Be Mine

AUTHOR : Yuyu

TITLE : Be Mine

MAIN CAST :

Lee Jinki (SHINee)

Han Yoomin (Ocs)

SUPPORT CAST :

The rest of SHINee’s Member

GENRE : Romance

TYPE/LENGTH : Oneshoot

A/N ::. Saengil Chukkae uri Leader Onew^^~

 

MINHO POV

01 Dec 2010

Hari ini, kami selesai mengisi acara di MuBank. Baru pukul 10 malam, masih cukup cepat dibanding hari-hari lainnya dimana kami baru bisa pulang pukul 2 ataupun 3 dini hari. Kulirik Key yang tidak terlihat lelah sedikit, masih asyik memainkan handycam-nya. Suara Jonghyun hyung pun terdengar menyanyikan lagu-lagu yang kami putar didalam mini van kami. Dan seperti biasa pula, aku hanya duduk dan mendengar celotehan mereka. Terkadang mereka berhenti bernyanyi dan bercakap-cakap hal tidak jelas. Dan pasti, suara yang selalu terdengar adalah suara JongKey, meski terkadang suara Taemin hilang timbul dibalik suara mereka berdua. Tapi tunggu dulu! Mana Onew hyung? Aku menoleh kebelakang untuk melihat mereka. Onew hyung ada di sana, dikursi paling belakang, duduk disebelah Taemin, tapi dia sama sekali tidak berbicara, hanya memandangi pemadangan malam dari balik kaca jendela. Hyung waeyo? Kau terlihat aneh akhir-akhir ini.

***

Key sedang asyik menyiapkan makanan saat aku keluar dari kamar mandi, Taemin bergegas masuk untuk mandi begitu melihatku keluar, sementara Jonghyun hyung entah ada dimana, mungkin dia sudah masuk ke kamarnya. Aku mendapati Onew hyung duduk disofa, membiarkan saluran tv terus berputar, aku yakin tidak ada satu katapun dari tv itu yang masuk ke dalam telinganya. Pandangan Onew hyung kosong, seperti berada ditempat jauh.

“Hyung.” Sapaku pelan sambil menggoyangkan pundaknya. Onew hyung terlihat terkejut, tapi masih saja berpura-pura tersenyum.

“waeyo?” tanya hyung sambil tersenyum lebar padaku. Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu hyung, batinku.

“apa kau sakit hyung?”

“aniya, aku sangat sehat. Mungkin hanya kelelahan saja. Geogjonghajima. Keringkan rambutmu, kalau tidak kau bisa masuk angin.” Onew hyung tersenyum simpul lalu masuk ke kamarnya sendiri.

“Minho hyung, aku sudah selesai mandi. Mana Onew hyung? Dia belum mandi kan?” si maknae Taemin muncul dengan rambutnya yang masih basah sepertiku. Suara Key terdengar nyaring dari dapur ,”makan malam sudah siap! Ayo makan!” teriaknya.

“Jonghyun hyung, simpan handycam-nya, nanti saja baru dilihat, makan dulu!!” teriak Key lebih nyaring. Jonghyun hyung keluar dari kamar dan sedikit mendengus kesal.

Kulirik pintu kamar Onew hyung yang masih tertutup rapat. Aku berjalan ke sana dan mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Pintunya tidak terkunci, jadi kubuka pintu perlahan. Ruangannya sangat gelap. Hyung sama sekali tidak menghidupkan lampu. Begitu lampu kuhidupkan, terlihat hyung yang meringkuk dibalik selimutnya diatas tempat tidur. Kudekati hyung perlahan-lahan, menggoyang-goyangkan tubuhnya agar bangun. Raut wajah hyung terlihat sekali sangat lelah, membuatku tidak tega untuk membangunkannya meski sekedar untuk makan malam. Aku menghela nafas pelan, bersiap-siap untuk meninggalkan hyung sendirian. Tapi sesuatu yang kulihat menghentikan gerakanku. Aku melihat sesuatu keluar dari sela-sela kelopak matanya, sebuah cairan bening. Ada apa denganmu hyung? Kenapa kau menangis? Langkah kakiku terasa berat mengingat hyung yang tertidur sambil menangis.

“Minho, kau kenapa?” tanya Jonghyun saat aku memasuki dapur.

“mana Onew hyung?” si maknae tidak kalah bingungnya.

“dia tidak mau makan? Nanti dia bisa sakit, padahal jadwal kita saja sudah cukup padat untuk saat ini.” Omel Key eomma sambil memberikan mangkuk nasiku.

“ada yang aneh dengan Onew hyung, kalian menyadarinya?” tanyaku, ketiga member SHINee langsung menatapku dengan pandangan tidak mengerti.


02 Dec 2010

Aku terbangun ketika mendengar suara berisik Key yang—lagi-lagi—sedang memaksa Taemin untuk menghabiskan sarapannya. Kutegakkan badanku, dan rasa sakit menyerang kepalaku yang terasa berat sekali.

“hyung, kau sudah bangun? Ayo sarapan, sebelum Key mengomel lagi.” Minho berdiri didepan pintu kamarku, aku mengangguk untuk menjawabnya. Minho menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kumengerti, tapi kuputuskan untuk mengabaikannya. Akhir-akhir ini Minho sedikit berbeda. Dia biasanya tidak banyak bicara, tapi akhir-akhir ini dia selalu mengajakku bicara banyak. Ada apa dengannya?

