Hello Bihyul (Part 1 of 4)

AUTHOR : Yuyu a.k.a Younji

TITLE : Hello Bihyul Part 1

MAIN CAST :

Lee Jinki (SHINee)

Han Yoomin (Ocs)

GENRE : Romance

LENGTH : 1/4

RATING : PG-13

 

“ini gila! Kalian menyuruhku untuk menikah? Dengan orang yang bahkan sama sekali tidak kukenal? Katakan padaku kalau ini hanyalah lelucon.” Han Yoomin memprotes keras keinginan orangtuanya agar dia menikah.

“Yoomin-ah, ini demi kebaikanmu, percayalah.” Suara Nyonya Han terdengar memelas, setengah memohon.

“nan mideulsu eobseo! Aku tidak mau menikah dengan pria itu eomma, mengertilah.” Yoomin bersikeras dengan keputusannya.

“kau yang seharusnya mengerti, Han Yoomin. Tanggung jawabmu sebagai putri keluarga Han, dan sebagai eomma dari Han Bihyul, adalah untuk menyelamatkan keluarga Han dari kebangkrutan!” suara Tuan Han meninggi beberapa oktaf, campuran antara rasa kesal dan ketidakberdayaannya menyelamatkan perusahaan yang telah dirintisnya selama beberapa dekade, hingga mengharuskannya ‘menjual’ hanya satu-satunya putri keluarga Han yang dimilikinya saat ini. Yoomin mengertakkan giginya, rahangnya mengeras. Tanpa berkata-kata, Yoomin meninggalkan ruang keluarga dan beranjak ke lantai dua, ke kamar miliknya dan Han Bihyul.

Wajah Bihyul yang tertidur membuat Yoomin merasa sedikit lebih rileks. Jika bumi berhenti berotasi untuknya, maka Bihyul akan menjadi poros dan membuat kehidupannya kembali berputar. Apapun akan dilakukannya untuk putri kecilnya yang belum genap 4 tahun itu. Tapi pernikahan, terdengar sedikit gila bagi Yoomin.

Tidak pernah sekalipun terlintas dibenaknya untuk menikah, tidak sebelum ataupun sesudah Bihyul lahir. Tapi dengan alasan klise yang diberikan oleh orangtuanya, tentang bagaimana Bihyul akan tumbuh lebih baik dalam lingkungan orangtua yang lengkap—dalam artian memiliki ayah dan ibu—membuat pendiriannya sedikit goyah. Ditambah lagi keadaan keuangan perusahaan ayahnya yang semakin memburuk.

Dipikirkan berkali-kalipun, ia tetap tidak merasa hal itu masuk akal. Pertemuan orangtuanya dengan keluarga Lee minggu lalu langsung menyeretnya dalam pusara penderitaan yang pasti. Yoomin bisa mengerti jika keluarga Lee menginginkan Bihyul menggunakan marga Lee, bukan Han, karena bagaimanapun mereka adalah keluarga dari pihak ayah Bihyul.

***

“kalian sedang bercanda denganku?” Onew terperangah, refleksnya membuat ia langsung berdiri dari sofa yang didudukinya. Mendapatkan tatapan tajam dari Tuan Lee, Onew kembali duduk dengan mendesah keras.

“Jinki-ah, tidak ada salahnya kan kalau kau menikah? Cepat lambat kau pasti akan menikah juga.” Suara lembut Nyonya Lee yang biasanya selalu berhasil meredakan amarah Onew tidak berhasil kali ini.

“tapi aku baru berusia 22 tahun, eomma. Dan lagi karirku sedang menanjak, mana mungkin aku tiba-tiba saja menikah. Lagipula SM tidak akan mengizinkannya.” Onew mencoba berkilah, satu-satunya cara agar terlepas dari takdir yang tidak mungkin ini.

“Appa sudah membicarakannya dengan pihak SM, dan mereka sudah memberikan izin—jangan tanyakan bagaimana. Tidak ada alasan bagimu untuk menolak Jinki. Keluarga Lee hanya memiliki kau satu-satunya penerus, kami ingin kau segera menikah dan menghasilkan penerus lainnya untuk keluarga Lee.”

