The Newest Girlband (News 6) Hyewon’s Story

News 0 (Character) ¦ New 1 ¦ News 2 ¦ News3 ¦ News 4 ¦ News 5 (Namja POV)

 

AUHTOR : Yuyu a.k.a Youn Ji

Cast :

  • The Rest of Super Junior member
  • The Rest of SHINee member
  • The Rest of Bigbang member
  • The Rest of SNSD member
  • So Hye Won (H:ART)
  • Lee Ji Hae (H:ART)
  • Kim Hee Mi (H:ART)
  • Berli (H:ART)
  • Lee Hyun Mei (H:ART)
  • Lee Hyun Min (Solo Singer)

 

HYEWON POV

“Omo! Siapa yang memencet bel dengan tidak sabaran seperti itu!!?” tanyaku kesal. Aku tidak mudah terbangun, dan aku baru saja tertidur 2 jam yang lalu dan sekarang seseorang yang menyebalkan memencet bel tanpa henti!

“biar aku yang buka.” Sahut Jihae dan beranjak dari meja riasnya.

“kau mau ke mana?” tanyaku setelah sadar Jihae telah rapi.

“hari ini ada pemotretan CF jam 8 eon.” Jawabnya sambil berlalu pergi. Aku mengganguk meski ia tidak bisa melihatnya. Hyunmei juga ikut terbangun dan keluar dari kamar untuk melihat siapa tamu tidak diundang itu, sementara aku memutuskan untuk kembali tidur, tapi tidak bisa!

Bagus, satu lagi hariku akan berlangsung tanpa tidur yang cukup. Aku keluar dari kamar, melihat Hyunmei, Heemi dan Berli tengah duduk di ruang nonton, tapi tidak sedang melihat acara tv melainkan tayangan langsung di depan pintu. Maksduku Jihae dan Seungri—si tamu tidak diundang.

“aku tau aku sangat kekanak-kanakkan, aku tidak sedewasa Jiyong hyung. Aku tau kau sangat sebal karena setiap kali aku selalu menempelimu. Tapi aku tidak bercanda setiap kali aku mengatakan aku menyukaimu, tidak pernah sekalipun aku bercanda. Yah, bagaimanapun kau pasti akan lebih memilih Jiyong hyung daripada aku. Aku tau itu, dan seharusnya aku menerima kenyataan ini sejak awal. Aku hanya berpikir, setidaknya aku harus mencoba untuk mendapatkan hatimu kan? Tapi sudahlah, sekarang aku sudah sadarku. Maaf selama ini sudah mengganggumu. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Semoga berbahagia bersama Jiyong hyung. Sampai jumpa.” Seungri berbicara dalam satu tarikan nafas dan itu terdengar lucu ditelingaku. Jika ini dalam keadaan normal, mungkin aku akan tertawa keras-keras. Tapi ini tidak dalam keadaan normal, Seungri yang selalu terlihat ceria sekarang terlihat sangat muram. Apa kalian akan percaya jika kukatakan bahwa matanya sekarang berair?

Seungri berlari pergi sementara Jihae terus meneriakkan nama Seungri tapi hasilnya nihil.

Jihae menghela nafas pelan dan menutup pintu lalu bergabung dengan kami.

“eonni, kau mematahkan hatinya.” Seru Hyunmei.

“mana kutau kalau dia serius? Dia tidak pernah terlihat serius pada apapun, dan kuanggap dia memang hanya mempermainkanku saja dengan kata-katanya.” Jelas Jihae.

“semua orang mencintai orang lain dengan cara yang berbeda-beda Jihae, jadi jangan menilai dia dari kelakuannya. Kau tidak tau bagaimana rasanya patah hati, ditolak mentah-mentah oleh orang yang kita sukai. Jadi seharusnya kau bersikap lebih baik padanya, Jihae.” Tegasku, mungkin nada suaraku terdengar biasa saja, tapi jelas mereka berempat tidak sependapat. Mereka melihatku dengan bingung.

“jangan menatapku seperti itu! Aku hanya mennceritakan kenyataannya pada kalian.” Elakku sebelum mereka bertanya macam-macam dan kabur ke kamar mandi.

Begitu aku selesai mandi, semua member kembali ke aktifitas normal mereka. Hyunmei duduk dengan tenang di depan komputer, Heemi sedang menyiapkan sarapan di dapur, Berli dan Jihae menonton tv. Bisa kupastikan Jihae tidak benar-benar sedang menonton, pikirannya pasti melayang-layang memikirkan Seungri.

“Hyunmei, mandi dulu.” Panggilku. Hyunmei menurut dan beranjak ke kamar mandi sementara aku membantu Heemi untuk menyiapkan meja makan.

“eon, kau baik-baik saja?” tanya Heemi tanpa kuduga.

“huh? Harusnya aku yang bertanya begitu padamu.” Balasku.

“eonni terlihat sangat pucat.”

“jinjja? Kurasa hanya kurang tidur.” Aku tersenyum dan meyakinkan Heemi yang masih menatapku dengan khawatir.

***

“eon! Sumpah, kau pucat sekali!!” teriak Hyunmei setelah kami selesai dirias. Aku menatap bayanganku di cermin, memang benar kata Hyunmei, aku terlihat sangat pucat.

“eonni, sebaiknya kau tidak usah tampil saja. Aku takut kau justru akan pingsan di panggung.” Lanjut Heemi yang ikut menatap bayanganku di cermin.

“naneun gweanchana. Goegjonghajima.”

“aaah, kenapa kita punya leader yang sangat keras kepala sih?” cibir Berli. Aku hanya terkekeh pelan menanggapinya.

“mana Jihae?” tanyaku saat tidak menemukan sosok Jihae dalam ruang rias.

“Di sini.” Sahut Jihae pelan. Ia melangkah masuk dari pintu dan menarik tanganku serta meletakkan beberapa bungkus vitamin ditelapak tanganku.

“minumlah eon, supaya kau tidak terlalu pucat. Setelah MuBank selesai, kau harus pulang dan tidur yang banyak.” Cerocos Jihae sambil menyodorkan segelas air hangat.

“gomawo. Aku ke toilet sebentar ya.” Kataku setelah meminum vitamin yang diberikan Jihae.

Aku keluar dari ruang rias yang ramai oleh pengisi acara lainnya. Sebenarnya aku tidak ingin ke toilet, hanya ingin mencari udara segar saja.

