|FF PROJECT| S W E E T M I S T A K E

Author             : D E S O N // Han Yeosin

Judul/Title       : |FF PROJECT|  S W E E T   M I S T A K E

Genre              : Romance

Kategori          : May I Love

Type                : Contest

Tags                 : Lee Sungmin, Kim Youngwoon, Yesung

 

 

 

 

Kau sebut dirimu baik? Kau pergi setelah mencuri hatiku.

Kau bahkan membuat hatiku terluka

Kau bilang dirimu pintar? kau bahkan tidak cukup cakap untuk melihat perasaaanku

Kau tidak tau hatiku menangis saat mengingatmu

Kau membuatku menunggu terlalu lama

Apakah ini yang kau sebut dengan cinta??

Dan aku tidak bisa membencimu karena ini

 

Lee Sungmin memetik gitarnya perlahan. Ia mengumamkan sebuah lirik yang sedih. Lirik yang berisi tentang penyesalan.

Ia menyesal, sangat menyesal. Ia bahkan tidak memaafkan dirinya sendiri. Karena telah membiarkan seseorang yang sangat berarti di dalam hidupnya pergi.

Sungmin memandang langit dari celah jendela kamarnya, “bukankah ia sangat menyukai langit saat matahari tenggelam.”

Selama beberapa saat Sungmin terus menandangi langit hingga matahari benar-benar tergantikan oleh bulan. Sungmin menghela nafasnya yang berat ketika ia melihat kalender yang terpampang di kamarnya.

Sungmin meletakkan gitarnya yang selama ini setia menemaninya saat merindukan gadis itu. ia membuka laci mejanya dan mengambil sebuah buku yang lumayan tebal. Buku itu berisi foto-foto dan tulisan-tulisan sebagai keterangannya, semacam Photo Diary-lah.

Sudah setahun gadis itu pergi. Tapi ia tidak pernah menyadari bahwa gadis itu sudah pergi. Bahkan ia tidak akan pernah menyadarinya jika Heechul-sahabatnya tidak menanyakan kehadirannya.

Heechul-lah yang memberikan foto diary itu pada nya. Hal terakhir yang Sungmin tau dari diri seorang gadis yang selalu menemaninya.

Sungmin menatap diary foto itu dengan tatapan nanar. Ia membuka halaman pertama yang terpampang sebuah foto seorang gadis dengan senyum lebar.

“Kim Hyeosun.”

__________d_e_s_o_n___________

Sungmin berjalan di trackwall area sungai Han sambil membawa foto Diary Hyeosun. Ia berjalan sambil membaca. Tidak peduli berapa orang yang ia tabrak, ia tetap memilih membaca mengingat kejadian bersama Hyeosun dulu.

Augst 24,  2008 –sungai Han–

Kami berjanji untuk lari pagi bersama, tapi sialnya aku kesiangan. Aku takut dia marah dan meninggalkanku padahal kami mulai dekat.

Aku panik. Aku langsung lari keluar rumah.

Aku menghela nafas lega saat melihat dia masih menungguku. Tapi kemudian aku sadar bahwa aku masih menggunakan piamaku dan aku belum cuci muka. Pantas saja orang-orang melihat ke arahku.

Aku hendak pergi tapi dia keburu melihat kearahku.

“Ya~ kau itu niat lari pagi denganku tidak.”

Aku menutup wajahku dengan tangan. Aku malu.

Dia lalu menggandengku kearah motornya. Menyuruhku untuk duduk di belakangnya dan berpegang erat padanya.

Aku tidak berani bertanya. Aku takut dia pingsan saat mencium aroma nafasku.

Aku tidak mengeratkan tubuhku. Bukan karena aku merasa bau tapi karena aku tidak ingin dia merasakan detak jantungku. Jantungku yang berdebar saat bersamanya.

Dia menghentikan motornya di depan rumahku. Aku menatapnya tidak mengerti.

“kita tidak mungkin berjalan kalau kau seperti ini.” dia memperhatikanku dari ujung kaki ke ujung kepala, “mandilah dan aku akan menunggu disini.”

