The Story of Love – Little Fiance

AUHTOR : Yuyu

Title : The Story of Love – Little Fiance

Creating Destiny (Key Story) ¦ Listen To Your Mind (Taemin Story)

Mengapa ada beberapa orang yang ingin mengendalikan kehidupan orang lain? Bukankah setiap manusia memiliki jalan hidup mereka sendiri? Tidak ada kebebasan, apa artinya hidup kalau begitu?

Aku melihat banyak pasang manusia yang hilir mudik dihadapanku. White valentine day, semua orang saling berbagi kasih, tapi aku sendirian menatap raut-raut wajah bahagia mereka. Hidupku sudah digariskan, tidak ada kebebasan, tidak ada kebahagian seperti mereka. Aku memandang kosong langit pagi yang pucat dan meneruskan langkahku, tidak ingin berlama-lama menyiksa diriku dengan melihat pemandangan para pasangan kekasih.

***

“Minho-ah, kau dari mana saja? Sudah malam seperti ini baru pulang.” Tegur eomma yang menghentikan kegiatan menontonnya. Aku hanya tersenyum kecil sebagai balasan dan beranjak ke kamarku dilantai dua. Aku menaiki tangga dengan santai, kudengar suara pintu lain terbuka. Appa keluar dari ruang kerjanya dan menatapku galak.

“Minho, kau tidak boleh keluyuran malam-malam terus. Apa kata orang-orang kalau mereka melihatmu selalu keluar malam. Keluarga besan kita akan memikirkan ulang tentang perjodohan kalian, dan kau tau pasti perjodohan itu tidak boleh dibatalkan hanya karena ulah kekanakkanmu ini.” Oceh appa meskipun aku tidak menghentikan langkahku dan terus beranjak ke kamarku. Kubanting pintu dengan kesal, suara berdebam keras terdengar sampai ke lantai satu. Suara appa mulai terdengar lagi, sedikit meninggi dari yang tadi.

Aku membanting tubuhku sendiri dengan kesal ke atas tempat tidur, kubenamkan wajahku dan menghela nafas berat. Aku ingin segera keluar dari rumah ini, rumah yang terlihat mewah tapi tidak lebih dari penjara. Aku berpikir selama beberapa detik, kuambil kunci mobilku dan berlari menuruni tangga secepat mungkin.

Appa yang kini duduk di samping eomma sontak melihat kearahku, berteriak-teriak tidak jelas. Beberapa kata-katanya yang kutangkap adalah menanyakan mau ke mana aku, menyuruhku tetap tinggal dirumah dan blablabla. Kuacuhkan semua teriakkan appa dan menjalankan mobil dengan kecepatan yang menggila. Berada di penjara itu hanya bisa membuatku tertekan. Aku butuh udara segar jika ingin tetap hidup.

Aku masuk ke dalam sebuah pub elit yang masih hingar bingar. Suara musik yang bisa memecahkan gendang telinga sudah terdengar nyaring bahkan sebelum aku mencapai pintu masuk. Kalau dalam keadaan normal aku akan merasa sangat terganggu dengan suara-suara berisik itu, sekarang aku tidak mempedulikannya. Tekanan yang kurasakan jauh lebih tidak tertahankan daripada musik berisik itu. Aku berjalan dengan cepat, melewati lantai dansa yang penuh sesak dan duduk di meja bartender. Seorang namja yang mengenakan seragam hitam putih itu menyadari kedatanganku, aku mengangkat tanganku sekilas untuk menyapanya lalu tersenyum. Bartender itu balas tersenyum dan mengangguk. Tidak lama, dia mulai menyiapkan minuman untukku dan meletakkannya dihadapanku.

“Minho? Choi Minho!?” teriak seorang yeoja sambil menarik lenganku.

Dengan malas—dan sedikit kesal—aku menoleh ke arah suara itu berasal, seorang yeoja mungil tersenyum lebar dihadapanku. “nuguseyo?” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku, bahkan sebelum aku sempat mencernanya. Yeoja itu terlihat kesal dan memanyunkan mulutnya.

“aku ini Jung Jihye, tunangamu, Choi Minho.” Kesalnya.

Aku hanya menatapnya sebentar dan kembali meneguk minumanku.

“apa yang kau lakukan di sini? Sudah malam seperti ini, apa Choi ahjussi tidak mengkhawatirkanmu? Sebaiknya kau pulang. Apa kau mabuk? Kalau begitu biar aku saja yang mengantarmu pulang.” Cerocosnya tanpa mempedulikan tatapan dinginku padanya.

