KYUTEUK – Bogosipo ! [One Shoot]

Cast       : Cho Kyuhyun, Leeteuk

Super Junior member

Genre   : Brothership/Frienship

Seperti yang kalian tahu, aku adalah seorang magnae di sebuah grup boy band bernama Super Junior. Sekaligus adik kandung dari leader grup itu. Namaku Cho Kyuhyun, kalian pasti bertanya-tanya kenpa margaku adalah Cho sedangkan kakak kandungku adalah Park. Setelah eomma bercerai dari appa, eomma langsung mengganti nama margaku menjadi marga keluarganya yaitu Cho. Entahlah, aku tidak tahu alasan eomma kenapa melakukan itu dan aku pun tidak mau tahu.

Cahaya matahari dengan bebasnya masuk kedalam kamarku sehingga membuat mataku menjadi silau. Kulihat tempat tidur di sebelah tempat tidurku sudah kosong lalu kulirik jam kecil yang berada di sebelah tempat tidurku. Pantas saja, sudah jam tujuh pagi. Orang itu pasti sudah bangun sejak pagi buta. Kulangkahkan kakiku keluar kamar, keadaan sudah ramai dengan ocehan-ocehan member yang lapar.

“Wookie-ah sudah matang belum?” teriak Heechul hyung dari arah ruang tengah.

“Belum.” Jawab Wookie hyung tidak kalah berteriak.

Kudekati Sungmin hyung yang sedang berada di dapur bersama Wookie hyung. “Hyung, kenapa kau tidak membangunkanku?” tanyaku pada Sungmin hyung yang memang sekamar denganku.

“Hari ini kau tidak ada kegiatan sama sekali bukan, jadi aku sengaja tidak membangunkanmu supaya kau tetap istirahat.”

“Tapi tetap saja aku lapar hyung. Kalau kau tidak membangunkanku, aku bisa kelaparan.” Ucapku manja padanya. “Hyung, Jungsu hyung sudah bangun belum?” aku tetap memanggilnya Jungsu karena itulah yang diinginkannya. Diantara semua member hanya Heechul hyung yang sering memanggilnya dengan nama aslinya tentu saja sebelum kehadiranku.

“Molla, coba kau tanyakan saja pada Donghae.” Jawabnya tanpa menatapku karena dia sedang mengaduk makanan. Kemudian aku kembali ke ruang tengah, dan langsung kudekati saja Donghae hyung yang sedang bermain-main dengan ‘kembarannya’.

“Hyung!” panggilku dan duduk di sebelahnya.

“Waeyo?” jawabnya sambil terkikik geli karena tubuhnya digelitiki oleh saudara ‘kembarannya’. “Hahahaha . . . Hyukie-ah hentikan . . . hahahaha . . .”

“Jungsu hyung sudah bangun belum?”

“Dia . . . dia . . . dia sudah berangkat. Hahahahahaha . . .”

“Sepagi ini? Memangnya dia ada jadwal kemana?”

“Hahahahahaha . . .” Donghae hyung terus tertawa dan tidak mempedulikanku lagi. Akhirnya kuputuskan untuk bermain PSP saja.

@@@@@

“Kyu, kau jaga dorm ya! Dan ingat, jangan pergi kemana-mana. Hari ini kau istirahat saja di dorm, karena lusa kita akan ke Cina untuk SM Town Concert.” Jelas Heechul hyung. Kulihat gaya bicaranya seperti ibu-ibu arisan. Aku hanya mengangguk.

“Kyu, kalau kau lapar. Aku sudah memasak makanan untukmu, kau tinggal menghangatkannya saja.” kali ini kalian bisa tebak siapa yang berbicara, Sungmin hyung. Sejak dia tahu aku adalah adik kandung Jungsu hyung, dia jadi sedikit lebih protectif padaku terutama soal makanan.

“Dan ingat, jangan pesan makanan dari luar. Tidak bagus untuk kesehatanmu.” Sambung Wookie hyung. Kupikir Sungmin hyung dan Wookie hyung sudah seperti EunHae couple saja.

“Baiklah, sekarang waktunya kita berangkat.” Potong Siwon hyung sebelum hyungku yang lain menasihatiku yang aneh-aneh, dia sepertinya sangat mengerti saat melihat raut wajahku yang sudah bosan dengan pesan-pesan dari mereka. Kulirik Siwon hyung dan memasang tampang kalau aku sangat berterima kasih padanya. Dan dia hanya tersenyum serta mengangkat kedua alisnya. Kututup pintu dorm saat mereka semua sudah pergi. Aku baru kali ini diam sendiri di dorm sehingga aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kuambil PSPku dan melanjutkan permainanku yang sempat tertunda tadi.

