|FF PROJECT| Last Letter

Author : Ade Nidya Zodittia

Judul/Title : |FF PROJECT| Last Letter

Genre : Friendship, Horror dan Sad

Kategori : May I Love You

Type : Contest

Tag : Kim Kibum , Im Jaeyoon, Lee Sungmin, Kim Kigyo

Terdengan decitat kursi yang di geser. Aku tersentak kaget, bulu kudu ku langsung merinding. Tidak ada siapa-siapa di kelas, hanya ada aku. Lalu siapa yang menggeserkan kursi?

Suasana kelas sepi dan aku berada di kelas sendirian. Benar-benar mimpi buruk. Setiap jam istirahat kelas selalu kosong, di tambah lagi kelasku berada di ruangan paling sudut di lorong utara yang sangat menyeramkan. Aku bukan cewek pemberani yang hobi menyendiri di kelas yang sepi, aku bertahan di kelas karna aku belum menyelesaikan pr Sejarahku, aku tidak mau di hukum guru Hwang hanya karna lupa mengerjakan pr, konyol, sekali.

Aku membalikkan badan. Tidak ada siapa-siapa. Kosong, yang ada hanyalah deretan bangku-bangku tidak berpenghuni yang diam membisu. Oh tuhan, aku tidak mau mengalami hal yang mengerikan.

Aku tersentak, terdengar suara langkah kaki pelan. aku tidak mau membalikkan badan, aku tidak siap melihat hal-hal mengerikan secepat ini.

Aku nyaris menangis, keringat dingin ku mulai bercucuran. Aku berdoa, semoga makhluk kasat mata yang aku lihat tidak semengerikan yang ada di filem-filem. Dengan tubuh gemetaran aku membalikkan tubuh dan…

“Huuuuaaaa!!”, teriak sosok yang ada di depanku

Aku terperanjat kebelakang, aku nyaris jatuh. Kotak pensilku jatuh, semua benda yang ada di dalamnya berserakan.

“Hahahahaha”, aku mengepalkan tangan kesal. Orang yang mengejutkanku adalah Lee Sungmin. Teman sebangku ku yang rese

Sungmin membuka topeng hantu-hantuan yang dipasangnya. Dia masih tertawa ngakak sambil memegang perutnya dan sesekali memukul meja.

“Wajah mu lucu sekali Jaeyoon”, Sungmin masih tertawa ngakak sambil memukul-mukul meja

Aku mendengus kesal. Aku bangkit dari tempat duduk dan berjongkok, memunguti peralatan tulisku yang berserakan.

Aku menyipitkan mata heran. Melihat secarik amplop biru tergeletak di bawah tempat dudukku. Aku mengerutkan kening heran. Mengambilnya dan membaliknya.

“Orang yang ku cintai”, desisku pelan sambil membaca tulisan ada di depan amplop biru itu

***

Sosok itu mendekatiku, dia mengulurkan tangannya padaku, yang mengartika bahwa aku harus mengikutinya. Aku menggeleng kencang, berusaha mengusir sosok bayangan itu jauh dari hadapanku. Aku membuka mata, tapi sosok itu malah berjalan mendekat, tangannya makin lama makin mendekati wajahku, tangan putih yang pucat, dan…

“TIDAK!!!!”, keringan dingin bercucuran, jantungku berdetak kencang, nafasku memburu sepeti orang baru saja berlari berkilo-kilo meter

“Jaeyoon, kau kenapa?”, aku menoleh, melihat onnie ku yang menatapku heran dengan matanya yang menyipit ngantuk

Aku menggeleng pelan “Ani, hanya mimpi buruk”, aku tersenyum tipis, dan aku yakin, dia tidak melihat senyuman ku karna kamar gelap

“Hah, jangan teriak-teriak seperti itu. Besok aku ada ujian, aku tidak mau nilai ujianku jelek hanya karna mendengar teriakkan aneh mu. Huft, kapan sih Appa mau memberikan kamar pribadi untukku? Tidak berbagi kamar seperti ini”, aku masih mendengan celotehan onnie, coletah itu langsung berhenti ketika dia menarik selimut dan langsung mendengkur keras

“Hah, aku yang tersiksa tidur dengan mu”, desisku kesal dan langsung merebahkan diri. Aku masih memikirkan mimpi itu “Apa ya maksud mimpi itu?

