|FF PROJECT| Behind You

Author: Shela Spencer
Judul/Title: |FF PROJECT| Behind You

Genre: Romance
Kategori: May I Love You
Type: Contest

====================

Seorang gadis berkuncir kuda sibuk membaca di balik pintu kaca raksasa. Lee Sungmin memicingkan matanya, berusaha melihat objek dalam ruangan besar itu lebih jelas. Ia mengeluarkan ponsel layar sentuh dari saku celananya lalu mulai menekan angka 8 dan menempelkan benda itu ke telinga.

Ya, Im Saera, coba ceritakan apa isi buku yang kau baca,” ucapnya sesaat setelah panggilannya dijawab.

Suara bening di ujung telepon mendesah. “Apa yang kau lakukan?” Gadis yang tadinya membenamkan wajah dalam buku Kimia Unsur mendongak dan menemukan Sungmin di balik pintu perpustakaan.

“Yang kulakukan? Melihatmu membaca, setidaknya itu hal langka untukku,” sahut Sungmin santai. “Keluarlah, apa yang kau lakukan di dalam?”

Saera merengut. “Aku sedang belajar, Lee Sungmin yang baik.” Gadis itu tersenyum kecil. “Ya, tutup ponselmu dan temani aku disini, bodoh~”

“Selalu memerintah,” dengus Sungmin. Ia memasukkan kembali ponselnya lalu melangkah masuk ke dalam ruangan besar yang penuh buku. Setelah menemukan gadis yang tersenyum lebar ke arahnya, Sungmin menghela napas. “Kau belum puas menginap disini?”

“Menginap apanya? Aku hanya menghabiskan waktu makan siangku dengan membaca buku, memangnya salah?” cibir Saera.

Sungmin mengernyitkan alis. “Bukan membaca, kau hanya mau dilihat lelaki itu sebagai gadis yang kutu buku. Apa kau tidak bosan?”

Ya! Lelaki itu punya nama, namanya Kim Youngwoon, bodoh!” Saera memukul lengan Sungmin pelan.

“Iya, iya, namanya Kim Youngwoon bodoh, kan?” sahut Sungmin asal. Melihat Saera cemberut, ia malah terkekeh nyaring. “Baiklah, jadi misi panah cintamu padanya belum berhasil?”

Saera menutup buku tebal di tangannya lalu menarik napas panjang. “Begitulah.. bagaimana caranya menyadarkan lelaki itu kalau aku juga bisa bergaul di kalangan orang-orang pintar?”

“Itu salahmu, gadis bodoh,” Sungmin menoleh, menatap Saera lekat-lekat. “Kenapa kau bisa suka pada lelaki seperti Kim Youngwoon? Orang sok pintar yang tidak punya emosi?”

“Tidak punya emosi? Kalau maksudmu dia orang yang pendiam, aku setuju. Tapi kalau tidak punya emosi, kau salah besar. Kim Youngwoon itu pernah tersenyum saaaaangat manis,” pandangan Saera menerawang jauh, entah ke masa kapan. “Ng.. menurutmu, apa dia pernah.. jatuh cinta?”

Sungmin menyipitkan bola mata. “Tentu saja. Memangnya kau pikir Youngwoon itu tidak normal?”

“Buuuukan,” sela Saera. “Maksudku, apa dia pernah terlihat berdua dengan seorang gadis?”

“Ada. Guru matematika di kelasnya,” sahut Sungmin santai.

Saera merengut kesal. “Anggap saja aku tidak pernah bertanya padamu, Sungmin-ssi.

“Baiklah, baiklah, apa yang ingin kau tahu? Semua yang kutahu sudah kukatakan padamu, Im Saera-ssi. Dari sifatnya sampai buku pelajaran favoritnya,” jelas Sungmin.

“Mm.. aku sudah memakai kacamata setebal ini, aku juga sudah membaca banyak buku hanya untuk dianggap pintar olehnya, dan lagi, aku sudah bergabung di library club ini supaya bisa sering bertemu dengannya. Tapi dia tidak pernah melihatku,” lirih Saera. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Sungmin. “Bagaimana ini?”

Jantung Sungmin terasa mencelos saat gadis itu sedekat ini dengannya. Pelan-pelan ia mengusap rambut Saera. “Karena itu.. berhentilah. Berhenti menyiksa dirimu sendiri. Jadilah Im Saera yang ceria, apa adanya, dan bodoh.”
“Bodoh? Memangnya dulu aku bodoh ya?”

“Sekarang juga, bodoh~” Sungmin mengacak-acak rambut gadis itu, mengacaukan kunciran kuda yang tadinya rapi.

Saera tidak tertawa. “Tapi aku menyukainya, Min-ah. Aku menyukai Kim Youngwoon..”

“Suka bukan berarti merubah dirimu jadi orang lain. Sudah berapa lama kau jadi gadis sok kutu buku begini? Ah.. hampir sebulan! Kau tidak lelah?” tanya Sungmin. Ia menatap gadis di sampingnya itu dengan tatapan prihatin. Sungmin tahu ia menyayangi Saera, tapi ia juga tahu tidak ada gunanya perasaan itu. Setidaknya untuk saat ini, saat Saera hanya melihat Youngwoon di matanya.

—–

Mata Saera waspada, ia melirik tajam ke sekeliling. Setelah menemukan orang yang ia tunggu sejak dua puluh menit yang lalu, Saera tersenyum lebar. Ia berpura-pura membuka buku trigonometri yang sejak tadi membeku di tangannya.

“Ng.. jadi segitiga sembarang bisa dihitung menggunakan- Youngwoon –ssi!” panggil Saera. Ia berdiri dari kursinya lalu menghampiri lelaki itu.

Lelaki bernama Youngwoon itu memasang wajah datar. “Wae?”

“Ada beberapa rumus yang tidak kumengerti, bisa mengajariku?” Saera menunjukkan buku matematika tebal.

Youngwoon terlihat mengambil napas panjang. “Kau pikir aku ini bodoh ya? Aku sekelas denganmu selama dua tahun, dan bahkan bab Transformasi saja belum kau kuasai, kenapa membaca buku sesulit ini? Aku tahu kemampuan otakmu.”

