The Story Of Love-Listen To Your Mind

AUHTOR : Yuyu

a/n ::. ini ff selingan sambil menunggu ff series author ya^^~ setelah nulis ff os nya Key tentang vision eyes—yang terinspirasi dari curhatan teman—kali ini ff os nya Taemin =D happy Reading^^

kalimat yang ditulis dalam format italic berarti diucapkan dalam hati ataupun dalam pikirannya

Creating Destiny (Key)

“apa yang sebaiknya kumasak untuk makan malam ya?”

“apakah malam ini oppa akan menelponku?”

“huh, aku harus putus dengan yeoja ini segera.”

“Hah, hari ini lembur lagi.”

“Ttsk, menyusahkan saja orang ini. kenapa dia harus menempel padaku?”

“Waahm yeoja itu seksi sekali.”

“apa dia berselingkuh ya?”

“Dongsaeng menyebalkan, kenapa aku harus menjaganya? Padahal aku kan ada kencan malam ini.”

manusia, adalah makhluk yang paling kotor. Mereka berpura-pura baik, tapi dalam pikiran mereka berbeda dengan apa yang mereka katakan dan mereka tunjukan. Manusia penjilat, sudah banyak aku menemui manusia seperti itu. Apakah tidak ada satu orang saja di dunia ini yang berhati tulus?

Malam ini, salju pertama turun. Seluruh permukaan kota Seoul jadi tertutup selimut putih. Dan aku sama sekali tidak merasakan kehangatan yang selalu kucari. Semua orang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, tidak ada satu orangpun yang bahkan peduli pada seorang yeoja kecil yang tidak berhenti menangis karena terpisah dengan orangtuanya. Aku berjalan mendekati yeoja itu, tapi terhenti ketika seorang yeoja dari arah berlawanan berlari mendekatinya.

“Kenapa adik kecil itu?”

“adik kecil, kenapa menangis?” tanya yeoja berseragam SMA.

“aku tersesat unnie.”

“ayo, unnie bantu kau mencari eomma dan appa mu.” Sebuah senyum terukir dibibirnya.

“Sudah berapa lama adik kecil ini menangis sendirian di sini? Tangannya sampai membeku. Harus mulai mencari dari mana? Eomma pasti sudah mengomel karena aku belum pulang. ah, sudahlah, yang penting aku harus membantu adik kecil ini dulu ”

Malam ini, pertama kalinya aku mendengar seseorang yang mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri. Ternyata dunia yang kutempati ini belum sepenuhnya kotor. Masih ada orang-orang yang berhati tulus. Salju turun semakin deras, tapi aku justru merasa hangat, merasa hangat oleh ketulusan yeoja itu.

***

“hyung, kau kenapa? Wajahmu pucat.” Tanyaku begitu masuk ke kamar Key hyung.

“jam berapa sekarang?” tanya hyung berusaha untuk bangun, tapi kemudian mengurungkan niatnya dan  memilih untuk kembali berbaring.

“sudah hampir jam 7, aku mengetuk pintu kamarmu sejak setengah jam yang lalu, tapi kau tidak menjawabnya. Apa kau sakit? Kau berkeringat banyak sekali hyung.” Cerocosku.

“aku sendiri tidak tau, kemarin aku baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda akan sakit. Apa mungkin karena memar di punggungku?”

“memar terkadang memang bisa menyebabkan demam hyung. Harusnya kau berobat ke rumah sakit untuk mengobati memarmu. Sudahlah, hari ini kau tidak usah kuliah saja ya. Aku harus ke sekolah sekarang, aku hampir terlambat.”

Hyung mengangguk mengikuti nasihaku.

“padahal baru kemarin aku bertemu dengan Haeji, dan hari ini aku kembali tidak bisa melihatnya karena demam tolol ini. Kenapa harus sekarang sih?”

“Haeji? Siapa dia hyung? Bukannya pacarmu itu Sica noona? Kalau kau begitu ingin bertemu dengan Haeji, sebaiknya kau suruh saja dia datang.” Kataku sebelum melangkah keluar dari kamarnya.

“yaaaaa! Berhentilah membaca pikiranku!” omel hyung kesal dan melemparkan bantal ke arahku, tapi dengan cepat kututup pintu, hingga bantalnya mengenai daun pintu dan terjatuh.