“yaaaaa! Tidak perlu mengkhawatirkanku. Kalaupun ada yang perlu dikhawatirkan, itu adalah dirimu sendiri. Aku tidak mencampuri urusanmu, jadi kau—“ aku mengarahkan jari telunjukku tepat diwajahnya ,”jangan pernah mencampuri urusanku, arraseo!!?” bentakku.

“tapi—“ belum selesai dia bicara, yeoja lain muncul dan merangkul lenganku.

“Minho? Sudah lama kau tidak ke sini.” Kata yeoja yang sok akrab itu. Aku tersenyum pada yeoja itu dan melirik Jihye yang raut wajahnya semakin kesal, pergi meninggalkanku. Setelah memastikan tidak melihat bayangan Jihye lagi, kuhempaskan tangan yeoja bergaun super pendek, mengusirnya menjauh dariku.

“tinggalkan aku sendiri.” Kataku ketus.

“Minho-ah, kau tidak ingat aku?” tanya yeoja itu tidak percaya. Aku mengacuhkannya dan berpura-pura dia tidak ada di sana. Akhirnya yeoja itu juga meninggalkanku, seperti yang dilakukan Jihye tadi. Yeoja bergaun pendek itu, sepertinya aku memang pernah ‘bermain’ dengannya, tapi aku tidak peduli dengan siapapun saat ini.

“yo! Tumben sekali kau datang?” tanya Key yang entah sejak kapan ada disampingku.

“eh? Kau ada disini? Tidak bersama Haeji?” tanyaku sambil melihat sekeliling mencari sosok Haeji.

“kau gila? Untuk apa aku mengajak Haeji ke tempat seperti ini?” omel Key sembari menempatkan diri disampingku. “Onew dan Jonghyun yang menyuruhku ke sini. Tapi sampai sekarang aku masih belum melihat mereka. Awas saja kalau mereka tidak jadi datang.”

“oh,” hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku asyik meneguk minumanku—yang entah sudah gelas ke berapa—dan hanyut dalam lamunanku sendiri, mengukir berjuta rencana untuk kabur dari jeratan diktator Choi. Kalau saja memang ada cara untuk kabur darinya.

Sekeras apapun aku menolak, Choi Tae Jin—appaku—selalu berhasil membuatku berjalan sesuai keinginannya. Sama seperti Jihye, yeoja yang ditunangkan denganku, semata-mata untuk kepentingan bisnisnya saja.

“eeh, kau datang dengan tunanganmu?” tanya Key mengejutkanku. Aku mengerutkan keningku sebagai ganti pertanyaan. Key tidak mengatakan apapun, dia menoleh kebelakang, dengan penasaran kuikuti arah pandangannya. Awalnya aku tidak merasa ada yang aneh, aku melihat segerombolan orang dalam remang-remang cahaya yang masih asyik menari bersama. Dari celah-celah, kulihat sebuah meja yang tengah dikerumuni oleh orang-orang. Meski suara musik yang sangat luar biasa berisik, samar-samar aku masih bisa mendengar orang-orang tersebut menyebut “Jung aggashi”.

Rasa penasaran menggelitikku. Aku beranjak dan menghampiri meja tersebut. Seorang yeoja tidak sadarkan diri dan tergeletak begitu saja dikursi. Para pelayan dan teman-teman semejanya berusaha menyadarkannya, tapi tidak ada reaksi darinya. Aku menatap Key dan memicingkan mataku, Key jelas tau ada sesuatu yang ingin kutanyakan padanya, tapi dia tetap saja memasang wajah inocentnya padaku.

“yaa, kau tidak apa-apa?” tanya namja yang duduk di sebelah yeoja itu. Tangan namja itu terangkat dan menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajah yeoja itu. Namja itu memegang tangan sang yeoja dan menggoyangkannya pelan, mencoba untuk menyadarkannya. Aku merasa kesal melihatnya, aku tidak suka melihat namja itu menyentuhnya, meski hanya sehelai rambutnya saja. Tanpa berpikir apapun, aku maju dan menarik tangan yeoja itu dengan kasar. Si namja langsung menolehku dengan tatapan garang.

“yaaa, nugu?” bentak namja itu.

“kau yang siapa? Jangan pernah menyentuh tunanganku lagi!” bentakku tidak mau kalah. Si namja—dan beberapa orang lainnya yang ada semeja dengannya—membelalakkan matanya mendengar kata-kataku.