“pagi semua!” aku keluar dari kamarku dengan sebuah senyum yang tidak asing terpampang jelas diwajahku, tapi senyum itu segera memudar, ketika keempat dongsaengku menghentikan segala aktifitas mereka dan memandangku, dengan tatapan aneh. Aku mengerutkan kening dan menggeleng pelan, hari ini semua orang bertingkah aneh. Aku tidak punya banyak waktu untuk memikirkan apa yang membuat mereka seperti itu, sejam lagi kami harus mengisi acara, jadi aku harus bergegas mandi.

Setelah selesai mandi dan melangkah keruang tamu, lagi-lagi mereka terdiam melihatku. Aku yakin tadi mereka berbisik-bisik, tapi kenapa begitu melihatku mereka jadi diam?

 

03 Dec 2010

Aku menatap bayangan diriku dicermin dalam ruang latihan di SME. Kenapa aku merasa seperti tidak melihat diriku sendiri? Apakah ini seorang Onew? Seorang Lee Jinki?

Aku memilih untuk duduk sendiri dipojokan ruangan saat istirahat, sementara dongsaengku pergi membeli minuman dilantai bawah. Pandanganku menerawang kosong, dan pikiranku melayang-layang ke waktu yang tidak kuinginkan. Bisa kurasakan bulir-bulir airmata mulai turun membasahi pipiku, tak bisa kutahan lagi. Kusadari derap langkah yang semakin mendekati ruang latihan. Kuhapus bekas-bekas airmata yang masih terbentuk diwajahnku, kemudian memejamkan mataku dan berpura-pura tidur agar mereka tidak menanyakan mataku yang memerah.

 

04 Dec 2010

“Hyung, tanggal 9 nanti hari ulangtahunku, kau ingat kan?” tanya Minho tiba-tiba saat kami sedang berada didalam mini van. Aku menangguk sambil menggerutkan keningku. Apa mungkin aku bisa lupa ulangtahun dongsaengku? Aku ini kan tidak hanya hyung mereka, tapi juga leader mereka.

“jadwal kita kosong, bagaimana kalau kita membuat pesta kecil-kecilan di dorm? Hyung setuju kan?” tanyanya lagi, dan lagi-lagi aku mengangguk. Tidak biasanya dia meminta dibuatkan pesta.

“kau ingin hadiah apa?” tanyaku bersemangat, mengingat aku belum memilih hadiah yang tepat untuk diberikan padanya. Minho menatapku dengan tatapan aneh lagi, kemudian tersenyum, “akan kuberitaukan saat ulangtahunku, hyung.”

“kau tidak takut kalau hadiah yang kau inginkan itu tidak sempat kubeli?” tanyaku ragu. Minho hanya menggeleng yakin.

 

05 Dec 2010

“Onew hyung!! Kau mau melewatkan makan malammu lagi? Nanti kau sakit!” omel Key kesal saat aku menolak untuk makan malam dan memilih untuk masuk ke kamarku dan tidur. Aku merasa sangat lelah akhir-akhir ini. Kenapa akhir-akhir ini orang itu kembali hadir dalam pikiranku? Mungkinkah karena aku akhirnya kembali bertemu, atau lebih tepatnya melihat dia lagi setelah hampir 4 tahun berlalu? Ya, meski hanya melihat sekilas di backstage MuBank beberapa hari lalu, tapi aku bisa yakin kalau itu adalah dia. Bagaimanapun dia berubah, aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Aku benci dengan diriku yang lemah seperti itu, masa-masa terpuruk itu sudah berlalu, Lee Jinki! Sekarang aku tidak seharusnya kembali ke masa itu, tidak seharusnya aku kembali merasakan rasa sakit itu! Batinku pada diriku sendiri, kugenggam rambutku seerat mungkin seiring rasa sakit yang kembali kurasakan.

 

06 Dec 2010

“Taeminnie, kau mau ikut aku ke supermarket?” tanyaku saat melihat Taemin yang baru bangun, lengkap dengan rambutnya yang acak-acakkan.

“ne! tunggu sebentar hyung! Aku cuci muka dulu!” dengan cepat Taemin melesat ke kamar mandi dan keluar dengan tampang yang jauh lebih segar.

“hyung kajja!” teriak Taemin dengan wajah sumringahnya.

“pakai jaketmu dulu, cuaca hari ini cukup dingin.” Perintahku sambil menunjuk jaketnya yang masih diletakkan disandaran sofa sejak semalam. Taemin menurutiku dan memakai jaketnya.

“Onew hyung? Kau mau ke mana sepagi ini?” Jonghyun keluar dari kamarnya sambil mengucek matanya yang masih setengah tertutup.

“mau ke supermarket, hyung mau ikut?” ajak Taemin. Jonghyun menggeleng dan memberikanku secarik kertas.

“igemwoya?” tanyaku bingung.

“rincian keperluan bulanan. Key menyuruhku membelinya kemarin. Karena hyung mau pergi, jadi sekalian aku titip hyung saja.” Katanya sambil kembali masuk ke kamarnya untuk tidur.

“hyung kajja!” panggil Taemin yang matanya jelas sekali terlihat bersinar sekarang.

“kajja..” balasku.

Di supermarket, aku mengambil troly belanjaan dan mulai mengecek satu per satu rincian belanjaan yang diberikan oleh Jonghyun tadi, sementara si Taemin sudah asyik berkeliling sendiri dan datang dengan berbagai macam makanan ditangannya.

“Taemin-ah, apa saja yang kau ambil? Banyak sekali!” protesku saat melihat banyak sekali cemilan yang dimasukkannya ke dalam troly belanjaanku.

