The Last Time Part 16

Sebelumnya . . .

“Tunggu hyung!” aku menahan tangan Teuki hyung yang sudah beranjak dari duduknya.

“Waeyo?” tanyanya malas.

Aku menunduk dan menarik dalam napasku. “Hyung, aku sudah tahu.”

THE LAST TIME Part XVI

“Mwo?” tanyanya heran.

Aku menatapnya serius, “Tentang penyakitmu.” Saat kukatakan itu, kurasakan tangannya bergetar dan matanya memerah.

“Penyakit? Penyakit apa?” dia tetap berusaha tenang.

“Kanker otakmu.” Kali ini aku sudah tidak tahan lagi menahan air mataku keluar. Aku segera memeluknya dan menangis di pelukannya.

“Donghae-ah, kumohon jangan beritahu yang lain!” suaranya masih terdengar tenang.

“Waeyo?”

“Cukup kau dan manager hyung saja yang tahu. Aku tidak mau membebani banyak orang lagi.”

“Kenapa hyung masih bisa setenang itu?” tanyaku heran yang kini sudah menatap wajahnya.

“Karena aku sudah siap bila hari itu datang.” Ucapnya sambil tersenyum.

“Hyung ijinkan aku tidur sambil memelukmu!” Teuki hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa.

Aku tidur dengan mendekapnya erat, aku tidak mau berpisah darinya sedikitpun. Aku benar-benar tidak siap harus kehilangan hyung yang paling dekat denganku.

Kubuka mataku, sinar matahari masuk melalui jendela dan menyilaukan mataku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, tanganku meraba-raba keberadaan Teuki hyung. Kosong, tidak ada apapun disampingku. Hanya ada bantal. Aku membulatkan mataku.

“Hyung . . .!” aku berteriak memanggil Teuki hyung. Dengan segera aku turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar. Aku terus memanggil Teuki hyung seperti orang gila.

“Ya! Donghae-ah, kau kenapa teriak-teriak seperti itu?” Tanya Heechul hyung yang sedang memberi makan Heebum.

“Teuki hyung, dimana Teuki hyung?”

“Jungsu sedang ke dorm bawah. Waeyo?”

Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menuju dorm bawah. Tanpa menghiraukan panggilan Heechul hyung. Saat sampai di depan pintu dorm bawah, aku langsung menekan tombol password yang sudah sangat aku hapal. Setelah pintu terbuka, aku langsung masuk kedalamnya sambil berteriak-teriak histeris memanggil Teuki hyung.

“Teuki hyung . . . Teuki hyung . . .!!”

“Ya! Donghae-ah, apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Hyukjae.

“Teuki hyung, mana dia?”

“Sedang di dapur bersama Wookie.” Aku langsung berlari menuju dapur. Saat kulihat sosok Teuki hyung yang sedang memasak bersama Wookie, aku langsung berlari dan memeluknya dari belakang.

“Hyung?” ucap Wookie heran.

“Ya! Siapa ini?” ucap Teuki hyung yang tidak mengetahui bahwa aku yang memeluknya. “Aku sedang masak.” Aku menangis lagi. Cengeng memang, tapi itulah yang ingin aku lakukan. Teuki hyung memutar tubuhnya, dan kini kami sudah berhadapan. “Donghae? Waeyo? Ada yang menyakitimu?” tanyanya heran. Aku hanya menggeleng. Teuki hyung memapahku menuju ruang tengah. Semua dongsaeng-dongsaengku menatap heran padaku.

“Donghae-ah, kau kenapa? Manja sekali.” Ucap Eunhyuk.

“Donghae-ah, kau kenapa? Manja sekali.”

“Aku tidak mau jauh-jauh dari hyung.”

“Eunhyuk-ah, aku pinjam kamarmu dulu.” Ucap Teuki hyung kemudian memapahku menuju kamar Eunhyuk. Kami duduk berhadapan di tempat tidur Eunhyuk. “Donghae-ah, tolong jangan bersikap seperti ini. Kalau kau seperti ini, yang lainnya akan curiga. Kau tidak mau kan, hyungmu dan dongsaengmu yang lain khawatir dan sedih karena keadaanku sekarang?” aku mengangguk mengerti kemudian memeluknya erat. Setelah aku merasa tenang, aku dan Teuki hyung keluar kamar bergabung dengan member lain di ruang tengah. “Wookie-ah, panggil hyung-hyungmu diatas. Hari ini kita makan disini saja.”

“Ne.” jawab Wookie kemudian berjalan menuju telpon untuk memanggil member yang berada di dorm atas.

“Donghae-ah, mau sampai kapan kau memeluk Teuki hyung?” ucap Eunhyuk yang sepertinya cemburu.