Saera merengut. Ia memang tidak pernah suka matematika tapi ia tidak tahu Youngwoon akan menyerangnya seperti ini. Saera pura-pura membetulkan kacamatanya. “Aku hanya bertanya kan..”

“Sebelum kau bertanya sesuatu yang bisa membuatmu malu, aku sudah menjawabnya. Dan berhenti mengikutiku,” ujar Youngwoon sebelum meninggalkan Saera di tempat itu.

Saera berteriak. “Aku tidak akan menyerah! Tenang saja!”

Tanpa lelaki itu tahu, Saera menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Entah kenapa rasanya menyakitkan saat Youngwoon tak pernah melihat sosok Im Saera yang selalu berdiri di depannya. Im Saera yang selalu menaruh harapan lebih padanya.

Pandangan mata Saera berubah kabur. Air mata bening menggantung di sudut matanya. Saera menarik napas panjang lalu mengusapnya dengan punggung tangan. “Ini bukan pertama kalinya kau ditolak, Im Saera. Fighting!

“Apanya yang ‘fighting’? Apa yang kau lakukan disini?” suara bening Sungmin membuat Saera memutar badan.

“Sungmin-ah..” bisikan lirih Saera terdengar menyedihkan. Ia menatap Sungmin lekat-lekat.

Wajah lelaki di depannya itu terlalu menghanyutkan, dan seharusnya Saera bisa tenang saat melihatnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Saera memandang Sungmin lama sebelum air matanya tumpah. Dengan susah payah Saera menundukkan kepalanya, menghalangi tangisnya agar tak terlihat.

Sungmin memerhatikan gadis di depannya. Ia diam, membiarkan Saera menangis sepuasnya. Gadis itu pasti disakiti lagi. Diam-diam Sungmin ingin sekali memaksa Saera berhenti berjuang untuk Youngwoon. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak, saat Sungmin melihat senyum Saera setiap gadis itu bercerita tentang Youngwoon.

“Sudah selesai?” tanya Sungmin. Ia menunduk untuk melihat wajah gadis itu. “Jelek sekali. Seharusnya kau bawa cermin dan lihat wajahmu saat ini.”

Saera mengusap sisa air matanya. “Sembarangan~”

“Kali ini kenapa?”

“Ng.. tidak separah sebelumnya-“

Sungmin memotong, “Sebelumnya? Oh, waktu Youngwoon mengabaikanmu di perpustakaan? Dan kau malah nekat duduk di sampingnya? Perbuatan terkonyol yang pernah kau lakukan!”

“Bisakah kita berhenti membicarakan insiden memalukan itu?” pinta Saera sambil menyipitkan mata. Ia menarik napas. “Dia bilang aku tidak pantas membaca buku ini.” Saera menunjukkan buku Trigonometri di tangannya.

“Tentu saja dia akan bilang begitu. Orang buta pun tahu kalau kau alergi matematika,” sahut Sungmin.

Saera cemberut. “Kau sama saja dengannya.”

“Jangan!” tegas Sungmin. Saera mengernyitkan alisnya, heran. “Jangan samakan aku dengan lelaki tak tahu diri itu. Aku tidak bisa menyakitimu, tidak akan pernah.”

Bibir Saera membentuk senyuman lebar. “Huwaaaa~ Lee Sungmin memang sahabatku yang paling baik. Gomawo..”

Sungmin diam. Seandainya bisa, ia ingin sekali membantah. Jangan, jangan anggap aku sahabatmu. Anggap aku seorang lelaki yang selalu ingin melindungimu. Lihat aku sebagai lelaki, Im Saera..

“Tapi, Sungmin-ah,” tiba-tiba Saera meraba pipinya. “Apa wajahku sangat jelek saat menangis?”

—–

-the next day-

Saera menopang kepalanya dengan tangan sementara ia mencoba memejamkan mata. Pelajaran kali ini matematika dasar dan ia sama sekali tidak berminat mengikutinya. Gadis itu menundukkan kepala dan sesekali kehilangan kesadaran.

“Im Saera-yang, kalau kau tidak punya keinginan belajar di kelasku, lebih baik kau keluar,” sindir Park sonsaengnim. Melihat Saera yang susah payah membuka matanya, guru lelaki berperawakan tegas itu menggeleng-gelengkan kepala. “Cepat cuci mukamu!”

Saera membungkuk singkat, meminta maaf lalu bangkit meninggalkan bangkunya. Kepalanya menunduk dalam, sama sekali tidak punya kekuatan untuk sekedar melirik Youngwoon yang duduk di bangku depan. Saera memaki dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia mempermalukan dirinya –lagi- di depan lelaki itu? Rusak sudah aura gadis pintar yang susah payah ia bangun.

“Saera-ya, kenapa kau bodoh sekali?” gerutunya di depan cermin.

Sesaat tadi ia sudah membasuh wajah dengan air dingin yang bisa menyadarkan otaknya. Dengan cepat ia kembali mengenakan kacamata dan merapikan rambutnya. Saera diam, agak lama sambil memandangi wajahnya sendiri di depan cermin. Pantulan disana sama sekali bukan dirinya. Bukan Im Saera yang selalu ceria, percaya diri, dan tidak terlihat lelah seperti saat ini.

Lelah. Kata itu memang berlebihan, tapi ia sama sekali tidak menemukan kata lain selain kata itu. Saera sudah lama berusaha. Berusaha memaksa Youngwoon melihatnya, tapi nihil. Saera menyentuh permukaan cermin, membiarkan jari-jarinya menyusuri pantulan asing di depannya. Tidak butuh waktu lama sampai Saera kembali menangis.

Sekarang ada rasa sakit luar biasa di dadanya. Seolah luka itu mendesak keluar karena selama ini Saera mengabaikannya. Saera mengangkat tangannya ke udara, menempelkannya ke dada kiri. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri tapi rasa sakit yang mengiris-iris ulu hatinya juga ikut terasa.

