The Newest Girlband (News 7) Jihae’s Story

News 0 (Character) ¦ New 1 ¦ News 2 ¦ News3 ¦ News 4 ¦ News 5 (Namja POV) ¦ News 6 (Hyewon’s Story)

 

AUHTOR : Yuyu a.k.a Youn Ji

Cast :

  • The Rest of Super Junior member
  • The Rest of SHINee member
  • The Rest of Bigbang member
  • The Rest of SNSD member
  • So Hye Won (H:ART)
  • Lee Ji Hae (H:ART) a.k.a Kwon Ji yon
  • Kim Hee Mi (H:ART)
  • Berli (H:ART)
  • Lee Hyun Mei (H:ART)
  • Lee Hyun Min (Solo Singer)

 

JIHAE POV

Wajah Hyewon eonni terlihat berseri-seri sejak pagi tadi. Yah, mengingat kejadian semalam, dia pasti senang sekali. Aku dan Berli duduk bersebelahan di sofa. Sementara Berli asyik menonton tv, aku hanya melihat Hyewon eonni yang asyik mondar-mandir di dapur. Heemi berdiri menyender di konter sambil terus mengawasi Hyewon eonni. Karena penasaran aku beranjak ke dapur dan melihat apa yang sedang Hyewon eonni lakukan.

“Waaaah! Eonni memasak semua ini?” tanyaku tidak percaya. Ada banyak makanan di meja dan terlihat menggiurkan. Kuulurkan tanganku untuk mencicipi kimchi tapi dengan cepat Hyewon eonni memukul tanganku pelan.

“ini bukan untuk kalian.” Jawabnya ketus. Aku mengerutkan keningku tanda tidak mengerti, untuk apa dia masak sebanyak itu tapi tidak membiarkan kami memakannya?
”itu semua untuk Onew oppa.” Jawab Heemi sambil melihatku. Mulutku membentuk huruf O sempurna.

“tsk, untuk yang tercinta, eh?” godaku. Hyewon eonni hanya memukul lenganku pelan sementara wajahnya berubah merah. Aku dan Heemi tertawa berbarengan.

“Jihae eonni, ada telpon!!!!” teriak Hyunmei. Kutinggalkan Hyewon eonni yang masih ‘terbakar’ dan beranjak ke meja komputer tempatku meletakkan hp. Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer, Hyunmei menyodorkan hpku.

“yeoboseyo?” sapaku.

“kau ingat kan kalau hari ini kau harus syuting MV?” tanya suara diseberang telpon yang ku kenali sebagai suara Jiyong.

“ne, araseo.” jawabku dengan malas.

“pokoknya jangan telat!” Jiyong memutus saluran telpon bahkna sebelum aku bisa menjawabnya.

Kuambil tas ku dan memastikan barang-barang yang kuperlukan sudah tersimpan rapi di dalamnya lalu berpamitan dengan semua member. Diluar gedung, Younji eonni sudah menunggu di dalam van kami.

Aku agak gugup, karena hari ini aku akan membintangi MV. Dan bukan itu saja, yang lebih membuatku gugup adalah MV yang kubintangi itu milik Seungri dan aku harus berakting bersamanya. Semoga saja konsep MV nya bukan yang aneh-aneh.

 

AUTHOR POV

”Jihae-ya! Kau sudah datang?” Jiyong langsung menghambur ke tempat Jihae. Meski Jiyong tidak ada sangkut pautnya dengan MV kali ini, dia bersikeras ingin datang dan melihat proses syuting karena jadwalnya kosong.

Seungri menoleh dan bertatapan dengan canggung. Tidak hanya Jihae, Seungri juga merasa gugup karena harus berpasangan dengan Jihae. Ditambah lagi konsep MV romantis yang diberikan oleh scriptwritter sama sekali tidak membantu—malah memperparah keadaan.

Sutradara memanggil Jihae untuk bergabung bersamanya dan Seungri untuk membahas konsep MV.

“jadi, yang harus kalian lakukan adalah berjalan dengan santai dari ujung sana sampai ke sini. Sebisa mungkin, ciptakanlah suasana romantis. Di sini, kalian adalah dua orang yang sudah saling mencintai untuk waktu yang cukup lama hingga akhirnya perasaan kalian sama-sama terbalas. Okay?” jelas Sutradara Hwang. Jihae dan Seungri sama-sama mengangguk.

“Cue!” teriak sutradara, mengisyaratkan Jihae dan Seungri untuk mulai berjalan.

Meski mencoba untuk bersikap profesional, kedua orang itu merasa sangat canggung. Yang terlihat dikamera justru seperti dua orang asing yang bertemu dijalan—bukan sepasang kekasih yang saling mencintai.

“Cut!” teriak sutradara Hwang dengan gusar. “apa kalian terlihat seperti sepasang kekasih? Bersikaplah yang wajar dan jangan berjalan dengan jarak sejauh itu. Lebih mendekat lagi.” Perintah Sutradara Hwang dan lagi-lagi Jihae dan Seungri mengangguk mengiyakan.

“Jihae-ya, jangan gugup. Aku tau kau pasti bisa.” Jiyong mengepalkan tangannya dan menyemangati Jihae yang dibalas dengan senyuman.

“Cue.”

Seungri dan Jihae kembali berjalan. Kali ini dengan jarak yang lebih dekat dan lebih santai, tapi Seungri tertinggal selangkah dibelakang Jihae. Sutradara Hwang berdecak kesal, hampir saja ia berteriak Cut tapi segera berhenti ketika melihat Seungri meraih tangan Jihae dan menggenggamnya. Jihae terkejut dan berhenti melangkah. Seungri menyejajarkan langkah mereka berdua dan membimbing Jihae untuk terus melangkah.

Seungri menunduk untuk menatap Jihae. Tatapan yang sangat lembut—penuh dengan cinta menurut Sutradara Hwang.

Jihae membalas tatapan Seungri dengan ekspresi bingung—karena memang tidak disebutkan kalau mereka akan bergandengan tangan saat membahas konsep MV. Seungri tersenyum manis padanya, menimbulkan rona merah diseluruh wajah Jihae yang segera berpaling ke depan dan sedikit menundukkan kepalanya.

