Hello Bihyul (Part 3 of 4)

TITLE : Hello Bihyul Part 3

AUTHOR : Yuyu

MAIN CAST :

Lee Jinki (SHINee)

Han Yoomin (Ocs)

SUPPORT CAST :

The rest of SHINee’s Member

Haeji (Ocs)

Jihye (Ocs)

GENRE : Romance

TYPE/LENGTH : 3/4

RATING : PG-16

ONEW POV

Kupandangi wajah sayu Yoomin yang sekarang terbaring lemah diatas tempat tidurku. Aku kembali mendesah, untuk yang kesekian kalinya. Masih saja aku tidak mengerti apa yang membuat Yoomin sampai-sampai harus mengorbankan kesehatannya sendiri demi menjaga Bihyul. Bukannya aku bermaksud menyepelekan, tapi Bihyul hanya demam biasa, demamnya tidak akan memburuk hanya karena Yoomin tertidur sebentar kan?

“eomma…” suara Bihyul dari luar kamar terdengar lemah dan serak. Kulihat Yoomin bergerak-gerak gelisah dibalik selimut karena mendengar suara Bihyul. Dia harus istirahat, itulah yang kupikirkan saat ini. Aku keluar dari kamar dan melihat Bihyul sedang berdiri di depan kamarnya. Sedikit perasaan takut kembali menjalariku saat aku mencoba mendekati Bihyul. Terus kuyakinkan diriku sendiri, tidak akan ada apa-apa, aku tidak akan menyakiti Bihyul hanya karena berada didekatnya. Sialnya, sugesti itu sama sekali tidak memberikan efek apapun saat Bihyul mulai berlari dan memeluk kakiku yang gemetar saat ini.

“Bi—Bihyul-ah …” panggilku pelan, Bihyul mendongak dan melepaskan pelukannya, aku mundur beberapa langkah, menciptakan jarak kurang lebih satu meter dengannya, kemudian berjongkok untuk menyejajarkan pandangan kami, “eomma sedang sakit. Bihyul jangan mengganggu eomma dulu ya?” pintaku. Bihyul terlihat mengerti dan mengangguk

“appa, lapar~” rengek Bihyul sambil memegangi perutnya dan bermaksud untuk kembali mendekatiku. Kujulurkan tanganku, menyuruhnya untuk berhenti, “arraseo, duduklah di sana—ruang makan—dan aku akan memasakkan bubur untukmu.”

Bihyul menuruti kata-kataku lagi dan duduk dengan tenang di meja makan. Aku mencoba mengingat-ingat ketika Key mengajarkanku memasak bubur beberapa bulan lalu. Samar-samar masih kuingat dan kucoba untuk memprakteknya, kali ini tanpa Key.

Setelah buburnya selesai kumasak, kuambil sesuap dan kumasukkan ke mulutku sendiri, hmm, not bad.

“Bihyul-ah, makanlah buburmu.” Kuletakkan sepiring bubur panas dihadapan Bihyul, kemudian segera menjauh kembali dan menatap Bihyul dari jauh. Bihyul hanya menatap buburnya tanpa bergerak sama sekali.

“makanlah, Bihyul.” Pintaku. Bihyul menatapku dengan seperti sedang menunggu sesuatu. Menunggu aku menyuapinya? Oh my god! Otakku bekerja 0,001 detik lebih cepat sebelum aku sempat memerintahnya, kukeluarkan hpku dan menelpon Key atau Minho, atau siapapun itu yang bisa membantuku. Kenapa tidak diangkat?? Pasti mereka tidur larut lagi semalam, huh! Ayo Onew, pikirkan sesuatu, pikirkan cara lain. Aku tidak mungkin membiarkan Bihyul mati kelaparan kan?

Dengan langkah yang sangat tidak yakin, aku menghampiri Bihyul, menarik kursi disebelahnya untuk kududuki. Selama setengah jam, aku menyuapi Bihyul dan akhirnya dia menghabiskan seluruh buburnya.

“apa Bihyul mau mandi?” tanyaku saat meletakan piring kotor diwastafel. Bihyul menggeleng pelan, matanya masih terlihat sayu. Apakah demamnya belum turun? Aku kembali duduk disamping Bihyul. Tanganku terangkat ragu-ragu, hingga akhirnya mendarat dikening kecil Bihyul. Sudah tidak terlalu panas, demamnya sepertinya sudah turun.

“hyung, tadi kau menelponku?” suara Key membuatku menoleh ke belakang untuk melihat kedatangannya. Disusul Minho dibelakang dan Jonghyun.

“kau datang di saat yang tepat! Tolong bantu aku jaga Bihyul!”

“mana Yoomin noona? Kau mengusirnya ya!!?” teriak Key histeris.

“aniya, dia ada dikamar, sedang sakit.” Aku menunjuk pintu kamar menggunakan daguku.

“hyung, bersiap-siaplah, kita harus manggung 2 jam lagi. Biar kami saja yang menjaga Bihyul.” Dengan sigap Minho menggendong Bihyul dan membawanya ke ruang nonton.

“oke, tapi hati-hati ya, Bihyul baru saja sembuh.” Tanpa mendengar jawaban darinya, aku kembali masuk ke kamar untuk mengambil baju yang akan kukenakan. Mata Yoomin masih tertutup rapat. Kata-kata Yoomin semalam kembali terngiang ditelingaku. Kupandangi wajahnya selama beberapa detik, hingga sebuah ide muncul dibenakku. Aku keluar dari kamarku dan masuk ke kamar Yoomin untuk mencari ponselnya.

AUTHOR POV

“ugh” Yoomin terbangun sambil memegangi kepalanya yang terasa berat. Ia memandang sekeliling, terasa asing, tapi juga sangat familiar. Sebuah gambar berukuran besar yang berisi 5 orang namja tergantung disamping pintu, memberikan penjelasan sedang berada di mana ia. Dengan sedikit terseok-seok, Yoomin turun dari tempat tidur, kepalanya masih terasa sakit, seluruh benda-benda disekitarnya seperti sedang melayang-layang. Yoomin harus berpegangan pada dinding sebelum akhirnya ia bisa menyentuh ganggang pintu.

“Yoomin-ah, akhirnya kau sadar juga.” Jihye muncul begitu saja setelah Yoomin keluar dari kamar Onew. Terlalu tidak bertenaga untuk berbicara, Yoomin membiarkan saja pertanyaan yang melayang-layang dibenaknya.

“Tadi Onew-ssi menelponku dan mengatakan kau sakit. Dia memintaku untuk menjaga kau dan Bihyul sampai malam, karena jadwalnya padat. Kau mau makan? Akan kupanaskan bubur untukmu.” Jihye memegangi tangan Yoomin, membantunya untuk duduk dimeja makan. “bukan aku yang memasak, tapi Onew-ssi.” Kilah Jihye setelah mengartikan tatapan Yoomin.

