KyuTeuk – Remember Me! Part 2 [2 Shoot – End]

Part 1

KYUTEUK- Where are you? [One Shoot]

KYUTEUK – Bogosipo ! [One Shoot]

Author : Vay ^_^
Cast : Leeteuk, Kyuhyun, Member Super Junior
PS : – Yang tulisannya miring berarti bahasa Inggris.
– Aku awalnya gak mau bikin sequel kisah KyuTeuk, apa lagi triloginya. Tapi tiba-tiba aja ada Ide, jadi aku terusin deh. Mudah-mudahan pada suka. Dan disaranin wat para reader, untuk baca kisah KyuTeuk yang sebelumnya biar bisa agak nyambung.

BBRRRRAAAAAKKKKKK . . .
Aku dan Kyuhyun langsung mengalihkan pandangan kami pada sumber suara. Aku benar-benar tidak menyangka bisa melihatnya lagi. Meskipun aku tidak bertemu dengannya selama lima belas tahun dan sudah ada kerutan di beberapa bagian kulit wajahnya., tapi aku masih sangat mengenali wajah cantik dan anggunnya. Aku berdiri diam terpaku di samping tempat tidur Kyuhyun. Mataku rasanya sudah panas dan air mata ini sudah sangat berdesak-desakkan ingin keluar tapi kutahan. Aku ingin sekali memeluknya dan menangis dalam pelukannya. Seperti apa yang selalu dia lakukan setiap kali aku menangis ketakutan karena dimarahi appa. Dia selalu bisa menenangkanku sehingga aku tertidur di pangkuannya. Eomma bogosipoyo.
“Marcus! Are you ok?” tanyanya langsung menghampiri Kyuhyun dan memeluknya. Ada sedikit rasa iri dalam hatiku saat melihatnya.
“I’m ok mom. Just relax!” ucap Kyuhyun tersenyum.

“Your face?” ucanya sambil memegang kedua pipi Kyuhyun dengan tangan-tangan lembutnya. Tangan yang selalu membelai lembut kepalaku sebelum aku tidur.
“I’m ok mom. Calm down!”
“Who are you?” tanyanya padaku. Sepertinya dia baru menyadari keberadaanku disana.
“Mom, he is . . .”
“Annyeonghaseyo! Choneun Leeteuk imnida. Aku leader Super Junior.” Ucapku segera memotong ucapan Kyuhyun. Kyuhyun menatapku seolah-olah mengatakan ‘Hyung, apa yang kau lakukan? Dia eomma.’ Dan akupun membalas tatapannya sambil tersenyum seolah-olah aku mengatakan ‘Belum saatnya.’
“Super Junior? Wha is that?”
“Mami, I can explain it.”
“Aku akan meninggalkan kalian berdua. Kyu, aku tunggu di luar.” Kutinggalkan mereka berdua di kamar rawat Kyuhyun. Dan aku keluar dari kamar. Setelah keluar dari kamar, aku segera berlari menuju toilet. Aku menangis disana, kuluapkan rasa rindu sekaligus rasa kecewaku dengan tangisan. Aku sangat merindukannya, tapi aku juga kecewa padanya karena dia tidak bisa mengenali anak laki-lakinya sendiri? Aku terus menangis sampai aku merasa air mata ini kering. Aku sengaja tidak memberitahunya siapa aku sebenarnya, karena aku ingin eomma sendiri yang mengenaliku tanpa harus aku atau Kyuhyun yang memberitahu. Tapi sepertinya dia memang tidak mengenaliku. Setelah tenang, kubasuh wajahku dengan air agar tidak terlihat selesai menangis. Aku kembali ke kamar Kyuhyun. Aku duduk di kursi yang berada di depan kamar Kyuhyun.
“You! I wanna talk to you.” Kuangkat wajahku ketika seseorang yang sepertinya memanggilku. Ternyata eomma. Kupendam lagi rasa rindu ini saat melihatnya. Dia duduk disebelahku. Kutundukkan wajahku karena sikap ketusnya padaku. “Kau cukup diam dan dengarkan aku.” Ucapnya dan kuanggukkan kepalaku tanda mengerti. “Aku sudah bicara dengan Marcus, dan aku tidak setuju Marcus bergabung dengan kalian sebagai penyayi. Aku tidak menyetujuinya, maka dari itu aku mau membawa Marcus kembali ke Jerman.” Kuangkat kepalaku dan menatapnya tidak percaya. “Dari awal aku sudah tidak percaya padanya. Dia ingin hidup sendiri di Korea.” Ucapnya tertawa sinis.