“yaaaa! Jung Jihye sadarlah!” teriakku tanpa mempedulikan teman-temannya. Perlahan Jihye membuka matanya dan cukup lama hingga dia menjadi sedikit sadar untuk melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini.

“Choi Minho?” tanyanya ragu.

“kuantar kau pulang.” Tanpa menunggu jawaban, aku membelakangi Jihye dan berjongkok, Jihye yang masih setengah sadar diam tak bergeming. Dengan geram kutarik tangannya dan melingkarkannya dileherku, kemudian menggendongnya dipunggungku, aroma alkohol yang melekat ditubuh Jihye membuatku sedikit mengernyit. Kutatap Key yang masih memperhatikanku, “besok kita harus bicara Key.” Kataku dengan nada tajam. Aku melihat Key mengangguk pasrah sebelum akhirnya aku keluar dari pub itu.

Kukendarai mobilku dengan kecepatan normal. Pandanganku fokus ke jalanan, meski sesekali aku menoleh ke samping untuk memastikan Jihye masih duduk di kursi penumpang. Matanya kembali tertutup tidak lama setelah aku memasukkannya ke mobilku, sesekali ia bergumam tidak jelas dan menggerak-gerakkan tangannya tidak beraturan, tanpa sadar aku tersenyum geli memperhatikan tingkahnya yang sedang mabuk berat.

Petugas keamanan mendekati mobilku, kuturunkan kaca mobilku sedikit agar dia bisa melihat wajahku, tanpa berkata apa-apa padaku petugas tersebut menggumamkan sesuatu pada temannya yang lain dan dalam hitungan detik pintu gerbang kediaman Jung terbuka lebar. Kuhentikan mobilku tepat di depan pintu utama rumahnya, seorang yeoja berusia dua puluhan membuka pintu dan membungkuk hormat dalam balutan seragam pelayannya.

“dimana Tuan dan Nyonya Jung?” tanyaku pada pelayan tersebut sambil menggendong Jihye masuk.

“Tuan Jung masih belum pulang dari kantor, dan Nyonya Jung baru saja berangkat ke Macau tadi siang.” Jawab pelayan itu. Aku menghela nafas lega, berarti aku tidak perlu menjelaskan apapun pada orangtuanya. Pelayan itu menunjukkan kamar Jihye padaku, lalu undur diri. Dengan sedikit kesusahan aku membuka pintu kamar dan menutupnya kembali. Kurebahkan tubuh Jihye diatas tempat tidur ala princessnya. Jihye kembali membuka matanya perlahan dan menatapku.

“yaa, tidurlah.” Perintahku padanya, tapi tak diindahkan karena sekarang Jihye sudah bangkit dari tempat tidur dan mendatangiku yang memang berdiri tidak jauh darinya. Jalannya masih terlihat sempoyongan akibat dari alkohol yang diminumnya, segera kutangkap tubuhnya yang hampir terjatuh ke lantai.

“bukankah sudah kusuruh untuk ti—“ kata-kataku terhenti oleh sesuatu yang lembut dan lembab dibibirku. Entah sejak kapan kedua tangan Jihye melingkar dileherku, memainkan rambutku. Bibirnya terus melumat bibirku. Akal sehatku mengatakan untuk menjauhkan dia dariku, tapi dengan sentuhan tangannya dan bibir lembabnya yang menyentuhku, aku tidak bisa mengikuti perintah akal sehatku. Alam bawah sadarku mengendalikan pikiran dan gerakanku saat ini, aku membalas ciumannya, memojokkannya hingga terjatuh diatas tempat tidurnya.

***

Sebatang pena terus berputar-putar karena dimainkan oleh jari-jariku. Aku sedang berada diruang kelas, melihat dosen yang berdiri didepan sambil mencoret-coret whiteboard dan mulutnya yang terbuka dan tertutup berkali-kali seolah sedang mengatakan sesuatu. Yah, dosen itu memang sedang mengatakan sesuatu, menjelaskan pelajaran yang dipegangnya. Tapi telingaku sama sekali tidak bisa mendengar ocehannya karena sibuk memikirkan hal lain, hal bodoh yang tidak seharusnya kulakukan kemarin.

“yo, udah waktunya pulang.” Tegur Jonghyun.

“segitu cintanya ya kau sama dosen itu, huh?” ledek Onew yang diikuti gelak tawa dari Jonghyun. Aku menatap mereka dengan kesal, kemudian beralih untuk membereskan buku-buku yang berserakan dimeja. Dari sudut mataku, kulihat Key yang keluar dari kelas sambil berjinjit pelan. Dengan cepat kulompati mejaku dan berlari mengejer Key sebelum dia sempat keluar dari kelas, kuraih pundaknya dan menahannya.