Aku memandangnya tidak percaya. Kurasa didalam tubuhku ada mesin membuat popcorn karena aku merasa banyak popcorn meledak di dalam tubuhku.

Aku segera berlari kedalam rumah dan mandi lalu berdandan yang cantik.

Dia tersenyum saat melihatku sudah dalam keadaan yang bersih.

Kami akhirnya tidak jadi lari pagi karena sudah kesiangan. Dan akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi kota Seoul.

Sungmin melihat foto dirinya duduk diatas motor kesayangannya  Dia sedang menunggu Hyeosun dengan wajah di tekuk.

Berkali-kali Sungmin menoleh ke arah tempat ia dulu menemukan Hyeosun sedang menatapnya dengan piyama pinknya. Tidak ada Hyeosun lagi di sana. Tidak ada sesosok yang sedang memandang sendu pada dirinya.

Sungmin membawa motornya membelah kota Seoul. Berkali-kali ia menoleh ke belakang mencoba menangkap bayangan Hyeosun yang sedang memeluk tubuhnya.

Sungmin berdiri menatap sebuah rumah besar yang sudah tidak berpenghuni. Sudah setahun lebih penghuni rumah itu pindah. Dan sialnya ia tidak pernah tau kemana semua penghuninya pergi.

Sungmin memandang bekas kamar Hyeosun. Dari sanalah Hyeosun sering memfoto dirinya secara sembunyi-sembunyi.

__________d_e_s_o_n___________

September 28, 2008 –Pameran fotografi Seoul–

Dia tampak bosan saat aku mengajaknya ke pameran fotografi. Aku sempat memfotonya saat dia sedang menguap. Aku masih ingin melihat pameran tapi kurasa dia sudah kebosanan.

Mungkin aku akan mengajak kakakku untuk melihat pameran ini, bukan dia. Karena aku tidak ingin dia mati kebosanan karena menungguku.

October 15, 2008 -pesta Ulang tahun Lee Donghae-

Kesalahan terbesarku adalah datang ke pesta ulang tahun hanya dengan memakai kaus dan jins biasa. Apalagi ulang tahun seorang Lee Donghae musisi terkenal yang juga saudara sepupunya.

Aku seperti kurcaci kecil yang terus memperhatikannya dari jauh. melihatnya menyapa dan mengobrol dengan tamu Donghae yang lain.

Untungnya aku membawa kameraku dan mulai memfotonya dari bermacam sudut. Tapi karena banyak memfoto aku malah disangka tukang foto. Benar-benar sial.

Aku mengarahkan kameraku saat aku melihat dia dan seorang perempuan sedang asik mengobrol. Aku mengambil fokus jarak jauh dan melihat senyumnya begitu manis. Dia tidak pernah tersenyum semanis itu padaku.

“Lihat Sungmin dan MinYoon sangat serasi. Aku sangat menyesal saat mereka putus.” Aku menoleh saat mendengar tamu pesta yang sedang bergosip di sebelahku

“aku dengar katanya MinYoon sudah di jodohkan dengan seorang dokter Park.”

“Sepertinya mereka masih saling suka. Kudengar Sungmin juga masih sendiri.”

Aku menatap sedih. Benarkah perempuan itu yang sering dia ceritakan. Perempuan itu cinta pertamanya.

Perempuan yang anggun dengan gaun biru safir. Ia tampak elegan dan cantik berbeda denganku. Aku tidak sebanding dengannya.

Tanpa aku sadari aku melangkah menjauhi mereka.

Sungmin menatap langit-langit kamarnya. Ia ingat hari itu, hari saat melihat MinYoon tersenyum bahagia dan ia juga bahagia karena MinYoon bahagia. Awalnya ia pikir tidak akan sanggup melepaskan MinYoon tapi ia memang telah lupa karena gadis lain. Gadis yang tiba-tiba menghilang dan menolak untuk bertemu setelah pesta.