“mana Bihyul?” Yoomin menyisir rambutnya menggunakan tangan dan membentuknya menjadi loose-bun, membuat wajah sayunya jadi terlihat lebih segar.

“di sudah tertidur dari tadi siang. Demamnya sudah turun, hanya tinggal masalah pemulihannya saja. Geogjonghajima, sesekali khawatirkanlah dirimu sendiri. Aku heran, kenapa sih kau harus sampai mempertaruhkan nyawa demi Bihyul? Kau tidak harus sampai melakukan itu, Han Yoomin, kau tau kenapa.” Omel Jihye panjang lebar yang disahuti dengan desahan nafas dari Yoomin.

“hei, apa terjadi sesuatu antara kau dan Onew-ssi?” Jihye mendekati Yoomin, semangkuk bubur yang mengepulkan asapnya ke udara diletakkan dihadapan Yoomin yang memandangnya dengan malas.

“apa maksudmu?” sesuap bubur panas melesat masuk ke dalam mulut Yoomin, perlahan-lahan menuruni kerongkongannya dan sampai ke lambung untuk dicerna.

“kupikir hubunganmu dengannya tidak begitu baik. Tapi, aku berubah pikiran setelah datang ke sini. Dia terlihat mengkhawatirkanmu, dan raut kecemasannya terlihat sangat jelas. Apalagi dia sampai repot-repot memasakkan bubur untukmu. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian? Apakah kalian sudah …” bahu Jihye menyenggol-nyenggol bahu Yoomin, tanpa disadari, pikiran Yoomin melayang-layang membayangkan apa saja yang sudah terjadi antara dia dan Onew.

Apa saja yang sudah terjadi? Tidak ada apapun yang terjadi, Yoomin yakin itu. Kecuali saat ia mengamati wajah Onew yang tertidur, menyadarkan dirinya, betapa sesungguhnya pria itu tidak semenyebalkan apa yang dipikirkannya. Atau ketika ia terbangun di pagi hari dan langsung disambut dengan wajah polos nan lugu itu. Dan tentu saja, pertengkaran—kalaupun itu bisa disebut pertengkaran, karena sesungguhnya hanya Yoomin lah yang merasa kesal sendiri—kecil semalam.

“hei, aku sedang berbicara padamu! Kau pikir aku angin lalu?” kali ini Jihye menyenggol bahu Yoomin lebih keras, berusaha mengembalikan kesadaran Yoomin ke alam nyata.

“eh?” Yoomin berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Jihye beberapa menit lalu, memilih untuk bersikap bodoh dan menyantap sisa bubur dimangkuknya.

Neol saranghal subakke eobseotdeon

Geu nareul ijen arajwoyo

Irul su eomneun sarangdo saranginikka

Dering hp Yoomin membuatnya sibuk meraba-raba saku celananya sambil celingak-celinguk melihat kesekitar ruangan untuk mencari ponselnya.
”sepertinya suaranya dari kamarmu, biar kuambilkan. Tunggulah saja disini.” Jihye menahan bahu Yoomin yang siap berdiri dari tempat duduknya. Jihye menghilang dibalik pintu kamar dan menyembul keluar dengan sebuah ponsel samsung touch screen ditangannya. Sebuah senyuman terukir diwajah Jihye, senyuman yang tidak dimengerti oleh Yoomin.

“Beloved nampyeon.” Kata Jihye, yang masih saja tidak bisa dimengerti Yoomin. Ia mengambil ponselnya, melihat layar ponsel dan tertera ‘Beloved nampyeon’ sebagai caller ID. Kening Yoomin berkerut, sejak kapan ia menyimpan ID seperti itu di hp nya? Tidak pernah, ia sangat yakin ia tidak pernah menuliskan kata-kata seperti itu di hp nya.

“yeoboseyo?” sahut Yoomin ragu-ragu.

“yeoboseyo, kau baik-baik saja? Sudah merasa lebih baikan? Apakah Jihye masih di sana?” sebuah suara memberondong Yoomin dengan banyak pertanyaan. Kerutan-kerutan di kening Yoomin mulai menghilang satu persatu, ia kenal betul suara yang menyebalkan—merdu—itu.

“bisa kau bertanya satu-satu? Aku bingung harus bagaimana menjawabmu. Aku sudah baikan dan Jihye masih di sini. Kenapa? Kau takut kalau aku akan mati?” tanya Yoomin dengan nada sarkartis.

“tidak, aku tidak takut kau mati, aku takut kau diculik alien. Aku sedang dalam perjalanan, mungkin sekitar satu atau dua menit lagi aku akan sampai. Sampai nanti.”

Yoomin memandangi ponselnya yang kini sudah tidak terhubung dengan Onew. Ada apa dengan pria itu? Apakah dia sedang memperhatikan Yoomin? Dan sejak kapan Yoomin memiliki nomor ponsel Onew? Bahkan dengan ID ‘Beloved nampyeon’. Ia yakin separah apapun demamnya, ia tidak mungkin mengetikkan kata-kata seperti itu.

“ada apa?” Jihye menatap Yoomin dengan bingung. Belum sempat Yoomin menjawab, suara pintu apartemen yang terbuka membuat dua gadis itu menoleh untuk melihat si pendatang. Tidak hanya Onew, tapi juga Minho yang tersenyum kecil.

“sepertinya beloved namyeon mu sudah pulang. Kurasa aku harus pulang sekarang.” Goda Jihye yang mulai berjalan mengambil tasnya yang tergeletak begitu saja disofa.

Onew melihat Yoomin sekilas, rona wajahnya sudah terlihat lebih baik, dengan tenang Onew melenggang masuk ke kamarnya. Minho mendekati Yoomin dalam diam.

“noona, apa kau melihat jaketku yang tertinggal?” Yoomin menatapnya dengan kosong. Yoomin mengintip Jihye dari balik bahu Minho, dan Jihye hanya menunjuk jaket hijau tua yang disandarkan di sandaran sofa. Minho melihatnya, kemudian berjalan untuk meraih jaketnya.

“Jihye-ah, kau pulang naik bus lagi?” Yoomin mengeluarkan seluruh tenaga yang dimilikinya untuk menghampiri Jihye dan Minho. Jihye bergumam pelan dan mengangguk, lagi-lagi raut wajahnya berubah kecut hanya dengan membayangkan ia harus menaiki kendaraan umum seperti itu, sesuatu yang selalu membuatnya tidak nyaman.

“Minho-ah, bisakah kau antarkan Jihye pulang? Pakailah mobilku.” Onew sudah berganti pakaian, kaos hitam polos dan celana longgar. Kunci mobil yang digenggamnya dilempar dan ditangkap dengan sempurna oleh Minho.

