aku tertawa kecil, Haeji masih terus menunduk.

“jadi, kenapa kemarin kau melakukan itu padaku?” tanyanya, sengaja tidak mengatakan kata ciuman.

“aku—“ lagi-lagi kata-kataku terpotong. Sesuatu meluncur turun dari buku yang digenggang Haeji. Aku memungut benda yang tergelatak dilantai. Sebuah pembatasan buku yang dibuat menggunakan bunga yang dikeringkan, setangkai bunga putih.

“ah, gomawo. Itu adalah kenangan yang tertinggal dari dongsaengku.” Jawabnya lembut. Mataku terbelalak ngeri melihatnya.

“Key-ah, waegure?”

“mianhae, jeongmal mianhae Haeji-ah. Kurasa akulah yang membunuh dongsaengmu.” Suaraku sedikit bergetar mengatakannya, Haeji hanya melihatku dengan tatapan tidak mengerti.

“mungkin kau tidak akan percaya, tapi aku bisa ‘melihat’ sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Aku melihat kecelakaan yang menimpa dongsaengmu, sesaat sebelum kecelakaan itu benar-benar terjadi. Tapi aku tidak melakukan apapun untuk mengubahnya, aku hanya membiarkan hal itu terjadi.” Sesalku.

“maksudmu, kau tau bahwa dongsaengku akan mengalami kecelakaan itu?” tanyanya lagi. Aku mengangguk kecil.

“ne, awalnya aku berpapasan dengan dongsaengmu yang sedang bersepeda. Aku melihatnya memetik bunga putih itu. Tak lama kemudian, tanpa kukehendaki, aku melihat masa depannya, aku melihat dia memetik bunga itu untuk diberikan pada noonanya, karena terlalu bersemangat, dia tidak melihat ke sekelilingnya, sebuah BMW berkecepatan cukup tinggi muncul dari arah yang berlawanan, dan kecelakaan pun tidak bisa dihindari. Mianhae.” Kataku kembali tertunduk, aku bisa mendengar suara Haeji yang terisak dan berlari meninggalka kelas.

Aku tidak berani mengejarnya, maka kuputuskan untuk pulang. Pikiranku dipenuhi oleh Haeji, tanpa sadar aku sudah berada di dalam rumah. Taemin menghampiriku dan menepuk pundakku.

“hyung, jangan menyalahkan dirimu seperti ini. Aku tau kok kalau kau selalu menyesal setiap kali kau menyaksikan sesuatu dari penglihatanmu itu.” Kata Taemin

Aku mengacuhkan dan menghempaskan tubuhku diatas sofa. Mulutku terkunci rapat, tidak bisa mengucapkan apapun. Apa mungkin Haeji membenciku sekarang? Kemana dia? Dia tidak akan melakukan hal yang bodohkan?

“kalau khawatir, kenapa tidak mencarinya? Meskipun akhirnya dia membencimu, setidaknya kau memberitaukan perasaanmu padanya hyung.” Taemin lagi-lagi menepuk pundakku, membuatku merasa nyaman. Disaat-saat seperti ini, aku merasa bersyukur karena aku tidak perlu menyuarakan pikiranku pada Taemin.

Aku lagi dari rumah, mencoba mencari Haeji. Aku tidak bisa melihatnya di manapun. Baru kali ini aku sangat membutuhkan kemampuanku ini untuk mencari Haeji, tapi kemampuanku malah tidak berfungsi, sial! Aku mencoba mencari data Haeji dan datang ke rumahnya. Tetangganya bilang dia belum pulang. Aku sempat putus asa, tidak tau harus ke mana.

“mungkin dia kekuburan adiknya.” Kata seorang ahjussi. Ahjussi itu memberikan alamatnya padaku, aku mengucapkan terimakasih dan bergegas ke sana.

Aku sempat takut, takut kalau Haeji tidak ada di sana. Tapi aku bisa melihat Haeji yang sedang menangis di depan nisan putih.

Dia menatapku dengan matanya yang sembab.