* * *

Aku membalikkan badan ketika mendengar nama ku di panggil. Sungmin melambaikan tangan dan berlari pelan kearahku.

“Mata mu kenapa? Kurang tidur?”, tanya Sungmin sambil menyipitkan matanya, meneliti mataku yang terlihat aneh

“Ya, semalam aku mimpi buruk dan tidak bisa tidur. Di tambah dengkuran onnie ku yang membabi buta, aku baru bisa tidur jam setengah 4 pagi”, aku menggosok-gosokkan mataku pelan. aku benar-benar sangat mengantuk

“Hahaha, kasihan sekali kau”, Sungmin ketawa ngakak sambil memasukkan tangannya kedalam saku celananya “Hei, apa kau tau satu hal?”, tanya Sungmin dengan wajah serius

“Apa?”, aku sedikit ngeri melihat wajah serius Sungmin 

Sungmin berhenti di depan pintu kelas dan melihat kesekeliling. Berusaha memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan kami. Aku ikut-ikutan melihat kesekeliling, sepertinya pembicaraan Sungmin benar-benar sangat rahasia.

“ Ada apa?”, tanyaku penasaran

Sungmin berdeham pelan “Apa kau tau, kalau kelas kita ini sangat angker?”, tanyanya dengan wajah terlihat serius

Aku menaikkan satu alis “Hah, jangan berkata yang tidak-tidak bodoh. Tadi malam aku sudah mimpi buruk, jangan membuat tidurku makin buruk nanti malam”, aku mendorong tubuh Sungmin agar dia menyingkir dari pintu

Aku membuka pintu kelas sambil menguap lebar, ketika aku melangkahkan satu kaki di lantai kelas. Aku merasakan angin menerpa wajahku, angin yang terasa sangat hangat dan nyaman, angin yang langsung membuat ku mengingat mimpi tadi malam, angin yang terasa menyuruhku mengikutinya, angin yang membuat bulu kudu ku merinding, angin yang terasa terus mengikuti ku, menatapku, dan memperhatikan ku

***

Aku menyipitkan mata, apa-apaan ini? Sepucuk surat berwarna biru tergeletak manis di bangku ku. Aku mengambilnya dan membulatkan mata kaget. Aku mengusap mataku berusaha memastikan apakan tulisan yang ada di sepucuk surat itu benar.

Im Jaeyoon. Nama itu tertulis jelas di surat yang ku pegang. Itu namaku, tidak ada nama Im Jaeyoon di kelas ini selain aku dan surat itu juga terletak di atas tempat dudukku, sudah pasti surat ini untukku.

“Hah, tukang koran sialan, seenaknya saja menabrakku dan malah menyalahkan ku. Hah, benar-benar ku kutuk bocah siala itu”, aku kaget ketika mendengar celotehan Sungmin yang sudah duduk di bangkunya sambil mengepalkan tangan kesal

Aku kaget dan langsung memasukkan surat itu ke dalam tasku. Aku tidak mau Sungmin tau dan malah meledekiku. Sungmin kan sangat suka mengggodaku, apa lagi kalau ada seseorang yang menyukai ku.

Aku bergerak kurang cepat, Sungmin melihat aku menyembunyikan sekuatu di dalam tasku. Dia menyipitkan matanya dan mengangguk-ngangguk pelan.

“Apa yang kau sembunyikan dari ku?”, tanyanya sambil meletakkan tangan di pinggang

“Bukan urusan mu”, jawabku gugup. Aku langsung mengambil tasku dan membekapnya erat

“Perlihatkan padaku”, katanya penasaran dan berusaha merebut tas yang ada di bekapanku

“Tidak”, aku memeluknya erat, jangan sampai Sungmin mendapatkan surat yang sepertinya surat cinta itu, aku tidak mau menjadi bahan olok-olokan namja itu

“Ayo berikan”, Sungmin masih penasaran dan tidak mau menyerah

“Tidak!!”, teriakku dengan lengkingan keras

Tas ku berhasil direbut Sungmin, dengan semangat dia berhasil menemukan surat berwarna biru itu, senyumannya langsung mereka lebar “Wah, ini surat cinta?”, tanyanya sambil tertawa

“Jangan”, teriakku kesal sambil berusaha merebut surat yang ada di tangan Sungmin

Sungmin mengangkat surat itu tinggi-tinggi, aku tidak bisa menggapainya. Sungmin membuka surat itu dan membaca kertas yang juga berwarna biru sambil tersenyum jail.