“Tapi dia tidak bisa pergi begitu saja.” Ucapku berusaha mempertahankan Kyuhyun.
“Kau leadernya bukan?” aku mengangguk.
“Kau tidak pantas dipanggil sebagai leader. Kau tidak bisa menjaga membermu dengan baik, leader apa itu?”
“Mianhae!’ ucapku akhirnya dengan berurai air mata.
“Kau menangis? Laki-laki tidak pantas menangis, cengeng. Sikapmu ini semakin membuatku ingin membawa Marcus pulang. Sebaiknya kau pulang, aku yakin kau punya banyak kegiatan. Aku akan menjaga Marcus, karena dia adalah tanggung jawabku.”
“Permisi.” Setelah berpamitan, aku langsung pulang kembali ke dorm.
=====================================================================================
“Hyung, gwaenchanayo?” Tanya Donghae yang melihatku datang dengan keadaan berantakan.
“Ne.” jawabku lemas. Terus berjalan mauk kedalam kamar. Kukunci pintu kamar dari dalam. Terdengar suara-suara para member yang memanggilku tapi tak kuhiraukan. Saat ini aku hanya ingin sendiri.
Kyuhyun POV
Mami masuk kedalam kamarku, sebelumnya dia keluar karena ingin membeli kopi.
“Marcus, aku sudah bicara dengan leadermu kalau kau akan keluar dari grupmu. Dan dia setuju.” Ucap mami ketus.
“Mom, apa yang kau katakana barusan? Tidak mungkin, dia tidak mungkin menyetujuinya. Mami pasti bohong.”
“Sebagai leader dia tidak bisa menjagamu dengan baik. Jadi wajar kan, kalau aku mau membawamu pulang kembali ke Jerman. Ada yang salah?” ucap mami enteng.
“Mom, aku tidak bisa keluar begitu saja. Aku terikat kontrak, lagi pula aku tidak bisa meninggalkan orang yang sangat aku sayangi disini.”
“Kau sudah punya kekasih rupanya. Kalau begitu, ajak saja kekasihmu ke Jerman. Kalian menikah disana, aku yang akan membiayai semuanya.”
“Aku tidak punya kekasih.” Ucapku ketus.
“Lalu?”
“Super Junior, aku tidak bisa meninggalkan mereka.” Ucapku tertunduk.
“Tidak, kau tetap harus ikut aku ke Jerman. Kalau kau melawan, kau tahu kan aku bisa melakukan apapun agar kau bisa pulang. Bahkan melukai mereka, terutama leadermu itu. Sejak pertama kali melihatnya, aku sudah bisa melihat kalau dia adalah orang yang lemah dan tidak cocok menjadi seorang leader.”
“Mami!” bentakku saat mami membicarakan tentang Jungsu hyung. Aku tidak bisa menerima mami berbicara seperti itu pada Jungsu hyung. Terlebih lagi, dia adalah anak laki-lakinya sendiri. Meskipun dia tidak menyadari sama sekali tentang hal itu.
“Lihat, sekarang kau melawanku. Padahal sebelumnya tidak pernah. Mereka pasti membawa pengaruh buruk terhadapmu.”
Life couldn’t get better (hey~)
Nan nol pume ango nara . . .
Handphoneku bordering, segera kulihat siapa yang menelpon. Ternyata Sungmin hyung.
“Yeoboseyo?”
“Kyu-ah, bagaimana keadaanmu?”
“Gwaenchana, aku sudah lebih baik. Tinggal istirahat beberapa hari saja.”
“Mianhae, sepertinya kami belum bisa menjengukmu selama seminggu ini. Karena kau sedang sakit, akhirnya jadwal kami menjadi lebih padat.”
“Mianhae hyung, aku jadi merepotkan kalian semua. Gwaenchana, lagi pula aku sudah ditemani seseorang disini. Kalian tidak perlu khawatir.”
“Appamu?”
“Ne.” kujawab cepat. Tidak mungkin aku bilang kalau yang menjagaku itu mami. Sungmin hyung akan bertanya lebih jauh, dan saat ini bukanlah waktunya.
