I Wanna You Know Part 2

Saat kumasuk kelas, hanya ada Key dan beberapa siswa dan siswi. Aku mencari sosok Ha Won,tapi sepertinya dia belum datang.

“Jonghyun!” panggil Key, aku langsung mendekatinya. “Kau kenapa? Seperti sedang bingung.” Tanyanya saat aku sudah duduk di sebelahnya.

“Ani, aku hanya sedang mencari Ha Won. Dia belum datang?”

“Belum, mungkin sebentar lagi. Pulang sekolah nanti kita jadi kan kerja kelompok di rumahmu?”

“Ne, tentu saja.” jawabku semangat.

Saat aku dan Key sedang mengobrol, kulihat sosok Ha Won memasuki kelas dengan lesu. Aku dan Key saling menatap heran. Aku dan Keys mendekatinya di bangku saat dia sudah duduk.

“Ha Won-ah, waeyo?” tanyak khawatir karena melihat wajahnya yang pucat, “Kau sakit?”

“Wajahmu pucat sekali?” sambung Key kemudian menempelkan punggung tangan kanannya di kening Ha Won, “Aigo, kau panas sekali. Lebih baik kau tidak usah sekolah hari ini. Mau aku panggilkan Minho?” tawar Key. Aku segera menyenggol badannya.

“Ha Won-ah, kau sakit. Lebih baik kau istirahat saja di ruang kesehatan.” Ha Won hanya menggeleng.

“Anio, gwaenchana. Aku harus tetap berada di kelas, kalian ingat kan hari ini kita ada ujian Matematika?” jawab Ha Won enteng sambil tersenyum. Aku dan Key tidak bisa berbuat apa-apa, Ha Won bersikeras tidak mau ke ruang kesehatan.

Kim Songsaenim masuk kedalam kelas dengan sebuah tumpukan kertas di tangannya, dan aku yakin itu adalah kertas ujian. Key membantu Kim Songsaenim untuk membagikan kertas ujian. Saat melewati bangku Ha Won, Key menepuk pundak Ha Won sambil tersenyum untuk memberinya semangat. Aku tersenyum melihatnya.

Selama ujian berlangsung, aku benar-benar tidak konsentrasi. Pikiranku selalu ingat akan Ha Won, aku benar-benar mengkhawatirkannya. Akupun melihat Ha Won yang sepertinya tidak konsentrasi mengerjakan soal-soal ujian karena sakitnya.

“Waktu ujian habis, kumpulkan hasil ujian kalian!” seru Kim songsaenim dari depan kelas. Dengan segera kukumpulkan ujianku dan dengan sengaja lewat depan bangku Ha Won. Kulirk kertas ujiannya. Mataku rasanya benar-benar ingin keluar saat melihat kertas ujian Ha Won. Dia hanya mengerjakan satu soal, aku benar-benar kasihan melihat keadaannya sekarang. Dengan segera kutukar kertas ujianku dengan kertas ujian miliknya. Kini kertas ujian yang aku kerjakan sudah berganti nama menjadi nama Ha Won, dan kertas ujian Ha Won menjadi namaku. Sampai waktu pengumpulan benar-benar habis, aku berusaha mengerjakan sisa-sisa soalnya dan hanya berhasil mengerjakan tiga soal.

Aku terus menemani Ha Won yang ketiduran di atas meja belajarnya. Aku terus menatap wajahnya yang sedang tidur, wajahnya benar-benar cantik.

“Hhhmmm . . .” dia bergumam.

“Ha Won-ah!” panggilku supaya dia tidak terlalu kaget dengan kehadiranku.

“Jonghyun-ah . . . apa yang sedang kau lakukan?”

“Ani, aku hanya menemanimu. Gwaenchanayo?”

“Ujianku?” tiba-tiba Ha Won bangun dan panik mencari-cari kertas ujiannya di bawah bangku.

“Tenanglah, kertas ujianmu sudah kukumpulkan. Tadi saat mengerjakan soal ujian kau ketiduran, jadi kukumpulkan kertas ujianmu.”

“Tapi . . . tapi aku belum mengerjakan soal-soalnya.” Jelas Ha Won.

“Tenanglah, kau sudah mengerjakannya. Aku yakin itu.” Ucapku tersenyum.

“Sungguh, tapi aku yakin aku tadi belum mengerjakannya.”

“Kau tidak percaya padaku?” dia hanya mengangguk pasrah.

“Tenanglah!” kutepuk pundaknya dan tersenyum.

“Ha Won!” tiba-tiba terdengar suara yang memanggil Ha Won. Aku dan Ha Won langsung mengalihkan pandangan kami pada sumber suara.