Setelah tiga hari gadis itu mau menemuinya dengan wajah yang masih suntuk. Setelah tidak melihatnya selama tiga hari ia merasa rindu pada gadis itu dan entah dari mana ia dapat inspirasi untuk memainkan gitarnya. Tentang gadis itu, tapi sepertinya gadis itu memikirkan hal lain.

October 18, 2008

Aku tidak punya alasan utuk tidak bertemu dengannya. Dia terus memaksa untuk pergi hingga aku luluh. Meski saat aku melihatnya aku teringat kejadian di pesta ulang tahun Lee Donghae. Hatiku sakit.

Dia mengajakku makan di Byul Soul Café. Kami duduk di tempat biasa kami makan. Café ini sepi hingga dia bisa dengan bebasnya bermain gitar.

Dia memainkan lagu yang indah. Lagu tentang seorang gadis yang amat cantik dan ia menyukainya.

Aku hanya mengutuki diriku yang bodoh. Kesalahan terbesarku adalah menjadi seorang sahabat dari orang yang kusuka. Lucu tapi menyedihkan.

__________d_e_s_o_n___________

January 1, 2009 –Mini’s House–

Aku berlari kerumahnya pada tengah malam. Aku memanjat tembok rumahnya. Untung dia pernah memberi tau jalan masuk-keluar kamarnya jika keadaan darurat. Darurat maksudnya jika ayahnya melarangnya keluar dan dia ingin keluar.

Aku memanjat tembok menuju kamarnya. Sial jendelanya terkunci.

Aku menunggu sekitar lima belas menit. Ketika jam menunjukan pukul dua belas tepat aku mengedor-gedor jendela kamarnya.

Semua orang menyalakan kembang api sebagai tanda perayaan tahun baru, aku tidak peduli. Aku ingin merayakan ulang tahunnya. Berdua.

Sudah berkali-kali aku mengetuk jendela kamarnya namun tidak ada jawaban.

Saat jam menunjukan pukul 2. aku melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah. Ia dan keluarganya keluar dari mobil itu.

Aku hanya melongo melihat kejadian itu. pantas saja rumahnya terlihat sepi. Ternyata mereka pergi merayakan tahun baru dan ulang tahunnya diluar.

Kesalahanku: aku keluar tanpa jaket dan aku tidak memastikan dia ada di dalam rumah. Bodoh.

__________d_e_s_o_n___________

Sungmin berjalan di disebuah pusat perbelanjaan. Ia melihat foto-foto yang diambil oleh Hyeosun. Ia merasa Hyeosun sedang berjalan disampingnya.

Sungmin lihat aksesoris berwarna pink. Ia tau bahwa Pink merupakan warna favorit Hyeosun. Ia memilih beberapa aksesoris dan baju berwarna pink. Entah sejak kapan ia senang membeli sesuatu yang berbau Pink dan Hello Kitty. Semua itu seakan mengingatkannya pada orang yang amat ia rindukan.

Padahal dulu setiap ia diajak ke tempat ini ia selalu mengeluh dan cemberut.

February 3, 2009 –pusat perbelanjaan Seoul–

Dia tampak lelah seharian menemaniku keliling kota Seoul. Suruh siapa dia ingin ikut.

Sebenarnya aku ingin memberinya kejutan saat Valentine nanti. Apa boleh buat aku harus menyiapkan kado yang lain untuknya.

Kami membeli sebuah gantungan Hello kitty berwarna Pink. Dia keberatan tapi aku memaksanya. Dia pun luluh.

Sungmin melihat gantungan Hp-nya. Gantungan itu sudah putus beberapa kali namun ia tetap memakainya. Ia ingin mengingat gadis itu sampai kapanpun. Gadis yang selalu ada di sisinya.

February 9, 2009 –63 building-

Kami tidak jadi merayakan Valentine bersama. Dia bilang akan pergi ke jepang salama dua bulan.

Aku sangat sedih mendengar itu. bukan karena kami tidak akan merayakan valentine tapi aku tidak bisa melihatnya untuk dua bulan kedepan.

Dia mengajakku ke 63 building. Dia bilang ingin mencari inspirasi untuk menulis lagu.

