(un)Requited Love 3.2

“oh tidak! Kenapa hari ini harus ada mata kuliah Mr. Hwang?” rutuk Jinki sambil membenamkan wajahnya diatas meja cafetaria. Seoyoun terkekeh pelan dan meletakkan segelas cola dihadapan Jinki. Jinki mengangkat kepalanya dan menatap Seoyoun sambil cemberut.

“jangan tertawa! Aku tidak tahan berada di kelasnya.” Jinki menyambar cola yang diberikan Seoyoun dan menyesapnya dengan cepat.“bersabarlah, bukankah besok sabtu. Tidak ada kelas, jadi kau bisa bebas.” jawab Seoyoun dengan santai. Wajah Jinki semakin terlihat muram begitu mengingat besok adalah hari sabtu. Bagaimana tidak, Seoyoun menolak ajakannya untuk nonton—tentu saja Jinki justru tambah suram memikirkannya.

“kau mau makan apa?” tanya Seoyoun bersiap-siap membeli makanan. Jinki menatap Seoyoun dengan bingung.

“bukankah aku sudah berjanji akan mentraktirmu makan siang?” tanya Seoyoun lagi mengingatkan Jinki.

“ah, geure. Apa saja, aku sebenarnya tidak begitu lapar.” Jinki kembali membenamkan wajahnya diatas meja sementara Seoyoun mengantri.

Bohong kalau Seoyoun bilang ia tidak menyadari kekecewaan Jinki, tapi inilah yang terbaik menurut Seoyoun.

Seoyoun membeli menu makan siang kesukaannya untuk dirinya dan Jinki. Seoyoun memegang nampan penuh makanan dan hampir saja menabrak orang dihadapannya. Dengan cepat Seoyoun meminta maaf, tapi orang yang hampir ditabraknya justru terkekeh pelan. Kenapa orang itu justru tertawa, bukannya marah? Dan yang lebih anehnya lagi, ia merasa kenal dengan suara itu.

Seoyoun mengangkat kepalanya dan hampir saja terkena serangan jantung.

“kau tetap saja ceroboh seperti biasa, Seoyoun-ah.” Kata namja itu.

“Mi-minho?” tanya Seoyoun terbata-bata.

“ne, naegaya. Memangnya ada orang lain dengan wajah sepertiku?” balas Minho kembali terkekeh.
”sedang apa kau disini??”
Minho mengarahkan telunjukkan ke belakang, Seoyoun mengintip dari balik Minho dan melihat Jonghyun—teman SMP nya dulu sedang ngobrol dengan seorang yeoja.

“aku menemani Jonghyun menemui yeojachingunya. Apa kabarmu?”

“seperti yang kau lihat. Kau sendiri?” Menurut Seoyoun, Minho sama sekali belum berubah sejak terakhir kali ia ingat, masih Minho yang ia kenal dulu dan rasa gugup Seoyoun menghilang begitu saja.

“baik, kecuali beberapa jam yang lalu aku baru saja ribut dengan yeojachinguku. Dia selalu saja suka marah-marah.” Minho menggelengkan kepalanya pelan. Perasaan nyaman yang dirasakan Seoyoun beberapa saat yang lalu menguap begitu mendengar kata-kata Minho barusan. Hanya dengan pertemuan kecil seperti ini saja Seoyoun sudah berharap yang tidak-tidak.

Kang Seoyoun dan Choi Minho adalah hal yang mustahil, ingat itu Kang Seoyoun, cerca Seoyoun dalam batin.

“sepertinya kami harus kembali ke kampus sekarang, kami masih ada kelas, sampai jumpa Kang Seoyoun.” Minho berdiri menatap Seoyoun selama beberapa detik, pandangannya melembut, tapi Seoyoun tidak berani berpikiran yang tidak-tidak. Pikiran-pikiran konyolnya terlalu mustahil untuk menjadi nyata dan justru hanya akan menjerumuskannya dalam lubang penderitaan.

“ne, sampai jumpa.” Seoyoun tersenyum ramah pada Minho, lalu kembali ke meja tempat Jinki menunggunya. Jinki melihat semua yang terjadi, tapi ia berpura-pura tidak tau. Ia ingin Seoyoun sendirilah yang membuka diri dan menceritakan apapun itu padanya.

***

“apa saja yang kau bicarakan dengan Seoyoun tadi?” tanya Jonghyun sambil tetap fokus ke jalanan. Minho duduk di samping Jonghyun yang mengemudikan mobilnya kembali ke Seoul University.

