(un)Requited Love 2.3

Seoyoun membeku, buku sketsa yang dipegangnya terjatuh tanpa ia sadari. Namja itu menatapnya—awalnya tatapan bingung lalu namja itu membelalak.

Seoyoun tau seharusnya ia tidak menatap namja itu, semakin ia terhipnotis dengan tatapannya, semakin dalam ia akan terjerumus dalam kekecewaan.

Dengan susah payah, Seoyoun memaksakan sebuah senyuman, lalu sedikit menundukkan kepala selama sedetik sebagai ganti salam. Namja itu terlihat tidak percaya akan sikap Seoyoun, namja itu tidak membalas senyuman Seoyoun, hanya sedikit menundukkan kepala sebagai balasan salam.

Mereka saling bertatapan selama beberapa detik. Meski Seoyoun bersikap berusaha bersikap biasa-biasa saja, tapi tak bisa dipungkiri kalau debar jantungnya menggila sekarang. Seoyoun tetap tersenyum, meski kini bibirnya sedikit bergetar karena luapan emosi dalam dirinya. Ia tak bisa berbohong lebih lama lagi—berpura-pura biasa saja, ia akan segera meledak detik berikutnya.

“Ternyata benar kau ada di sini! Aku baru saja dari rumahmu, tapi ahjuma bilang kau belum pulang.” Jinki menepuk pundak Seoyoun, sedikit mengagetkan yeoja itu. Tapi Seoyoun bersyukur, ia jadi tidak perlu bertatapan dengan namja itu lagi. Jinki menyadari raut wajah Seoyoun yang tidak seperti biasanya, ada yang aneh pikirnya. Mata Seoyoun memerah dan sedikit berair.

Dengan penasaran Jinki menoleh ke arah di mana pandangan Seoyoun tertuju tadinya. Di sana berdiri seorang namja tampan bertubuh atletis, masih terus memandang ke arah mereka berdua. Ekspresinya tidak terbaca meski Jinki menyadari kedua tangan namja itu terkepal dengan erat di sisi tubuhnya.

”yaa, kenapa kau melamun? Ppaliwa!” seorang namja lain muncul dari balik punggung namja bertubuh atletis itu dan menariknya masuk ke dalam Kukje Gallery begitu saja. Jinki terus memperhatikan namja itu hingga mereka menghilang dibalik pintu gallery.

Seoyoun masih bergeming, seolah-olah ia patung yang tidak butuh bergerak.

“nugu..seyo?” tanya Jinki agak ragu.

“teman lama.” Seoyoun berusaha bersikap sebiasa mungkin. Ia tidak ingin ada orang yang menanyakannya tentang hal lain dan membangkitkan kenangannya.

“jinja? Rasanya aku kenal, pernah bertemu dimana ya?” Jinki meletakkan jari telunjuknya didepan dagu sambil memiringkan kepalanya 45 derajat.

Seoyoun tidak merespon dan itu membuat Jinki sedikit penasaran. Ia ikut merasa sedih melihat raut wajahmu yang suram.

“baik-baik saja?” suara Jinki sarat dengan perhatian. Seoyoun membuka mulutnya untuk menjawab, tapi tidak ada kata-kata yang mampu ia keluarkan melainkan isakan pelan yang diikuti dengan airmatanya yang mengalir turun menggenangi wajah pucatnya.

“Seo-Seoyoun-ah …” Jinki dengan panik menggerak tangannya, namun berakhir dengan tangannya yang menggantung diudara karena ia tidak tau apa yang harus ia lakukan.

»»»»»»»»»»»»

“Jadi kau juga kuliah di Sungkyunkwan seperti Haejoo?” tanya Minho berbasa-basi pada yeoja yang berada di sampingnya. Yeoja itu terus menatap Minho dengan kagum, jelas sekali bahwa yeoja itu telah jatuh hati. Yeoja itu mengangguk dengan malu-malu. Minho tersenyum kecil, lalu memalingkan wajahnya.

Kening Minho berkerut begitu melihat seorang yeoja yang sedang menatapnya. Awalnya terasa asing tapi juga familiar, Minho terus mencoba untuk mengingat siapa yeoja itu hingga kerutan dikeningnya menghilang dan matanya terbelalak. Ya, ia ingat yeoja itu dan tentu saja ia sangat mengenalnya. Yeoja yang awalnya menatap ia tanpa berkedip akhirnya tersenyum dan menundukkan kepalanya selama sedetik. Minho tidak mampu tersenyum, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat itu adalah ikut menundukkan kepalanya sebagai balasan.

“Ternyata benar kau ada di sini! Aku baru saja dari rumahmu, tapi ahjuma bilang kau belum pulang.” Seorang namja menepuk pundak yeoja itu, yeoja itu terlonjak kaget dan berbalik untuk menatap orang yang baru saja menepuk pundaknya. Namja itu terus menatap si yeoja dengan pandangan yang hangat.

Darah dalam tubuh Minho terasa mendidih, ia tidak suka dengan tatapan yang diberikan namja itu untuk si yeoja. Tangan Minho terkepal dengan sendirinya.

Si namja memicingkan matanya dan menatap Minho.

“yaa, kenapa kau melamun? Ppaliwa!” panggil Jonghyun sambil menarik Minho yang tertinggal sendirian di depan pintu gallery.

Minho mengikuti Jonghyun, berkeliling gallery—meskipun pikirannya masih melayang-layang.

