[FF PROJECT] Just The Way You Are

Author : Diatami Muftiarini (Facebook : Diatami Cupruut)

Judul/Title : |FF PROJECT| Just The Way You Are

Genre : Romance

Kategori : SongFict, May I Love You

Type : Contest

Aku menatap wajah Sungmin di depanku. Dia tersenyum. Aku pun ikut tersenyum, walau senyumanku terlihat amat hambar.

“Kau sangat cantik,” kata Sungmin, seketika itu membuat pipiku merona merah.

Aku tidak berkata apa-apa, karena sepatu high heels sialan ini membuatku terus tersiksa. Dan juga black dress mini yang kupakai sekarang. Sangat sesak. Aku rindu dengan sepatu sneakersku. Aku rindu dengan jins dan kaus bututku. Kuusahakan sebuah senyuman manis, namun yang terlihat hanya senyuman bullshit.

“Seperti yang kubilang kan, kau lebih cantik kalau berdandan. Memakai rok, bukan jins. Memakai high heels, bukan sneakers,” ujar Sungmin berpaling dari wajahku, lalu memandang keluar restoran. Memandangan indahnya pemandangan kota Seoul di malam hari.

Aku terdiam.

“Coba lihat kau yang dulu,” lanjut Sungmin sambil menggeleng, seperti berusaha menghilangkan ingatannya tentang aku yang dulu dengan sneakers, jins, dan kaus bututku. “Sangat menyedihkan. Padahal kau sangat cantik lho,” ujarnya lagi sambil tersenyum memandangku. “Tapi tidak dengan sneakers, kaus oblong, dan jinsmu itu,” Sungmin menatapku tajam.

Aku menunduk. Dan tidak berkata apa-apa.

“Tapi sudahlah,” ujarnya sambil tersenyum lebar lagi. “Yang terpenting.. kau sudah berubah. Menjadi cantik. Feminim..” Sungmin mengoceh tidak terkendali.

Lagi-lagi aku hanya bisa diam. Aku diam bukan karena aku tidak bisa melawan, tapi karena muak. Biarkan saja laki-laki ini berbicara apa saja. Aku tidak peduli. Dia benar-benar menyebalkan!

“Inilah kau yang sebenarnya, Yui-ah,” katanya, mendekatkan wajahnya ke arahku. Baru saja Sungmin akan benar-benar menciumku, aku langsung mendorongnya. Sangat keras. Hingga Sungmin terpental jauh dariku.

“Ini bukan aku yang sebenarnya!” geramku.

“Yui-ah, kau kena—“

“Ini bukan Yui,” desisku sambil menunduk. Lalu kembali terdiam. Sungmin mendekatiku lalu mengelus pipiku. “Ini kau. Ini Yui, yang memakai dress dan high heels,” ujarnya.

Aku menggeleng keras.

“Ayolah, Yui-ah..” ujar Sungmin. “Oh, pasti karena Kangin hyeong kan?”

Aku menggeleng kembali. Jangan sebut namanya!

“Lupakan dia. Sekarang dia sudah tidak ada untukmu!” jerit Sungmin. “Tapi disini ada aku! Yang lebih mengertimu.. Ayolah, Yui-ah,” Sungmin menggenggam jemariku.

Aku menggeleng dengan lemah. “Antar aku pulang sekarang.”

“Tapi—“

“Antar aku pulang! Please..” ujarku dengan tatapan memelas. Sungmin menghela napas panjang. Lalu mengangguk. Kami pun pulang dari restoran. Dan di sepanjang jalan, tidak ada kata-kata yang terucap. Hening.

Seseorang mengetuk pintu kamarku.

“Ya, masuk,” kataku singkat lalu kembali membaca majalah fashion yang dibelikan Sungmin. Katanya supaya aku lebih mengerti tentang fashion. Padahal jujur saja, ini sangat tidak menarik sama sekali. Aku mendengus lalu melempar majalah fashion tersebut, tepat ketika pintuku terbuka.