“Cut! Perfect!” teriak Sutradara Hwang sambil berdiri dari bangkunya. Ia merasa sangat puas dengan ekspresi Seungri dan Jihae, terlihat seperti sepasang kekasih yang memang benar-benar mabuk kepayang—meski Sutradara Hwang tidak tau bahwa mereka sama sekali tidak berakting. Ekspresi yang mereka tunjukkan adalah ekspresi yang memang nyata adanya.

Seungri segera melepaskan tangan Jihae dan berjalan ke tempat sutradara untuk melihat adegan yang baru saja direkam. Debar jantung Seungri berdetak sangat cepat meski ia sudah tidak menyentuh Jihae lagi.

Jihae merengkuh pipinya yang memanas dan bergumam pelan.

Sutradara Hwang membisikkan sesuatu pada Seungri yang berhasil membuatnya terbelalak.

“Kissu scene!!?” teriak Seungri. Jihae menoleh begitu mendengarnya.

“tenang saja, kalian hanya perlu berpura-pura karena sudut pandang yang akan diambil dari samping. Seungri akan memeluk Jihae dari belakang, yang perlu kalian lakukan memiringkan kepala kalian dan berpura-pura berciuman.” Jelas Sutradara Hwang sebelum kembali memulai syuting.

Jihae dan Seungri kembali bersiap di posisi mereka—masih dengan setting jalanan. Seungri berdiri dibelakang Jihae dan dengan canggung melingkarkan kedua tangannya dipinggang Jihae. Jihae terkesiap ketika tangan namja itu melingkar erat dan menariknya mundur selangkah hingga mereka saling bersentuhan.

“mianhae…” bisik Seungri pelan karena melihat Jihae sedikit tidak nyaman. Jihae hanya menangguk karena ia tidak mampu berkata-kata.

“Ready? Cue!” teriak Sutradara Hwang untuk yang kesekian kalinya.

Seungri kembali menatap Jihae yang sedikit mendongak ke belakang agar bisa menatap Seungri. Sebuah senyum terukir manis diwajah kedua orang itu sementara para kameraman sibuk mengambil adegan penting itu. Seungri mendaratkan dagunya dipundak Jihae dan memejamkan mata, terlihat sangat rileks dan bahagia.

“oke, adegan selanjutnya.” Pinta Sutradara Hwang.

Seungri dan Jihae masih berada di posisi yang sama, menunggu para kameraman untuk berputar ke samping mereka dan mengabadikan adegan ciuman untuk MV kali ini.

Seungri memajukan wajahnya ke arah Jihae yang terlihat gugup. Meski Seungri sendiri merasa sangat gugup, tapi ia tidak ingin NG hingga harus mengulang adegan ini berkali-kali—dan membuat mereka berdua lebih tidak nyaman lagi.

Seungri menutup matanya, berpura-pura mencium Jihae meski bibir mereka masih berjarak beberapa senti.

Teriakan oke dari Sutradara Hwang membuat mereka berdua lega. Syuting kali ini selesai tanpa mereka harus melakukan adegan-adegan romantis lainnya karena syuting berikutnya adalah syuting terpisah.

Tapi Sutradara Hwang merasa adegan ciuman mereka masih kurang nyata dan meminta mereka mengulangnya sekali lagi. Jika tadi yang difokuskan adalah ekspresi Seungri, maka kali ini Sutradara Hwang ingin fokus pada ekspresi Jihae.

Alhasil, mereka harus kembali ke posisi tadi, mengulang adegan super canggung yang mereka ingin hindari.

“jangan gugup, kalau kau gugup, syutingnya akan berjalan lebih lama.” Seungri mencoba menenangkan Jihae, tapi sia-sia. Kegugupan Jihae sama sekali tidak berkurang.

Dan, memang, mereka harus mengulang berkali-kali karena ekspresi Jihae yang dianggap kurang memuaskan oleh Sutradara.

Untuk yang kesekian kalinya, mereka mengulang adegan ini. Seungri kembali mendekatkan wajahnya ke arah Jihae yang matanya tertutup. Karena wajah Seungri tidak akan terekam untuk adegan ini, ia membuka matanya dan melihat wajah Jihae dengan seksama.

Ada sebuah dorongan dalam hatinya untuk mencium Jihae, merasakan bibir merah muda itu di dirinya. Seungri lupa pada segala hal disekitarnya, ia lupa bahwa ia sedang dikerumuni banyak orang, ia lupa bahwa ia sedang syuting MV karena yang ada dibenaknya saat ini hanyalah Jihae. Seungri memejamkan matanya, menempelkan bibirnya pada Jihae. Jihae terkesiap saat merasakan sesuatu yang lembab dan lembut dibibirnya, tapi ia tidak berani membuka matanya—ia takut kalau ia akan NG lagi dan harus mengulang adegan ini lagi. Jihae berusaha keras untuk terus menutup matanya, sementara tangannya mencengkram keduatangan Seungri yang melingkar dipinggangnya. Reaksi Jihae tidak luput dari sorotan kameraman.

Sutradara Hwang akhirnya merasa puas dengan adegan yang berfokus pada Jihae kali ini. Dirasanya ekspresi Jihae sudah terlihat seperti sedang melakukan first kiss dan tangan Jihae yang mencengkram lengan Seungri terlihat sangat cocok untuk adegan romantis itu.

Sutradara Hwang berteriak oke dan membuat Jihae menghembuskan nafas lega. Dengan Seungri melepaskan pelukannya dan berjalan ke tempat sutradara. Ia sendiri tidak percaya bahwa ia benar-benar telah mencium Jihae.

Apa yang baru saja kau lakukan Seungri? Maki dirinya sendiri.

Jihae melihat  ke sekelilingnya dan melihat tidak ada reaksi yang berarti dari para staf. Jihae mulai berpikir keras, apakah tadi Seungri memang tidak menciumnya, atau para staf yang terlalu sibuk hingga tidak menyadarinya?