“aku suka semuanya hyung! Lagipula ini untuk persediaan seminggu ke depan.” Sahut Taemin manja. Aku menghela nafas melihat kelakuan manja si maknae.

“ara, ara. Tapi setidaknya kau harus ganti rasa biskuit ini, cari yang lain selain cokelat. Kau sudah membeli terlalu banyak cemilan rasa cokelat.” Kataku sambil mengangkat sebungkus biskuit besar.

“oke,” Taemin berbalik dan bersiap pergi untuk mengganti biskuit itu, tapi tiba-tiba dia berlari lagi ke arahku, “hyung, kau bawa uang yang banyak kan? Aku tidak mau sampai kejadian aku dan Minho hyung terulang lagi—Hello Baby.” Protes Taemin.

“geogjongma, aku bawa lebih dari cukup.” Taemin lagi-lagi tersenyum dan kali ini benar-benar pergi untuk mengganti rasa biskuit itu. Aku mendorong troly belanjaanku sambil masih memperhatikan Taemin, takut kalau nanti dia menghilang.

Brukkkk! Kurasakan trolyku bertabrakan dengan troly milik pengunjung lainnya.

“ah, jweongsohamni—“ kata-kataku terputus begitu aku melihat siapa orang yang berdiri dihadapanku. Selama sedetik, rasa dingin menjalari sekitarku, membuatku membeku begitu saja. Orang yang ada dihadapanku juga terlihat terkejut, tidak kalah dariku. Aku menggertakan gigiku pelan, amarah membuncah dalam diriku. Tidak akan kupungkiri kalau aku masih merasakan amarah terhadap orang ini, tidak bisa kupingkiri bahwa aku membencinya.

“hyung, aku sudah menggantinya dengan rasa strawberry.” Taemin mengacungkan bungkusan biskuit itu dan memasukkannya ke dalam troly, meski aku masih belum bisa mengalihkan perhatianku dari orang di depanku. Taemin sepertinya menyadari keberadaan orang itu dan membungkuk memberi salam. Orang itu mengalihkan pandangannya dan menatap Taemin, kemudian membungkuk kecil.

“Taeminnie kajja.” Kurasakan suaraku sedikit bergetar. Kudorong trolyku dengan cepat. Mau tidak mau Taemin harus berlari-lari kecil mengikutiku.

 

MINHO POV

07 Dec 2010

“yeoja misterius?” tanya aku, Key dan Jonghyun hyung hampir berbarengan pada Taemin. Hari sudah cukup larut, dan Onew hyung langsung tertidur begitu kami sampai di dorm. Cepat-cepat kami berempat berkumpul diruang tamu. Taemin mengangguk kecil.

“iya, yeoja bertubuh mungil dengan rambut pendek. Neomu gwiyeopta, hyung!” lanjut Taemin.

“siapa yeoja itu?” kataku pelan sambil berpikir keras.

“aku tidak tau kalau hyung kenal yeoja selain orang-orang dari dunia entertain.” Sahut Jonghyun hyung yang juga jelas terlihat bingung.

“geure! Apa kau yakin yeoja itu bukan artis atau semacamnya?” selidik Key. Taemin mengangguk cepat.

“aku yakin hyung. Kalaupun dia pendatang baru, aku pasti tau.” Jawab Taemin mantap.

“aneh, memang aneh seperti katamu Minho. Onew hyung kan selama ini hanya sibuk kerja saja, tidak pernah dekat dengan yeoja manapun selain urusan kerjaan.” Jari telunjuk Jonghyun hyung bermain-main didagunya.

“apakah mungkin yeoja itu penyebab Onew hyung terlihat sedih akhir-akhir ini?”

“apakah mungkin mereka diam-diam pacaran?”

“lalu mereka sedang bertengkar sekarang?”

“atau jangan-jangan, yeoja itu fans gila yang mengejar-ngejar Onew hyung?”

aku larut dalam pikiranku sendiri dan membiarkan spekulasi-spekulasi dari mereka bertiga hilang timbul ditelingaku.

 

08 Dec 2010

“hyung, waegeure?” tanyaku untuk yang kesekian kalinya, karena untuk yang kesekian kalinya pula Onew hyung melupakan gerakan dancenya, juga lirik bagiannya.

“mianhae..” hanya itu jawaban yang keluar dari mulut hyung.

“baiklah, kita ulang sekali lagi ya,” Taemin kembali menyetel tape yang melantunkan lagu Hello~

Menit pertama, tidak ada kesalahan, nyaris sempurna. Tapi lagi-lagi Onew hyung berhenti menari, membuat kami semua ikut berhenti dan menatapnya bingung. Kulihat Key maju dan berdiri tepat di depan Onew.

“hyung, kalau kau ada masalah, katakanlah pada kami.” Kata Key sambil memegang pundak Onew hyung. Onew hyung menepisnya dan terduduk didepan cermin sambil membenamkan wajahnya dibalik lututnya.

“hyung, aku sedang berbicara denganmu! Kau ini kenapa sih!!?” bentak Key yang sudah mulai emosi, aku mencoba menenangkannya, tapi Key menolak dan masih terus menatap Onew hyung dengan tajam.

“naneun gweanchana.” Balas Onew hyung.

“gotjimal!! Kenapa kau tidak pernah mau cerita pada kami kalau kau punya masalah? Apa kau tidak percaya pada kami!?” bentak Key lagi, kali ini aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca.

“ayo, kita latihan lagi.” Onew hyung berdiri dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

“YAAAAA! LEE JIN KI!!! Jawab aku!” Key meraih pundak Onew hyung yang membelakanginya sekarang.