“Hyewon-ah …” aku membeku, Jinki berdiri dihadapanku, menatapku dengan pandangan mata yang selalu kusukai, menyebut namaku dengan suara yang selalu kukagumi. Kejadian malam itu kembali teringat. Tidak! Kumohon jangan membuatku mengingatnya lagi, aku sudah sangat berusaha akhir-akhir ini. Aku membuat diriku sibuk hampir 24 jam hanya untuk melupakan malam itu, untuk melupakanmu.

Aku menunduk dan kepalaku terasa pusing. Kakiku sedikit bergetar, aku tidak tau apakah karena Jinki ada dihadapanku saat ini, atau karena aku kurang tidur. Kupaksakan kakiku untuk melangkah melewati Jinki, tapi dia mencengkram tanganku dengan erat, tidak membiarkanku pergi.

“dengar, Hyewon. Tentang malam itu, aku—“
”aku tidak ingin dengar apapun, kumohon. Bisakah kau menolongku satu hal? Tolong jangan mempedulikanku lagi, jangan pernah melihat ataupun menegurku lagi. Itu sangat melukaiku.” Kataku dengan pelan, tapi karena jarak kami sangat dekat, aku yakin ia pasti bisa mendengarku. Aku tidak berani mendongak dan menatap Jinki. Aku bahkan takut untuk menyebutkan namanya. Cengkraman Jinki dilenganku mulai melemah dan akhirnya terlepas sama sekali. Ia bergeming ditempatnya berdiri sementara aku berlalu pergi meninggalkannya.

ONEW POV

“Hyung, kau mau kemana?” tanya Taemin saat melihatku beranjak keluar dari ruang rias.

“hanya keluar sebentar. Pastikan kalian tidak ke mana-mana, aku akan segera kembali.” Kataku pada mereka yang diikuti oleh anggukan.

Setelah berada diluar ruangan, aku mengirim sebuah pesan dan menunggu orang itu untuk muncul.

“Onew oppa, waeyo?” Jihae menghampiriku yang sedang bersandar di dinding.

“Jihae-ah, ada apa dengan Hyewon? Apakah dia sakit? Dia pucat sekali.”

“Hyewon eonni kurang tidur. Akhir-akhir ini dia hanya bisa tidur beberapa jam saja karena jadwalnya sangat padat.” Jelas Jihae tanpa bertanya apapun padaku. Aku tau dia pasti bertanya-tanya ada apa antara aku dan Hyewon, tapi jelas dia tidak ingin mencampuri urusan orang lain dan memilih untuk bertanya apapun padaku.

“bisakah kau berikan vitamin ini padanya? ini baik untuk kesehatannya.” Aku menyodorkan beberapa vitamin dari saku celanaku dan menyodorkannya pada Jihae. Sesaat ia terlihat ragu, tapi ia mengambilnya dan kembali ke ruang rias untuk memberikan vitamin itu pada Hyewon. Aku memutuskan untuk berada di sini beberapa waktu lagi, menenangkan pikiranku.

Hpku bergetar saat sebuah pesan masuk, dari Key.

‘Hyung, eodisoyo? Sebentar lagi MuBank nya akan dimulai’

Kusimpan kembali hpku tanpa membalas pesan Key dan berjalan kembali ke ruang rias. Langkahku terhenti ketika kulihat Hyewon berjalan ke arahku.

“Hyewon-ah …” kataku, aku merindukan saat-saat aku memanggil namanya seperti ini. Hyewon menyadari kehadiranku dan membeku, ia melihatku dengan tatapan nanar. Ia menundukkan kepalanya dan berjalan tanpa menghiraukanku. Kucengkram lengannya agar ia berhenti.

“dengar, Hyewon. Tentang malam itu, aku—“ aku mencoba untuk menjelaskan kembali kejadian malam itu, aku tidak bermaksud menolaknya, tapi ia tidak mau mendengarkanku, Hyewon memotong pembicaraanku bahkan sebelum aku bisa menyelesaikannya.

”aku tidak ingin dengar apapun, kumohon. Bisakah kau menolongku satu hal? Tolong jangan mempedulikanku lagi, jangan pernah melihat ataupun menegurku lagi. Itu sangat melukaiku.” Katanya pelan, tapi ia tau kalau aku pasti bisa mendengarnya. Rasa bersalah tumbuh beriringan dengan rasa sakit dihatiku. Aku merasa bersalah karena harus membiarkan Hyewon menderita dan ia kini sudah berubah menjadi Hyewon yang sama sekali tidak kukenali, Hyewon yang sangat dingin padaku. Perlahan-lahan kulepaskan cengkraman tanganku. Kalau aku mau aku bisa saja memaksanya untuk mendengarkan. Tapi apa gunanya? Toh apapun yang akan kukatakan, kejadian malam itu sudah terjadi, toh aku tetap saja akan melukai Hyewon karena aku tidak akan bisa berada di sisinya.

Hyewon berjalan pergi, menjauh dariku. Aku tidak berani menoleh ke belakang, aku tidak berani untuk melihat bayangan punggungnya yang terasa asing bagiku. Aku terlalu takut untuk menggantikan sosok Hyewon yang dulu dengan Hyewon yang sekarang telah kulukai.

AUTHOR POV

Hyewon kembali ke ruang rias, sesaat matanya bertemu dengan Onew, tapi dengan cepat Onew memalingkan wajahnya, berpura-pura berbicara dengan membernya.

Member H:ART yang melihat Hyewon kembali segera menghampirinya.
”eonni, kau tambah pucat. Kau yakin kau baik-baik saja?” Hyunmei melihat leader mereka dengan cemas.

“benar eonni, kau masih ingin ‘menakuti’ para fans?” ledek Berli dengan cemas.

Belum sempat Hyewon menjawab, seorang kru memberi isyarat pada H:ART untuk bersiap-siap.

Diam-diam, Onew memperhatikan Hyewon dari balik kerumunan membernya. H:ART sudah menghilang dari ruang rias. Onew masih saja mengkhawatirkan keadaan Hyewon, ia beranjak keluar dari ruang rias untuk melihat penampilan H:ART.

“hyung! Kenapa kau tiba-tiba berlari keluar?” omel Minho yang ikut mengejar Onew. Jonghyun, Key dan Taemin menyusul dibelakang dengan sedikit terengah-engah. Musik mulai mengalun seiring dengan gerakan tubuh H:ART yang mengikuti beat lagu tersebut. Lirik demi lirik diucapkan oleh masing-masing member sesuai dengan bagian mereka. Awalnya lancar-lancar saja.