“tidak perlu, aku bisa pulang sendiri kok.” Kilah Jihye.

“Jihye-ah, jebal. Biarkan Minho mengantarmu. Setidaknya itu akan membuatku lebih tenang daripada kau naik bus sendirian.” Pinta Yoomin setengah memohon. Ia tahu benar bagaimana tidak sukanya Jihye jika harus menggunakan fasilitas umum, Jihye merasa tidak nyaman jika harus berada dikerumunan orang asing.

“ayolah, aku antar noona pulang. Aku tidak akan macam-macam.” Sorot mata Minho menyiratkan ketulusan meski Jihye meraguinya, ia tidak hanya meragui Minho, tapi hampir semua pria—yang bersikap baik maupun tidak padanya. Jihye menyerah, benar kata Yoomin. Setidaknya ia merasa sedikit lebih aman jika pulang bersama dengan Minho—sahabat suami Yoomin—daripada harus berdesak-desak di bus dengan orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

“bawa saja mobilnya ke dorm, besok pagi aku akan ke sana.” Pinta Onew sambil mengantar Minho ke depan pintu apartemen.

***

Setengah jam setelah Minho meninggalkan apartemen Onew, ia mengabarinya dan memberitahukan bahwa ia telah mengantar Jihye dengan selamat dan sudah kembali ke dorm. Onew duduk dengan tenang, mencari-cari saluran tv yang bisa menarik minatnya, lalu ia menyerah dan memilih untuk membuka saluran musik. Bihyul keluar dari kamar, masih menggunakan piyama tidurnya. Tangan mungilnya mengucek mata bulat besarnya, sementara tangan mungil lainnya mengenggam erat boneka beruang berbulu cokelat. Dengan langkah yang diseret-seret, Bihyul menghampiri Onew yang masih belum menyadari keberadaannya.

“appa~” suara parau Bihyul membuat Onew sedikit tersentak kaget. Tanpa aba-aba, Bihyul memanjat naik ke atas sofa dan langsung duduk dipangkuan Onew yang menjadi gelagapan dan salah tingkah. Ia ingin memindahkan Bihyul agar duduk di sampingnya saja, tapi ia juga tidak berani menyentuh ataupun menggendong Bihyul, takut ia berbuat salah dan justru melukai tubuh kecil dan rapuh milik Bihyul. Bihyul menyenderkan tubuhnya ke tubuh Onew, matanya berkedip-kedip pelan menatap layar tv yang masih menampilkan acara musik. Onew mendesah pelan, tidak bisa berbuat apa-apa pada Bihyul. Ia terus memperhatikan Bihyul, jarak sedekat ini, membuat Onew menyadari kemiripan-kemiripan Bihyul dengan hyungnya. Pernahkah ia merasa bahwa anak kecil itu sangat imut? Pernah, dan selalu ia rasakan jika memang benar anak tersebut terlihat imut dimatanya. Tapi ini Bihyul, anak hyungnya—yang juga adalah anaknya sekarang.

Yoomin melihat bayangan yang diperlihatkan matanya dengan perasaan takjub bercampur kaget. Ia tidak pernah melihat Onew berada sedekat itu dengan Bihyul, tidak dalam keadaan Onew yang sadar seratus persen. Tidakkah biasanya ia selalu berteriak histeris begitu Bihyul mendekatinya?

“Bihyul-ah, jangan ganggu appa. Duduk sama eomma saja ya?” bujuk Yoomin sambil menyodorkan keduatangannya ke hadapan Bihyul, mencoba untuk menggendong Bihyul kedalam pelukannya. Bihyul meronta, tidak ingin beranjak dari posisi duduknya yang dianggap sangat nyaman saat ini.

“sudahlah, tidak apa-apa, biarkan saja dia duduk dipangkuanku.” Kata-kata Onew membuat Yoomin jauh lebih terkejut. Sungguh, ada apa sebenarnya dengan pria ini? Dia terlihat sangat diluar batas kenormalannya. Yoomin tidak menyuarakan pikirannya, tetap menjaganya tersimpan baik dalam benak. Yoomin merasa terlalu lelah jika harus beradu argumen lagi dengan Onew.

“sudah minum obatmu?” Onew menoleh, melihat Yoomin yang sekarang duduk disampingnya dengan tangannya yang merangkul kedua kakinya yang diangkat dan diletakkan diatas sofa.

“sudah.” Jawab Yoomin singkat.

“sudah merasa lebih baikan? Apa kepalamu masih pusing?” tanya Onew lagi. Yoomin menoleh, mendapati Onew masih terus menatapnya membuatnya sedikit salah tingkah, dengan gugup Yoomin kembali menatap layar tv seperti yang dilakukan Bihyul.

“sudah lebih baikan. Tapi kepalaku masih terasa pusing, rasanya seperti baru saja berputar-putar ditaman bermain.”

“masalah semalam—“ Onew angkat bicara lagi, tapi dengan cepat dipotong oleh Yoomin.

“mianhae, semalam sepertinya aku sangat kecapekan, jadinya aku mengomel tidak jelas padamu. Mian.” Yoomin mengingat berita yang disiarkan semalam, yang membuatnya tiba-tiba saja menjadi aneh dan marah-marah pada Onew. Jika saja ia bisa mengulang waktu, ia pasti akan mengubah sikapnya saat itu. Kenapa dia harus marah karena melihat Onew dan Jessica? Itu kan sama sekali bukan urusannya. Pernikahan? Persetan dengan semua itu, itu hanya sebuah status bagi mereka. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan. Jadi apa salahnya kalau setelah menikah mereka kembali menjalani kehidupan seperti sedia kala, seperti ketika mereka belum saling mengenal—menikah.? Toh kehidupan Yoomin sendiri tidak berubah, menjaga Bihyul, mengurus rumah, mengurusi online shopnya dan dirinya sendiri. Oke, mungkin sekarang ditambah mengurusi Onew, lalu apa masalahnya? Tidak ada perubahan besar dalam hidupnya.

“hubunganku dan Jessica sungguh tidak seperti yang diberitakan.” Sahut Onew dengan cepat dan kesal. Tidak bisakah Yoomin mendengar penjelasannya barang sedetik saja? Tidakkah Yoomin merasa ingin tau apa sebenarnya yang terjadi—yang pernah terjadi—antara Onew dan Jessica?

Oh, hampir saja aku melupakannya, hubungan kami bahkan tidak lebih baik dari seorang teman, jadi dia mana mau tau tentang hubunganku dengan wanita lain? Cemooh Onew pada dirinya sendiri.

“jika lain kali kau membutuhkan bantuanku, telpon saja. Aku pasti akan segera menghampirimu.” Lanjut Onew yang telah berhasil mewaraskan kembali otaknya.

