Hello Bihyul (Part 2 of 4)

TITLE : Hello Bihyul Part 2

AUTHOR : Yuyu

MAIN CAST :

Lee Jinki (SHINee)

Han Yoomin (Ocs)

SUPPORT CAST :

The rest of SHINee’s Member

Haeji (Ocs)

Jihye (Ocs)

GENRE : Romance

TYPE/LENGTH : 2/4

RATING : PG-13

 

 

“kenapa kau kabur? Kau tidak mau menemaniku, yeobo?” suara Onew berbisik sempurna ditelinga Yoomin menghembuskan udara hangat ke sekitar leher dan tengkuknya, andai saja Onew bisa melihat bagaimana perubahan warna wajah Yoomin yang nyaris semerah tomat. “apa sebaiknya kita mulai saja malam ini?” lanjut Onew masih setengah berbisik ditelinga Yoomin.

Yoomin melepaskan diri dari pelukan Onew sambil memegangi telinganya dengan kedua tangan, wajah merahnya masih saja belum berubah warna menjadi warna normal seharusnya.

“jangan berbisik ditelingaku!” Suara Yoomin yang terdengar hilang timbul tapi cukup tegas berhasil mengundang tawa Onew, cukup keras hingga Yoomin harus membekap mulutnya untuk meredam suara Onew.

“jangan tertawa sekuat itu. Bihyul bisa terbangun.” Onew menangguk pelan, masih mencoba menahan tawa.

 

ONEW POV

Semalam aku pulang sangat larut, lagi-lagi jadwal yang super padat itulah penyebabnya. Entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan rutinitas yang melelahkan ini. Aku senang bisa bernyanyi dan menari untuk para Shawols, tapi kalau jadwal kami tidak sedikit dikurangi, kurasa aku akan segera tumbang.

Kubuka mataku perlahan, cahaya matahari masuk melalui celah-celah jendela, tapi tidak cukup terang karena terhalang gorden. Dengan malas, kugosok mataku yang masih terlalu berat untuk dibuka. Setelah menghimpun cukup banyak kesadaran dalam diriku, kubuka selimut yang membungkusku, menyibakkannya dan bersiap untuk mandi. Tapi ada sesuatu yang berat dilenganku, apa ini? Aku menoleh dan mendapati seseorang tertidur disampingku, dengan pulas dan menyandar dilenganku. Omo~! Apakah ini mimpi?

“yaaaaaa! Han Yoomin!!!!” teriakku sekeras mungkin, tidak mempedulikan lagi apakah orang itu akan bangun atau tidak. Suara derap langkah yang berasal dari luar kamarku semakin terdengar jelas, Yoomin berdiri didepan pintu kamarku, sebuah spatula masih berada digenggaman tangannya terangkat tinggi, pandangan bingung bercampur terkejut memancar dari kulit wajahnya yang pucat.

“bawa dia pergi! Kenapa dia bisa ada disini?” tanyaku panik sambil berusaha menyingkirkan Bihyul dari sampingku. Wajah Yoomin langsung berubah setelah tau alasanku berteriak, karena anaknya tidur disampingku—menyentuhku!

“Tuan Lee Jinki, itu tidak akan membunuhmu hanya karena Bihyul tidur disampingmu kan?” geram Yoomin masih tetap berada di posisinya.

“dia tidak hanya tidur disampingku, tapi dia juga menyentuhku! Omo~ kau lihat? Dia bersandar dilenganku..” terusku tanpa mengurangi rasa panik.

“tsk, lalu kenapa? Dia itu kan anakmu sekarang, kau harus membiasakan diri.” Dengan cuek Yoomin berlalu pergi meninggalkanku, bukannya membantuku dia malah terkekeh pelan dan melanjutkan kegiatan memasaknya.

Bihyul menggeliat pelan disampingku, aku menelan ludah dengan susah payah saat kedua mata bulatnya terbuka dan menatapku dengan ngantuk.

“appa~~” katanya kemudian mulai duduk diatas tempat tidur dan masih terus memandangiku. Dengan cepat aku memanfaatkan kesempatan untuk kabur, melompat turun dari tempat tidur dan langsung berdiri di depan pintu.

“Bihyul-ah, eomma menunggumu di dapur. Pergilah ke sana.” Bihyul memiringkan kepalanya dan terus menatapku, lalu dia turun dari tempat tidur dengan hati-hati, berjalan ke arahku—ke arah pintu—yang dengan cepat kembali menyingkir ke samping tempat tidur, memberikan jalan bagi Bihyul untuk keluar tanpa harus berdekatan dengannya.

Aku menghembuskan nafas lega setelah berada bermeter-meter jauhnya dari Bihyul.

Setelah mandi dan bersiap-siap untuk jadwal hari ini, aku keluar dari kamar. Pandanganku menyapu hampir setiap sudut ruangan yang bisa kulihat. Tidak ada tanda-tanda Yoomin ataupun Bihyul. Dimeja makan telah tersaji sarapan untuk hari ini. Kenapa bukan ayam goreng, huh?

 

YOOMIN POV

“eomma~~~” suara Bihyul terdengar cukup nyaring ditelingaku, kuhentikan kegiatanku sesaat dan melihat Bihyul berjalan ke arahku.

“Bihyul-ah, tunggu di meja makan ya, eomma akan segera selesai memasak.” Pintaku yang diikuti anggukan oleh Bihyul. Bihyul menungguku dengan tenang, mata bulatnya berkedip dengan malas dan tidak pernah beralih dariku. Kuletakkan sarapan untuk Jinki dimeja makan dan segera menggendong Bihyul, membawanya ke kamar mandi.

