Mianhaeyo YEOBO – – – Part 5

Jungso’s Car. 12 Oktober 2010 – 07.15PM

Jungso POV

Setelah menjemput Hyena pulang dan sampai di rumah, kami langsung membereskan barang-barang. Memang tidak banyak, hanya pakaian juga keperluan yang lainnya. Aku memilih membeli apartement siap huni agar tidak harus membeli furniture rumah. Kedudukanku sebagai salah satu arsitek terbaik di Korea tentu sangat membantu ketika memilih-milih apartement. Bahkan banyak colleague banyak yang mau menghadiahkan rumah atau apartement sebagai hadiah pernikahan. Hemm, kalau mengingat statusku sekarang sudah menikah aku selalu ingin tertawa.

Tadi sebelum pergi, kami juga berpamitan dulu pada Appa, Umma, Siwon, dan Chaera. Saat itu Hyena menangis. Aku mengerti, bagaimanapun juga selama ini dia tinggal bersama keluarganya. Dan sekarang tiba-tiba harus meninggalkan mereka pasti akan sangat sulit. Appa dan Umma sangat mempercayakan Hyena padaku, mereka bilang sekarang Hyena adalah tanggung jawabku. Sedangkan Siwon, meskipun dia jarang sekali mengungkapkan rasa sayangnya pada adiknya itu, tapi aku tahu kalau Siwon sangat menyayangi Hyena. Siwon bilang dia tidak akan membiarkanku hidup kalau aku membuat Hyena menangis. Tunggu, bukankah tadi pagi aku sudah membuatnya menangis? Ah, untunglah. Siwon tidak tahu itu.

Hyena? Dia masih tidak membuka suara. Sepanjang perjalanan dia hanya menatap lurus keluar jendela. “Hyena, kalau memang belum siap kita bisa kembali ke rumah sekarang. Euh?” aku mencoba mengajaknya bicara. Dia mendengarnya ternyata. Hyena pun membalikan tubuhnya lalu menatapku. Tak lama kemudian dia kembali menangis sambil menundukan kepalanya. Aku pun menariknya dalam pelukanku. “Uljima, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan menjagamu.”

Sekitar tiga puluh menit kemudian, kami pun sampai. Aku memberhentikan mobil di depan gedung apartement. “Hyena, bangun. Kita sudah sampai.” Aku mencoba membangunkannya yang kini masih tertidur di pelukanku. Dia pun menggeliat kecil lalu mengucek matanya. “Ayo turun.” Ajakku lagi.

Oppa ini dimana?” tanyanya. Sepertinya dia masih setengah sadar.

“Apartement kita.” Jawabku mantap.

“Apartement?” Katanya kaget. Hyena langsung menatap gedung tinggi bertantai 13 yang kini ada dihadapannya.

“Eum. Rumah akan terlalu besar untuk kita berdua. Dan lagi, mungkin nanti kau akan sering sendiri karena sebentar lagi Aku akan mengurus proyek baru dan itu merupakan tender terbesar perusahaan.” Jelasku.

“Kenapa kita malah pindah kalau Oppa akan sering pergi?”

“Jawabannya hanya satu. Karena kita sudah suami istri.” Kataku lagi. Aku melihat wajah Hyena mulai memerah. Aku ingin tertawa. Wajahnya sangat lucu.

“Errr, itu bukan jawaban yang tepat.” Sahutnya sambil menggaruk kepalanya.

Tanganku meraih pinggangnya lalu menariknya kesampingku. “Tidak perlu cemas, Aku janji akan berusaha pulang setiap hari. Kajja, kita masuk dan lihat rumah baru kita.” Aku pun menarik tangannya.

Sebelum masuk ke lobby aku memberikan kunci mobil pada satpam didepan agar dia memarkirkan mobilku.