Saat lagu hampir memasuki chorus, Hyewon berhenti bergerak. Para member masih terus melakukan dance mereka sambil menatap Hyewon was-was.

Hyewon merasa sekelilingnya berputar dengan cepat, ia bahkan tidak lagi merasa ia tengah berpijak pada sesuatu, rasanya seperti melayang-layang sebelum akhirnya kakinya lemas dan terjatuh. Pandangannya menggelap bersamaan dengan suara yang semakin gaduh.

Suara para penonton yang bertanya-tanya apa yang terjadi terdengar sangat jelas karena musik sudah berhenti. Para staf dan Younji berlari naik ke panggung untuk melihat keadaan Hyewon yang tengah dikerumuni membernya.

Onew menegang dibalik panggung, melihat Hyewon pingsan diatas panggung membuatnya berhenti berpikir dan kehilangan seluruh kekuatannya. Hampir saja ia terjatuh ke belakang kalau saja Minho tidak menangkapnya.

“Hyung!?” sahut member SHINee bersamaan yang berhasil mengembalikan Onew ke keadaan yang sebenarnya. Onew berlari dengan cepat ke atas panggung, menerobos kerumunan staf yang mengeliling Hyewon. Mata Hyewon terpejam, membuat keadaannya terlihat jauh lebih miris.

Onew menggendong Hyewon dengan bridal style sementara staf yang lain melihatnya kebingungan.

“noona, siapkan mobilnya.” Kata Onew pada Younji.

“eh?” Younji masih bingung mengapa Onew tiba-tiba saja menggendong Hyewon.

“Cepat siapkan mobilnya!!” teriak Onew panik. Younji mengangguk cepat dan berlari untuk mengambil mobilnya, dengan cepat Onew berlari turun dari panggung, membawa Hyewon yang diikuti oleh member SHINee dan H:ART yang sama paniknya dengan Onew. Dari bangku penonton, beberapa diantara mereka sibuk merekam kejadian itu, mengabadikan bagaimana Onew menggendong Hyewon.

MC MuBank mencoba untuk mengembalikan suasana dengan menampilkan Boyband selanjutnya.

Diluar gedung, Onew menunggu Younji dengan mobilnya.

“kamsahamnida Onew-ssi, sebaiknya sekarang kau kembali ke dalam dan menunggu giliranmu untuk tampil.” Sahut Younji setelah semua member H:ART ikut masuk ke dalam mobil dan menemani Younji mengantar Hyewon ke rumah sakit.

Onew ragu sesaat, ia ingin ikut mengantar Hyewon, memastikan keadaannya baik-baik saja. Tapi ia tau ia harus bersikap profesional, show must go on dan dia tidak bisa meninggalkan SHINee begitu saja. Memangnya untuk apa dia sampai harus menyakiti orang yang dicintainya kalau bukan demi SHINee?

“hyung, gweanchana?” Minho mendekati Onew dan merangkul pundak leadernya yang masih gemetar.

HYEWON POV

Aku terbangun dan menatap langit-langit yang putih. Bau obat-obatan menusuk masuk ke hidungku, membuatku sedikit mengernyit karena baunya yang sangat tajam. Aku melihat ke sekelilingku hanya untuk memastikan bahwa aku memang benar-benar berada di rumah sakit. Younji eonni berbaring di salah satu sofa di kamar inapku, ia mulai bergerak-gerak dan membuka matanya.

“Omo~! Kau sudah sadar? Apakah kau merasa ada sesuatu yang tidak nyaman? Ada yang sakit?” Younji eonni menghampiriku dan memegang keningku untuk merasakan suhu tubuhku.

“kemarin aku pingsan dipanggung?” tanyaku lemah, Younji eonni hanya mengangguk.

“mianhae, eonni. Aku sebagai leader H:ART, tapi justru aku jugalah yang menghancurkan image H:ART.” Kataku sedikit terisak.

“aniya, mereka pasti mengerti kalau kau berusaha terlalu keras.” Hibur Younji eonni, tapi aku tidak bisa menghentikan isakanku. Bukan. Bukan karena aku berusaha terlalu keras, tapi karena aku tidak profesional. Aku mencampur adukkan urusan pribadi dan karierku. Aku menyibukkan diriku hanya untuk melupakan Jinki, dan pada akhirnya aku justru menghancurkan penampilan bandku sendiri.

“mianhae, mianhae” hanya kata-kata itu yang bisa terus kuucapkan.

“uljima, Hyewon-ah. Tidak ada yang menyalahkanmu, araseo? Dongsaengmu sangat mengkhawatirkanmu, mereka akan datang ke sini sebentar lagi.”
”aku tidak ingin bertemu dengan mereka atau dengan siapapun untuk sementara waktu. Biarkan aku sendirian, eon.” Younji eonni menatapku dalam-dalam, lalu terdengar suara pintu yang dibuka. Suara nyaring Berli yang terdengar pertama kali olehku. Kunaikkan tangan kiriku dan kugunakan untuk mentutupi kedua mataku yang merah.

Younji eonni menghampiri mereka dan membawa mereka keluar.

“tapi kami mau melihat Hyewon eonni!” protes Hyunmei.

“Hyewon eonni kenapa?” tanya Jihae pada Younji eonni yang melihatku sekilas sebelum akhirnya mereka keluar dari kamarku.

Aku sendirian seperti yang aku inginkan. Aku merasa sangat lelah, bukan hasil seperti ini yang aku inginkan. Aku berusaha keras selama masa-masa training dan hingga akhirnya debut. Orang-orang mengira itu karena aku sangat menyukai uang. Ya, uang adalah segalanya bagiku, kenapa tidak?

Tapi alasan terbesarku menjadi penyanyi adalah agar aku bisa sebanding dengannya, Lee Jinki.

Apakah aku yang sangat bodoh hingga mengira dia juga menyukaiku? Dia memang selalu baik pada siapapun, seharusnya aku tidak berharap banyak padanya.

Tidak ada dia, tidak ada gunanya lagi aku bernyanyi. Dia selamanya tidak akan pernah melihatku.

Kuraih hpku yang tergelatak dimeja kecil disamping tempat tidur.