Hampir selama 20 menit aku memandikan Bihyul—karena dia terus saja menangis setiap kali aku memandikannya. Bihyul keluar dengan handuk pink meliliti tubuhnya, sementara bajuku cukup basah.

“kenapa kau? Lupa bagaimana caranya mandi?” ejek Jinki sembari mengikat tali sepatunya diruang nonton.

“jangan mengomentariku kalau kau tidak bisa mengurus anak kecil.” Balasku sengit. Jinki membuka mulutnya, hendak protes, tapi segera mengatupkannya kembali saat bel apartemen berbunyi dan terdengar suara namja berteriak dari luar.

Tanpa perlu menunggu untuk melihat siapa yang datang—karena aku sudah tau siapa yang datang—kubawa Bihyul ke kamar dan mengenakan pakaiannya.

“Bihyul-ah, hari ini eomma harus bekerja, Bihyul main sendiri ya?” kataku sambil berjongkok dihadapan Bihyul, menyejajarkan wajah kami.

“ne eomma…” sahut Bihyul dengan senyumnya sambil beranjak ke ruang nonton. Kuganti pakaianku yang basah dan meletakkannya diatas tumpukan baju kotor.

Kunyalakan laptop putih kesayanganku dan mulai menyambung koneksi internet, sebuah kacamata berbingkai hitam melekat diwajahku setiap kali aku menggunakan laptop.

***

“aku pulang.” Suara Jinki kembali terdengar setelah 14 jam aku melalui hariku dengan tenang. Bukannya bersikap berlebihan, tapi kalau ada dia, pasti dia akan terus membuatku sebal. Tidak kualihkan pandanganku dari layar laptop, membiarkan Jinki seolah tidak berada di sana.

Dengan cekatan kugerakkan mouse ke sana ke mari, sesekali menjauhkan tanganku dari mouse untuk mencatat sesuatu di kertas notes ku.

“apa yang kau lakukan?” Jinki mengintip layar laptop dari atas, kemudian terlihat tidak tertarik dan berjalan ke dapur, membuka-buka pintu kulkas dan mencari sesuatu yang bisa dimakan.

“yaaaa, kau tidak memasak makan malam untukku ya?” omel Jinki sambil meneguk segelas air.

“mianhae, aku tidak masak hari ini, sangat sibuk. Kau masak ramen saja ya?” balasku masih tidak menatap ke arahnya.

“sibuk, huh? Sibuk belanja online?” suara yang mencemooh itu berhasil membuatku menatapnya dengan jengkel. Onew hanya tersenyum sinis, lalu masuk ke dalam kamarnya.

“aaaaaaaaargh!” saat aku mencoba untuk fokus pada apa yang kulihat di laptop, teriakan Jinki membuatku sungguh-sungguh terlonjak. Ada apa lagi kali ini? Tidak puas apa dia membuatku jantungan tadi pagi?

“ada apa lagi sih?” aku menghampiri Jinki yang mematung di ambang pintu kamarnya, jari telunjuknya terarah pada tempat tidurnya.

“di—dia! Kenapa dia tidur ditempatku lagi? Bawa dia pergi!” suara Jinki yang panik mulai menyemprotku.

“yaaaa! Berhentilah menyebut-nyebut dia dan tentang membawa dia pergi. Dia yang kau sebut itu adalah anakmu, araseo!?” aku berkacak pinggang dengan kesal. Apa perlu dia bersikap berlebihan seperti ini?

“aku tidak mau tau! Pokoknya bawa dia pergi! Ppaliwa!”

“gak! Biar saja Bihyul tidur dikamarmu, kalau mau mengusirnya, lakukan sendiri.” Kujulurkan lidahku selama beberapa detik dan kembali ke laptopku. Terdengar suara teriakan frustasi Jinki. Rasakan kau, huh!

“igemwoya!?” kali ini aku terlonjak karena teriakanku sendiri. Dengan setengah tidak percaya, kutatap layar laptop lekat-lekat. Mana mungkin ini terjadi? Omo~! Aku haru menelpon Jihye sekarang juga. Bunyi nada sambung terdengar cukup lama, tapi Jihye tidak juga mengangkat telpon. Hampir saja aku memutuskan sambungan telpon, tapi Jihye sudah mengangkat telponnya.

“yeoboseyo?” sahut Jihye, suaranya terdengar parau. Kenapa dia? Ah! Bukan saatnya memikirkan itu, ada hal yang lebih penting yang harus kuhabas dengannya.

“ya, Jihye-ah. Kau sudah tau? Ada online shop yang menjual pakaian yang sama dengan kita, tapi dengan harga yang jauh lebih murah… Ottokhae? Kalau begini pelanggan kita bisa kabur.” Suaraku terdengar cemas, tapi Jihye tidak meresponku.

“yeoboseyo? Yeoboseyo? Jung Jihye!!!! Apa kau mendengarku!?” teriakku sekuat mungkin.

“bisakah kita bicarakan ini besok? Kalau bukan karena ada perang dunia, jangan menelponku ditengah malam seperti ini!!” balas Jihye yang diikuti suara klik, pertanda sambungan telpon diputus. Kedua alisku saling bertautan, kulihat jam yang tergantung di dinding. Omo! Sudah jam 11 malam? Aigooo~ aku tidak makan malam hari ini.

 

AUTHOR POV

Onew mencoba membangunkan Bihyul dari ambang pintu kamarnya, tapi sia-sia, Bihyul sama sekali tidak bergeming, masih diam dalam posisi tidurnya. Onew mendesah tertahan, memutuskan untuk mengakhiri usahanya yang sangat sia-sia.

Sepertinya dia harus tidur di ruang tamu hari ini. Dilengkungkan kaki panjangnya agar tidak terjatuh dari sofa. Beberapa puluh menit dalam posisi tidur yang sangat menyakitkan tidak bisa membuat Onew terlelap. Ia menyerah, menggeram pelan seirama dengan gerakan tangannya yang megacak rambut dengan frustasi.