JungsoHyena’s House. 12 Oktober 2010 – 08.45PM

Hyena POV

Membayangkan aku hanya akan tinggal berdua saja dengan Jungso, membuatku sedikit ngeri. Entahlah, ada rasa takut. Tapi aku tidak tahu itu apa. Ah, apakah itu tentang prinsipku yang baru mau punya anak di usia 23? Semenjak kejadian tadi pagi sepertinya kami sering sekali melakukan skinship. Aiggo. Aku masih ingin mempertahankan prinsipku itu.

Apartemen kami berada di lantai sepuluh. Dan sekarang kami sedang berada di dalam lift. Entah karena aku yang gugup atau hanya perasaanku saja, tapi aku merasa lift ini lama sekali.

“Tiingg.” Lift pun terbuka.

Kami pun keluar dengan tangan Jungso yang masih menggenggamku. Kami hanya perlu belok kanan dan berjalan sekitar tiga meter lalu menemukan pintu dengan nomor 1710.

“Bukalah, ini rumah kita.”

Aku pun mulai memencet kode rahasia sebagai kunci rumah. Dan Jungso ternyata memilih tanggal pernikahan kami sebagai kodenya. Setelah pintunya terbuka aku pun masuk ke dalam dengan diikuti Jungso dibelakangku. Mulutku tidak hentinya terbuka melihat isi apartement ini. *bayangin apartementnya Siwon di Oh! My Lady*

Otte?”

“Bagus. Aku suka.” Jawabku seadanya. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan ini. Tidak terlalu besar memang. Tapi cukuplah untuk kita yang memang tinggal berdua. Jankaman, apa nanti aku harus tinggal satu kamar dengan Jungso. Di rumahku saja (Choi’s house), Jungso lebih memilih tidur disofa dibanding seranjang denganku. “Oppa, kamarnya ada berapa?” tanyaku hati-hati.

Jungso pun berbalik menghadapku. “Wae? Kau tidak mau tidur sekamar denganku?” tanyanya langsung.

A..ani. bukan be..begitu.” jawabku tergagap. Sementera jungso malah terkikik menahan tawa. Aku pun meemukul tangannya. “Oppa!” pekikku.

“Hehehihi.” Tawanya lepas. “Mian, tapi wajah gugupmu lucu sekali. Disini ada dua kamar dan semua barangmu sudah ada dikamarmu. Kau masih harus konsentrasi belajar, jadi sebaiknya kita tidak tidur satu kamar, paling tidak sampai kamu lulus sekolah.” Lanjut Jungso.

Aku pun mengangguk mengerti. Tapi tunggu, sampai aku lulus sekolah? Bukankah Jungso bilang kalau pernikahan kami setidaknya harus sampai aku lulus sekolah? Apakah Jungso lupa dengan kata-katanya sendiri? Dan kalau setelah aku lulus lalu kami bercerai itu berarti aku sudah menjadi janda tapi masih suci? SUCI? Yak! Choi Hyena apa yang sedang kamu pikirkan. Berhentilah berpikir tidak-tidak.

Jungso yang merasa aneh melihatku terus menggelengkan kepala lalu bertanya. “Kenapa?”

Ani. Tidak ada.”

Kurrae. Sudah malam dan besok kau juga harus sekolah. Tidurlah.”

Aku dan Jungso pun masuk kamar kami masing-masing. Tapi tiba-tiba “TiingToong.” Suara bel rumah berbunyi. Aku membuka pintu kamar dan keluar dengan stelan baju tidur. Karena tadi aku sempat mengganti baju dulu. Sementara Jungso masih mengenakan baju dan celana yang tadi.

Oppa. Nugu? Datang kerumah kita malam-malam begini?” tanyaku.

Molla.” Kata Jungso sambil menggelengkan kepalanya. “Ayo kita lihat saja siapa yang datang.” Lanjut Jungso lalu mengamit tanganku. Tapi aku tetap diam ditempat.

Wae?

“Aku takut. Bagaimana kalau penjahat?”