“Tidak akan pernah.” Jawabku. Kulihat dia mendengus kesal.

Leeteuk POV

Akhirnya masa tour konser kami selesai. Perusahaan menjanjikan liburan pada kami semua. Aku bersyukur, selama tour kondisi tubuhku bisa diajak kompromi. Tapi setelah ini aku harus benar-benar konsentrasi pada pengobatanku. Aku melangkahkan kakiku ke ruang tengah. Semua member sedang berkumpul disana. “Ya! Kalian rebut sekali, sedang membicarakan apa?” ucapku sambil duduk di sofa.

“Kami sedang membicarakan tempat untuk kita liburan hyung. Menurutmu kita liburan kemana?” Tanya Eunhyuk antusias.

“Molla, lagi pula aku tidak akan ikut liburan bersama kalian.” Ucapku datar.

“Mwo?” Tanya mereka serempak.

“Aku mau menghabiskan waktu liburan bersama keluargaku. Lebih baik kalian juga melakukannya. Kalian jarang sekali kan mempunyai waktu berkumpul bersama keluarga.”

“Benar juga yang dikatakan Teuki hyung.” Jawab Sungmin lemas.

“Sungmin-ah, kenapa kau lesu begitu?”

“Kita diberikan waktu liburan sampai tanggal 10 bukan? Itu artinya . . .” Sungmin menggantungkan kata-katanya. Aku tahu benar apa yang sedang dipikirkannya.

“Sungmin-ah, kau jangan lesu seperti itu. Di hari ulang tahunmu kami akan datang ke rumahmu. Jadi siapkan saja makanan yang banyak.” Sungmin menatapku kaget. Sebelum Sungmin berbicara, aku segera memotongnya. “Kau pikir, kami lupa ulang tahunmu? Tentu saja tidak.” Aku tersenyum. Dia pun membalasnya. Kulirik Donghae yang menundukkan wajahnya. “Donghae-ah, kau kenapa lagi?” dia tidak menjawab. Aku tahu, dia pasti memikirkan tentang penyakitku.

,,,

“Kalian semua sudah siap?” tanyaku pada dongsaeng-dongsaengku yang sudah siap liburan.

“Ne.” mereka mengangguk antusias. Dan hanya Donghae yang masih terlihat lesu.

“Hyung . . .!” ucap Donghae.

“Waeyo?”

“Bolehkan aku liburan di rumahmu?”

“Ani, kau harus pulang. Eomma pasti sangat merindukanmu. Lagi pula, aku tidak mau kau mengganggu liburanku.” Aku tersenyum menyakinkannya.

Aku mengantarkan mereka sampai pada mobil. “Kalian hati-hati. Kalau mengantuk, istirahatlah dulu.”

“Lalu hyung sendiri, kapan pulang?” Tanya Ryeowook.

“Aku masih ada sedikit urusan dengan manager hyung. Kalian berangkat duluan saja. Mungkin nanti sore aku akan pulang.”

“Baiklah, hati-hati hyung.”

“Hyung, kau berjanji kan saat ulang tahun nanti kau akan datang?” Tanya Sungmin.

“Ne.” aku mengangguk. Mianhae Sungmin, bila saat itu aku tidak bisa datang. Tapi aku akan berusaha datang.

Tiba-tiba Donghae memelukku erat. “Hyung, kau harus janji juga padaku.”

“Mwo?”

“Kau akan baik-baik saja. Dan kau harus memberitahuku bila sesuatu terjadi padamu.”

“Ne.” aku mengusap lembut rambutnya.

Aku melambaikan tanganku saat satu persatu mobil mereka meninggalkan wilayah dorm.

“Jungsu,” manager hyung merangkulku dari belakang. “Sudah waktunya.” Aku mengangguk dan berjalan menuju mobil manager hyung.

Manager hyung mengendarai mobil dengan cukup kencang. Sampai akhirnya kami tiba disebuah tempat yang dari luar telihat penuh warna. Aku masuk kedalamnya.

“Leeteuk, akhirnya kau datang juga. Kau mau mengambil pesananmu bukan?” Tanya orang itu. Aku hanya mengangguk.

“Tagihannya kirim saja ke rekeningku. Dan jangan beritahu siapapun aku memesan wig ini padamu. Hanya kau dan aku yang tahu. Arasso?” orang itu mengangguk mengerti. Setelah mendapatkan pesananku, aku kembali ke mobil manager hyung.

“Untuk apa wig itu?” Tanya manager hyung heran padaku.

“Aku pasti akan jelek bila botak. Jadi kuputuskan untuk memesan wig. Itu lebih baik bukan?” aku tersenyum.

