The Last Time Part 12

Sebelumnya . . .

Tanpa sadar kumenitikkan airmata, aku merenungi satu persatu komentar-komentar ELF padaku. Kebanyakan dari semuanya, mereka mengkhawatirkanku. Aku memutuskan sambungan internet dan mematikan komputernya. Aku berjalan menuju balkon, memandang keramaian kota Seoul. Aku merentangkan tanganku sambil menutup mataku, dan menghirup udara dalam-dalam. Entah apa yang aku lakukan, tapi aku merasakan kalau tubuhku sangat ringan seperti sedang terbang.

THE LAST TIME Part XII

Aku tidak mau membuka mata ini, karena aku takut akan kehilangan sensasi ini. Semakin lama, tubuhku terasa semakin ringan. Tapi tiba-tiba . . . BRAKK . . . aku merasa tubuhku jatuh dengan sangat keras. Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku. Aku membuka mataku.

“Kibum, apa yang kau lakukan?” aku melihat Kibum yang terkapar, sama sepertiku.

“Harusnya aku yang menanyakan itu padamu. Apa yang sedang hyung lakukan di pagar balkon itu? Mau menirukan adegan Titanic?”

“Wae? Aku hanya berdiri di balkon, bukan pagar balkon.”

“Saat aku datang, kulihat hyung sedang berdiri di pagar balkon. Merentangkan tangan sambil menutup mata. Persis seperti adegan Kate Winslet di Titanic.”

“Yang benar?” tanyaku tidak percaya. Kibum mengangguk yakin.

“Kupikir, hyung mau bunuh diri. Aku sudah beberapa kali memanggil hyung, tapi hyung tidak mendengar. Jadi kutarik hyung hingga jatuh, aku tidak mau kehilangan hyung untuk yang kedua kalinya.”

“Maksudmu?”

“Sudah cukup, kemarin hyung mendapat kecelakaan. Meskipun aku tidak pernah menjenguk hyung di rumah sakit. Aku merasa benar-benar takut, hyung akan meninggalkanku. Meninggalkan kami semua.”

Aku banyak mendengarkan curahan hati Kibum. Belum pernah, Kibum banyak bercerita banyak seperti sekarang ini. Kami masih seperti posisi semula, berbaring di balkon sambil saling berhadapan. Rasanya sangat nyaman berbaring disini.

“Kibum-ah, dari tadi kita masih seperti ini. Rasanya aneh saja, tapi hyung merasa angat nyaman. Hyung tidak ingin bangun.”

“Ne, akupun merasakan hal yang sama.” Kami tertawa karena kelakuan kami sendiri.

“Kalian sedang apa?” ucap sebuah suara dan berhasil menghentikan kami. Aku memalingkan wajahku untuk melihat pemilik suara itu. Aku langsung berdiri. Kibum mengikuti.

“Aneh, apa yang kalian lakukan? Tidur-tiduran di balkon dan tertawa-tawa seperti itu.” Aku tertegun dan langsung memeluk orang itu.

“Ya! Hyung, aku tidak bisa bernapas.” Aku langsung melepaskan pelukanku. Orang itu kemudian memeluk Kibum yang diam tertegun. “Kibum-ah, kau kenapa? Katakan sesuatu!”

“Hyung, bogoshipo!” ucap Kibum langsung memeluk erat orang itu.

“Ne, aku tahu.”

“Hankyung-ah . . .” orang itu Hankyung. Orang yang sangat kami rindukan. “Kapan kau datang ke Seoul?”

“Tadi pagi.”

“Ada urusan apa kau ke Seoul? Bukankah kau sedang melakukan promo untuk album barumu?”

“Hyung, aku ingin melihat keadaanmu. Aku terus merasa bersalah karena belum sempat menjengukmu. Tapi sepertinya kau sudah sembuh.”

“Ne, aku baru keluar rumah sakit tadi pagi.”

“Mwo? Cepat sekali?”

“Sudahlah, sekarang sudah waktunya jam makan siang. Buatkan kami nasi goring Beijing.” Pintaku.

“Untuk berapa orang?”

“Kau pikir, sekarang ini kita ada berapa orang?”

“3.” Jawabnya polos.

“Lalu, kenapa kau masih bertanya lagi?”

“Untuk yang lain?”

“Percuma kau membuatkannya sekarang. Mereka baru akan pulang nanti sore, kalau kau membuatnya sekarang tidak akan enak.”

“Benar juga. ya sudah, aku akan membuatkan nasi goring Beijing.” Hankyung langsung melenggang masuk kedalam dapur. Sementara sambil menunggu nasi goring siap, aku dan Kibum menonton TV. Meskipun tidak ada acara yang menarik.

“Hyung aku bosan menonton TV, bagaimana kalau kita main game.”

“Kau sudah ketularan Kyuhyun rupanya, sejak kapan kau suka main game?”