“aku pasti akan menikah, suatu saat nanti, tidak sekarang. menikah dengan orang yang sama sekali tidak kukenal sudah cukup membuatku gila, ditambah lagi kalian akan menikahkanku dengan seorang janda beranak satu? Ini lelucon terburuk yang pernah kudengar.” Cibir Onew, setengah mencemooh.

“jaga bicaramu, Jinki! Dia bukan janda—karena dia bahkan belum pernah menikah—dan anak yang kau sebut-sebut itu adalah keponakanmu sendiri, anak dari hyungmu.”

‘Hyung’

kata-kata itu terus terngiang dibenak Onew. Hyung yang tidak pernah dilihatnya lagi selama tiga 4 tahun terakhir, hyung yang telah meninggalkannya—dan semua orang yang menyayangi—karena kecelakaan pesawat saat menuju Jepang dalam perjalanan bisnis. Hyung yang sangat disayanginya lebih dari apapun. Tuan dan Nyonya Lee meninggalkan Onew sendirian di ruang keluarga, memberinya waktu untuk sendirian dan menenangkan diri.

Tetes demi tetes airmata mengalir lancar, mulutnya terkatup rapat menahan getaran yang dirasakannya. Ia ingat bagaimana hyungnya mengatakan padanya dengan wajah berseri-seri bahwa ia akan menjadi ayah dari anak yang dikandung oleh orang yang sangat dicintainya. Onew yang waktu itu masih SMA, ditambah lagi fakta bahwa ia tidak terlalu menyukai anak kecil—alergi(?)—tidak terlalu mengerti alasan yang mengharuskan hyungnya menjadi senang seperti itu. Tetap, Onew menyelemati hyungnya, ikut berbahagia atas apapun yang bisa membuat hyungnya bahagia.

Sambil merapikan barang-barangnya dalam koper yang selalu dibawanya untuk berpergian, Hyungnya berjanji Onew akan membawa wanita itu dan mengenalkannya pada mereka semua sepulangnya ia dari Jepang. Namun naas, itulah kalimat terakhir yang didengar Onew dari mulut hyungnya. Hyungnya sama sekali tidak pernah mengenalkan wanita itu pada mereka, hyungnya bahkan tak lagi berbagi kebahagiaanya dengan mereka.

***

Yoomin duduk dengan gelisah diruang rias. Hatinya menimbang-nimbang untuk mengikuti jalan pikirannya untuk kabur atau tidak. Tidak ada waktu lagi, ia memandang sekeliling. Ruangan kecil ini terasa sumpek bagi Yoomin, ditambah lagi gaun putih yang dikenakannya ini terasa sangat tidak nyaman.

“Oh ya, kabur saja kau Han Yoomin. Berlari ditengah jalan dengan menggunakan gaun ini, dan lihat apakah kau tidak terlihat mencolok karenanya.” Cemooh Yoomin pada bayangan dirinya di cermin.

“eomma yeoppo!” Bihyul berlari ke dalam pelukan Yoomin, gaun merah muda Bihyul berbenturan dengan gaunnya. Yoomin sedikit berjongkok untuk meraih Bihyul ke dalam pelukannya, berhati-hati agar tidak merusak gaun super mahal itu—meskipun ia tidak terlalu peduli.

“aigoooo~ Yoomin-ah, turunkan Bihyul. Jangan menggendong dia hari ini saja, itu tidak akan membunuhmu. Daripada gaun pengantinmu rusak, orangtuanmu bisa membunuhku!” omel Jihye, teman baik Yoomin sambil merebut Bihyul ke dalam gendongannya. Yoomin memberengut, tidak suka jika ada orang yang merampas Bihyul darinya

Benar, kenapa tidak kurusak saja gaun ini, sehingga pernikahan ini dibatalkan? Batin Yoomin kembali menatap bayangan dirinya dari balik cermin.

“jangan sekali-sekali kau berpikiran untuk melakukan hal aneh pada gaunmu. Untuk itulah aku di sini, mengawasimu untuk tetap bersikap waras.” Cerca Jihye seolah bisa membaca pikiran Yoomin.