Dia mulai sibuk dengan nada-nada dan gitarnya. Ku pikir dia ingin melihat mata hari terbenam atau menyatakan cinta padaku tapi ternyata dia hanya bermesraan dengan gitar kesayangannya.

Aku merasa menjadi orang ketiga saat dia memegang gitarnya >.<’

__________d_e_s_o_n___________

Sungmin memetik gitarnya. Mencoba mencari nada yang pas untuk lagunya.

Sungmin mendengus kesal saat ia tidak mendapatkan lagu yang dia inginkan. Ia menghempaskan tubuhnya lalu mengambil foto yang terpajang di sisi ranjangnya.

Sungmin memandang fotonya bersama Hyeosun. Mereka saling berpegangan tangan di bawah Namsan tower. Sungmin tertawa bahagia tapi Hyeosun malah tersenyum hambar.

April 4, 2009 –Byul Soul Café–

“kenapa kau terus memperhatikan aku seperti itu?”

Tanpa sadari aku memandangnya. Aku menundukan wajahku yang merah. Aku malu.

“apa kau tidak punya kerjaan lain selain memandangku? Atau aku terlihat begitu tampan bagimu.” Dia masih menulis lirik-lirik untuk lagunya. Huft… untung dia tidak melihat wajahku yang merah.

“Cih, kau terlalu percaya diri.” Ucapku dengan gugup

Dia melepaskan pandangannya dan memandangku dengan tatapan dinginnya. Matanya yang hitam jernih selalu sukses membuatku sesak nafas. Senyum separo nya membuatku lupa jika dia sahabatku. Aku ingin lebih dari sekedar sahabat.

“Kalau begitu BERHENTILAH MEMANDANGKU SEPERTI ITU.” ucapnya dengan sedikit bentakan yang entah mengapa membuat seluruh saraf diotakku lumpuh.

Aku mengalihkan wajahku. Aku tidak ingin dia melihat mataku yang sedang berlinang.

Aku memilih memutuskan untuk pergi dari hadapannya. Membiarkan dia sendiri.

April 7, 2009 –Byul Soul Café–

Dia bilang akan mengatakan rahasia kecilnya. Membuatku semakin penasaran.

Aku menyesal mengetahui rahasianya. Dia menyukai gadis lain.

Aku harap ini April mop atau semacamnya. Bukan. Ini kenyataan.

Apa yang harus aku lakukan??? Aku tidak bisa lagi menganggap dia sebagai sahabatku. Perasaan ini sudah terlanjur ada untuk dia.

June 21, 2009 –Byul Soul Café–

Dia bilang sudah punya kekasih tapi kenapa dia masih mencariku. Aku tidak bisa terus melihat kau berdua dengan kekasihmu, Lee Sungmin. Kenapa kau tidak bisa menghargai perasaanku.

Kesalahanku adalah: membiarkan aku terlalu jauh mencintaimu dan kau tidak tau apa-apa.

__________d_e_s_o_n___________

Sungmin melanjutkan membaca Photo Diary Hyoesun. Ia membuka halaman-halaman dari buku tersebut. Harusnya di akhir cerita berakhir bahagia tapi di buku tersebut malah membuat hati Sungmin semakin meringis.

July 1, 2009 –tepi sungai Han–

Aku tau aku salah. Menjadi sahabat dari orang yang paling kusayangi. Bahkan setelah bertahun-tahun aku bersahabat dengannya, perasaan itu tidak pernah hilang.

Kesalahan keduaku adalah menunggunya. Menunggu dia membalas semua perasaanku. Ku bilang salah karena dia tidak pernah melihatku sebagai seorang gadis. Aku hanya seeorang sahabat.

Kesalahan yang paling fatalku adalah aku masih mencintainya walaupun dia melukaiku.

Ku pikir aku akan bahagia jika melihat dia bahagia. Sesederhana ini. tapi kenyataannya tidak demikian. Aku malah terjerumus ke dalam lubang yang sangat hitam.

Chaesun, kekasihnya memintaku untik menjauhinya.