“Jonghyun-ah, aku harus pergi.” Pamit Ha Won dan langsung meninggalkanku.

“Kenapa orang itu selalu datang setiap aku dan Ha Won sedang berdua?” gumamku kesal karena kedatangan Minho.

Bel tanda istirahat selesai berbunyi. Semua siswa masuk kedalam kelas, termasuk Key dan Ha Won.

“Ha Won-ah, gwaenchanayo?” tanyaku karena wajahnya terlihat semakin pucat.

“Ne.” dia mengangguk dan tersenyum.

“Ha Won, nanti sore kita kerja kelompok di rumahku. Apa kau bisa?”

“Molla, sepertinya hari ini aku tidak bisa. Tidak apa-apa kan?”

“Ne, kau istirahat saja! Aku dan Key yang aakan mengerjakannya.”

Saat bel pulang sekolah berbunyi, Ha Won langsung pulang begitu saja tanpa pamit padaku atau Key. “Ada apa dengannya hari ini?” gumamku.

“Jongie!” panggil Key seraya menepuk pundakku. “Jadi?”

“Ne, kaja!”

Keesokan harinya saat sekolah, sikap Ha Won masih sama seperti kemarin. Wajahnya terlihat lesu meskipun tidak sepucat kemarin. Sebernya ada apa dengannya.

“Ha Won!” panngilku saat menyapanya di pagi hari. Dia menatapku lalu tersenyum. “Gwaenchana?”

“Wae?” tanyanya heran.

“Dari kemarin, kulihat kondisi tubuhmu sepertinya tidak baik. Kau sakit, kenapa kau terus memaksakan untuk sekolah?”

Ha Won tersenyum, “Gwaenchana, akhir-akhir ini aku memang agak sedikit sibuk. Nanti setelah semuanya selesai aku akan sehat lagi.”

“Selesai? Memangnya apa yang sedang kau lakukan?”

“Sebuah project rahasia untuk seseorang special untukku.”

“Siapa?”

“Kalau aku memberitahukannya padamu, kau bisa membocorkannya. Jadi aku tidak bisa memberitahumu.” Ucpnya tersenyum.

@@@

“Jonghyun, Key!” panggil Ha Won saat aku dan Key sedang berada di tempat parkir motor. Dia berlari ke arah kami.

“Waeyo?” Tanya Key heran.

“Hari ini kita kerjakan tugas kelompok kita, bagaimana?”

“Kau yakin?” ucap Key sambil menatap Ha Won dari ujung kepala sampai kaki.

“Waeyo?” protes Ha Won karena risih dilihat seperti itu oleh Key.

“Kau masih sakit, kau yakin mau mengerjakan tugas kelompok kita?” Ha Won mengangguk yakin.

“Baiklah kalau begitu, kau naik motor Jonghyun saja!” perintah Key.

Ha Won naik motorku, kulajukan motorku dengan kecepatan standard. Sedangkan Key, entahlah. Dia pergi dengan cepat sekali.

“Ha Won, gwaenchana?” tanyaku sedikit berteriak agar dia bisa mendengarnya.

“Ne . . .” jawabnya dengan sedikit teriak.

“Peganganlah agar kau tidak jatuh!”

“Ne . . .” Ha Won mempererat pegangannya di pinggangku.

Kuparkirkan motorku di depan halaman rumah, saat kami sampai motor Key sudah terparkir dengan baik di tempatnya.

“Jonghyung, ini rumahmu?” Tanya Ha Won saat dia turun dari motorku.

“Ne.” jawabku singkat.

“Tapi bukankah hari ini harusnya kita kerjakan tugas di rumahku?”

“Kau mendadak sekali memberitahu kami, dari kemarin aku dan Key sudah berencana untuk mengerjakannya di rumahku. Ayo masuk!” Ha Won mengikuti langkahku dari belakang. Saat kami masuk, sudah ada Key dan Taemin yang sedang bermain di ruang tamu.

“Kau lama sekali?” ucap Key saat kami masuk.

“Mianhae, aku tidak bisa melajukan motorku dengan kecepatan tinggi. Ha Won masih sakit.”

“Hyung dia kan . . . ?” ucap Taemin menggantung saat melihat Ha Won.

“Ne.” segera kupotong ucapannya. “Dia yang menabrakmu waktu di mall.”

“Annyeong . . .” sapa Ha Won ramah sambil membungkukkan badannya. “Mianhae waktu itu aku menjatuhkan ice cream milikmu.”

“Ne, gwaenchanayo!”