“appa, aku sedang berada di rumah sakit sekarang, bisakah kau menjemputku?” tanyaku begitu appa menjawab telponku. Appa mengiyakan dan memutus sambungan telpon.

ONEW POV

“hyung, kau mau ke mana pagi-pagi sekali?” Jonghyun keluar dari kamar masih lengkap dengan piyama nya.

“aku mau menjenguk Hyewon dulu. Hubungi aku kalau ada apa-apa ya?” kuraih jaket dan topiku kemudian segera keluar dorm begitu aku melihat Jonghyun mengangguk.

Sudah sejak semalam aku ingin melihat keadaan Hyewon, tapi karena sudah terlalu malam, kuputuskan akan menjenguknya hari ini, dan pagi-pagi sekali aku sudah bangun, bersiap melihat keadaan Hyewon.

Kuturunkan topiku untuk menutupi wajahku agar tidak ada yang mengenaliku.

Diujung koridor, kulihat member H:ART tengah duduk di depan kamar inap Hyewon. Ada apa? Apa sesuatu terjadi padanya?

Aku berlari kecil untuk segera menghampiri mereka.

“bagaimana keadaan Hyewon?” tanyaku langsung. Keempat member langsung menatapku serentak dan menggeleng.

“kami juga tidak tau. Kami sudah datang sejak sejam yang lalu, tapi eonni tetap saja tidak mau dijenguk.” Jawab Berli.

“Younji noona, bisakah kau katakan padanya bahwa aku datang dan ingin menjenguknya?” pintaku. Younji noona terlihat enggan, tapi aku terus memohon padanya. Younji noona masuk ke dalam sementara aku berjalan mondar-mandir didepan kamarnya. Tidak sampai 5 menit, noona keluar dan menggeleng padaku.

“dia masih belum ingin dijenguk. Dia meminta kalian untuk pulang dulu hari ini dan jenguk dia lain hari. H:ART, kalian sebaiknya langsung ke kantor, kalian ada kelas mandarin dan latihan vokal hari ini. Dan Onew-ssi, sebaiknya kau juga lakukan jadwalmu dengan baik.”

Member H:ART melangkah dengan enggan dibelakang Younji noona. Aku berdiri di depan pintu dan menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya aku kembali memakai topi dan keluar dari tempat itu.

***

“hyung, kau melamun lagi!” tegur Key saat kami sedang berkumpul di dorm malam hari.

“bagaimana keadaan Hyewon noona? Bukankah tadi pagi kau menjenguknya?” Jonghyun duduk disampingku dan menatapku dengan seksama.

“dia tidak ingin dijenguk oleh siapapun hari ini. Besok aku akan menjenguknya lagi.” Jawabku lemah.

“apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan noona? Bukankah kalian sangat dekat? Akhir-akhir aku tidak melihat kalian saling berbicara.” Tanya Minho, ia menghentikan permainannya dan fokus melihatku.

Aku duduk dengan menekuk lututku, kulipat keduatanganku diatasnya dan membenamkan wajahku sambil bergumam pelan.

“omo! Jangan-jangan hyung menyatakan perasaan hyung pada noona?” celetuk Taemin yang berhasil membuatku kembali mendongakkan kepalaku untuk melihat maknae itu, apa yang dikatakannya barusan?

“jinjja?”

“hyung! Akhirnya kau menyatakan perasaanmu pada noona!”

“apakah kau ditolak hyung?”

suara selanjutnya yand kudengar adalah suara Minho, Jonghyun dan Key, tapi aku tidak tau tepatnya siapa yang mengatakan apa. Otakku terlalu kosong saat ini.

“apa maksud kalian?” akhirnya aku berusaha keras untuk mengucapkan kata-kata itu.

“jangan berlagak bodoh hyung. Kau pikir kami tidak tau kalau kau menyukai Hyewon noona? Setiap hari kau selalu bercerita tentang dia, teman masa kecilmu itu.” Desis Minho sinis.

Suasana kembali hening karena tidak ada satupun yang berbicara hingga Taemin kembali mengulang pertanyaan yang sama.

“aniya, dia yang menyatakan perasaannya padaku.” Jawabku pelan.

“wah, chukkae, akhirnya hyung dan Hyewon noona bersama!” teriak Key kegirangan, kutarik tangan Key yang mulai meloncat-loncat diatas sofa hingga dia kembali terduduk.

“aku menolaknya.” Lanjutku. Keempat dongsaengku menatapku tidak percaya. Pertanyaan demi pertanyaan kembali terlontar dari mulut mereka, tapi aku tidak bisa menangkap apa yang mereka tanyakan karena mereka bertanya dalam satu terikan nafas dan pada saat yang bersamaan. Aku beranjak dari sofa dan masuk ke dalam kamar, masih terdengar samar-samar suara mereka dari luar, tapi tidak ada yang mengejarku ke dalam. Aku tau mereka sedang memberikan privasi padaku.

Kutatap layar ponselku, tidak ada telpon masuk dari Hyewon. Aku sudah meninggalkan berjuta-juta voicemail untuknya, tapi dia belum membalasnya.

“Hyewon-ah, aku mengkhawatirkanmu…” bisikku parau.

HYEWON POV

‘Hyewon-ah, aku tadi ke rumah sakit untuk menjengukmu, tapi kau belum mau dijenguk. Besok aku akan datang lagi untuk melihat keadaanmu, ara?’

‘apa kau mendengar pesan suaraku? Kalau kau mendengarnya, bisakah kau menelponku sebentar saja?’

‘aku sangat mengkhawatirkanmu, tolong jangan begini padaku.’

‘apa kau masih tidur? Kumohon balas telponku begitu kau mendengarnya.’

‘aku tidak tau harus berkata apalagi. Tolong telpon aku.’

‘seharian aku terus menggenggam telponku, berharap setiap kali telponku berdering itu darimu, tapi bukan. Bisakah kau jawab telponku saja?’

‘aku sedang break dan masih menunggumu untuk menelponku.’

‘Hyewon-ah… jebal, angkat telponku.’

“Hyewon-ah, appa harus berangkat kerja sekarang. kau yakin kau akan baik-baik saja sendirian?” tanya appa yang muncul dihadapanku sambil merapikan dasinya. Kuletakkan hpku di samping dan mengangguk pada appa.

“kau mau appa telpon eomma dan meminta dia untuk menemanimu?” tanya appa lagi.