“Kyu-ah, aku ingin menanyakan sesuatu. Apakah sesuatu terjadi di rumah sakit?”
“Waeyo?”
“Sejak pulang dari rumah sakit tadi, Teuki hyung langsung mengurung diri di kamar. Kami semua takut terjadi sesuatu yang buruk.”
“Mwo?” tanyaku kaget.
“Kyu, cobalah kau telpon dia. Suruh dia keluar kamar. Arraseo?”
“Ne, aku akan mencobanya hyung.” Setelah menutup telpon dari Sungmin hyung, aku langsung menelpon Jungsu hyung. Aku sudah menghubungi Jungsu hyung beberapa kali tapi di angkat-angkat.
“Marcus, siapa yang kau telpon. Kau gelisah sekali.” Ucap mami yang sedang duduk di sofa seberang tempat tidurku.
“Ini semua gara-gara mami. Leeteuk hyung mengurung dirinya di kamar.”
“Aku semakin yakin, dia tidak pantas menjadi leader. Bersikap seperti anak kecil bukanlah tipe orang yang cocok dijadikan leader.” Ucap mami sinis.
Selama seminggu aku di rawat di rumah sakit. Tidak ada satupun hyungku yang menjengukku karena kegiatan mereka yang sangat padat. Mami dan Gina yang menjagaku di rumah sakit. Papi sudah kembali ke Jerman karena urusan pekerjaan. Meskipun begitu aku tetap berhubungan dengan hyung-hyungku. Dan tentang keadaan Jungsu hyung, Sungmin hyung bilang sikapnya jadi lebih pendiam tidak banyak bicara, tidak seperti Jungsu hyung yang kami kenal. Untung saja appa sedang ada tugas ke luar negeri selama satu bulan, kalau tidak appa dan mami akan bertengkar bila bertemu disini.
Life couldn’t get better (hey~)
Nan nol pume ango nara . . .
Kulihat layar handphoneku, Donghae hyung.
“Yeoboseyo?”
“Kyu-ah, kau masih berada di rumah sakit bukan? Mianhae, kami belum sempat menjengukmu karena jadwal kami yang padat. Ditambah lagi harus menggantikanmu di beberapa acara yang kau bintangi.”
“Mianhae!”
“Ah . . . kau ini. Sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, kau tunggu kami ya!”
“Ne, cepatlah datang hyung. Aku sudah sangat merindukan kalian.” Ucapku senang.
“Siapa yang telpon?” ucap mami ketus saat masuk kedalam kamarku bersama Gina.
“Donghae hyung, mereka mau menjengukku.”
“Oh . . .”
Tok . . . Tok . . .
Mami berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu. “Annyeonghaseyo . . .!!” sapa Donghae hyung saat bertemu dengan mami, dan yang lainnya juga datang. Kulihat ekspresi mereka yang sedikit kaget, tapi mereka langsung bisa mengendalikannya. Mami masih bersikap ketus. Satu persatu hyungku masuk.
“Gina, come on!” ucap mami sambil menarik tangan Gina. Pada saat mami akan keluar, saat itu pula Jungsu hyung mau masuk. Kulihat Jungsu hyung menunduk dan memberi jalan untuk mami. Setelah mami keluar, barulah Jungsu hyung masuk.
“Hyung . . .!!” teriakku saat melihat Jungsu hyung. Jungsu hyung langsung memelukku, aku sangat merindukannya.
“Bagaimana keadaanmu? Pasti baik karena eomma yang mengurusmu.” Ucap Jungsu hyung tersenyum getir.
“Hyung, mianhae!”
“Waeyo?”
“Karena telah mengambil eomma darimu.”
“Ya! Di juga eommamu, jadi mana mungkin kau merebutnya dariku. Aneh-aneh saja.” Ucap Jungsu hyung tertawa. Aku sangat merindukan hyung-hyungku. Kami mengobrol dan bersenda gurau. Tidak lupa aku pun menceritakan tentang eomma, aku yakin mereka sangat bertanya-tanya tentang itu. Jadi sebelum mereka bertanya secara bertubi-tubi, kuceritakan terlebih dahulu.
Leeteuk POV
Akhirnya aku bisa meliahat senyum itu lagi. Seminggu tidak melihat senyum itu rasanya membuatku kehilangan sebagian nyawaku, aku sangat-sangat merindukannya.