“Taemin, kau tidak ada tugas sekolah? Aku mau mengerjakan tugas sekolah, jangan ganggu kami. Masuklah kedalam kamarmu!” perintahku padanya. Dia langsung cemberut dan berlari masuk kedalam kamarnya.

“Jonghyun, kau tidak terlalu kasar pada dongsaengmu?” ucap Ha Won.

“Ani, justru dia yang lebih banyak menindasku. Kalau eomma ada di rumah, dia selalu memerintahku seenaknya.”

“Tapi tetap saja dia dongsaengmu.” Sambung Key.

“Sudahlah, kenapa kita jadi membicarakan dongsaengku. Kita langsung kerjakan tugas kita saja.”

Akhirnya semua tugas telah selesai. Besok adalah hari pengumpulannya.

“Key, antarkan Ha Won pulang! Aku tidak bisa meninggalkan Taemin sendirian di rumah untuk mengantarkan Ha Won.”

“Ne, tenang saja.”

“Ha Won, tidak apa-apa Key yang mengantarmu?”

“Ne.”

“Dan satu lagi, jaga kecepatan motormu! Ha Won masih sakit.”

“Ne ahjussi!” jawab Key sedikit mengejekku.

“Jonghyun, kami pulang dulu!” pamit Ha Won saat sudah berada di atas motor sport Key. Dan Key melambaikan tangannya dan lansung menancap gas motornya meninggalkan rumahku.

“Hyuuuunnnngggg . . .” teriak Taemin dari dalam rumah. Aku langsung berlari masuk mencari sosol Taemin.

“Waeyo?” tanyaku saat sudah menemukannya.

“Hyung, I wanna ice cream!” teriak Taemin.

“Kau teriak-teriak hanya karena ingin ice cream?” tanyaku tidak percaya. Dan dengan wajah innocentnya dia mengangguk dan tersenyum. Kugelengkan kepalaku karena kelakuan dongsaengku itu. “Kaja!” kalau aku tidak menuruti permintaannya, dia bisa teriak-teriak dan menangis sepanjang malam karena dia tidak bisa makan ice cream malam ini.

“Hyung, ternyata Ha Won nuna cantik juga. kau tidak tertarik padanya?” Tanya Taemin saat kami berjalan menuju mini market di ujung jalan.

“Ternyata kau sudah tahu yang mana gadis cantik.” Kuusap rambutnya lembut, dia tersenyum.

“Hyung jawab aku!” paksa Taemin.

“Jawab apa?”

“Kau tidak berniat menjadikannya yeoja chingumu?”

“Ani.” Jawabku enteng.

“Waeyo?”

“Dia sudah mempunyai namja chingu.”

“Kau mengenal namja chingunya?”

“Ani, aku hanya tahu tentangnya. Karena dia teman seangkatanku. Dia juga sering datang ke kelasku untuk menjemput Ha Won.”

“Tapi aku rasa, Ha Won nuna juga menyukaimu hyung.”

“Darimana kau tahu?”

“Tatapan seorang gadis tidak akan bisa berbohong. Apalagi saat dia sedang jatuh cinta.” Ucapnya tertawa.

“Kau ini anak kecil tapi kau seperti namja berumur dua puluh lima tahun.”

“Hyung, lihat!” Taemin menghentikan langkahnya, dan pandangannya menatap lurus kedepan.

“Waeyo?” kuikuti pandangan Taemin. Aku membulatkan mataku untuk memastikan apa yang aku lihat adalah salah.

“Itu, bukankah itu Ha Won nuna?” Tanya Taemin.

“Kaja!” kutarik tangan Taemin untuk melihat yeoja yang sanga mirip dengan Ha Won.

“Ha Won!” panggilku saat aku sudah dekat dengannya. orang itu membalikkan tubuhnya menghadap padaku.

“Jonghyun?” Ha Won tidak kalah kagetnya saat melihatku dan Taemin. “Apa yang sedang kalian lakukan disini?” tanyanya gelagapan.

“Taemin ingin makan ice cream. Kau sendiri sedang apa?”

“Aku . . . aku . . .”

Kuajak Ha Won untuk makan di sebuah kedai, dan Taemin kubiarkan bermain dengan sebuah mesin bonek yang ada di kedai itu.

“Ha Won, katakan padaku apa yang sedang kau lakukan di toko itu?”

“Jonghyun, aku mohon kau tidak memberitahukan hal ini pada siapapun!”

“Ne, yaksok!”

“Aku bekerja part time disana.”

“Untuk apa, bukankah keluargamu berkecukupan?”