Kriiuuuukkk . . . [suara perutnya Kyu]

Kulirik jam yang terpajang di dinding ruang tengah, “Pantas saja aku lapar. Sudah jam satu siang.” Gumamku. Kuhentikan permainan gameku dan berjalan munuju dapur untuk mencari makanan. Ku teringat makanan yang sudah disiapkan Sungmin hyung tadi pagi untukku. Setelah menemukannya segera kuhangatkan di micromave. Sambil menunggu makananku hangat, kuberjalan menuju balkon dorm untuk menghirup udara segar. Pandanganku terhenti pada seorang laki-laki tua yang duduk di taman depan apartement. Pakaian laki-laki itu sedikit lusuh dan dia terus menatap gedung ini seperti mengharapkan seseorang.

Ting . . .

Kudengar suara dari microwave, aku segera berlari menuju dapur untuk mengambil makananku. Setelah mengeluarkannya dari microwave dan menyimpannya di meja makan, aku segera kembali ke balkon. Kucari sosok laki-laki tadi, tapi dia sudah tidak ada.

“Kami pulang . . .” seru sebuah suara dari pintu masuk dorm, kulangkahkan kakiku untuk melihat siapa yang datang.

“Hyung, kalian sudah pulang.” Ternyata Jungsu dan Kangin hyung.

“Ne, kau sendirian di dorm?” Tanya Jungsu hyung sambil duduk di ruang tengah untuk istirahat.

“Hyung sebenarnya ada kegiatan apa? Pagi-pagi sekali sudah pergi.”

“Aku mengantar Kangin, salah satu keluarganya ada yang meninggal.” Aku mengangguk mengerti.

“Kyu, khau yhang mhemhasak mhakhanhan inhi?” ucap Kangin hyung dengan mulut yang penuh makanan.

“Ya! Hyung itu makananku, kenapa kau memakannya?” segera kurebut mangkuk di tangan Kangin hyung, tapi dia bisa menghidariku dengan cepat. “Hyung, aku lapar. Aku belum makan siang.” Protesku.

“Kau kan bisa memasaknya lagi?” ucap Kangin hyung setelah menelan makanannya.

“Itu bukan buatanku, itu buatan Sungmin hyung untukku. Kembalikan!”

“Sudahlah Kyu, hyung akan membuatkanmu ramen. Bagaimana?”

“Ani, hyung baru pulang. Biara aku saja yang memasak, aku juga akan membuatkannya untukmu.” Aku berdecak kesal sambil berjalan menuju dapur.

“Kyu, kenapa kau tidak menawariku?” teriak Kangin hyung.

“Kau sudah makan, aku tidak akan membuatkannya untukmu.” Akupun berteriak membalasnya.

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Satu persatu member sudah kembali dari segala jadwal kegiatannya hari ini, kecuali aku yang sedari tadi pagi berdiam terus di dorm. Saat sedang santai di kamar, kulihat laki-laki yang tadi pagi sedang duduk di taman depan apartement kami. Diapun melakukan hal yang sama seperti tadi pagi. Aku pun terus memperhatikannya. Laki-laki itu baru pergi saat jam tujuh malam. Aneh sekali laki-laki itu.

Hari ini aku ada kuliah, sehingga aku harus bangun agak pagi. Saat akan ke kamar mandi aku melewati kaca jendela kamarku. Dan saat aku melewatinya, lagi-lagi aku melihat sosok laki-laki yang sejak kemarin memperhatikan gedung apartemen ini. Aku menganggapnya aneh, tapi aku tidak mau ambil pusing. Mungkin dia memang kebetulan sedang ada urusan disana.

Sudah seminggu ini aku terus melihat ahjussi itu secara rutin datang ke taman depan dorm. Dia selalu datang setiap jam tujuh pagi, dua belas siang dan jam lima sore. Aku jadi penasaran dengan apa yang dia lakukan setiap jam itu disana. Kebetulan hari ini aku sendirian lagi di dorm karena memang tidak ada jadwal. Kutunggu ahjussi itu di balkon apartemen. Setelah menunggu selama tiga puluh menit, akhirnya ahjussi itupun datang. Aku segera keluar dorm dan berlari menuju taman. Aku tidak perlu penyamaran, karena pengunjung taman ini rata-rata memiliki privasi sendiri tidak seperti taman kota yang sudah umum dikunjungi para penduduk Seoul. Saat aku sampai di taman, syukurlah ahjussi itu masih berada disana dan masih menatap penuh harap ke arah gedung apartemen.