“Aku mau membeli minuman, ada yang mau menitip?” tawarku.
“Hyung, gwaenchanayo?” Tanya Kangin, ekspresinya terlihat sangat khawatir.
“Waeyo?”
“Kau tidak sedang sakit kan hyung?” kali ini Eunhyuk, bahkan dia sampai menempelkan punggung tangannya di keningku.
“Wae?”
“Kau baru menang judi ya hyung? Kau mau membelikan kami minum.” Ucap Sungmin dengan tampang polosnya.
“Memangnya aku sepelit itu sampai membelikan kalian minum saja tidak mau. Aku bukan Eunhyuk yang sangat-sangat sangat-sangat pelit.” Ucapku datar lalu keluar kamar. Kudengar suara tawa para member dari balik pintu, aku hanya tersenyum dengan kelakuan mereka. Aku berjalan menuju mini market yang ada di seberang jalan. Kulihat eomma dan Gina sedang minum Coke di taman dekat rumah sakit. Aku tersenyum padanya, tapi dia selalu memalingkan wajahnya dariku. Kutundukkan lagi kepalaku karena sedih. Kudengar suara orang-orang berteriak, tapi tidak kupedulikan aku terus berjalan sampai akhirnya aku berhenti karena mendengar suara seseorang yang sangat aku rindukan.
“Leeteuk, awas!” dia berlari ke arahku dan tangannya menunjuk-nunjuk sesuatu di sebelah kiriku. Aku melihat raut kekhawatiran di wajahnya, tapi aku senang melihatnya. Aku merasa bahwa eomma akan kembali menyayangiku seperti dulu. “Leeteuk lari . . .!” ucapnya lagi masih sambil menunjuk-nunjuk. Kualihkan pandanganku melihat apa yang di tunjuk, dan ternyata . . .
Aku merasakan sesuatu yang sangat keras menghantam tubuhku. Rasanya sakit sekali, tapi pada saat yang bersamaan aku juga merasa bahwa tubuhku melayang jauh ke udara. Kulihat eomma berlari kearahku sambil meneteskan air mata. Tidak eomma, aku tidak ingin melihat eomma menangis lagi. Siapa yang sudah membuat eomma menangis, aku akan menghajar orang itu. Sekalipun itu appa yang melakukannya. Kini aku sudah bisa melindungimu eomma, kau jangan takut lagi kalau akan ada orang yang akan menyakitimu. Katakan padaku siapa eomma.
“AARRGGHH . . .” aku berteriak keras saat kurasakan tubuhku jatuh secara tiba-tiba. Dan kepalaku, rasanya sakit sekali seperti ada yang memukulku dengan batu. Kulihat langit yang sangat cerah dan awan putih yang menghiasinya. Aku tersenyum karena rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat langit secerah saat ini.
“Leeteuk, gwaenchanayo?” suara itu, suara yang sangat aku rindukan. Kualihkan pandanganku pada sumber suara. Benar, pemilik suara itu adalah orang yang sangat aku rindukan. Aku tersenyum melihatnya, tapi kenapa dia malah menangis.
“Eomma . . .!!” ucapku lirih. Kulihat ekspresi kagetnya saat aku memanggilnya. “Eomma, aku sangat merindukanmu.” Kurasakan tangan lembutnya membelai wajahku. “Eomma, ingatlah aku. Kumohon!” ucapku lirih sambil tersenyum bahagia karena kurasakan tangan lembut itu mendekapku kedalam pelukannya. Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku, kepalaku sangat sakit, dan mata ini rasanya sangat lelah untuk terbuka. Kututup mataku dan kurasakan pelukan hangat eomma di tubuhku.
Kyuhyun POV
“Lihat, ada kecelakaan di jalan.” Teriak Eunhyuk hyung. Kami semua berlari ke arah jendela untuk melihatnya.
“Benar, kasihan sekali.” Sambung Donghae hyung.
“Oppa!” tiba-tiba sebuah teriakan mengagetkan kami. Kami semua berbalik dan melihat siapa yang berteriak.
“Ya! Kau jangan teriak-teriak di rumah sakit.” Marahku yang ternyata Gina yang berteriak.
“Oppa, Leeteuk oppa kecelakaan.”
“Mwo?” ucap kami bersamaan. Kami semua berlari mengikuti Gina yang sudah berlari duluan. Gina menuntun kami menuju ruang UGD. Disana sudah ada mami yang sedang menangis.
