Fragolla Taste [part 6] *END*

Fragolla taste [part 6] *Ending*

“Kyu…,” panggilku, ragu-ragu.

“Mmm?” gumamnya, kelihatannya dia sedang asyik memeriksa perkembangan klub sepak bola di laporan yang di buat Minhyo. Aku mendengus.

“Aku ingin bicara,” ucapku, dengan nada agak memaksa.

Akhirnya, walaupun wajahnya agak enggan, ia memandangku.”Bicara apa?” tanyanya, agak kesal dan dingin.

“Kau kenapa sih? aku kan cuma ingin berbicara denganmu sebentar,” ujarku, nada suaraku mulai meninggi.

“Tidak bisa nanti, sepulang sekolah?” tanya Kyu, alisnya bertaut.

“Ini penting Kyu! Kau harus mendengarkan!” seruku, dengan nada memerintah.

“Hei, aku ini bukan bonekamu yang seenaknya kau perintah ya,” ucap Kyu, suaranya mulai mendingin. Menyadari kesalahanku, aku segera meminta maaf.

Mianhae, aku tidak bermaksud seperti itu…,” ucapku, dengan wajah memelas.”Aku cuma ingin bilang… datanglah ke rumahku, sepulang sekolah.”

“Ke rumahmu, sepulang sekolah?” tanya Kyu, mengangkat sebelah alisnya.


Fragolla taste [part 6]

“Ne, kumohon…,” ucapku sambil mengatupkan kedua tanganku.

“Nanti akan kupikirkan…,” jawab Kyu, lalu kembali berkonsentrasi pada laporan perkembangan klub sepak bola.

“Kyu…! Aku butuh jawaban sekarang, jadi kumohon…”

Kyu menatapku tajam, lalu menghela nafas.”Ne, ne arasseo. Aku akan ke rumahmu sepulang sekolah.”

Cheongmal?!” seruku tak percaya.

Kyu mengangguk sekali, lalu kembali membaca.

Gomawo~

~End of PoV~

***

-Sepulang sekolah-

~Jung Minhyo PoV~

“Hah?! Aku harus ke rumah Hanna karena dia lupa membawa tasnya?” seruku tak percaya saat Kim songsaenim menyodorkan tas Hanna padaku.

“Ne …,” ucap Kim songsaenim, dengan pandangan merendahkan. Tentu saja ditujukan padaku. Dia juga menyodorkan alamat rumah Hanna.

“Haish~ oke, oke… aku akan mengantarkan tas ini,” ucapku lalu menyambar tas Hanna dari tangan Kim songsaenim.

Aku berlari menuju halte bus, sambil sesekali melihat alamat rumah Hanna. Rumahnya berada di kawasan perumahan elit -,- aku jadi deg-degan.

Saat tiba di rumah Hanna. Aku menganga. Inikah rumah Hanna? Luar biasa. Rumahnya minimalis, dengan halaman luas di sekitarnya. Hijau sekali. Aku tersenyum, inilah perbedaan aku dan Hanna. Hanna adalah anak orang kaya, cantik, pintar… benar-benar sama dengan Kyu –,- lalu aku? Ah! Buat apa aku memikirkan hal itu?

“Minhyo?” tanya seseorang di belakangku. Aku tersentak dan langsung menoleh.

“Ne? ah! Hanna! Kebetulan…!” seruku, lalu menyerahkan tasnya.

“Hyaa~ aku sampai lupa karena terlalu bersemangat hari ini!” ujarnya, lalu tersenyum.”Gomawo!

Aku mengangguk senang.”Ne, cheonmane. Oh ya, kau senang karena apa? Aku boleh tau?” tanyaku.

“Oh! Itu karena Kyu!!” jawab Hanna semangat.

Hatiku mencelos. aku menelan ludah.”Ah… kau…”

“Kyuu~ ayo turun dari mobil! Sampai kapan kau mau terus duduk disana?” ujar Hanna pada seseorang di dalam mobil.

