Mianhaeyo YEOBO – – – Part 3

pertama-tama, saya mau minta maaf karena telah menghilang ‘hiatus’ gg bilang”. kemaren saya lagi fokus buat uas sekolah . jadi sama sekali gg punya ide buat bikin ff . tapi sekang saya kembali . mudah”an masih inget ff ini . langsung ajj .

***

Seoul Senior High School. 30 September 2010 – 08.07PM

Seperti biasa, pagi ini aku berangkat sekolah diantarkan oleh Jungso oppa. Heuh, eomma menegurku karena aku selalu memanggil namanya langsung. Selain karena teguran eomma, karena dia memang jauh lebih tua dariku, dengan berat hati aku harus menambah kata ‘oppa’ dibelakang namanya.

Hari ini tepat dua minggu setelah pernikahanku berlangsung. Tidak ada yang berubah, aku tetap menjadi anak sekolah yang mempunyai tugas utama belajar. Aku sama sekali tidak pernah merasakan menjadi seorang istri. Semua kebutuhanku masih dipenuhi appa. Hanya saja sekarang anggota keluargaku bertambah satu dengan datangnya Jungso oppa yang menjadi suamiku. Kalian tau bagaimana sikap Jungso oppa padaku? Sangat dingin dan menyebalkan. Entah kenapa dia bisa begitu murah senyum terhadap orang lain. Tapi terhadapku, dia langsung menekuk wajahnya. Kami hanya bertegur sapa seperlunya. Bahkan kita hanya akan mengobrol jika makan malam tiba, Jungso oppa selalu besikap ramah kepadaku jika itu di depan orangtuaku atau ada orang lain. Dibelakang itu? Huh.

Guru matematika sekaligus wali kelasku masuk kedalam kelas. Tidak biasanya wajahnya berseri-seri begitu. Eunhye seongsaengnim hanya akan tersenyum jika bertemu dengan laki-laki tampan yang bisa membuat jantungnya berdetak seribu kali lipat. Kalau begitu siapa laki-laki yang sudah membuat Eunhye seongsaengnim seperti itu? Ah, molla. Tidak penting juga untukku.

Anneyong. Hari ini kalian akan punya teman baru.” kata seongsaengnim membuat seluruh murid dikelas bergemuruh.

“Kibum-ssi, silahkan masuk.” Tiba-tiba seorang laki-laki masuk yang langsung disambut dengan teriakan dari beberapa murid perempuan dikelasku. Aku mendongak sebentar, kuperhatikan laki-laki itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Oke, rambutnya tertata rapi, wajahnya tampan, seragamnya tidak kusut, jasnya juga rapi, ukuran celananya tidak kebesaran, memakai sepatu yang sesuai dengan aturan sekolah tapi tidak kolot. Baiklah, aku akan memberikannya nilai 7,5.

“Kalau begitu sekarang perkenalkan dirimu.” Pinta Eunhye seongsaengnim.

Anneyonghasaeyo, Kim Kibum imnida. Kalian bisa memanggilku Kibum. Aku pindahan dari Amerika. Aku mohon bantuannya.” Setelah selesai memperkenalkan diri dia langsung mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kelas sambil tersenyum. Harus kuakui kalau senyumnya memang menawan dan bisa membuat wanita meleleh. Aku suka laki-laki yang murah senyum, karena setiap hari aku bertemu Jungso oppa dirumah dengan muka ditekuk membuatku bad mood. Kali ini aku naikan nilainya menjadi 8.

“Kalau begitu kau bisa langsung duduk di..” Eunhye seongsaengnim mengedarkan pandangannya dan berhenti saat matanya menangkap mataku lalu mengalihkan pandangannya pada bangku disebelahku, aku pun mengikuti pandangan itu. Bingo, bangku disebelahku memang kosong.

“Kau bisa duduk disebelah Hyena. Kalau kamu ingin berjalan-jalan mengelilingi sekolah ini, Hyena bisa menemanimu, karena kebetulan dia juga salah satu senior yang bisa diandalkan. Iya kan Hyena?” aku yang sedari tadi hanya melongo langsung kaget begitu mendengar namaku dipanggil.

“Ah, ne.” jawabku walaupun tak mengerti. Anak baru itu pun berjalan menghampiri bangkuku. Aigoo, jantungku berdetak lebih kencang.

“Hai.” sapanya.

“Eh? Oh. Hai.” Jawabku gelagapan.

“Aku Kibum.” Katanya lalu mengulurkan tangannya.

“Choi Hyena imnida” jawabku lalu menjabat tangannya. Setelah itu dia langsung duduk disampingku. Sekarang nilainya menjadi 8.5 karena aku mencium bau parfum yang dia pakai. Benar-benar manly.

***

Jam istirahat tiba. Seperti janjiku tadi, aku mengantar Kibum berkeliling sekolah. Aku punya tiga sahabat baik, amat baik malahan. Hanya saja sekarang mereka sedang sibuk dengan urusan masih-masing. HaeRin akan menjadi wakil sekolah untuk olimpiade matematika, YuuLi sibuk mempersiapkan acara pentas seni sekolah karena tahun ini dia menjabat ketua panitianya, dan Kyuna sedang mengikuti ujian beasiswa untuk kuliah di Jepang. Semua sahabatku mempunyai kesibukan dan prestasi dibidangnya masing-masing. Sementara aku? Tidak terlalu menegcewakan kok. Terkadang aku diajak untuk mewakili sekolah olimpiade fisika. *bo.ong banget. aslinya gak gitu*.

“Sekarang kau akan mengajak kemana?” tanya Kibum menyadarkanku.