“aku tidak akan bisa tidur kalau seperti ini, huh! Apalagi hari ini sangat dingin. Lebih baik aku tidur dengannya daripada mati kedinginan di sini.” Onew menggerutu pada dirinya sendiri, kemudian masuk ke kamar yang jelas lebih hangat dan nyaman dari sofa ruang nonton.

***

Yoomin menguap lebar setelah bangun dari tidurnya. Dengan absennya makan malam semalam, jelas mempengaruhi kondisi Yoomin. Belum-belum dia sudah merasa kepalanya sangat berat, tidak seharusnya ia melewatkan makan malamnya, sesal Yoomin dalam hati. Yoomin berbalik ke sisi lain tempat tidurnya, ingin berguling-guling sesaat sebelum bangun dan memulai aktivitas rutinnya.

Yoomin mengerjap-ngerjapkan matanya, tidak memercayai bayangan yang diperlihatkan oleh matanya. Bagaimana mungkin Yoomin terbangun di pagi hari—di kamarnya—dan langsung melihat wajah yang bisa membuatnya kesal? Well, memang tidak mengesalkan kalau orang itu tertidur—wajahnya cukup menggemaskan disaat seperti itu, hanya disaat seperti itu.

“Jinki?” suara Yoomin lebih terdengar seperti pertanyaan untuk dirinya sendiri.

“hmm?” Onew bergumam pelan, masih dengan mata yang tertutup rapat. Tangan kirinya menarik erat pinggang Yoomin, semakin mendekatkan diri mereka berdua hingga saling menempel. Yoomin kembali mengerjap-ngerjapkan matanya, tapi kali ini ia lebih sadar—sadar bahwa ini bukan mimpi.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidur di kamarku!!” Yoomin berteriak tepat ditelinga Jinki, yang mau tidak mau menjadi terjaga sepenuhnya. Jinki memicingkan matanya, melihat sekeliling dengan terkejut, lalu kembali berbaring dan memejamkan matanya.

“yaaaaaaa!” teriak Yoomin lagi.

“aisssh, kau ini berisik sekali sih.” Onew menutup telinganya dengan bantal yang digunakannya, tapi dengan cepat Yoomin menyingkirkan bantal itu.

“aku sedang bertanya padamu, kenapa kau tidur di kamarku!? Dan apa yang kau lakukan padaku semalam?” teriak Yoomin lebih keras.

“kau tega melihatku tidur di sofa? Hanya berbaring selama setengah jam saja badanku sudah sakit-sakit semua, apalagi harus tidur semalaman. Apalagi cuaca semalam sangat dingin, aku tidak mau mati konyol.” Jawab Onew dengan santai.

“kau kan punya kamar sendiri!” Yoomin bersikeras.

“oh ya? Kau lupa kalau anakmu sedang tidur dikamarku? Salahmu sendiri karena tidak mau memindahkan dia!” cerca Onew.

“berhentilah berkata seolah-olah Bihyul bukan anakmu, bagaimanapun juga sekarang kau adalah appanya, kau juga harus ikut menjaganya, Lee Jinki. Dan tidak ada alasan yang tepat hingga kau harus tidur dikamarku—di tempat tidurku.” Yoomin bertumpu pada lututnya, mengambil bantal dan memukul-mukulkannya ke Onew.

“yaaa, yaaa! Hentikan! Berhenti memukulku!” Onew mencoba menangkis setiap pukulan yang diberikan Yoomin dengan punggung tangannya. Pukulannya memang tidak terlalu sakit, tapi jika dia terus-terusan dipukul seperti itu, bisa memar juga kan?

“Kubilang hentikan!” dalam satu gerakan, Onew meraih tangan Yoomin, bermaksud untuk menghentikan pukulan yang terus mendarat padanya, sayangnya, Yoomin tidak siap dengan reaksi Onew dan justru kembali terbaring ditempat tidur. Dengan sigap Onew mengubah posisi, menindih Yoomin dibawah tubuhnya.

“tadi kau bilang bahwa aku tidak punya alasan untuk tidur di kamarmu? Kau salah. Apa perlu kuingatkan padamu, Nyonya Lee?” Onew tersenyum kecil melihat Yooming yang menautkan alisnya.

“Sekarang kau istriku, sudah seharusnya kan kalau kita bersenang-senang, huh?” Onew menyeringai kecil melihat Yoomin yang sepertinya sudah mencerna seluruh kata-katanya dengan lancar.

“jadi… Bagaimana kalau kita… “ Suara Onew setengah berbisik, ia sengaja menggantungkan kalimatnya, didekatkan wajahnya ke wajah Yoomin. Jarak diantara mereka semakin mengecil hingga hidung mereka saling menempel, kalau saja Yoomin tidak terlalu bingung dan kaget, maka ia pasti sudah memukul pria yang ada dihadapannya ini.

“hyung~ kami da—“ pintu kamar terbuka lebar, keempat namja yang terpaku disana terbelalak lebar dan menjadi salah tingkah dengan pemandangan yang mereka lihat. Key melirik Taemin yang sekarang wajahnya memerah, diulurkannya telapak tangannya hingga menutupi mata Taemin dari pemandangan di depannya.

“hyung, bukankah sudah kubilang, jangan melakukan hal-hal seperti itu di depan Taemin, dia masih dibawah umur!” Omel Key sambil menarik Taemin ke ruang nonton.

“err, sebaiknya kulihat apakah Bihyul sudah bangun atau belum.” Dengan canggung Minho berlalu pergi, terdengar suara pintu lain yang terbuka beberapa detik setelah Minho meninggalkan kamar.