“JANGAN PANGGIL AKU LEE JIN KI!! Aku tidak suka ada orang yang memanggilku seperti itu!” kali ini Onew hyung menghempaskan tangan Key dengan kasar dan balik berteriak. Taemin hanya memandangi mereka dengan gelisah, Jonghyun hyung mencoba untuk menahan Key, dan aku sendiri bingung dengan apa yang harus kulakukan.

“aku tidak peduli dengan apa yang kau ingin kan, karena kau sendiri tidak pernah mempedulikan apa yang kami inginkan darimu! Kau pikir karena kau seorang leader, berarti kau hebat? Kau pikir karena kau seorang leader maka kami tidak bisa membantumu ketika kau sedang ada masalah? Kau salah, LEE JIN KI !!”

“sudah kubilang jangan sebut namaku!!” tangan Onew hyung terkepal erat, dan siap melayangkan tinjunya ke arah Key. Tapi sesuatu menghentikannya. Sebuah suara membuat pandangan Key, Onew Hyung, Jonghyun hyung dan Taemin teralih padaku. Tanpa kusadari aku terisak, rasanya dadaku terasa sangat sesak, sesaat aku merasa aku hampir lupa bagaimana caranya untuk bernafas. Aku terjatuh ke lantai, sebelah tanganku memegang dadaku yang masih terasa sakit. Mereka berempat segera menghampiriku, Onew hyung yang pertama kali merangkul pundakku.

“Minho-ah, waeyo?” suara Onew hyung jelas terdengar panik.

“semuanya karena kau!! Kau pikir kami tidak menderita melihatmu berubah jadi aneh seperti ini?” tantang Key, namun kali ini sengaja tidak menyebut nama Onew hyung. Tangan Onew hyung kembali terkepal, tapi dia tidak melayangkan tinjunya, dia mencoba untuk bersabar.

“Onew hyung, jangan seperti ini, jebal.” Kataku setelah akhirnya aku bisa sedikit menenangkan diriku. Aku tidak mempedulikan lagi airmataku yang terus mengalir.

“ne, Onew hyung. Kau membuat kami menderita.” Lanjut si Maknae, yang kutau dia juga mulai menangis sekarang. kemudian terdengar suara Key yang terisak di sebelah Jonghyun hyung—orang yang pertama kali menangis saat mendengar bentakan pertama Key.

Onew hyung hanya menggosokkan keduatangannya diwajahnya yang terlihat sangat kusut. Onew hyung berdiri, kemudian menyambar tasnya dan keluar dari ruang latihan. Tidak ada seorang pun diantara kami yang berniat untuk mengejarnya, kami hanya terduduk dan mulai merajut pikiran masing-masing.

 

09 Dec 2010

Hari ini adalah ulangtahun terburuk dalam hidupku. Key masih saja terlihat suram sejak pertengkaran kemarin, Jonghyun hyung masih sibuk untuk menghibur Key, Taemin juga hanya termenung saja, sementara Onew hyung? Dia tidak pulang semalam. Nomornya tidak aktif.

Taemin beranjak dari sofa, membuka pintu setelah mendengar suara bel.

“Onew hyung!!” suara nyaring Taemin membuatku terlonjak kaget. Buru-buru aku menghampiri pintu dan benar saja, Onew hyung berdiri di sana dan tersenyum manis sambil mengangkat sebuah kotak kecil ditangannya.

“Minho-ah, saengil chukkae! Bukankah kau bilang mau merayakan ulangtahunmu? Aku sudah membelikan kue untukmu, juga beberapa makanan lainnya.” Onew hyung masuk tanpa mempedulikan tatapan bingung dari kami. Dengan cekatan, Onew hyung membuka kotak kue itu, menyalakan lilin dan menyuruh semua member untuk berkumpul.

“mana Key?” tanyaku saat sadar Key tidak ada diruangan bersama kami.

“dia langsung kabur ke kamar begitu tau Onew hyung pulang.” Jonghyun hyung menunjuk ke arah pintu kamar yang tertutup.

“Key, keluarlah. Kita harus merayakan ulangtahunnya Minho kan?” panggil Onew hyung sambil tersenyum. Tidak lama, Key keluar perlahan-lahan dari kamarnya dan bergabung bersama kami.

“saengil chukka hamnida, saengil chukka hamnida, saengil chukka uri Minho, saengil chukka hamnida~~~!” terdengar suara para hyung dan Taemin yang menyanyikan lagu ulangtahun untukku. Kutiup lilin-lilin yang mengelilingi kue ini.

“hyung, bolehkan aku minta hadiahku sekarang?” tanyaku begitu seluruh lilin telah kutiup. Onew hyung jelas terlihat bingung.

“tapi aku belum menyiapkan hadiah apapun. Bukankah kau bilang akan memberitauku apa yang kau inginkan pada hari ulangtahunmu?” sahut Onew hyung sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang kutau sama sekali tidak gatal.

“kalau begitu akan kuberitaukan pada hyung sekarang. hadiah yang kuinginkan sangat berharga, tapi aku tau hyung bisa memberikannya untukku.” Sahutku yakin, sementara kerutan di kening Onew hyung semakin bertambah.

“aku ingin senyum hyung, senyum yang tulus. Bukan senyum yang pura-pura dan penuh beban.” Onew hyung jelas terlihat salah tingkah mendengar kata-kataku.

“hyung, akhir-akhir ini kau sangat aneh, kami semua mengkhawatirkanmu.” Lanjut Taemin.