“Yak! Ini termasuk apartement elit. Security di depan tidak akan begitu saja membiarkan orang tidak dikenal bisa sembarangan masuk kesini.” Jelasnya.

Harraboeji?” Teriak Jungso ketika dia melihat di interphone siapa orang yang datang malam-malam begini.

Aku yang dari tadi hanya besembunyi dibelakang Jungso juga ikut melihat siapa yang datang. Dan benar itu kakekku. Tapi untuk apa kakek datang kesini malam-malam?

***

Kini aku dan Jungso tengah duduk berhadapan dengan kakekku. Dari tadi kakek tidak berbicara sedikitpun dan malah terus mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru di apartement ini. Aigoo, kakek yang aku lihat satu bulan yang lalu terbaling begitu lemah dirumah sakit dan membuatku terpaksa menerima dijodohkan dan dinikahkan dengan Jungso sekarang malah terlihat sangat sehat dan segar bugar. Tapi meskipun begitu, sekarang kakek sudah sembuh dan sebagai cucu yang baik aku juga harus bahagia akan hal itu.

Aku terus menguap. Terang saja ini sudah pukul sebelas malam. Dan kakek masih juga tidak mengatakan apa pun. Dan Jungso? Dia juga sama saja. Diam seribu bahasa.

“Kakek akan tinggal disini selama satu bulan.” Kata kakek membuka suara. Aku yang dari tadi sudah menguap karena mengantuk langsung membuka mataku kembali.

NE?” pekikku dan Jungso berbarengan.

“Kakek, tapi kami hanya punya dua kamar..!”

“Lalu kenapa? Kalian kan tidur satu kamar dan kakek akan menggunakan kamar yang satunya.!” Jawab kakekku enteng. “Sudah, kalian sekarang tidur. Kakek juga sudah lelah.” Lanjut kakek lagi lalu berdiri dari duduknya.

Jungso juga ikut berdiri dan dia langsung menahan kakek dengan memegang tangannya. “Harraboeji tunggu.” Cegahnya. “Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar?” lanjutnya lagi.

“Ah, baiklah.” Sahut kakek lalu duduk kembali.

Jungso pun menyenggol kakiku. Tapi tak kuhiraukan. Lalu jungso menyenggolnya lagi tapi kali ini sedikit keras. Aku pun berbalik. “Hyena, bereskan barang-barangmu dari kamar itu!” perintahnya.

Ne?” kataku tak mengerti karena suara Jungso kecil sekali.

“Barang-barangmu.” Katanya lagi. Ah, aku pun teringat. Lalu pamit duluan. Selagi Jungso mengajak kakek mengobrol, aku memindahkan barang-barangku ke kamar Jungso.

***

Seoul Senior High School’s Canteen. 13 October 2010 – 10.15AM

Kibum POV

‘Kenapa Park Jungso bisa menjemput Hyena?’ Aku tidak bisa berhenti memikirkan tentang hal ini. Saat jam pelajaran Hyena fokus sekali belajar. Ya, karena itu memang pelajaran favoritnya, bahasa inggris. Tapi selama jam istirahat ini aku tidak juga melihat Hyena. Aiigo, Aku tidak mengerti perasaan apa ini, dan kalau dibilang aku aku menyukai Hyena, rasanya tidak juga. Tapi Aku merasa ada sesuatu hal yang berbeda dari Hyena, dan itu membuatku merasa penasaran. Aku mendesah pelan untuk meringankan pikiranku. Lalu menutup mata dan beberapa kali menarik napas lalu membuangnya perlahan. Sepertinya sekarang sudah lebih. Aku pun membuka mata. Bingo. Aku melihat teman-teman Hyena sedang berjalan menuju kantin. Tapi aku tidak menemukan Hyena berada diantara mereka.