“hyung, aku sudah tau, seharusnya kami tolak kunci cadangan apartemenmu yang kau berikan semalam. Bagaimana bisa aku lupa kalau kalian ini pengantin baru? Ugh! Selesaikan saja dulu urusan kalian, tenang saja. Kami yang akan menjaga Bihyul, tidak akan ada yang menganggu kalian. Kalau perlu akan kami putar musik sekeras mungkin, jadi jangan khawatir.” Jonghyun yang terakhir kali keluar dari kamar langsung menutup pintu dan berlari menghampiri Key dan Taemin, sementara Yoomin dan Onew tercengang dengan tingkah laku empat orang dongsaeng itu.

“kau tidak mau menyingkir?” rutuk Yoomin yang melihat Onew sama sekali tidak bergeming.

“uh, oh.” Onew menyingkir dan berjalan keluar kamar dengan malas. Dia sama sekali tidak bermaksud melakukan apapun, ia hanya ingin menggoda Yoomin, karena dipikirnya sangat menyenangkan melihat wajah Yoomin yang memerah. Tapi siapa sangka member SHINee justru datang disaat yang tidak tepat dan menyalahartikannya?

“hyung, sudah selesai? Cepat sekali?” Key menghampiri Onew yang baru saja keluar dari kamar sambil menggaruk-garuk kepalanya. Minho dan Taemin yang sedang asyik bermain bersama Bihyul sontak menoleh ke Onew dengan cepat, Jonghyun yang sedang menggonta-ganti saluran tv pun ikut memandangnya.

“jangan berpikir yang aneh-aneh. Kami sama sekali tidak melakukan apapun.” Sahut Onew sedikit geram.

“hyung, bukankah hal itu memang wajar dilakukan oleh orang yang sudah menikah?” tanya Taemin dengan wajah polosnya.

“geure, itu memang hal yang wajar Taeminie. Hanya saja Onew hyung terlalu malu untuk mengakuinya pada kita.” Balas Minho sambil mengendong Bihyul ke dapur.

“hyung, setidaknya kalian kan bisa mengunci pintu kamar.” Jonghyun kembali fokus pada layar tv.

“benar hyung, bagaimana kalau tengah malam Bihyul masuk ke kamar kalian dan melihat apa yang sedang kalian lakukan? Iiiih, itu sangat tidak mendidik hyung.” Oceh Key yang sekarang mengambil posisi disamping Jonghyun.

Onew menggeram frustasi mendengar komentar-komentar dongsaengnya, “sesuka kalian sajalah.” Omelnya sambil lalu.

 

YOOMIN POV

Urgh, dasar sial. Gara-gara Jinki brengsek itu mereka jadi berpikiran yang tidak-tidak. Kurapikan tempat tidurku sambil terus mengomel tidak henti. Pagi-pagi sudah heboh begini, sepertinya ini pertanda kalau hari ini aku akan sial sepanjang hari.

Aku keluar dari pintu kamar dengan sedikit menyembulkan kepalaku. Suasana apartemen sepertinya ‘normal’. Hanya ada Jonghyun diruang nonton, dan terdengar suara berisik dari belakang. Karena penasaran, aku bergegas melihat apa yang terjadi.

“omo, Minho-ah, apa yang mau kau lakukan?” tanyaku panik saat melihat Minho masuk ke kamar mandi sambil menggendong Bihyul dan diikuti oleh Key dan Taemin.

“hari ini kami tidak ada jadwal, jadi ingin main di sini. Kami mau memandikan Bihyul, noona, tidak apa-apa kan?”

“lakukan saja kalau kalian mau mandi lagi setelahnya.” Kataku sambil menarik Bihyul dari gendongan Minho, “dia sangat rewel kalau dimandikan.”

Akhirnya Minho dan yang lainnya setuju untuk melihat saja. Bihyul juga tidak sulit dimandikan seperti biasanya.

“appa!!!!” teriak Bihyul sambil menunjuk Onew yang sedang meminum susu vanila di dapur, hampir saja Onew tersedak karena terlalu kaget. Aku dan Taemin tertawa kecil melihat reaksinya.

“Bihyul-ah, abaikan saja appamu itu! Dia sama sekali tidak sayang padamu.” Protes Key sambil mencubit pipi Bihyul.

“hyung, bukankah di Hello Baby akhirnya kau berhasil berdekatan dengan Yoogeun? Kenapa lagi sekarang? Penyakitmu datang lagi?” Minho berbalik dan menatap Onew yang mengangkat bahunya.

“itu kan dengan Yoogeun. Kalau dengan yang lain tetap saja aku takut.” Sahutnya santai sambil melenggang pergi. Tsk, anakmu itukan Bihyul!

Ding! Dong! Ding! Dong!

“Yoomin! Ada orang yang mencarimu!!” teriak Onew dari ruang nonton. Siapa yang datang pagi-pagi begini?

“biar aku saja yang gendong Bihyul.” Tawar Minho sambil melilitkan handuk dibadan Bihyul.

“gomawoyo.” Balasku dan segera melihat siapa tamu yang datang diwaktu seperti ini.

“Yoomin-ah!” Jihye berlari kearahku dan langsung memelukku.

“aigooo, bajuku basah, baru saja memandikan Bihyul. Kau tidak mau sampai bajumu rusak kan?” kataku setengah bercanda.

“habisnya… aku…” kulihat Jihye menghentikan kata-katanya setelah memperhatikan sekitarnya, ada lima makhluk asing yang sedang menatap aneh ke arahnya.

“nanti saja kuceritakan. Lebih baik kau mandi, lalu kita bahas masalah semalam.” Jihye mendorongku ke kamar. Aku mengangguk-angguk pelan sambil bersiap-sipa untuk mandi.

