(un)Requited Love 1.2

Seoyoun menghentikan langkahnya. Ia mengeluarkan sebuah buku sketsa yang sudah terisi hampir penuh dihalaman depan. Banyak hal yang ia lukis di sana, pemandangan alam, orang-orang bahkan gedung.

Seoyoun terpaku di tempatnya berdiri saat ini, sibuk menggambar sambil sesekali mengacungkan pensilnya untuk mengukur skala yang ia gunakan. Terdengar bunyi bel tanda jam pertama di mulai. Dengan panik Seoyoun menyimpan kembali buku sketsanya dan berlari dengan cepat ke arah kelas pertamanya. Semua mahasiswa sudah berkumpul dan Mr. Jung yang menjadi dosen mata kuliah pertamanya sudah berdiri diruang kelas.

Seoyoun menggigiti bibir bawahnya sembari merutuki dirinya sendiri karena terhanyut dalam kecintaannya pada lukisan di saat yang tidak pantas.

Seoyoun memberanikan diri mengetuk pintu. Semua pasang mata tertuju padanya, tak terkecuali Mr. Jung yang memelototinya.

“Miss Kang, kau terlambat, kau tau itu?” tanya Mr. Jung dengan datar.

“ne, cheongsohamnida Jung Songsaenim.” Seoyoun membungkukkan badannya dua kali. Mr. Jung tidak merespon dan hanya menatap Seoyoun lalu mendesah pelan.

“masuklah, jangan ulangi lagi dipertemuan selanjutnya.”

“ne, kamsahamnida.” Senyum Seoyoun mengembang sembari melenggang mencari tempat duduk yang kosong. Seorang namja yang duduk dibarisan kedua melambai pada Seoyoun dan menunjuk sebuah kursi kosong di sampingnya—yang menurut Seoyoun memang sengaja diselamatkan oleh namja itu.

Seoyoun mengangguk pelan lalu duduk disebelah namja itu. Namja itu menghadap Seoyoun dan tersenyum lebar.

“kau tau, seharusnya aku menunggumu digerbang jadi kau tidak akan terlambat dihari pertama.” Ucap namja itu.

“tidak perlu, Jinki-ya. Gomawo, karena kau telah menyediakan kursi untukku.” Balas Seoyoun sambil mengeluarkan peralatan tulis dari dalam tasnya.

“ne, cheonmaneyo.” Balas Jinki sambil berbisik agar Mr. Jung tidak mendengar mereka. Jinki kembali memfokuskan diri mendengarkan kata-kata Mr. Jung dengan seksama. Diam-diam Seoyoun menoleh ke samping dan memperhatikan Jinki yang. Ia merasa sedikit bersalah—sebenarnya ia tidak tau harus berbuat bagaimana.

Mereka telah saling kenal sejak SMA dan Seoyoun tau kalau Jinki menyukainya—meski Jinki belum menyatakannya langsung. Tapi saat ini hati Seoyoun tertutup untuk siapapun. Ia tidak ingin bersikap baik pada Jinki dan memberikan harapan kosong. Tapi ia juga tidak bisa bersikap dingin karena Jinki selalu ada untuk menolongnya setiap saat.

»»»»»»»»»»»»

Minho sibuk mengirim pesan singkat kepada Daemi dan tidak memperhatikan bahwa seluruh mahasiswi di kelasnya sibuk berbisik-bisik sambil melirik ke arahnya. Jonghyun menutup buku yang ia baca dan meregangkan ototnya yang terasa kaku. Jonghyun bersandar dikursinya dan menoleh ke samping. Seorang yeoja menatap Jonghyun dengan pandangan menggoda, membuat Jonghyun sedikit merinding. Ia mengalihkan pandangannya dan menatap Minho yang wajahnya terlihat kesal. Jonghyun melirik ke layar ponsel Minho, nama Daemi tertera sebagai penerima pesan.

“kenapa lagi kalian?” Jonghyun bertanya setelah Minho menghentakkan hp nya diatas meja dengan penuh emosi.

“kami putus.” Jawab Minho singkat.

“lagi?” Jonghyun menautkan kedua alisnya lalu menggelengkan kepalanya dan tertawa pelan. Minho mendelik dan memberikan tatapan maut pada sahabatnya.

“apa lagi kali ini? Kau dituduh berselingkuh? Atau kau kepergok sedang merayu yeoja lain?” ejek Jonghyun.

“jangan sembarangan bicara. Aku tidak pernah berselingkuh. Jangan salahkan aku kalau tidak ada orang yang bisa menahan karismaku.” Cibir Minho.

“araseo, araseo. Jadi, kali ini karena apa?”

Minho terdiam sambil memandang wajah sahabatnya, terlihat ragu untuk membuka mulut.

“Daemi menudingku masih memikirkan yeoja itu.” Akhirnya Minho membuka mulut. Minho menatap lurus ke depan kelas yang masih kosong karena dosen belum masuk. Raut wajah Jonghyun berubah serius. Ia tau siapa yeoja yang dimaksud karena ia juga mengenal yeoja itu—yeoja yang pernah disukai oleh Minho, atau mungkin masih? Berapa lama sejak itu terjadi? Hampir 9 tahun yang lalu, Minho mulai menyukai yeoja itu selama kurang lebih 6 tahun—jika Minho memang sudah melupakan yeoja itu saat dia mulai pacaran dengan Daemi 3 tahun lalu. Meski Jonghyun sendiri masih sangsi, apakah memang selama 3 tahun ini Minho tidak pernah sekalipun memikirkan yeoja itu lagi, tidak pernah sekalipun merasakan cintanya pada yeoja yang ia anggap tidak cukup peka untuk menyadari rasa cinta Minho.