“yaaa, mau ke mana kau? Bukankah sudah kubilang kita harus bicara hari ini?” omelku yang berhasil membuat Key cemberut. Onew dan Jonghyun ikut mendekati kami dengan kening berkerut.

Kantin kampus masih cukup ramai karena masih ada beberapa kelas yang belum berakhir. Kami berempat duduk disalah satu meja yang kosong. Segelas minuman masing-masing ada dihadapan kami.

“jadi, sebenarnya kau ini kenapa?” tanyaku to the point.

“aku kenapa? Aku baik-baik saja. Aku tidak tau apa yang kau bicarakan.” Jawab Key enteng dan mengangkat kedua bahunya berkali-kali.

“maksudku, kau tidak seperti manusia normal, kau seolah-olah selalu mengetahui sesuatu sebelum sesuatu itu sendiri terjadi. Apa kalian tidak menyadarinya?” aku beralih menatap Onew dan Jonghyun yang tampaknya mulai setuju dengan pertanyaanku. Key menatap kami bergantian dan menghela nafas pasrah. Akhirnya dengan ragu-ragu Key menceritakan tentang kemampuan vision eyesnya. Memang sulit dipercaya, tapi setidaknya itu menjelaskan tingkah laku Key yang terkadang terlihat aneh dimataku.

“aku takut kalian akan menganggapku aneh dan menjauhiku.” Lanjutnya.

“kau kan tidak melukai kami, kenapa kami harus menjauhimu?” balas Onew yang diikuti anggukan dariku.

“lalu, apa kau bisa lihat siapa yang akan menjadi istriku nanti?” tanya Jonghyun bersemangat.

“hah, aku ini bukan peramal. Lagipula kau kan sering gonta ganti yeojachingu, masa depanmu pasti sulit untuk dibaca.” Ejek Key. Jonghyun yang kesal mencoba untuk memukulnya, tapi berhasil dielak Key. Setelah itu dia terdiam, matanya terlihat fokus pada sesuatu, padahal tidak ada benda atau sesuatu yang benar-benar dilihatnya.

“Minho-ah, tunanganmu akan segera datang ke sini.” Kata Key yang membuatku hampir tersedak.

“Jung Jihye? Jinjja?” tanya Jonghyun bersemangat. Benar saja, tidak sampai satu menit, kulihat sosok Jihye dan seorang yeoja lainnya, yang kuyakini pernah kulihat sebelumnya, tapi aku tidak ingat siapa.

“ah, Minho, kau juga ada di sini?” tanya Jihye riang.

“annyeong, Key oppa.” Sapa yeoja disebelah Jihye.

“annyeong Haneul-ah.” Sahut Key ramah.

“wah, Jihye-ah. Lama tidak bertemu sejak pesta pertunangan kalian sebulan lalu. Kenapa kau jarang sekali bersama Minho?” tanya Jonghyun sambil menarik Jihye untuk duduk disampingnya.

“ah, Minho tidak pernah mengajakku ke mana-mana. Dia sangat tidak romantis.” Protes Jihye dengan memasang aegyonya pada Jonghyun.

“sedang apa kalian di sini?” tanya Onew yang dari tadi hanya diam.

“kami mengikuti tes masuk. Beberapa bulan lagi kan kami akan masuk universitas juga.”

“ah, matta. Senangnya kau bisa jadi hoobaeku.” Sahut Jonghyun yang diikuti tawa dari Jihye. Kenapa aku jadi muak melihat mereka? Semua pasang mata—terutama namja—terarah pada kami karena suara berisik yang ditimbulkan oleh dua orang pabo ini. Para namja melihat dengan tatapan aneh ke arah Jihye, dengan penasaran kutatap Jihye dari atas kepala hingga ujung kaki. Mengenakan rok mini di musim dingin seperti ini? Tatapan dari para namja yang terus memperhatikan Jihye membuatku bertambah kesal.

“eh, waeyo Minho-ah?” tanya Jonghyun ketika aku menarik paksa Jihye agar berdiri.

“aku akan mengantar Jihye pulang. Kajja.” Kataku datar pada Jihye.

“eh? Bagaimana dengan temanku?” protesnya. Sebelum sempat kujawab, Key menawarkan diri akan mengantar Haneul bersama Haeji.

“semalam .. “ aku tidak meneruskan kata-kataku dan menjadi ragu.