“Eh… ne,” jawab Kyu, lalu turun dari mobil.

Aku menatapnya, sambil menyipitkan mata.”Oh… jadi… aku mengerti. Sepertinya aku mengganggu ya? Kalau begitu sampai ketemu, bye!”

Aku segera meninggalkan rumah Hanna dengan langkah cepat. Di tengah jalan, air mataku tumpah. Sial. Ada apa denganku? Kenapa aku menangis? Babo. Tidak seharusnya aku menangis untuk seorang namja babo seperti Kyuhyun. Eh… tunggu dulu… Kyuhyun? Apakah aku menyukai anak itu? Tidak mungkin! Tapi… hatiku berkata lain…

Saranghae-yo, Kyuhyun-ah…” lirihku, sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku, menangis sesenggukan.

~End of PoV~

~Cho Kyuhyun PoV~

“Minhyo…,” ucapku. Aku harus mengejar gadis itu!

“Hanna, maaf. Aku harus mencari Minhyo—“

“Tunggu! Kau sudah berjanji akan ke rumahku hari ini!! ini tidak mungkin dibatalkan!” seru Hanna, wajahnya memerah karena marah.

“Tapi… kumohon, aku harus mencari Minhyo,” ucapku.

“Jujur Kyu… apa… apa kau menyukai Minhyo?” tanya Hanna, matanya memandangku tajam. Aku memandang wajah Hanna, lalu mengangguk mantap.

“Lalu… lalu kenapa kau menerimaku?!” teriak Hanna.

“Karena… aku berpikir, jika aku bersamamu… maka aku akan melupakan Minhyo… tapi ternyata tidak bisa. Mianhae…

“Aku… aku hanya pelarian…?” tanya Hanna, air mata menggenangi pelupuk matanya.

Mianhae… aku tidak bermaksud seperti itu,” jawabku, lalu mendekati Hanna.”Kau adalah yeoja pertama yang membuat hatiku tergerak untuk jujur kepada diri sendiri dan orang yang kusayangi…”

“Kyu…,” panggil Hanna lemah.

“Aku sudah dengar tentang kau dan Kibum,” ucapku, lalu Hanna menatapku tak percaya.”Bohong…” katanya. Aku hanya tersenyum.

“Kau sudah di tunangkan pada umur 15 tahun? Ckckck. Pikiran orang tuamu sempit sekali,” gumamku.

“Kyu! Siapa yang memberitahumu!?” seru Hanna.

“Hahaha. Tidak penting. Kau, belajarlah untuk menyukai Kibum. Dia sepertinya menyukaimu,” aku menggelengkan kepala, meralat ucapanku.”Dia sepertinya sedang mencoba untuk menyukaimu dan melupakan Minhyo untukku. Dia sedang berjuang keras, kau tahu?”

“Aku tahu,” jawab Hanna,”tapi aku berpura-pura tidak tahu.”

“Sekarang, kau jangan berpura-pura tidak tahu lagi, ara?

“Ne… aku… akan belajar menyukainya, tapi aku tidak akan melupakanmu,” ucap Hanna, lalu tersenyum miris.

“Sekali lagi… mianhae. Aku telah menyakitimu,” ucapku, sambil mengacak-acak rambutnya.

“Ne… gwenchana… pergilah, Kyu… Kejarlah cintamu,” kata Hanna, lalu mendorongku pelan, menyuruhku pergi mengejar Minhyo.

Gomawo!” seruku, lalu berlari mencari Minhyo.

Kutemukan Minhyo sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sambil menunduk di tepi jalanan sepi ini. Aku menggeleng sambil tersenyum, yeoja babo. Kalau ada yang mengganggunya bagaimana?

Saat aku hampir sampai pada tempat ia berdiri, aku mendengar dia mengucapkan kata-kata dengan lirih.”Saranghae-yo, Kyuhyun-ah…

Aku menganga. Astaga. Aku tidak menghayal kan? Ini sungguhan kan? Aku mencubit pergelangan tanganku.”Auw!” ringisku, sakit juga ternyata. Jadi ini bukan mimpi?!