“dan sejak kapan kau jadi beloved nampyeonku?” ejek Yoomin dengan nada bercanda.

“mau tidak mau, kau harus mengakuinya, yeobo.” Balas Onew sambil menyeringai nakal. Mungkin berusaha bersikap baik pada Yoomin dan memperbaiki hubungan mereka yang parah akan membuat Onew lebih sering untuk berpikiran waras.

“mengakui apa? Dan siapa yang kau panggil yeobo?”

“sudahlah, hentikan perdebatan konyol ini. Kalau kita teruskan, aku yakin nanti akan terjadi pertumpahan darah.” Onew berhenti bicara sesaat dan melihat Yoomin terkekeh kecil, “Mulai lusa, kami akan diberi waktu liburan sebelum memulai persiapan konser. Key mengusulkan untuk berlibur di villa milik orangtuanya di dekat pantai selama 3 hari dua malam, mereka juga mengajakmu dan Bihyul. Kau mau ikut?” lanjut Onew.

“pantai? Kedengarannya menyenangkan. Sudah lama aku tidak berlibur. Kapan ya terakhir kali aku berlibur?” Yoomin menggerak-gerakkan jari telunjuknya didepan dagu dan berpikir.

“aku anggap jawabanmu adalah ‘ya’. Ajaklah Jihye, aku yakin kau tidak mau kesepian di sana.”

“boleh kuajak seorang lagi?”

***

Onew dan Yoomin duduk berdampingan dengan wajah yang sama-sama tertunduk. Mereka tidak menyangka, jika eomma mereka akan melakukan ‘inspeksi’ dadakan seperti ini. Dan tentu saja, mereka mendapat ocehan panjang lebar dari eomma masing-masing, karena mereka tidur di kamar yang terpisah.

“kalian ini kan suami istri.”

“tidak lazim kalau kau masih tidur sekamar dengan Bihyul.”

“kalau kalian tidur terpisah, kapan kalian akan melahirkan keturunan untuk Keluarga Lee?”

“kalau sampai appamu tau, dia pasti akan mengamuk.”

Suara Nyonya Lee dan Nyonya Han terdengar bergantian, tanpa berhenti. Onew yang baru saja pulang manggung hanya mendengarkan sekenanya saja. Ia merasa sangat lelah, berharap dapat langsung beristirahat sepulangnya ia ke apartemen. Tapi siapa sangka, ketika ia pulang, ia justru disambut dengan ekspresi wajah Yoomin yang gelisah, ditambah lagi, muncul dua orang wanita paruh baya diruang nonton apartemennya—masing-masing dari mereka memasang tampang galak.

“pokoknya, malam ini kalian harus tidur bersama.” Tegas Nyonya Lee tanpa ampun. Yoomin hanya bisa membelalakkan matanya mendengar keputusan—yang seenaknya saja dibuat—sieomoni-nya.

“tapi, eomma, kami—“ Onew mencoba untuk memprotes, tapi langsung diputus oleh eommanya dengan tegas. Sejak kapan eomma menjadi diktator seperti appa, batin Onew dengan sangat kesal.

“malam ini kami akan menginap di sini, dan kami akan tidur di kamar Bihyul. Salah satu dari kalian jangan ada yang berani mencoba untuk tidur di ruang tamu, atau kalian lihat saja akibatnya.” Ancam Nyonya Han. Onew dan Yoomin berpandangan dengan pasrah. Daripada terus berdebat tanpa akhir dengan eommanya, Onew lebih memilih untuk menyetujui—atau berpura-pura menyetujui—keinginan para orangtua. Selalu banyak jalan menuju ke Roma kan?

Onew bangkit dari duduknya dan langsung beranjak ke kamar mandi, sementara Yoomin dan Bihyul membantu Nyonya Han dan Nyonya Lee di dapur untuk menyiapkan makan malam.

Makan malam berlangsung dengan lebih tenang, sesekali hanya terdengar suara Bihyul yang merengek ketika tidak mau memakan wortelnya, atau suara Nyonya Han dan Nyonya Lee yang asyik bercakap ria. Tapi sama sekali tidak ada pembicaraan antara Onew dan Yoomin yang sesekali beradu pandang dengan gelisah.

Setelah 15 menit waktu makan malam yang terasa sangat menyiksa, Onew, Bihyul, Nyonya Lee dan Nyonya Han menyantap buah-buahan sambil menonton bersama, Yoomin lebih memilih untuk mencuci piring, sekedar membebaskan dirinya dari ceramah—entah apa—yang bisa saja tiba-tiba dilontarkan oleh Nyonya Han dan Nyonya Lee.

Nyonya Lee beranjak ke dapur, mengambil segelas kosong dan menuangkan minuman ke dalamnya lalu bergegas membawanya kembali ke ruang tamu.

“ini, minumlah Jinki.” Sodor Nyonya Lee. Onew memperhatikan isi gelas tersebut, air putih? Tanpa bertanya apapun, Onew meneguk seluruh isi gelas tersebut sampai habis, tanpa tersisa setetes pun.

‘bagaimana rasanya?” selidik Nyonya Han. Kedua alis Onew saling bertautan, rasa apa?

“ini kan hanya air putih.” Gumam Onew sambil kembali mengamati gelas kosong yang baru saja dikeringkannya.

“bukan, itu adalah …” Nyonya Lee mendekati telinga Onew dan membisikkan sesuatu ditelinganya. Butuh beberapa detik bagi Onew untuk mencerna maksud kata-kata Nyonya Lee hingga akhirnya ia mengerti benar dan membelalakkan matanya, hingga rasanya matanya nyaris jatuh keluar.

“Mworago? obat perangsang!!!? Eomma micheoso!!?” teriak Onew lantang, membuat seisi apartemen jadi menggelegar.

“eomma hanya mencoba membantumu karena kau itu terlalu lamban. Dengan begini, eomma tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan cucu darimu.”

“eomma!” Onew mendesah kesal melihat reaksi Nyonya Lee yang merasa bersalah, sedangkan Nyonya Han hanya tersenyum sambil menggendong Bihyul.

PRAAAAANG!

Suara pecahan membuat seisi apartemen kembali menggelegar sekali lagi. Semua orang yang berada diruang nonton berlari cepat ke dapur, untuk melihat apa yang terjadi. Yoomin menoleh kaget dan menatapi pecahan piring yang berserakan dilantai.

“mi—mianhae…” kata Yoomin dengan tergagap. Yoomin berjongkok, bersiap untuk memunguti pecahan tersebut.

“tunggu! Sebaiknya dibersihkan pakai sapu saja.” Onew bersiap memutar badannya untuk mengambil sapu, tapi suara Yoomin membuat langkahnya terhenti. Yoomin meringis pelan, menahan sakit dilututnya akibat pecahan kecil yang menancap diatasnya saat ia berjongkok.

