I don’t Like Mondays |ONE SHOT|

I Don’t Like Monday

AUTHOR: andri (maknae SSFF)

CAST: Lee Eunji

Kim Kibum (Key)

OTHER CAST: You can see by yourself laterJ

GENRE: Tragedy, Romance (?)

TYPE: One Shot

LENGTH: One Shot

SUMMARY: Seorang remaja cewek yang tidak suka hari senin (wkwkwk)

DISCLAIMER: THIS IS ONLY FANFIC and this fanfic is MINE! Do not bash please. Thank you…

Heyyaaa… my LuvLy readers~ apa kabar semua?? Ada yang kangen dengan sang maknae ini gag? (reader: kaga adaaa~!) (maknae: *mewek, nangis di pojokan sambil guLing22*) oke, kali ini aku bawa (?) FF yang bertema ‘PSIKOPAT’ (maybe) so, kLo ada yang kaga suka, jangan baca ye. Hehehe~

Kalo FFnya bagus, harus KOMEN! KaLo jeLek juga HARUS KOMEN!! Titik! Jujur, aku kecewa gara-gara banyak yang SR pas baca FFku. Jangan kira aku kaga tau ya! :p intinya, aku mau semua FFku di KOMEN!

Happy read~

^^^^^

~Author PoV~

Nama yeoja itu Lee Eunji. Anak yang bermasalah sejak menginjak remaja. Bagaimana tidak? Ia ditinggal eommanya dan appanya sama sekali tidak berusaha merawat, menjaga atau membuatnya menjadi lebih baik.  Sejak menginjak remaja, Eunji suka sekali ‘bermain’ dengan senjata api, padahal ia tahu seberapa ‘bahaya’nya senjata api itu.

Ia adalah seorang gadis remaja berumur 16 tahun. Di usia 16 tahun, pasti banyak remaja yang menghabiskan waktunya untuk berkumpul dengan teman-temannya, tetapi tidak dengan Eunji. Ia selalu menyendiri dan menyendiri. Tidak berniat dan tidak pernah ingin mempunyai teman.

~End of PoV~

^^^^^

-Lee’s Resindence-

~Lee Eunji PoV~

“Eunji! Appa pergi dulu, jaga rumah yang baik, ara?”

“Ye, appa…,” jawabku malas.

Aku duduk di atas sofa dengan kedua kaki bersila diatas sofa. Kumainkan pistol berkaliber 0.22 milikku yang diberikan appa. ‘untuk menembak orang yang mengganggumu,’ katanya. Aku tersenyum kecil, lalu meletakkan pistol itu dengan pelan diatas meja.

Aku melirik keluar jendela. Terlihat sekolah yang sepi di samping rumahku. Tentu saja sepi, sekarang kan hari minggu. Aku menggeliat pelan, lalu keluar dari rumah. Aku memandang langit, lalu tersenyum kecil. Cerah dengan sedikit awan.

“Hei, yeoja~!” panggil seseorang. Aku menoleh, lalu tersenyum.

“Kyu!” seruku, lalu berlari kearah namja itu.

“Apa kabar, yeojaku?” tanya Kyu, sambil mengelus pipiku lembut.

“Baik, sangat baik!” jawabku, semangat.

“Kita keluar yuk? How ‘bout it?” ajak Kyu, sambil mengedip nakal. Aku mengangguk semangat.”Tunggu sebentar, aku akan mengunci pintu dulu.”

^^^^^

-Tengah Malam, di salah satu pub di Seoul-

“Kyu, antarkan aku pulang,” pintaku. Tubuhku mulai limbung karena pengaruh alcohol. Mataku berkunang-kunang.

“Tunggulah sebentar lagi,” ucap Kyu, mencoba menciumku, tetapi aku mendorongnya.”Aku ingin pulang, kalau kau tidak ingin mengantarku, tak apa… aku duluan,” ujarku, lalu keluar dari pub itu dengan terhuyung-huyung.

Di tengah jalan, aku hampir saja di tabrak oleh sebuah mobil. Aku melirik mobil itu dengan sinis, lalu pengemudi mobil itu turun dari mobilnya.

“Heh, yeoja! Cheongmal michyeoso! Babo yeoja!” serunya, mengomel tak jelas.

Aku mendengus.”So what? Aku tidak gila dan aku tidak bodoh! Pergilah!” seruku, kesal.