“Memang, tapi itu semua bukan milikku. Itu milik orang tuaku. Aku ingin membelikan sebuah hadiah special di hari ulang tahun Minho bulan depan nanti. Aku ingin membelikan sebuah hadiah dari hasil kerja kerasku sendiri.”

“Ha Won, kau sangat mencintai Minho?” tanyaku lemas.

“Ne, tentu saja. Dia sangat baik padaku, dia tidak pernah menyakitiku. Dia selalu menemaniku disaat aku merasa kesepian. Dia adalah teman pertamaku.”

“Teman pertama?” tanyaku heran.

“Ne, dulu saat pertama kali masuk sekolah aku termasuk anak yang pendiam. Maka dari itu aku tidak mempunyai teman, aku selalu menyendiri di taman belakang sekolah.”

Flash Back

Ha Won POV

Seperti biasa, setiap jam istirahat aku selalu datang ke taman belakang sekolah ini. Taman ini memang tidak terurus karena jarang sekali siswa yang datang kesini. Atau mungkin memang tidak ada. Disana ada sebuah kolam kecil dengan sebuah bangku di pinggirnya. Aku langsung duduku disana sambil memakan bekal makan siangku.

“Hei . . .!” panggil seseorang yang berhasil mengagetkanku sehingga aku menjatuhkan makan siangku, padahal aku baru memakannya satu suap saja.

“Ya!” teriakku langsung berbalik menghadapnya. “Apa yang kau lakukan?” teriakku. Kulihat matanya sedikit melirik makananku yang jatuh bertebaran ke tanah. Lalu tiba-tiba saja dia memberikan kotak makanan miliknya padaku. “Apa ini?”

“Ini untuk menggantikan makananmu yan aku buat jatuh itu.”

“Tidak usah.” Jawabku ketus dan hendak meninggalaknnya tapi dia segera menahan tanganku.

“Temani aku makan!” ucapnya. Kumiringkan kepalaku untuk sedikit mencerna kata-katanya. Lalu tiba-tiba saja dia menarik tanganku dan duduk di bangku yang kududuki tadi. Dia membuka kotak bekal makanannya. Ada berbagai macam menu makanan di dalamnya. Aku saja hampir menganga karena melihatnya, tapi tidak kulakukan itu karena aku harus menjaga imageku sebagai seorang yeoja. “Aku sengaja membuat banyak karena aku ingin makan bersamamu.” Ucapnya datar.

“Mwo?”

“Aku sering memperhatikanmu yang selalu datang kesini setiap jam istirahat, kenapa kau selalu kesini? Kau tidak bermain bersama teman-temanmu yang lain?”

“Itu bukan urusanmu.” Jawabku ketus lagi.

“Namaku Minho, Choi Minho.” Dia memberikan tangan kananya untuk kujabat. Awalnya kuragu untuk menyambutnya, tapi hati kecilku berkata lain.

“Namaku Ha Won, Kang Ha Won.”

“Ayo makan, nanti keburu dingin. Tidak akan enak.”

Semenjak hari itu, aku dan Minho menjadi teman. Atau lebih tepatnya sahabat. Kami selalu pergi ke taman belakang bersama-sama setiap jam istirahat tiba. Karena kami sering bertemu, lama-kelamaan menumbuhkan rasa sayang di antara kami. Berkatnya pula, kini aku sudah bisa bersosialisasi dengan teman-teman sekelasku.

Tepat saat hari ulang tahunku yang ke enam belas, dia menyatakan rasa cintanya padaku. Saat itu aku merasa sangat bahagia karena ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan.

Flash Back End

Jonghyun POV

Seketika itu juga saat mendengar cerita Ha Won aku langsung merasa lemas. Sepertinya tidak ada harapan lagi untukku mendapatkan hati Ha Won. Dia sangat mencintai Minho.

“Jonghyun!” panggil Ha Won membuyarkan lamunanku.

“Ye?”

“Kau melamun?”

“Ani . . .” jawabku kikuk. “Ha Won, aku pulang dulu. Kau semangatlah!” kupanggil Taemin untuk segera pulang. Lama kelamaan bersama Ha Won, aku bisa saja menangis karena telah mendengar kenyataan bahwa aku tidak mempunyai harapan lagi untuk mendapatkan Ha Won.

“Hyung, kenapa cepat sekali pulangnya?” Tanya Taemin padaku sambil memasang wajah kesalnya.

“Sudah malam.” Jawabku datar tetap terus meandang ke depan.

“Kau kenapa hyung?” tanyanya curiga.