“hm? Semalam? Ah, kudengar dari pelayan dan temanku, kau yang mengantarku pulang ya? Gomawo, Minho-ah.” Sahutnya sambil tersenyum. Hanya itu?

“kau tidak ingat apa yang terjadi semalam?” tanyaku lagi. Jihye hanya memandangku bingung. Aku menggerakkan tanganku diudara, sebagai pertanda untuk melupakan pertanyaanku barusan. Benar juga, dia pasti mabuk berat semalam. Setelah aku memojokkannya hingga terjatuh diatas tempat tidur, dia kembali tidak sadarkan diri.

“gomawo, karena sudah mau mengantarku pulang.” Katanya lagi, sambil memeluk erat lengan. Orang-orang yang kami lalui di koridor melihat sambil berbisik-bisik.

“yaaa, lepaskan.” Bisikku agak memelan, tapi Jihye berpura-pura tidak mendengar dan masih saja memeluk lenganku sambil berjalan ke parkiran.

***

“hah” kuregangkan tubuhku yang terasa sangat pegal sambil memijat-mijat leherku yang sakit. Sudah dari tadi pagi aku mengerjekan proyek seni kami, tapi sampai sekarang masih belum selesai. Setelah beristirahat sejenak, aku kembali memfokuskan diriku untuk ‘membangun’ desain rumah yang dibuat oleh Key beberapa hari yang lalu.

“annyeong!” teriak seseorang sambil memelukku dari belakang. Dengan terkejut kuraih tangan yang memelukku dan melepaskan diri.

“Jihye?” tanyaku ragu. Jihye hanya tersenyum lebar melihat reaksiku.

“habis kau tidak mau mengajakku keluar sih. Jadi aku saja yang menemuimu, lagipula aku bosan terus berada di rumah.” Jihye meletakkan tas tangannya diatas tempat tidurku dan kembali mendekatiku di meja belajar.

“ kau sedang apa?” tanyanya sambil menarik kursi dan duduk di sampingku.

“aku sedang mengerjakan tugas seni bulanan kami.”

“sendirian?”

“tidak, berkelompok dengan Key, Onew dan Jonghyun. Tapi Key sibuk pacaran, jadi dia hanya menyumbang desain rumahnya saja. Sementara Onew dan Jonghyun tidak akan bisa membantu, yang ada mereka justru membuatku semakin repot.” Ocehku panjang lebar. Aku bisa saja memilih diam dan tidak menanggapi pertanyaannya, tapi bercerita padanya membuatku merasa lebih segar.

“jinjja? Kau berkata seolah-olah Onew oppa dan Jonghyun oppa tidak bisa diandalkan saja.” Katanya sambil tertawa, aku menatapnya tajam—bukan karena tawanya, tapi karena kata-katanya.

“oppa? Aku tidak tau kau bisa memanggil mereka dengan sebutan oppa.” Tanyaku sinis.

“mereka kan lebih tua dariku, wajar saja aku panggil mereka oppa. Memangnya kau mau kupanggil oppa juga?”

“ha, sudahlah. Lupakan saja, terserah kau mau memanggilku apa.” Tolakku.

“tuh kan, kau tidak mau kupanggil oppa.”

Akhirnya Jihye membantuku membangun desain rumah ini, meski terkadang dia cukup menyusahkan juga. Tidak jarang aku harus memperbaiki kerusakan yang dibuatnya terhadap karya kelompok kami, tapi mengerjakannya bersama dia terasa menyenangkan. Dan tak terasa akhirnya selesai juga. Aku bisa menyerahkannya sesuai deadline yang diberikan besok. Kulirik Jihye yang tertidur beberapa menit lalu. Dia kelihatan sangat kelelahan. Sudah malam sih, wajar saja. Aku mengambil selimut dan menutupi tubuhnya yang terbaring menyender di meja belajarku. Kembali kuregangkan otot-otot tubuhku yang terasa sangat kaku. Kuputuskan untuk turun dan mengambil minuman untuk menyegarkan diriku sendiri dan Jihye. Langkahku terhenti ketika mendengar bisik-bisik di ruang tamu. Aku menahan langkahku dan mencuri dengan apa yang dikatakan oleh appa dan eomma.

“tidak biasanya Jihye datang ke rumah, dan Minho tidak mengusirnya keluar. Sepertinya hubungan mereka sudah lebih baik.”

“benar. Apa sebaiknya kita mencari tanggal yang tepat untuk menikahkan mereka? Lebih cepat lebih baikkan?”

“ya, tapi kita harus membicarakannya dengan orangtua Jihye lebih dulu.”