“mianhae hyung, kemarin aku sudah membuat hyung kesal. Kami hanya takut, hyung terlihat sangat lelah dan bertingkah aneh akhir-akhir ini. Aku takut kalau hyung sudah lelah bersama kami, takut kalau hyung membenci kami. Aku, Minho, Taemin ataupun Jonghyun hyung tidak ingin hyung menyerah dan akhirnya memilih untuk meninggalkan kami, kami tidak mau kehilangan hyung.” Terlihat mata Key kembali berkaca-kaca, Jonghyun hyung sudah tidak berkata-kata lagi karena sekarang dia sudah menangis terisak, aku merangkul Jonghyun hyung karena tau Key saat ini tidak akan bisa menghibur Jonghyun hyung, dia sendiri pun butuh kekuatan. Onew hyung terdiam dan tertunduk dalam-dalam.

“hyung, kau mungkin seorang leader, kau mungkin yang tertua di sini. Tapi bukan berarti kau harus menanggung semua beban sendirian. Kami semua di sini sebagai keluargamu, siap mendengarkan keluh kesahmu apa saja dan kapan saja. Kami tidak suka melihatmu tertekan seperti ini” Sahutku saat Onew hyung masih belum merespon. Tubuhnya bergetar, kini aku melihatnya menangis lagi. Aku melihat hyung yang selalu berpura-pura tegar ini menangis, tapi kali ini tidak ada kebohongan, tidak ada kepura-puraan. Hyung yang tidak mencoba untuk menyembunyikan kesedihannya, hyung yang tidak bersembunyi dalam gelap agar airmatanya tertutupi. Hyung yang berada dihadapan kami, menangis bersama kami. Detik berikutnya, tanpa aba-aba, kami semua merangkul Onew hyung, menangis bersamanya.

 

ONEW POV

10 Dec 2010

“apa kalian benar-benar berpikir bahwa aku akan meninggalkan kalian?” tanyaku pada para dongsaengku yang sekarang berbaring bersamaku di ruang tamu. Samar-samar aku mendengar mereka bergumam pelan mengiyakan kata-kataku. “mianhae, karena telah membuat kalian berpikir seperti itu. Aku tidak mungkin tega meninggalkan kalian begitu saja.” Sambungku.

“hyung, ceritakan pada kami, apa yang membuatmu sedih.” Pinta Jonghyun.

“apakah ini akan menjadi dongeng sebelum tidur?” cerocos Taemin bersemangat.

“aniyo, Taeminie. Bukankah hari ini kita tidak akan tidur?” protes Key.

“kalian yakin tidak mau tidur? Sudah jam 2 pagi.” Tanyaku ragu. Mereka semua menggeleng bersamaan.

“kami ingin mendengar ceritamu hyung.” Minho menatapku dengan penuh arti. Aku menghela nafas pelan, mencoba menguatkan diriku sendiri untuk bisa menceritakannya.

“wakut kelas 3 SMA, sebelum aku menjadi traine di SM, kalian pasti tau kan kalau aku orang yang pendiam dan tidak terlalu bergaul dengan lingkungan sekitarku? Tiba-tiba saja seorang yeoja menghampiriku, namanya Han Yoomin. Ia mendekatiku dan mencoba untuk bersahabat denganku. Tapi aku tau siapa dia sebenarnya karena teman-temanku pun sibuk membicarakan yeoja itu, orang-orang menjulukinya Helper. Dia akan membantu apa saja asal dibayar. Seorang hoobae menyukaiku, dan meminta Yoomin untuk mencari tau semua hal tentang diriku. Aku membiarkan dia berkeliaran disekitarku, kupikir tidak akan ada pengaruhnya dalam hidupku. Tapi aku salah, tanpa kusadari aku mulai menyukai, sayangnya, aku tidak tau apa yang dia rasakan padaku.” Aku menarik napas selama sedetik. Suasana masih sangat hening, tidak ada seorang pun yang berbicara dan menungguku untuk melanjutkan ceritaku.

“beberapa hari sebelum kelulusan, dia mengakui bahwa misinya telah selesai dan dia tidak akan menggangguku lagi. Sejak itu dia menghilang begitu saja, tidak ada kabar sedikitpun tentang keberadaannya. Hari kelulusan pun dia tidak datang.”

“apa yang hyung lakukan setelahnya? Hyung tidak mencoba mencari tau keberadaannya?” tanya Minho penasaran.

“bukankah sudah kubilang tidak ada kabar sedikit pun? Dia bagaikan hilang ditelan bumi.”

“jangan-jangan, sewaktu hyung menjadi traine itu, hyung masih sering memikirkannya?” Key merubah posisi tidurnya dan sekarang menghadapku.

“benar, aku sering melihat hyung melamun sendirian sehabis latihan.” Lanjut Jonghyun membenarkan. Aku mengangguk pasrah.

“ne, aku memang masih memikirkannya. Sulit sekali untuk menghilangkan seseorang yang berharga begitu saja kan? Setahun terakhir, aku sudah mulai bisa melupakannya karena jadwal kita yang padat yang bahkan menyulitkan kita untuk bernapas… tapi…” aku terdiam, sengaja menggantungkan kalimatku.

“tapi hyung bertemu dengannya lagi? Yeoja yang di supermarket itu?” Minho mengernyit menatapku, dan lagi-lagi aku mengangguk.

“kalau begitu, apa noona itu tau perasaan hyung?” tanya Taemin dengan wajah polosnya. Aku tertawa pelan.