 

AUTHOR POV

Jihye duduk dengan santai diruang nonton, sambil sesekali melirik Bihyul yang sedang bermain dengan Minho dan Taemin. Ingin rasanya Jihye menghambur ke dalam dekapan Bihyul, tapi tidak dengan berada didekat-dekat dua namja itu.

“noona, apa kau mau bermain dengan Bihyul juga? Kulihat dari tadi kau terus melirik ke sini?” Minho berjalan mendekati Jihye sambil menggendong Bihyul. Perlahan-lahan Jihye bangkit dari duduknya, berusaha menjaga jarak antara dia dan Minho.

“noona, kenapa kau menjauh?” tanya Minho kebingungan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada seorang wanita yang tidak berlari ke dalam pelukannya begitu melihat dia, bahkan wanita itu justru menjauhinya.

“Minho, sudahlah, jangan dekati dia. Dia juga punya penyakit aneh.” Yoomin muncul dengan rambut yang setengah basah dan pakaian yang lebih rapi.

Kedua alis Minho berkerut, penyakit aneh? Batinnya.

Member SHINee—kecuali Onew—sibuk bermain dengan Bihyul seharian sementara Jihye dan Yoomin sibuk membahas online shop milik mereka.

“sudah malam, sebaiknya aku pulang sekarang. kita bahas ini besok lagi ya?” pinta Jihye sambil melirik jam dipergelangan tangannya.

“kau bawa mobil?” tanya Yoomin sambil menutup layar laptopnya.

“ani, mobilku sedang dibengkel, mungkin beberapa hari lagi baru bisa kugunakan kembali.” Raut wajah Jihye sedikit berubah kecut membayangkan ia harus menggunakan transportasi umum selama beberapa hari.

“kalau begitu, biar besok aku ke café mu saja. Aku tau kau tidak nyaman keluar tanpa mobilmu.” Kata Yoomin seolah mengerti apa yang ada dipikiran Jihye.

Member SHINee lainnya pulang ke dorm mereka karena besok mereka harus kembali beraktivitas. Lagi-lagi Bihyul sudah tertidur karena kelelahan. Yoomin mengangkat tubuh Bihyul perlahan, memindahkannya dari sofa ke kamar tidur. Yoomin menggosok-gosok tengkuknya yang terasa kaku dan kembali ke ruang nonton, untuk berkutat dengan laptopnya kembali.

“jadi kau dan temanmu membuka online shop?” Onew menghampiri Yoomin dan menghempaskan tubuhnya disamping Yoomin dengan segelas cokelat ditangannya. Yoomin bergumam pelan untuk mengiyakannya.

“kau tidak kuliah?” entah apa yang dipikirkannya, tau-tau pertanyaan itu meluncur begitu saja mulut Onew tanpa sempat dihentikan.

“tidak. Bihyul lahir saat aku baru tamat SMA. Aku sibuk mengurusi Bihyul, jadi tidak punya waktu untuk kuliah.” Jawab Yoomin tanpa menoleh untuk melihat reaksi Onew yang tidak bisa dibaca.

“kenapa? Kenapa harus melahirkan Bihyul kalau memang itu hanya akan mengganggu masa depanmu?” pertanyaan-pertanyaan itu berkelabat dibenak Onew sejak pertama kali ia diberitahu tentang gadis itu dan Bihyul. Yoomin menghentikan tangannya yang sedang asyik menari-nari diatas keyboard. Terlihat ragu untuk menatap Onew atau tidak, begitu menatap Onew yang juga membalas tatapannya, Yoomin terlihat canggung.

“jika di dunia ini, hanya ada satu hal yang bisa mengingatkanku padanya, maka aku kuterima apapun itu. Bagiku, Bihyul bukanlah beban. Meski setiap orang memandangku dengan tatapan mencemooh, tapi mereka tidak pernah tau bagaimana rasanya memiliki Bihyul. Tidak pernah sekalipun aku menyesal telah membesarkan Bihyul selama 4 tahun terakhir.” Bola mata Yoomin bergerak-gerak tidak tenang, sedang menahan sesuatu yang ingin melesak turun dari kelopak matanya. Dalam diam, Onew memperhatikan wajah Yoomin, wajah pucat yang selalu dilihatnya akhir-akhir ini.

Tangannya bergerak pelan, ingin merangkul kedua pundak Yoomin dan memberikan kekuatan padanya, tapi terhenti begitu saja. Entah bagaimana, ia tau Yoomin bukan gadis yang lemah, dan ia pasti tidak ingin diperlakukan sebagai orang yang rapuh oleh Onew.

 

ONEW POV

Pagi hari ini langit sedikit berawan, untunglah hari ini hanya ada jadwal latihan. Kubuka pintu kamar dan melihat Yoomin sedikit tergesa-gesa mengambil tas tangannya sambil mengendong Bihyul.

“mau ke mana kau?” tanyaku masih berdiri diambang pintu.

“aku harus ke café Jihye hari ini.” Jawabnya singkat, masih sibuk memakaikan sepatu pada Bihyul.

“kau akan membawa Bihyul?” tanyaku lagi sambil berjalan dan menjaga jarak 2 meter dari mereka. Kepala Yoomin menoleh padaku dengan tatapan tidak percaya.

“kenapa? Kau mau menjagainya untukku?” tanya Yoomin dengan semangat yang menggebu-gebu.

“aniya, aku hanya bertanya.” Dengan cepat kusangkal pikiran konyolnya.

“huh, tidak, Bihyul akan kutitipkan di tempat penitipan anak dekat sini.” Wajah Yoomin langsung memberengut, memaksaku tertawa menanggapi sikapnya. Yoomin memilih untuk tidak menanggapi responku dan langsung melenggang pergi dengan Bihyul dalam gendongannya. Tidak lama kemudian, member SHINee datang dan kami langsung berangkat untuk latihan.