“tidak perlu. Aku tidak mungkin menikah dengan Jihye! Berhentilah mengatur hidupku!!” teriakku kesal. Appa dan eomma terkejut mendengar teriakanku dan berbalik menghadapku. Wajah appa jelas terlihat sangat terkejut dengan perlawananku.

“kenapa tidak mungkin? Kalian inikan bertunangan, tentu saja setelah itu kalian harus menikah.” Jawab appa mencoba untuk santai.

“itu karena perkataan appa yang menjadi perintah di rumah ini. Kalau appa tidak berkeras, mana mungkin aku mau bertunangan dengan Jihye, bahkan melihatnya saja aku tidak akan mau!!” teriakku lagi.

Lagi-lagi apa terlihat terkejut, namun kali ini bukan melihat ke arahku, tapi sesuatu dibelakangku, Jihye yang tengah berdiri mematung, matanya terlihat sedikit memerah. Dengan cepat Jihye menuruni tangga melewatiku.

“Choi ahjussi, Choi ahjumma, sudah malam, aku pulang dulu ya.” Katanya pada eomma dan appa.

“Jihye-ah, sudah sangat larut, sebaiknya kau menginap di sini saja.” Kata eomma sambil menatapku, berharap aku akan menahan Jihye.

“kalau dia mau pulang, biarkan saja dia pulang.” Kataku acuh.

“annyeong.” Sapa Jihye pelan dan berjalan keluar rumah. Aku langsung kembali ke kamarku dan membanting pintu kamarku dengan kesal. Kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur dan menatap desain rumah yang kami selesaikan berdua. Yang kukatakan pada appa memang benar. Kalau bukan karena appa, mana mungkin aku bersedia bertunangang dengan Jihye, aku bahkan tidak akan pernah menggubrisnya. Tapi kenapa aku merasa menyesal setelah mengatakannya? kenapa aku merasa terluka melihat bayangan punggung Jihye saat meninggalkan rumahku tadi?

***

“Minho-ah, nanti kau bisa temui aku di café dekat stasiun?” bisik Key menjelang kelas berakhir.

“wae?” tanyaku, ikut berbisik.

“ada hal penting yang harus kubicarakan. Kita berdua saja.” Belum sempat aku merespon kata-katanya, dosen membubarkan kelas kami. Kulihat Key berlari keluar kelas secepat mungkin.

“nanti kita ketemu di sana ya, aku harus mengantar Haeji dulu.” Teriaknya sebelum menghilang dari ruang kelas.

Aku berjalan ke parkiran kampus dengan santai. Dua sosok namja yang berjalan santai meninggalkan kampus menarik perhatianku.

“yaaa, mana mobil kalian?” tanyaku pada mereka.

“Onew lagi keranjingan naik bus. Jadi aku terpaksa ditarik oleh dia untuk menemaninya.” Jawab Jonghyun sambil menunjuk Onew yang nyengir lebar. Ada-ada saja temanku ini.

Aku sama sekali tidak kesulitan menemukan café yang dimaksud Key. Aku melirik dari luar kaca jendela café, sepertinya Key belum datang. Aku berjalan hendak masuk ke dalam café, tapi aku memundurkan diriku selangkah, kembali melirik ke dalam café dari kaca jendela. Aku melihat punggung yang kukenal, yeoja itu mengelus kepala namja yang ada didepannya, tapi aku sama sekali tidak bisa melihat wajah namja itu karena terhalang badannya. Huh, Jung Jihye, mudah sekali bagimu untuk melakukan skinship dengan namja mana saja, batinku.

Aku masuk ke dalam café, sengaja mendekati Jihye untuk mengejutkannya. Tapi justru akulah yang terkejut ketika melihat namja yang sedang bersama Jihye.

‘Taemin?” tanyaku.

“oh, Minho hyung. Janjian dengan siapa?” tanyanya datar. Sekilas kulirik Jihye yang segera menundukkan wajahnya, tidak mau menatapku.

“dengan Key, hyungmu.” Jawabku datar. Jadi dia berkencan dengan Taemin, huh?

“aniya hyung. Jihye noona sedang mengunjungi temannya, dan aku mengunjungi yeojachinguku, Kim Haneul.” Jawab Taemin. Aku membelalakkan mataku selama beberapa detik, tapi akhirnya aku ingat kalau Key pernah bilang bahwa Taemin bisa membaca pikiran orang lain.

“oh…” hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Taemin mengalihkan pandangannya dan menatap Jihye yang masih menunduk, kening Taemin sedikit berkerut, kemudian mengangguk pelan, mengerti sesuatu yang ada dipikiran Jihye.