Tuan Lee masuk, dengan tuxedonya yang rapi kemudian mengamit tangan Yoomin dan membawanya berjalan keluar dari ruang rias, menuju gereja. Detak jantung Yoomin seolah sedang berlomba, semakin lama berdetak semakin cepat. Hari ini akan mengubah semuanya, mengubah statusnya, mengubah jalan hidupnya.

Yoomin berjalan pelan-pelan, masih diiringi Tuan Lee yang tidak terlalu sempurna menutupi rasa gugupnya. Di ujung gereja, seorang pria terlihat sedang menanti kedatangannya. Punggung tegap pria itu tidak juga berbalik untuk menunjuk wajahnya, bukannya Yoomin begitu penasaran seperti apa pria itu akan terlihat. Apakah terdengar aneh jika Yoomin belum pernah melihat wajah pria itu? Tapi memang itu kenyataannya. Kisah hidup mereka berbeda dari pasangan lainnya yang menikah karena cinta, bahkan tak akan dipungkiri oleh Yoomin bahwa yang dirasakannya justru adalah perasaan benci. Pada langkah terakhirnya, pria itu membalikkan badannya—tidak menatap Yoomin—hanya untuk meraih tangan Yoomin yang disodorkan oleh Tuan Lee, membimbing Yoomin berdiri disampingnya.

“Lee Jinki-ssi, bersediakah anda menjadi suami dari Han Yoomin, selalu melindunginya dalam keadaan senang maupun sedih, dalam keadaan sehat maupun sakit?” pendeta mulai membacakan ikrar pernikahan. Keadaan gereja sangat hening, hingga Yoomin sendiri bisa mendengar nafas yang keluar masuk dari orang disebelahnya, nafas yang berat yang sama dengan yang dirasakannya saat ini.

“saya bersedia.” Jawab Onew dengan suara mantap, meski matanya menyiratkan keraguan yang teramat sangat.

“Han Yoomin-ssi, bersediakah anda menjadi istri dari Lee Jinki, selalu menemaninya dalam keadaan senang maupun sedih, dalam keadaan sehat maupun sakit?” ikrar pernikahan kembali dikumandangkan, kali ini giliran Yoomin yang harus menjawab. Yoomin jelas masih terlihat ragu—sangat ragu. Untungnya, akal sehatnya masih bisa berjalan, jika seandainya dia berani berkata ‘tidak’ bisa dipastikan ia harus menggali kubur untuk kedua orangtuanya.

“saya bersedia.” Suara Yoomin cukup pelan, tapi masih mampu untuk didengar oleh pendeta dan orangtuanya yang duduk dibarisan terdepan.

“dengan ini, kalian berdua dinyatakan sah sebagai suami istri. Lee Jinki-ssi, anda boleh mencium mempelai wanitanya sekarang.” perintah pendeta tersebut, membuat Yoomin terbelalak kaget. Terasa mengerikan bagi Yoomin jika harus memberikan ciuman pertamanya pada orang ini meski sekarang mereka telah menjadi satu atas nama Tuhan. Sepasang tangan besar merengkuh wajahnya, dengan takut Yoomin memejamkan kedua matanya, berdoa dalam hati agar apapun terjadi dan menghentikan kegilaan ini sekarang juga.

“berharap aku menciummu, eh? Mimpi saja.” Sahut Onew dingin. Yoomin membuka matanya, melihat bagaimana jarak antara dia dan ‘suaminya’ yang sangat dekat, hidung mereka bahkan saling menempel. Orang-orang yang tidak berada diposisi mereka pasti akan mengira bahwa mereka telah berciuman. Kenyataannya, bibir mereka bahkan tidak saling menyentuh.

Yoomin menarik kesimpulan, ia menemukan satu kesamaan antara mereka berdua yang harus terus dipupuk, yaitu Onew tidak menyukainya, dan ia juga tidak menyukai Onew.