Perasaan aneh itu masih berbekas di diri Jihae ketika ia merasakan bibir Seungri di dirinya. Jihae menyentuh permukaan bibirnya dan segera menurunkan tangannya begitu Jiyong berlari ke arahnya.

“yaaa, Jihae-ya, kau memang hebat!” teriak Jiyong dengan bangga sambil mengacak-acak rambut Jihae. Jihae memalingkan wajahnya dan melihat Seungri yang juga memandangnya dengan tatapan yang tidak ia mengerti. Jihae mengerutkan keningnya sesaat lalu Seungri memalingkan wajahnya, mencoba memfokuskan pikirannya pada adegan yang mereka rekam tadi meski ia merasa cemburu melihat Jiyong dan Jihae.

“aku harus pergi sekarang, masih ada latihan vokal.” Pamit Jihae pada Jiyong. Jiyong menawarkan tumpangan tapi Jihae menolak dengan tegas karena tidak ingin ada gosip lain yang menyebar.

***

“eon, kalian sudah datang?” Jihae berjalan menyusuri koridor SM sambil menempelkan hp ke telinganya. Setelah mendapat jawaban bahwa H:ART baru saja akan berangkat, Jihae memutuskan saluran telpon dan terus berjalan ke ruang latihan mereka.

“Jihae-ah!” sebuah suara dari ruangan yang dilewati Jihae memaksa Jihae untuk mundur beberapa langkah dan melihat Eunhyuk berada didalam ruangan, penuh dengan keringat.

Sekarang setiap kali ia melihat Eunhyuk, entah kenapa bayangan Hyunmin juga ikut muncul dalam benaknya dan membuat hatinya terluka. Tapi Jihae tetap memaksakan senyum dan menghampiri Eunhyuk.

“oppa annyeong.” Sapa Jihae seperti biasa.

“hmm, aku sudah dengar gosip itu—gosip kau dan Jiyong. Younji noona pasti mengomelimu habis-habisan. Apalagi Sooman songsaenim.” Eunhyuk menatap Jihae dengan pandangan simpati. Jihae mendekati Eunhyuk, lalu duduk disampingnya.

“apa yang oppa pikirkan pertama kali ketika melihat gosip itu?” tanya Jihae penuh harap, harapan yang mungkin sia-sia, tapi ia tetap menginginkan jawaban.

“kupikir, ‘ah, Jihae pasti sangat menderita sekarang.’”

Jihae tersenyum kecil menanggapi pernyataan Eunhyuk. Ia senang Eunhyuk memperhatikan dirinya, tapi bukan itu jawaban yang sesungguhnya ia inginkan. Ia ingin Eunhyuk sedikitnya merasa cemburu atau setidaknya bertanya-tanya apakah gosip itu benar atau tidak.

Gosip antara dirinya dan Jiyong sudah mulai teredam dengan sendirinya, para wartawan sudah mulai bosan untuk menanyai dirinya tentang gosip itu. Selain itu, member H:ART dan Younji sudah tau hubungan mereka sesungguhnya, jadi sama sekali tidak masalah bagi Jihae.

“oppa, aku harus pergi dulu, harus latihan  vokal untuk pertunjukkan minggu depan.” Sahut Jihae sambil berdiri diikuti Eunhyuk.

“Melon Music Festival? Wah, Superjunior juga akan tampil. Sampai bertemu minggu depan, Jihae-ah.”

***

“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Jiyong saat melihat Seungri yang lagi-lagi tidak merespon kata-katanya. TOP, Daesung, dan Taeyang ikut melihat Seungri dengan seksama.

Pikiran Seungri bercabang-cabang. Antara rasa sukanya pada Jihae, hubungan Jiyong dan Jihae serta adegan ciuman yang mereka rekam tadi pagi. Sejak gosip Jiyong-Jihae meluap, dan ketika Seungri pulang ke dorm dan langsung mengunci dirinya sendiri, para hyung nya sudah bisa mencium ada gelagat aneh dari Seungri.

“ne, nan gweancana.” Jawab Seungri seadanya. Sementara TOP, Daesung dan Taeyang saling berpandangan dengan tatapan ‘aku tau kau berbohong’, Jiyong terlhiat sedikit frustasi dan mengeram membuat seluruh member terkejut.

“AISSSSSSH! Gotjimal. Aku tau kau jadi begini karena gosip itu kan? Araseo, aku akan memberitaukan yang sebenarnya pada kalian, terutama kau Seungri. Jadi dengarlah baik-baik.”

Mereka semua mengerutkan kening, heran karena tiba-tiba saja Jiyong berbaik hati ingin menceritakan bagaimana hubungan antara Jihae dan dirinya.

“Aku dan Jihae, kami sebenarnya …”

 

SEUNGRI POV

Aku melangkah sambil terus berpikir, apakah seharusnya aku menemui Jihae dan memberitaukan padanya kalau aku sudah tau hubungan dia dan Jiyong hyung yang sebenarnya?

Tapi, meskipun sekarang aku tau hubungan mereka, apa gunanya? Toh seperti yang dikatakan Jiyong hyung, Jihae tidak akan pernah menyukaiku karena dihatinya sudah ada namja lain.

“yaaa, Seungri-ah, kau mau ke mana?” panggil TOP hyung sambil menjulurkan tangannya ke hadapanku.

“huh?” tanyaku bingung. TOP hyung balik menatapku tanpa memberi penjelasan. Aku melihat ke depan dan menyadari aku hampir saja menabrak lighting kalau saja TOP hyung tidak mencegahku. TOP hyung menggelengkan kepalanya dan kembali melihat ke atas panggung.

Disana, berdiri lima orang yeoja yang mulai menari dan bernyanyi. Mataku tidak pernah beranjak sedetikpun dari seorang yeoja berambut cokelat bergelombang. Berapa kalipun, berapa lama pun, debaran jantung yang kurasakan ketika melihatmu selalu sama, berdetak sangat cepat seakan-akan tidak ada hari esok lagi.

Apa yang harus kulakukan agar kau juga membalas perasaanku? Atau apa yang harus kulakukan agar aku bisa melupakanmu?

