The Last Time Part 13

Sebelumnya . . .

Donghae POV

“Ya! Donghae ada apa kau mengajakku ke kamar? Dari tadi kau sibuk sendiri membereskan pakaianmu.” Ucap Leeteuk hyung. Aku tidak menggubrisnya dan masih memasang wajah cemberut. “Sebenarnya kau kenapa?”

“Hyung kenapa tidak memberitahuku kalau hyung sudah keluar rumah sakit.” Aku mengomeli Leeteuk hyung.

“Kenapa kau sewot sekali?” tanyanya heran.

THE LAST TIME Part XIII

“Bagaimana aku tidak sewot, kau keluar rumah sakit tanpa memberitahu salah satu dari kami. Kalau terjadi sesuatu denganmu di jalan bagaimana?”

“Donghae-ah, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

“Terserah hyung saja.” Aku keluar kamar meninggalkan Eeteuk hyung sendirian. Eeteuk hyung berteriak memanggilku tapi aku tidak mempedulikannya. Aku sangat mengkhawatirkan keadaannya, tapi dia seperti tidak mau mendapatkan perhatian. Terserah.

“Donghae-ah, kenapa wajahmu seperti itu?” Tanya Yesung hyung yang melihat ekspresi wajahku yang kesal.

“Aku hanya sedang sebal saja pada Leeteuk hyung.”

“Wae?” ucap Heechul hyung, Hankyung hyung, Yesung hyung, Shindong hyung, dan Kibum bersamaan.

“Kalian tahu kan, aku sangat mengkhawatirkan keadaan Leeteuk hyung. Tapi dia seolah-olah tidak suka diperhatikan.”

“Kau tahu sendiri kan bagaimana sifatnya? Mengertilah!” ucap Heechul bijak.

“Ne, Eeteuk hyung tidak seperti Heechul hyung yang maunya diperhatikan saja.” Ucap Hankyung hyung. Kami tertawa mendengarnya.

“Mwo? Apa yang katakan barusan?” ucap Heechul hyung tidak terima.

“Memang benar kan?” jawab Hankyung hyung enteng. “Sudahlah, kalian cepat makan nasi gorengnya! Nanti keburu dingin.”

“Yesung, kau sudah memberitahu yang lain kan?” Tanya Heechul hyung.

“Ne.” jawab Yesung hyung singkat.

“Kenapa mereka belum datang?” kami semua menggeleng. Kecuali Hankyung hyung yang masih sibuk membuat nasi goring Beijing untuk member yang belum datang.

Kyuhyun POV

“Hyung, aku pergi dulu ya!” pamitku kepada para hyungku.

“Kau mau kemana? Baru datang, sudah mau pergi lagi.” Timpal Sungmin hyung.

“Aku mau ke rumah sakit. Aku ingin menjenguk Eeteuk hyung. Aku sangat merasa bersalah padanya, jadi aku harus merawatnya.”

“Tapi kau belum makan siang. Makanlah saja dulu!”

“Aniyo, aku akan makan di rumah sakit. Menemani Eeteuk hyung.”

“Aku bilang MAKAN!” teriak Sungmin hyung yang sontak membuatku kaget setengah mati.

“Ya! Tapi kau tidak perlu teriak sekeras itu kan?”

“Salahmu sendiri kenapa tidak menurut.”

“Hei hei hei . . . kenapa kalian bertengkar?” Tanya Eunhyuk hyung.

“Hyung, aku mau menjenguk Eeteuk hyung di rumah sakit. Tapi Sungmin  hyung tidak mengijinkannya.” Ucapku manja pada Eunhyuk hyung. Berharap dia akan membelaku. Meskipun kecil harapannya.

“Aku tidak bilang kalau aku tidak mengijinkanmu. Aku hanya bilang, kau makan siang dulu baru pergi.” Timapa Sungmin hyung.

“Ne, sebaiknya kau makan siang dulu. Wookie akan segera memasak untuk kita. Tunggulah sebentar!” putuslah sudah harapanku. Memang susah kalau menjadi magnae.

“Hyung . . . hyung . . .” teriak Wookie hyung dari dalam kamarnya.

“Ya! Kau kenapa teriak-teriak seperti itu?” protes Sungmin hyung yang sedang menonton TV.

“Barusan Yesung hyung menelponku.”

“Lalu apa menariknya?”

“Dia bilang, Hankyung hyung . . . Hankyung hyung . . . Hankyung hyung ada di dorm atas.”

“Mwo?” kataku, Sungmin hyung, dan Eunhyuk hyung bersamaan.

“Kita disuruh ke dorm atas.”

“Cepat!” ajak Eunhyuk hyung semangat. Kami berlari mengikuti dari belakang.

Kami semua masuk kedalam lift dan Sungmin hyung menekan tombol angka 13. Tapi saat lift baru berjalan, tiba-tiba saja lift itu langsung berhenti.

“Aaaaaaarghhh . . .” kami berteriak karena kaget.

“Hyung, liftnya kenapa berhenti?” para hyungku menggeleng. Sungmin hyung mencoba menekan tombol untuk membuka pintu lift. Tapi percuma, pintu lift tidak terbuka.

“Liftnya mati.” Lirih Eunhyuk hyung.

“Lalu bagaimana?” ucap Wookie hyung yang mulai ketakutan. Aku mengecek handphoneku, berharap ada sedikit signal yang masuk. Nihil.

“Tekan tombol darurat itu!” perintah Sungmin hyung padaku yang kebetulan dekat dengan tombol emergency. Aku segera menekannya. Ternyata berhasil, tombol menyala. “Sekarang kita tinggal menunggu.”

5 menit . . .

10 menit . . .

15 menit . . .