“Ahjussi . . .” kusapa dirinya dengan suara pelan dan lembut. Ahjussi itupun memutar tubuhnya hingga kini kami sudah berhadapan.

“Kau memanggilku?” tanyanya seperti kebingungan.

“Ne, maaf bila aku mengganggumu. Bolehkan aku duduk disini?”

“Ne,” kemudian diapun bergeser memberiku ruang agar bisa duduk di bangku panjang yang sedang di duduki. Dalam beberapa menit kami saling diam, ahjussi itu masih terus menatap ke arah apartemen.

“Ahjussi . . .” panggilku akhirnya.

“Ne?” ahjussi itu menatapku.

“Mianhamnida, sebenarnya sudah seminggu ini aku selalu memperhatikanmu. Kau selalu datang kemari dan menatap gedung ini. Sebernarnya apa yang dilakukan olehmu?” tanyaku ragu-ragu karena takut membuatnya marah. Tapi tidak, ahjussi itu malah menunduk seperti orang yang menyesal. “Ahjussi, mianhamnida kalau aku telah menyinggung perasaanmu.”

“Ani, gwaencaha.” Ahjussi itupun menarik napas dalam-dalam agar lebih tenang.

“Ahjussi, jika kau keberatan aku mengetahui masalahmu jangan ceritakan padaku!” dia menggeleng.

“Aku adalah laki-laki bodoh . . .” ucapnya mengawali. “Aku telah menyia-nyiakan istri dan anak-anakku. Aku telah menceraikan istriku dan menelantarkan anak-anakku. Kini aku tidak tahu mereka berada dimana.” Ahjussi itu mulai menitikkan air matanya. “Aku sangat menyesal, selama satu tahun ini aku terus mencari mereka tapi hasilnya selalu nihil.”

“Lalu, apa yang ahjussi lakukan disini setiap pagi hari, siang, dan sore hari. Ahjussi selalu melakukannya secara rutin, aku selalu memperhatikan ahjussi dari dormku yang berada disana.” Kutunjuk dormku berada.

“Minggu kemarin saat aku melewati daerah ini aku seperti melihat anak pertamaku keluar dari gedung ini. Jadi setiap hari aku datang kesini berharap aku bisa melihatnya lagi dan memastikan kalau dia adalah anakku. Aku selalu datang kesini setiap pagi saat aku akan bekerja, saat makan siang, dan saat aku pulang kerja di sore hari.”

“Anak pertamamu?”

“Ne, aku mempunyai dua orang anak laki-laki. Anak keduaku ikut bersama eommanya, dan anak pertamaku hilang saat dia berumur 13 tahun.”

Ahjussi ini benar-benar membuatku tertarik, entahlah tapi aku ingin selalu berada di sampingnya dan mendengar keluh kesahnya selama ini. Berada disampingnya mengobati rasa rinduku pada appa. Appa yang telah mencampakkan kami. Tapi tidak ada rasa dendam sedikitpun pada appa dalam diriku.

Sudah hampir sebulan aku selalu bertemu dengan ahjussi itu di sela-sela kesibukanku. Beliau selalu menceritakan kisah hidupnya padaku, dan aku merasa tidak bosan mendengarnya. Ternyata dulunya dia adalah seorang arsitek, tapi karena penipuan akhirnya semua uangnya habis diambil orang. Diapun menceritakan bagaimana perjuangannya selama mencari anak-anak dan mantan istirnya. Aku terharu mendengarnya, uang yang selama ini dia dapat dari pekerjaannya sebagai buruh. Dia gunakan untuk mencari anak-anak dan mantan istirnya.

“Sudah sebulan kita berteman, tapi aku belum tahu siapa namamu?” Tanya ahjussi padaku sambil tertawa renyah.

“Ah ne, mianhae! Namaku Kyuhyun, Cho Kyuhyun.”

“Ceritakan tentang dirimu!” pintanya.