H:ART selesai menyanyikan lagu mereka dan membungkuk pada para fans. Jihae turun dari panggung yang berlawanan arah dengan tempatku berdiri diikuti member lain. Lihat? Inilah dunia kami, tidak pernah bisa saling bersinggungan.

Seungri, hadapilah kenyataan, jangan jadi pengecut, batinku.

“hyung, aku akan segera kembali.” Kutepuk pundak TOP hyung dan langsung berlari kecil ke ruang rias.

Setidaknya sebelum aku benar-benar menyerah, aku harus menyerahkan sesuatu pada Jihae, sesuatu yang aku ingin agar dia memiliknya.

Ada beberapa artis yang belum tampil dan masih asyik bersemayam dalam ruang rias. Kuedarkan pandanganku dengan cepat dan mencari sosok Jihae.

“Jihae-ah, bisa bicara sebentar?” tanyaku setelah menemukan sosoknya tengah memasukkan beberapa barang ke dalam tas nya. Ia terlihat terkejut, tapi mengangguk kecil dan mengikuti keluar ruang rias.

Jihae berjalan pelan dibelakangku tanpa bersuara.

“kau akan pulang sekarang?” tanyaku mencoba untuk berbasa-basi. Jihae mengangguk pelan masih sambil tertunduk dan mengenggam tasnya dengan erat.

“hubungan kau dan Jiyong hyung, aku sudah tau. Seminggu yang lalu hyung memberitaukannya padaku.” Aku tidak mengharapkan akan ada reaksi berarti dari Jihae, tapi setidaknya aku ingin dia tau kalau aku sudah tau semuanya. Kami berjalan beriringan dengan sangat pelan, bahkan rasanya kami belum beranjak sejauh 1 meter sejak tadi.

“jinjja? Jiyong memberitaukannya padamu?” diluar perkiraanku, Jihae merespon.

“hmm.” Aku bergumam pelan, “harusnya kau katakan sejak awal kalau kalian bersaudara. Kau membuatku terlihat seperti orang bodoh, Kwon Jiyon.” Kataku dengan nada bercanda, tapi Jihae kembali menunduk untuk menatap jari-jarinya yang bergerak gelisah.

“jangan merasa bersalah, itu hakmu untuk tidak memberitaukannya padaku. Aku bukan siapa-siapa, jadi untuk apa kau memberitaukannya padaku, benar kan?” Jihae mendongak dengan cepat, merasa heran bagaimana aku bisa tau apa yang dirasakannya. Oh my, aku sudah menyukaimu sejak kau baru saja menjadi trainee dan sudah mengenalmu cukup lama untuk tau semua gerak-gerikmu, Jihae, naui pabo yeoja.

“aniya, jangan berkata begitu, Seungri-ah. Aku terpaksa menutupi identitasku sendiri karena aku tidak ingin orang-orang melihatku sebagai adik G-Dragon, tapi aku ingin semua orang melihatku sebagai diriku sendiri. Dan, bukannya hanya kau yang tidak kuberitau, bahkan member H:ART pun awalnya tidak tau, dan aku baru saja memberitaukan pada mereka beberapa hari lalu.” Jelas Jihae panjang lebar, terlihat sedikit salah tingkah.

“apakah mereka bisa menerimanya? Mereka tidak marah atau menghukummu kan?” tanyaku panik. Bisa saja member H:ART merasa tidak terima karena dibohongi oleh Jihae dan melakukan sesuatu kan? Jihae menatapku selama beberapa detik lalu tawanya meledak.

“aniya, mereka tidak mungkin seperti itu. Mereka itu keluargaku yang sangat baik.” Katanya disela-sela suara tawanya yang masih meledak. Kuhembuskan nafas lega karena sepertinya cerita Jihae berakhir happy ending.

“baguslah kalau begitu. Ah, dan satu lagi, siapapun kau, semua orang akan tetap memandang dirimu apa adanya, bukan sebagai adik G-Dragon atau apapun  karena kau memang punya bakat. Teruslah bersinar diatas panggung dan buat semakin banyak orang tidak bisa melepaskan pandangan mereka darimu.” Kuangkat tanganku dan mendaratkannya dipuncak kepala Jihae sambil mengacaknya pelan. Jihae menatapku, lalu memalingkan wajahnya dengan gugup.

Bayangan kejadian seminggu lalu ketika di kamarku ikut terbayangkan olehku. Aku berdeham kecil sebelum menyingkirkan tanganku dan mendorong Jihae pelan.

“pulanglah, sudah malam.” Jihae mengangguk dan berjalan keluar.

Kuletakkan tanganku didepan dada dan merasakan debaran jantungku sendiri, berdetak sangat cepat.

 

AUTHOR POV

Seungri bersiap kembali ke belakang panggung dan bergabung bersama member Bigbang lainnya sebelum seluruh hyungnya mengomel karena dia terlambat. Seungri memasukkan keduatangannya ke dalam saku celana dan berbalik. Sesuatu yang dingin menyentuh ujung jari Seungri dari balik saku celana. Dikeluarkannya barang itu, sebuah cincin.  Cincin yang dilihatnya saat ia sedang syuting CF didaerah sekitar Namsan yang langsung menarik perhatiannya dan membuat ia berpikir bahwa cincin itu akan terlihat sempurna jika disematkan dijari Jihae.
Ia hampir saja akan memberikan cincin itu pada Jihae, kalau saja ia tidak melihat gosip Jihae-Jiyong. Tapi, bagaimanapun, cincin itu dibelinya untuk Jihae, apapun alasannya ia tetap ingin memberikan cincin itu padanya.

Seungri berlari dengan cepat—mengejar Jihae—ia takut kalau Jihae sudah naik ke dalam vannya dan pulang.