“aissssh! sudah kubilang pakai sapu saja!” omel Onew yang sudah menghampiri Yoomin dengan panik. Tanpa menunggu reaksi Yoomin, Onew melingkarkan tangannya dipinggang Yoomin dan langsung menggendongnya keluar dapur.

“tenang saja, pecahan ini kami akan bersihkan.” Suara Nyonya Han sedikit berteriak dari dapur agar bisa didengar oleh Onew dan Yoomin.

“Selamat bersenang-senang.” Timpal Nyonya Lee yang kemudian terkekeh pelan.

Onew membiarkan ucapan-ucapan yang bernada usil yang dilontarkan Nyonya Han dan Nyonya Lee begitu saja. Ia lebih mengkhawatirkan keadaan Yoomin, memang bukan luka yang besar, tapi tetap saja Onew merasa cemas. Dengan pelan didudukkannya Yoomin ditepi tempat tidur, sementar ia sendiri kembali menghilang keluar kamar dan masuk semenit kemudian dengan kotak p3k ditangannya.

Bau obat-obatan yang tidak terlalu menyengat menyembul keluar saat kotak itu dibuka. Onew mengubek-ngubek isi kotak untuk mencari cairan pembersih dan kapas.

“gweanchana, hanya luka kecil.” Sahut Yoomin yang sekarang mulai risih dengan kepanikan Onew yang dianggapnya berlebihan.

“diamlah, biar kuoleskan cairan ini dulu. Lukamu bisa infeksi.” Sergah Onew yang tidak mempedulikan penolakan dari Yoomin. Yoomin akhirnya memilih diam dan membiarkan Onew membersihkan lukanya. Onew berjongkok didepan tempat tidur, tepat dihadapan Yoomin, membuat Yoomin bisa dengan bebas memperhatikan wajah Onew tanpa disadari oleh orangnya.

“kenapa kau ceroboh sekali sih?” omel Onew, tapi tidak dengan kekesalan.

“ah, igeo… aku mendengar teriakanmu… tentang obat itu…” suara Yoomin tercekat, membayangkan ketika ia mendengar teriakan Onew beberapa menit lalu. Ia bahkan tidak sanggup menyebutkan nama obat itu. Onew membersihkan kerongkongannya dengan berdeham kecil. Dilekatkannya sebuah plester berwarna kulit diatas luka yang telah disterilkan. Onew mendongak untuk melihat wajah Yoomin, tapi Yoomin justru menunduk dan meniup-niup bekas lukanya, mengakibatkan wajah mereka berdua sejajar. Yoomin mungkin tidak menyadarinya karena ia sibuk meniup-niup lukanya, tapi Onew menyadarinya, juga merasakannya, detak jantungnya menggila. Kulit pipi Yoomin yang putih seolah menggodanya untuk menyapukan tangannya diatas kulit halus itu. Sesuatu—entah apa itu—dalam diri Onew seolah berlomba-lomba memompa darahnya, membuat ia kehilang akal sehatnya.

“Yoomin-ah…” Onew berbisik pelan, sangat pelan ditelinga Yoomin hingga terdengar seperti desahan.

“yaaa! Sudah kubilang jangan berbisik ditelinga…ku” suara Yoomin semakin melemah sekarang setelah ia melihat wajah Onew yang berada dihadapannya, jarak yang terlalu dekat yang membuat Yoomin tidak tau harus bersikap bagaimana. Mereka terdiam, seperti kehabisan kata-kata. Onew menatap mata Yoomin lekat-lekat, semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Yoomin sambil sesekali menatap bibir mungil Yoomin. Entah karena panik atau apa, Yoomin sama sekali tidak bergerak sesenti pun, ia balik menatap Onew, pandangan yang baru pertama kalinya ia lihat. Yoomin berkedip dengan cepat saat merasakan sesuatu yang lembab dan basah mendarat bibirnya. Yoomin tersentak, menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Onew padanya, menciumnya. Keduatangan Yoomin mendarat dibahu Onew, meremasnya dengan pelan akibat sensasi yang dirasakannya saat Onew melumat bibirnya. Sentuhan ringan dibahunya serasa api yang membakar kulitnya, Onew merasa tubuhnya semakin panas, Onew berdiri perlahan-lahan, memaksa Yoomin untuk mendongak dan membalas ciumannya. Tidak dipungkiri, keduanya terhanyut dalam ciuman yang semakin lama semakin memanas dan menjadi intens. Setelah memaksa Yoomin untuk mendongak, Onew mendorong tubuh Yoomin hingga terbaring ditempat tidur tanpa sekalipun menghentikan ciumannya. Onew menggigiti bibir Yoomin, tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Yoomin meringis dan membuka mulutnya, memberi akses bagi Onew untuk menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Yoomin, menjelajahi setiap rongga mulut gadis itu. Sensasi yang semakin menggila itu sulit untuk dikontrol oleh Onew, tapi Yoomin terlihat sedang mengumpulkan kesadarannya. Ia akui ia tidak bisa menolaknya, rasanya sangat luar biasa. Tapi ia masih sangat waras untuk tidak membiarkan hal ini terus berlanjut, karena ini salah. Yoomin ingat bahwa tidak ada perasaan cinta diantara mereka, Onew melakukannya karena pengaruh obat yang yang diberikan oleh Nyonya Lee, jadi hal ini tidak seharusnya berlanjut lebih jauh. Yoomin memang sempat terhanyut dan sebenarnya masih terhanyut dengan perlakuan Onew saat ini, tapi ia tau hanya ia yang bisa menghentikannya dan harus dilakukan. Dengan menghimpun segenap tenaga dan kewarasannya, Yoomin menghentakkan kepalanya dengan keras hingga berbenturan dengan kepala Onew. Mereka berdua meringis bersamaan, Onew menghentikan kegiatannya dan segera berdiri sambil memegangi keningnya yang sakit.

“akan kuanggap hal itu tidak terjadi.” Yoomin mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin, meski rona wajahnya telah mengkhianatinya dengan berubah menjadi warna merah.

Onew masih mengelus-elus keningnya. Berpikir keras apa yang baru saja ia lakukan. Astaga! Onew seolah tidak percaya dengan apa yang dilakukannya tadi. Kalau saja Yoomin tidak menghentakkan kepalanya dan menghentikannya, entah apa yang akan terjadi beberapa menit selanjutnya. Detak jantung Onew masih belum bekerja normal, masih menggebu-gebu dan meninggalkan sedikit sensasi yang dirasakannya tadi. Onew menggeleng pelan, mencoba untuk mengusir segala perasaan aneh yang dirasakannya. Onew bersumpah sekarang ia tidak akan sembarangan mengambil pemberian eommanya.