“Aku tahu kau sangat jelek saat menangis, tapi kali ini kau kuijinkan menangis,” ucap suara bening tepat di belakang telinga Saera.

“Sungmin!”

Saera melihat pantulan tubuh Sungmin yang berdiri di belakangnya, seolah lelaki itulah satu-satunya tempat seandainya ia terjatuh nanti. Sekarang Saera menangis lebih dari sebelumnya. Ia merasa tidak apa-apa menangis sekarang, tidak apa-apa karena ada lelaki itu di belakangnya. Lelaki yang siap menangkapnya saat jatuh. Ada Lee Sungmin disana.

“Ng.. maaf kalau aku mengacaukan acara menangismu, tapi..,” bisik Sungmin. “Bisa lebih cepat? Kalau kau masih ingat, aku masih ada di toilet wanita.”

—–

“Hanya karena itu dan kau menangis lagi?” Sungmin menyodorkan sekaleng softdrink ke tangan Saera. “Aku yakin Kim Youngwoon sama sekali tidak memerhatikanmu.”

Saera mendesah. “Dia pasti melihatku. Dan sekali lagi dia akan melihatku sebagai gadis bodoh yang buta-matematika.”

“Memangnya kenapa? Bukankah selama ini kau baik-baik saja, bahkan sekalipun kau tidak bisa matematika? Kenapa sekarang semua itu jadi masalah untukmu?” tanya Sungmin, menunggu penjelasan masuk akal dari gadis yang menenggak minuman di sampingnya.

“Dulu mungkin begitu, dulu aku tidak peduli bagaimana orang lain melihatku. Tapi sekarang-“

Sungmin memotong cepat, “Apa bedanya dengan sekarang?”

“Ini baru akan kujelaskan,” dengus Saera. “Sekarang ada seseorang yang kuperhatikan, dan aku juga ingin dia memerhatikanku. Jadi bagaimanapun caranya aku harus terlihat sempurna, setidaknya di depannya. Apa kau tidak mengerti perasaan semacam ini?”

“Tidak. Tentu saja tidak. Itu hanya perasaan konyol yang bisa membuatmu kehilangan identitas dan kepribadianmu. Memangnya kenapa kalau kita tidak sesempurna harapannya? Justru saat ada seseorang yang bisa menerimamu apa adanya, orang itu pantas dicintai,” jelas Sungmin. Ia menatap wajah Saera lekat, mencoba membaca respon gadis itu.

Saera mengangkat bahu. “Tapi perubahanku ini termasuk bagus kan? Aku jadi suka membaca, mengulang pelajaran, dan aktif di kelompok belajar.”

“Ralat, kau seperti itu hanya di depan Kim Youngwoon, nona,” sela Sungmin cepat. “Apa kau akan terus begini?”

“Eh?”

“Iya.. seperti ini, berpura-pura jadi murid teladan yang pintar, berkacamata tebal, dan selalu bersemangat di depan soal matematika?” tanya Sungmin ragu. Ia sudah tahu jawaban gadis itu tapi ia malah membuatnya makin jelas. Hal itu sudah terlalu jauh dari bayangannya. Jaraknya sudah terlalu jauh sampai ia tidak bisa mengejar Im Saera.

Saera mematung. “Mm.. mungkin? Aku tidak tahu.”

Entah untuk alasan apa Sungmin merasa dadanya lega. Tidak, jaraknya sudah tidak sejauh dulu. Harapan itu tetap ada. Walaupun masih ada sosok Kyuhyun di tengah-tengah perjalanannya, Sungmin tahu ia masih bisa berusaha. Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyuman kecil.

“Sungmin-ah, kau kenapa?” potong Saera, “Jangan tertawa sendiri. Itu menakutkan.”

Sungmin merengut. “Sebelum kau berkata begitu, bedakan dulu tertawa dan tersenyum.”

—–

-the next day-

Saera memerhatikan temannya memimpin acara kelompok belajar dengan wajah datar. Bukannya tidak mau menghargai orang yang sedang menjelaskan materi matematika, tapi Saera memang sama sekali tidak mengerti apa yang sedang orang itu lakukan. Minatnya pada matematika memang tidak pernah tahan lama.

Baru kemarin ia menggebu-gebu untuk membahas materi yang akan diujikan minggu depan. Saera bahkan sudah menyiapkan buku dari perpustakaan yang mungkin bisa ia pakai. Tapi saat sampai di kelas, semangat membaranya itu sudah terbang entah kemana. Memalukan..

“Saera-ya? Kau mengerti kan?” tanya Hyunjin, salah satu anggota kelompok belajar kelasnya.

Dengan wajah penuh senyum, Saera mengangguk-angguk. “Mengerti, mengerti. Nanti akan kuulang lagi di rumah.”

“Baguslah. Ah, Youngwoon belum datang juga. Bagaimana sih anak itu?” Hyunjin memeriksa jam tangan ungu yang melingkar di tangannya.

“EH? Youngwoon juga akan datang kesini?” pekik Saera.

Hyunjin mengernyitkan alis. “Kau ini kenapa? Memangnya kenapa kalau dia akan datang?”

“Tidak, tentu saja tidak apa-apa. Tapi.. bukankah dia tidak pernah mau ikut kelompok belajar seperti ini?” tanya Saera sambil memainkan ujung rambutnya.

“Memang, tapi Donghae bilang lebih baik memaksanya kesini. Dia kan.. ya, kau tahu dia pintar. Jadi mungkin bisa lebih membantu,” jelas Hyunjin. “Kau.. menyukainya ya?”

Saera membelalakkan mata. “Eh? Suka?”

“Mm. Kau sadar tidak setiap kau melihatnya matamu itu bersinar terang?” sindir Hyunjin.

“Apa maksudmu dengan ‘bersinar terang’? Kau pikir mataku ini lampu?” Saera pura-pura bercanda, berusaha menghapus tema obrolan soal Youngwoon.

Hyunjin tersenyum. “Kalau kau memang menyukainya, katakan hari ini. Apa yang bisa kau lakukan hari ini lebih baik lakukan sekarang. Kau tidak takut akan ada penyesalan nantinya?”