Seungri berhenti berlari setelah yakin Jihae belum pulang, Jihae tengah berdiri, menatap lurus ke depan hingga ia bahkan tidak sadar bahwa Seungri berjarak 1 meter darinya. Seungri mengikuti arah pandangan Jihae, dilihatnya Eunhyuk dan seorang yeoja—Hyunmin—sedang berciuman. Tubuh Jihae sedikit bergetar sebagai akibat dari campuran emosi dan rasa dingin yang menyentuh kulitnya. Seungri mendekati Jihae, mengulurkan tangannya dari belakang dan menutup kedua mata Jihae, menghalangi pandangan yeoja itu dari apa yang dilihatnya sebelumnya.
”uljima…” bisik Seungri. Jihae tidak menjawab, tubuhnya masih bergetar. Seungri tidak suka melihat yeoja yang disukainya menangisi namja lain, tapi ia tau bagaimana rasanya bertepuk sebelah tangan.

“sekarang, aku masih berada di sini untuk melindungimu. Tapi kelak, aku tidak akan bisa lagi melindungimu seperti ini. Bagaimanapun, yang akan kau lihat adalah kenyataan, apakah kau berani menerimanya?” lanjut Seungri. Perlahan-lahan, diturunkan tangannya yang dari tadi menghalangi pandangan Jihae. Tangan Seungri merosot disamping tubuhnya sendiri, Jihae masih memejamkan matanya, tidak berani kembali melihat ke depan. Tapi ia setuju dengan Seungri, bagaimanapun, ini adalah kenyataannya, ia seharusnya berani menghadapi hal itu. Jiahe membuka matanya sedikit demi sedikit, bayangan buram terbentuk didepan matanya, tapi Jihae terlalu takut untuk melihat dengan jelas. Ia memutar balik tubuhnya dengan cepat hingga menghadap Seungri dan terisak pelan.

Seungri melingkarkan keduatangannya pada tubuh Jihae, memeluknya dengan erat.

“kajja, kuantar sampai ke van-mu.” Seungri menarik tangan Jihae dan menuntun Jihae yang mengikuti Seungri begitu saja. Sekali lagi, Seungri menoleh kebelakang untuk melihat Eunhyuk dan yeojanya yang tenggelam dalam dunia mereka sendiri hingga sampai sekarang tidak menyadari kehadiran orang lain disekitarnya.

Diam-diam Seungri merasa cemburu, kenapa harus dia? Kenapa kau harus menyukai Eunhyuk, bukan aku? Batin Seungri.

“berhentilah menangis, kalau tidak para member lainnya akan ikut mengkhawatirkanmu.” Bujuk Seungri begitu mereka sudah berdiri di depan van milik H:ART. Jihae menghapus sisa-sisa airmatanya dengan cepat.

“go—gomawo, Seungri-ah.”

“cheonmaneyo, bukankah itu gunanya teman?” balas Seungri, sedikit kesulitan untuk mengatakan kata ‘teman’. Tapi tanpa diketahuinya, kata ‘teman’ itu juga memberikan dampak bagi Jihae, ia merasa dirinya dan Seungri menjadi asing dengan kata itu.

“ah, aku ingin memberikan sesuatu padamu—“ tidak ingin melupakannya lagi, Seungri meraih cincin itu dan meletakkannya digenggaman tangan Jihae, “—dan kumohon jangan tolak hadiahku. Kau boleh hanya menyimpannya saja, atau bahkan membuangnya, tapi setidaknya biarkan aku melihatmu menerima hadiah itu dan aku akan selalu mengingat bahwa Jihae telah menerima hadiahku.”

Belum sempat Jihae bereaksi, Seungri sudah berlari masuk ke dalam sambil melambai pada Jihae.

Yah, akhirnya Seungri berhasil melepaskan Jihae, orang yang sangat disukainya. Ia tidak tau butuh berapa lama agar ia bisa melupakan Jihae, tapi setidaknya ia sudah membiarkan Jihae pergi dari kehidupannya.

***

Malam semakin larut dan angin bertiup semakin kencang. Jihae memakai jaket tebal, menyalakan penghangat dan menyesap segelas cokelat hangat untuk membuat tubuhnya semakin hangat.

Sudah lewat tengah malam, tapi ia belum mengantuk dan memutuskan untuk menonton, atau melakukan apapun agar ia merasa mengantuk dan segera terlelap. Tidak ada siaran yang menarik dini hari seperti ini. Jihae melemparkan remote tv dengan kesal diatas sofa dan mengeluh pelan hingga ia teringat pada hadiah yang diberikan oleh Seungri untuknya masih tersimpan rapi dalam saku jaketnya.

Sebuah cincin, batin Jihae, cincin yang sangat cantik. Perasaannya gelisah mengingat kejadian semalam, tapi yang diingatnya bukanlah Eunhyuk melainkan Seungri. Ia merasa Seungri sedikit berbeda ketika itu. Seungri yang dikenalnya selalu saja bersikap konyol dan terlihat kekanak-kanakan. Tapi malam itu berbeda, Seungri terlihat jauh berbeda dari sebelumnya dan terasa asing.

Jihae memegang puncak kepalanya, tempat Seungri mengelusnya waktu itu. Tidak ingin diakui oleh dirinya sendiri, tapi itu memang terjadi. Ia berdebar kencang ketika itu.

Atau ketika Seungri mendekapnya, membiarkan tangisannya teredam dibalik kehangatan tubuhnya, lagi-lagi debar jantung Jihae menggila, ia bahkan hampir melupakan bahwa ia baru saja melihat orang yang disukainya sedang berciuman dihadapannya.

Perasaan yang sangat hangat menyebar diseluruh tubuhnya hanya dengan mengingat semua itu, hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—bahkan tidak pada Eunhyuk sendiri. Tapi satu kata dari Seungri, membuat Jihae sedikit kehilangan, ‘teman’.

Tiba-tiba saja ia merasa takut kehilangan Seungri. Orang yang selama ini selalu ada setiap kali ia membutuhkan seseorang, orang yang selalu memperhatikannya lebih dari apapun.

“eh, Jihae-ah, kau belum tidur?” Hyewon muncul dari pintu masuk dorm mereka sambil menenteng beberapa paperbag. Jihae terkesiap dari lamunannya sendiri dan segera menghampiri Hyewon, membantunya membawa paperbag itu kedapur.