Aku memundurkan kursi lalu berdiri. Mereka duduk dibangku ujung kantin. Sepertinya mereka tahu kalu aku sedang berjalan kearah sana. Karena aku mendengar beberapa bisikan kecil dari mereka. “Hai.” Sapaku.

“Haaiiiii.” Mereka balas menyapaku. Kompak sekali.

“Boleh gabung?” tanyaku, tidak lupa aku juga mengeluarkan killer smileku. Bagai terhipnotis, mereka mengangguk bersamaan.

“Kibum-ssi, mau pesan apa? Biar sekalian.” Tawar salah satu teman Hyena. Kalau tidak salah namanya HaeRin.

“Tidak perlu. Tadi aku sudah makan. Aku hanya ingin mengobrol saja dengan kalian.” Jawabku.

Setelah HaeRin kembali dari memesan makanan pun, kami masih belum saling bicara. Aigoo, kikuk sekali. “Tumben kalian gak bareng Hyena?” Aku membuka pembicaraan.

“Tadi Hyena dipanggil petugas administrasi, katanya ada berkas yang harus diurus.” YuuLi menjawabnya. Dari ketiga teman Hyena yang paling aku ingat nama dan wajahnya adalah YuuLi. Berarti yang belum mengeluarkan suara adalah Kyuna. Dan dari tadi dia juga terus menatapku tajam. Jujur itu sangat risih. Membuatku salting.

“Kibum-ssi.” Panggil Kyuna. Dia menyipitkan matanya. Lalu meletakan tangannya diatas meja. Kyuna pun melanjutkan kata-katanya “Apa yang ingin kau tahu tentang Hyena dari kami?” tanyanya menohok. HaeRin dan YuuLi pun langsung menatapku dan Kyuna bergiliran.

“Maksudmu?” aku berusaha tetap tenang walau sebenarnya aku gugup sekali. Kenapa Kyuna bisa tahu? Jangan-jangan nama Hyena ada tertulis jelas didahiku?

“Aku merasa sikapmu aneh saja. Dan aku yakin kau datang kebangku kami pasti ada sanggut pautnya dengan Hyena kan?” sahut Kyuna lagi.

Aku tidak bisa berkutik. Kyuna benar-benar tepat sasaran. “Baiklah, aku tidak akan basa-basi lagi. Aku menemui kalian memang ada hubungannya dengan Hyena. Ada beberapa hal yang ingin aku tahu tentang Hyena, dan karena kalian adalah teman dekatnya, aku yakin kalian pasti tahu akan hal itu.” Jelasku panjang lebar. Mereka bertiga menatapku dengan serius.

“Baiklah. Apa yang ini kau tahu tentang Hyena?” tanya YuuLi.

“Sejak kapan kalian mengenal Hyena?” tanyaku.

“Kalau aku kenal Hyena dari kecil, kami selalu satu sekolah sampai sekarang. Kalau HaeRin dari SMP dan Kyuna dari SMA.” Jawab HaeRin. Aku pun mengangguk.

Mengobrol dengan mereka ternyata menyenangkan juga. Aku jadi tahu banyak tentang Hyena. Tapi pertanyaan ini masih belum kutanyakan. Aku takut mereka salah paham. Aku lalu  memberbaiki posisi dudukku. “Apakah Hyena Sudah punya namjachingu?” tanyaku hati-hati.

“Tidak. Bahkan Hyena belum pernah pacaran.” Kali ini YuuLi yang menjawab.

“Tapi bukan berarti dia tidak laku. Aku kira prinsipnya itu terlalu memaksakan.” Timpal Kyuna.

“Emang apa prinsipnya?” tanyaku penasaran.

“Hyena bilang dia ingin pacar pertamanya bisa jadi suaminya kelak.” Lanjut Kyuna lagi.

Aku menggangguk ringan. “Ah, kemarin kalian jalan bareng Hyena kan?” tanyaku.

“Iya, tapi dia pulang duluan.” Jawab YuuLi.