“aku pergi hyung!!!! Jangan lupa suruh Haeji noona untuk datang, aku ingin melihatnya!” teriakku dari luar kamar hyung.

Dasar hyung pabo. Jangan salahkan aku kalau aku membaca pikirannya terus. Kata-kata yang ada dipikirannya terdengar jelas ditelinga, sama seperti ketika diucapkan melalui mulut.

Aku sendiri tidak tau, dari mana kekuatan aneh yang kami miliki ini, karena appa dan eomma jelas manusia normal, kekuatan ini tidak menurun dari mereka. Hyung dengan vision eyesnya yang bisa tau apa yang akan terjadi. Dan aku—entahlah, aku tidak tau apa nama kekuatan ini—yang bisa mendengar apapun yang ada dipikiran orang lain.

Aku berhenti di pemberhentian bus dan menunggu bus yang akan mengantarku ke sekolah. Sepasang namja dan yeoja berseragam sepertiku ikut menunggu di sebelahku sambil bergandengan tangan. Yeoja itu siswi kelas 2-3, teman sekelasku, dan namja itu adalah sunbaeku dikelas 3.

“akhirnya aku bisa pacaran dengan oppa. Teman-teman satu sekolah pasti akan iri. Gumam yeoja itu dalam hati. Padahal wajahnya cukup manis, tapi sayang hati dan pikirannya tidak cocok dengan wajahnya.

Hah! Aku menghela nafas pelan dan memandang langit. Dunia yang kotor dan licik ini memang tidak cocok untuk namja baik hati nan imut sepertiku.

“Taemin, kau mau ke mana?” panggil Wookie, teman sekelas—sebangku—ku begitu melihatku keluar kelas sewaktu jam istirahat.

“aku mau ke kelas istriku dulu.” Jawabku sambil tersenyum.

“Dasar,  dia tidak kapok apa ditolak terus” akh, dasar Wookie reseh. Seharusnya kan dia mendukungku, huh!

Di sepanjang koridor, aku berpapasan dengan banyak orang dan pikiran mereka terus saja tersampaikan ditelingaku.

“wah, Taemin imut banget.”

“Huh, kenapa Taemin tergila-gila dengan yeoja itu sih?”

“Taemin menghampiri yeoja itu lagi?”

“Apa bagusnya sih yeoja itu?”

“Oh my, Taemin! Dia tersenyum padaku. aku hampir meleleh.”

Aku tertawa kecil mendengar berbagai macam pikiran mereka. Aku yang dulu—setahun lalu—mungkin akan merasa muak dengan pikiran mereka yang munafik itu. Tapi tidak masalah, sekarang kan aku sudah ada dia, biarkan saja manusia-manusia kotor seperti mereka terus berpura-pura baik.

“annyeong!” teriakku begitu sampai di depan kelasnya.

“Mau apa lagi dia?” lagi-lagi pertanyaan yang sama yang terlontar dari benaknya.

“noona, aku ke sini untuk bertemu denganmu. Kenapa kau selalu jutek padaku sih?” kataku berpura-pura sedih.

“sampai kapan sih kau mau bermain? Kau tidak capek apa terus menggangguku?” omelnya sambil memasukkan bukunya ke laci.

“aku tidak mengganggumu noona, tapi aku justru sedang mengunjungimu. Aku kan harus menjaga istriku dari gangguan namja-namja nakal.”

“Mwo? Istri?” mata noona terbelalak.

“ne, noona. Sudah ratusan kali kubilang, sejak setahun yang lalu ketika aku pertama kali melihatmu, kau adalah milikku, kau akan menjadi istriku.”

“Lee Taemin ..” Noona memejamkan matanya, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.

“ah, ara, ara. Aku akan pergi. Jangan menendangku lagi noona.” Kataku pasrah ketika mendengar pikirannya yang ingin menendangku dengan jurus-jurus karatenya.

“Kim Haneul, saranghae.” Kataku dengan suara yang cukup keras di depan pintu kelasnya. Wajah noona langsung memerah dan terdengar sorakan-sorakan dari teman-teman sekelasnya.

“Dasar bocah, buat malu saja.” Ah, noona. Kenapa kau selalu mengomeliku sih?

Aku pulang ke rumah secepat mungkin, mengingat hyung yang sakit dan kami hanya tinggal berdua saja. Aku mengganti seragamku dengan pakaian santai dan melenggang ke kamar hyung.