“Mami!” lirihku mendekati mami. Mami mengangkat kepalanya dan menatapku. Dia langsung memelukku dan menangis keras di pelukanku. “Waeyo? Bagaimana keadaan Leeteuk hyung?”
“Kenapa . . . kenapa kau tidak memberitahuku dari awal kalau Leeteuk itu Jungsu?” teriak mami di sela tangisnya. Akhirnya dia sadar, tapi kenapa harus dengan cara seperti ini. Mami terus menangis menyesali sikapnya selama ini. Operasi sudah berjalan selama dua jam, tapi belum juga selesai. Kudengar derap langkah kaki yang berlari mendekat ke arah kami. Kupalingkan wajahku untuk melihatnya.
“Appa . . .!!” lirihku saat melihat appa datang dengan raut kecemasan di wajahnya. Dari mana appa tahu kalau Jungsu hyung kecelakaan?
“Aku yang menghubunginya.” Ternyata Heechul hyung. Dalam keadaan seperti ini, dia masih bisa berpikir jernih rupanya.
“Appa!” panggilku lalu memeluk appa.
“Bagaimana keadaannya?” aku menggeleng. “Kau, apa yang kau lakukan di sini?” Tanya appa saat melihat mami. Tapi mami diam saja, dia masih terlalu shock menerima kenyataan.
Setelah menunggu selama lima jam, akhirnya operasi selesai. Dokter yang menangani Jungsu hyung keluar. Kami semua berlari mendekati dokter, terutama appa dan eomma.
“Dokter, bagaimana keadaan Jungsu?” Tanya eomma cemas.
“Operasinya berhasil kan dok?” sambung appa.
“Dia . . .”
=====================================================================================
Kurasakan sebuah tangan membelai kepalaku lembut. Kuangkat kepalaku untuk melihatnya. Aku sangat tidak menyangka kalau yang membelai rambutku adalah . . .
“Hyung, kau sudah sadar? Appa, mami! Jungsu hyung sudah sadar.” Aku segera memanggil dokter untuk memberitahukan keadaan Jungsu hyung.
Leeteuk POV
“Jungsu-ah, kau sudah sadar nak?’ ucap eomma tersenyum dan membelai pipiku. Aku membalas senyumnya. Akhirnya belaian itu bisa kurasakan lagi.
“Jungsu-ah, syukurlah kau sudah sadar.” Sambung appa yang berdiri di samping kiriku.
“Eomma, remember me?” tanyaku.
“Tentu sayang, maafkan eomma karena tidak mengenalimu dari awal.”
“Gwaenchana.” Lirihku.
Selama enam bulan aku berada di rumah sakit karena kecelakaan yang aku alami. Eomma menjagaku dengan baik, aku sangat bahagia karena telah mendapatkan kembali milikku yang pernah hilang.
Hari ini aku sudah diperbolehkan pulang.
“Eomma, kau masih akan tetap membawa Kyunie kembali ke Jerman?”
“Ani, aku akan mengijnkannya tinggal di Korea. Lagi pula sudah ada kau dan appamu yang akan menjaganya.”
“Gomawo eomma.” Ucapku lalu memeluknya erat.
Akhirnya aku bisa melihat senyum itu lagi dan merasakan sentuhan hangat itu lagi. Seberapapun jauhnya tempat atau waktu yang memisahkan, kasih sayang ibu kepada anaknya tidak akan pernah mati sampai kapanpun. Setiap hembusan napasnya, setiap darah yang mengalir di tubuhnya dan apapun yang ada di pikirannya. Seorang ibu akan selalu mengutamakan anak-anaknya dibandingkan dengan dirinya sendiri. Sebesar apapun kesalahan yang dibuat anak-anaknya, seorang ibu akan selalu memaafkannya. Seorang ibu akan membiarkan dirinya menderita dari pada anak-anaknya yang harus menderita.
The End

8 thoughts on “KyuTeuk – Remember Me! Part 2 [2 Shoot – End]”

  1. 😥
    sedih….
    tpi akhr.a happy ending,,
    emg btul ya~
    pntpn.a dgn *apa yach?* bingung ugkpn.a~
    hehehe,,
    jdi igt pljrn BK,,tntg 9 kbhgn ibu…
    tpi i2 u/ kBaikan ank.a~
    T^T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s