“Aku liat dia di pintu utama, tapi dia dijemput laki-laki. Kalian tau itu siapa?” tanyaku lagi.

“Itu Siwon Oppa.” Jawab YuuLi. “Sayang sekali dia sudah menikah.” Lanjut YuuLi dengan wajah sedihnya.

Aku mengerutkan keningku. “Siwon?”

“Dia kakak kandung Hyena.” Jawab Kyuna . “Choi Siwon.” Tekankannya.

***

Kibum’s Room. 18 Oktober 2010 – 07.40PM

Aku telah melakukan investigasi selama satu minggu ini. Hasilnya adalah setiap pagi Hyena selalu diantar oleh mobil sedan hitam itu, begitupun dengan pulang sekolah. Hyena selalu dijemput dengan mobil yang sama. Tapi gerak-gerik Hyena disekolah sama sekali tidak berubah, dia tetap ceria dan terkadang menghabiskan waktu istirahat bersamaku. Aku sering mengajaknya untuk pulang bareng, tapi jawabannya tetap sama. “Mian, hari ini aku dijemput Oppa.” Tolaknya lembut. Rasa penasaranku sudah sampai batasnya, tadi pulang sekolah aku mengikuti mereka. Mereka berhenti didepan sebuah apartement elit tidak jauh dari sekolah. Aku melihat laki laki keluar dari bangku pengemudi dan berjalan menuju pintu yang satunya, ketika laki-laki itu berbalik, aku yakin sekali kalau itu adalah Park Jungso. Mereka lalu masuk kedalam apartemen berbarengan. Jadi Park Jungso dan Hyena tinggal ditempat yang sama??

‘Dia kakak kandung Hyena. Choi Siwon.’ Kata-kata Kyuna kembali mengisi pikiranku. Kalau mereka begitu yakin yang menjemput Hyena seminggu lalu adalah Siwon kakak kandung Hyena, lalu siapa Park Jungso itu? Kenapa dia bisa begitu sering bersama Hyena bahkan tinggal ditempat yang sama? Apa hubunagn Park Jungso dan Hyena? Apakah mereka bersodara? Kalau kakak seperinya tidak mungkin, karena jelas marga mereka berbeda.

“Arrrggghhh.” Teriakku frustasi.

Begitu banyak pertanyaan ada dipikiranku. Dan itu hampir membuatku gila. Aku membaringkan tubuhku dikasur lalu memejamkan mata. Ini selalu membantuku untuk mencari solusi masalah. Dan benar saja, saat membuka mata aku mendapatkan suatu ide. Aku bangun dan menuruni tangga. Dengan langkah seribu aku menuju ruang kerja Appa.

Aku lalu mengetuk pintu dan membukanya. “Appa? Sedang sibuk?” tanyaku masih diambang pintu.

“Tidak terlalu. Masuklah.” Kulihat Appa sedang membolak-balik beberapa file.

“Euh, boleh tanya sesuatu?” tanyaku hati-hati. Takut kalau mengganggu aktivitasnya.

“Tanyakan saja.” Jawab Appa masih bergelut dengan file yang tadi.

Appa tahu Park Jungso?” tanyaku lagi.

Appa menghentikan kegiatannya. Lalu menyimpan file itu di meja. Appa juga membuka kacamatanya yang tadi terpasang tepat dimatanya. “Tentu. Appa kenal baik dengan dia. Dia juga salah satu arsitek terbaik di Korea. Dan kebetulan sekali sekarang dia menjadi rekan bisnis Appa untuk tender terbaru.” Jelasnya.

Aku pun mendekati beliau. “Appa, apa aku boleh meminta sesuatu?” mohonku.

“Apa itu?”