Aku sadar siapa dia dan apa statusku padanya aku mengalah. Perlahan-lahan aku akan melepasnya pergi.

July 10, 2009 –didunia yang hanya ada aku dan dia/seandainya–

Cinta itu hanya ada satu perempuan dan satu lelaki. Tidak akan pernah lebih.

Chaesun memintanya untuk memilih. Pacar atau sahabat. Chaesun tidak rela bila ia di duakan seperti ini.

Aku memandang heran Chaesun. Harusnya aku yang lebih tersakiti. Kenapa dia yang uring uringan.

Tanpa diminta juga aku sudah mulai menjauhi dia.

Ambil saja sepuasnya. AKU TIDAK PEDULIII… Y.Y

Augst 21, 2009 –didepan rumah–

Sungmin menarik tanganku. Aku sudah menghindarinya. Aku sudah mengganti nomor ponselku. Aku sudah menghindarinya baik dia kampus maupun di berbagai kegiatan yang kami lakukan berdua.

Dia menungguku di depan rumah. Aku tidak bisa menghindari lagi. Dia menungguku dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.

“KEMANA SAJA KAU? KAU TAU AKU MENCARIMU??”

Aku menatapnya tajam seolah tidak mempedulikan dia. Aku takut menyakiti dirimu. Lebih baik aku pergi dari hidupmu.

Sungmin menatap lembar terakhir dari diary itu. Tidak ada tulisan lainnya lagi. Ia memandang sendu foto terakhir mereka di namsan tower.

Sungmin ingat jelas hari itu saat Hyeosun mulai menjauhinya tanpa sebab. Kini dia tau penyebabnya.

Dirinya yang terlalu egois. Ia mempertahan kedua nya dalam keadaan sakit.

Ia kehilangan Hyeosun sahabatnya dan sebulan kemudian ia kehilangan Chaesun.

__________d_e_s_o_n__________

Sungmin duduk di bangku yang biasa mereka tempati. Ia memandang lurus ke depan mencoba melihat bayangan Hyeosun yang sedang tersenyum ke arahnya dan berceloteh riang.

Ia merindukan Hyeosun yang senang warna Pink. Ia merindukan Hyeosun yang menyukai lagu ballad. Ia menyukai Hyeosun yang selalu memaninya kemanapun ia mau.

“Sedang menunggu dia?” tanya Yesung sambil menyerahkan daftar menu kepada Sungmin.

“Ya dan tidak.”

Yesung hanya mencibir melihat kelakuan Sungmin

“Aku pesan seperti biasa. Jus strawberry, Blue Ocean, dan dua porsi ddokboki.”

Yesung mengangguk kemudian pergi.

Café ini adalah tempat mereka pertama kali bertemu dan mengobrol tiga tahun yang lalu dan satu tahun yang lalu Hyeosun meninggalkan tempat ini.

Hyeosun bilang jangan pernah menemuinya lagi. Ia hanya tersenyum miris saat melihat kecemburuan Chaesun yang berlebihan. Di satu sisi ia senang dan di sisi lain dia merasa kehilangan.

Sebulan lebih Hyeosun tidak menghubunginya begitu juga sebaliknya.

Sampai suatu hari Heechul menanyakan Hyeosun. Sungmin mencoba meneleponnya tapi hasilnya nihil. Sungmin mencari Hyeosun kerumahnya, rumahnya sudah kosong.

Ia tidak tau kapan Hyeosun pergi dari hidupnya. Semuanya terjadi perlahan dan ketika ia sadari ia telah kehilangan seseorang yang sangat berarti bagi hidupnya.

Sungmin menghela nafasnya. Ia mencoba memainkan gitarnya namun selalu saja salah. Ia tidak mempunyai kekuatan.

“kau tidak pergi dengan teman-temanmu sekedar merayakan tahun baru.” Yesung memecah lamunan Sungmin

Sungmin melirik ke arah kalender yang berada di dekat kasir. January 1, 2011. sudah satu tahun lebih Hyeosun pergi daari hidupnya.

“Hari ini ulang tahunku.” Ucap Sungmin lirih, “Aku ingin merayakannya sendiri.”

