(un)Requited Love 2.2

Seoyoun membeku, buku sketsa yang dipegangnya terjatuh tanpa ia sadari. Namja itu menatapnya—awalnya tatapan bingung lalu namja itu membelalak.

Seoyoun tau seharusnya ia tidak menatap namja itu, tapi otaknya tidak bisa bekerja normal karena tubuhnya justru tidak bisa mendengar perintah dari otaknya.

Pandangan Seoyoun dan namja itu terkunci selama beberapa detik, seolah tidak ada orang lain selain mereka berdua.

“Ternyata benar kau ada di sini! Aku baru saja dari rumahmu, tapi ahjuma bilang kau belum pulang.” Sapa Jinki dengan ceria namun Seoyoun tidak merespon, ia masih belum bisa memalingkan tatapannya. Jinki menyadari ada sesuatu yang salah, Jinki mengikuti arah pandangan Seoyoun. Seorang namja bertubuh atletis balas menatap Seoyoun, lalu sedikit berpaling dan menatap Jinki. Jinki mengernyit, sepertinya ia pernah kenal namja ini, tapi di mana mereka pernah bertemu?

“yaa, kenapa kau melamun? Ppaliwa!” panggil seorang namja lainnya yang lebih sambil menarik namja yang bertubuh atletis itu. Setelah kedua namja itu menghilang dibalik pintu Seoyoun akhirnya bisa menggerakan semua otot tubuhnya. Seoyoun menghirup nafas dalam-dalam. Ia sempat lupa bagaimana caranya bernafas beberapa saat lalu dan sekarang ketika oksigen menyeruak masuk ke paru-parunya, terasanya sangat menyegarkan.

“nugu..seyo?” tanya Jinki agak ragu.

“teman lama.” Seoyoun berusaha bersikap sebiasa mungkin. Ia tidak ingin ada orang yang menanyakannya tentang hal lain dan membangkitkan kenangannya.

“Jinki-ya, aku duluan ya. Bye!” Seoyoun berlari pelan sebelum Jinki bisa membantah kata-katanya. Jinki menatap punggung Seoyoun yang semakin menjauh. Ia tau ada sesuatu yang tidak benar, ia yakin mereka bukan hanya sekedar teman lama.

Jinki menggerak-gerakkan kakinya diatas rumput, menyenggol pelan rerumputan. Jinki menunduk dan menatap ujung sepatunya. Beberapa cm disampingnya, ada sebuah buku tergeletak. Ia tau siapa pemiliknya—Seoyoun, dan tidak biasanya yeoja itu melupakan buku sketsa yang paling berharga baginya.

Jinki memungut buku itu lalu mengejar Seoyoun.

»»»»»»»»»»»»

“Jadi kau juga kuliah di Sungkyunkwan seperti Haejoo?” tanya Minho berbasa-basi pada yeoja yang berada di sampingnya. Yeoja itu terus menatap Minho dengan kagum, jelas sekali bahwa yeoja itu telah jatuh hati. Yeoja itu mengangguk dengan malu-malu. Minho tersenyum kecil, lalu memalingkan wajahnya.

Kening Minho berkerut begitu melihat seorang yeoja yang sedang menatapnya dengan sendu. Awalnya terasa asing tapi juga familiar, Minho terus mencoba untuk mengingat siapa yeoja itu hingga kerutan dikeningnya menghilang dan matanya terbelalak. Ya, ia ingat yeoja itu dan tentu saja ia sangat mengenalnya. Yeoja itu terus menatapnya sama sekali bergeming sedikit pun. Minho sendiri entah bagaimana seperti terkunci dengan tatapan yeoja itu, ia pun tidak bisa berpaling sedikitpun untuk memutuskan kontak mata mereka.

“Ternyata benar kau ada di sini! Aku baru saja dari rumahmu, tapi ahjuma bilang kau belum pulang.” Sapa seorang namja dengan senyum lebar, namun yeoja itu masih terus menatap Minho. Senyum di wajah namja itu memudar, ia mengikuti arah pandagan si yeoja. Minho sedikit berpaling dan menatap namja itu. Minho hanya menatap dengan ekspresi datar sementara namja itu mengernyit.

“yaa, kenapa kau melamun? Ppaliwa!” panggil Jonghyun sambil menarik Minho yang tertinggal sendirian di depan pintu gallery.

Minho mengikuti Jonghyun, berkeliling gallery—meskipun pikirannya masih melayang-layang.

Dalam hitungan detik, Jonghyun dan Haejoo sudah memisahkan diri dari Minho dan teman Haejoo. Jelas sekali teman Haejoo bersemangat karena bisa berduaan dengan Minho, dan Minho pun mungkin akan merespon dengan baik kalau saja ia tidak melihat yeoja itu di halaman gallery. Diam-diam Minho memisahkan diri dari teman Haejoo saat yeoja itu lengah.