***

JungsoHyena’s House. 18 Oktober 2010 – 10.00PM

Hyena POV

Aku masih belum bisa tidur. Padahal jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Perlahan aku melirik Jungso yang sedang tertidur pulas di sofa. Sudah seminggu semenjak kakek tinggal dirumah, aku tidur sekamar dengan Jungso. Tapi Jungso malah memilih tidur di sofa, sofa yang tidak terlalu besar dan panjang sehingga tidak mampu menampung kaki panjangnya yang menggantung di ujung sofa. Aku bangun dari tidurku, berjalan menuju lemari dan mengambil selimut. Perlahan aku memakaikan selimut itu ke tubuhnya. Aku melakukannya dengan sangat hati-hati agar tak membangunkannya. Entah karena apa, tapi tiba-tiba aku ingin sekali menyentuh wajahnya. Aku menggerak-gerakan bulu matanya yang beradu. Senyum kecil tersungging disudut  bibirku. Wajahnya terlihat sangat lucu ketika sedang tidur. Aku mulai menggerakkan tanganku lagi, menyentuh hidungnya dan akhirnya sampai di mulutnya. Aigoo, kenapa aku sekarang malah ingin menciumnya. Tapi syukurlah, tubuh Jungso menggeliat sehingga aku tidak perlu meneruskan keinginanku tadi.

Aku pun kembali ke kasur. Berniat untuk tidur. Tapi baru saja aku memejamkan mata.

TOK.TOK.TOK

“Hyena-ya, Jungso-ah!” teriak seseorang di balik pintu.

Ommo, harraboeji? Mau apa dia?

“YAK! Ireona!” lanjutnya lagi.

Aku langsung turun dari ranjang. Menghampiri jungso yang masih tertidur pulas. “Oppa. Oppa, bangun.” Panggilku. Tapi Jungso tetap tak bergeming. Aku pun menggerakkan tubuhnya. “Bangun.” Suruhku lagi.

Jungso mulai membuka matanya. “Wae? Aku masih mengantuk Hyena.”

“Bangun sekarang!!” kataku galak.

Setelah menyuruhnya bangun, aku masuk kedalam kamar mandi. Berniat mengganti baju kaosku dengan gaun tidur yang  lumayan tipis dan pendek yang diberikan Chaera onnie sebagai hadiah pernikahanku. Aku memandang nanar gaun yang kini ada ditanganku. Aku menghela napas. Tidak pernah terpikirkan olehku kalau aku juga akan menegalami memakai baju seperti ini.

“YAK! Kalian sedang apa? Kenapa tidak juga keluar?” teriak kakek lagi.

Tanpa babibu lagi. Aku langsung mengganti baju kaos dengan gaun yang tadi. Walaupun sedikit risih memakai baju seperti ini, tapi aku memberanikan keluar dari kamar mandi. Dan kulihat Jungso masih bergelung dalam selimutnya. “Oppa banguuun.” Teriakku sambil menarik selimutnya.

“Kau kenapa sih, malam-malam begini ribut sekali.” Kesal Jungso lalu menarik lagi selimutnya.

“Kakek ada diluar.” Jawabku.

Jungso mendongak kaget. “Diluar?” tanyanya. Aku mengangguk.

Jungso tiba-tiba membuka kaos hitamnya lalu mengacak-ngacak rambutnya.

Ommo, absnya!” pikirku ngaco.

Jungso juga menarik tanganku lalu melingkarkannya dipinggangnya. Aigoo, aku belum pernah menyentuh tubuh Jungso sebelumnya. Ini membuat jantungku tidak beres. Jungso pun berbalik menghadapku. Tiba-tiba Jungso mencubit hidungku lumayan keras. Membuatku cukup berteriak dengan keras. Karena merasa kesal aku pun mencubit pinggangnya. Dan Jungso juga berteriak.

“Rasakan. Suruh siapa mencubit hidungku.” Kataku kesal.

“Kalian sedang apa? Kenapa teriak-teriak seperti itu?” tanya kakek diluar. Suaranya sedikit mengecil.