“igeo…” Yoomin menyodorkan bantal dan selimut pada Onew, membuyarkan lamunan Onew. Onew mengambilnya dan menatap Yoomin dengan bingung.

‘kau tidur dibawah.” Jawab Yoomin singkat.

“mwo!!? Kau menyuruhku tidur dilantai? Tapi ini kan kamarku, dan ini tempat tidurku, Han Yoomin.” Tolak Onew sambil berkacak pinggang. Yoomin mendelik kesal pada Onew, tanpa berkata-kata, Yoomin turun dari tempat tidur dan mengambil bantal serta selimut yang akan digunakannya.

“selamat malam.” Ucap Yoomin dengan sinis. Onew melipat keduatangannya sambil berpikir, seharusnya aku tega membiarkan dia tidur dilantai, apa urusannya denganku? Tapi dalam hatinya, ia merasa tidak tega membiarkan Yoomin tidur dilantai seperti itu. Onew menarik tangan Yoomin agar bangun.

“wae!?” Yoomin merasa kesal dengan tingkah Onew yang membuatnya bingung.

“tidurlah ditempat tidur, biar aku yang tidur dilantai.”
”andwae! Ini kamarmu, dan itu tempat tidurmu!” Yoomin mengembalikan kata-kata Onew yang dikeluarkannya tadi.

“tsk, baiklah, kalau kau tidak mau tidur ditempat tidur, berarti kau mau tidur dilantai denganku.” Dengan cuek Onew berbaring dilantai disamping Yoomin, dan tentu saja dengan cepat Yoomin bangun dan melompat naik ke atas tempat tidur. Onew tersenyum kecil melihat reaksi Yoomin yang dirasanya cukup berlebihan.

“selamat malam.” Ucap Onew sambil mematikan lampu tidur.

“igeo, Jinki-ah.” Suara Yoomin terdengar lagi dalam kegelapan.

“apa lagi sih?” omel Onew.

“bisakah lampunya tetap menyala? Aku tidak suka tidur dalam keadaan gelap.”

“aku tidak suka tidur dengan cahaya lampu yang terang benderang.” Balas Onew cepat, kembali memejamkan matanya.

“tapi aku tidak suka gelap seperti ini!” Yoomin bersikukuh dengan keinginannya. Onew berdecak kuat, dihidupkan kembali lampu yang menerangi seluruh ruangan kamar.

“bisakah kau tidur sekarang dan berhenti menggangguku?” Onew memastikan Yoomin mengangguk padanya sebelum kembali memejamkan matanya.

Sementara itu, dikamar lain Bihyul sudah tertidur dengan pulas diapit oleh Nyonya Han dan Nyonya Lee. Nyonya Lee membuka tas tangannya, mengobrak-abrik seluruh isi tas untuk mencari sesuatu.

“omo!” pekiknya tertahan. Nyonya Han dengan cepat menoleh untuk melihat apa yang membuat besannya itu terkejut.

“waeyo?” tanya Nyonya Han.

“kenapa obat nya masih di sini?” tanya Nyonya Lee bingung sambil mengangkat sebungkus obat ditangannya dan memperhatikannya dengan seksama. Ia ingat dengan benar bahwa ia telah melarutkan obat itu dalam air yang tadi di minum anaknya.

“geurom, obat apa yang kau campur dengan air tadi?” tanya Nyonya Han lagi.

“omo! Omo! Omo! Sepertinya aku salah melarutkan obat. Sepertinya itu hanya obat sakit kepala biasa.”

“aigooo, sepertinya kita harus membuat rencana lain. Jinki tidak mungkin akan terjebak dengan cara ini lagi.”

***

Setelah malam yang terasa sangat panjang, Onew dan Yoomin bersyukur karena pagi datang. Itu berarti, liburan di villa tepi pantai dan bebas dari gangguan eomma mereka yang usil.

Pagi-pagi sekali, Yoomin sibuk menyiapkan kimbab untuk makan siang mereka di villa nanti. Barang-barang yang akan mereka bawa ke villa sudah dikemas dengan rapi dan telah duduk manis dalam mobil Jinki. Sambil menunggu Yoomin menyelesaikan kegiatannya membuat kimbab, Onew duduk di depan Bihyul, memperhatikannya yang sibuk meminum susu cokelat kesukaannya. Meski pernah menyuapi Bihyul dan membiarkan Bihyul duduk dipangkuannya bukan berarti Onew sudah terbiasa menghadapi Bihyul. Ia masih takut dan bingung harus melakukan apa pada Bihyul. Tapi melihat gerak-gerik Bihyul yang menggemaskan membuat Onew ingin sekali rasanya memeluk Bihyul, atau setidaknya menyentuhnya sedikit saja. Bihyul menyadari pandangan yang diberikan appanya, Bihyul menyedok susu cokelat tersebut dalam sendok kecil miliknya dan menyodorkannya pada Onew. Onew menggeleng dan tersenyum kecil pada Bihyul, tapi Bihyul tidak mau menarik sendoknya dan terus menyodorkannya pada Onew. Dengan ragu, Onew mencondongkan tubuhnya dan menerima suapan kecil dari Bihyul yang berhasil membuat Bihyul tersenyum manis padanya.

“kajja!” ajak Yoomin yang menggendong Bihyul dan keranjang makanan disisi lain. Onew merebut keranjang makanan itu, membantu Yoomin membawanya ke dalam mobil. Mereka bertiga menyusuri jalanan Seoul dengan bahagia. Bihyul terlihat sangat tertarik dengan perjalanan ini, begitu juga dengan Yoomin yang terus menemani Bihyul bernyanyi-nyanyi riang. Onew duduk disisi kemudi sambil sesekali melihat Bihyul dan Yoomin, juga ikut tertawa bersama mereka. Perjalanan yang ditempuh selama 3 jam tidak begitu terasa panjang bagi mereka.

Setelah sampai, member SHINee yang diantar oleh manager mereka telah menunggu, juga Jihye dan Haeji yang datang bersama.

“okay, saatnya pembagian kamar. Disini ada 4 kamar, tiga dilantai bawah dan 1 dilantai atas. Dan tentu saja aku sekamar dengan Jonghyun hyung.” Cerocos Key setelah mereka semua berkumpul diruang utama villa.

“kalau begitu aku sekamar dengan Minho hyung!” sahut Taemin dengan semangat.

“sepertinya aku sekamar dengan Jihye.” Ucap Haeji yang bersiap-siap untuk memindahkan kopernya.

“tunggu! Kalau begitu aku dengan siapa?” protes Yoomin yang menatap Jihye dengan garang.