“aah, kau sudah datang. Wah, ada Jihye juga” Key menghampiriku dan menarikku duduk dikursi sebelah Jihye, Key sendiri duduk dihadapanku, disebelah Taemin.

“waegeure?” tanyaku tidak sabaran.

“tentang Onew dan Jonghyun. Apa kau tidak merasa mereka bertingkah aneh akhir-akhir ini?”

“hmm, memang. Tadi aku bertemu mereka dan mereka bilang mereka akan naik bus.” Jawabku yang masih tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Key.

“Jonghyun juga. Memang sih dia sudah sering gonta-ganti yeojachingu. Tapi kelihatannya akhir-akhir ini dia jadi semakin parah.”

“itu penyakit cinta hyung.” Sambut Taemin yang mendapati tatapan maut dari Key.

“aku serius hyung. Kau ingat waktu kau sakit dan mereka datang menjengukmu? Pikiran Onew hyung dan Jonghyun hyung dipenuhi oleh seorang yeoja. Onew hyung sepertinya baru bertemu dengan yeoja itu. Sementara yeoja yang ada dipikiran Jonghyun hyung, sepertinya mereka sudah kenal lama, tapi yeoja itu selalu dingin pada Jonghyun hyung.” Aku dan Key mendengarkan penjelasan Taemin dengan seksama. Mungkinkah kedua sahabatku itu sedang jatuh cinta? Aku menggelengkan kepalaku sendiri karena tidak memercayai pikiran yang melintas dibenakku itu.

“kalau hanya masalah yeoja sih, kurasa aku bisa tenang. Awalnya aku takut mereka terlibat kegiatan kriminal atau semacamnya.” Celoteh Key sambil meneguk banana splitnya.

“Taemin-ah, sepertinya aku pulang duluan. Katakan saja pada Haneul nanti aku akan menelpon dia. Key oppa annyeong.” Jihye sedikit membungkuk pada Key kemudian padaku, tanpa melihat dan menyapaku.

“hyung, sebaiknya kau antar Jihye noona pulang.” Kata Taemin. Aku? Kenapa aku harus mengantarnya pulang?
”noona, aku membaca pikirannya dan dia sepertinya tidak ingin pulang ke rumah. Dia selalu keluyuran tidak jelas kalau sedang ada pikiran. Lagipula yang kudengar dari Haneul noona, tunanganmu itu sangat tidak betah di rumah karena orangtuanya yang tidak pernah memperhatikannya. Makanya noona suka sekali berbuat onar ataupun hal lain yang bisa menarik perhatian orangtuanya.” Jelas Taemin panjang lebar. Sesaat aku ragu untuk mengejar Jihye atau tidak.

“benar kata Taemin, sebaiknya kau antar dia pulang. Aku ‘melihat’ ada segerombolan nappeun namja yang akan mencegatnya.” Lanjut Key. Tanpa pikir panjang, aku berlari keluar dan menyalakan mesin mobilku, mencari di sepanjang jalan.

Hujan yang semula rintik-rintik kini mulai semakin deras dan aku masih belum bisa menemukan di mana Jihye. Aku mengumpat kecil dan tetap memperhatikan sekelilingku untuk mencari Jihye.

“ketemu kau.” Kataku pelan saat melihat sosok Jihye yang basah kuyup dibawah guyuran hujan.

“yaaa, kau bisa sakit kalau kau hujan-hujanan seperti ini.” Aku menarik lengan Jihye dan menghadapkannya padaku. Jihye kelihatan terkejut dan bahkan tidak sadar dirinya kehujanan.

“apa pedulimu? Bukankah kau bilang kau tidak akan menggubrisku, huh?” sorot mata Jihye terlihat sedih, aku bisa melihat bulir-bulir airmatanya yang turun meski tersamarkan dengan air hujan yang mengguyurnya.

“Jihye-ah …”

“biarkan saja aku sendirian. Tidak ada orang yang peduli padaku, bahkan meski aku menghilang sekalipun.”

“kita bicarakan nanti, sekarang masuk dulu ke mobilku. Aku tidak mau kau sakit.” Paksaku.

“sirheo! Bukankah kau tidak pernah peduli padaku? Bukankah kau selalu ketus padaku karena kau membenciku? Kenapa kau sekarang berpura-pura baik padaku? Aku tidak butuh belas kasihanmu!” teriak Jihye yang mulai sesunggukan. Aku mengangkat dagu Jihye agar mata kami saling bertatapan.

