(un)Requited Love 2.1

Seoyoun memalingkan wajahnya kembali ke depan dan menunduk—memandang buku skestanya sambil terus menghitung dalam hati.

Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik.. Satu menit..

Tidak ada apa-apa. Seoyoun memberanikan diri untuk kembali menoleh ke tempat namja itu tadi berdiri. Mereka sudah tidak ada lagi di sana. Seoyoun menghembuskan nafas lega karena namja itu tidak menyadari keberadaannya meskipun ia juga menyesal. Padahal ia akhirnya bisa bertemu lagi dengan namja itu. Akhirnya ia bisa melihat wajah namja itu lagi. Wajah yang sangat ia rindukan.

“Ternyata benar kau ada di sini! Aku baru saja dari rumahmu, tapi ahjuma bilang kau belum pulang.” Sapa Jinki dengan ceria.

Seoyoun mendongak untuk menatap temannya itu, tapi tanpa ia sadari, setetes cairan bening mengalir turun dari pelupuk matanya.

“Seo-seoyoun-ah, waeyo?? Apa kau sakit? Gweanchanayo?” Jinki terlihat panik. Ini kali pertama ia melihat yeoja itu menangis dan lagi ia tidak tau apa penyebabnya karena tiba-tiba saja yeoja itu menangis dihadapannya.

“mianhae, Jinki-ya, aku pulang dulu.” Seoyoun berlari meninggalkan Jinki yang masih melongo. Jinki ingin mengejar Seoyoun dan melakukan segalanya yang ia bisa untuk menghibur yeoja itu, tapi ia menghentikan langkahnya. Mungkin satu-satunya yang dibutuhkan Seoyoun saat ini adalah sendirian. Jinki mengambil buku sketsa yang terjatuh ketika Seoyoun berlari. Ia tau, airmata Seoyoun bukan main-main. Kecintaan Seoyoun pada lukisan menjadikan buku sketsanya sebagai barang paling berharga miliknya dan ia tidak akan pernah menghilangkan buku sketsanya. Tapi kali ini, Seoyoun bahkan tidak sadar bahwa ia telah meninggalkan bukunya.

Jinki membuka lembaran demi lembaran buku sketsa tersebut. Matanya menangkap sebuah gambar sketsa namja yang sedang tersenyum dengan rambut sedikit bergelombangt. Ia pernah melihat namja itu, tapi di mana?

»»»»»»»»»»»»

“Jadi kau juga kuliah di Sungkyunkwan seperti Haejoo?” tanya Minho berbasa-basi pada yeoja yang berada di sampingnya. Yeoja itu terus menatap Minho dengan kagum, jelas sekali bahwa yeoja itu telah jatuh hati. Yeoja itu mengangguk dengan malu-malu. Minho tersenyum kecil, lalu memalingkan wajahnya.

Kening Minho berkerut begitu melihat sebuah punggung yang rasanya ia kenal. Ia terus memutar otaknya, mencoba untuk mengingat siapa yeoja itu.

“yaa, kenapa kau melamun? Ppaliwa!” panggil Jonghyun sambil menarik Minho yang tertinggal sendirian di depan pintu gallery.

Minho mengikuti Jonghyun, berkeliling gallery. Meski ia tidak mengerti apapun tentang lukisan, tapi ia bisa menikmati keindahannya. Namun, kalau terlalu lama ia juga bisa merasa bosan.

Minho mulai berdecak tak sabar, kapan Jonghyun dan Haejoo akan bosan dan membiarkan dia pulang?

Dinding gallery dipenuhi dengan kaca transparan disekitar pintu utama, membiarkan pengunjung gallery juga bisa menikmati pemandangan diluar. Lagi-lagi Minho menatap punggung itu. Minho berdiri di depan dinding kaca sambil terus menatap punggun itu dengan saksama.

Seorang namja muncul  di samping sosok yeoja itu. Minho melihat terjadi percakapan kecil diantara mereka sebelum akhirnya si yeoja berlari pergi begitu saja. Mata Minho sedetikpun tidak berpindah dari yeoja itu hingga sosoknya tak terlihat lagi dibelokan jalanan. Minho menoleh, menatap namja yang ditinggal sendirian sedang memegang sebuah buku dan menatapnya dalam-dalam lalu memalingkan wajahnya ke jalan yang dilalui yeoja tadi.