Kurrae, beraktinglah seperti habis tidur. Bisa?” tanya Jungso sambil mengacak juga rambutku. Aku pun menggangguk. Dengan cepat Jungso menarikku kesisinya, tangan kanannya berada dipinggangku, sementara tangan kirinya berada diatas tangan kiriku. Aku sekarang berada disebelah kanan Jungso. Kami menghela napas berkali-kali. Setelah itu Jungso langsung membuka pintu.

“Ka..kalian sedang apa?” tanya kakek terbata melihat keadaanku dan Jungso yang cukup berantakan. Aku diam. Tak berani menjawab.

Tapi Jungso? “Seperti yang kakek lihat.” Jawab Jungso santai sambil mengeratkan pelukannya lagi.

“Kalau negitu aku mengganggu?” tanya kakekku polos.

“Sangat.” Jawab Jungso lagi.

Tanpa bicara apa-apa lagi, kakek meninggalkanku dan Jungso yang masih berdiri di pintu kamar. Aku langsung melepaskan tanganku dan berlalu. Mataku sudah terasa sangat berat. Dan ranjang itu terlihat sangat nyaman. Aku pun naik ke kasur, menarik selimut lalu memejamkan mata. Sementara Jungso kulihat sedang menutup pintu kamar.

Aku kembali tersadar ketika kurasakan ada seseorang yang ikut naik keranjang. Aku menyumbulkan kepalaku dari bawah selimut. “Oppa!” pekikku.

Jungso yang sudah bersiap memejamkan matanya langsung bangun seketika. “Hyena, biarkan aku tidur disini malam ini saja. Kakiku sakit terus tidur disofa.” Sahutnya sambil memelas. Tapi tanpa menunggu persetujuanku Jungso langsung tidur. Jungso masuk ke dalam selimutku dan kami tidur dibawah selimut yang sama.

JungsoHyena’s House. 19 Oktober 2010 – 07.00AM

Seperti biasa setiap pagi kami sarapan bersama. Aku, Jungso, dan kakek. Aku sama sekali tidak bisa mengangkat mukaku. Kejadian tadi pagi benar-benar menggemparkan.

~Flashbacak JungsoHyena’s Room. 19 Oktober 2010 – 05.00AM~

Alarm sudah berbunyi dari tadi. Tapi hari ini aku merasa sangat malas sekali untuk bangun. Entahlah, aku merasa tidurku kali ini sangat nyaman. Aku merasa tidur diatas bantal yang sangat empuk. Jankaman, empuk? Aku mulai membuka mata. Ommo, ini bukan bantal. Ini dada seseorang. Aku bangun dari tidurku, mengamati dan tubuh orang ini dan aku menatap mata yang juga sedang menatapku. “Aaaaa.” Teriak kami berbarengan. Aku langsung menarik selimut dan Jungso meloncat ke samping ranjang.

~FlashbacakEnd~

“Ada apa dengan pagi ini? Sepertinya ramai sekali.” Kakek membuka keheningan. Tapi baik aku maupun Jungso, tidak ada yang membuka suara.

“Baiklah. Jungso, sebelum mengantar Hyena sekolah, antarkan dulu kakek pulang.!” Perintah kakek.

Wae harraboeji? Bukankah ini baru satu minggu.” Kata Jungso. Sementara aku masih makan dalam diam.

Ani. Kakek hanya bosan. Tidak ada yang dapat kakek lakukan disini.” Saut kakek.

Jungso’s Car. 19 Oktober 2010 – 07.20AM

Setelah mengantar kakek kerumah, Jungso langsung mengantarku kesekolah. Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara. Jungso fokus menyetir mobil, dan aku memilih memandang keluar Jendela.

Jagi…” panggil Jungso pelan.

Aku berbalik. “Hmm?”

Mian untuk kejadian tadi malam.” Katanya polos. Aku terkikik geli.