“aniya, aku yakin eomma sedang sibuk sekarang. aku akan baik-baik saja appa, geogjonghajima.” Sergahku dengan cepat. Kalau eomma tau aku ada di sini, bisa saja eomma memberitau Jinki, dan aku tidak ingin ada seorang pun yang datang mencariku saat ini. Sejak eomma dan appa bercerai, aku tinggal bersama eomma dan Jinki tidak tau di mana appaku tinggal. Jadi d sinilah tempat persembunyian yang aman untukku. Appa melihatku cukup lama, lalu tersenyum kecil padaku dan pergi untuk bekerja.

Kuambil kembali hpku dan kembali mendengarkan voicemail-voicemail dari Jinki sejak kemarin.

‘aku akan tidur sekarang, tapi aku tetap akan menunggu telponmu. Aku pasti akan langsung terbangun dan menjawab kalau kau menelponku.’

‘Hyewon-ah, kau sudah pulang dari rumah sakit? aku akan ke dorm H:ART sekarang.’

‘Yaaaa! Eodigayo!? Kenapa kau menghilang begitu saja? Apa kau tidak tau kalau kami semua mengkhawatirkanmu? Pulanglah, jebal.’

‘Hyewon-ah, neo eodisoyo? Aku mendatangi rumahmu, tapi eommamu bilang kalau kau tidak menghubunginya. Sebenarnya kau ada di mana!?’

Mendengar voicemail terakhir dari Jinki, beberapa menit yang lalu membuat tangisku kembali pecah. Aku merindukannya, aku rindu mendengar suaranya, aku rindu melihat senyumnya. Aku sama sekali tidak bisa melupakan dia sedikitpun. Eottokhae?

‘Jangan terlalu baik padaku, kumohon. Berhentilah berpura-pura mengkhawatirkanku dan jangan mencoba untuk mencariku. Aku tidak ingin memiliki kenangan tentang kita berdua lagi.’ Kuketikkan kata-kata itu dengan tanganku yang bergetar dan mengirimkannya pada Jinki. Kukeluarkan baterai hp ku dan meletakkannya diatas meja begitu saja, membiarkan baterai itu terpisah dari hpku.

ONEW POV

“mwo!? Hyewon tidak pulang ke dorm?” aku terpaku di depan pintu dorm H:ART begitu Jihae membukakan pintu untukku. Berli terlihat mondar-mandir dengan gelisah, sementara kedua member lainnya entah ada di mana. Mereka sedang menunggu kabar dari Younji noona yang mencoba untuk mencari Hyewon di rumah eommnanya.

“Onew oppa, apa kau tau di mana Hyewon eonni mungkin pergi?” tanya Jihae. Aku menggeleng pelan. Otakku terlalu kosong untuk memikirkan apapun.

Apakah karena aku? Apakah dia begitu membenciku sekarang?

“Berli!! Berhentilah mondar-mandir seperti itu dan bantu aku menarik Hyunmei keluar dari persembunyiannya!” suara teriakan Heemi terdengar meski ia tak menampakkan batang hidungnya. Berli berlari dengan cepat ke sumber suara dan menghilang dari pandanganku.

“Onew oppa, sebenarnya ada apa antara kau dan Hyewon eonni?” tanya Jihae yang kubalas dengan pandangan kosong.

“aku tau ada sesuatu yang terjadi diantara kalian. Eonni selalu terlihat ceria beberapa hari belakangan ini, tapi keceriaan terlalu berlebihan dan aku tau dia hanya sedang mencoba untuk menyembunyikan kesedihannya.” Lanjut Jihae.

“aku rasa ia tidak akan kembali ke rumah eommanya. Aku akan mencoba mencari alamat appanya, kalau aku sudah menemukannya, aku akan memberitahukan kalian.” Kataku dan berlalu pergi tanpa ingin merespon kata-kata Jihae.

Aku ingat, kalau appanya adalah seorang dosen disebuah universitas. Kulajukan mobilku ke universitas tersebut.

Appa Hyewon terkejut begitu aku muncul dihadapannya, dan menanyakan keberadaan Hyewon.

“aku tidak tau Hyewon ada di mana.” Paparnya. Aku tau itu bohong, aku tau kalau Hyewon yang meminta appanya agar tidak memberitaukan siapapun tentang keberadaannya. Tapi karena aku bersikukuh memohon, appanya melunak dan memberitaukan alamatnya padaku.

“yeoboseyo, Jihae-ah. Aku sudah mendapatkan alamatnya, akan kukirim lewat sms.” Kataku pada Jihae melalui sambungan telpon.

“jeongmal? Araseo, kami akan segera menjemputnya.” Jawab Jihae bersemangat.

“jangan katakan padanya kalau aku yang menemukan alamatnya. Dan kumohon yakinkan dia untuk pulang dan kembali bernyanyi.” Sahutku sebelum memutuskan saluran telpon.

Kuketikkan alamat rumah tempat Hyewon berada dan mengirimkannya pada Jihae. Kuhempaskan punggungku ke sandaran jok dan memandang kosong ke jalanan.

‘Jangan terlalu baik padaku, kumohon. Berhentilah berpura-pura mengkhawatirkanku dan jangan mencoba untuk mencariku. Aku tidak ingin memiliki kenangan tentang kita berdua lagi.’ Kata-kata yang dikirim melalui sms oleh Hyewon beberapa menit lalu berhasil membuatku tidak mampu berbuat apa-apa.

Aku ingin sekali menjemputnya, meminta dia untuk kembali—memohon kalau perlu. Tapi aku tau itu hanya akan membuat dia semakin terluka.

Apa yang bisa kulakukan? Mungkin ini memang yang terbaik. Aku tidak bisa terus berbaik hati padanya padahal aku tau kalau dia menyukaiku dan aku justru tidak bisa membalas perasaannya meskipun aku memiliki perasaan yang sama dengannya.

Satu-satunya yang bisa kulakukan untuk meringankan penderitaannya…

Menjauh dari kehidupannya.

Kutekan nomor telponnya untuk terakhir kali, seperti yang kuduga, tidak aktif.

Kutinggalkan voicemail terakhir.

I’m so sorry Hyewon, I love you too but I can’t be with you.

Kuseka airmataku yang terus turun sejak aku meninggalkan voicemail untuk Hyewon dan mulai melajukan mobilku kembali ke dorm SHINee.

HYEWON POV

Aku membuka mataku ketika mendengar suara berisik dari luar rumah. Aku melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa aku tertidur di sofa sambil menonton.