“Non, kemarin ada temannya datang, terus nitip ini,” ujar pembantuku sambil menyerahkan kiriman tersebut. Aku menerimanya, membolak balik kiriman tersebut. Seperti sebuah CD.

“Siapa?”

“Tidak tau. Pokoknya badannya agak gendut, terus ganteng deh, Non,” ujarnya.

“Oh ya. Makasih ya.”

Pembantuku tersebut keluar dan menutup pintu. Aku terdiam sambil memandangan bungkusan CD berwarna ungu tersebut. Warna kesukaanku. Karena penasaran, aku langsung merobek bungkusan CD tersebut. Ah, benar sebuah CD tanpa identitas. Yang ada hanya tulisan “Just The Way You Are”. Aku mengerutkan keningku. Tanpa banyak pikir lagi, aku cepat-cepat menyalakan DVD playerku. Memasukan CD tersebut dan memutarnya. Play..

Layar tv-ku menyala dan menayangkan isi CD tersebut. Ini sebuah rekaman, pikirku begitu melihat pemandangan langit yang begitu biru dengan sedikit awan. Lalu terdengar suara laki-laki. Aku menahan napas. Begitu mengenali suara laki-laki tersebut.

Kangin!

“Annyeong-haseo, Yui-ah! Sudah lama kita tidak bertemu,” ujar Kangin di dalam rekaman. “Cuacanya sangat cerah. Dan lihat.. langit begitu biru.. indah.. damai.. dan hangat,” katanya dengan suara yang dilembutkan. “Seindah dirimu.. sedamai saat kutatap wajahmu.. dan sehangat genggaman tanganmu..”

Aku tersenyum lebar. Tersipu malu.

“Ah, mianhamnida..” Kangin menggerakan kameranya sehingga pemandangan langit tersebut berubah menjadi gambarnya yang sedang duduk sambil memandang ke arah kamera. “Aku menyontek kata-kata itu,” katanya lalu memperlihatkan telapak tangannya yang penuh dengan tulisan kata-katanya barusan. “Mian, aku memang tidak seromantis yang kauinginkan,” katanya lalu terkekeh. “Leeteuk hyeong yang membantuku menyusun kata-kata.”

Kangin terdiam sambil memandang ke kamera. Mataku pun ikut memandang ke arah layar tv yang memperlihatkan dirinya. Seolah kami.. dalalm satu ruangan yang sama sedang berpandangan satu sama lain.

“Mianhae, Yui-ah..” lanjutnya dengan suara lembut. Matanya terlihat sayu. Namun begitu hangat. “Aku meninggalkanmu tidak jelas. Kau tau kan.. aku dalam skandal yang berat gara-gara aku mabuk tidak jelas lalu memukul anak orang. Aku memang sangat bodoh! Aku sangat menyesal.. tapi semua sudah terlambat.”

Kangin terdiam agak lama.

“Dan kau seharusnya bersama laki-laki yang lebih baik dari aku, Yui-ah. Yaah, misalnya Sungmin,” ujar Kangin. “Aku tau, dia memang menyebalkan. Tapi setidaknya.. dia jauh lebih baik daripada aku.”

Aku menahan napasku kembali. Menggeleng pelan. Tidak, tidak.. kau yang terbaik..

“Ah, sudahlah! Jangan ngomongin manusia itu lagi! Hanya akan merusak rekaman ini saja,” gerutunya Kangin. “Rekaman ini kubuat hanya antara kau dan aku,” Kangin tersenyum manis. Tidak sadar, senyuman kecil tersungging di bibirku.

“Aku punya lagu yang bagus untukmu. I hope you like it,” Kangin tersenyum lebar. “Enjoy!” Gambar Kangin tidak lagi memenuhi layar. Diganti dengan sebuah fotoku dengan es krim vanilla belepotan di bibirku. Wajahku sangat tolol, yang sedang menjilati jemariku. Bersamaan dengan munculnya foto tersebut, terdengar alunan lagu yang menjadi backsound-nya.