“Kau mabuk,” namja itu berkacak pinggang.

Darimana dia tau aku mabuk? Apa karena intonasi suaraku dan cara jalanku yang limbung? Aku menatap namja itu dengan penasaran. Lalu sesuatu bergejolak di dalam perutku, seakan ingin keluar. Akhirnya aku memuntahkan seluruh isi perutku di trotoar itu.

“Sudah kuduga kau mabuk,” komentar namja itu datar. Ia menarikku kasar ke dalam mobilnya. Aku memberontak, hendak mengambil pistol berkaliberku. Aku menepuk dahiku, aku tak membawa pistol kecil itu! Sial!

“Kau mau apa, namja sialan?!” teriakku. Namja itu melotot padaku, lalu membungkam mulutku. Aku memberontak. Ini pelecehan!

“Berhentilah memberontak, aku tidak akan menyakitimu. Aku akan melindungimu, tenang—“ bruakkk!! Suara namja itu tidak terdengar lagi dan ia melepaskan tangannya dariku. Kulihat Kyuhyun menarik kerah baju namja itu.

“Jangan dekati yeojaku!” seru Kyu keras.

“’Yeojamu’?” tanya namja itu, suaranya terdengar sinis.”Jika ia ‘yeoja’mu mengapa kau membiarkannya pulang sendiri tanpa dirimu?” ia mendorong Kyu, lalu menyeka luka di bibirnya.

Kyu kehilangan kata-katanya. Namja ini… dia jahat atau baik sih? sebelum sempat mencerna semua pikiranku sendiri, tanganku sudah ditarik lagi oleh namja asing itu. Aku mengerang, tapi tidak bisa menolak.

Seonghami eotteoke doeseyo?” tanya namja itu.

Ireumun je Eunji imnida,” jawabku, ogah-ogahan.”How ‘bout you?” tanyaku, akhirnya.

“Key, just Key,” ucapnya, sambil tetap berkonsentrasi pada kemudinya.

“Dimana rumahmu?”

“Eh…” aku menyebutkan alamat rumahku dengan lancar. Aku heran, biasanya aku tidak bisa sedekat ini dengan orang lain, kecuali dengan Kyu. Kuakui, dia adalah namja yang baik walaupun sedikit cerewet.

“Sudah sampai di rumahmu, cepat masuk,” ucap Key.

“Aniyo,” tolakku. Aku merapatkan punggungku dengan jok mobil.

“Lalu, kau mau apa??” tanya Key, heran dengan tingkah lakuku.

“Bawa aku pergi, kemana saja. Aku kesepian di rumah,” jawabku. Jujur, aku sedikit malu mengakuinya.

“Aku akan menemanimu di rumah, bagaimana?” tawar Key, yang disambut anggukan pelan dariku. Aku yakin, appa pasti belum pulang dan Key bisa jadi temanku selama aku belum mengantuk.

Aku bercerita banyak kepada Key, termasuk pistol berkaliber 0.22 dan koleksi senapan lainnya. Key kelihatan tertarik dengan senapan-senapan itu dan memintaku bercerita lebih banyak.

~End of PoV~

^^^^^

~Key PoV~

Ketika Eunji tertidur, appanya datang dan langsung menuduhku yang bukan-bukan. Untungnya, appanya mau mengerti penjelasanku. Kalau tidak habislah aku.

“FBI?” tanya appa Eunji, aku mengangguk.

“Aku lulus dari tes FBI di Los Angeles, lalu kembali lagi ke Korea. Aku tertarik pada anakmu, jadi biarkan aku mengawasinya,” ucapku tegas. Yang kukatakan bukan permintaan, melainkan perintah.

“Kau tidak akan macam-macam pada anakku kan?” tanya appa Eunji, penuh selidik.

“Tentu saja tidak, buat apa aku macam-macam pada anakmu? Anda tidak perlu khawatir, ahjussi…,” jawabku.

“Baiklah, aku mempercayaimu.”

~End of PoV~

^^^^^

~Lee Eunji PoV~

Hari senin! Aku benci hari senin, sangat-sangat benci! Aku terbangun dari tidurku dengan keadaan rumah yang sudah sepi, berarti appa sudah pergi bekerja. Key meninggalkanku saat aku tertidur. Aku tidak marah, karena dia sudah berbaik hati menemaniku.