***

Acara resepsi pernikahan berlangsung hingga cukup larut. Dengan banyaknya tamu undangan, wajar saja kalau setelah resepsi berakhir, baik Onew maupun Yoomin kehabisan banyak tenaga. Atas saran dari managernya, Onew memilih untuk tinggal terpisah dari member SHINee lainnya agar mereka—Onew dan Yoomin—bisa ‘bergerak’ bebas. Bukannya Onew tidak mengerti maksud kata bergerak yang diucapkan managernya, tapi ia memutuskan untuk membiarkan managernya berpikir sesukanya saja. Apartemen baru yang dicarikan oleh managernya cukup luas dan tidak terlalu jauh dari dorm SHINee, lagipula terdapat dua kamar di apartemen ini, hingga Onew tidak harus tidur sekamar dengan Yoomin, paling tidak dia tidak harus memaksa Yoomin untuk tidur di sofa.

Onew keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan sehelai handuk menggantung dilehernya. Ruangan apartemen terasa sangat sepi. Biasanya ia selalu mendengar suara berisik para dongsaengnya yang meributkan hal-hal tidak jelas.

Onew menggelengkan kepalanya, mencoba menyingkirkan bayangan-bayangan itu dari benaknya. Ia harus membiasakan diri tanpa kehadiran member SHINee setiap saat, seperti kemarin. Onew melewati pintu kamar Yoomin yang sedikit terbuka. Dari celah-celah pintu, bisa dilihatnya, Yoomin masih mengenakan gaun pengantin, sedang menidurkan Bihyul yang terlihat sangat lelah. Pemandangan itu terasa sangat asing baginya, ia tidak pernah melihat pemandangan seperti itu sebelumnya. Mengasuh anak kecil memang pernah dilakukannya demi acara Hello Baby, tapi yang dimiliki Yoogeun adalah 5 orang appa. Sekarang ia merasa seperti menyaksikan Hello Baby secara live, tapi dengan seorang eomma. Aneh, karena Onew tidak pernah terlalu suka berdekatan dengan bayi-bayi sehingga ia tidak pernah mau memperhatikannya dengan serius.

Onew memutuskan untuk tidur secepat mungkin, disamping rasa lelah yang menggerogoti seluruh tubuhya, ia masih punya setumpuk jadwal yang harus dikerjakannya esok hari. Ia bersyukur orangtuanya tidak memaksa ia untuk cuti dan pergi berbulan madu. Membayangkan hidup bertiga saja sudah membuatnya cukup ngeri, apalagi harus bersenang-senang bersama?

***

“hoaaam~!” Yoomin menguap pelan, berjalan dengan lunglai dari kamar mandi menuju dapur dan menuang segelas air kemudian meneguknya dengan cepat. Ia tertidur sangat larut semalam. Selain karena riasan dirambutnya yang susah sekali diurai, pergantian tempat tidur membuatnya tidak terbiasa dan kesulitan tidur. Untuglah Bihyul bisa tidur dengan tenang, tidak rewel.

Suara derap langkah yang semakin terdengar jelas membuat Yoomin yakin itu adalah Onew, berjalan tepat ke arahnya—dapur. Dengan mata yang masih menutup rapat, Onew duduk dan memangku dagunya dengan malas. Yoomin memperhatikannya dengan aneh, apakah dia ngelindur? Batin Yoomin.

“mana sarapanku?” Onew membuka matanya, balas menatap pandangan bingung Yoomin yang sudah berubah menjadi datar. Yoomin beranjak memeriksa kulkas, untuk mencari apa yang bisa dibuatkannya untuk sarapan. Dengan cepat Yoomin kembali mengalihkan perhatiannya pada Onew, “ kau tidak mau cuci muka dan mandi dulu sebelum sarapan?” tanya Yoomin dengan kedua alisnya yang saling bertautan.

“aku sangat kelaparan.” Tolak Onew, kembali memejamkan matanya. Yoomin berdecak pelan, lalu menghampiri Onew dan mendorong tubuhnya dengan kasar.

“yaaaaaaa!” Yoomin membalas tatapan Onew dengan garang dan menyuruhnya untuk mandi sebelum sarapan. Setelah sedikit berdebat, Onew menyerah dan akhirnya pergi mandi.