“hyung, apa kau sudah minum obatmu?” tanyaku sambil menggoyang-goyangkan tubuh hyung pelan. Hyung hanya menggeleng dengan mata terpejam.

“Bagaimana bisa minum obat, Aku bahkan belum makan sejak pagi.”

“aigoooo~ dasar hyung manja. Kau harus makan dan minum obat teratur supaya sembuh. Tunggu di sini, akan kubuatkan bubur untukmu, setelah itu kau bisa minum obatmu.” Dengan buru-buru aku beranjak ke dapur.

“Memasak? Taemin?” tanya hyung dalam pikirannya.

“jangan banyak protes hyung!” teriakku dari dapur ketika aku mendengar kata hatinya.

Aku menyiapkan bahan-bahan yang kuperlukan dan memakai celemek. Aku menatap bahan-bahan itu dengan tatapan bingung. Apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tidak tau bagaimana caranya untuk masak bubur. Suara bel mengalihkan perhatianku, aku membuka pintu dan mendapati Onew hyung, Jonghyun hyung, Minho hyung dan seorang yeoja yang tidak pernah kulihat sebelumnya berdiri di depan pintu.

“mau menjenguk Key hyung ya? Dia baru saja bangun.” Kataku dan mempersilahkan mereka masuk.

“Key pasti terkejut kalau melihat Haeji datang menjenguknya.” pikir Onew hyung.

“oh, jadi kau Haeji noona? Bangapseumnida, aku Taemin, adiknya Key hyung. Apa kau bisa membantuku?” cerocosku sambil menarik tangan Haeji noona dan membiarkan teman hyung masuk ke kamarnya.

Haeji noona awalnya sempat bingung, tapi akhirnya dia membantuku memasak. Sebenarnya sih, dia yang memasak, dan aku yang membantunya. Begitu selesai, aku mencicipi sesuap.

“Apa Key akan menyukainya ya?” pikir Haeji noona.

“tenang saja noona, hyung pasti akan suka, bubur buatanmu enak.” Kataku sambil mengacungkan kedua jempolku. Dia hanya tersenyum malu dan melangkah ke kamar hyung.

“hyung! Buburnya sudah jadi! Aku pergi dulu ya, selamat bersenang-senang.” Teriakku. Kulepaskan celemekku dan mengambil jaket lalu berjalan keluar rumah.

Sore ini, lagi-lagi aku melangkah ke sebuah café dekat stasiun. Aku menatap sosok yang selalu berhasil menarik perhatianku dari balik kaca café. Dia sedang melayani beberapa pelanggan, wajahnya terlihat letih, tapi dia tetap saja tersenyum ramah berharap bahwa pelanggannya merasa nyaman.

Selama hampir setengah jam aku menunggu di depan café. Pintu terbuka dan tertutup beberapa kali, tapi Haneul noona masih saja belum keluar. Padahal seharusnya shift kerjanya sudah berakhir dari setengah jam lalu.

“Taemin? Kenapa kau ada di sini?” tanyanya bingung. Aku menoleh dan mendapati noona sudah mengganti seragam kerjanya dengan seragam sekolah.

“aku menunggu noona. Tidak baik kalau noona pulang sesore ini dengan masih menggunakan seragam. Pasti ada banyak nappeun namja yang akan mengganggu noona.” Balasku riang. Noona hanya menatapku dan mengerutkan keningnya.

“Apa dia tidak kedinginan menunggu diluar seperti itu?”

“aniya noona, aku tidak kedinginan. Asal bisa melihat dan berbicara seperti ini pada noona aku merasa hangat. Tapi kalau memang noona takut aku kedinginan, noona bisa …” aku menggantungkan kata-kataku dan langsung memeluknya.

“yaaa! Lee Taemin!” omel noona dengan wajah meronanya. Aku hanya tersenyum menanggapi, noona terlihat marah, padahal sesungguhnya dia berdebar-debar. Aaah~ noonaku yang cantik, kau harus menjadi milikku.

“noona, kalau kau tidak berjalan lebih cepat, kau bisa kesasar.” Ocehku padanya Haneul noona yang dari tadi terus menjaga jarak dariku. Aigooo, noona, kenapa kau jadi takut padaku sih? Aku tidak akan memakanmu. Aku menggeleng-geleng kepala mendengar pikiran aneh noona.