“kau tentu saja dengan nampyeonmu. Memangnya kau mau nampyeonmu tidur dengan yeoja lain?” cerca Jihye yang kemudian terkekeh geli.

“tapi … “ belum sempat Yoomin melanjutkan protesnya, Key dan Jonghyun langsung mendorong Yoomin dan Onew untuk masuk ke kamar yang ada dilantai 2.

“oh iya, Yoomin-ah, Bihyul akan tidur bersama kami.” Lanjut Jihye dari lantai satu.

“MWOO!?” teriak Yoomin yang melebih suara Key.

Setelah pembagian kamar yang tidak adil menurut Yoomin, mereka bertujuh membereskan barang-barang bawaan mereka dan langsung meluncur ke pantai. Key terpaksa harus tinggal di villa karena ia sedang menunggu penjaga villanya.

Key berjalan santai menuruni tangga setelah menelpon Nyonya Kim dari ruang nonton dilantai dua. Ia bersiul-siul pelan sambil menuruni anak tangga dua-dua. Ia melihat sesosok yeoja berkuncir kuda tengah termenung memandangi pemandangan diluar jendela.

“hai, noona.” sahut Key santai sambil menepuk pundak Haeji.

“jangan panggil aku noona, kita seumuran kok.” Balas Haeji ramah.

“jinjja? Kupikir kau seumuran dengan Jihye dan Yoomin noona.” Key mengernyit tidak percaya. ‘ah, kau tidak ikut ke pantai?” lanjut Key.

“aniya, aku tidak suka melihat pantai.”

“waeyo? Pantai di sini sangat indah. Kau pasti akan menyukainya.” Bujuk Key.

“aku sudah terlalu sering melihat hal-hal yang indah. Dan aku tidak ingin tertipu lagi oleh keindahan-keindahan seperti itu.” Haeji kembali menerawang langit biru. Key lagi-lagi mengernyit, kali ini karena tidak terlalu mengerti apa yang dikatakan oleh Haeji, kenapa wanita ini terasa misterius baginya?

Hari pertama terasa sangat melelahkan bagi mereka semua, setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan bermain hingga kelelahan. Hari kedua, mereka memutuskan untuk membuat pesta bbq di malam harinya. Para wanita sibuk berbelanja dan menyiapkan bahan-bahannya, sementara para pria menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan.

“Yoomin-ah, sedang apa kau?” panggil Onew dari dalam villa. Yoomin berbalik dan menengok Onew.

“tentu saja membantu mereka memanggang daging. Kau pikir aku sedang apa?” balas Yoomin cuek. Onew berdecak pelan, kemudian keluar dari villa dan menghampiri Yoomin, tanpa meminta persetujuan, Onew langsung menarik tangan Yoomin—memaksanya masuk ke dalam villa.

“yaaa, Lee Jinki, apa yang kau lakukan?” teriak Yoomin.

“kau itu baru saja sembuh, sebaiknya kau tidak usah membantu mereka. Nanti kau sakit lagi. Kau duduk saja dengan tenang di dalam rumah.”

Minho yang dari tadi memperhatikan sepasang suami-istri itu menangguk setuju dan mengiyakan kata-kata Onew.

“kau sendiri? Kau tidak ikut membantu?” Yoomin mendelik ke arah Onew yang duduk disampingnya sambil menonton tv.

“aku? Aku kan sudah keluar biaya, masa harus keluar tenaga juga?” Onew menjawab pertanyaan Yoomin dengan pertanyaan.

“appa, igemwoya?” Bihyul keluar dari kamar dengan sebungkus cemilan ditangannya. Lagi-lagi Bihyul memanjat naik dan duduk dipangkuan Onew.

“ah, I—igeo …” lagi-lagi rasa takut itu merayapi Onew, membuat ia tidak bisa berkata dengan benar.

“Bihyul mau makan ini?” tanya Yoomin sambil mengambil alih cemilan itu dan membuka bungkusnya begitu Bihyul mengangguk.

“tidak apa-apa Bihyul duduk dipangkuanmu?” tanya Yoomin ragu-ragu melihat ekspresi Onew yang gugup. Onew mengangguk pelan, sambil terus memperhatikan gerak-gerik Bihyul.

“dagingnya sudah selesai dipanggang, ayo ke ruang makan!” teriak Key sambil berjalan melalui mereka dengan piring-piring penuh makanan.

***

“sudah kubilang kalau dagingnya kurang matang kan? Hyung tidak mau mendengarku sih.” Omel Key pada Jonghyun setelah mereka selesai berpesta bbq. Yoomin memakaikan selimut pada Bihyul yang tertidur disofa.

“hei, inikan malam terakhir, bagaimana kalau kita memainkan sesuatu? Supaya lebih menarik.” Usul Taemin dengan riang.

“permainan apa? Jangan bilang kalau kau ingin bermain pergantian umur lagi, aku tidak mau!” tolak Onew.

“aniya, kita mainkan truth or dare saja, eotthe?”

“ide bagus, akan kucarikan botolnya, semuanya harus main ya!” ancam Key sambil berlari ke dapur dan membawa sebotol kosong ketempat mereka.

Mereka berdelapan duduk membuat lingkaran. Karena Taemin yang mengusulkan permainan ini, maka ia yang memulai memutar botol lebih dulu. Botol tersebut berputar sangat cepat dan berhenti perlahan-lahan mengarah ke Onew.

“truth or dare?”

Onew berpikir sejenak, lalu menjawab, “dare.”

“ah, hyung, kenapa kau tidak memilih truth saja sih? Banyak sekali yang ingin kutanyakan padamu.” Rutuk Taemin ,”baiklah, kalau begitu, gendong Bihyul ke kamarnya.”

“mwo!!!?” dengan sangat terpaksa Onew menggendong Bihyul, terlihat sangat canggung. Berkali-kali Yoomin memarahinya karena posisi tangannya yang tidak tepat saat menggendong Bihyul. Yoomin merasa sangat khawatir melihat Bihyul digendong oleh Onew yang takut-takut, dan memutuskan untuk ikut dengan Onew sampai ke kamar Bihyul.

Setelah tantangannya selesai, Onew memutar botolnya dengan bersemangat.

“truth or dare?” tanya Onew pada Jonghyun.

“ehm, truth saja deh.”

“siapa yang paling kausukai diantara kami bertujuh?” tanya Onew sambil menunjuk sekelilingnya.

“tentu saja Key!” teriak Jonghyun sedetik setelah Onew melontarkan pertanyaannya. Sontak kami semua tertawa dan Key hanya terbengong.

“ah, hyung! Kau membuatku malu.” Omel Key sambil berpura-pura marah.

Permainan dilanjutkan, dan kali ini mengenai Jihye.

“noona yakin memilih dare? Hehehe, kalau begitu, tantangannya adalah… mencium Minho.” Sorak Jonghyun.