“Eumh, bagaimana kalau kita keatas gedung ini, karena dari sana kita bisa melihat seluruh bangunan sekolah.” Ajakku. Kibum pun mengangguk. Setelah sampai dilantai atas aku langsung menjelaskan padanya tentang sekolah ini.

“Memulai dengan ruang kelas? Disekolah ini terdapat 5 gedung utama dan 1 lapangan upacara, gedung yang paling depan adalah ruangan kepala sekolah, kantor guru dan juga kantor administrasi. Gedung kedua berisi seluruh ruangan kelas, semuanya ada 18 kelas, masing-masing tingkatan ada 6 kelas dan setiap tingkatan mempunyai kantin dan toilet tersendiri. Gedung ketiga adalah ruangan khusus kegiatan ekstrakulikuler dan organisasi, disini ada lebih dari 20 ekstrakulikuler, setiap siswa wajib untuk ikut minimal 1 ekstrakulikuler, nanti brosurnya akan aku berikan. Gedung keempat adalah gedung olah raga, dilantai paling atas ada dua lapangan basket, lantai kedua ada lapangan futsal, dan yang paling bawah adalah kolam renang. Sebenarnya sekolah juga mempunyai fasilitas golf, pacuan kuda, dan ski, hanya saja tempatnya tidak disini. Nah, yang terakhir adalah gedung pertemuan atau aula. Gedung ini adalah gedung serbanguna, biasa dipakai acara perpisahan sekolah, pertemuan, acara kesenain, ataupun lomba.” Jelasku panjang lebar. Kulihat Kibum hanya mengangguk-ngangguk.

“Wah, kalau begitu berarti sekolah ini memang yang paling terbaik di Seoul.” Katanya berdecak kagum.

“Tentu saja. Setiap tahun ada sekitar seribu pendaftar kesekolah ini, tapi sekolah hanya akan menerima 120 siswa terbaik dengan kuota 20 orang perkelas. Meskipun sekolah banyak mencetak prestasi, tapi banyak juga rumor jelek yang beredar tentang sekolah ini contohnya seperti sekolah khusus orang kaya. Yah, memang tidak dipungkiri, untuk masuk kesini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan kau termasuk beruntung, bisa masuk sebagai murid pindahan di akhir semester pula.” Kataku kembali menjelaskan.

“Sepertinya empat bulan bukan waktu yang cukup untukku menghapal semua tempat yang ada disini. Maukah kau menjadi School Guideku?” Kata Kibum sambil menerawang kearah langit.

“Eh? Eumh, baiklah.” kataku kemudian. Bel masuk pun berbunyi, aku dan Kibum kembali turun kelantai bawah untuk mengikuti pelajaran terakhir.

***

Setelah bel terakhir berbunyi, aku dan Kibum keluar bersamaan dari dalam kelas. Kami pun berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Tapi ketika kami melewati kantor administrasi, Kibum dipanggil oleh seorang petugas. Kami pun berpisah disana, aku pamit untuk pulang duluan.

Seperti biasa aku menunggu Jungso menjemput didepan gerbang sekolah. Aku mengambil handphone dari saku jas. Lalu mengiriminya sms.

To : Jungso Oppa

30 Sep 2010, 13:02:12

Oppa odieya? Aku sudah pulang. Sekarang didepan sekolah.

Tak berapa lama, handphoneku bergetar.

From : Jungso Oppa

30 Sep 2010, 13:04:02

Aku kesana sekarang.

“huh” desahku. Seperti inilah dia. Selalu saja dingin. Tiba-tiba motor besar berwarna putih *bayangin motornya yoon ji hu* berhenti tepat dihadapanku. Aku sempat mengerutkan keningku, tapi orang itu langsung membuka helmnya.

“Hyena, mau pulang bareng?” ajaknya. Ah, itu Kibum ternyata.

“Eumh, tidak perlu. Aku menunggu jemputan.” jawabku ramah sambil tersenyum.

“Oh, kalau begitu, aku duluan.” Pamitnya.

Ne, hati-hati yah.” kataku sambil melambaikan tanganku. Tidak lama berselang, mobil sedan hitam berhenti dihadapanku. Itu mobil Jungso oppa. Aku pun langsung naik, memasang sabuk pengaman, dan diam. Seperti inilah rutinitasku, tidak pernah ada dialaog yang terucap antara kami.

“Siapa laki-laki itu?” tanya Jungso tiba-tiba. Aku pun meliriknya. Tapi dia tetap memandang lurus kedepan.

“Yang mana?” tanyaku.

“Yang memakai motor putih dan membuatmu tersenyum” lanjutnya dingin.

“EH?” pekikku.

..to be continued..

13 thoughts on “Mianhaeyo YEOBO – – – Part 3”

  1. Wuah -.- kurang panjang ~
    eonni , aku beLom puas baca dhe -.-

    tapi , bagus kok eon !😀
    hyena suka ma kibum ya ?? Ckck . Kasiian teukie oppa (?) hehehe

    part sLanjutnya cpetan ye eon :))

      1. wah-wah-wah~~
        gak kebayang kalo wjh teuki dingin” gitu~~
        uhm~~~
        mnrtQ sih keren~~
        >///<
        *suka sama org dingin*

  2. pendek bgt huhu
    lanjut asap yaaaa yang panjang hahaha
    kyaaaa kibum, yeobo *cium kibum*
    aigoo. teuki ahjussi cemburu tuh ^^
    lanjut asap pokonya thor, gapake lama tp pake panjang (?) *ditabok author* ^^v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s