“A-apa yang kau bicarakan? Aku tidak-“

“Maaf terlambat, kalian baru mulai kan?” suara itu membuat Saera menutup mulut. Sekalipun ia ingin mengeluarkan suaranya tapi mulutnya tidak mau terbuka. Youngwoon sanggup membuat tubuhnya lumpuh. Ajaib.

“Tidak terlambat, setidaknya kami belum membereskan buku,” sahut Hyunjin. Sesaat kemudian ia melirik Saera sambil tersenyum. Hyunjin berbisik. “Ingat kata-kataku ya. Lakukan hari ini atau menyesal nanti. Pilih itu. Hwaiting~

Saera membeku. Tanpa sadar ia membisikkan hal yang sama. “Lakukan hari ini atau menyesal nanti?”

—-

Sungmin memainkan ponsel di tangannya sebelum benda itu bergetar. Tidak perlu waktu lama sampai ia merasa sudah terkena serangan jantung mendadak. Ponsel layar sentuhnya nyaris terlepas dari genggaman saat ia selesai membaca pesan yang masuk kesana.

From: Saera-chan ^^

-hari ini! hari ini aku akan mengatakannya. Min-ah, doakan aku. ^o^-

“Hari.. ini?” ulangnya. Kenapa secepat ini? Sungmin pikir jarak itu sudah menjadi dekat. Tapi membaca pesan Saera hari ini membuatnya sadar. Tidak ada yang berubah dari jarak itu. Sama sekali tidak mendekat. Jarak itu justru semakin jauh sekarang. Sangat jauh.

Sungmin memandang nanar ke langit-langit kamarnya yang putih. Dalam kepalanya ia bisa melihat Im Saera yang berjalan menjauh darinya. Gadis itu terus berjalan mengejar sesuatu di depannya. Saera berjalan tanpa menoleh ke belakang. Sementara Sungmin terus berharap gadis itu akan berbalik dan tersenyum, Saera justru semakin tak terlihat.

Sungmin mendesah dan berbisik lirih. “Goodbye..”

—–

“A-aku suka padamu!” Saera menunduk dan hanya menatap tanah di bawahnya, seolah ia ingin mengubur diri disana. Ia sudah luar biasa gugup. Tidak ada hal yang bisa ia lakukan selain menundukkan kepala dalam-dalam seperti ini. Jantungnya sama sekali tidak membantu, benda itu hanya memperparah keadaan dengan berdebar tak beraturan.

Saera memang tidak menatap Youngwoon, tapi ia tahu lelaki itu sedang memerhatikannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Begitu?”

“Ya! Karena itu aku pernah bilang aku tidak akan menyerah untuk menarik perhatianmu, Youngwoon –ssi,” tegas Saera.

“Kalau begitu, menyerahlah sekarang,” ucapnya datar. Saera mendongak dengan tatapan meminta penjelasan. “Melihatmu mengikutiku setiap hari itu melelahkan. Lalu setiap saat kau membicarakan matematika padahal kau sendiri tidak tahu apa-apa, apa kau pikir itu tidak membosankan untukku?”

Lidah Saera berubah kaku. Ia berusaha menyusun kata-kata dalam kepalanya. “T-tapi aku melakukan itu.. supaya kau bisa melihatku.”

Youngwoon menggeleng-gelengkan kepala. “Itu hanya menyiksa dirimu. Aku lelah melihatmu begitu. Maaf ya.” Lelaki itu menepuk pundak Saera pelan lalu pergi.

Tepukan singkat itu tidak keras tapi bisa menghancurkan dinding kokoh yang selama ini dibangun Saera. “Habis sudah..” bisiknya lirih.

Saera melepaskan kacamata lalu menyeret kakinya ke kursi kayu panjang di depan taman. Dengan susah payah ia berusaha menarik napas tapi dadanya terasa sesak. Paru-parunya seolah menolak udara yang masuk. Setiap tarikan napasnya yang berat memaksa Saera menangis. Rasa sesaknya bahkan membuat gadis itu sesenggukan.

Tangannya terangkat ke udara. Saera menempelkannya ke dada, berusaha merasakan debaran jantungnya sendiri. Tapi ia tidak bisa merasakan apapun disana. Yang ada hanya goresan berlumuran darah di hatinya. Luka yang sama seperti yang selalu ia rasakan sejak lama.

Saera mengangkat kakinya ke kursi, seolah posisi itu bisa membuatnya lebih nyaman. Perlahan ia memejamkan mata, berharap sakit dalam dadanya itu hanya mimpi buruk. Saera berharap saat ia membuka matanya nanti, rasa sakit yang membakarnya itu sudah lenyap. Ia hanya bisa berharap akan ada kenyataan yang menyenangkan nanti. Saera hanya bisa berharap..

—–

Sungmin tidak tahu apa yang membawanya ke sekolah, perbuatan paling bodoh yang pasti akan ia sesali. Bagaimana kalau Saera muncul dengan wajah berbinar di depannya? Bagaimana seandainya gadis itu tersenyum sangat lebar saat bertemu dengannya? Bagaimana jika Saera mulai bercerita tentang caranya menyatakan perasaannya pada Youngwoon?

Seandainya semua itu terjadi, Sungmin tahu ia tidak akan tahan. Ia bukan lelaki dengan kekuatan super. Ada kalanya Sungmin akan menyerah jika Saera memang akan melakukan semua hal buruk itu.

Tapi sekarang ia tidak peduli apa yang gadis itu akan katakan, ia hanya ingin satu kali, satu kali saja, kesempatan untuk berjuang. Seandainya hasil yang akan ia dapat adalah hal terburuk sekalipun, Sungmin tahu ia akan hidup lebih baik, tanpa penyesalan.

Sungmin menghentikan langkahnya saat melihat Youngwoon berjalan di koridor. “Youngwoon-ah, kau lihat-“

“Im Saera?” tanya Youngwoon cepat. Sungmin terkejut. “Im Saera itu temanmu kan? Dia ada di taman belakang.”