Dinding gallery dipenuhi dengan kaca transparan disekitar pintu utama, membiarkan pengunjung gallery juga bisa menikmati pemandangan diluar. Minho berdiri di depan dinding kaca sambil terus menatap sepasang yeoja dan namja yang ia lihat beberapa menit lalu dengan saksama.

Minho melihat terjadi percakapan kecil diantara mereka sebelum akhirnya si yeoja berlari pergi. Mata Minho sedetikpun tidak berpindah dari yeoja itu hingga sosoknya tak terlihat lagi dibelokan jalanan. Minho menoleh, menatap namja yang ditinggal sendirian sedang memegang sebuah buku dan menatapnya dalam-dalam lalu berlari ke arah tempat yeoja itu berjalan tadi.

Minho terus memutar otaknya, apakah ia kenal dengan namja itu? Sepertinya ia pernah melihatnya di suatu tempat. Teman dari temannya kah?

“aigoooo! Minho-ya, kau ini kenapa? Toh bukan pertama kalinya kau putus dari Daemi, tenang saja, nanti kalian juga pasti balikan lagi. Jadi jangan memelas seperti itu araseo?” Jonghyun menghampiri Minho dan merangkulkan tangannya di pundak Minho.

Minho berdecak pelan lalu menghempaskan tangan Jonghyun dari pundaknya.

“aku tidak sedang memikirkan hal itu.” Jawab Minho lalu berjalan ke tempat lukisan-lukisan tergantung meksipun pikirannya masih entah di mana.

***

Seoyoun berjalan lambat-lambat dilingkungan dekat rumahnya. Wajah namja itu masih terus membayanginya—sekeras apapun ia berusaha membuangnya jauh-jauh, ia tak bisa lagi menghindar.

Seoyoung menatap langit biru dan mendesah keras, pikirannya kacau sekarang, semuanya terasa campur aduk di dalam benaknya. Entah kapan terakhir kali ia bertemu namja itu, tapi ia tidak pernah berharap akan bertemu lagi seperti tadi.

Ia tidak ingin mengulangi kejadian malam itu, ketika ia terbangun ditengah malam, dan tiba-tiba saja namja itu memenuhi pikirannya. Airmatanya menetes begitu saja saat ia menyadari bahwa wajah namja itu semakin memudar dalam penglihatannya, suara namja itu semakin menjauh dari pendengarannya, senyum namja itu perlahan-lahan sirna, kenangan mereka semakin lama semakin terlupakan. Dan yang lebih mengerikan lagi, nama namja itu semakin lama semakin asing dalam ingatannya.

Malam itu, ia menyebut nama namja itu berkali-kali hanya agar ia tidak lupa bahwa dalam hidupnya pernah ada namja dengan nama seperti itu.

Hanya dengan mengingat kejadian itu, Seoyoun tak kuasa menahan airmatanya. Ia tidak pernah selemah ini sebelumnya—tidak sebelum namja itu mengisi hatinya. Sudah cukup banyak sakit hati dan kekecewaan yang diterimanya, tapi hanya dengan melihat namja itu seperti tadi, harapan kembali muncul dalam hatinya.

“neo, paboya. Berhentilah berharap karena kau hanya akan terluka.” Cemooh Seoyoun pada dirinya sendiri. Seoyoun mendongak, kembali menatap langit biru untuk menahan airmatanya yang siap tumpah.

Benar, tidak seharusnya ia berharap pada namja seperti itu. Tapi apa yang harus dilakukannya saat hati dan pikirannya tak mau sejalan?

Sebuah sentuhan ringan dipundak Seoyoun membuatnya terlonjak pelan. Jinki melenggang berdiri di depan Seoyoun dengan senyuman khasnya. Seoyoun menatap Jinki dengan bingung karena namja itu masih saja tidak bersuara. Kedua tangan Jinki bersembunyi dibalik punggungnya, membuat Seoyoun semakin bertanya-tanya.

“kau melupakan sesuatu…” ujar Jinki sambil menunjukkan buku sketsa yang tadi ia sembunyikan dibalik tubuhnya. Seoyoun terbelalak, memang benar itu buku sketsanya. Bagaimana bisa ia melupakan bukunya begitu saja? Dia benar-benar kacau saat ini.

“jeongmal gomawoyo, Jinki-ya.” Seoyoun mengambil buku sketsa tersebut dan kembali menyimpannya dalam tas.

“hmm, sebagai ucapan terimakasih, bisakah kau menemaniku nonton sabtu ini?” tanya Jinki penuh harap.

Apa yang kau lakukan?
1. Berkata, “Ne, aku akan mentraktirmu nonton sabtu ini”

2. Berkata, “Mian, sabtu ini aku sudah ada janji. Bagaimana kalau aku mentraktirmu makan siang saja?”

One thought on “(un)Requited Love 2.2”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s