“Darimana aku harus memulai. Hmm . . .” aku berpikir sejenak. “Baiklah, dulu aku tinggal di Korea bersama appa, eomma dan hyungku. Kami adalah keluarga yang bahagia awalnya, tapi entah kenapa appa dan eomma berpisah. Aku tidak tahu alasan mereka karena saat itu umurku masih sangat kecil. Hyungku ikut bersama appa dan aku bersama eomma. Eomma membawaku ke Jerman untuk tinggal disana. Setelah 15 tahun aku kembali kemari utnuk mencari hyungku. Seseorang mengajakku untuk masuk kedalam sebuah grup boy band, saat itu aku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi saat mengetahui bahwa orang yang aku cari ada disana, jadi kuputuskan untuk bergabung dengan grup boy band itu. Dan sesuatu yang sangat tidak aku sangka, ternyata orang yang aku cari selama ini adalah leader dari grup boy band dimana aku bergabung didalamnya.”

“Kau beruntung bisa bertemu dengan kakak kandungmu.”

“Ne.” aku mengangguk senang.

“Ahjussi, apa kau sibuk hari ini?”

“Ani, kebetulan hari ini aku libur.”

“Kalau begitu, maukah kau mengunjungi apartemenku? Aku ingin sekali memperkenalkanmu pada hyung. Bagaimana?”

“Boleh kah?”

“Tentu, bagaimana?”

“Baiklah.”

Aku langsung mengajak ahjussi ke dorm.

@ Dorm

“Ahjussi, mian berantakan. Ahjussi duduklah saja dulu, akan kuambilakan minum.” Ucapku seraya berjalan menuju dapur.

“Ternyata kalian adalah Super Junior.” Ucapnya saat melihat tulisan nama kami di dinding.

“Wae?” tanyaku setelah kembali dari dapur. Kududuk disampingnya, kami duduk di ruang tengah.

“Aku memang tidak terlalu memperhatikan, tapi aku sering mendengar nama kalian disebut-sebut oleh para remaja.” Jelasnya, aku hanya tertawa. “Mana hyungmu?”

“Dia belum pulang, mungkin nanti sore. Ahjussi bersantailah dulu, temani aku disini. Di antara semua member, aku yang paling sedikit memiliki jadwal kegiatan karena aku harus kuliah.”

“Baiklah.” Ucapnya seraya mengelus rambutku lembut. Tapi aku senang dia melakukannya, aku jadi merasa sangat dekat dengannya.

“Ahjussi, bisakah kau lakukan itu lagi?”

“Wae?” tanpa aba-aba kuraih tangan kanannya dan kusimpan diatas kepalaku. Kulihat dia tersenyum, semakin lama dia mengelus kepalaku aku semakin ingin diperlakukan lebih.

“Ahjussi, bolehkah aku memelukmu?” akupun langsung memeluknya tanpa seijinnya. “Ahjussi, aku merasakan kehangatan dan kasih sayang seorang appa darimu. Bolehkah aku menganggapmu sebagai appa?” tanyaku dan tanpa kusadari aku sudah menangis. “A . . . appa . . .” akhirnya aku mengatakannya juga. Beliau mempererat pelukankan padaku dan membelai lembut kepalaku.

Kubuka mataku, ternyata aku tertidur. Kulihat ahjussi pun tertidur dan masih setia menemaniku dan juga tangannya pun masih berada di puncak kepalaku. Kulirik jam dinding yang terpajang di ruang tengah, sudah jam empat sore. Sebentar lagi para member pulang. Kuselimuti ahjussi dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Saat aku kembali menuju ruang tengah ternyata beliau sudah bangun.

“Ahjussi, kau sudah bangun?”

“Ne.”

“Tunggulah sebentar lagi, hyung akan pulang.”

“Ne.”

“Kami pulang . . .” ucap sebuah suara dari pintu masuk depan. Aku langsung berlari untuk melihat siapa yang datang.

“Hyung, akhirnya kau datang.” Ucapku senang saat melihat sosok Jungsu hyung yang masuk, diikuti member yang lain.

“Wae?” tanyanya heran, aku langsung menariknya masuk menuju ruang tengah.

“Hyung, ada yang ingin aku kenalkan padamu.” Kutarik tubuh Jungsu hyung hingga berhadapan dengan ahjussi.