“berkencan dengan Onew oppa lagi?” tanya Jihae tidak ingin menjawab ataupun membicarakan kondisi dirinya saat ini dengan siapapun.

***

Jihae menatap bayangan dirinya di cermin. Disentuhnya ujung rambut cokelatnya yang kini hanya sebahu. Rambut panjang yang sengaja dirawatnya dengan baik karena Eunhyuk bilang ia menyukai yeoja berambut panjang. Sekarang ia merasa konyol, kenapa ia harus bersusah payah memanjangkan rambutnya dulu?

Suara tawa dari pintu masuk salon membuat Jihae mendelik dari cermin untuk melihat orang yang baru saja masuk.
”Seungri?” bisik Jihae pada dirinya sendiri, setengah tersenyum. Sudah beberapa minggu ia tidak bertemu lagi dengan Seungri. Tapi senyumnya segera memudar ketika melihat seorang yeoja bergelayut mesra dilengan Seungri.

“ah, Jihae-ah! Annyeong!” sapa yeoja itu sambil melambai padanya. Jihae merutuk dalam hati, padahal ia ingin pura-pura tidak melihat kedatangan kedua orang itu dan menyusup keluar saat mereka tidak menyadarinya. Tapi habislah seakarang, Seungri sudah melihatnya dengan tidak percaya karena potongan rambutnya yang sangat berbeda.

“Tiffany eonni, anyeong.” Sapa Jihae sesopan mungkin.

“woaaaah~ kau memendekkan rambutmu? Apakah ini untuk konsep album baru kalian?” tanya Tiffany tidak percaya.
”aniya, aku hanya sedang ingin mengganti suasana hati saja.” Jawab Jihae sambil melirik Seungri yang masih terdiam. Pandangan Jihae beralih ke kedua lengan orang itu lalu beralih ke Tiffany.

“Jihae-ah, temani Seungri sementara aku mencuci rambutku ya?”

“ya, noona!!” Tiffany mengerling dan langsung meninggalkan Jihae dan Seungri yang terlihat canggung.

“rambutmu… apakah karena Eunhyuk-ssi?” tanya Seungri.

“ani..” jawab Jihae singkat. Seungri meneliti wajah Jihae dengan seksama, terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Karena Eunhyuk, pikir Seungri. Tatapan Seungri turun dan jatuh pada jari-jari Jihae. Tidak ada cincin yang tersemat dijarinya. Seungri sudah tau, Jihae tidak mungkin akan memakai cincinnya, tapi perasaan kecewa tetap saja tumbuh.

YAAAA! Seungri, bukankah kau sudah melepaskannya? Untuk apa lagi kau memikirkan hal tidak berguna seperti itu? Omel Seungri pada dirinya sendiri.

“kau dan Tiffany eonni, bagaimana kalian bisa datang bersama? Tanya Jihae sedikit berhati-hati. Ia tidak ingin terdengar seperti orang yang cemburu atau apapun, hanya bertanya sebagai bentuk basa-basi. Tapi entah mengapa ia justru mendengar nada suaranya yang sangat aneh, tidak seperti basa-basi biasa.

“tadi pagi noona menelponku dan memintaku menemaninya.” Jawab Seungri santai.

Bahu Jihae merosot turun, apakah Seungri memang selalu baik pada semua orang? Jihae bertanya-tanya dalam hati tapi tidak ingin menyuarakannya.

***

Jihae menekan bel dorm Bigbang berkali-kali tapi masih belum ada tanggapan dari pemiliknya. Baru saja Jihae akan kembali menekan bel, Seungri muncul di depan pintu sambil menguap lebar dan mengucek matanya dengan rambutnya yang masih acak-acakan, jelas sekali kalau dia baru bangun tidur.
”apakah Jiyong ada?” tanya Jihae sambil sedikit mengintip ke dalam.

“eobseoyo. Sepertinya mereka sedang keluar. Masuklah dulu.” Seungri membuka pintu dengan lebar dan sedikit menyingkir untuk memberikan jalan agar Jihae masuk ke dalam. Jihae berdiri ragu.

“hmm, mungkin sebaiknya nanti saja aku baru datang lagi.” Jihae tidak ingin berduaan saja dengan Seungri, ia merasa sedikit canggung—tidak seperti biasanya.

“hmm? Apa yang kau katakan? Masuklah, Jihae.” Seungri menarik tangan Jihae dengan kuat dan memaksa Jihae masuk lalu segera menutup pintu dan berjalan ke dapur.

“mau minum apa?” teriak Seungri dari dapur dan mendapat gumaman tidak jelas dari Jihae yang terdengar seperti ‘tidak perlu’.

“kau baru bangun? Memangnya semalam kau tidur larut?” Jihae mengikuti Seungri yang membuat teh didapur. Jihae meraih kantung teh dan membantu Seungri menyeduhnya sementara Seungri sedikit bergeser ke samping, bersandar di konter dapur dan memperhatikan Jihae.

“hmm, Tiffany noona memaksaku menemaninya berbelanja gila-gilaan.”

Jihae mematung begitu mendengar nama Tiffany meski Seungri tidak menyadarinya.

“oh.”

“kau kenapa? Baik-baik saja kan?” Seungri mendelik dan melihat Jihae yang ekspresinya terlihat tidak senang.

Tidak mungkin kau cemburu kan? Seungri bertanya-tanya dalam hati.

“aku tidak tau kalau kau dan Tiffany eonni sangat dekat.” Jihae memainkan kuku jarinya, melampiaskan kejengkelan dan kegelisahannya.

“hmm?” Seungri kembali bergumam dan menatap Jihae yang sekarang terlihat gelisah. Jihae semakin jengkel karena Seungri tidak menjawab pertanyaannya.

Jihae terus memusatkan perhatiannya pada secangkir teh yang sedang ia seduh, tapi pikirannya terus melayang-layang, membayangkan apa saja yang biasanya Seungri dan Tiffany lakukan jika mereka hanya berdua.