“Aku tau, Hyeosun sering menceritakannya padaku.” Yesung mengambil nampannya lalu beranjak pergi.

Setelah berjalan beberapa langkah ia berbalik, “kalian itu… entahlah datang sendiri mau pun berdua pasti menunya sama.”

Sungmin menatap Yesung tidak percaya, “apa maksudmu, Hyung.”

“heh?? Kemaren Hyeosun kemari dan memesan yang sama denganmu.” Yesung mendelik kearah makanan yang ada di meja, “Jus strawberi untuk Hyeosun dan blue Ocean untuk Sungmin. Serta dua ddokbokki makanan kesukaan kalian.”

­­__________d_e_s_o_n__________

Sungmin menjalankan motornya dengan kecepatan yang ekstrim. Ia tidak ingin kesempatannya terbuang sia-sia.

Yesung bilang bahwa Hyeosun akan menghadiri pameran fotografi.

Sungmin tidak ingin kehilangan gadisnya lagi. Kepergiaanya selama lebih dari satu tahun merubah statusnya di hati Sungmin.

Sungmin masuk ke dalam gallery yang pernah ia masuki bersama Hyeosun. Gallery itu kebanyakan memajang hasil lukisan bukan foto. Sungmin tidak peduli dengan semua itu, ia ingin mencari gadisnya.

Sungmin melihat seorang gadis dengan gaun pink selutut sedang tersenyum ramah pada pengunjung lainnya. Gadis itu, Hyeosun-nya.

Pandangan Sungmin tertuju pada sosok pria yang di gandengnya. Pria itu tersenyum manis di sebelah Hyeosun.

Sungmin menfokuskan pandangannya ke jari Hyeosun. Jari yang semula kosong kini telah terisi. Sebuah cincin manis melekat di jarinya begitu juga dengan lelaki di sebelahnya.

Sungmin berbalik meninggalkan gallery itu. Hatinya hancur.

Bodoh. Kenapa ia menyadari hal yang sudah terlambat.

Tanpa Sungmin sadari seseorang memperhatikannya dari jauh. Ia merasa tidak asing dengan sosok Sungmin.

“siapa nama orang yang baru saja pergi?” ucap pria itu pada petugas penjaga pintu.

“disini tertulis Lee Sungmin.” Petugas itu menyerahkan daftar nama tamu yang masuk.

Pria itu bergumam kemudian masuk kembali ke gallery.

__________d_e_s_o_n__________

“biasanya dia kemari sekitar jam empat sampai jam lima.” Ucap Yesung pada seorang pria. Pria itu menganguk kemudian kembali ke tempat duduknya. Seorang gadis menunggunya dengan sabar.

“Ada apa Oppa?” tanya gadis itu sambil memperhatikan undangan yang baru di cetak itu.

“tidak ada apa-apa.” Ucapnya santai, “Cih, kenapa warnanya harus Pink aku benci melihatnya.”

“Kau tidak boleh membenci sesuatu secara berlebihan Kim Youngwoon Oppa, nanti kau akan menyukainya.”

“aku tidak akan pernah menyukai warna Pink, Hyeosun-ah” Ucap Youngwoon penuh penekanan

“Aku tidak…”

Kring…

Ucapan Hyoesun terhenti saat melihat seorang pria berjaket hitam masuk kedalam café. Mata Hyeosun membulat saat melihat pria itu, “Sungmin.” Ia setengah berbisik.

“Ya~ Sungmin kau sudah datang. Aku sudah bawakan minuman kesukaan kalian.” Yesung menarik Sungmin kearah Hyeosun.

Hyeosun menjadi tegang dan gugup seketika. Youngwoon segera mengenggam tangan Hyoesun untuk menenangkannya.

Sungmin melihat kartu undangan yang bertaburan di meja mereka begitu juga dengan tangan yang saling mengenggam serta cincinnya.

Inikah rasa sakit yang pernah Hyeosun rasakan saat ia bersama Chaesun.

