(un)Requited Love 3.1

“oh tidak! Kenapa hari ini harus ada mata kuliah Mr. Hwang?” rutuk Jinki sambil membenamkan wajahnya diatas meja cafetaria. Seoyoun terkekeh pelan dan meletakkan segelas cola dihadapan Jinki. Jinki mengangkat kepalanya dan menatap Seoyoun sambil cemberut.

“jangan tertawa! Aku tidak tahan berada di kelasnya.” Jinki menyambar cola yang diberikan Seoyoun dan menyesapnya dengan cepat.

“bersabarlah, bukankah besok kita akan bersenang-senang?” jawab Seoyoun dengan santai. Wajah Jinki langsung berbinar-binar begitu ia mengingat besok ia akan kencan—atau bersenang-senang menurut Seoyoun.

“aku sudah tidak sabar lagi. Ada film yang ingin kau tonton?” tanya Jinki bersemangat, sama sekali lupa tentang Mr. Hwang. Seoyoun mengangkat bahu dan membuka-buka buku sketsanya.

“entahlah, tidak ada film khusus yang ingin kutonton.”

“geure, kita pilih besok saja.” Jinki menautkan jari-jarinya dan bertopang dagu sambil terus memperhatikan Seoyoun.

“waeyo? Apa ada sesuatu diwajahku?” tanya Seoyoun karena Jinki tidak berhenti menatapnya. Jinki tersenyum kecil lalu menggeleng dengan cepat.

“ani, hanya saja aku tidak pernah bosan menatap wajahmu.” Jawab Jinki santai. Seoyoun melongon selama sedetik sebelum akhirnya wajahnya sedikit merona. Jinki menyadari apa yang baru saja ia katakan dan buru-buru menambahkan.

“maksudku, ketika kau sedang terhanyut dalam lukisan, kau terlihat sangat keren, makanya aku tidak bosan untuk menatap wajah penuh kharisma-mu.”

Seoyoun mengangguk dengan canggung. Bagaimana ia bisa lupa kalau Jinki menyukainya? Setelah kata-kata Jinki barusan, sekarang Seoyoun mulai meragukan apakah keputusan untuk menerima ajakan Jinki benar atau tidak.

Seoyoun tidak ingin memberi harapan kosong pada Jinki. Seoyoun tau benar bagaimana rasa kecewa yang akan diterima ketika ternyata apa yang diharapkannya tak berjalan sesuai pemikirannya.

Seoyoun sudah cukup banyak menerima kekecewaan seperti itu, dan ia tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama—terutama Jinki. Dia tidak ingin namja sebaik Jinki terluka, apalagi karena dirinya.

»»»»»»»»»»»»

“jam 7 nanti, mau kujemput?” Jonghyun langsung menghampiri Minho begitu masuk ke kelas. Minho mendongak dan tersenyum lebar pada Jonghyun—jelas sekali ia sedang senang.

“nanti malam aku tidak jadi ikut dengan kalian, sudah ada acara.” Jawab Minho sumringah.

“uh, jangan katakan kau sudah dapat yeojachingu yang baru?” Jonghyun berdiri di hadapan Minho.

“duh, tentu saja tidak. Aku sudah janji akan makan malam dengan Daemi.” Minho mengeluarkan hp nya setelah bunyi tanda pesan masuk berdering di hp-nya. Jonghyun hanya bisa menggelengkan kepala melihat Minho. Entah sudah yang ke berapa kalinya, pikir Jonghyun.

“aku tidak mengerti, apa kau tidak capek putus sambung terus dengan dia?” Jonghyun meletakkan tasnya dan duduk di samping Minho.

“ani, aku sudah terlanjur sayang padanya, mana mungkin aku merasa capek. Putus sambung dalam hubungan itu kan wajar.” Minho tidak mau repot-repot menatap Jonghyun—yang sudah jelas menatapnya dengan tajam—dan terus terpaku pada kata-kata yang dikirimkan oleh Daemi.

“oke, terserah kau sajalah. Tapi jangan lupa acara besok, tidak boleh di cancel!” tegas Jonghyun.

“ne, araseo. Tidak ada Daemi, tidak ada Haejoo, besok hanya kita para namja kan?”

***

“sudah menunggu lama?” tanya Jinki sedikit terengah-engah.

“ani, aku baru sampai kok.”

“ayo masuk.” Jinki menarik tangan Seoyoun. Seoyoun heran, sejak kapan namja ini jadi pecinta skinship?

“sebaiknya kita nonton film apa ya? Kau mau nonton film romantis?” tanya Jinki sambil memperhatikan jadwal film yang tayang.

“aku sedang tidak ingin nonton film romantis, bagaimana kalau film action saja?”
”kau yakin?” Jinki menatap Seoyoun dengan tidak percaya, bukankah jarang sekali yeoja yang ingin nonton film action? “kalau kau ingin nonton film romantis, aku ok saja kok. Tidak perlu memaksakan diri.” Lanjut Jinki.