“Ani, ayo cepat pulang! Aku masih ada tugas yang harus aku kerjakan.” Kutarik tangannya sambil setengah berlari agar dia tidak terus-terusan bertanya.

“Hyung, pelan-pelan! Kau mau menyakiti tanganku yang mulus ini?” tak kupedulikan apa yang dikatakannya, aku terus menarik tangannya.

Sampai di rumah aku langsung masuk kedalam kamar dan menguncinya pintunya agar Taemin tidak bisa masuk.

“Hyung . . . hyung . . . buka pintunya . . .!!” tak kuhiraukan panggilan Taemin. Kupasang headshet di telinga dan memasang music agar aku tidak bisa mendengar suara Taemin yang terus berteriak-teriak.

@@@@@

Sinar matahari dengan bebasnya masuk kedalam kamarku melalui jendela kamar sehingga menyilaukan mataku. Kulirik jam kecil yang berada di meja samping tempat tidurku. Jarum jam mengarah pada angka Sembilan. Untung saja hari ini hari Minggu jadi aku bisa santai di rumah.

“Jonghyun . . .!” terdengar suara eomma memanggilku dari luar. Kulangkahkan kakiku menuju pintu dan membukanya. “Ini sudah siang, mau sampai kapan kau tidur? Cepat mandi, hari ini appa akan mengajak kita ke rumah rekan bisnisnya.” Ucap eomma.

“Bisakah aku tidak ikut eomma!” jawabku malas.

“Andwae, kau harus ikut. Sekarang cepat kau mandi!”

“Ne . . .”

Dalam waktu 30 menit aku sudah siap. Aku memakai celana jeans dan kaus berwarna merah dan kemaja kotak-kotak berwarna abu-abu. Aku segera menemui appa dan eomma yang seudah menungguku di ruang tamu.

“Kau sudah siap? Ayo kita berangkat. Jangan sampai mereka menunggu kita terlalu lama.” Ucap appa kemudian segera menuju mobil. Aku dan Taemin duduk di bangku belakang. Kurang lebih kami melakukan perjalanan selama 15 menit. Akhirnya kami sampai. Saat kami masuk kedalam halaman rumahnya, kami disuguhi dengan hamparan taman bunga yang luas. Aku dan Taemin sampai menganga melihatnya. Appa memberhentikan mobilnya di depan pintu masuk rumah ini. Ada beberapa orang yang aku yakini adalah pelayang rumah ini menyambut kedatangan kami.

“Tuan sudah ditunggu di dalam.” ucap salah satu pelayang pada appa. Pelayan itu mengnatar kami masuk. Saat masuk kedalamnya, rumah ini benar-benar luas. Langit-langit rumah yang tinggi dan lampu-lampu kristal yang bergatung indah di atasnya. Kami memasuki salah satu ruangan, disana sudah ada tiga orang yang sudah menunggu kami. Salah satu orang itu tersenyum saat melihat kedatangan kami dan langsung memeluk appa.

“Bagaimana kabarmu?” ucap orang itu.

“Ne, aku baik-baik saja. bagaimana denganmu?”

“Seperti yang kau lihat. Ayo duduk!”

“Kenalkan, ini anak-anakku.” Appa menarik tanganku dan Taemin untuk menemui orang yang memeluk appa tadi.

“Annyeonghaseyo!” ucapku dan Taemin bersamaan sambil membungkukkan badan.

“Lee Jonghyun imnida, bangapseumnida.” Ucapku.

“Lee Taemin imnida, bangapseumnida.” Sambung Taemin.

“Jongie, kau sudah besar. Dulu saat aku bertemu denganmu di Jepang kau masih sangat kecil.” Ucap orang itu kemudian memelukku. Aku hanya cengengesan karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku sama sekali tidak mengingatnya.

“Ahjussi, ahjumma lama tidak bertemu. Bagaimana kabar kalian?” tiba-tiba seorang namja bertubuh tinggi dan tegap mendekati kami.

“Kau . . .” kulihat appa tampak mengingat-ngingat sesuatu.

TBC . . .

8 thoughts on “I Wanna You Know Part 2”

  1. aigooo….. aku salah baca… aku belum baca yg pertama… jadi agak ngga nyambung….

    tapi, penasaran bgt deh jdinya…. O.o
    fighting! ^^

  2. wahhh ?? Itu itu itu ?? Itu jonghyun kemana ?? Ke rumah minho kah ?? Iya kah ??

    Aigooooo !! Penasaran bnget dehh. Btw, onew nya kaga muncul yaaaa ???

    Nice ff !! Ditunggu lanjutannya !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s