“sudah lama kita tidak mengobrol seperti ini.” ucap Yesung santai, “Sungmin-ya apa pesananmu masih sama. Atau aku harus menyediakan dua jus Strawbery.”

Hyeosun mengerutkan kening tidak mengerti.

“Sudahlah kalian mengobrol saja aku masih harus ke dapur dulu.” Yesung pergi meninggalkan Sungmin yang masih terdiam membatu.

“kita belum berkenalan, aku Youngwoon, Kim Youngwoon.” Youngwoon mengulurkan tangannya.

“Lee Sungmin imnida.” Sungmin membalas jabatan tangan Youngwoon, “Sepertinya aku mengganggu, aku lebih baik pergi.”

“Kenapa pergi secepat itu.” ucap Youngwoon, “kudengar kalian teman baik. Kalian tidak ingin mengobrol atau apapun misalnya.”

Sungmin menggeleng kepalanya, “aku ada urusan.”

Yesung menarik tangan Sungmin lalu mendudukannya dia sebelah Youngwoon, “Dia pandai membuat lagu. Lagu yang paling kusuka adalah SWEET MISTAKE.”

“Benarkah.” Ucap Youngwoon berbinar.

“iya, dia ciptakan saat dia merindukan seseorang.”

Hyeosun menatap Yesung tajam. Siapa seseorang yang dia maksud.

“bolehkan aku mendengarnya?” pinta Youngwoon

Sungmin memandang Yesung ragu. Namun Youngwoon terus mendesaknya. Sungmin pun mengeluarkan gitar yang selama ini terus menemaninya.

Ia mulai memetik gitarnya perlahan. Kenangan-kenangan bersama Hyeosun muncul dipikirannya. Kemudian fakta yang menyakitkan adalah pria yang bernama Kim Youngwoon.

Hei Girl, please… I don’t want to lose you again

Kembali lah aku merindukanmu

Mencoba untuk bertahan dan mengubur semua kenangan

Tapi aku tidak sanggup

Berbaliklah dan tatap aku yang masih menunggumu

Adakah alasan untuk terus mencintaimu

Aku tak sanggup untuk membencimu

Suka dan cinta menyayat hatiku

Percaya padaku kau satu-satunya

Kesalahan termanisku menjadikan kau yang terindah

Percaya padaku kau tak tergantikan

Kesalahan terindahku menperjelas kau dihatiku

Mungkin aku bodoh

Karena terlambat menyadarinya

Mungkin kau bukan yang pertama

Tapi kau yang terakhir yang kupunya

Sungmin mengakhiri permainannya diiringi dengan tepukan tangan youngwoon dan Yesung. Hyeosun masih bengong memikirkan lirik demi lirik yang diucapkan Sungmin.

“kurasa jika gadis itu mendengarnya pasti dia akan langsung kembali padamu saat kau menyanyikan lagu itu.”

Sungmin hanya tersenyum hambar.

“Oya, tanggal 17 nanti ulang tahunku kau datang ya.” Youngwoon menyerahkan undangan berwarna Pink itu, “Itu Hyoesun yang membuatnya. Sedikit menjijikan melihat warna Pink-nya tapi tidak apa-apa untuk menyenangkan hati seorang adik.”

Sungmin menatap Youngwoon, “adik??”

“Adik. Hyeosun adikku. Memang siapa lagi.”

Sungmin menatap Hyeosun tidak mengerti bukankah Hyeosun tidak mempunyai kakak, “kau bilang kau anak tunggal.”

“Dia adik tiriku. Setahun yang lalu orang tua kami menikah dan kami pindah ke Busan. Karena pekerjaan ayah, kami kembali ke Seoul.” Youngwoon menjelaskan, “meski kami tidak sedarah, aku sudah menganggap Hyeosun sebagai adikku sendiri. Dan cincin ini adalah tanda persaudaraan kami.”

“sepertinya aku harus ke dapur.” Ucap Yesung kemudian.

Hening.

“Jadi?” tanya Youngwoon

Sungmin dan Hyeosun menoleh tidak mengerti.

“sepertinya aku harus pergi dari sini.” Youngwoon mengambil jaketnya kemudian pergi.