“mianhae..” kataku lirih sambil mendekatinya. Dia menghapus sisa airmatanya.

“saat ini kau mungkin saja membenciku karena telah membiarkan dongsaengmu meninggal. Mianhae, tapi kau pasti tidak tau bagaimana aku selalu menyesali apa yang kulihat tanpa bisa berbuat apa-apa kan?” tanyaku lirih.

Haeji masih tidak mau mengatakan apa-apa. Airmatanya yang hampir mengering sekarang meleleh lagi, menyayat hatiku.

“Haeji-ah, saranghae..” Haeji hanya menatapku, lalu kembali menghapus airmatany, meski airmatanya tidak bisa berhenti mengalir.

“gomawo, karena kau telah memberitaukanku bahwa bunga itu diberikan dongsaengku untukku. Kenanganku tentang bunga itu semakin berharga bagiku sekarang. Aku tidak menyalahkanmu, bukankah kau bilang kecelakaan itu memang tidak bisa dihindari?” tanyanya dengan suara serak.

“tapi aku melihatnya sebelum kecelakaan itu terjadi Haeji, aku bisa saja mencegahnya.” Bantahku.

“aniya, tidak semua takdir bisa dirubah, Key. Ada beberapa hal yang memang sebaiknya terjadi, meski hal itu sangat menyakitkan. Dan mungkin saja, dongsaengku ingin mempertemukanku dengan malaikat penjagaku.” Sebuah senyum tulus terukir dibibir mungilnya. Sebelum aku sempat mencerna maknanya, dia memeluk dengan erat.

“naddo saranghae” bisiknya ditelingaku.

 

EPILOG

Langit sudah tampak semakin gelap, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tapi aku dan yeoja disampingku masih terus berjalan berdampingan tanpa tergesa-gesa. Kami menikmati pemandangan malam dan semilir angin yang menyapu kulit kami. Aku mengeratkan genggaman tangan kami, mengharapkan bahwa genggaman kami tidak akan pernah terpisahkan.

“apa kau tau? Baru kali ini aku tidak bisa menggunakan vision eyesku pada seseorang. Aku sempat merasa kesal karena tanpa hal itu, aku tidak bisa melihat apa yang akan kau lakukan, aku tidak bisa tau apa yang akan terjadi padamu.” Kataku padanya.

“hmmm, apa kau pernah menonton twillight?” tanyanya padaku. Aku hanya mengerutkan keningku.

“aku sedang bicara tentang vision eyesku, kenapa kau malah bicara tentang film?”

“pabo, maksudku, mungkin aku seperti Bella. Bukankah Edward juga tidak bisa membaca pikirannya? Mungkin masa depanku terlalu rumit hingga kau tidak bisa melihatnya.” Jawabnya santai.

“maksudmu, kau orang aneh?” godaku, dia tidak menanggapinya dan terus tersenyum.

“tapi baguslah, jadi kau tidak akan bisa tau kalau aku selingkuh.” Godanya, aku pura-pura cemberut dan dia langsung mencubit pipiku.

“aku rasa aku ada penjelasan yang logis tentang hal ini.” Jawabku sumringah, ketika mendapatkan teori yang masuk akal. Haeji berhenti melangkah dan menatapku, menunggu kalimatku selanjutnya.

“aku bisa melihat masa depan orang lain, tapi aku tidak bisa melihat masa depanku sendiri. Dan kau adalah masa depanku, makanya aku tidak bisa melihatmu.”

 

THE END

9 thoughts on “The Story of Love – Creating Destiny”

  1. T.O.P B.G.T
    aku suka ceritanya . Kekeke
    tapi aku jeLes sama haeji .
    Heump x(
    but, 12 jempoL deh buat yuyu unnie🙂 *pnjem jempoL2ny oppadeuL shinee*

  2. keren banget !!!!! eonni~~~
    Aq ska bgt kta-kta akhr.a key….
    sweet bgt!!!!
    >///<

    gak ad ksn ngegombalnya
    tapi bikin hati rsa gmn gitu….
    pkk.a kren dhe!!!!*aneh*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s