Tanpa aba-aba aku langsung menarik tangannya dan menggenggamnya, membuat kami berjalan berdampingan.

“Hangat.”

‘tentu saja. Haneul noona, kau memberikan kehangatan padaku, makanya aku juga membagikan kehangatanku padamu.”

“Taemin berhentilah menggodaku. Aku tidak ingin menjadi mainanmu.”

“aku tidak pernah menjadikanmu sebagai mainanku noona. Tapi, ya, aku memang sedang menggoda noona.” Aku mengerling padanya, yang membuat sebuah pukulan kecil mendarat di lenganku.

***

“Haneul noona! Aku membawakan bekal untukmu!” dengan wajah berseri-seri aku melangkah riang ke kelas noona.

“haaa, kau lagi.”

“jangan sedih seperti itu noona, kali ini kedatanganku sangat bermanfaat untukmu. Jreng! Bekal untuk noona!”

“waaah, kau yang membuatnya sendiri?” tanya noona takjub.

“hehe, tidak juga kok. Ini dibuatkan oleh hyungku. Aku sama sekali tidak jago masak.” Aku mulai membuka kotak bekal untuk noona, kemudian membuka bekal untukku sendiri.

“kelihatannya enak. Tapi bagaimana kau bisa tau kalau aku tidak bawa bekal?” tanya noona heran.

“hmm ..” aku terdiam sebentar dan menggigiti sumpitku, mencari alasan yang tepat untuk menjawabnya, “sebenarnya hari ini hyungku memasak bekal lebih, dan apa noona lupa? Tadi pagi kan noona bilang kalau noona tidak membawa bekal.” Bohongku.

“jinjja?”

“ne, selamat makan!” potongku secepat mungkin agar pikiran-pikiran noona tidak semakin mencurigaiku. Hehe, tentu saja yang kukatakan tadi bohong. Kemarin malam Key hyung melihat bahwa Haneul noona lupa membawa bekalnya hari ini, maka tadi pagi aku terus mendesak hyung untuk membuatkan dua bekal. Mianhae noona, aku berbohong. Tapi ini kan demi kebaikan, jadi kurasa tidak apa-apa.

“kau ini memang masih bocah, makan saja sampai berantakan seperti itu.” Noona tertawa kecil sambil menunjuk sebutir nasi yang menempel dibibirku. Dibilang bocah oleh noona, aku hanya bisa cemberut saja. Noona, bagaimanapun juga aku ini adalah namja.

“Lee Taemin, aku baru sadar kalau ternyata dia semanis ini. Ah, andwe! Apa yang kau pikirkan sih, Park Haneul? Taemin itu kan lebih muda setahun daripada aku.”

“noona, memangnya kalau aku lebih muda darimu, kau tidak bisa menyukaiku ya?” tanyaku lirih.

‘geureum. Kau itu lebih cocok jadi dongsaengku. Kalau kita bersama, orang-orang akan mengira bahwa aku sedang mengasuh anak kecil.”

Lagi-lagi aku hanya bisa cemberut. Aku sedih mendengar pendapat noona tentangku, tapi aku juga tidak bisa protes. Itukan pendapat jujurnya, apa yang ada dipikirannya itulah yang diungkapkannya padaku.

“yaaa, Haneul-ah, kau membuat Taemin sedih. Seharusnya kau bisa romantis sedikit pada suamimu itu.” Sahut salah seorang teman sekelas noona.

“mwo?? Ya, dia itu bukan suamiku, laigipula kami kan tidak pacaran, kenapa aku harus romantis padanya?” noona mengomeli teman sekelasnya yang sontak membuat seluruh penghuni kelas tertawa melihat reaksinya.

“Apakah aku sudah membuat Taemin sedih?”

“gweanchana noona, aku lebih suka kau jujur daripada berbohong padaku. Aku memang sedikit sedih, tapi aku tidak apa-apa kok” aku tersenyum, mencoba untuk menenangkan noona. Tapi sepertinya aku gagal, karena noona masih saja merasa khawatir padaku.

“aaah, aku sudah selesai makan, noona aku kembali ke kelas dulu ya. Annyeong.”

***

“hyung!! Lihatlah, apakah kelak aku dan Haneul noona akan menikah?” rengekku pada Key hyung saat kami sedang menonton.