Sepiring omelet baru saja tersaji ketika bel apartemen berbunyi dan terdengar teriakan, “hyung! Kami datang!” dari luar apartemen.

Yoomin melepaskan celemeknya dengan kasar dan sedikit berlari untuk membukakan pintu. Dihadapannya berdiri 4 namja muda yang terlihat ceria.

“noona, annyeong~” sapa mereka bersamaan. Yoomin terlihat kikuk dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Bukan kikuk karena bertemu dengan boyband idola, tapi karena Yoomin memang tidak terbiasa dengan suasana ramai. SHINee? Baginya tidak lebih dari 5 orang pria yang bernyanyi dan menari diatas panggung. Ia sudah mengasuh Yoomin sejak 4 tahun lalu, bahkan sebelum anak-anak SHINee debut sehingga ia tidak punya banyak waktu untuk memuja-muja mereka, tidak juga boyband lainnya karena ia harus memusatkan perhatiannya 24 jam hanya untuk Bihyul.

“waaah~ omeletnya sangat wangi!” suara Key menghentikan lamunan Yoomin yang sekarang menyadari bahwa member SHINee telah berkerumunan di meja makan, tempat sepiring omelet yang baru saja dibuatnya diletakkan.

“noona, aku juga lapar, bisakah kau buatkan untukku?” pinta Taemin dengan manja.

“benar noona, kami belum sarapan, kami kelaparan.” Sahut Jonghyun.

Yoomin yang gelapan melihat ekspresi member SHINee menangguk pelan yang diikuti sorakan dari member SHINee. Dikenakannya kembali celemek yang tadi diletakkan begitu saja diatas kursi. Dikeluarkannya 4 butir telur dari dalam kulkas, kembali menyibukkan diri dengan kegiatan memasak yang memang menjadi kebiasaannya.

Omelet terakhir mendarat dengan sempurna diatas piring berwarna ungu, tepat saat Onew muncul dengan ekspresi bingung.

***

“kalian mengungsi ke sini? Key tidak memberi makan kalian?” canda Onew sambil mengambil tempat diantara dongsaengnya.

“Key eomma mogok masak hari ini.” Celetuk Jonghyun yang sudah mulai menyantap sarapannya. Sebuah jitakan mendarat dikepalanya dan membuatnya meringis pelan.

“ini kan gara-gara kau bangun terlambat tadi. Jangan protes!” omel Key yang diikuti suara tawa dari Taemin.

“eh, noona, kau tidak ikut makan?” suara Minho membuat semua orang menatap Yoomin, termasuk Onew.

“ah, nanti aku akan makan bersama Bihyul.”

“Bihyul belum bangun? Padahal aku ingin bermain dengannya.” Rengek Taemin. Dari sudut matanya, Onew melihat Yoomin tertawa kecil lalu melepaskan celemeknya dan melesak masuk ke kamar Bihyul.

“hyung, kau beruntung karena punya istri yang pintar masak.” Puji Key, membuat Onew berhenti memperhatikan Yoomin, memusatkan perhatiannya ke omelet yang menggugah selera dan berpura-pura tidak mendengar perkataan Key.

‘istri’ terdengar aneh baginya, ia bahkan tidak tau apapun tentang yeoja itu, kecuali kenyataan bahwa namanya adalah Han Yoomin, eomma dari Han Bihyul—Lee Bihyul—dan yeoja yang menjadi istrinya saat ini.

Setengah jam setelah sarapan, SHINee menaiki mini van yang membawa mereka untuk menjalan aktivitas yang sudah dijadwalkan jauh-jauh hari. Didepan gedung, masih saja banyak fans yang berkeliaran menunggu kedatangan mereka, beberapa diantaranya membawa banner bertuliskan Onew. Onew menghela nafas lega, pernikahannya disambut baik oleh para MVP. Sudah menjadi rahasia umum betapa ganasnya fans fanatik di Korea yang bahkan rela melakukan apapun agar idola mereka tetap menjadi milik mereka.

“hyung, kau harusnya bersyukur karena para Shawols masih tetap mendukung kita,” celetuk Key sambil berjalan masuk ke dalam gedung.