“Di taman?”

“Ya. Dan bilang padanya kita masih bisa berteman. Itu juga kalau dia tidak memakai kacamata tebal hanya demi aku,” ucap Youngwoon santai sebelum meninggalkan Sungmin yang masih mematung.

Sungmin mengerutkan kening. Kepalanya terus memutar ulang ucapan Youngwoon tadi. Teman? Kacamata tebal demi dia? Apa.. Saera-

“Aish! Aku tidak punya waktu untuk itu,” Sungmin berlari lagi. Ia sama sekali tidak mau berdebat dengan pikirannya untuk saat ini. Yang ia tahu ia hanya ingin melihat Im Saera. Yang ia inginkan hanya.. memeluk gadis itu.

—–

Setelah membenamkan wajahnya di lutut, Saera merasa matanya bengkak. Dengan malas ia memungut kembali kacamata tebal yang tadi ia lepaskan. Saera mencibir. Ternyata ia memang masih membutuhkan peralatan pura-puranya. Setidaknya hanya untuk saat ini.

“Jangan pakai benda itu lagi,” suara yang mengejutkan itu membuat Saera menolehkan wajah.

“Sungmin-ah, sedang apa kau disini?” tanya Saera kaku. Ia memalingkan pandangannya dengan cepat, menolak dilihat oleh lelaki itu. “Pergilah. Kau tidak akan mau melihatku berantakan seperti ini.”

Sungmin berjalan ke arah Saera lalu berlutut untuk melihat wajah gadis itu. “Kau memang jelek saat menangis, tapi tidak apa-apa. Asal.. berjanjilah kau tidak akan menangis seperti itu lagi.”

“Kau.. melihatku?”

“Tentu saja. Aku melihatmu mengangkat kaki lalu menangis sambil memeluk lutut,” jelas Sungmin. “Apa sekarang kau sudah puas menangis?”

Saera diam. Bekas-bekas air matanya ia usap dengan punggung tangan. “Apa.. kau pikir aku pernah puas?”

“Benar. Kau bahkan tidak pernah puas menangis. Itu kan hobimu, benar kan?” sindir Sungmin sambil mengacak rambut Saera. “Rambutmu berantakan..”

Sungmin meraih penjepit rambut biru yang ada di samping Saera. Lelaki itu merapikan rambut Saera perlahan lalu mengikat kembali rambut gadis itu dengan rapi. Saera membiarkan Sungmin melakukan apapun padanya. Karena ia tahu lelaki itu sedang menghiburnya. Lee Sungmin sedang membuatnya nyaman.

Jah~ kalau begini kau sangat cantik,” Sungmin memamerkan senyuman hangat di bibirnya.

Saera merasakan matanya kembali panas. “Sungmin-ah, aku selalu ingin memelukmu..”

“Lakukan saja,” ujarnya. Sungmin membuka lebar-lebar tangannya, menyiapkannya menerima tubuh gadis yang rapuh itu. Dengan senyum kecil Saera menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan itu. Sungmin membiarkan gadis itu bersandar padanya. Ia bisa merasakan tubuh Saera bergetar. “Kau menangis lagi?”

Saera hanya mengangguk singkat. Gadis itu merasa semakin hangat saat Sungmin mengusap-usap lengannya. Semakin lelaki itu membuatnya nyaman, Saera semakin ingin menangis. Saat itulah Saera tahu Lee Sungmin adalah penjaga abadinya..

—–

-the next day-

“Sungmin-ah, kurasa dia cocok,” Saera menunjuk seorang gadis yang baru saja melewatinya. “Bagaimana menurutmu?”

Sungmin memutar bola mata. “Ada apa denganmu? Itu gadis ke-7 yang kau tunjuk untukku. Kau sedang sakit? Ah.. atau kau sedang belajar menghitung? Kau bilang ada ujian matematika kan minggu depan?!”

“Buuuukaaan, aku sedang mencarikanmu seorang gadis yang baik,” jelas Saera. “Ah, temanku yang bernama Kang Hyunjin itu juga baik, kau mau?”

“Hei, hei, hei, mereka itu bukan barang. Kenapa kau menawarkan temanmu seperti barang begitu?” sela Sungmin cepat. Ia bisa melihat Saera nyengir lebar sementara dirinya sendiri sedang memaki dalam hati.

Sungmin memang tidak jadi mengatakan apa-apa pada Saera. Saat itu ia pikir Saera sedang labil dan ia sama sekali tidak mau menambah beban gadis itu. Tapi sekarang ia menyesal. Kenapa ia tidak mengatakan apapun pada Saera padahal ia sudah berkali-kali membulatkan tekad? Bodoh..

Saera memerhatikan wajah Sungmin. “Kenapa melamun? Apa yang kau pikirkan, Sungmin-ssi?”

“Eh? Tidak ada,” Sungmin mengalihkan matanya dari gadis itu. “Lalu kau?”

“Apa?”

Sungmin menarik napas panjang. “Apa yang membuatmu menilai setiap gadis disini? Kau masih normal kan? Aku takut kau terkena sindrom patah-hati. Kau baik-baik saja kan?”

“Sembarangan! Aku sedang berjuang untukmu, tuan Lee Sungmin yang baik,” cibir Saera. “Bagaimana tipe kesukaanmu? Yang punya banyak aegyo? Manis? Pintar?”

“Kau,” jawab Sungmin cepat. “Kalau kubilang aku suka gadis sepertimu, bagaimana pendapatmu?”

Saera membeku sejenak. Matanya menatap Sungmin lekat-lekat. Kemudian ia tertawa kaku. “Hahaha.. kau bercanda kan? Aish.. Lee Sungmin, jangan bermain-main denganku! Kalau kau menolak setiap gadis yang kutunjuk, jangan dengan cara seperti ini. Haha..”

“Hei, bodoh,” panggil Sungmin lembut. “Aku menyukaimu, Im Saera-ssi. Aku tidak bercanda. Ini juga bukan alasanku untuk menolak gadis-gadis pilihanmu. Aku.. serius.”