“bukan sesuatu yang penting.”
”aku tidak mengerti, kenapa kau tidak mengejarnya lagi sih? Jelas-jelas kau masih menyukainya.” Omel Jonghyun.

“kau tidak akan mengerti. Meskipun aku dan Daemi putus, aku dan Seoyoun adalah hal yang mustahil.” Bantah Minho.

“tidak ada yang mustahil. Kau hanya terlalu gengsi untuk mengejarnya. Buanglah harga dirimu untuk sesaat dan kejar lagi dia. Kau tau kan kalau dia juga menyukaimu?” cerca Jonghyun tidak mau kalah.

Minho tidak menjawab, perdebatan mereka tidak akan berujung—ia tau itu. Minho memandang keluar jendela, mencoba mencari ketenangan yang ia butuhkan saat ini—atau mungkin sebuah jawaban yang tidak pernah ia temukan, sebuah keputusan yang tidak pernah bisa ia ambil.

***

Seoyoun duduk di cafetaria sambil menatap layar laptop. Ia sedang berkutat dengan tugas semesternya yang harus segera ia rampungkan. Kursi dihadapannya bergeser dan Seoyoun tau siapa itu, siapa lagi kalau bukan Lee Jinki?
Sebenarnya Seoyoun merasa agak segan pada Jinki sekarang. Setelah sekian lama memendam perassaannya seorang diri, akhirnya Seoyoun mencoba untuk terbuka dan bercerita pada Jinki beberapa hari yang lalu— tentang perasaannya yang tidak pernah ia ceritakan pada siapapun, bahkan Minho sekalipun. Untungnya, Jinki adalah pendengar yang baik dan terus menyemangatinya.

Dan yang lebih kebetulannya lagi Jinki berteman baik dengan Jonghyun. Ia pernah dikenalkan pada Minho sekali, makanya ia yakin benar ia pernah mengenal namja itu.

Seoyoun merasa penasaran. Jinki sudah duduk dihadapannya selama 5 menit tapi belum bersuara sama sekali, padahal biasanya Jinki sudah bersuara bahkan sebelum ia duduk.

“ada masalah?” tanya Seoyoun sambil membenarkan letak kacamata bacanya. Bola mata Jinki bergerak tak tenang sementara wajahnya terlihat ragu-ragu.

“ceritakan saja padaku.” Tukas Seoyoun. Jinki selalu menolongnya ketika ia tertimpa masalah, sudah waktunya Seoyoun gantian menolong Jinki saat namja itu membutuhkan bantuannya.

“aniyo, ini bukan masalahku. Ini…” Jinki menggantungkan kalimatnya lalu menatap Seoyoun, kemudian memalingkan wajahnya, “tentang Minho.”

Ekspresi Seoyoun sedikit berubah, meski ia mencob bersikap setengan dan sedatar mungkin.

“ada apa dengan dia?” tanya Seoyoun berpura-pura cuek.

“kau ingatkan, sebulan lalu aku cerita kalau Minho dan pacarnya yang bernama Daemi itu putus? Kemarin aku bertemu Jonghyun, dan dia bilang …” Jinki lagi-lagi menggantungkan kalimatnya.

“mereka berbaikan lagi? Aku tidak akan heran kok.” Sahut Seoyoun sambil mengetik beberapa kalimat di laptop.

“ani, dia dan Daemi tidak berbaikan lagi. Tapi, Minho sudah dapa yeojachingu yang baru.” Jinki memperhatikan raut wajah Seoyoun dengan seksama, raut kesedihan bercampur dengan kekecewaan dan amarah menghiasi wajahnya. Tangan Seoyoun terhenti, tak lagi menari diatas keyboard. Seoyoun mencoba menata perasaannya, lalu kembali mengetik dan bersikap biasa saja. Hanya ‘oh’ yang diucapkan Seoyoun.

“kau tau, perasaanmu tidak akan pernah bebas kalau kau tidak mengatakannya langsung. Apa kau mau aku membantumu untuk bertemu dengannya?” tawar Jinki.

Apa yang kau katakan?

1. benarkah? Kau akan membantuku bertemu dengannya? (Baca Ending 2)
2. tidak perlu. Kami hanyalah orang asing yang tidak ada satupun hal untuk dibicarakan. (Baca Ending 3)

Iklan

4 thoughts on “(un)Requited Love 3.2”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s