“itulah, salah satu alasan kenapa aku masih marah padanya, ia bahkan tidak pernah memberikan kesempatan padaku untuk mengakui perasaan ini.”

“Hyung, apa sekarang kau sudah merasa lebih baikan setelah menceritakan hal ini pada kami?” tanya Key ragu.

“kalau masih belum cukup, katakanlah apa yang harus kami lakukan supaya membuat hyung lebih baikan.” Jonghyun duduk bersimpu di kedua lututnya dan menatapku dengan serius.

“atau kalau hyung masih merasa kesal, hyung boleh memukul, berteriak ataupun memakiku. Sesuka hyung.” Sambung Minho.

“hmmm, atau hyung boleh mengambil semua cemilanku.” Kata-kata Taemin sontak membuat ketiga member lainnya mendelik tajam ke arahnya mendengar responnya. Tawaku meledak saat itu juga. Bagaimana bisa aku lupa kalau aku mempunyai keluarga sebaik mereka? Tidak seharusnya aku larut dalam kesedihan dan membuat orang-orang yang menyayangiku ini mengkhawatirkanku?

“gomawo, karena kalian terus berada disisiku. Dan mianhae, aku sempat melupakan betapa bahagianya aku karena kalian yang selalu mendukungku. Tapi, tidak pernah sekalipun terbersit dibenakku untuk meninggalkan kalian, ingatlah itu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan kalian.”

“hyung, apa kau mendengarkan ceritaku?” tanya Key.

“ne, ceritakanlah. Kami akan mendengarkanmu.”

 

11 Dec 2010

Ternyata, perasaanku bisa menjadi jauh lebih baik setelah berbagi dengan mereka. Kemarin kami bercerita seharian, saling bertukar pikiran, menceritakan lelucon konyol bahkan masalah yang serius.

“yeoja itukah?”

“jeongmal? Kau yakin, Taeminie?”

“waaaah~ neomu gwiyeopta!”

Keempat member SHINee asyik melirik ke lantai 1 gedung SM, karena penasaran, kulirik juga apa yang dari tadi mereka lihat. Degub jantungku menggebu-gebu.

“benar yeoja itu kan hyung? Yeoja yang di supermarket itu?” aku mengangguk pelan menanggapi pertanyaa Taemin.

“hyung kau tidak ingin berbicara dengannya?” tanya Minho.

“kalau kau mau bicara dengannya, kami akan bawa dia kehadapanmu hyung.” Tawar Key.

“serahkan padaku, aku pasti bisa membawanya menemui hyung!” tegas Jonghyung yang langsung berlari cepat menuruni tangga, diikuti ketiga member lainnya. Aku berjalan gontai ke ruangan SHINee, terduduk lemas disofa putih yang nyaman. Jantungku masih berdegub tidak karuan.

“annyeong hase—“ kepalaku mendongak untuk melihat yeoja itu. Kata-katanya terputus begitu melihat wajahku. Entah apa yang dilakukan para dongsaengku, tapi aku yakin mereka menipu Yoomin agar datang ke sini.

“Han Yoomin, lama tidak bertemu.” Sapaku, mencoba setenang mungkin.

“ne, apa kabarmu?”

“apa yang kau harapkan? Melihatku terpuruk setelah kepergianmu?” tanyaku, kusadari nada suaraku yang sudah berubah sinis. Yoomin mengambil tempat duduk disampingku, mencoba untuk menjaga jarak.

“kau sudah berubah banyak. Han Yoomin yang kukenal tidak setenang dan sediam ini.”

“aniya, aku tidak berubah. Sama sekali tidak berubah. Masih sama seperti empat tahun yang lalu.” Jawab Yoomin mantap.

“maksudmu, masih menjadi Helper seperti dulu?” aku menoleh menatap Yoomin, mendapati pandangan Yoomin yang terus terarah padaku. Yoomin mengangguk pelan mengiyakan pertanyaanku.

“kenapa kau pergi begitu saja? Kenapa kau tidak mengatakannya lebih dulu padaku, tentang kepergianmu?”

“untuk apa? Kau jelas tau aku mendekatimu hanya untuk menyelesaikan misiku, aku sudah memberitaumu bahwa misiku selesai.” Suara Yoomin terdengar sangat dingin ditelingaku.

“untuk apa katamu? Kau sedang bercanda denganku, Han Yoomin?” suaraku tidak kalah dingin dibanding dirinya.

“apa yang kau bicarakan? Aku sama sekali tidak meng—“

“kau jelas tau bagaimana perasaanku padamu saat itu!!” bentakku sambil memotong pembicaraannya.

“aku sungguh tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Perasaan apa yang kau maksud? Kau sama sekali tidak pernah mengatakan apapun padaku, jadi bagaimana bisa aku mengerti?” sahut Yoomin masih terdengar tenang dan cuek. Melihat reaksinya yang datar seperti itu, aku menjadi sangat marah. Kutarik tangan Yoomin dengan kuat, memaksanya menghadapku dan mendorongnya dengan kuat hingga ia terbaring disofa dan aku berada diatasnya, menatap langsung ke dalam mata beningnya yang sekarang terbelalak karena terkejut.

“kalau begitu, akan kukatakan padamu. Aku menyukaimu, Han Yoomin. 4 tahun yang lalu aku menyukaimu, sekarang pun aku masih menyukaimu, dan 4 tahun yang akan datang pun akan terus menyukaimu!” Yoomin terdiam mendengar perkataanku. Suasana hening berlangsung selama beberapa menit hingga sebuah ketukan di pintu terdengar dan suara Key yang mengingatkan kalau kami harus segera berangkat untuk mengisi acara.