“apakah kau… cemburu?” akhirnya Seungri membuka mulutnya. Wajah Jihae langsung memerah mendengar pertanyaan Seungri. Jihae memaki dirinya sendiri, seharusnya sejak awal ia tidak perlu menanyakan tentang Tiffany pada Seungri. Dan lihatlah sekarang, Seungri justru bertanya sesuatu yang tidak mampu ia jawab.

Padahal jawabannya sangat mudah—tidak. Karena yang ia cintai selama ini adalah Eunhyuk, jadi bagaimana mungkin ia cemburu pada Seungri? Tapi mulutnya tidak bisa terbuka untuk mengatakan tidak. Sesuatu—jauh—di dalam hatinya berteriak, ‘ya, aku cemburu’.

Sementara Jihae asyik terhanyut dengan perdebatan dirinya sendiri, Seungri terus memperhatikan reaksi Jihae. Sebuah senyum mengembang diwajahnya yang masih terlihat lusuh. Entah ia sendiri yang merasa terlalu berlebihan, atau memang reaksi Jihae sudah menjawab pertanyaannya?

Seungri berjalan ke belakang Jihae yang memunggunginya. Diletakkan keduatangannya diatas konter sebagai tumpuannya berdiri di kiri dan kanan tubuh Jihae.

Jihae melihat tangan Seungri disampingya, mengunci tubuhnya. Dengan cepat Jihae berbalik hanya untuk mendapati Seungri berdiri dihadapannya dengan jarak yang sangat dekat—Jihae bahkan bisa merasakan desah nafas Seungri yang teratur. Jihae memundurkan dirinya ke belakang. Jihae terkesiap ketika punggungnya menyentuh pinggiran konter, ia tidak bisa mundur lagi.

Seungri maju selangkah, kembali merapatkan dirinya pada Jihae yang semakin panik.

“apakah kau cemburu?” ulang Seungri sambil menatap Jihae lekat-lekat. Jihae memalingkan wajahnya, tidak ingin menatap Seungri.

“apakah kau menyukaiku?” tanya Seungri yang disambut dengan semburat kemerahan menyebar diwajah Jihae.

Seungri mengangkat tangan kanannya dan menyentuh dagu Jihae, memutar wajahnya agar menatap dirinya.

Jihae balas menatap Seungri, tidak tau harus menjawab apa. Selang beberapa detik, Seungri mendekatkan wajahnya ke arah Jihae. Detak jantung keduanya berdetak seirama.

Dalam waktu sepersekian detik, Jihae memaksa semua inderanya untuk kembali bekerja. Ia memalingkan wajahnya dengan cepat sebelum bibir mereka bertemu.

Seungri terdiam. Ia sudah sangat berharap bahwa Jihae akhirnya juga memiliki perasaan yang sama dengannya, tapi penolakkan Jihae adalah jawaban nyata bahwa ia masih saja bertepuk sebelah tangan.

“aku… aku tidak tau apa yang kurasakan padamu saat ini…” Suara Jihae terdengar sangat pelan. Seungri masih terdiam diposisinya, bersiap menerima penolakkan lainnya untuk kesekian kali.

“tapi kau selalu membayangi pikiranku akhir-akhir ini. Dan aku tidak suka melihatmu bersama Tiffany eonni. Aku…” Jihae kembali terdiam. Sangat sulit baginya untuk melanjutkan kalimat selanjutnya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal kerongkongannya, membuat isi perutnya serasa diobrak-abrik—sangat tidak nyaman. Tapi Jihae tetap melanjutkan kata-katanya, “aku takut kehilanganmu…”

Butuh beberapa saat bagi Seungri untuk benar-benar mencerna dan mengerti kalimat terakhir yang diucapkan Jihae. Sebuah harapan kembali muncul baginya.

Lagi-lagi Seungri mengangkat tangan kanannya, menarik dagu Jihae agar menghadapnya. Ia bisa melihatnya, dari tatapan Jihae bahwa pernyataan itu tulus.

“ta—tapi aku tidak tau apakah aku menyukaimu atau tidak, aku hanya—“ Jihae melanjutkan kalimatnya dengan cepat, tapi Seungri meletakkan jari telunjuknya dibibir Jihae, mengisyaratkan yeoja itu untuk diam.

“aku bisa menunggumu—kalau itu yang kau mau. Kau hanya perlu memintaku untuk menunggu, dan aku pasti akan menunggu hingga kau membalas perasaanku—sampai kapanpun.” Bisik Seungri.

“kalau begitu, maukah kau menungguku sebentar lagi? Hingga aku juga mencintaimu sebanyak kau mencintaiku?” kata-kata Jihae membuat Seungri tersenyum lebar. Itu mungkin hanya sebuah kalimat biasa, tapi bagi Seungri, itu adalah kalimat yang paling berharga.

Tanpa menjawab dengan kata-kata, Seungri menempelkan bibirnya di bibir Jihae. Melumatnya dengan pelan. Jihae membalas ciumannya, hingga Seungri mengubahnya menjadi ciuman yang lebih panas. Dimasukkannya lidahnya ke dalam mulut Jihae, berputar-putar di dalamnya, memaksa Jihae untuk ikut bermain.

Ciuman mereka terhenti, Seungri melepaskannya ketika mereka mulai kehabisan nafas.

Seungri mendekap Jihae dengan erat, lalu berbisik ditelinga Jihae, ”aku akan menunggumu.”

Tubuh Jihae bergetar pelan ketika udara hangat menyapu permukaan telinganya. Seungri menggigit daun telinga Jihae dengan pelan dan kembali berbisik, “ jangan cemburu pada Tiffany noona, she’s my cousin. Ia kasihan melihatku patah hati, makanya dia terus menarikku ke sana kemari agar aku tidak larut dalam kesedihanku. Saranghae, naui pabo yeoja, Kwon Jiyon.”

Seungri menundukkan kepalanya, mendaratkan sebuah hembusan hangat dikulit leher Jihae yang kembali bergetar pelan karena sensasi aneh yang dirasakannya. Seungri menciumi leher Jihae berkali-kali, sambil sesekali menggingit pelan. Salah satu tangan Seungri mendarat ditengkuk Jihae, sementara tangan lainnya mulai meraba pinggang Jihae.