Aku menggeliat pelan. Aku sangat malas ke sekolah. Sangat malas! Aku benci, aku tidak suka hari senin. Semua orang tidak suka hari senin.

Aku melihat Elementary School di sebelah rumahku sudah dipenuhi anak kecil yang menunggu di bukakan pintu sekolah oleh kepala sekolahnya. Aku tersenyum, lalu mengambil pistolku. Ide gila muncul di pikiranku, ide yang sangat-sangat gila.

Aku menatap kepala sekolah yang hendak membuka pintu gerbang sekolah itu. Aku mengarahkan pistolku tepat di kepalanya. Duar! Peluru itu tepat mengenai kepalanya. Darah bermuncratan di sekitarnya. Aku tersenyum lebar, lalu menembaki satpam yang berlari kearahku, hingga ia tergeletak mati bersimbah darah. Aku menembaki anak-anak kecil disana, mereka berlari panic. Aku tersenyum manis. Sampai akhirnya mobil polisi datang ke rumahku. Aku segera masuk ke dalam rumah, tidak keluar lagi.

~End of PoV~

^^^^^

-Kantor Kepolisian Pusat-

~Key PoV~

“Hei, ada penyerangan brutal di…” aku mendengar seorang sipir mengatakan alamat yang kukenal. Aku terlonjak kaget dan segera berlari menuju mobilku.

“Yak! Key! Kau mau kemana?!”

“Ke tempat penyerangan brutal itu,” jawabku datar.

-Lee’s Residence-

Kulihat sudah banyak mobil polisi mengepung rumah itu. Aku menghela nafas putus asa. Apa yang telah dilakukan Eunji?? Aku melihat sekolah dasar di sebelah rumahnya dan tercengang. Dia membunuh orang?!

“Key? Apa yang membuatmu datang kesini?” tanya seorang temanku, Minho.

Aku menggeleng,”Lee Eunji yang melakukan penyerangan brutal ini berada dalam pengawasanku, namun aku lalai…,” jawabku.

“Bisakah kau menghubunginya?” tanya Minho.

“Tentu saja,” jawabku, lalu meneleponnya.

Yoboseyo?” tanya Eunji dari telepon.

“Ini aku Key! Apa yang telah kau lakukan?!” tanyaku frustasi.

“Tidak ada yang istimewa, aku hanya menembak orang. Banyak orang,” jawab Eunji.

“Kenapa kau lakukan hal itu?” tanya Minho, yang merebut telepon itu dariku. Speaker ponselku di aktifkan, dan semua polisi mendengarkan apa yang dikatakan Eunji, bahkan ada yang bilang perkataannya akan disiarkan di radio.

“Aku tidak suka senin, this livens up the day,” jawab Eunji datar.

“Aku melakukan ini, karna banyak orang yang tidak suka senin. Banyak orang membenci senin. I don’t like Monday,” tambahnya.

“Eunji-ya…,” ucapku, aku tercengang dia bisa berkata selancar itu pada polisi.

“Apa yeoja ini gila?”

Aku menggeleng,”dia tidak gila. Hanya… ‘kecanduan’.”

Aku ingat apa yang diceritakan appa Eunji. Dia bilang, dari dulu sekali Eunji suka dengan senapan api. Itu karena kesalahan appanya, yang memberikannya pistol berkaliber 0.22 (yang dipakainya menembak orang) dengan amunisi sebanyak 500 butir.

“Key, bisakah kau membujuknya keluar?” tanya Minho. Aku mengangguk.

^^^^^

Eunji duduk di sofanya dengan memeluk kedua kakinya. Ia meletakkan dagunya di atas lututnya. Eunji mendengus melihat kedatanganku.

What do you want?” tanyanya ketus.

“Hanya ingin menemanimu,” jawabku datar.

Ia melunak dengan perkataanku. Ya, anak ini berbuat seperti ini karena ia kesepian. Aku duduk di sebelahnya, kulihat pistol berkaliber yang dipakainya menembak berada diatas meja. Tiba-tiba kurasakan tangan Eunji menarik bahuku dan memelukku erat.

“Aku takut,” ucapnya.

“Kenapa takut?” tanyaku.

“Karena aku seorang kriminal dan kau berbaik hati menemaniku. Aku takut aku akan membunuhmu,” jelasnya. Aku menggeleng.