Saera tidak tertawa lagi. Ia memerhatikan wajah Sungmin, berharap bisa menemukan tawa Sungmin yang biasanya. Berharap lelaki itu akan berkata dengan riang kalau ia hanya bercanda. Tapi tidak, ia sama sekali tidak menemukan apapun disana. Saera tahu Sungmin tidak sedang bercanda.

“Ini tidak lucu, Sungmin-ah,” ucap Saera.

Sungmin mengeraskan rahang. “Kau mau tahu yang lebih lucu? Aku akan pindah ke Tokyo.”

—–

-one week later-

Saera menopang dagu sambil mengamati hasil ujian matematikanya. Sesekali ia mengembuskan napas berat. Pikirannya tidak tertuju pada kertas di depannya. Otaknya sudah memutar memori tentang Sungmin sejak tadi. Ia sama sekali tidak pernah bertemu dengan Sungmin. Saera tahu ia memang pengecut. Ia tidak punya keberanian untuk sekedar bertemu dengan lelaki itu, padahal mereka masih berteman.

“Kenapa wajahmu begitu?” tanya Hyunjin. “Apa hasil ujian- wahh.. delapan puluh? Hebaaat~ Kupikir nilaimu jelek tapi ternyata mengagumkan begitu. Lalu kenapa wajahmu murung?”

Saera kembali memandang kertas di mejanya. Sejenak kemudian alisnya terangkat. Benar. Dapat delapan puluh. Tapi kenapa rasanya ia sama sekali tidak bersemangat?

“Hyunjin-ah, soal nasehatmu seminggu yang lalu,” ucap Saera lambat-lambat. “Apa yang terjadi kalau aku menunda melakukan hal yang bisa kulakukan hari ini?”

Hyunjin diam sejenak lalu terkekeh nyaring. “Kau masih bertanya? Tentu saja kau hanya akan mendapat penyesalan. Lakukan apa yang bisa kau lakukan, pastikan tidak akan ada penyesalan nantinya.”

Perlahan Saera menundukkan kepala, menahan ledakan tangis yang sudah lama dipendamnya. Lee Sungmin terlalu berharga di matanya dan sekarang ia harus merelakan lelaki itu pergi. Apa Sungmin benar-benar akan pergi darinya? Saera menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ada apa?” tanya Hyunjin cemas. “Kau menyukai seseorang?”

“Dia bukan seseorang yang kusukai, hanya.. kau percaya kalau aku menggunakan panggilan ‘penjaga’ untuknya?” Saera memandang Hyunjin ragu. “Dia selalu bisa membuatku nyaman. Setiap saat aku tidak perlu takut jika aku terjatuh, karena aku punya dia. Karena ada dia yang akan selalu menangkapku. Ada dia yang tidak akan membiarkanku terluka. Hanya ada dia yang selalu bisa menjadi sandar-“

“Kau benar-benar menyukainya.” Hyunjin berkomentar sambil tersenyum kecil.

“Eh?”

“Iya, kau terlalu menyukainya. Taraf pujianmu itu sudah untuk orang yang sangat penting, lalu apa lagi yang kurang? Jangan bilang kau malah terlalu buta untuk tidak melihat orang seperti itu?” kata-kata Hyunjin tepat sasaran. Saera memang sudah terlalu buta Kim Youngwoon sampai ia tidak bisa melihat lelaki seperti Lee Sungmin.

Napas Saera memburu cepat. “Hyunjin-ah, apa kau pikir dia akan menungguku?”

“Apa? Kalau dia adalah orang yang selalu ada di belakangmu, berarti dia pasti tetap menunggumu, bodoh,” sahut Hyunjin santai.

Saera sempat menjatuhkan air matanya sebelum ia mengusapnya dengan punggung tangan. “Kalau begitu aku akan melakukan apa yang bisa kulakukan hari ini!” Saera tersenyum lebar lalu meninggalkan Hyunjin yang masih melongo di tempatnya.

“Anak itu, polos sekali,” Hyunjin berkomentar singkat. Tapi kemudian ia menggerutu. “Lalu siapa yang akan membantuku piket siang ini? Aish.. Im Saera!!”

—–

Napas Saera masih tersengal begitu sampai di depan rumah Sungmin. Ia memegangi perutnya yang masih nyeri karena berlari sepanjang jalan. Saera buru-buru memeriksa ponsel lalu mendesah berat karena tidak ada pesan apapun.

“Pergi kemana kau, Sungmin-ah?” tanya Saera, lebih pada dirinya sendiri. Ia menekan nomor 3 dan menempelkan benda tipis itu ke telinga. “Aish.. kenapa malah tidak aktif?”

“Saera-ya, apa yang kau lakukan disini?” suara itu membuat Saera langsung membalikkan tubuh. “Kenapa berkeringat begitu? Kau ikut lomba lari marathon ya?”

Saera mengembuskan napas panjang, lega karena lelaki itu belum pergi kemana pun. “Jangan bercanda lagi..”

“Eh? Apa yang kau bicarakan?” Sungmin mengernyitkan sebelah alisnya.

“A-aku boleh memelukmu kan?” tanya Saera pelan. Suaranya terdengar lirih dan lemah. Dengan susah payah ia mengangkat kepalanya dan menatap Sungmin dari dekat. “Aku ingin sekali memelukmu..”

Sungmin tersenyum. “Kenapa? Kau hanya membutuhkan pelukanku? Ada boneka beruang besar yang bisa kau peluk setiap saat.”

“Aku membutuhkanmu.. peluk saja aku,” bisik Saera.

“Membutuhkanku?”

Saera tidak bicara apa-apa lagi. Tenaganya sudah habis di perjalanan ke rumah Sungmin dan sekarang tidak ada yang bisa ia lakukan selain memeluk erat lelaki di depannya. Saera memejamkan mata dan merasakan hangat tubuh Sungmin disana.

Sungmin membeku beberapa saat sebelum akhirnya bisa merasakan tubuh gadis itu dalam pelukannya. “Kau.. kenapa?”

“Kalau kubilang aku menyukaimu, apa kau akan membatalkan kepindahanmu ke Jepang?” tanya Saera.