Kulihat mata ahjussi mulai berair saat menatap wajah Jungsu hyung dan tangannya pun dengan ragu terangkat ingin memegang wajah Jungsu hyung. Kualihkan pandanganku pada Jungsu hyung, yang kulihat dari wajahnya adalah sebuah kemarahan yang teramat sangat. Tapi ketika tangan ahjussi hampir dekat dengan wajah Jungsu hyung, Jungsu hyung malah menghempaskannya dengan keras dan langsung masuk kedalam kamar. Aku menatapnya heran hingga tubuhnya hilang di balik pintu kamarnya.

Brukk . . .

Tubuh ahjussi jatuh seketika sambil menangis. Aku dan hyungku yang lain membantu ahjussi bangkit dan mendudukkannya di sofa.

“Kyu-ah, sebenarnya siapa ahjussi ini?” Tanya Kangin hyung.

“Dia temanku, dia teman mengobrolku.”

“Tapi kenapa Teuki hyung bersikap seperti itu saat bertemu dengannya?”

“Molla.” Kugelengkan kepalaku. “Ahjussi, sebenarnya ada apa?” tanyaku.

“Dia . . . dia . . .” dia masih terus menangis.

“Ahjussi, katakana padaku ada apa?” paksaku.

“Dia anakku yang kuceritakan padamu.”

“Mwo?” ucap kami bersamaan.

Aku benar-benar tidak percaya dengan pernyataan yang dikatakan ahjussi barusan, rasanya kakiku ini lemas dan lidahku kelu seketika tidak bisa berkata apapun. Segera kuberlari menuju kamar Jungsu hyung. Saat aku masuk, Jungsu hyung sedang menangis di tempat tidurnya.

“Hyung . . .” aku berjalan mendekatinya. Aku langsung memeluknya. “Mianhae!” disela-sela tangisku.

“Kenapa kau bisa bertemu dengannya?”

“Sudah sebulan ini kami bertemu, dia adalah teman mengobrolku setiap aku sendirian di dorm. Dia selalu datang ke taman di depan.´jelasku. “Hyung, benarkah itu appa?” tanyaku memastikan. Dia mengangguk. “Hyung, aku mohon maafkan dia. Bagaimanapun dia adalah appa kita.”

“Ayo kita keluar!” ajaknya. Saat kami keluar kamar, member yang lain masih mengelilingi appa. aku dan Jungsu hyung mendekatinya. Saat melihat kedatangan kami, appa langsung bersujud di kaki Jungsu hyung.

“Jungsu-ah, mianhae! Maafkan appa!” ucapnya sambil terus menangis. Jungsu hyung jatuh dan langsung memeluk appa.

“Appa . . .” ucap Jungsu hyung. Kemudian menarik tanganku agar bisa lebih dekat dekat dengan mereka. “Appa, ini Kyunie. Uri Kyunie!” appa terus menatapku dan membelai lembut wajahku. Aku mengangguk untuk meyakinkannya. Appa langsung memelukku.

“Kyunie, maafkan appa!”

“Ne, appa!”

Setelah kami semua tenang, kami semua duduk dengan santai di ruang tengah bersama member Super Junior yang lainnya.

“Appa, selama ini kau tinggal dimana?” tanyaku.

“Aku tinggal di tempat kerjaku sekarang. Aku bekerja sebagai buruh bangunan.”

“Appa, mianhae!” ucap Jungsu hyung.

“Ani, kau tidak bersalah. Appa yang bersalah karena telah menelantarkan kalian dan eomma kalian.”

“Mulai sekarang, appa jangan bekerja sebagai buruh lagi. Dan appa akan tinggal di rumah kita dulu. Appa nikmatilah masa tua appa disana. Aku dan Kyunie akan sering mengunjungi appa kalau kami tidak sedang sibuk.” Jelas Jungsu hyung.

“Rumah?”

“Ne, rumah kita. Rumah tempt tinggal kita dulu, aku telah merawatnya. Appa mau kan tinggal disana?”

“Ne.”

Aku tidak pernah menyangka, kalau laki-laki yang selama ini aku rindukan sebenarnya sangat dekat denganku.

Bogosipo appa!

The End

7 thoughts on “KYUTEUK – Bogosipo ! [One Shoot]”

  1. vay~~
    selalu mengharukan~
    T///T

    kbtln bgt kyun lgsg ktmuan ma appa.a
    awl.a wktu bca dT4 i2
    aq lgsg b’pqr klo adjusshi i2 appa.a kyun
    eh! t’nyata benar~~

    msh ad lnjtn.a kn??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s