Terdengar lagi suara ketukan di pintu depan. Apakah appa lupa membawa kunci?

Aku berjalan dengan gontai dan mata yang sembab dan membuka pintu.

Lima sosok yeoja yang berdiri dihadapanku sontak membuatku tersadar sepenuhnya meski belum mampu bereaksi sebagaimana harusnya—menutup pintu dengan cepat.

“eonni! Kami merindukanmu!” teriak Hyunmei sambil menghambur ke dalam pelukanku. Berli tidak berkata apa-apa, tapi ikut memelukku dan terisak.

“eonni, jangan pernah tinggalkan kami.” Kata Heemi sambil berusaha menahan airmatanya. Jihae hanya menatapku dan tersenyum kecil.

Aku menoleh, melihat Younji eonni berdiri mematung tanpa ekspresi.

***

Aku duduk di ruang nonton seorang diri. Younji eonni belum memperbolehkanku untuk ikut tampil bersama member lain karena mereka menyuruhku untuk istirahat selama seminggu penuh, jadilah aku seorang diri menonton mereka dari layar tv.

H:ART menyanyikan lagu yang terakhir kali kami bawakan di MuBank. Aku tersenyum tanpa kusadari setelah mereka mengakhiri tarian mereka.

Aku bersyukur memiliki keluarga seperti mereka. Aku bersyukur mereka datang menjemputku untuk kembali bersama mereka.

Menyanyi mungkin bukan tujuanku pada awalnya ketika aku bergabung dengan SME. Yang ada dipikiranku waktu itu hanyalah Jinki dan uang. Tapi sekarang semuanya berubah.

Jinki bukan lagi prioritas utamaku sekarang, setelah bertahun-tahun aku memendam perasaanku padanya, sekarang aku harus berhenti memujanya diam-diam. Dia tidak akan pernah bisa menerima perasaanku dan aku tidak ingin melukai diriku sendiri dengan berpura-pura tidak ada yang terjadi.

Aku tau aku terdengar egois, karena tidak bisa memilikinya, maka aku tidak ingin hubungan yang hanya sekedar biasa-biasa saja. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri dengan mengatakan bahwa menjadi temannya pun tidak apa-apa, bahwa aku tidak mengharapkan lebih. Kenyataannya aku selalu berharap bahwa ini hanya mimpi, mimpi buruk dan begitu aku terbangun, semua kembali normal, kembali ke masa ketika aku belum mengatakan suka padanya, kembali ke masa ketika aku tidak tau bahwa dia akan menolakku.

Suara teriakan dari layar tv menghancurkan lamunanku. Dilayar tv, kulihat lima orang namja diatas panggung, duduk di kursi dan mulai menyanyi.

Eotteokedeul sarangeul

sijakhago inneunji saranghaneun saramdeul malhaejwoyo

Suara yang sangat lembut menggema ditelingaku. Rasanya sudah seperti bertahun-tahun lamanya sejak terakhir kali aku mendengar suara indah itu.

Tanpa kusadari, otakku memberi perintah pada kedua tanganku untuk mengambil hp yang kuletakkan di meja dan kembali memutar voicemail terakhir dari Jinki yang kuterima kemarin.

‘Hyewon-ah, mianhae, aku tau kau membenciku sekarang—dan kau memang berhak untuk itu. Aku hanya tidak ingin menyakitimu, dan kupikir bertahan dengan hubungan kita yang dulu akan lebih baik. Tapi sepertinya aku salah, aku merasa kita seperti sedang berjalan ditepi jurang. Ke mana pun melangkah, akhirnya akan sama saja—terperosok. Aku mencoba mendorongmu menjauh agar tidak terperosok ke dalam jurang, tapi tanpa sadar aku justru membuatmu terjatuh dan terluka. Rasanya, melakukan apapun terasa percuma. Semuanya sudah terjadi, dan kau sudah terluka. Mungkin jika sejak awal aku tidak berjalan bersamamu, kau tidak akan pernah terluka.

Kau bahkan, tidak ingin lagi melihatku ataupun berada didekatku, jadi mulai sekarang aku tidak akan berjalan di jalan yang sama dengan jalan yang akan kau lalui, tidak akan kenangan tentang kita berdua lagi, tidak ada Lee Jinki, tidak ada lagi So Hyewon.

Mulai sekarang aku akan menjadi Onew SHINee dan kau menjadi Hyewon H:ART. Selamat tinggal, So Hyewon.’

“eonni, kami pulang!” teriak Hyunmei begitu saja. Dengan cepat kusimpan kembali hpku dan tersenyum menyambut kepulangan para dongsaengku.

“kau menonton penampilan kami eon?” tanya Berli yang sekarang menghempaskan tubuhnya disampingku. Aku mengangguk mengiyakan.

“minggu depan eonni sudah bisa tampil bersama kami, senangnya..” Hyunmei berlari tidak tentu arah sebelum akhirnya melesat masuk ke kamar. Aku memandang sekeliling dan tidak menemukan Jihae.

“mana Jihae?” tanyaku pada Berli dan Heemi. Mereka saling pandang sesaat lalu Heemi menjawab, “ ada urusan keluarga katanya.”

***

SME mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan suksesnya SHINee WORLD 1st concert yang telah sukses digelar di Jepang dan Korea beberapa hari lalu.

Hampir seluruh artis SME datang, dan juga kami.

Sesuatu yang paling ingin aku hindari, berada didekatnya.

“eonni, kenapa kau diam saja? Kita harusnya bersenang-senang.” Tegur Jihae sambil menyodorkan minuman yang langsung kutolak.

Aku sedang tidak berselera untuk memasukkan apapun ke dalam perutku. Aku hanya ingin pesta konyol ini segera berakhir dan pulang. Aku melihat ke sekeliling untuk mengecek apakah memberku masih berpesta dalam batas ‘normal’ atau tidak. Heemi dan Kibum terlihat sedang berbicara serius, di tempat lain, Kyuhyun dan Hyunmei terlihat seperti sedang bertengkar memperdebatkan sesuatu, Berli sedang mengobrol dengan member Superjunior, sementara Jihae hanya berdiri disampingku, tapi aku tau kalau diam-diam dia memperhatikan Eunhyuk dan Hyunmin.

Aku menoleh ke samping dan melihat kelima anggota SHINee. Mereka terlihat sangat ceria karena konser mereka berlangsung dengan sukses.