Tiba-tiba saja mata Sungmin membulat kaget. Dia menurunkan tangannya, aku tidak membuang kesempatan dan langsung merebut surat itu darinya. Aku tidak peduli Sungmin masih mematung dengan wajah seperti bertanya-tanya. Aku membuka lipatan surat itu dan langsung menyipitkan mata heran. Apa aku tidak salah liat?

***

“Apa ini?”, aku melihat kearah Sungmin yang sudah sadar, Sungmin memasukkan tangannya kedalan saku celana sekolahnya. Wajahnya mengisyaratkan keheranan

“Apa benar ini surat untuk mu?”, tanyanya sambil menatapku seakan tidak percaya

“Aku tidak buta dan kau bisa melihatnya sendiri. Tulisan Im Jaeyoon sangat jelas tertulis di sini”, aku menunjuk namaku yang tertulis di amplop dengan perasaan kesal

“Tapi ini sangat tidak masuk akal”, kata Sungmin sambil mendesah heran “Tanggal itu”, katanya sambil menggelengkan kepala tidak percaya

“Tanggal 15 bulan Januari, bukankan itu hari ini”, kataku sambil mengangguk yakin

“Tapi tahunnya, tahun itu sudah lewat 2 tahun yang lalu”

* * *

Aku tidak bisa tidur, surat itu menghantui ku. 3 hari berturut-turut aku mendapatkan surat yang sama, dengan tanggal yang sama dengan tanggal aku mendapatkan surat itu, tapi tahunnya, tahunnya sudah lewat 2 tahun yang lalu. Ada apa ini?

Aku membuka lipatan surat berwarna biru yang aku temui hari ini. Untung saja onnie ku tidak ada di rumah dan dia tidak akan bisa menggangguku seenak perutnya.

Untuk Im Jaeyoon kecil ku

Mungkin kau tidak pernah mengenal sosokku, aku adalah seorang namja yang menyukai seorang yeoja dengan senyuman cerah seperti mu, seorang namja yang tergila-gila dengan seorang yeoja kecil yang hanya bisa di lihatnya dari jendela kelas, seorang namja yang hanya bisa memperhatikan, tidak bisa bertemu atau berbicara. Mungkin aku adalah seorang namja yang terkenal menakutkan di sekolah, tapi seorang namja yang penakut apa bila berhadapan dengan mu.

K.K.B

Apa maksudnya? Apa dia sering memperhatikan ku? Mengagumi ku dari jauh. Tapi kenapa? Kenapa surait ini di kirim 2 tahun setelah dia membuatnya? Aku benar-benar tidak mengerti.

“Jaeyoon!!”, aku tersentak kaget, ketukan pintu itu membuat detakan jantungku menjadi cepat

Aku mendesah kesal. Sepertinya onnie sudah pulang dan kesal karna aku sudah mengunci pintu seenaknya. Aku tau onnie tidak pernah suka aku mengunci pintu, padahal dia sendiri sangat suka mengurung diri di kamar.

“Iyaa”, teriakku kesal dan langsung bangkit dari tempat tidur

Tiba-tiba aku mendengar jendela kamarku berbunyi karna di tiup angin. Aku membalikkan badan dan langsung tersentak kaget.

Sesosok orang berdiri di samping tempat tidurku. Seorang pria berpakaian putih dengan wajah pucat. Wajah yang menurutku sangat tanpan. Siapa dia?

Tiba-tiba kepalaku mendadak pusing, semua yang berada di sekelilingku terasa berputar hebat.

Kata-kata terakhir yang ku dengar adalah teriakkan kesal onnieku “Jaeyoon!!!”

***

Aku membuka mataku. Cahaya terang lasung menerpa mataku, aku melindungi mataku dengan tangan, menyipitkan mata agar aku bisa melihat apa yang ada di depanku.

Seorang namja berdiri di depanku, itu namja yang aku lihat di kamarku, namja yang berdiri di samping tempat tidurku. Namja berwajah pucat yang menatapku dengan tatapan aneh. Tapi sekarang dia jauh lebih segar dan… lebih hidup.