“kalau aku tidak peduli padamu, aku tidak akan mengantarmu pulang waktu kau mabuk di pub itu. Aku ketus padamu karena aku tidak suka melihat namja lain menyentuhmu, aku tidak suka ketika kau terlalu ramah pada namja lain” Jihye membelalakan matanya, tidak percaya dengan kata-kataku.

“gotjimal. Bukankah kau tidak mau bertunangan denganku?” tanya Jihye lagi yang sekarang sudah mulai menghentikan tangisannya.

“itu semua karena appa. aku tidak suka karena dia mengatur hidupku. Meski aku bertunangan dengan yeoja yang sangat menarik hatiku sekalipun, tetap saja itu membuatku kesal karena aku dipaksa untuk melakukannya. Aku mencoba untuk membencimu, tapi aku tidak bisa.” Jawabku sambil tersenyum.

“jinjja?”

“ne, saranghae.” Aku memeluk tubuh Jihye yang sudah mulai membeku karena air hujan yang sangat dingin.

“jadi, mulai sekarang, jangan terlalu ramah pada namja lain, jangan menyentuh mereka ataupun membiarkan mereka menyentuhmu, araseo?” perintahku padanya sambil melepaskan pelukan kami. Jihye hanya tertawa kecil.

“pabo. Aku bisa ramah dan menyentuh siapa saja. Tapi aku hanya akan mencium namja yang kucintai.” Bersamaan dengan kata-katanya, Jihye sedikit berjinjit dan memberikan ciuman kilat dibibirku selama sedetik.

“yaaaa, apa kau selalu agresif seperti ini?”

“wae? Toh bukan pertama kalinya.” Aku mengernyitkan keningku mendengar kata-katanya. Dan flasback ciuman kami ketika dia mabuk pun tercetak dibenakku.

“bukankah waktu itu kau mabuk?” tanyaku ragu.

“hehe, memang sih, tapi aku cukup sadar kok waktu menciummu. Habisnya kalau aku tidak memulai duluan, mana mungkin kau mau menciumku.” Jihye sedikit cemberut dengan kata-katanya sendiri, aku tersenyum kecil melihatnya dan kembali mengangkat kepalanya yang tertunduk.

“siapa bilang?” tanyaku sambil melumat bibirnya.

EPILOG

Aku duduk di sofa dalam ruangan yang terasa hangat setelah terkena guyuran hujan selama beberapa saat. Seorang yeoja masuk dan memberikanku segelas cokelat hangat, dan duduk ditepi tempat tidurnya berhadapan denganku.

“gomawo.” Kataku singkat. Jihye berpindah duduk di sampingku, menyenderkan kepalanya dibahuku.

“sebaiknya besok kita pergi melihat tanggal yang baik untuk menikah. Bukankah semakin cepat semakin baik?” tanyanya antusias. Aku menghela nafas pelan dan menghadap Jihye.

“tidak perlu, Jihye. Kita tidak akan menikah.”

“wae? Bukankah kau bilang kau juga mencintaiku? Bukankah kau bilang kau menerima pertunangan kita?” ada sebersit kesedihan dalam suaranya yang mampu kutangkap.

“memang. Tapi kita tidak akan menikah untuk saat ini. Kau kan baru masuk kuliah. Lagipula aku juga belum lulus dan belum bisa menghasilkan uang. Tunggu aku lulus dan bekerja di perusahaan appa, memiliki kemampuan sebagai penerus Choi Corp. baru aku akan melamarmu dan memintamu untuk menjadi Nyonya Choi.” Kurengkuh pipi Jihye dengan tanganku. Jihye hanya mengangguk dan tersenyum mendengar kata-kataku.

“ tapi, bukankah kau tidak akur dengan appamu?” tanyanya lagi.

“memang. Aku tidak suka caranya mengatur semua orang agar berjalan dijalan yang sudah ditentukanya. Tapi bagaimanapun, dia adalah appaku. Choi Corp kelak akan menjadi tanggungjawabku, dan aku harus mampu meneruskannya. Tapi aku berjanji, aku tidak akan menjadi diktator seperti appa. Aku ingin menjadi appa yang menyenangkan untuk anak-anak kita. Jadi, kau juga berjanjilah tidak akan menelantarkan anak-anak kita, kau harus memberikan perhatian yang lebih pada anak-anak kita kelak.”
”ne, aku berjanji akan menjadi eomma yang selalu memperhatikan anak-anak kita dan kau.”

THE END

6 thoughts on “The Story of Love – Little Fiance”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s