Minho melihat sosok namja itu dari samping, apakah ia kenal dengan namja itu? Salah satu temannya kah?

“aigoooo! Minho-ya, kau ini kenapa? Toh bukan pertama kalinya kau putus dari Daemi, tenang saja, nanti kalian juga pasti balikan lagi. Jadi jangan memelas seperti itu araseo?” Jonghyun menghampiri Minho dan merangkulkan tangannya di pundak Minho.

Minho berdecak pelan lalu menghempaskan tangan Jonghyun dari pundaknya.

“aku tidak sedang memikirkan hal itu.” Jawab Minho lalu kembali berjalan ke tempat lukisan-lukisan tergantung.

***

“Seoyoun-ah, ada apa denganmu?” panggil Nyonya Kang sambil mengetuk pelan pintu kamar Seoyoun. Nyonya Kang mengkhawatirkan putri satu-satunya itu karena begitu pulang ia langsung berlari masuk ke kamar dan mengunci diri.

“nan gwaenchana eomma. Aku hanya lelah saja dan ingin tidur.” Balas Seoyoun tanpa beranjak sedikitpun dari tempat tidurnya.

Nyonya Kang terlihat ragu meski pada akhirnya ia beranjak dari pintu kamar Seoyoun.

Seoyoun merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar. Perasaannya kacau balau. Kapan terakhir kali ia bertemu dengan namja itu? Setengah tahun lalu? Ataukah setahun lalu? Ia tidak ingat dengan pasti, tapi ia ingat baru beberapa bulan yang lalu ia menangisi namja itu.

Ketika itu ia terbangun ditengah malam, dan tiba-tiba saja namja itu memenuhi pikirannya. Airmatanya menetes begitu saja saat ia menyadari bahwa wajah namja itu semakin memudar dalam penglihatannya, suara namja itu semakin menjauh dari pendengarannya, senyum namja itu perlahan-lahan sirna, kenangan mereka semakin lama semakin terlupakan. Dan yang lebih mengerikan lagi, nama namja itu semakin lama semakin asing dalam ingatannya. Malam itu, ia menyebut nama namja itu berkali-kali hanya agar ia tidak lupa bahwa dalam hidupnya pernah ada namja dengan nama seperti itu.

Hanya dengan mengingat kejadian itu, Seoyoun tak kuasa menahan airmatanya. Ia tidak pernah selemah ini sebelumnya—tidak sebelum namja itu mengisi hatinya. Sudah cukup banyak sakit hati dan kekecewaan yang diterimanya, tapi hanya dengan melihat namja itu seperti tadi, harapan kembali muncul dalam hatinya.

“neo, paboya. Berhentilah berharap karena kau hanya akan terluka.” Cemooh Seoyoun pada dirinya sendiri.

Benar, tidak seharusnya ia berharap pada namja seperti itu. Tapi apa yang harus dilakukannya saat hati dan pikirannya tak mau sejalan?

Sony Ericsson Idou milik Seoyoun bergetar diatas meja. Seoyoun menegakkan tubuhnya dan menghapus bekas-bekas airmata yang tercetak di pipinya  lalu meraih hp nya untuk melihat pesan singkat yang ia terima.

FROM : Jinki

[Sejujurnya, aku mengkhawatirkanmu. Buku sketsamu tertinggal, kau tidak sadar?]

Seoyoun meraih tas yang ia kenakan tadi dan mengobrak-abrik isinya untuk mencari buku sketsa. Benar saja, buku sketsanya tidak ada. Padahal ia tidak pernah sekalipun melupakan bukunya. Dengan cepat Seoyoun membalas pesan Jinki.

TO : Jinki

[Ne, apa kau membawanya? Gomawo, Jinki-ya, lagi-lagi aku merepotkanmu…]

FROM : Jinki

[Ne, cheonmaneyo. Sebagai balasannya, kau mau menemaniku nonton sabtu ini?]

Seoyoun memandang layar hpnya lebih lama—menimbang-nimbang apakah ia harus menerimanya atau justru menolaknya.

Apa yang kau lakukan?
1. TO : Jinki [Ne, aku akan mentraktirmu nonton sabtu ini]

2. TO : Jinki [Mian, sabtu ini aku sudah ada janji. Bagaimana kalau aku mentraktirmu makan siang saja?]

3 thoughts on “(un)Requited Love 2.1”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s