“Siapa kau?”, tanyaku sambil berusaha berdiri

“Hai Jaeyoon. Lama tidak berjumpa”, katanya sambil tersenyum sambil melambaikan tangannya padaku

“Aku tidak mengenalmu”, aku menggeleng pelan

“Memang, kau tidak mengenalku, tapi aku mengenal baik siapa dirimu”, jawabnya masih sengan senyuman manisnya

Aku diam, tidak mengerti apa maksudnya. Namja itu berjalan mendekatiku, aku langsung mundur beberapa langkah. Sadar aku tidak mau di dekati, namja itu berhenti berjalan dan memasukkan tangannya kesaku celana putihnya.

“Apa aku terlihat menakutkan? Yah, memang, dulunya aku memang sangat ditakuti orang. Orang yang tidak pernah mau di atur”, katanya sambil mengangguk pelan dan tersenyum kecil “Tapi”, katanya, wajahnya langsung berubah murung “Aku merindukan itu semua”, sorot matanya langsung berubah sedih “Ah, sudah lah, tidak usah di bahas, nanti kau tau sendiri”, namja itu berdecak pelan “Apa aku boleh memperkenalkan diriku secara langsung?”, tanyanya sambil menatapku dengan tatapan berharap

Aku mengangguk pelan. Namja itu langsung tersenyum senang.

“Aku Kim Kibum, apa kau pernah mengenal nama itu?”, tanyanya sambil menatapku

Aku menerawang, melihat keatas sambil berpikir apa aku pernah mengenal nama itu. Dan akhirnya aku menggeleng pelan, aku tidak pernah mengenal nama itu.

Kibum mendesah pasrah “Nama ku Kim Kibum, Kibum dari SMU Wojjang?”, tanyanya lagi, kali ini terdengar nada berharap darinya

Aku mengangguk pelan “Aku tau, Kibum dari SMU Wonjjang yang sering membuat kekacauan”, jelasku

Kibum langsung mengangguk semangat “Itu lah aku, kau mengenalku. Aku benar-benar senang”, Kibum langsung loncat-loncat senang dengan senyuman bahagia

“Memangnya kenapa?”, tanyaku mulai melupakan rasa takut ku pada Kibum

“Nanti kau juga akan tau”, jawabnya sambil tersenyum manis “Ayo kita kenalan secara langsung”, Kibum menjulurkan tangannya “Aku Kibum”, ucapnya dengan nada lirih

Aku membalas uluran tangannya “Aku Im Jaeyoon, kau bisa panggil aku Jaeyoon”, jawabku sambil tersenyum lebar

Aku melihat kesekeliling, tempat ini seperti sebuah ruangan putih yang sangat besar. Aku baru sadar, kenapa aku di sini?

“Ini tempat apa?”, tanyaku pada Kibum

“Hmm, aku juga tidak tau apa namanya. Aku belum sempat bertanya dengan orang-orang sini. Tapi tenang saja, nanti kau juga akan pulang”, jawab Kibum. Kibum melanjutkan kata-katanya “Belum saatnya kau di sini”

“Maksud mu apa?”, tanyaku heran

“Kau harus pulang”

Tiba-tiba saja jarak antara aku dan Kibum mejauh. Aku melihat Kibum melambaikan tangannya dengan senyum cerah di wajahnya. Keadaan ruangan yang putih langsung berubah berwarna hitam.

Mendadak semua yang ada di depanku berputar-putar hebat. Aku pusing. Lama-kelamaan pandanganku menjadi kabur dan aku tidak melihat apa-apa lagi

* * *

“Jaeyoon!!”, aku menyipitkan mata, melihat wajah kawatir onnie ku

“Ah, onnie, kau tidak perlu teriak-teriak seperti itu”, kataku sambil mendesah kesal

“Akhirnya kau sadar juga, aku benar-benar khawatir”, omel onnie ku dengan nada kesal, tapi aku yakin, dia benar-benar sangat mencemaskanku

“Mana Amma dan Appa?”, tanyaku sambil melihat kesekeliling “Ini di mana?”, tanyaku heran

“Kepalamu terbentur meja dan kau pingsan”, jelas onnie sambil membantu ku duduk “Kenapa kau pingsan?”, tanyanya heran

“Aku…”, aku menghentikan kata-kataku ketika aku mendengan seseorang meneriakkan namaku

Sungmin masuk sambil menyeret seorang yeoja yang memakai seragam sekolah sama dengan seragam sekolahku.