“benar hyung. Untung saja kau tidak diboikot.” Sambung Taemin yang berjalan di depan Onew.

“kurasa itu karena selama ini hyung tidak pernah digosipkan dengan siapapun. Untunglah hyung menikah dengan yeoja, jadi para fans tidak perlu takut kalau hyung adalah gay.” Komentar pedas Jonghyun membuat Onew berdecak pelan dan kemudian terkekeh. Mungkinkah para fansnya takut kalau dia tidak normal? Kecuali tentang alerginya pada anak kecil, tentu dia adalah pria normal.

Seluruh member SHINee asyik bercerita saat para stylist memoleskan makeup tipis diwajah mereka.

“hyung, kau kelihatan pucat. Kau baik-baik saja?” Taemin menyela ditengah-tengah suara tawa Onew.

“eh? Aku baik-baik saja. Mungkin hanya kecapekan semalam.” Onew menatap bayangan dirinya dicermin yang memang terlihat lebih pucat dari biasanya.

“waaah~ memangnya berapa ronde hyung?” Jonghyun terkikik geli mendengar pertanyaannya sendiri.

“ronde? Ronde apa hyung? Memangnya semalam hyung ngapain?” tanya Taemin dengan wajah polosnya.

“aduh Taeminie, kau tidak tau ya? Onew hyung kan baru saja menikah, jadi kau tau kan maksudku?” Jonghyun menyenggol pundak Taemin yang masih berpikir keras, lalu berubah pasrah dan menggeleng tidak tau. Jonghyun menggeram kesal dengan kepolosan Taemin .

“itu loh, yang biasa suami-istri lakukan.” Jelas Minho sesingkat mungkin. Taemin masih mencoba mencerna, dan akhirnya dia mengerti apa yang para hyung nya bicarakan..

“yaaaaa! Jangan bicara yang aneh-aneh, apalagi di depan Taemin. Kalian mau mencemari pikirannya ya?” Onew memukul Minho dan Jonghyun dengan sangat pelan. Key menangguk disamping Onew, tanda setuju.

“benar, jangan membicarakan hal ini di depan Taemin, dia kan masih di bawah umur. Nanti hyung ceritakan pada kami saat tidak ada Taemin saja ya?” Onew memutar bola matanya dengan pasrah mendengar kata-kata Key, ternyata semua dongsaengnya sama saja.

“hyung, nanti malam kami boleh main ke apartemenmu? Kami ingin bermain dengan Bihyul.” Sela Minho yang diikuti rengekan tanda setuju dari ketiga member lain.

“baiklah, akan kutanyakan apakah Yoomin keberatan atau tidak.” Onew mengeluarkan ponsel dari saku celananya, bersiap-siap untuk menelpon Yoomin. Gerakannya terhenti, Onew berpikir dengan keras dan akhirnya sadar bahwa dia tidak memiliki nomor ponsel Yoomin.

“sudahlah, kalian datang saja. Aku yakin dia tidak akan keberatan.” Sahut Onew tanpa mengungkit bahwa dia tidak tau nomor ponsel Yoomin.

***

“aku pulang…” suara Onew bagaikan cahaya harapan ditelinga Yoomin. Sosok Onew langsung muncul di ruang tamu, Yoomin berlari kecil ke arah Onew sambil menggendong Bihyul dan mendekati Onew.

“ya, ya, ya, ya, ya! Mau apa kau? Jauhkan dia dariku!” suara Onew terdengar panik, Onew berlari menjauh dari Yoomin secepat mungkin.

“yaaaaa! Berhentilah berlari! Aku hanya ingin kau menolongku menggendong Bihyul sebentar.” Cerca Yoomin tidak mau mengalah.

“kenapa harus aku? Kau kan eommanya! Jangan libatkan aku!” balas Onew. Yoomin menatap Onew yang masih bersembunyi dibalik sofa dengan tatapan kesal.

“tapi kau appanya sekarang, kau harus ikut menjaga Bihyul.” Yoomin bersikeras, masih mencoba untuk menyerahkan Bihyul pada Onew.

“andwea! Jauhkan dia dariku!” Onew berlari masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintu sebelum Yoomin dapat masuk dan mengejarnya.