Jinki … Tertawa dengan bahagia, tawa yang sangat kurindukan. Aku menatapnya tanpa berkedip, asyik terhanyut dalam pikiranku sendiri. Tiba-tiba Jinki menoleh dan juga menatapku. Pandangan kami bertemu, aku tidak bisa menghindar. Ada sesuatu dalam pandangannya yang membuatku tidak bisa berpaling. Kami saling berpandangan sekitar 30 detik hingga akhirnya Yoona, member SNSD menghambur dalam kerumunan SHINee dan menyelamati mereka.

Jinki mengalihkan pandangannya dengan cepat dan langsung tersenyum pada Yoona yang sudah berada dihadapannya.

AUHTOR POV

Onew tersenyum pada Yoona, sebuah senyum yang terlihat manis dimata orang-orang, tapi tidak ada yang tau bagaimana Onew memaksakan senyum itu keluar saat hatinya terasa seperti diiris-iris ketika pandangannya bertemu dengan pandangan Hyewon.

Sedikit takut-takut, Onew kembali menoleh ke arah Hyewon, tapi tatapan Hyewon tidak lagi terarah padanya, ia tengah asyik berbincang-bincang dengan Jihae.

“hyung, kau mau ke mana?” panggil Jonghyun begitu Onew menyusup keluar dari kerumunan orang yang sibuk memberikan selamat atas konser solo perdana mereka.

“aku keluar sebentar, tidak akan lama.” Jawab Onew tanpa menoleh.

Onew keluar dari ruangan yang hingar bingar itu untuk mencari ketenangan untuk dirinya sendiri. Ia melangkah dengan sangat pelan, tidak tau ke mana sebaiknya ia menyembunyikan dirinya agar tidak ada seorang pun yang bisa melihatnya.

Kepalanya terasa sangat berat begitu saja, semuanya terasa berputar-putar disekitarnya. Makanan yang masuk ke dalam perutnya—meski ia hanya sempat makan sedikit—terasa bergolak dan memprotes keluar. Onew terduduk disebuah kursi, disandarkannya kepalanya yang berat ke tembok dibelakangnya.

Dilain sisi, Hyewon mulai merasa jengah dengan pesta yang tak berujung ini, apalagi setelah melihat Onew dan Yoona, cukup untuk membulatkan tekadnya untuk segera angkat kaki. Hyeewon keluar diam-diam tanpa berpamitan dengan membernya—karena ia tau ia pasti akan dicegah dan terus terperangkap hingga pesta berakhir.

Hyewon menyelinap keluar, menghirup udara segar sebanyak paru-parunya mampu menampung. Hyewon berjalan lurus, dari kejauhan dilihatnya Onew berjalan beberapa meter didepannya—terlihat gontai.

Lagi-lagi perasaannya menggelora, bagaimanapun Onew telah menolaknya, bagaimanapun ia meminta Onew untuk menjauhinya, ia tetap merasa tidak bisa hidup tanpa Onew, tidak bisa hidup tanpa senyum laki-laki itu yang selalu menghiasi hari-harinya itu.

Hyewon menahan tangisnya, matanya kembali memerah entah untuk yang ke berapa kalinya dalam sehari ini, tapi ia tidak ingin menangis lagi, tidak untuk hal yang sia-sia.

Hyewon bersiap untuk berbalik, mencari jalan lain atau mungkin kembali ke dalam ruangan pesta—kemanapun asal tidak berada didekat Onew. Suara berdebam cukup keras mengalihkan pikiran Hyewon. Ia kembali melihat ke arah Onew yang sekarang terduduk dikursi, kepalanya terkulai lemas menyandar ke dinding dengan punggung tangannya yang menutupi matanya.

Pergilah, Hyewon, menjauhlah darinya…Protes Hyewon pada dirinya sendiri, tapi lagi-lagi ia seperti kehilangan akal sehatnya, ia justru melangkah mendekati Onew, melihat kerutan-kerutan dikening namja itu meski terhalangi oleh tangannya.

“neo, gweanchanayo?” tanya Hyewon setelah memberanikan diri. Onew sedikit bingung pada awalnya, ia kembali mendengar suara yang sangat ia rindukan. Ia sering mendengarnya akhir-akhir ini, dan begitu ia mencari bayangan pemilik suara itu, tidak ada siapa-siapa. Kali ini pun pasti begitu, pikirnya, perasaan rindunya sewaktu-waktu bisa membuatnya gila.

“neo, gweanchanayo?” tanya Hyewon sekali lagi, ia menggoyang tubuh Onew pelan, menantikan reaksi Onew.

Onew tersentak, sadar sepenuhnya bahwa ini adalah kenyataan—bukan imajinasinya yang kelewat liar belakang ini. Onew menurunkan tangannya, membiarkan matanya kembali bertemu dengan mata Hyewon.

“kau baik-baik saja?” tanya Hyewon. Onew tidak menjawab, hanya asyik memandangi Hyewon. Hyewon memajukan tangannya dan meraih kening Onew, terasa panas hingga mampu membakar kulit tangan Hyewon.

“OMO~! Kau demam?” tanya Hyewon lalu menurunkan tangannya dari kening Onew. Onew mengikuti gerakan Hyewon, meletakkan telapak tangannya sendiri di keningnya.

Onew tertawa kecil, ia bahkan tidak sadar kalau ia demam.

“tunggu di sini, akan kupanggilkan membermu.” Kata Hyewon setengah panik. Hyewon bersiap untuk meninggalkan Onew, tapi dengan cepat Onew memegang pergelangan tangan Hyewon dan menariknya hingga terjatuh ke dalam pelukan Onew.

“a—apa yang kau lakukan?” Hyewon meronta, mencoba melepaskan diri dari Onew.

“apa yang harus kulakukan?” bisik Onew parau, tidak menghiraukan permintaan Hyewon. Hyewon berhenti meronta tepat setelah ia mendengar suara Onew yang bergetar dan pundaknya yang basah—oleh airmata Onew.

“aku mengatakan padamu kalau aku akan berada dijalan yang berbeda denganmu, tapi aku tidak bisa melakukannya dengan baik. Aku tidak terbiasa berjalan sendiri, aku membutuhkanmu. Tapi aku takut kalau kita bersama, banyak orang akan kecewa. Para fans akan sedih, SHINee akan hancur, orang-orang akan mulai menghujatmu dan menyebabkan kau memiliki banyak antifans, kau tidak akan bisa berdiri dipanggung yang kau sukai lagi. Itu yang kutakutkan sebelumnya.” Jelas Onew mendekap Hyewon lebih erat.