Latihan vokal berlangsung seperti biasa, sedikit berisik dan serius. Latihan vokal berakhir lima menit lebih cepat dari seharusnya. Manager hyung duduk didepan kami dengan beberapa lembar kertas ditangannya.

“Onew, untuk konser nanti, bagaimana kalau kau menyanyikan lagu The Name I Loved?” tanya manager hyung yang masih memfokuskan diri mengobrak-abrik entah apapun itu ditangannya.

“tidak masalah hyung.” Jawabku cepat.

“nah, kalau begitu kau duet dengan Jessica saja ya?”

Siiiiiiiiiiiiiing!

Suasana menjadi sunyi seketika, member yang dari tadi asyik mengoceh dan tertawa langsung terdiam begitu mendengar nama Jessica, dan bisa kurasakan tatapan mereka mengarah padaku disaat yang hampir bersamaan. Ini hanyalah sebuah pekerjaan, Onew, profesionallah sedikit! Perintahku pada diriku sendiri sebelum akhirnya aku mengangguk dengan sangat berat, mengiyakan perkataan manager hyung.

“Jessica-ssi, masuklah.” Pinta manager hyung. Sosok Jessica muncul dari balik pintu dengan senyum hangat yang membuatku jadi kikuk.

“annyeong~” sapa Jessica yang mengambil tempat duduk di sampingku.

“kalau begitu, kalian latihan dulu. Yang lainnya pulang saja dan istirahat.” Ajak Manager sambil berlalu pergi. Member SHINee terlihat ragu untuk meninggalkanku dan dengan berat hati mengikuti langkah manager.

“hai, lama tidak bertemu. Kau tiba-tiba saja menikah, membuatku kaget saja.”

“aku sendiri juga tidak menyangka.” Aku tertawa kecil menanggapinya, “ayo latihan.”

Sudah hampir satu setengah jam kami berlatih, karena sudah sama-sama kelelahan, kami memutuskan untuk menyelesaikan latihan hari ini. Rasanya canggung sekali harus berjalan berdua dengan Jessica seperti ini. Suara percikan air yang menggema membuyarkan keheningan disekitar kami. Apakah aku terlalu gugup dan panik hingga tidak menyadari hujan yang turun dengan derasnya? Aku menoleh pada Jessica, ia memandang langit dengan kening berkerut.

“mau kuantar?” tawarku. Jessica melihatku dengan tatapan tidak percaya, namun mengiyakan.

 

YOOMIN POV

“hujannya deras sekali, ottokhae? Aku harus segera pulang.” Aku berjalan mondar-mandir di depan meja kasir milik Jihye sambil meremas-remas tanganku dengan panik.

“tenanglah, mungkin Onew sudah pulang?” sudah kesekian kalinya Jihye mencoba untuk menenangkanku. Andai saja mobilnya tidak berada dibengkel sekarang, aku pasti sudah memaksanya untuk mengantarku pulang. Penjaga di tempat penititpan anak memberitauku bahwa Bihyul tiba-tiba saja demam, dan mereka sudah mengantar Bihyul ke apartemenku, tapi karena hujan yang sangat deras ini, aku tidak bisa pulang. Aku juga tidak tau apakah Jinki sudah pulang atau belum.

“kenapa tidak kau telpon Onew dan menanyakan langsung padanya?” Jihye yang sudah cukup gemas langsung melontarkan pertanyaan yang berhasil membuatku tercengang.

‘sudah pasti kulakukan kalau aku tau nomor telponnya.” Omelku, kembali sibuk berjalan mondar-mandir.

“omo!! Kalian ini suami istri kan?”

“diamlah, Jihye. Aku sedang tidak ingin bercanda.”

Sebuah panggilan masuk menderingkan hpku, dengan cepat kuangkat panggilan tersebut.

“dari siapa? apa yang dikatakannya?” tanya Jihye was-was setelah aku menutup sambungan telpon dengan pandangan kosong.

“penitipan anak, mereka bilang, Bihyul mulai rewel dan menangis. Apartemen kosong, dan itu artinya Jinki belum pulang.” Kujelaskan pada Jihye dalam satu tarikan nafas. Kurenggut tasku dengan kasar dan berlari cepat.

“yaa, Han Yoomin! Mau ke mana kau hujan-hujan begini?” teriakan Jihye menggema diseluruh ruangan café.

“aku harus pulang, sampai jumpa Jihye.” Teriakan-teriakan berikutnya tidak kupedulikan. Kuterobos hujan yang mengerikan ini, berhenti di halte selama beberapa detik sebelum bus yang akan kutumpangi datang. Para penumpang melihatku sambil berbisik-bisik. Keadaanku yang basah kuyup pasti sangat menarik perhatian, tapi apa peduliku? Yang penting aku harus segera sampai ke apartemen.

Perjalanan selama 15 menit dalam bus terasa seperti 15 jam bagiku, rasanya lama sekali. Setelah bus berhenti dipemberhentian yang seharusnya, aku kembali berlari menerobos hujan yang masih saja belum mereda. Kulihat Bihyul berada di lobi apartemen bersama dengan Haeji—salah seorang pegawai dari tempat penitipan anak. Haeji itu melihatku dan segera menghampiriku, Bihyul langsung berlari ke dalam dekapanku.

“aigooo, Yoomin-ssi, kenapa kau basah kuyup begini? Kalau kau belum bisa pulang, seharusnya kau katakan padaku. Aku bisa membantumu menjaga Bihyul sementara waktu.” Tegur Haeji yang mendelik melihatku dari atas sampai ke bawah.