“aku tidak memaksakan diri, aku serius kok ingin nonton film action. Mood-ku sedang bagus untuk itu.”

“araseo, tunggu di sini, aku akan pesan tiketnya.” Jinki mengambil ancang-ancang untuk menuju tempat pembelian tiket namun ditahan oleh Seoyoun.

“bukankah sudah kubilang aku yang traktir? Kau sudah sering menolongku, jadi ini ucapan terimakasih dariku.” Bantah Seoyoun. Jinki jelas tidak bisa membiarkan yeoja yang membayar, tapi ia juga tau betapa keras kepalanya Seoyoun—jika dia sudah membuat keputusan, tidak akan ada yang bisa membantahnya.

“oke, tapi aku yang beli minumannya, deal?” Jinki mengangkat telapak tangannya ke udara dan di sambut dengan telapak tangan Seoyoun yang memukul pelan telapak tangan Jinki.

“deal.” Sahut Seoyoun sambil tersenyum manis.

Seoyoun mengantri dan membeli dua tiket untuk film yang akan mereka tonton nanti dan kembali ke tempat ia dan Jinki tadi berkumpul. Jinki belum kembali dan Seoyoun terpaksa harus menunggu Jinki di sana. Seoyoun memandang ke sekeliling untuk mencari keberadaan Jinki, tapi ia tidak menemukannya. Seoyoun menunduk, memandangi tiket yang baru saja ia beli karena tidak tau apa yang harus ia lakukan.

“Seoyoun?” suara seorang namja membuat Seoyoun mendongak. Ia tau itu bukan suara Jinki, tapi siapa lagi namja yang ia kenal?

“Jonghyun?” tanya Seoyoun agak ragu. Terakhir kali mereka bertemu ketika kelas 2 SMP, sebelum Jonghyun pindah keluar negeri dan sekarang ia sudah berubah banyak hingga membuat Seoyoun pangling.

“ne, ini aku. Lama tidak bertemu.” Ujar Jonghyun sambil menjabat tangan Seoyoun.

“sendirian?”

“ani, bersama teman yang lain. Juga Minho.” Awalnya Seoyoun tersenyum ramah, tapi begitu nama Minho disebut, senyuman Seoyoun menghilang. Tubuhnya membeku. Apakah ia salah dengar atau memang Minho juga datang?

“Seoyoun-ah, annyeong ..” suara yang sangat Seoyoun kenal—suara yang hampir saja ia lupa seperti apa. Memang benar, itu suara Minho. Jonghyun pergi dengan alasan ingin memesan tiket dan meninggalkan Seoyoun dan Minho berdua.

Kecanggungan meliputi Seohyun dan Minho, selain ucapan salam, mereka tidak tau lagi apa yang harus dikatakan.

“datang dengan siapa?” tanya Minho.

“chingu.” Jawab Seoyoun singkat. Bukannya ia tidak ingin menanggapi kata-kata Minho, tapi karena ia terlalu gugup. Sudah lama sekali ia tidak berbicara dengan Minho, apalagi berbicara dengan orang yang disukai memang selalu disertai dengan rasa gugup kan?

“apakah sekarang kau sudah punya namjachingu?”

“eobseoyo. Kalau kau, pasti sudah punya yeojachingu kan?” balas Seoyoun.

“ne, kami baru saja berbaikan kemarin. Kami sudah berpacaran selama tiga tahun. Hanya butuh waktu hingga kami menikah.” Jawab Minho sambil terkekeh pelan. Kata-kata Minho menancap dihati Seoyoun dengan keras dan meninggalkan bekas luka, lebih dari apapun—bahkan rasa kecewa dan penyesalan yang dialaminya selama ini.
”Seoyoun-ah, sayang sekali kita baru bertemu lagi sekarang. Kenapa kita harus telat bertemu?” lanjut Minho. Seoyoun mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud kata-kata Minho. Bolehkah jika Seoyoun berasumsi bahwa maksud dari kata-kata Minho adalah jika mereka bertemu sebelum Minho dan pacarnya berbaikan, akan ada kesempatan bagi mereka untuk bersama? Bolehkah jika Seoyoun kembali berharap bahwa Minho masih menyukainya? Bisakah Seoyoun kembali berharap untuk yang terakhir kalinya? Berharap jika hubungan Minho kembali kandas, Minho akan mencarinya?

“Seoyoun-ah…” panggil Minho lagi, mengembalikan Seoyoun dari dunianya sendiri.

“ne?”

“mianhae, tapi bisakah kelak kita sebisa mungkin tidak saling mengenal?”
”ne?” Seoyoun tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Benarkah mengatakan itu padanya?
”naui yeojachingu, dia sangat baik padaku meskipun dia sangat pencemburu. Dan aku tidak mau melihat dia cemburu dan membuatnya marah lagi. Jadi jika lain kali kita bertemu, anggap saja kita hanyalah orang asing.” Pinta Minho.