***

“Minho-ya, kau mau ikut aku ke Kukje Gallery?” tanya Jonghyun pada Minho sambil berjalan keluar dari ruang kelas.

“Kukje? Untuk apa ke Kukje? Aku tidak tau kalau kau suka melihat lukisan.” Minho memandang Jonghyun dengan curiga sementara yang dicurigai hanya cengar-cengir.

“oh, jangan katakan kalau yeojachingumu yang memintamu untuk menemaninya ke sana?” tanya Minho dengan penuh selidik.

“bingo! Haejoo ingin aku menemaninya ke sana. Dan dia bilang dia akan mengajak seorang temannya lagi. Ikutlah dengan kami. Toh sekarang kau single kan?” Jonghyun menyenggol tubuh Minho menggunakan sikunya dan membuat Minho sedikit geram.

“geure, toh tidak ada yang bisa kulakukan sekarang.”

“kau memang sahabat terbaikku!” Jonghyun memeluk Minho dan langsung melepaskan diri sebelum Minho bisa mengomelinya, “aku akan menjemput Haejoo, kau pergi saja dulu!” teriak Jonghyun sambil berlari menjauh dari Minho.

Minho hanya menyeringai pelan melihat kelakukan temannya satu itu. Jika menyangkut yeojachingunya—Haejoo, ia memang selalu antusias. Minho bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Jonghyun dan Haejoo putus. Yah, jelas Minho tau karena ia dan Daemi selalu putus-sambung selama 3 tahun ini.

Minho melajukan motornya ke Kukje Gallery. Sebuah bangunan mewah menyambutnya begitu ia sampai ditujuan. Pemandangan disekitar gallery itu sangat indah, penuh pepohonan. Minho berjalan santai menikmati udara sejuk siang itu. Minho menoleh ke sisi kiri halaman gallery itu, banyak sekali pelukis-pelukis yang singgah di sana untuk melukis pemandangan di sini. Kalau Minho punya bakat melukis pun ia pasti akan melakukan hal yang sama dengan para pelukis ini.

Di sisi kanan halaman gallery pun tak jauh berbeda, penuh dengan para pelukis. Baru saja Minho akan menoleh ke arah kanan ketika ia mendengar suara Jonghyun meneriakkan namanya.
” Yoooo! Sudah lama?” Minho menoleh ke belakang, melihat Jonghyun bergandengan tangan dengan Haejoo diikuti oleh seorang yeoja dibelakangnya.

“ani, aku baru saja sampai. Ayo masuk.”

»»»»»»»»»»»»

“kau yakin tidak ingin kuantar?” tanya Jinki saat Seoyoun membereskan barang-barang bawaan seusai kelas hari pertama.

“ne, aku ingin pulang sendiri saja. Terimakasih sudah menawarkan diri untuk mengantarku, mungkin lain kali. Bye, Jinki-ya.” Seoyoun melambaikan tangannya pada Jinki dan dengan cepat berlari keluar kelas sebelum Jinki sempat membujuknya lagi untuk ikut.

Seoyoun menaiki bus kembali ke Anguk Subway Station untuk pulang. Seoyoun duduk di samping jendela dan terus memandang keluar sepanjang perjalanan. Bus berhenti di exit 1 line 3 untuk mengangkut dan menurunkan penumpang.

Sebuah gedung yang tampak mencolok menarik perhatian Seoyoun. Awalnya ia ingin langsung pulang, tapi begitu melihat gedung itu ia jadi ingin turun dan ke sana. Sebelum pintu bus sempat tertutup, Seoyoun melompat turun dengan cepat

Ia sudah beberapa kali melukis pemandangan disekitar Kukje Gallery, tapi ia tetap saja tidak bosan dengan pemandangan itu.

Seoyoun duduk di sisi kanan halaman gallery dan mengeluarkan buku sketsa nya yang sudah menampung berpuluh-puluh sketsa kasar miliknya. Seoyoun hanya membutuhkan beberapa detik hingga ia terhanyut dalam dunianya sendiri. Tapi konsentrasinya terganggu ketika mendengar suara teriakan.

“ Yoooooo! Sudah lama?” teriak suara itu.

Seoyoun mematung ditempatnya melukis. Seoyoun tersentak pelan begitu mendengar suara teriakan. Dengan amat perlahan Seoyoun memalingkan wajahnya ke sumber suara. Ia melihat dua pasangan sedang berjalan memasuki Kukje Gallery. Satu pasangan di depan saling bergandengan tangan dan saling berdekatan sementara satu pasangan lainnya berjalan agak di belakang dan saling bercakap-cakap—sesekali tertawa.

Untuk beberapa detik Seoyoun lupa bagaimana caranya bernapas. Tanpa ia sadari ia telah menahan napas nya hampir 30 detik hingga kesadarannya kembali. Tubuhnya bergetar pelan karena rasa terkejut. Ia masih terus menatap sosok namja yang berjalan dibelakang. Sekali pun tak bisa melepaskan pandangannya. Mereka semakin mendekat pintu gallery, namja yang berjalan di belakang menolehkan wajahnya ke samping, ke arah Seoyoun.

Apa yang kau lakukan?

1. Memalingkan wajahmu dan tidak membiarkan namja itu menyadari keberadaanmu.

2. Balas menatapnya dan memasang senyum palsu.

One thought on “(un)Requited Love 1.2”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s