Minhyo mengangkat wajahnya, lalu menatapku. Matanya sipit dan sembab. Aku tidak yakin apakah dia bisa melihatku.”Kyu?” tanyanya. Suaranya serak sekali.

“Ne?”

“Kenapa kau ada di sini?” tanyanya.

“Karena aku mencarimu,” jawabku, tenang.

Mwo?

“Aku mencarimu, Jung Minhyo! Tidak dengar?” ujarku, lalu mendekatinya.

“Kau mau apa!?” serunya, mundur selangkah menjauhiku, namun aku menariknya.

“Jangan menghindar,” ucapku, lalu memeluknya.

“Yak!! Apa yang kau lakukan?!” seru Minhyo, sambil meninju bahuku pelan.

“Memelukmu,” jawabku, lalu mempererat pelukanku.

“Aish…,” umpatnya pelan.

“Minhyo-ah… saranghae,” kataku, lalu tersenyum lebar.

Aku mendengarnya tertawa sumbang, karena suaranya yang serak.”Hehe, naddo,” ucapnya, lalu membalas pelukanku. Dia membisikkan sesuatu di telingaku.”Gomawo untuk semuanya.”

~End of PoV~

***

-keesokan harinya-

~Jung Minhyo PoV~

Aku memasuki kelas dengan perasaan deg-degan. Aku takut bertemu Hanna. Aku takut dia membenciku. Saat aku hampir membuka pintu kelas, seseorang menghambur ke pelukanku.

“Minhyo!! Chukkae!!” seru Hanna, nada suaranya gembira sekali.

“Eh?” tanyaku bego.

Hanna melepaskan pelukannya.”Kau kan sudah jadian dengan si populer Cho Kyuhyun. Kekeke~ chukkae! Kemarin, aku juga ‘resmi’ berpacaran dengan Key!”

“Eh?! Chukkae Hanna! Aku tidak menyangka kau menyukai Key. Kupikir kau membencinya…”

“Awalnya iya, karena ia menyebalkan. Tetapi setelah kupikir-pikir kembali… kurasa dia menyebalkan karena dia memperhatikanku,” jelas Hanna, seulas senyum manis menghiasi wajahnya.

“Kupikir kau sangat menyukai Kyu~”

“Ohh~ soal Kyu, aku dan dia tidak benar-benar pacaran sih,” gumam Hanna. Aku menganga.”Serius?!” tanyaku.

“Nee~ soalnya aku hanya ingin mengetes… mengetes seberapa besar rasa sukanya kepadaku dan kepadamu. Ternyataaa~ delapan puluh persen hatinya memilihmu. Hehehe~” jawab Hanna dengan entengnya.

Aku tersenyum simpul.”Sebenarnya, aku tidak akan sadar bahwa aku menyukai Kyu kalau kau tidak ‘berpacaran’ dengannya,” akuku, dengan jujur.

Mwo? Kau parah sekali sih,” komentar Hanna.

“Aku kan kurang peka soal begituan,” gumamku, lalu tersenyum lebar.

“Tapi kau pernah berkencan dengan teman sekelas Kyu kan?!” seru Hanna.

“Hah? Nugu?” tanyaku, bingung.

“Lee Donghae!!” seru Hanna. Cukup lama aku mencerna nama orang itu, lalu tertawa keras.”Hei, nona… Aku memang pernah jalan-jalan dengannya, tapi tidak berkencan. Dia hanya memintaku untuk menemaninya memilih sepatu olahraga, karena aku paling suka memilihkan sesuatu untuk seseorang.”

Boe?! Ja… jadi kau tidak pernah berpacaran sebelum ini?” tanya Hanna.

Aku menggeleng.”Aku masih innocent,” jawabku bangga.

“Hebat, berarti Kyu sangat beruntung menjadi first boyfriend-mu,” gumam Hanna. Aku terkikik geli.”Siapa yang memberitahumu kalau aku dan Donghae berkencan?”