“Jaeyoon, dia”, kata Sungmin sambil menunjuk yeoja berambut sebahu itu

“Dia siapa?”, tanyaku heran

“Dia yang memberikan mu surat-surat mengerikan itu”, jelas Sungmin sambil menatapnya kesal

“Apa?”

***

“Apa?”, aku melihat yeoja bertubuh mungil itu. Dia menundukkan kepalanya, menatap tangannya sendiri

“ Ada apa ini?”, tanya onnie ku heran

“Bukan apa-apa”, jawab Sungmin sambil tersenyum dipaksakan

“Sebaiknya aku keluar, sepertinya kalian punya masalah yang tidak boleh ku ketahui”, onnie bangkit dari kursinya dan berjalan pergi

Aku dan Sungmin menunggu sampai onnie menutup pintu. Setelah onnie benar-benar menghilang, tatapan ku langsung tertuju kepada yeoja yang di bawa Sungmin.

“Siapa dia?”, tanyaku pada Sungmin sabil menunjuk yeoja itu

Sungmin tidak menjawab kata-kataku, dia malah melihat kearah yeoja itu. Yeoja itu masih menundukkan kepalanya.

“Maafkan aku”, katanya dengan kepala masih ditundukan

“Untuk apa?”, tanyaku tidak mengerti

Dia mengangkat kepalanya. Aku menyipitkan mata heran, sepertinya aku pernah melihat seseorang yang mempunyai bentuk mata yang sama dengan yeoja ini.

“Aku yang mengirimi mu surat-surat itu”, katanya, air matanya langsung tumpah

“ Surat ?”, aku mengerutkan kening heran

“Jaeyoon, apa benturan di kepalamu tidak membuatmu hilang ingatan kan? Surat mengerikan yang kau dapatkan belakangan ini”, jelas Sungmin dengan nada tidak sabar

Aku mengangguk pelan, aku ingat! “Kenapa kau mengirimi ku surat-surat itu? Apa kau membenci ku?”, tanyaku

Yeoja itu menggeleng kenacang “Aku tidak membenci mu. Namaku Kim Kigyo”, katanya dengan nada bergetar

Aku langsung melirik Sungmin yang berdiri di sebelah Kigyo heran. Sungmin berdecak kesal “Aku melihatnya meletakkan surat itu di atas bangku mu pagi tadi. Dan dia langsung mengakui itu semua, dia yang mengerimi mu surat-surat mengerikan itu”, jelas Sungmin dengan nada kesal

Aku langsung melihat Kigyo yang masih menangis “Kim Kibum adalah oppa ku, oppa yang sangat aku sayangi”, jelasnya tersedu-sedu

Aku kaget mendengar nama Kim Kibum di sebut-sebut. Mimpi itu! Aku mengingatnya.

Aku mendengarkan penjelasan Kigyo tanpa memotong sedikitpun kata-katanya, begitu juga dengan Sungmin.

“Hari itu, ketika oppa di keluarkan dari sekolah. Dia kelihatan sangat kacau sekali. Aku masuk ke kamarnya dan melihatnya sedang duduk diranjang dengan wajah sedih. Aku menanyakan apa yang terjadi, dia cuma menjawab ‘aku tidak bisa melihatnya setiap pagi dan setiap jam pulang sekolah lagi’ dia berkata begitu sambil menutup wajahnya dengan tangan”, jelas Kigyo sambil menghapus air matanya

Aku mendengarkan setiap perkataan Kigyo dengan seksama. Sungmin juga, walaupun tadinya dia terlihat sangat kesal.