“hei! Buka pintunya! Jagalah Bihyul sebentar, aku harus memasak makan malam.” Yoomin merengek dengan suara yang sangat memelas, berharap Onew akan sedikit iba padanya. tapi sia-sia, Onew bahkan tidak menjawab, hanya keheningan yang diberikannya.

“aissssh!” dengan geram Yoomin menendang pintu kamar Onew, cukup keras hingga menimbulkan suara gaduh yang mampu memancing respon Onew.

“Jangan rusak pintunya dengan kaki jelekmu!” Onew menggedor pintu dari dalam sebagai balasan.

“ada apa noona? Suara kalian terdengar sampai ke luar.” Suara yang masih cukup asing ditelinga Yoomin membuat ia mengalihkan perhatian dan membuatnya berhenti memikirkan cara untuk memaksa Onew keluar dari kamarnya. Dilihatnya 4 orang namja yang tadi pagi menumpang makan datang dengan masing-masing dua kantong belanjaan besar ditangan mereka. Minho yang bertanya pada Yoomin langsung meletakkan barang belanjaan di meja tanpa dikomando. Diikuti oleh member lainnya.

“Onew, dia tidak mau membantuku menjaga Bihyul sebentar saja. Padahal aku harus memasak makan malam.”

“kan sudah kubilang kau eommanya, jadi kau yang harus menjaga Bihyul!” suara Onew menyela dari balik pintu kamar yang masih terkunci rapat.

“aigooo, noona, kau tidak tau kalau dia alergi pada anak kecil?” Jonghyun terbelalak tidak percaya ketika melihat Yoomin menggeleng

“noona, jangan-jangan kau bahkan tidak tau siapa kami?” tanya Taemin sambil memicingkan matanya.

“ah, igeo~ aku hanya tidak terlalu ingat nama kalian saja.” Jawab Yoomin dengan senyum canggung.

“noona, kau harus melihat acara Hello Baby kami, jadi kau bisa tau separah apa penyakit Onew hyung pada bayi kami—para bayi.” Key meletakkan tangannya di pundak Yoomin dengan memasang ekspresi wajah yang berlebihan.

“aku tidak takut bayi, hanya saja aku tidak tau apa yang harus kulakukan dengan mereka.” Pintu kamar terbuka, Onew berdiri diambang pintu dengan pakaian yang berbeda dengan yang dikenakannya saat pulang tadi. Yoomin menyodorkan Bihyul ke arah Onew, dengan secepat kilat Onew berlari menjauh dari Bihyul dan mendapati seluruh ruangan dipenuhi dengan suara tawa semua penghuni ruangan apartemen itu, kecuali dirinya sendiri tentunya.

“biar aku yang jaga Bihyul, Noona memasak saja.” Minho meraih Bihyul dari pelukan Yoomin dan menggendongnya dengan baik.

“noona, berapa umurnya? Apa dia sudah bisa bicara?” Taemin merangsek mendekati Bihyul yang sedang asyik bermain bersama Minho dan ikut bergabung.

“memasuki 4 tahun, Bihyul belum bisa berbicara terlalu lancar.” Sahut Yoomin yang mulai mengenakan celemeknya dan bersiap memasak.

“wah, seperti Yoogeun dong!” teriak Jonghyun histeris. “oh ya Noona, kami membelikan beberapa sayur dan cemilan untuk kalian di supermarket di depan tadi, ucapan terimakasih karena sudah menampung kami untuk makan di sini.” Lanjut Jonghyun.

“gomawo. Yaaa, Lee Jinki, apa yang kau lakukan di sana?” Yoomin melihat Onew yang duduk santai sambil mengganti-ganti channel tv.

“jangan panggil aku Jinki, dan apa kau tidak lihat aku sedang menonton?” omel Onew, mengalihkan pandangannya ke arah Yoomin dibalik meja dapur.

“hyung, jangan seperti itu, harusnya kau ikut membantu. Aku akan membantu noona memasak, Taemin dan Minho akan menjaga Bihyul, sementara Jonghyun hyung akan membereskan meja, jadi mana boleh kau sendirian enak-enakan seperti itu ? Sebaiknya kau bereskan saja belanjaan ini.” Mulut cerewet Key berhasil membuat Onew beranjak dari duduknya, meskipun dengan ogah-ogahan.