 

12 Dec 2010

“hyung, kau baik-baik saja?” Key mengenggam secangkir susu cokelat ditangan kanannya dan berjalan menghampiriku.

“entahlah, sepertinya aku merasa tidak sehat.” Jawabku jujur.

“minumlah obat.” Perintah Jonghyun sambil menyodorkan segelas air hangat dan obat. Aku meneguknya dengannya cepat.

“hyung, kalau sudah benar-benar tidak kuat lagi, jangan paksakan dirimu. Jangan sampai kau pingsan lagi seperti di MuBank waktu itu.” Taemin duduk disampingku dan melihatku dengan seksama. Aku hanya mengangguk untuk mengiyakan karena terlalu malas untuk menjawab.

“hyung, bagaimana kemarin? dengan Yoomin noona?” tanya Minho. Aku menghela napas pelan dan menunduk.

“entahlah, sepertinya dia membenciku sekarang.”

“eh? Maldoandwea! Bagaimana mungkin b—mpfhh!“ belum selesai Key berbicara, Jonghyun dan Minho langsung membekap mulutnya. Aku tertawa kecil dan beranjak ke kamar mandi.

 

13 Dec 2010

“hyung, bagaiman keadaanmu? Sudah merasa lebih baik? Apa kau masih minum obatmu?” cerocos Key saat kami masih di backstage. Aku mengangguk pelan sebagai ganti jawaban.

“hyung, kau jangan tampil saja ya?” pinta Taemin memelas begitu melihat keringat dingin bercucuran dikeningku.

“naneun jeongmal gweanchana. Geogjongma.” Sahutku masih tetap keras kepala. Dan menghapus butir-butir keringatku.

***

“untunglah berlangsung dengan baik!” teriak Jonghyun sambil meregangkan tubuhnya yang lelah setelah performance. Tiba-tiba saja keempat member berhenti berjalan. Aku mengintip dari balik bahu Minho yang berdiri tepat di depanku. Seorang yeoja mungil berdiri mematung dihadapan kami.

“bisa kita bicara sebentar?” tanya Yoomin sambil menatapku. Semua member menoleh memperhatikanku dan segera menyingkir begitu aku memberi isyarat. Mereka berdiri cukup jauh dari tempat kami berdiri, mencoba memberi privasi untuk kami berdua.

Ia tertunduk menatap lantai yang kelihatannya lebih menarik dibandingkan aku baginya.

“aku… aku akan meninggalkan Seoul besok pagi.” Katanya sedikit terbata-bata diawal. Lagi-lagi aku terpaku di tempat. Kata-katanya, sukses membuat pikiranku menjadi kosong.

“aku hanya ingin memberitaukan itu padamu. Annyeong!” Yoomin berbalik, bersiap untuk melangkah pergi. Aku menahannya, kupegangi tangannya dengan erat, tidak mengizinkan dia pergi ke manapun. Kepalaku terasa sangat berat, pandanganku mulai memudar, perlahan-lahan terasa seperti berputar-putar. Selanjutnya semua menjadi gelap. Samar-samar kudengar suara Yoomin yang panik, diikuti derap langkah empat pasang kaki yang mendekatiku.

 

14 Dec 2010

Aku terbangun dengan mendapati pemandangan yang sudah biasa kulihat ketika pertama kali aku membuka mataku. Kupegangi kepalaku yang masih terasa berputar-putar.

“hyung! Kau sudah sadar?” dengan malas kupejamkan kembali mataku, berharap rasa pusingku berkurang meski hanya sedikit. Tidak kutanggapi pertanyaan Key.

“kasihan sekali kau hyung. Padahal kan hari ini ulangtahunmu, kau malah harus terbaring di tempat tidur.” Suara yang kukenali sebagai suara Taemi terdengar agar jauh ditelingaku, mungkin dia sedang duduk di sofa dekat pintu.

“jam berapa sekarang?” tanyaku, masih tidak mempedulikan kata-kata mereka.

“sudah hampir jam 2 siang hyung.” Aku mendesah pasrah. Bukankah Yoomin bilang dia akan pergi dari Seoul pagi ini? Aku kehilangan dia? Lagi?

“hyung, kami punya hadiah special untukmu.” Suara Minho terdengar sedikit tertawa. “hadiahnya akan kami tinggalkan dikamarmu, jangan lupa dilihat ya?” lanjut Minho, yang masih bisa kudengar suara tawanya.

“Saengil chukkae uri Leader Onew~!” teriak mereka bersamaan sebelum aku mendengar suara pintu kamarku yang terkunci. Kamar ini kembali sunyi, hanya ada aku sendiri. Sesuatu yang hangat menyentuh pipiku, terasa sangat nyaman. Dengan malas kubuka mataku, dan sedetik kemudian mataku terbelalak lebar melihat apa yang ada dikamaraku.

“bagaimana kau bisa ada di sini?” tanyaku tidak percaya.

“semalam, pada dongsaengmu merengek padaku agar tidak meninggalkanmu lagi.” Yoomin tersenyum manis, senyum yang sudah lama tidak kulihat.

“hanya karena mereka?” tanyaku tidak percaya, lagi-lagi dia tersenyum, namun kali ini lebih lebar.

“kau pikir aku tetap akan tinggal di sini meskipun aku tidak menyukaimu?” Yoomin menjawabku dengan pertanyaan. “aku juga menyukaimu, tidak percayakah kau?” tanyanya lagi.