“Oppa bilang, dia menyukai seorang murid SMP yang bersekolah di dekat sekolahnya. Sejak bertemu dengannya, oppa jadi sering datang pagi-pagi sekali, menunggu yeoja itu lewat dengan sepeda, kebetulan gedung kelasnya yang mengarah kejalan dan dia dapat melihat yeoja itu dari jendela kelasnya”, jelas Kigyo. Kigyo melanjutkan “Tapi oppa pergi sebelum sempat berkenalan dengan yeoja itu”, katanya sambil menundukkan kepala

“Pergi kemana?”, tanya Sungmin

“Oppa sudah pergi jauh, dia sudah meninggal”, tangis Kigyo langsung pecah. Sungmin langsung kegalapan dan menepuk-nepuk kepala Kigyo pelan

“Sudah-sudah, jangan menangis”, katanya berusaha menenangkan

Jadi, Kibum sudah meninggal? Tapi kenapa? Jadi? Apa di kamar dan mimpi tadi aku bertemu dengan arwah Kibum?

“Oppa kecelakaan motor ketika Amma dan Appa marah besar padanya. Aku benar-benar sedih, Amma dan Appa juga sangat menyesali hal itu. Ketika aku masuk kekamarnya, aku menemukan surat-surat itu dan beberapa buah foto mu yang di ambilnya. Aku tau, hal terakhir yang belum sempat dilakukan oppa adalah memberikanmu surat-surat itu dan berkenalan dengamu. Setelah tau kau masuk sekolah yang sama dengan oppa ku dulu, aku juga masuk sekolah itu setahun kemudia. Makanya surat-surat itu baru bisa sampai 2 tahun setelah oppa membuatnya. Maafkan aku onnie”, Kigyo membungkukkan badannya menyesal

Aku dapat merasakan Kigyo sangat menyayangi Kibum. Dan hal terakhir yang belum dilakukan Kibum sudah dilakukan semuanya. Mengirim surat-surat itu padaku dan berkenalan denganku, walaupun bukan secara nyata.

* * *

Aku memeluk seikat mawar putih sambil menatap nisan yang ada di depanku. Aku datang ke pemakaman Kibum, aku datang untuk mengenalnya lebih dekat, walaupun itu terdengar sangat mustahil.

Aku jongkok sambil membersihkan makan Kibum dari daun-daun yang berguguran. Sungmin juga ikut jongkok dan membantuku. Setelah semua daun-daun itu ku singkirkan, aku meletakkan mawar putih itu diatas makan Key.

“Hai Kibum oppa”, Sapaku sambil tersenyum “Walaupun aku mengenalmu tidak secara langsung, tapi aku senang bisa dapat mengenalmu”, kataku, rasa senang aku rasakan sekarang

“Aku juga”, tambah Sungmin

“Aku harap kita bisa bertemu diwaktu yang akan datang dan berteman baik. Aku menunggu itu”

The end

Buat para reader, author mohon komentarnya. Komentar kalian sangat berguna buat author. Kritik dan saran juga sangat di butuhkan. Gomawo ^^

23 thoughts on “|FF PROJECT| Last Letter”

  1. oh nooooooo. Serem bangeettt. Ahhh gua mah ga mau didatengin hantu, walopun hantunya ganteng kayak kibum oppa juga. Ihhh merinding saya ngebayanginnya. But nice ff. I like it !!

  2. onnii…..top..top…
    kyaaa ada Umin…Hyo ah mana yah…*nyari2 Hyoah*#digeplak author#
    Uminn….bagussss…kau berhasil menemukan si Kigyo ntu……
    onni…pokoknya joa..joa..joa…hehehehehe

  3. kibum disini kibum suju pa kibum shinee??
    soalnya diatas ad tlsn makan(makam??) key…
    bingung aq~~~
    haha,,tpi gk pa” dha!!
    yg pntg ceritanya d^^b

    Nice Author!!
    biar gk t’llu horor tpi ttp seru!!!

  4. Nice ff :]
    suka deh ,, aku baru 2 kaLi baca horror romance yg gg bner2 horror (?)😄

    keren ! Hwaiting yya author🙂

  5. hohoho.. keren chingu.. ga nyangka Kim Kibum yang suka bikin onar bsa bkin surat cinta.. hahaha.. dan kerennya, surat cintanya sampe dii jaeyoon.. ahaha.. gomawo chingu.. keren kok🙂

  6. ini kibum suju. pas ak buat awalnya kibum shinee, tapi trnyata castnya harus suju semua, makanya ak ubh jadi kibum suju . maf kalo bagian akhir keynya ketinggalan aku ubah jadi kibum ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s