‘gweanchana. Bihyul memang selalu rewel kalau demam, dan dia hanya akan mendengarkanku saja. Kamsahamnida Haeji-ssi.” Aku membungkuk kecil untuk mengucapkan rasa terimakasihku. Setelah melihat Haeji keluar dari gedung apartemen, kubawa Bihyul masuk ke ruang apartemen kami. Bihyul tidak berhenti menangis dan tidak mau melepaskanku sama sekali.

“Bihyul, eomma harus berganti pakaian dulu, Bihyul tidak apa-apakan eomma tinggal sendiri?” kurebahkan tubuh menggigil Bihyul diatas tempat tidur dan segera menyalakan penghangat. Kuletakkan begitu saja bajuku yang basah diatas tumpukan baju kotor, lalu langsung beranjak kembali ke kamar untuk melihat keadaan Bihyul. Kuambil handuk putih kecil dan air dingin untuk mengompres kening Bihyul. Wajah kecilnya memucat, kedua bibirnya yang selalu menampilkan senyum manis untukku sekarang hanya menampakkan segaris lurus.

“Han Yoomin! Apa-apaan ini? Ada banjir, huh!?” suara teriakan Jinki membuatku tersentak. Untungnya Bihyul tidak terganggu dan masih tertidur. Aku keluar dari kamar, membuka dan menutup pintu secara perlahan-lahan sehingga tidak menimbulkan bunyi berisik.

“bisakah kau tidak berteriak? Aku masih bisa mendengarmu dengan jelas meskipun kau tidak berteriak.” Kuambil kain lap dan mulai mengerikan lantai basah yang berasal dari tetes air yang tadinya membasahiku.

“jadi, kenapa bisa sampai basah? Bocor? Atau banjir?” suara Jinki terdengar setengah mengejek dan setengah penasaran, kalau saja aku tidak terlalu lelah dan kalut karena kondisi Bihyul, sudah pasti aku akan balas mengomelnya.

“tidak, lantainya basah karena aku.” Jawabku singkat sambil membawa kain lap yang basah ke kamar mandi dan memerasnya hingga kering, kemudian kembali lagi untuk mengeringkan lantai dengan kain lap tersebut satu kali lagi.

“apa kau sudah membuat makan malam? Aku lapar sekali.” Jinki mengelus perutnya sambil menatapku dengan pandangan memohon.

“akan kumasakkan makan malam untukmu, tapi kau harus membantuku menjaga Bihyul.” Raut wajah Jinki berubah, “kau hanya perlu melihatnya di kamar, dan panggil aku kalau Bihyul terbangun atau merengek. Aku tidak akan memintamu untuk menggendongnya ke sana kemari.” Tambahku secepat mungkin. Jinki terlihat menimbang-nimbang, bola matanya bergerak-gerak cepat, hingga akhirnya ia mengangguk ragu dan mulai beranjak ke kamar Bihyul, dengan sangat perlahan-lahan.

Kuraih celemek yang tergantung di dinding dapur, membuka-buka kulkas untuk mencari bahan-bahan yang bisa kugunakan untuk memasak makan malam.

Kukeluarkan bahan-bahan yang kubutuhkan dan mulai mengirisnya, terkadang aku berhenti sebentar untuk mendengar dengan seksama, apakah ada suara Bihyul atau Jinki yang memanggilnya, tapi sama sekali tidak ada, sangat hening. Setelah selesai memasak, aku langsung kembali ke kamar, Jinki tengah duduk dikursi meja belajar sambil terus menatap Bihyul, sampai-sampai ia tidak menyadari keberadaanku sebelum aku menyentuh pundaknya.

“dia sakit?” tanya Jinki sambil menunjuk Bihyul. Aku mengikuti pandangannya dan mengangguk.

“dia sangat mirip dengan hyung.” Katanya pelan. “kenapa tidak membawanya ke rumah sakit saja?” lanjutnya menatapku.

“aku… aku tidak suka ke rumah sakit. Aku bisa merawatnya sendiri dengan baik. Makanlah, makan malammu sudah siap.” Aku menarik lengan Jinki agar ia berdiri.

“kau tidak makan?” tanya Jinki sebelum beranjak keluar dari kamar. Setelah melihat gelengan kepalaku, Jinki keluar dan aku tidak tau apalagi yang dilakukannya.

 

ONEW POV

Melihat Bihyul yang sedang sakit, membuatku merasa sedikit cemas. Ditambah lagi, Yoomin juga terlihat pucat dan dia sama sekali tidak keluar dari kamarnya sejak ia selesai memasak makan malam. Kuganti saluran tv dengan tidak menentu, tidak bersungguh-sungguh ingin menonton tv karena pikiranku sangat kacau, setidaknya harus ada yang kulakukan agar otakku tidak meledak.

Suara pintu yang terbuka membuatku menoleh ke belakang, Yoomin berjalan keluar dengan gontai.

“kau kenapa?” aku meloncat turun dari sofa dan menghampirinya.

‘nan gweanchana. Aku hanya ingin meminum kopi saja.”

“kopi?” tanyaku sambil memicingkan mata. Kulirik jam dipergelangan tanganku, sudah hampir tengah malam, “untuk apa kau minum kopi tengah malam seperti ini? Bisa-bisa kau tidak tidur.”

“aku memang tidak bisa tidur. Bihyul sedang sakit, bagaimana mungkin aku bisa tidur?” balas Yoomin dengan lemah.

“Bihyul hanya sakit, tidak perlu mendramatisir seperti itu. Kalau dia terbangun dan merengek tengah malam, kau pasti juga akan tau dan terbangun. Jadi jangan siksa dirimu sendiri.” Aku tau kata-kataku terdengar pedas, entahlah, aku hanya tidak suka melihat dia menjadi seperti ini, terlihat sangat lemah. Oke, satu hal yang ku tau, aku mengkhawatirkan dia, ya, aku memang mengkhawatirkan dia.