“apa yang kau katakan?” Hyewon seolah tidak mempercayai yang baru saja didengarnya—yang dikatakan Onew. Seolah Onew tidak akan bisa hidup tanpanya, sama seperti dirinya sendiri.

“tapi sekarang…” lanjut Onew tanpa mempedulikan kebingungan Hyewon, “hanya ada satu hal yang sangat kutakutkan. Hanya beberapa hari aku tidak melihatmu, hanya beberapa hari aku tidak mendengar suaramu dan melihat senyummu, rasanya aku hampir melupakan semua itu. Aku takut kehilangan dirimu lebih dari ini.”

“Ji—Jinki-ah…” lagi-lagi Hyewon mencoba untuk melepaskan diri dari Onew, namun tidak seperti sebelumnya, kali ini Onew membiarkan Hyewon lepas dari dekapannya. Ada sebersit perasaan kecewa dalam diri Hyewon, ia tidak lagi berada dalam dekapan Onew, merasakan kehangatannya. Hyewon mencoba untuk berdiri, tapi Onew tidak sepenuhnya melepaskan dekapannya, kedua tangannya kini memegang pinggang Hyewon dengan erat, tidak membiarkan Hyewon menjauh lebih dari jarak yang ia inginkan.

Hyewon bisa melihatnya, mata Onew yang memerah dan pipinya yang basah. Hyewon kehilangan kata-kata. Kali pertama ia melihat Onew seperti ini, kali pertama ia melihat sisi lemah Onew.

“sekali lagi, sebut namaku sekali lagi…” pinta Onew.

“Jinki-ah, kurasa kau sangat sakit saat ini.”

Hanya itulah penjelasan yang logis bagi Hyewon. Demam Onew memang sangat tinggi dan mungkin saja ia sedang mengingau saat ini. Hyewon tidak ingin berharap terlalu banyak dan justru akan lebih terluka nantinya.

Onew tersenyum, ia senang mendengar namanya diucapkan oleh Hyewon lagi. Ia tau Hyewon tidak mempercayai kata-katanya, mengira ia sedang mengingau.

Onew kembali menarik Hyewon, namun bukan mendekapnya seperti sebelumnya. Onew menempelkan bibirnya pada Hyewon yang membelalak. Sementara Hyewon masih dilanda rasa kaget, Onew memainkan lidahnya, menyentuh permukaan bibir Hyewon, memberikan sensasi yang menggelitik ke seluruh tubuhnya. Onew menarik Hyewon semakin merapat ke tubuhnya agar ia bisa dengan bebas menikmati bibir lembut Hyewon. Perlahan-lahan Hyewon mulai menyerah pada pertahanan dirinya, ia membuka mulutnya sedikit, memberikan akses agar lidah Onew dapat menyusup dengan lincah dan memenuhi rongga mulutnya yang hangat. Lidah mereka bertemu dan saling bertautan, melahap satu sama lain dengan ganas.

Onew menghimpun segala tenaganya, menghentikan ciuman mereka yang semakin memanas dan memisahkan diri. Ia kembali menatap Hyewon yang wajahnya memerah dan nafas mereka yang terengah-engah.

“aku pernah melepaskanmu sekali karena kupikir itu yang terbaik untuk semua orang. Tapi sekarang, biarkan aku memilih jalan yang terbaik untuk kita berdua—atau setidaknya bagiku. Karena aku sungguh tak bisa hidup tanpamu, I LOVE YOU SO HYEWON.” Bisik Onew tepat ditelinga Hyewon. Onew menghembuskan nafasnya yang hangat dan menggigit pelan ujung telinga Hyewon yang membuat Hyewon merasakan sensasi aneh beberapa waktu lalu.

Tanpa menunggu jawaban Hyewon, Onew kembali menempelkan bibirnya pada Hyewon. Kali ini, tanpa ragu sedikitpun Hyewon langsung membalas ciuman Onew, sebagai jawaban atas perasaannya.

 

THE END OF NEWS 6


a/n ::. wooow~ akhirnya part Hyewon selesai^^ hehe, jadi gimana news 6 ??? aneh? Jelek? Lucu? Bagus?

Comment please =DD

Next is Jihae turn =DD tapi gak janji kapan akan di publish karena author belum mulai nulis =P

akan ditulis dan publish secepatnya^^

Iklan

18 thoughts on “The Newest Girlband (News 6) Hyewon’s Story”

  1. huwaaaaaaa
    Ommo, tadinya aku pikir bakal sad end loh >.<

    Ternyata happy end juga 🙂

    Emank berat yah, 2'na leader jadina sakit klo terus jalan maksain egonya 🙂

    Good job author.. 🙂 nice ending.. Sweeet 🙂

    Ditunggu part berikutnya 🙂
    Tqdah buat ff yg bikin dada aku nyesek bcanya 🙂 tpi hampir nangis krn terharu di endingnya 🙂

  2. Endingnya keren :))
    huahahaha
    yuyu eonni keren 😀

    endingnya bikin terharu dh :’)

    jihae part dtunggu 🙂

  3. Aiss…ini part bikin nyesek dawaL2. Bisa ngerasaiin ￱apa yg drasiin Hyewon kok!!! *bukan curcoL Lo, tp emang ff nya bikin ngehanyutin :D*

    T.o.P deh ff nya Yuyu 🙂
    ￲keren….keren….keren bgt deh ^^
    Dtunggu chap seLanjutnya ya 😀
    Hwating ^^

  4. hajarkan onnie ! klo onnieku baca part ini pasti di alangsung bunuh diri XD
    ini udh chapt 6 ya ?? 😦
    onnie bikin season 2nya dong kekke
    klo gak sempet aku bisa lanjutinnya, soalnya klo aku baca ff ini pasti dapet lanjutan ceritanya XD
    lanjut ya onn,, fighting !! hwaiting !! hehe
    next chapt 7 ya ? masih nunggu 3 chapt lagi =.= baru chapt 10 nasibnya jadi maknae hehehe tp gpp aku setia sama FF onnie (?)

  5. huwaaaa, eonni..
    Ku kira bkal sad ending.
    Ini keren cnget. Daebak deh eon..

    D tunggu eon news 7 nya..
    Buruan ya eon.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s