“Kyu,” jawab Hanna,”dia bilang dia sangat cemburu jika kau mulai akrab dengan Donghae dan Kyu tidak mau menyerahkanmu pada Donghae.”

“Dia bilang begitu?? Overreaction!” komentarku, lalu aku dan Hanna tertawa bersama.

“Pantas saja dia klihatan sebal sekali jika aku menyebut nama Donghae,” gumamku, lalu Hanna menatapku penuh arti. Aku mengangkat sebelah alisku, hendak bertanya…

“Kya!” aku menjerit ketika seseorang mengalungkan tangannya di leherku dari belakang.”Kalian membicarakanku,” cibir Kyu. Hanna tertawa.

Mianhae, aku tidak bermaksud membicarakanmu, tapi aku penasaran. Hehe,” ucap Hanna, lalu mengacungkan jari tengah dan jari telunjuknya membentuk huruf ‘V’.

“Baiklah, kumaafkan,” gumam Kyu, aku mendongak, menatapnya.

“Nanti kita pulang sekolah bareng, oke?” ajaknya sambil tersenyum manis padaku, aku balas tersenyum lalu mengangguk.

“Aduh… aku yang ngeliat jadi panas nih,” sindir Hanna, sambil mengipas-ngipas wajahnya. Aku tersenyum menatapnya.

“Naaah~ kalian ngomongin apa?!” seru Key langsung merangkul Hanna, lalu tersenyum lebar. Hanna menunduk, wajahnya merah seperti tomat.

“Ah… kami membicarakan Kyu,” jawab Hanna, tetap menunduk.

“Kau kenapa chagiya? Sakit?” tanya Key, sambil memegang dagu Hanna dan mengangkatnya.”Key… hentikan,” pinta Hanna. Wajahnya semakin memerah.

“Kau kenapa? Perlu kucium baru kau mau bicara?” tanya Key, sambil tersenyum nakal.

Aku memandang Kyu, lalu kami berdua sama-sama menggeleng. Key memang selalu blak-blakan. Dasar Key… -,-

ANIYO!! Aku cuma tidak tahan di perlakukan seperti ini, membuatku malu saja,” ujar Hanna, cepat. Key tertawa keras.

“Keeeeyyy~!” seru Hanna, lalu meninju bahu Key pelan.

“Hehe, kau lucu sekali. Digituin saja sudah malu, apalagi…”

BLETAKK! Satu jitakan mendarat mulus di kepala Key yang setengah botak itu *kekeke~* *author ditendang LOCKETS* lalu Hanna memalingkan wajahnya, sebal.

Aku dan Kyu tertawa. Dasar pasangan aneh. Tidak kusangka kalau mereka berpacaran, akan hancur begini jadinya.

“Kita pergi saja yuk?” ajak Kyu, dia menggenggam tanganku. Aku tersenyum, lalu mengikuti langkah Kyu melewati Hanna dan Key.

Aku balas menggenggam tangan Kyu, menatap Kyu yang tersenyum padaku. Aku tersenyum senang.

Jika kita mencintai seseorang, jujurlah kepadanya

Karena jika jujur, kita tidak perlu menahan beban sendirian

Mungkin, jujur adalah salah satu hal yang paling berat

Karena akhirnya bisa saja tidak sesuai harapan

Namun, yakinlah

Bahwa jujur itu dapat membawa kebahagiaan

Daripada kita memendam kejujuran itu

Fin~

Akhirnya~ selesai juga nih ff~ ^_- mian ya, kaLo endingnya mengecewakan . kekeke~

mianhae aku updatenya lama banget, soalnya ada sedikit permasalahan di modemku. hehehe~ mianhae ya semuanya *author membungkuk*

Di komen yak! Supaya aku tau ff ini bagus ato ngga 😀 gomapseumnida~

4 thoughts on “Fragolla Taste [part 6] *END*”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s