Dalam hitungan detik, Jonghyun dan Haejoo sudah memisahkan diri dari Minho dan teman Haejoo. Jelas sekali teman Haejoo bersemangat karena bisa berduaan dengan Minho, dan Minho pun mungkin akan merespon dengan baik kalau saja ia tidak melihat yeoja itu di halaman gallery. Diam-diam Minho memisahkan diri dari teman Haejoo saat yeoja itu lengah.

Dinding gallery dipenuhi dengan kaca transparan disekitar pintu utama, membiarkan pengunjung gallery juga bisa menikmati pemandangan diluar. Minho berdiri di depan dinding kaca sambil terus menatap sepasang yeoja dan namja yang ia lihat beberapa menit lalu dengan saksama.

Minho melihat terjadi percakapan kecil diantara mereka. Detik berikutnya, tangan si namja bergerak hendak menyentuh yeoja itu meski pada berakhir dengan menggantung diudara. Minho tidak tau apa yang sedang dilakukan yeoja itu karena ia membelakangi Minho, tapi ia bisa melihat pundak yeoja itu sedikit bergetar.

Minho bersiap-siap untuk berbalik dan kembali bergabung bersama Jonghyun namun terhenti ketika melihat namja itu memeluk sang yeoja. Tangannya kembali terkepal erat. Yeoja itu tidak menolak pelukannya, dan itu yang membuat Minho semakin kesal.

“aigoooo! Minho-ya, kau ini kenapa? Toh bukan pertama kalinya kau putus dari Daemi, tenang saja, nanti kalian juga pasti balikan lagi. Jadi jangan memelas seperti itu araseo?” Jonghyun menghampiri Minho dan merangkulkan tangannya di pundak Minho.

Minho berdecak pelan lalu menghempaskan tangan Jonghyun dari pundaknya.

“aku tidak sedang memikirkan hal itu.” Jawab Minho lalu berjalan ke tempat lukisan-lukisan tergantung meksipun pikirannya masih entah di mana.

***

Seoyoun melangkah dengan pandangan kosong. Jinki berjalan disampingnya, sama sekali tidak mengganggu Seoyoun dengan petanyaan-pertanyaan yang sebenarnya berkecamuk dibenaknya. Jinki membiarkan Seoyoun hanyut dalam pikirannya sendiri.

Seoyoun sedang mencoba membuang bayangan wajah namja itu jauh-jauh benaknya, tapi itu tidak berhasil karena alam bawah sadarnya selalu mengingatkan ia tentang namja itu—sekeras apapun ia berusaha membuangnya jauh-jauh, ia tak bisa menghindar.

Seoyoun menatap langit biru dan mendesah keras, pikirannya kacau sekarang, semuanya terasa campur aduk di dalam benaknya. Entah kapan terakhir kali ia bertemu namja itu, tapi ia tidak pernah berharap akan bertemu lagi seperti tadi.

Ia tidak ingin mengulangi kejadian malam itu, ketika ia terbangun ditengah malam, dan tiba-tiba saja namja itu memenuhi pikirannya. Airmatanya menetes begitu saja saat ia menyadari bahwa wajah namja itu semakin memudar dalam penglihatannya, suara namja itu semakin menjauh dari pendengarannya, senyum namja itu perlahan-lahan sirna, kenangan mereka semakin lama semakin terlupakan. Dan yang lebih mengerikan lagi, nama namja itu semakin lama semakin asing dalam ingatannya.

Malam itu, ia menyebut nama namja itu berkali-kali hanya agar ia tidak lupa bahwa dalam hidupnya pernah ada namja dengan nama seperti itu.

Hanya dengan mengingat kejadian itu, Seoyoun tak kuasa menahan airmatanya. Ia tidak pernah selemah ini sebelumnya—tidak sebelum namja itu mengisi hatinya. Sudah cukup banyak sakit hati dan kekecewaan yang diterimanya, tapi hanya dengan melihat namja itu seperti tadi, harapan kembali muncul dalam hatinya.

neo, paboya. Berhentilah berharap karena kau hanya akan terluka, batin Seoyoun pada dirinya sendiri. Seoyoun mendongak, kembali menatap langit biru untuk menahan airmatanya yang siap tumpah lagi.

Benar, tidak seharusnya ia berharap pada namja seperti itu. Tapi apa yang harus dilakukannya saat hati dan pikirannya tak mau sejalan?

“sepertinya hari pertama kuliah memang berat ya? Bagaimana kalau sabtu ini kita refreshing?” ucap Jinki sebisa mungkin tidak ingin mengingatkan Seoyoun pada kejadian beberapa saat lalu—yang entah apa—yang membuatnya jadi down seperti ini dan mengubah topik pembicaraan, berharap Seoyoun bisa melupakan kejadian tidak menyenangkan itu meski hanya sesaat.

Seoyoun berhenti melangkah dan menatap Jinki. Jinki ikut berhenti melangkah dan balas menatap Seoyoun dengan bingung, apakah ia sudah salah bicara.

“gomawoyo, Jinki-ya kau selalu baik padaku.” Ujar Seoyoun tulus.

Perasaan cemas Jinki menghilang. Jinki mengeluarkan senyum khasnya dan mengelus kepala Seoyoun.

“jadi, kau mau nonton untuk menghilangkan stress sabut ini?” tanya Jinki.

Apa yang kau lakukan?
1. Berkata, “Ne, aku akan mentraktirmu nonton sabtu ini”

2. Berkata, “Mian, sabtu ini aku sudah ada janji. Bagaimana kalau aku mentraktirmu makan siang saja?”

One thought on “(un)Requited Love 2.3”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s