“mwoooo!?” teriak Minho dan Jihye hampir berbarengan.

“hyung, kurasa tantanganmu itu agak keterlaluan.” Sambung Taemin yang duduk disebelah Minho.

“waeyo? Namanya juga tantanganya, atau kalian lebih berharap aku menyuruhnya menyanyi dan menari di sini?” cibir Jonghyun. Minho dan Jihye jelas terlihat salah tingkah.

“begini saja deh, Jihye noona, putarlah botol itu sekali lagi, kepada siapapun botol itu mengarah, berarti dialah orang yang harus noona cium, araseo?” lanjut Jonghyun, mencoba sedikit mentolerir tantangannya. Jihye mengangguk pelan dan mulai memutar botolnya, tepat berhenti di …

“naega???” teriak Onew tidak percaya. Jelas semua mata terbelalak menatap Onew. Jihye justru terlihat lebih salah tingkah. Bagaimana tidak, masa dia harus mencium suami sahabatnya? Itu benar-benar gila.

“sudahlah, bukankah tadi kata hyung denganku?” Minho memecah kesunyian dan langsung merengkuh wajah Jihye, menempelkan bibirnya dibibir Jihye. Memang bukan sesuatu yang menggebu-gebu, hanya saling menempelkan bibir, tapi seharusnya hal ini membuat Jihye ketakutan, harusnya hal ini membangkitkan kenangan buruk dalam benak Jihye, tapi anehnya Jihye justru merasa tenang.

“selesaikan tantangannya?” sahut Minho setelah ia melepaskan diri dari Jihye yang masih kebingungan. Jonghyun tersenyum puas dan kembali melanjutkan permainan.

Selama hampir dua jam mereka bermain dan akhirnya memutuskan untuk tidur. Atas saran, atau bisa dibilang permintaan dari Taemin, mereka semua tidur bersama-sama diruang tamu. Malam ini adalah malam terakhir mereka bisa bersenang-senang, jadi mereka pikir tidak ada salahnya jika menuruti permintaan si maknae.

“aku mau tidur disamping Yoomin noona.” Rengek Taemin dengan manja sambil memeluk boneka kura-kura entah milik siapa.
’tidak, Yoomin, kau tidur di sana,” Onew menunjuk sudut ruangan yang berbatasan dengan dinding. Yoomin menurutinya dan berbaring dengan tenang disana sementara Onew merebahkan diri disampingnya.

“kenapa kau tidur di sini?” protes Yoomin setengah berbisik.

“lalu, kau mau tidur disamping salah satu dari mereka? Salahmu sendiri menolak tidur di sofa dan membiarkan Jihye serta Haeji tidur disana.” Yoomin memberengut kesal, tapi justru terlihat manis bagi Onew.

“yeobo, jangan cemberut seperti itu, kau terlihat menggemaskan.” Goda Onew menyentuh ujung hidung Yoomin.

“yaaah, berhentilah bertingkah aneh.”

Onew terkekeh pelan, sedetik kemudian ia mulai memfokuskan dirinya untuk tidur dengan nyenyak.

***

Seperti yang sudah diduga. Kegiatan SHINee sangat padat. Onew harus pergi pagi-pagi sekali dan pulang sangat larut. Ia bahkan tidak pernah makan dirumah lagi, hampir tiga hari ia tidak benar-benar menatap Yoomin dan berbicara dengannya, meski hanya sekedar perdebatan tidak penting.

Yoomin sendiri sibuk dengan online shopnya yang semakin laris. Terkadang ia harus ke café Jihye dan membahas masalah shop mereka.

Ditambah lagi, entah apa yang membuat Bihyul terus-terusan mencari Onew—padahal Onew tidak pernah dekat-dekat dengan Bihyul ataupun menemaninya bermain—membuat Yoomin pusing tujuh keliling setiap kali Bihyul mulai merengek padanya untuk bertemu dengan Onew.

Yoomin duduk didepan laptopnya, lengkap dengan kacamata berbingkai hitamnya.

“eomma.~~ appa!” samar-samar suara Bihyul membuat Yoomin menghentikan jari-jarinya yang menari-nari diatas keyboard.

“Bihyul-ah, appa sedang sibuk bekerja. Bihyul jangan rewel terus ya? Eomma juga harus bekerja.” Sahut Yoomin dengan suara yang sangat lembut, tidak ingin membuat Bihyul sedih ataupun menangis.

“appa, appa..” ulang Bihyul lagi, kali ini menyodorkan beberapa carik kertas pada Yoomin. Yoomin mengambil koran yang diberikan oleh Bihyul. Ia mengernyit, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Bihyul. Yoomin melihat halaman depan koran tersebut, matanya terbelalak lebar ketika melihat foto-foto yang terpasang di sana…

“igemwoya???” tanya Yoomin pada dirinya sendiri. Dengan cepat Yoomin melesat masuk ke kamarnya, kemudian keluar dengan hp ditangannya. Dicarinya ID yang ingin dihubunginya. Panggilan pertama tidak ada yang mengangkat. Panggilan kedua, sedetik sebelum nada sambung terhenti, terdengar jawaban dari seberang sana.

“yeoboseyo?” sapa suara diseberang sana.

“yaaa, Lee Jinki! Apa maksudnya ini?” teriak Yoomin tanpa berbasa-basi.

“uh? Apa yang kau maksudkan?” tanya Onew bingung karena tiba-tiba saja Yoomin menelponnya dan memarahinya.

“lihatlah koran hari ini, dan kau akan mengerti apa yang kumaksudkan!” omel Yoomin sebelum memutuskan sambungan telpon, membiarkan Onew kebingungan di sana.

To Be Continue . . .

11 thoughts on “Hello Bihyul (Part 3 of 4)”

  1. xixixixi..
    akhirnya keluar juga part ke3 nya..
    onew udah mulai bisa deket sama bihyul..
    jadi seneng..
    onew main sama bihyul aja ya..
    jadi appa yg baik buat bihyul ya..😀

    itu itu, apa yg di koran?? penasaran~~
    lanjut author…😀

  2. argh.. Lg seru serunya juga. Masa tbc. Sumpah ini ff tbc pertama yg gue baca. Dan dari awal gue nikmatin bgt bacanya. Ayo buruan di rilis part 4 nya! Di tunggu ditunggu. Ayo.. Hwaiting chingu. Oh iya aku sbg istrinya minho oppa mau protes atas adegan minho jihye. #ditabok flamers

  3. Kenapa pas adegan Onew m Yoomin d kamar terhenti gitu aj????
    Ampe nahan nafas eh… tiba-tiba????
    Seneng bgt liat keluarga kecil mereka…..
    Tuch koran kabarin apa sich??? *penasaran…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s