“bagaimana aku bisa percaya kalau kenyataannya kau lah yang pergi meninggalkanku begitu saja. Tidak pernah mengabariku sekalipun. Dan kau bersikap sangat dingin padaku beberapa hari lalu.” Suaraku tercekat, tapi aku masih berusaha untuk menyelesaikan kata-kataku.

“aku.. Orangtuaku bercerai 4 tahun lalu. Aku tidak suka ikut dengan mereka, kuputuskan untuk tinggal bersama halmeoni di Mokpo. Dan aku tidak bisa mengatakan apapun padamu, karena aku sangat menyukaimu. Aku tidak ingin mendengarmu memintaku untuk tidak pergi, karena itu pasti akan membuatku goyah. Dan beberapa hari yang lalu, apa kau berharap aku akan bersikap ramah padamu, bersikap seperti seorang teman lama? Padahal aku tau kalau aku masih sangat mengharapkanmu.” Jawabnya tanpa menatapku. Kupegangi dagunya, memutar wajahnya agar menatapku juga.

“sejak kapan kau menyukaiku?” tanyaku langsung. Yoomin terdiam, terlihat ragu-ragu untuk mengatakannya.

“sejak kelas 1 SMA. Aku selalu ingin mendekatimu, tapi aku takut. Dan waktu itu seorang hoobae meminta bantuan untuk mencaritau tentang dirimu. Jadi kupikir itu kesempatan yang bagus untuk mendekatimu.” Yoomin terlihat malu-malu, wajahnya merah merona.

“kalau begitu jadilah milikku.” Kataku pelan, tapi masih bisa didengar oleh Yoomin. Belum sempat Yoomin menjawab, kukecup bibir mungilnya selama sedetik. Yoomin mendorong tubuhku menjauh darinya.

“waeyo?” tanyaku sambil mengangkat sebelah alisku.

“kau.. kau tidak malu bersamaku?” Yoomin buru-buru menambahkan ketika melihatku masih menatapnya dengan bingung, “maksudku, aku dibayar oleh orang untuk melakukan apa yang mereka minta. Apa kau tidak merasa aku rendah?” kutanggapi kata-katanya dengan senyuman, dan lagi-lagi menariknya merapat dalam pelukanku. Kusentuh lagi bibir mungilnya, kali ini lebih lama dari sebelumnya.

“kau tidak menjual tubuhmu, Han Yoomin. Yang kau jual adalah jasamu. Kau sama sekali tidak rendah.” Kataku, mencoba menyakinkannya, “meski sampai sekarang kau masih bertahan dengan julukan Helper-mu, aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanya Han Yoomin seorang.” lanjutku mantap.

“aku memang masih menjadi Helper, tapi tanpa biaya. Sekarang aku punya café sendiri, dan itu sudah cukup untuk membiayai kehidupanku.” Jawab Yoomin.

“Yoomin-ah, aku ingin jujur padamu. Aku.. Pernah merasa marah dan membencimu karena kau meninggalkanku begitu.” Aku tertunduk, merasa malu pada perasaan itu.

“gweanchana. Aku justru akan heran kalau kau tidak pernah marah dan benci padaku. Jeongmal gweanchana, Jinki-ah.” Tangan Yoomin mengusap-usap pipiku dengan lembut. Kudongakkan kepalaku untuk menatapnya.

“sekali lagi..” kataku pelan, “ucapkan namaku sekali lagi.” Pintaku

“Jinki-ah…” Yoomin menurutiku dan menyebut namaku lagi. Perasaan itu, perasaan yang sama yang kurasakan 4 tahun lalu ketika ia menyebut namaku. Aku benci ketika orang-orang memanggilku dengan Jinki, karena mereka hanya akan mengingatkanku pada Yoomin, dan lagi cara mereka memanggil tidak seperti cara Yoomin memanggilku.

“Yoomin-ah, bogoshipo. Berjanjilah untuk menjadi milikku selamanya dan tidak akan pernah meninggalkanku lagi. Jangan buat aku panik karena kau tiba-tiba menghilang.” Aku memeluk Yoomin seerat mungkin, agar dia tau bahwa aku benar-benar takut kehilangan dirinya.

“ne, yaksok.” Kurasakan tangan Yoomin yang balas memelukku.

“hyung? Apa yang kalian lakukan didepan kamar Onew hyung?” terdengar suara polos Taemin dari luar kamarku. Aku dan Yoomin menoleh ke arah pintu, mendapati pintu yang sedikit terbuka, dengan ketiga kepala namja yang menyembul ke dalam kamarku.

Key langsung berlari untuk membekap mulut Taemin sebelum dia sempat bicara hal lain, Jonghyun bersiul-siul pelan dan melenggang pergi, menyisakan Minho sendirian yang tertawa kosong.

“ah, hyung. Kami sudah menyiapkan kue ulangtahunmu. Kau sudah merasa lebih sehatkan sekarang? kajja!” Minho menggaruk-garuk kepalanya dan kemudian ikut menyusul Jonghyun. Kulirik Yoomin yang mukanya semakin memerah, kuelus kepalanya dan tertawa kecil.

“bertahanlah, mulai sekarang para dongsaeng jahil itu juga akan menjadi dongsaengmu.”

THE END

11 thoughts on “Be Mine”

  1. selalu suka sama ff yuyu eonni =)
    biasanya baca ff di blog tetangga hehehe, trs gugling nemu ini *happy bgt!!*
    yuyu eonni, ayo bikin lebih banyak ff!!!
    saya pembaca setia ff buatan eonni😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s