“mworago?? Aisssssh~ jangan meminta yang aneh-aneh Taemin. Aku ini bukan peramal masa depan. Lagipula, kejadian yang akan terjadi 10 tahun lagi bisa saja berubah, tergantung dengan pemilik takdirnya.” Omel Key hyung sambil memukulku dengan bantal sofa.

“tapi hyung, aku benar-benar takut kalau noona tidak akan bisa menjadi milikku. Susah payah aku menemukan yeoja seperti noona, kalau sampai aku kehilangan noona, aku tidak akan bisa jatuh cinta yeoja lain lagi.” Hatiku melongos begitu mengucapkan kata-kata itu.

“memangnya, Haneul itu, sama sekali tidak menyukaimu?”

“molla. Pertama kali aku mendekatinya, dia sangat kejam padaku, sangat galak. Tapi akhir-akhir ini dia jadi mulai mengkhawatirkanku. Seperti ketika aku menunggunya pulang kerja sambilan, dan tadi sewaktu dia khawatir apakah dia membuatku sedih atau tidak.” Tanpa sadar, aku tersenyum membayangkan kejadian-kejadian itu.

“nah, itu baguskan? Sepertinya dia sudah mulai menyukaimu.” Sahut hyung.

“iya sih. Tapi bagaimana kalau perkembangannya hanya berhenti sampai disitu saja? Bagaimana kalau perasaannya padaku hanya sebatas noona-dongsaeng saja? Arggggh~ micheoso!” aku mengacak rambutku dengan frustasi. Pikiran-pikiran itu terus menghantuiku.

“Hah, kenapa aku harus menjadi penasihat cintanya sih? Lagipula masih bocah sudah mau pacaran.”

“hyungg!!!!! Aku dengar itu!” tatapku sinis pada Key hyung yang hanya bisa nyengir gak karuan.

“apa aku terlihat seperti bocah?” tanyaku sambil menggembungkan pipiku kesal.

“ne, kau memang seperti bocah yang selalu mengejar mainan yang disukainya.” Jawab hyung santai.

“jadi aku harus bagaimana hyung?”

“hmm, bagaimana kalau kau biarkan saja Haneul tenang tanpa gangguanmu selama beberapa hari? Biarkan dia berpikir apa artinya kehadiranmu bagi dia.”jawab hyung mantap.

“ha, geure, aku akan menuruti nasihatmu.”

“Tapi, bagaimana kalau Haneul justru senang karena Taemin tidak mengganggunya lagi dan malah pacaran dengan namja lain?”

“arrgh, hyung, kau sungguh-sungguh menyebalkan!! Tidak bisakah kau mengunci pikiranmu ketika kau berada didekatku?” dengan kesal aku bangkit dan berlari menuju kamarku.

“Yaaaa, kau kenapa Taemin? Kau terlihat seperti mayat hidup?” Wookie menyenggolku yang terduduk lemah dibangku kelas.

“Wookie-ah, aku kehabisan tenaga. Aku belum recharge selama beberapa hari.” Jawabku lesu.

“maksudmu Haneul noona? Kenapa tidak menemuinya? Kalian sedang berantem?”

“aniya, aku sedang mencoba untuk berhenti menjadi bocah. Aku tidak mau terus membuat dia merasa terusik.”

“Tapi, kalau hanya melihatnya diam-diam, tidak akan membuat Haneul noona terusik kan?” aku mendongak menatap Wookie yang sekarang sedang menggaruk-garuk kepalanya.

“wah! Ternyata kau pintar, Wookie!” teriakku senang.

“eh?” tanya Wookie bingung.

Aku menghiraukannya dan berjalan keluar kelas bergabung dengan rombongan teman-teman sekelasku yang berkumpul di koridor. Semoga saja aku bisa melihat noona ketika dia lewat.

“wah, Taemin, tumben kau ada dikelas jam istirahat seperti ini. Biasanya kau selalu mencari pacarmu itu.”

“benar, apa kalian putus?”

“sudahlah, lupakan saja dia, Taemin. Kan masih ada banyak yeoja-yeoja lainnya.”

Aku tersenyum menanggapi komentar-komentar para yeoja ini.

“Huh, dasar. Kupikir dia kenapa, ternyata sedang asyik menggoda teman teman sekelasnya. Percuma saja aku mengkhawatirkannya dari kemarin.”

“noona!” aku menoleh ke arah noona begitu mendengar pikirannya. Key hyung, kau memang the best!