“Ng.. tidak. Karena aku tahu kau tidak akan berubah secepat itu,” Sungmin melepaskan pelukannya. “Kalau memang begitu, itu tandanya kau tidak konsisten.”

Saera merengut. “Apanya yang tidak konsisten?” cibirnya. “Bagaimana kalau kubilang aku sudah bisa melihatmu sekarang? Bagaimana kalau kubilang kalau aku bisa melihat Lee Sungmin yang selama ini hanya berdiri di belakangku? Apa kau akan membatalkan kepindahanmu?”

“Kau tidak ingin aku pergi?” tanya Sungmin polos.

“T-tentu saja aku tidak ingin kau pergi! Kenapa masih bertanya?” Saera menarik lengan Sungmin. “Tetaplah disini.. bisa kan?”

Sungmin memandang gadis itu lama. “Bisa. Karena hanya adikku yang akan pergi kesana.”

“Eh?”

“Tadinya aku hanya menakutimu saat kubilang aku akan pindah. Ternyata sampai seminggu kau sama sekali tidak menghubungiku. Aku sampai takut harus benar-benar pindah kesana,” Sungmin menunjukkan beberapa lembar kertas. “Akhirnya aku cuma mengurus pindah sekolah.”

Saera mengerutkan kening. “Kenapa harus pindah sekolah?”

“Aku tidak mau dianggap sebagai lelaki yang tidak memegang ucapanku sendiri. Memalukan,” sahut Sungmin santai.  “Tapi untungnya kau datang kemari dan menyatakan perasaanmu. Baguslah. Aku tidak perlu kemanapun.”

Dengan cepat Saera melepaskan tangan Sungmin lalu berjalan memunggunginya. “Ahh.. harusnya aku tidak terlalu panik begini.”

“Hei,” Sungmin menahan pergelangan tangan Saera. “Kau tetap menyukaiku kan? Ucapanmu tadi tidak akan kau tarik lagi kan?”

Saera berbalik dan mengusap pipi lelaki di depannya, “Mm.. sayangnya tidak. Kurasa aku tidak akan melakukan apapun yang bisa membuatku menyesal, karena aku terlalu menyukaimu..”

-FIN-

====================

Annyeong haseyo~ *bow* Sebelumnya, makasih buat para reader kalo ada yang baca FF ini. Ini FF sengaja dibikin buat Contest di SSFF, mudah2an bisa diterima. Dan buat semua yang uda baca Behind You ini, author moooohooon banget tinggalkan komen supaya author bisa tau apa yang kurang di FF ini. Ng.. buat para admin SSFF, salam kenal. Author bener-bener baru di blog ini, makanya ga pernah nampak. *deep bow*

Lastly, makasihh banyak banyak kalo ada yang baca+leave comment disini. Makasihh~ *lambai-lambai*

Iklan

53 thoughts on “|FF PROJECT| Behind You”

  1. Annyong ^^
    SaLam kenaL juga.

    Aduh baca ff ini ngerasa aku yg jd Saera pst bakaLan seneng bgt kaLo da Sungmin yg seLaLu nemeni & meLindungi 🙂

    Suka banget ma f nya bikin bener2 t’hanyut dLm ffnya juga 😀
    Good Luck ya ^^

  2. Annyeong^^ aku jg reader baru di sini.
    Overall, ceritanya bagus, pemilihan bahasanya bikin ceritanya ngena dihati. Khas Shela**sksd** (ni author Amore Cafe kan?^^/) Angel Sungmin^^
    Tp ada satu typo, nama pemainnya. Pokoknya, keren^^

  3. SAENG AH I AM COMING..
    *tereak gaje*
    *digorok,dtang2 bkin rusuh*

    heuheu.. Im saera keluar lg..
    Kali ini brsma sungmin oppa…

    Seperti biasa,selalu tahan banting..
    Walopun youngwoon udh ktrlaluan,msiiih aja smangat.. 🙂

    tapi itu ada nama kyuhyun nyempil..kenapa? Typo kah?
    Heuheu..

    As usual saeng ah..good st0ry..like this so much..

    Sungmin oppa ngegemesin pic nya..
    *gigit minpa*

    1. Annyeong haseyoooo, onnie~~~ 😀
      Kali ini Im Saera berkolaborasi ama umin. Soalnya bang Henrynya lagi tugas (?)
      Tapi karakternya tetep khas Im Saera kok. Hehehe..

      Waduhh.. ngeditnya kurang rapi. ><
      Makasih koreksinya. 🙂
      Uminn imuuut~~~ XD (?)
      Makasihh juga uda bacaaaa.. 😀

  4. enak ya punya temen kek sungmin kkekekekekekek

    kata2nya bagus, penyampaiannya juga bagus sayang ga ada kissunya hahahahaha*yadong kumat*

  5. Ceritanya manieesss bgt!
    Semanis diriqyu yang diguyur aer gula.. Haha #abaikan..

    Okey mulai komen ya..
    1. Aigooo…minnie-ah
    Lagi2 kau berperan sebagai malaikat penjaga disini..

    2.Shela emg kayaknya pnya dendam pribadi nieh sama minnie ya..? Masa gak sadar sih kalo minnie itu suka?Hahaha *pissyo*
    walaupun akhirnya jdian juga..

    3. berasa jadi seira disini..berasa dipeluk sungmin juga..