It’s okay. Kau tidak akan membunuh lagi,” ucapku, lalu pelan-pelan mengelus rambutnya yang tergerai.

~End of PoV~

^^^^^

~Author PoV~

Setelah 6 jam bersama Key, Eunji akhirnya mau menyerahkan diri kepada polisi. Key terlihat frustasi sekaligus kesal pada dirinya sendiri. Dia merasa, kesalahan Eunji adalah kesalahan dirinya juga. Dia harus membantu Eunji. Bagaimana pun caranya.

“Yak! Kau!” seru seseorang di belakang Key. Dia menoleh.

“Kau…,” Key menggantungkan kalimatnya, merasa mengenal namja itu.

“Aku Kyu! Yang pernah memukulmu! Apa yang terjadi dengan Eunji?!” tanyanya, tak sabar.

“Dia membunuh,” jawab Key datar.

“Mwo!? Jadi selama ini aku berpacaran dengan pembunuh? Sial~ aku tidak mau berhubungan dengannya lagi. Padahal… she’s so cute, tapi psikopat. Hah~”

“Kalau begitu untukku saja,” ucap Key tenang, lalu meninggalkan Kyu sendirian.

^^^^^

Kenyataannya, Key tidak bisa membantu Eunji seperti yang ia mau. Pengadilan tidak mengizinkannya. Polisi juga. Dia hanya diizinkan untuk menyaksikan sidang Eunji. Key mengerang putus asa. Dia tidak mau melepas Eunji. Mereka baru berkenalan… dan Key sudah menyukainya sejak pertama kali bertemu.

Key menganga saat Eunji dijatuhi 2 hukuman sekaligus. Empat puluh delapan tahun penjara dan dua puluh lima tahun dengan kesempatan bebas bersyarat. Wajah datar Eunji membuat orang sulit membaca perasaannya.

“Eunji-ya…,” panggil Key saat Eunji hendak keluar dari pengadilan.

“Mwo?” tanya Eunji.

Key langsung menarik Eunji ke dalam pelukannya. Dia mendekap Eunji erat.”Jangan sok tegar begitu kenapa sih?” tanya Key.

“Sok tegar apa?” Eunji balik bertanya.

“Aku saja kaget mendengar vonismu, masa kau tidak?” tanya Key lagi.

“Sudahlah, Key… aku tidak peduli. Toh aku memang penjahat dan sudah harus menerimanya kan??” ujar Eunji, ia membenamkan wajahnya di bahuku. Kurasa ia menangis.

“Eunji-ah… saranghae, aku akan menunggumu,” ucap Key, lalu melepaskan pelukannya. Eunji menatapnya bingung.

“Kau kemungkinan bebas bersyarat. Jadi, aku akan mencoba mencari jalan keluar untuk membebaskanmu, asal kau berjanji tidak akan melakukan kesalahan fatal seperti ini lagi, ara?” ujarku.

Eunji mengangguk pelan. Lalu memeluk Key lagi, berterima kasih pada namja yang sudah baik padanya dan mengerti dia. Dia merasa sangat bersyukur.

Thank you…

END.

^^^^^

The silicon chip inside her head
Gets switched to overload,
And nobody’s gonna go to school today,
She’s going to make them stay at home,
And daddy doesn’t understand it,
He always said she was as good as gold,
And he can see no reason
Cos there are no reasons
What reason do you need to be shown

(I don’t Like Mondays – Boomtown Rats)

^^^^^

Iklan

17 thoughts on “I don’t Like Mondays |ONE SHOT|”

  1. wwaaaahhhh…
    saeng tumben bgt bqn yg bgni??
    ganti suasana,,sensasi yg berbeda….

    OMG,,
    kecanduan??lebih tepatnya disebut gangguan jiwa//plkplk
    wkwkwkwkwk,, peace saeng~
    ^^v

  2. @tamy : seSUJU banget 😀

    @yuu eonni : iya , pengen aja eon . Bosen sama yg temanya romance .
    Hehe

    hah ?? Eunji gangguan jiwa ?? Omoo~ aku gag segitunya eon -.-
    wkwkwk
    gomawo dh baca 😀

  3. ff nya bukan selera ku (halah selera. Bahasa mu nak. Maap ya jujur) tp sensasi baru sih. Baru nemu ff ation di sini. Hemm udara baru aja sih. Lanjutkan perjuangan mu on.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s