Jihae terkesiap ketika dirasakannya tangan Seungri mulai masuk dan meraba di balik bajunya.

“Se—Seungri-ya…” bisik Jihae parau, Jihae menahan tangan Seungri, tapi tenaga Seungri lebih kuat dan Jihae tidak bisa menghentikannya.

“hmm?” gumam Seungri tanpa menghentikan kegiatannya.

“Seungri-ya! Kami pulang!!” teriak TOP dari pintu depan.

“Jihae-ya, kau sudah datang?” Jiyong melihat sepasang sepatu yeoja dan berasumsi bahwa itu adalah milik Jihae karena tidak ada yeoja lain yang datang ke dorm Bigbang selain Jihae.

Seungri menghentikan kegiatannya dan dengan cepat Jihae menyelinap keluar dari dekapan Seungri.

“urgh! Kenapa mereka harus pulang sekarang sih?” omel Seungri sambil mengacak-acak rambutnya. Jihae terkekeh pelan lalu beranjak keluar dari dapur, tapi dengan cepat Seungri menarik tangan Jihae dengan kuat hingga Jihae berbalik dan membentur tubuh Seungri. Seungri melingkarkan kedua tangannya dipinggang Jihae sementara tubuhnya masih bersandar di konter.

“Jiyon-ah, boleh kan aku memanggil nama aslimu?” tanya Seungri.

“tentu, kau boleh memanggilku seperti itu.” Balas Jihae.

“lalu, apa status kita saat ini?” tanya Seungri lagi. Jihae tidak menjawab dan hanya menatap Seungri. Seungri merasa resah. Meski Jihae memintanya untuk menunggu, ia takut kalau Jihae akan direbut oleh orang lain.

“YAAAAAA! Apa yang kau lakukan pada yeodongsaengku!?” teriak Jiyong saat melihat Seungri yang masih mendekap Jihae. Jiyong menarik tangan Jihae hingga terlepas dari dekapan Seungri dan berdiri disampingnya. Jiyong sangat menyayangi Jihae dan ia tidak akan segan-segan melukai orang yang berani melukai atau berbuat macam-macam pada yeodongsaeng kesayangannya.

Jiyong memasang sikap protektif dan memandang Seungri dengan garang.

TOP, Taeyang dan Daesung menghambur ke dapur setelah mendengar teriakan Jiyong. Meski mereka tidak tau keadaan yang sesungguhnya terjadi, mereka langsung berdiri di posisi masing-masing. TOP berdiri menengahi Jiyong dan Seungri sementara Daesung dan Taeyang mengapit Jiyong dikiri-kanan. Mereka takut kalau Jiyong mengamuk dan memukul Seungri, jadi mereka harus berdiri di tempat yang tepat untuk menghentikan perkelahian—kalau sampai itu terjadi.

“Jiyong-ah, dia tidak melakukan apa-apa.” Kata Jihae sambil menarik tangan Jiyong agar mundur beberapa langkah.

“gotjimal. Tadi aku melihat dia memelukmu!” hardik Jiyong. TOP, Daesung, dan Taeyang menggelengkan kepala mereka—berpikir bahwa Seungri tidak akan selamat karena sudah berani menyentuh yeodongsaengnya.

“memangnya salah kalau aku dipeluk oleh namjachingu-ku?”

Jiyong menatap Jihae dengan tidak percaya. Matanya membelalak lebar, menatap Jihae, lalu Seungri—bergantian beberapa kali.

“uh, oh…” Jiyong terlihat masih kebingungan.

“yaaaa, akhirnya kau dan Jihae jadian?” tanya Daesung tidak percaya.

“waaaah~ maknae kita sudah pacaran!” teriak TOP

“aigoooo! Bahagianya kau.” Taeyang menepuk pundak Seungri.

Ya, Seungri sangat bahagia ketika mendengar kata-kata namjachingu yang keluar dari mulut Jihae, ia bahkan sampai tidak bisa memikirkan ataupun melihat hal lain disekelilingnya kecuali Jihae.

“ah, araseo.” Jiyong sudah berhasil menenangkan dirinya sendiri, “Seungri-ya, kalau kau berani menyakitinya atau membuatnya menangis, aku tidak akan segan-segan menghajarmu, araseo?” ancam Jiyong.

“ne, araseo hyung!” jawab Seungri dengan cepat.

Keempat member Bigbang kembali ke ruang nonton dan meninggalkan Jihae dan Seungri berdua.

“Gomawo…” Seungri mengelus wajah Jihae.

“seharusnya aku yang berterimakasih, terimakasih karena masih menyukai pabo yeoja sepertiku.”

“tentu, because you’re my one and only.”

END OF JIHAE STORY


A/N ::.

News 7 selesai =DD Mian kalau kurang memuaskan >.< author udah berusah semaksimal mungkin~~

Dan untuk Jiwon eonni, mian ya kalau yang eonni request berbeda dengan yang aku tulis =P

Aku udah lihat MV nya, tapi susah dapat feel dan dituangkan dalam tulisan, jadi aku buat yang agak berbeda >.< mian eon ~~

 

News 8 menyusul ya^^

13 thoughts on “The Newest Girlband (News 7) Jihae’s Story”

  1. plok plok plok plok plok ^apaan sich ini?^
    wow… bagus banget ni thor….
    ga ada kata lain selain bagus bagus bagus

  2. waaahhhh ciumannya ._. *ngiler sambil liatin kyu,puppy eyes*
    aku udh nungguin ff ini dari dulu ! ternyata beneran di post hari ini soalnya ada feeling (?) kekeke
    lanjut ya onnie😀😉

  3. Omona….aduh aku g bisa berkata2 deh hanya bisa biLang Daebak🙂
    Aduh aku ampe merinding bacanya & bener2 hanyut bgt dLm ff nya🙂
    ToP bgt deh ^^
    Gomawo Saeng😀. Ne, gwenchana aku tetep suka ff nya kok. Gomawo *membungkuk*
    Dtunggu part seLanjutnnya Hwating ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s