    4. Youngwoon ah.. Ko dirimu jaim banget ya disini? Sok jual mahal.. Benci akyu!!

    5. Udah ah.. Kebanyakan koment!!
    Hahaha over all manies FF nya..:D

    1. hehe.. aku jawab satu2 onn. XD
      1. Minnie tuh kaya duplikatnya tuki, sama2 malaikat. Ga ada peran yg lebih cocok buat dia. XDD
      2. Aniyaaaa.. ga ada dendam. cuma suka aja liat umin yg mellow. #plakk
      3. baguuuus, bayangin aja saera itu onnie, dihayati trus dicekek yesung deh. *dicekek onnie*
      4. Hahaha.. khas kangin lahh. XD
      5. Aku juga uda kebanyakan bales. (?)
      Makasihh banyak uda bacaaa~ 😀

  6. yaampun, sungmin.. baik banget sih dia..
    cocok banget sama karakter sungmin yang lembut & baik hati *wkwk apaan deh saya ini xDD*
    ff-nya bagus banget, shel!
    kata-katanya itu loh.. uww~ sampe banget. aku suka <333

  7. sungmin…..
    *hug+kissu2*
    angel banget..

    ngiri ma saera, pengen jg djaga n dlindungi sungmin… hehehe

    da typo’y shel, nama kyu nyempil..
    tp tetep bagus…^^

    1. Umin tu ibaratnya malaikat imitasinya Tuki. XD
      Hehehe.. tiap bikin tokoh cewek pasti aku bikinnya gitu onn. XDD

      Ho’oh, nama kyu tiba2 nyempil. Soalnya tadinya itu bukan kangin, tapi kyu. ><
      Makasihh uda baca yaa onn~ 😀

  8. eonniiiiii~ *lari peluk*
    bogoshipeoooo T.T
    akhirnya ada epep bru lgi… n ttp DAEBAK~!!
    Bgus kok eonn, suka pas bagian akhir”nya… huehehehe~
    Youngwoon oppa belajar?? Gx salah tuh?? Image-ny kan udh kyq preman pasar eonn… (dicekek ma bini” Kangin)
    Suka deh sama cara eonni deskripsiin adegan” ff ni.. ^^

    1. Haloooo~~~ kangen jugaaa.. 😀
      Epep buat umin spesiaaaal. Hehehe..
      Kangin kadang2 mesti dikasih peran di FF, biar ga dilupain ELF. Kangen kangin. T^T
      Makasihh banyak uda baca yaa~ 😀

  9. Daebak!!
    Keren bgt,mau punya temen keak sungmin…>.<
    im saera selingkuh ni..henry mau d kemanain mpok?
    Hahaha…
    Smga ff mu yg menang y,kalo menang jgn lupa tumpengan..wkwk..

    1. Aku jugaaaa~ aku mau punya temen macem umin. Sayangnya di kelasku ga ada yg kaya gitu. -.-
      Henry-nyaa.. lagi sibuk. lagian saera itu cewek bebas. XD
      Makasihh uda baca yaa~ 😀

  10. aaaaaaa senangnya punya umin (?) *dipelototin KyuNyuk*
    ff-nya keren!! kata2nya juga suka d^^b
    ya ampun seneng bgt yg jd saera >,< *ini mksdny saera apa shela yak? hahah xD*

  11. Shela~ ad typo tuh. . Nama kyu muncul tiba-tiba. .

    Jarang2 kangin dpt peran pinter *d gebukin kangin*
    Kekeke. .

    Sungmin dsni keren y?? ><

    Dan seperti biasa. . Kata2mu ngena d hati. .
    ^^

    1. Ho’oh, ada typo dikit. Ga teliti ngeditnya. ><
      Gapapa lahh kangin dapet peran bagus. Jarang kan? *ditendang kangin*

      Imej umin di The chastain aku perbaiki disini. XD
      Makasih banyak uda baca yaa~ 😀

  12. waaah shela onniee ini ff keren banget!! jujur rini udah sering banget baca ff yg temanya kaya gini. tapi yg punya onnie lebih ngena gitu! bahasa ceritanya juga bagus ><

    semoga ff onnie menang deh amiiin ^^

    1. aihh~ Riniiii, eonnie jadi terbaaang~ *lebay* XD
      yah, alhamdulillah kalo emang bisa ngena. Susah bikin reader ngerasain apa yg mau kita tulis, jadi kalo ada yg bilang gitu eonni seneeeeng~ ><

      Makasihh banyaaak yaa~ 😀

  13. Eommaaaa-
    aku baca mu yg ini yahh… XD

    seperti ciri khas ff eomma yg lain, detail ny rinci bgt, kata2 ny jelas, menarik abis, seru pasti ny! Haha

    beneran deh maa- ga bosan bc ff eomma nii!
    Nice ff !! Daebaaak eomma! Hwaiting! XD

    1. haha.. iyaa, nak. Ini juga uda kamu baca. XD

      ciri khas? Yahh.. kayanya malah ga bisa nulis hal lain selain roman. Rada ga bakat ama genre laen. Hehehe..

      makasih, makasih, sayaaaang~~ chu.. :*

  14. aih-aih-aih~
    so sweet bgt psgn nih…
    dri temenan jadi cinta…

    btw,,koq ad Kyu didalam??
    inget Kyu kah?? or??//plkplk
    hehe~
    crta.a d^^b
    sl kritikan,,kyk.a gak ad dhe…
    mlhn yg ad,,Aq mw bljr ma Author.a~~~
    hahaha~blh gk??pmlhn kta.a bgs sih,,alurnya juga…
    *sksd*

    1. makasiiih~~ 😀

      kenapa ada kyu.. soalnya awalnya bukan youngwoon, malah kyuhyun. Tapi abis diedit ternyata nyempil atu kyuhyun. ><
      waduhh.. belajar? saya juga baru belajar. Hehehe.. Alhamdulillah kalo ada yg suka. 🙂

      Makasihh banyak uda baca yaa~ 😀

    1. Hehehe.. karna awalnya itu emang kyuhyun, onn~ 😀
      Pokoknya ga ada rencana samsek buat tokoh youngwoon. *digetok kangin*
      Makanya ada yg typo. XD

      Makasihh uda bca onn~ 😀

  15. huwaaaa pengen punya sahabt kek umin hhuhuu,,sumpah baek banget dia disini…

    aduh shel,,kata2 kamu makin bagus aja,,selalu suka dengan pemakain bahasa kamu…

    nice ff ^^

  16. im saera sungguh beruntung’a dirimu,.
    hahah
    wueh ngmng” koq ada bagian yg umin msk k’wc cwe,.
    hahah
    jd ngkak bca’a,.
    heheh
    mian maen baca” aja,.
    heehhe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s