“Aku tidak akan bisa tertidur jika kondisi Bihyul belum membaik, itu adalah naluri orangtua. Dan kau tidak mungkin pernah merasakan apa yang kurasakan saat ini, jadi berhentilah mengataiku.” Wajah Yoomin berubah jengkel, tapi tetap saja suaranya terdengar tidak bersemangat.

Kubuka mulutku untuk membalas kata-katanya, tapi suara tv menarik perhatian kami.

“sore tadi, Leader SHINee, Onew kepergok sedang berduaan dengan Jung Jessica, yang juga adalah member dari girlband SNSD. Onew terlihat mengantar Jessica pulang ke dorm nya, dan hanya ada mereka berdua tanpa manager masing-masing. Berdasarkan keterangan dari beberapa staf yang bekerja sama dengan SHINee, tidak pernah sekalipun mereka melihat istri Onew mengunjunginya ataupun menemaninya melakukan beberapa aktivitas. Ada apa dengan pernikahan Onew yang baru digelar beberapa minggu yang lalu? Mungkinkah pernikahan itu retak karena pihak ketiga?” seiring dengan suara pembawa acara, gambar ketika aku membukakan pintu untuk Jessica dan mengantarnya pulang juga ditayangkan. Yoomin ikut melihat siaran itu dalam diam.

“haaah! Bukankah sudah kubilang, orang sepertimu tidak akan bisa mengerti apa yang kurasakan?” suara Yoomin terdengar sinis, sebuah tawa yang tidak bisa kuartikan meluncur dari mulutnya.

“tunggu…” kutarik tangan Yoomin hingga dia kembali berbalik dan menatapku saat dia hendak beranjak ke dapur. “aku… berita itu tidak seperti yang kau bayangkan.”

“memangnya apa yang kubayangkan?” tantang Yoomin yang sekarang sudah melipat kedua lengannya di depan dada.

“aku tidak tau, tapi yang diberitakan itu tidak benar. Kami hanya latihan vokal, dan saat itu hujan deras. Aku tidak mungkin tega membiarkan dia pulang sendirian, tapi siapa sangka paparazi mengetahuinya dan memberitakan yang aneh-aneh.” Aku mendesah, berharap Yoomin akan mempercayaiku. Aku tidak suka melihat tatapannya padaku saat ini, membuatku tersiksa.

“oh, baik sekali. Tapi apa kau tau, pada saat itu—saat yang sama saat kau menjadi tuan yang baik hati—aku harus berlari menembus hujan dan membiarkan diriku menjadi basah kuyup karena mencemaskan keadaan Bihyul? Kau boleh tidak menganggapku sebagai istrimu—karena bagaimanapun pernikahan ini adalah sebuah kesalahan dan paksaan bagi kita berdua—tapi setidaknya anggaplah Bihyul sebagai anakmu! Bagaimanapun dia adalah darah daging hyungmu, orang yang juga memiliki hubungan darah denganmu!” aku yakin Yoomin berteriak, tapi suaranya terdengar bagai bisikan ditelingaku, sangat tidak bertenaga.

“aku tidak bermaksud seperti itu. Kalau kau menelponku dan memintaku untuk menjemputmu, aku pasti akan menjemputmu. Jadi jangan salahkan aku untuk sesuatu yang tidak kuketahui.”

“jangan mengelak lagi!” Yoomin meninggalkanku dan kembai masuk ke kamarnya.

***

Semalam aku kesulitan tidur karena terus memikirkan kata-kata Yoomin, dan aku harus terbangun di pagi hari buta, huh! Menyebalkan sekali. Bagaimana keadaan Yoomin dan Bihyul? Apakah Bihyul sudah lebih sehat? Aku berjingkit pelan ke kamar Bihyul, bermaksud untuk mengintip, tapi sebelum sempat membuka pintu, Yoomin sudah membukanya dari dalam.

“hm, hello. Selamat pagi…” sapaku dengan canggung. Yoomin hanya melihatku dengan sinis, lalu melewatiku begitu saja. Jalannya sedikit sempoyongan, membuatku khawatir.

“Yoomin-ah, gweanchana?” kupegangi tangan Yoomin untuk menyanggahnya agar tidak terjatuh. Wajahnya lebih pucat dari semalam.

“Yoomin-ah, jangan bilang kalau kau belum tidur sejak semalam?” aku memicingkan mata dan menunggu jawaban darinya, Yoomin menggerak-gerakkan tangannya, mencoba untuk lepas dari cengkramanku.

“lepaskan aku….” Suara Yoomin terdengar lebih dari sekedar bisikan. Sedetik kemudian, tubuh Yoomin ambruk ke depan.

“Han Yoomin!!!” teriakku sambil menahan agar tubuhnya tidak terjatuh ke lantai. Tubuhnya panas sekali!

 

To Be Continue . . .

Iklan

6 thoughts on “Hello Bihyul (Part 2 of 4)”

  1. onew jangan jauhin bihyul trus..
    kesian si bihyul nya..
    udah manggil2 ‘appa’ tuh..

    good joob for you author..
    nice ff..
    ^^

  2. Onewppa gag ada hati sma jessica kan ??
    Huhu , , stuju ma sherLy eonni , si yoomin itu ibu yg baik 😀

    yahh..
    Yoomin akhirnya sakit juga -.-

    nice ff mamen 😀
    Lanjutannya dtungguu..

  3. OMO…OMO…OMO….
    Daebak…!!!!
    Sumpah…g bisa nahan tawa di awal cerita….
    Tapi….jadi sedih akhirnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s