***

Setelah puas bermain dengan member SHINee, Bihyul langsung tertidur pulas karena kecapekan. Keempat member SHINee pun sudah pamit pulang ke dorm mereka.

Yoomin membaringkan Bihyul ke atas tempat tidur dengan hati-hati, takut akan membangunkan Bihyul yang pasti akan membuatnya menjadi rewel kalau tidurnya terganggu. Yoomin menatap Bihyul sebentar, melihat wajah polos Bihyul yang selalu bisa membuatnya merasa senang, sebelum akhirnya ia keluar dari kamar dan mulai beranjak ke dapur untuk mencuci piring. Tidak terlalu banyak piring kotor yang tersisa, piring bekas makan malam sudah dicucinya dengan bantuan Minho, dan yang tersisa hanya beberapa piring cemilan dan gelas. Yoomin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, kemudian beralih ke ruang nonton yang tidak kalah berantakan. Kulit-kulit kacang bertebaran di mana-mana. Yoomin membawa kantong hitam besar untuk menyimpan sampah-sampah itu.

“omo!!” Yoomin mematung selama beberapa saat dan kemudian mengerjap tidak percaya, pria paling menyebalkan yang pernah ditemuinya dan sebisa mungkin tidak ingin digubrisnya saat ini tertidur di sofa dengan wajah yang sangat polos.

Aku tidak salah orang kan? Ini Lee Jinki kan? Kenapa dia jadi terlihat sangat polos kalau seperti ini? Yoomin bertanya-tanya dalam hati, melihat Onew tertidur sangat berbeda dengan Onew yang pernah dilihatnya sebelum ini, Onew yang galak dan jutek. Yoomin terhanyut dalam kesenangannya memperhatikan tiap-tiap lekuk wajah Onew, terasa seperti memperhatikan wajah tidur Bihyul. Bagaimanapun, Onew adalah adik dari appanya Bihyul, jadi wajar saja kalau mereka terlihat mirip dalam beberapa aspek, seperti lekuk wajah. Diam-diam, Yoomin tersenyum membayangkan jika Onew dan Bihyul tidur bersebelahan, tidak akan ada yang ragu kalau mereka adalah ayah dan anak.

“kalau kau terus melihatku seperti itu, kau akan jatuh cinta padaku…” suara Onew terdengar sedikit serak karena baru bangun, tapi tetap saja terdengar menyebalkan ditelinga Yoomin. Yoomin memberengut, menyesali apa yang baru saja dilakukannya—memperhatikan Onew saat ia tertidur dan membuat pria itu menjadi besar kepala.

“kyaaaaaaaa!” suara teriakan Yoomin terdengar bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh menimpa Onew diatas sofa, tangan kanan Onew menggenggam erat tangan Yoomin yang tadi ditariknya, sementara tangan yang lain melingkar erat dipinggang Yoomin, menahan agar Yoomin tidak kabur ke manapun. Beberapa helai rambut panjang Yoomin menggelitik pundak Onew.

“kenapa kau kabur? Kau tidak mau menemaniku, yeobo?” suara Onew berbisik sempurna ditelinga Yoomin menghembuskan udara hangat ke sekitar leher dan tengkuknya, andai saja Onew bisa melihat bagaimana perubahan warna wajah Yoomin yang nyaris semerah tomat. “apa sebaiknya kita mulai saja malam ini?” lanjut Onew masih setengah berbisik ditelinga Yoomin.

To Be Continue . . .

5 thoughts on “Hello Bihyul (Part 1 of 4)”

  1. chinguuuu
    akuuu suka bngt ff iniii
    aku ska bnget ff yg kmu buatttt
    mian bru smpet komeennn
    bru ol dri kompi sialnyaa
    map yya kmaren2 cma jdi silent readerss
    kekekkek
    klo ol dri kompi psti akuu komentt dhhh

    hwaitingggg
    smangatt nulisnya yyy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s