“Sejak saat ini. Tidak ada yang bisa kita kerjakan lagi, lebih baik kita coba hobi si magnae itu. Aku ingin tahu, kenapa dia fanatic sekali bermain game.”

“Let’s go!” ucapku singkat meninggalkan Kibum yang masih berbicara.

“Hyung, tunggu aku!” aku dan Kibum berjalan masuk kedalam Kyuhyun. Mencari Play Station miliknya. “Hyung, aku menemukannya.”

“Ya sudah, kita main di ruang tengah saja.”

“Ne.” Kibum mengangguk senang.

“Makanan sudah siaaaaaappppppp . . .” teriak Hankyung dari dapur. Aku dan Kibum langsung meninggalkan permainan kami dan berlari menuju dapur.

“Wangi sekali, sudah lama aku tidak mencium wangi nasi goreng Beijing buatanmu.”

“Ayo cepat makan.” Kami bertiga makan bersama.

Heechul POV

Kurebahkan badanku di kursi mobil, hari ini benar-benar melelahkan. Aku mencoba menutup mataku dan tertidur, tapi suara Eunhyuk dan Donghae berhasil menggagalkannya.

“Ya! Kalian berdua, bisa tenang sedikit tidak. Aku lelah, ingin tidur.”

“Mianhae hyung!” Jawab mereka bersamaan.

Akhirnya aku bisa tidur dengan tenang juga.

“Hyung bangun, sudah sampai.” Ucap sebuah suara. Aku membuka mataku perlahan.

“Wae?”

“Sudah sampai.” Ucap Yesung.

Aku turun dari mobil bersama Yesung, member yang lain menunggu kami di lobi. Kami semua masuk kedalam lift dan menekan tombol lantai 12 terlebih dahulu. Yang tersisa di lift tinggal aku, Yesung, Shindong dan Donghae. Kami menekan tombol lantai 13.

“Hyung, sekarang jam berapa?” Tanya Donghae padaku.

“Bukankah kau memakai jam tangan. Kenapa bertanya padaku?”

“Aku lupa hyung.” Jawab Donghae sambil cengengesan.

“Jam berapa?”

“Masih jam 1. Nanti sore aku akan ke rumah sakit lagi.”

“Aku akan ikut bersamamu.” Ucap Yesung. Dibalas anggukan kepala oleh Donghae.

Saat sampai di depan pintu dorm, aku mencium wangi yang sudah lama tidak aku cium. Wangi yang selama kurang lebih 8 tahun ini menemaniku. Dengan segera aku membuka pintu dorm dan berlari kedalamnya. Aku langsung berlari menuju dapur. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku lihat, orang yang sangat aku rindukan ada disana. Aku langsung berlari dan memeluknya.

“Ya! Kau memelukku terlalu erat, aku tidak bisa bernapas.” Aku melepas pelukanku.

“Babo!” aku memukul kepalanya. “Kapan kau datang, kenapa tidak memberitahuku?”

“Ya! Kenapa kau harus memukul kepalaku? Aku baru satu jam disini. Dan ternyata ada mereka.”

“Jungsu, kenapa kau ada disini?” kali ini kecerewetanku beralih pada Jungsu.

“Aku keluar dari rumah sakit tadi pagi.”

“Kenapa kau tidak memberitahu kami?”

“Kalau aku memberitahu kalian, aku yakin kalian akan meninggalkan pekerjaan untuk menjemputku.”

“Ya sudah, buatkan nasi goreng Beijing untukku!” Hankyung langsung berjalan menuju dapur.

“Hyung, kenapa kau sudah pulang? Memangnya dokter sudah mengijinkanmu pulang?” ucap Donghae.

“Ne, kalau aku tidak diijinkan. Aku mana mungkin ada disini.” Jawab Jungsu mengusap kepala Donghae lembut.

“Hyung, ayo ke kamar!” ajak Donghae menarik tangan Jungsu.

Tidak berapa lama, Hankyung sudah menyiapkan nasi goreng Beijing untukku, Shindong, Yesung, dan Donghae.

“Shindong-ah, panggil Donghae! Yesung, kau telepon ke dorm bawah. Beritahu, Hankyung disini.” Dengan sigap mereka melaksanakan perintahku.

“Kau ini, bisanya hanya memerintah saja.”

“Wae?” protesku tidak terima perkataan Hankyung.

Donghae POV

“Ya! Donghae ada apa kau mengajakku ke kamar? Dari tadi kau sibuk sendiri membereskan pakaianmu.” Ucap Leeteuk hyung. Aku tidak menggubrisnya dan masih memasang wajah cemberut. “Sebenarnya kau kenapa?”

“Hyung kenapa tidak memberitahuku kalau hyung sudah keluar rumah sakit.” Aku mengomeli Leeteuk hyung.

“Kenapa kau sewot sekali?” tanyanya heran.

To Be Continue . . .

4 thoughts on “The Last Time Part 12”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s