Seoyoun merasa seperti orang bodoh. Ia memang tidak seharusny menaruh harapan pada namja seperti itu.

Ia, memang tidak seharusnya kembali berharap jika ia jelas-jelas tau bahwa itu akan kembali berakhir dengan kekecewaan.

Jinki membawa dua gelas soda dan satu popcorn ukuran besar. Seulas senyum terpampang diwajah Jinki. Ia senang bisa menonton bersama Seoyoun, ia sudah menunggu lama untuk mengumpulkan keberaniannya dan mengajak Seoyoun nonton.

Ekspresi senang Jinki berubah ketika melihat Seoyoun bersama seorang namja. Mata Jinki menyipit, memperhatikan namja itu baik-baik.

Ah, namja yang waktu itu, batin Jinki.

Jinki mendekati mereka dengan pelan meski tetap saja kedua orang itu menyadari kehadirannya. Minho menoleh dan menatap Jinki dengan tajam.

“hanya itu yang ingin kukatakan. Annyeong.” Ujar Minho sambil menatap Jinki sekali lagi dan meninggalkan mereka.

Seoyoun tertunduk, tidak mampu menjawab Minho. Jinki menghela nafas dengan pelan, melihat Seoyoun seperti ini membuatnya sama sekali tidak merasa tenang.

“apa kau ingin pulang?” tanya Jinki dengan lembut. Seoyoun hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan ke teater mereka. Jinki berjalan di belakang Seoyoun—sengaja memberi jarak dan hanya bisa mengamati Seoyoun secara diam-diam.

Selama pemutaran film, Jinki dan Seoyoun sama sekali tidak memperhatikan jalan cerita film tersebut.

Seoyoun memandang layar dengan tatapan kosong, memikirkan kata-kata Minho yang terus mengulang-ulang dalam benaknya.

Jinki terus memandangi Seoyoun—tapi yeoja itu terlalu sibuk untuk menyadarinya. Jinki ingin sekali mendekap Seoyoun, namun apa gunanya? Toh ia tidak akan pernah bisa membuat Seoyoun merasa bahagia.

***

Seoyoun duduk di cafetaria sambil menatap layar laptop. Ia sedang berkutat dengan tugas semesternya yang harus segera ia rampungkan. Kursi dihadapannya bergeser dan Seoyoun tau siapa itu, siapa lagi kalau bukan Lee Jinki?
sebenarnya Seoyoun merasa agak malu pada Jinki. Ketika mereka nonton sabtu lalu, Seoyoun menangis meraung-raung dalam mobil Jinki selama perjalanan pulang. Ya, Seoyoun tidak mampu lagi membendung perasaannya yang hancur. Seoyoun menceritakan segalanya pada Jinki malam itu—perasaannya yang tidak pernah ia ceritakan pada siapapun, bahkan Minho sekalipun. Untungnya, Jinki adalah pendengar yang baik dan terus menyemangatinya.

Dan yang lebih kebetulannya lagi Jinki berteman baik dengan Jonghyun. Ia pernah dikenalkan pada Minho sekali, makanya ia yakin benar ia pernah mengenal namja itu.

Seoyoun merasa penasaran. Jinki sudah duduk dihadapannya selama 5 menit tapi belum bersuara sama sekali, padahal biasanya Jinki sudah bersuara bahkan sebelum ia duduk.

“ada masalah?” tanya Seoyoun sambil membenarkan letak kacamata bacanya. Bola mata Jinki bergerak tak tenang sementara wajahnya terlihat ragu-ragu.

“ceritakan saja padaku.” Tukas Seoyoun. Jinki selalu menolongnya ketika ia tertimpa masalah, sudah waktunya Seoyoun gantian menolong Jinki saat namja itu membutuhkan bantuannya.

“aniyo, ini bukan masalahku. Ini…” Jinki menggantungkan kalimatnya lalu menatap Seoyoun, kemudian memalingkan wajahnya, “tentang Minho.”

Ekspresi Seoyoun sedikit berubah, meski ia mencob bersikap setengan dan sedatar mungkin.

“ada apa dengan dia?” tanya Seoyoun berpura-pura cuek.

“kudengar dari Jonghyun, Minho dan Daemi sudah putus sejak sebulan yang lalu dan sekarang dia tidak sedang berpacaran dengan siapapun.” Ucap Jinki.

Seoyoun terdiam, tidak tau harus bereaksi seperti apa.

“kau tau, perasaanmu akan lebih baik kalau kau memberitaukan semuanya pada dia. Apa kau mau aku membantumu untuk bertemu dengannya?” tawar Jinki.

Apa yang kau katakan?
1. benarkah? Kau akan membantuku bertemu dengannya? (Baca Ending 1)
2. tidak perlu. Kami hanyalah orang asing yang tidak ada satupun hal untuk dibicarakan. (Baca Ending 4)

3 thoughts on “(un)Requited Love 3.1”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s