Oh her eyes, her eyes
Make the stars look like they’re not shining

Foto tersebut menghilang, digantikan dengan fotoku yang baru keluar dari sebuah toko buku dengan beberapa buku kubekap.

Foto yang lain menyusul. Foto close-up-ku di sebuah taman sedang membaca buku, dengan rambut yang dikonde asal-asalan, menyisakan helain-helain rambut di pelipisku.

Her hair, her hair

Falls perfectly without her trying


Berganti dengan fotoku sedang tersenyum lebar dengan gaya kondean asal-asalanku. Wajahku terlihat kusut. Aku masih ingat foto ini. Saat itu aku akan pergi bersama teman-temanku, tapi aku tidak tau rambutku mau di apakan agar aku terlihat menarik. Kangin menyuruhku memakai gaya kondean asal-asalanku. Aku menolaknya. “Kau sangat cantik,” ujar Kangin lembut. Aku tersenyum, akhirnya memakai gaya kondeanku tersebut.

She’s so beautiful
And I tell her every day

Foto lainnya, aku sedang memegang majalah fashion. Ah, aku tau foto ini. Aku tersenyum sendiri mengenang saat itu. Aku sedang duduk di sofa sambil membaca majalah fashion, yang tentu saja yang terpajang didalamnya adalah wanita-wanita cantik. Aku tentu saja iri. “Seandainya aku secantik model,” kataku saat itu. Kangin tertawa geli. “Jangan berkata seperti itu. Kalau kau seorang model, aku tidak akan menyukaimu. Kau sudah cantik apa adanya, dan aku menyukainya.”

Tentu saja saat itu aku tidak percaya dia mengatakan seperti itu. Aku meninju bahunya. “Kau bohong!”

“Ya sudah kalau tidak percaya. Aku mengatakan yang sebenarnya lho,” katanya sambil tersenyum.

Yeah I know, I know.. When I compliment her.. She wont believe me.. And its so, its so.. Sad to think she don’t see what I see..

But every time she asks me do, I look okay.. I say

Foto kembali berganti, namun dengan pergantian yang agak dipercepat mengikuti alunan lagu menuju reff lagu tersebut. Aku menatapi layar tv yang menayangkan foto-fotoku dengan style khasku. Semua fotoku dengan sneakersku, jinsku, baju bututku, dan kondean asal-asalanku. Membuatku agak rindu dengan style-ku yang dulu. Aku terdiam, menghayati lagu yang menjadi back sound.

When I see your face.. There’s not a thing that I would change.. Cause you’re amazing.. Just the way you are..

Aku menatap fotoku yang sedang tersenyum. Aku mendengus. Meratapi betapa jeleknya aku..

And when you smile.. The whole world stops and stares for awhile.. Cause girl you’re amazing
Just the way you are

Dengan gerakan lambat kembali, sebuah fotoku bersama Kangin tertampang di layar. Dia sedang mengecup jemariku. Aku tersenyum malu mengenang foto itu.

Her nails, her nails
I could kiss them all day if she’d let me

Satu foto yang langsung membuatku ingin menutup wajahku. Astaga, ini foto terburukku! Aku memandang foto tersebut. Fotoku sedang tertawa ngakak. Dan aku masih ingat saat itu. Aku berada di sebuah restoran bersama Kangin. Aku tertawa ngakak gara-gara seorang anak laki-laki tidak mengetahui Kangin adalah salah satu personil Super Junior. Kangin hanya memandangiku yang masih tertawa ngakak. Dia menatapku sangat lama. Itu membuatku menghentikan tawaku.

“Kenapa?” tanyaku saat itu. “Tawaku aneh ya? Haah, aku tau, aku tau. Aku juga membenci tawaku ini,” ujarku sambil menghela napas.

Kangin menggeleng. “Tidak. Sangat menyukainya. Terdengar seksi malah,” ujarnya sambil tersenyum.

Aku tersenyum malu. “Dan pasti wajahku terlihat jelek kalau tertawa,” lanjutku.