Lift menyala lagi. “Hyung, liftnya sudah betul.” Ucapku antusias.

“Ne.” ucap hyung-hyungku bersamaan. Lift itu bergerak naik keatas. Saat sampai di lantai 13, pintu lift terbuka. Saat pintu lift terbuka, ada beberapa satpam sedang berdiri di depan lift.

“Kalian baik-baik saja?” Tanya seorang satpam pada kami.

“Ne, kenapa liftnya bisa mati?” Tanya Sungmin hyung.

“Mianhae, tadi listriknya sempat mati sebentar. Karena jalur listriknya berbeda, jadi lift harus dinyalakan sevara manual.”

“Oh, baiklah kalau begitu. Kamsahamnida!” ucap Sungmin hyung kemudian berjalan menuju salah satu kamar. Kami semua mengikuti dari belakang setelah berpamitan pada satpam-satpam itu. Tanpa menekan bel pintu, Sungmin hyung langsung masuk kedalam dorm. Dan kami masih mengikutinya dari belakang.

“Kalian sudah datang?” ucap sebuah sura yang sangat familiar di telingaku. Kutengok kedalam ruangan, karena aku masih membuka sepatuku. “Hankyung hyung.” Gumamku. Aku segera membuka sepatuku dan berlari masuk kedalam. Satu persatu mulai dari Sungmin hyung, Eunhyuk hyung, Wookie hyung dan terakhir aku memeluk Hankyung hyung.

“Hyung, kapan kau datang?” tanyaku padanya.

“Satu jam yang lalu. Hyung, wangi ini . . .” aku mencium wangi yang sangat khas di hidungku.

“Aku sudah membuatkan nasi goreng Beijing untuk kalian. Tapi sepertinya sudah mulai dingin. Karena kalian terlalu lama.” Ucap Hankyung hyung sambil berjalan menuju dapur.

“Kalian sudah datang, kenapa lama sekali. Hampir saja, jatah kalian aku makan.” Ucap Heechul hyung.

“Kami tadi terjebak di dalam lift.” Jawabku lemas.

“Mwo? Kenapa bisa?” Tanya Hankyung hyung.

“Karena tadi listriknya mati, tapi karena jalur listriknya berbeda, lift harus dihidupkan secara manual. Jadi sedikit lama.” Jelasku sambil menyantap nasi goreng Beijing buatan Hankyung hyung. “Hyung, setelah makan aku mau ke rumah sakit. Kau mau ikut?” tawarku pada hankyung hyung.

“Untuk apa? Kau sakit?” tanyanya heran.

“Aku mau menjenguk Eeteuk hyung.”

“Aku sudah menjenguknya. Dan sepertinya dia sudah sehat.”

“Kapan hyung ke sana? Bukankah hyung baru datang?”

“Karena aku ada disini.” Aku langsung memalingkan wajahku. Sungmin hyung, Eunhyuk hyung dan Wookie hyung melakukan hal yang sama. Aku tersedak karena kaget, Kibum hyung memberiku segelas air putih.

“Hyung, kapan kau pulang?” tanyaku heran.

“Tadi pagi.”

“Kenapa tidak memberitahu kalau hyung sudah pulang?”

“Kalian kan sedang ada pekerjaan, mana mungkin aku mengganggu kalian hanya untuk menjemputku di rumah sakit.”

“Hyung, seperti ada yang berbeda.”

“Wae?”

“Rambutmu, kau memotongnya? Sedikit lebih tipis.”

“Ah, ne.” ucapnya sambil mengelus pelan kepalanya.

Malam harinya . . .

Aku mengetuk pintu kamar Eeteuk hyung dan Dongahe hyung. Setelah diijinkan masuk oleh yang punya kamar, aku melenggang masuk kedalamnya.

“Ada apa Game Kyu? Aku tidak punya game baru.” Ucap Teuki hyung asal.

“Ya, untuk apa meminta game baru padamu. Aku bisa mendapatkannya sendiri.”

“Lalu?”

“Aku ingin tidur bersamamu.”

“Mwo? Kau kan punya kamar sendiri. Lalu Donghae mau dikemanakan?”

“Kita kan bisa tidur bertiga. Ayolah hyung . . .!” pintaku manja.

“Ya! Kyuhyun, apa sedang kau lakukan?” ucap Donghae hyung yang baru keluar dari kamar mandi.

“Hyung, ijinkan aku tidur disini. Malam ini saja!” aku langsung menghampiri Donghae hyung sambil bergelayutan di tangannya.

“Ya! Aku hanya memakai handuk, kau bisa melorotkannya kalau seperti itu.”

“Hyung, aku mohon!”

“Baiklah aku mengalah, aku akan tidur bersama Sungmin. Hanya malam ini saja. Aku akan berpakaian dulu.” Setelah memakai pakaiannya, Donghae hyung keluar kamar menuju dorm bawah, menggantikanku tidur bersama Sungmin hyung.

“Kemarilah!” ucap Eeteuk hyung yang sudah terbaring di kasurnya. Aku segera lompat dan berbaring di sampingnya. “Kyuhyun-ah, kau kenapa? Manja sekali, kau biasanya tidak suka bermanja-manja denganku. Ada apa? Ceritakan padaku!”

“Hyung . . .” aku berusaha merangkai kata-kata, agar hyungku itu tidak tersinggung. “Setelah kecelakaan minggu kemarin, entah kenapa aku selalu merasakan hal yang tidak enak akan menimpa dirimu. Aku selalu merasa akan kehilanganmu selama-lamanya. Setiap malam, akupun suka memimpikan hal-hal aneh tentang dirimu.”

“Apa itu?”

To Be Continue . . .

Iklan

6 thoughts on “The Last Time Part 13”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s