Sungmin melirik ke arah Hyeosun. Hyeosun menatap jus strawberry dengan tatapan kosong.

“kenapa kau pergi tanpa memberitahuku?” tanya Sungmin

“Aku… aku… tidak ada alasan untuk memberitahumu.” Hyeosun masih menatap jus strawberrynya

“Kim Hyeosun, kau pergi bukan karena kau menyukaiku kan?”

Hyeosun mematung. Ia menoleh ke arah Sungmin dengan perlahan.

Sungmin memamerkan deretan gigi putihnya.

“kau tidak berubah kim Hyeosun. Masih menyukai warna pink, Hello kitty dan jus strawberry. Semoga saja hatimu tidak berubah, masih mencintai seorang namja bodoh bernama Lee Sungmin.”

Sebuah senyum mengembang di wajah Hyeosun.

Sungmin bangkit dari duduknya kemudian memeluk Hyeosun dari belakang, “jangan pernah menghindar ataupun pergi dari hidupku Kim Hyeosun.”

__________d_e_s_o_n__________

Epilog:

Sungmin dan Hyeosun duduk di gallery milik Hyeosun.

“aku baru sadar jika lukisan ini semua adalah lukisanku.” Ucap Sungmin yang masih tertegun melihat hasil lukisan Hyoesun, “aku juga tidak tau jika kau pandai melukis.”

“aku melukis sejak aku kehilangan semua foto-fotoku. Aku tidak ingin kehilangan kau dalam otakku makanya aku mulai melukisnya. Kata oppa lukisanku bagus. Jadi aku pamerkan saja.”

Sungmin menatap mata kekasihnya lekat-lekat.

“Kau tau, saat kau pergi aku tidak bisa menulis sebuah lirik pun. Karena setelah kau pergi aku baru menyadari bahwa kau adalah sumber inspirasiku, Kekasihku.” Ucap Sungmin sambil menatap mata kekasihnya sambil memeluk gitarnya

“gombal.” Ucap Hyeosun dengan wajah memerah.

Sungmin melepaskan gitarnya lalu memeluk Hyeosun, “saranghae Kim Hyeosun.”

“nado saranghae, Lee Sungmin.”

~End~

 

Annyeong~ salam kenal semuanya…

Ini debut pertama Author di SSFF. Semoga gak bosen ngebaca FF yang temanya sahabat jadi cinta heheeee… Sorry kalo endingnya jelek, author biasanya bikin sad ending…

Yang udah baca jangan lupa KOMEN *deepbow* Kamsahamida ^0^w

 

29 thoughts on “|FF PROJECT| S W E E T M I S T A K E”

  1. admin, kok FF nya di publish??? katanya kependekan trus ga bisa diikutin kontes…

    ku pikir ga bakal di publish jd aku pasang d blog pribadi aku trus aku kirim ke blog lain…

    trus kenapa sekarang FF nya di publis??? *masih ga ngeeh*

    Admin tolong jawab ya, aku g mau terjadi Miss understanding lagi… gomawo ^^

  2. Annyeong..
    Aqw reader bru dblog ne..

    Tanggal yg dpake it tgl ultah smwa member suju kan..
    Keren” c sungmin jg bsa gombal iah..
    Nice ff lah..

  3. Annyeong…..
    slm knal aq reader bru d blog ini,,
    waaaaahhhh kirain Hyeosun ud nikah eh trnyta….
    keren2,,daebak 🙂

  4. annyeong,
    aku baru masuk blog ini,

    cerita lumayan seger,
    se ngga’a author ngga narsist lagi,
    hheheheh^^,

    good job chingu…
    =D

  5. Salam kenal . . .
    Q reader baru d blog ini . . .
    Wah bgus ne ff
    berasa bgt m suasana hati
    sahabat jadi cinta . . .
    ;>;>;>

  6. wow lola amat ya si sungmin,
    yesungnya kciman cma dpt peran dkt, hehe, tmbhin atuh,,

    scra ksluruhan ok dh nh fic,,
    hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s