Kangin menatapku. “Siapa bilang? Kau terlihat cantik, bagaimanapun ekspresi wajahmu.”

Her laugh, her laugh.. She hates but I think its so sexy

She’s so beautiful.. And I tell her every day

Sebuah foto kembali mengingatkanku dengan kenangan kami bersama. Saat Kangin mengajakku makan malam. Dan itu sangat membuatku bingung. Aku bingung mau memakai baju apa. Aku tidak suka memakai dress. Tapi karena aku ingin tampil oke di depan Kangin, akhirnya aku memaksa diriku untuk memakai dress merah marun yang menyesakkan napasku. Finally, aku hanya memberantakan makan malam kami gara-gara aku merobekan dress-ku.

Kangin menatapku, lalu berkata, “Aku tidak pernah memintamu berubah untukku. Jangan pakai jika kamu merasa tidak nyaman,” katanya. “Restoran ini juga tidak mengharuskan memakai dress kok.”

Oh you know, you know, you know.. Id never ask you to change.. If perfect is what you’re searching for.. Then just stay the same

So don’t even bother asking.. If you look okay.. You know I say..

Aku kembali melihat fotoku di layar dengan style khasku. Aku tersenyum miris. Aku merindukan sneakersku yang sekarang entah aku simpan dimana. Jins-ku yang banyakan kujual. Rambutku yang jarang kukonde dan kubiarkan tergerai. Semua berubah. Aku menahan bendungan air mataku.

When I see your face.. There’s not a thing that I would change.. Cause you’re amazing.. Just the way you are

Salah satu fotoku ditayangkan agak lama. Fotoku sedang tersenyum lebar, membuat mataku tidak kelihatan dan hanya berbentuk garis. Jujur saja, aku sama sekali tidak suka dengan senyumanku ini. Terlihat aneh. Tapi begitu melihat foto ini..

And when you smile.. The whole world stops and stares for awhile.. Cause girl you’re amazing

Aku tidak tampak jelek dengan senyuman lebar. Aku malah terlihat sangat damai dan bebas dengan senyuman ini. Senyuman ikhlas, tanpa paksaan, dan tahanan. Aku baru sadar.. aku hanya butuh menjadi diri sendiri.

Lagu berhenti. Rekaman gambar Kangin kembali terlihat. Dia tersenyum lebar.

“Apa ini bagus?” tanyanya. Aku mengangguk semangat seolah Kangin akan melihatnya, setitik air mata keluar dari sudut mataku.

“Kuharap kau menyukainya,” katanya sambil tersenyum. “Mm.. asal kau tau saja, Yui-ah..” Kangin memberi jedaan. Air mataku menetes kembali. “I love you the way you are..” Seketika itu, air mataku mengalir deras.

Rekaman tersebut habis. Layar tv-ku mendadak hitam. Aku membendung wajahku dalam bantal. Menangis meraung-raung. Mengutuk kebodohan. Seharusnya aku berusaha untuk menjadi diri sendiri. Bukannya mengubahnya. Aku memang bodoh!

Tok, tok, tok! Seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku mendongak.

“Ya, siapa?”

“Ini saya, Non,” ujar pembantuku itu lagi. “Sungmin-ssi menunggu Non di bawah.”

Aku terdiam. “Ah, iya. Tunggu sebentar.”

Aku cepat-cepat ke lemari bajuku. Menggebrak pintu lemariku dengan kasar. Mengambil semua dress-dress yang diberikan Sungmin untukku. Lalu semua high heels yang kupunya, kulempar ke sebuah kardus menumpuknya dengan dress-dress.

Aku keluar kamarku terburu-buru. Melihat Sungmin sudah menungguku di ruang tamu. Dia menatapku bingung.

“Apa yang kamu lakukan dengan itu semua?” pekiknya.

Aku tersenyum dingin. “Ambil itu! Aku tidak butuh!” Menyerahkan kardus tersebut kepada Sungmin yang mau tidak mau harus menerimanya.

“Kau kenapa, Yui-ah?” tanyanya frustasi.