Noona tidak menanggapiku dan terus berjalan melewatiku. Aku meninggalkan teman-temanku dan mengejarnya.

“noona, jangan marah dong. Aku tidak menggoda mereka kok. Justru mereka yang menggodaku.” Noona sama sekali tidak menatapku dan terus berjalan.

“aku tidak marah kok, aku hanya menyesali diriku sendiri. Kenapa aku harus mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.”

“itu tandanya aku ini penting untukmu noona. Hati-hati, kalau noona terus seperti ini, noona bisa jatuh.”

“eh? Jatuh?”

“ne, jatuh cinta padaku.” Aku mengerling nakal padanya.

“Jatuh cinta padany!? Maldoandwea!”
”huh, kenapa mustahil? Mungkin saja kan kalau noona jatuh cinta padaku?”

“Andwea, andwea! dengan bocah seperti dia, tidak akan mungkin.” Noona mengeleng-gelengkan kepalanya, mencoba untuk menjernihkan pikirannya sendiri.

“noona, aku bukan bocah. Nanti aku akan menjemput noona di café. Noona saranghae!” kataku ketika membiarkan noona menaiki tangga menuju kelasnya. Aissh, biarlah mau dianggap bocah atau apapun oleh noona. Yang penting noona memperhatikanku.

“eh, Haeji noona? Sedang apa di sini?” aku membuka pintu rumah dan mendapati Haeji noona berdiri di depan, terlihat ragu.

“hmm, apa Key ada?” “aku harus segera minta maaf karena sudah curiga padanya.”

“hyung belum pulang. Kalian bertengkar?” Haeji noona mengangguk. Aku mempersilahkan Haeji noona untuk masuk dan kusuguhkan segelas the hangat. Haeji noona menceritakan kalau mereka bertengkar karena Haeji noona cemburu melihat Key hyung dengan Sica noona. Hal yang wajar kalau cemburu, bukankah itu tandanya Haeji noona sangat mencintai hyung?

“sepertinya dia masih belum akan pulang. Sebaiknya aku pulang saja. Besok kami juga bisa bertemu di kampus.”

Aku melirik jam tanganku dan tersadar, sudah satu jam yang lalu noona selesai kerja. Omo! Aku terlambat menjemputnya.

“ada janji?” tanya Haeji noona. Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil.

“omo, mianhae, gara-gara aku kau jadi terlambat.”

Karena arah tujuan Haeji noona sama denganku, kami pun berjalan beriringan. Aku menceritakan tentang Haneul noona padanya, dan yah, wajahku sedikit memerah karenanya. Ternyata Haeji noona orang yang menyenangkan. Kelihatanya kami bisa jadi ipar yang cocok.

“aaah, noona, mianhae aku terlambat. Tadi ada sedikit kendala.” Aku melihat noona yang sedang berjalan setelah pisah jalan dengan Haeji noona.

“tidak apa-apa. Aku tidak menunggumu kok. Jam kerjaku baru saja habis. Aku bisa pulang sendiri.” Nada suara noona terdengar ketus.

“untuk apa aku menunggunya dan khawatir? Lagi-lagi dia sedang asyik dengan yeoja lain.”

“noona, kau salah paham lagi. Meski pun di sekelilingku ada beribu-ribu yeoja cantik, yang kusukai hanya noona seorang.” aku memegang tangan noona yang langsung ditepisnya.

“aku tidak peduli.”

“Kotkimal. Jelas-jelas kau terlihat sangat bahagia bersama yeoja itu.”

“noona, aku tidak suka kalau kau seperti ini. Kemana Haneul noona yang sangat kusukai?”
”Taemin, berhentilah mempermainkanku. Sekarang kau sudah menemukan mainan yang baru, makanya kau ingin mencampakkanku kan?” kulihat mata noona berair, dan itu membuat hatiku lebih sakit.

“aku tidak pernah mengganggapmu sebagai mainan noona. Aku mungkin masih bocah dimatamu, tapi aku sangat sangat mencintaimu. Aku mencintai Kim Haneul yang kulihat setahun lalu, tapi bukan Kim Haneul yang sekarang. Kim Haneul yang kukenal adalah Kim Haneul yang selalu jujur tentang perasaannya, dia akan menolak ketika tidak menginginkan sesuatu, dia akan tertawa ketika bahagia, dan akan menangis karena sedih. Bukan noona yang seperti sekarang, yang mengingkari perasaan noona sendiri.”