Manager hyung kembali melajukan mobilnya. Kini kami sudah sampai di rumah sakit temppat dimana aku akan dirawat untuk menjalani pengobatanku. Liburan yang kami dapatkan cukup lama. Satu bulan. Aku mengganti pakaianku dengan pakaian khusus pasien. Tidak ada yang mengenaliku tanpa make up, tapi aku tetap harus berjaga-jaga.

“Terima kasih kau sudah mau mengikuti nasehatku.” Ucap dokter yang menanganiku.

Sudah hampir 3 minggu aku dirawat di rumah sakit. Selama itu pula, manager hyung dan keluargaku yang menemani dan menyemangatiku. Di minggu ketiga ini aku benar-benar merasa lemah. Bahkan kini, aku sudah tidak mampu berjalan. Aku harus menggunakan kursi roda. Rambutku pun, kini sudah berganti dengan wig yang waktu itu aku pesan.

Untuk menghilangkan rasa rindu pada dongsaeng-dongsaengku, aku selalu mengirim SMS atau menelpon mereka. Terlebih Donghae, agar tidak membuatnya merasa khawatir, aku selalu mengirim sms padanya. Bukan hanya Donghae, tapi dongsaeng-dongsaengku yang lain. Termasuk Hankyung dan Kibum. Donghae hampir setiap jam selalu menelpon atau mengirim sms padaku.

Kini aku terbaring lemas di tempat tidur, “Noona . . .!” panggilku pada noona.

“Waeyo?” bisiknya.

“Kau berjanji kan, tidak akan memberitahukan kondisiku pada mereka?” ucapku lemah. Kulihat matanya memerah, dan terlihat air mata jatuh di pipinya.

“Ne.” dia mengangguk. Kemudian berlari keluar kamar.

Aku teringat, minggu depan adalah ulang tahun Sungmin. Sepertinya, aku memang tidak akan bisa hadir di ulang tahunnya.

To : Sungmin

Sungmin, mianhae! Aku tidak bisa datang saat ulang tahunmu. Tapi tenang saja, aku akan mengirimkan hadiah untukmu. Saat ini aku masih berada di Perancis bersama keluargaku. Sampaikan salam hormatku pada orang tuamu.

Tidak berapa lama, Sungmin membalas sms dariku.

To : Leeteuk hyung

Waeyo? Kau sudah janji padaku. Aku tidak bisa terima. Hadiah yang aku harapkan darimu adalah kehadiranmu hyung. Aku mohon, datanglah! Kalau kau tetap tidak bisa, biar aku yang akan menyusulmu kesana.

To : Sungmin

Ya! Kau mau kesini? Tidak boleh. Kalau kau kesini, kau bisa menggangguku dengan kemanjaanmu.

To : Leeteuk hyung

Kalau begitu, aku tidak akan merayakan ulang tahunku. Aku akan menunggu sampai hyung pulang.

Aku tidak sanggup lagi membalas sms darinya. Berkali-kali dia mencoba menelponku, tapi tidak kuangkat.

“Noona . . .” ucapku saat kulihat noona masuk kedalam kamar.

“Eomma dan appa sudah datang, kalau begitu aku pulang dulu untuk istirahat. Kau baik-baiklah!”

“Ne.” aku tersenyum. “Noona, kau janji kan?” dia hanya mengangguk.

Donghae POV

Hari ini, perasaanku benar-benar tidak enak. Aku selalu ingat Teuki hyung. Aku benar-benar mengkhawatirkannya. Tapi baru satu jam yang lalu kami saling mengirim sms. Akhirnya aku memutuskan untuk menelponnya. Tapi tidak diangkat-angkat. Kuputuskan untuk menelpon kakaknya.

“Yoboseyo?” ucap sebuah suara diseberang sana.

“Noona . . .” ucapku lirih.

“Oh, Donghae-ah apa kabarmu?” tanyanya semangat, tapi bisa kurasakan ada kesedihan disana.

“Noona, bagaimana keadaan Teuki hyung?”

Untuk beberapa saat dia diam, “Dia baik-baik saja. Waeyo?”

“Noona, jangan bohong padaku. Aku tahu tentang penyakit Teuki hyung. Kumohon, beritahu keadaan Teuki hyung yang sebenarnya.” Kudengar suara tangis noona. Aku menjadi semakin khawatir. “Noona, katakana padaku!” kali ini aku berbicara cukup keras. Aku benar-benar takut.

To Be Continue . . .

part berikutnya bakal jadi part terakhir. ayo – ayo tetep stay tune di ff ini ya!!

5 thoughts on “The Last Time Part 16”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s