“Aku sudah muak, Sungmin-ah! Kumohon mengertilah.. aku tidak ingin berubah. Aku ingin menjadi Yui yang dulu, dengan sneakers, jins, kaus butut, dan kondeannya,” aku menatap Sungmin dengan mata nanar.

Sungmin menunduk.

“Aku tidak bisa dengan dress dan high heels. Aku tidak cocok, Sungmin..” lanjutku. “Mengertilah..”

Sungmin terdiam agak lama.. “Kalau itu maumu..” katanya akhirnya.

Aku menghela napas, merasa agak lega. “Lebih baik kita sudahi hubungan ini. Aku lebih nyaman.. dengan laki-laki yang menerimaku apa adanya,” kataku sambil tersenyum.

THE END/Just The Way You Are

Author sangat membutuhkan komen, like, dan dukungan! Mohon di komen ya, Dear Readers! 😀

25 thoughts on “[FF PROJECT] Just The Way You Are”

  1. Aaarrgghh ~
    kereeennnn !!
    Daebak^^v

    sungmin pengen sgaLanya smpurna , feminin .
    Sedangkan kangin gg keberatan dg styLe yui yg ‘berantakan’ . Hhaha 😀
    ini kamu banget 😄

    2 thumbs up for you 🙂
    hwaiting ! \^o^/

  2. psnnya nympe ni.. jdilah dirimu apa adanya… emng pling enak jd diri sendiri ya.. ga berubah jd orla…. nice ff…

  3. hasa-hyukjae : iya dong kangin kan romantis gimana gitu, aku yang ajarin lho 😀 kalo nice ff, thumbs nya dong 😉 like hihi

    andri : ‘ini kamu banget’ itu maksudnya apa?-__- saya gak berantakan org wkwk
    ini khusus bwt para cewe supaya gak usah ngubah dirinya, just the you are ajaa 😀

    frey chullie : syukur deh kalo pesan pesannya nyampe di hatiny chingu, jgn cmn nyampe d telinga sih-_-
    kalo nice ff, thumbs dong 😉 like

  4. ecieeeh tumik keren keren kerenn …like like like everybody like like like (??) sungmin mu brotha kasian amat dicuekin tapi gapapalah wkwkkwwkwk nice ff sayangs :*

    1. wkwk kamu aja cha yang like in dong 😀
      gapapa , sungmin dia egois sama yui abisan. hehe
      gomawo bangeet uda baca ff ku ;;)

      1. uda saya likein itu kannss?
        emang sungmin pernah pacaran sama si yui yah ?
        cheonma cheonma my sistaahh

    1. gomawo banget sherly unnie chingu :3 kalo beneran keren, like nya dong 😀 hehe
      kangin emang diceritain sosweet gimana gitu deeh aaaw ;D

    1. wah mantep banget kalo punya laguny, sekalian dengerin terus baca fanfic ini . dijamin nyampe langsung ke hati ! 😀

  5. uwoooowww kereeeeen ! four thumbs up deeh dd^^bb
    sungminnya buat aku aja yaah tami :3 oyaa emang itu lagu apaan ? aku kok ga tau ? #gubrak

  6. Good…good…
    Tapi sya rada cembutut timtam , masa kang in sama kamu romantis sama sya kagak (?)
    but…so far so good lah :)) itu si umin riwayatnya pendek bener 0.o *rader cerewet*

    4 tumbs for you *plus jempol kaki*
    wkwkwk 😀

  7. Daebak!!
    Jadilah diri sendiri^^
    Cinta seperti kangin….aq menginginkan cinta seperti itu…
    kangin…oh…kangin….love^0^/
    *gaje ih nih anak!!*

    hahha,,mmg sih…
    cwo sprti sungmin juga ^^b
    tpi,,klo mls.a menyiksa jgn dipaksakan donk~~
    ya Sungmin??*eyespuppy*
    hahaha,, gajeb bnr~~

    Pkk.a!!!
    d^^b FF

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s