Aku berbalik dan hendak pergi, tapi pikiran noona tersuarakan padaku.

“Mollayo, kenapa aku jadi seperti ini? aku tidak suka melihat Taemin dekat dengan yeoja lain. aku takut kalau Taemin hanya mempermainkanku dan akan segera meninggalkanku begitu dia bosan. aku tidak ingin kehilangan Taemin.”

Aku kembali menghadap noona dan mendapati dia sedang berjongkong, menenggelamkan wajahnya dikedua telapak tangannya, isakan tangisnya yang sedikit tertahan masih bisa kudengar cukup jelas.

“itu namanya cemburu noona. Aku tidak pernah mempermainkanmu, makanya aku tidak akan pernah meninggalkanmu meskipun kau yang memintanya. Aku sama sekali tidak tertarik dengan yeoja-yeoja munafik seperti mereka. Dan lagi, noona yang barusan itu adalah calon kakak iparku. Jadi, noona jangan cemburu padanya, noona kan calon istriku.” Aku memegang kedua lengan noona dan membantunya berdiri sambil menghapus airmatanya yang masih mengalir.

“kalau noona tidak ingin aku meninggalkanmu, maka noona harus selalu ada disisiku.” Aku tersenyum dan mengecup lembut bibir noona.

EPILOG

Malam ini salju pertama turun, dan lagi-lagi aku melihatnya bersama noona. Kami sedang berada disebuah café yang hangat sambil menikmati makan malam kami.

“Taemin, apa yang membuatmu menyukaiku?” tanya noona disela-sela kegiatan makannya.

“noona benar-benar ingin tau?” aku menopang daguku dan menatap noona.

“Tentu saja. Akus sangat penasaran.” Noona mengangguk dengan bersemangat.

“hmmm, karena apa yang noona katakan selalu sesuai dengan apa yang noona pikirkan. Apa noona tau, aku punya semacam kekuatan gaib, aku bisa mendengarkan pikiran setiap orang. Aku menyadari kemampuan ini ketika SMP. Teman-teman yang kuanggap baik, ternyata hanyalah penjilat. Setelah membaca pikiran mereka, aku tau alasan mereka mendekatiku hanya karena kekayaan dan tampangku saja. Selama masa SMP, aku sempat menutup diri dari dunia luar. Aku hanya bisa mempercayai keluargaku saja. Tapi setahun lalu, aku bertemu noona yang sedang menolong seorang adik kecil. Perasaan noona yang tulus, berhasil menghangatkan hatiku.”

“mwo? Kau bisa membaca pikiran? Ka—kalau begitu kau juga membaca pikiranku?” tanya noona tergagap.

“noona jangan panik seperti itu. Tanpa noona memberitaukan padaku secara langsung, pikiran noona telah memberitauku bahwa noona telah jatuh cinta padaku secara perlahan-lahan.” Aku tertawa senang.

“urg, Lee Taemin.” Geram noona.

“Kau membuatku jadi terlihat pabo.”

“aniya, noona tidak terlihat pabo kok. Jatuh cinta itu kan hal yang wajar, apalagi jatuh cintaku.”

THE END

14 thoughts on “The Story Of Love-Listen To Your Mind”

  1. uwaa~~~
    aq pgn pnya indra ke-6 kyk taemin….
    tpi,,pkrn org privasi….
    jdi mrsa b’slh klo ngebaca pkrn org….
    *curcol*

    dTggu FF lainnya…
    ^^

  2. waa Taeminnie xD
    aku suka FF-nya onn..
    tapi ada beberapa part yang rada aku bingung. misalkan,

    “noona, aku bukan bocah. Nanti aku akan menjemput noona di café. Noona saranghae!” kataku ketika membiarkan noona menaiki tangga menuju kelasnya. Aissh, biarlah mau dianggap bocah atau apapun oleh noona. Yang penting noona memperhatikanku.

    “eh, Haeji noona? Sedang apa di sini?” aku membuka pintu rumah dan mendapati Haeji noona berdiri di depan, terlihat ragu.

    sebelum “eh, Haeji noona…” itu sebaiknya di kasih pemisah. soalnya itukan udah beda setting tempat..

    ini saranku aja loh ya Onnie🙂

    aku suka sama FF onnie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s