“Kenapa minta maaf, tidak terjadi apa-apa kok.” Jawabku santai. Walau sebenarnya aku juga malu.

“Kau menjawab santai sekali. Padahal wajahmu merah begitu.” Goda Jungso.

Oppa!!” pekikku. Aku memanyunkan bibirku.

Mian.”Jungso mencubit pipi kiriku. “Ah, ada yang ingin aku bicarakan.” Lanjutnya.

“Tidak peduli.” Ketusku dan langsung memalingkan kepalaku.

“Hyena ini serius.” Kata Jungso sedikit berteriak.

“Ish, tidak usah teriakkan bisa.” Kataku lemah.

“Nanti malam kau tidak ada acara kan. Gimana kalau kita makan malam bareng?” tawar Jungso dengan mata berbinar.

Aku tersenyum kecut. “Kalau Oppa berniat merayuku, itu tidak mempan.” Jawabku malas.

“Ge-Er sekali! Ini undangan dari rekan kerjaku.”

“Rekan Kerja?”

Ne! Mr. Kim mengundangku untuk makan malam, tapi dia meminta aku datang bersama istri atau adikku.” Jelas Jungso.

“Baiklah. Tidak masalah.” Aku langsung menyetujui permintaan Jungso. Meskipun aku merasa ada yang janggal karena tidak biasanya Jungso mengajakku untuk ikut campur dalam urusan pekerjaannya. Tapi positive thinking sajalah. Itu lebih baik kan.

… to be continued …

bagaimana? mudah-mudahan pada suka ya . seperti biasa , yang baca , tolong kasi komentar ya . Gomawo buat yang udah baca .

Iklan

26 thoughts on “Mianhaeyo YEOBO – – – Part 5”

  1. 1st ?
    Kekekekeke 😄
    karena sarah bLg gg usah manggiL eonni , jadi aku panggiL nama aja yya 🙂
    wuhuuu~ ini cerita keren banget dh 😀
    mr.kim itu pasti appanya kibum kan ? 🙂
    gg sabar nunggu part sLanjutnya nihh.. 😄
    hwaiting sarah !! \^o^/

  2. keren euy,,,,cuman ni crita dua2’n masih suka malu2 gitu,,hahay,,,jadi gregetn baca’n,,,,d tunggu part slanjut’n lho,,,,

  3. EONNI!!!!
    aku maen tebak lagi ya~~~
    boleh kan?!
    hehehe,,tuh mereka mau dinner di klwrga KIM kan???
    berarti tebakanku tuh,, pasti rencana KIBUM!!!!!
    biar Kibum bisa tau jelas Jung Soo itu siapanya Hye Na~~~
    (eonni : liat aja nanti dipart 6^^)
    khekhekhehe~ Hwating aj dhe~~
    Jia You^0^/

  4. huaaaaa. Ini komen dari part 1 . Mian baru komen soalnya emang baru baca. Kemarin nyari-nyari part 1 sama part 2 nya susah amat. Akhirnya ketemu.

    Kyaaa !! Bobo bareng teuki oppa satu ranjang !! Masa ga ngapa-ngapain sihh ??? Ahh teuki oppa kenapa ga nyerang aja #readeryadong.

    Daebak !!!! Ff nya keren !!! Ayooo lanjuttt !!! #bingung mau kasih komen apa

  5. hallo,aq reder bru dsni n aq sk bgt dg ff ini,o ya mna ni lnjutannya?kq udh lma bgt mbk intan gk buat lnjutannya?jgn klamaan y mbk udh gk sbr ni bca klnjutannya…..

  6. chinguu..
    part lnjutan.a kog blum ada siii??
    pdhal uda ngebet pngen bca…
    ayolah chingu..di share..
    di tnggu lho..
    🙂

  7. Lhoh ko udah selesai bacanya???? *g kerasa part 1 ampe 5….
    Mian baru nemuin ff ini…..
    Kpn updatenya thor???? *penasaran….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s