The Newest Girlband (News 9) Berli’s Story

AUTHOR : Yuyu a.k.a Younji

Cast :

  • The Rest of Super Junior member
  • The Rest of SHINee member
  • The Rest of Bigbang member
  • The Rest of SNSD member
  • So Hye Won (H:ART)
  • Lee Ji Hae (H:ART) a.k.a Kwon Ji yon
  • Kim Hee Mi (H:ART)
  • Berli (H:ART)
  • Lee Hyun Mei (H:ART)
  • Lee Hyun Min (Solo Singer)

Donghae duduk di depan meja makan sambil memain-mainkan sumpitnya. Tidak ada makanan yang ia ambil ataupun masuk ke dalam perutnya. Pandangannya menerawang kosong entah ke mana. Leeteuk melambai-lambaikan tangannya di hadapan Donghae, tapi tetap saja namja itu berada di dunianya sendiri.

“yaaaaa! Hyuk-ah! Coba kau periksa temanmu ini. Kenapa lagi dia?” teriak Leeteuk pada Eunhyuk yang tengah berbaring di sofa sambil memutar-mutar saluran tv.

“huh?” Eunhyuk beranjak dari tempatnya dan berdiri di samping Donghae—memperhatikan temannya itu. Eunhyuk menghentakkan tangannya di pundak kiri Donghae yang sontak membuat ia sedikit terlonjak kaget begitu roh dan raganya kembali bersatu.
”waeyo?” tanya Eunhyuk.

Donghae hanya menggeleng pelan lalu masuk ke kamarnya hanya untuk mengambil jaket, topi hangat dan kacamata bingkai hitam.

“hyung, aku akan keluar sebentar.” Pamit Donghae tanpa mempedulikan teriakan Leeteuk yang memperingatkannya agar tidak pulang terlalu larut.

Donghae mendesah pelan. Kedua datangnya tersimpan rapi dalam saku celana, menjaga agar suhunya tetap hangat. Donghae menurunkan topi hangatnya hingga menyentuh bingkai kacamata setiap kali ada orang yang berbisik-bisik dan melihat ke arahnya.

Tidak tau harus ke mana atau melakukan apa, Donghae berjalan tanpa tujuan dan menendang batu-batu kecil yang ada dihadapannya.

Ia merasa sangat kacau. Sampai sekarang, ia masih belum bisa mengucapkan sepatah katapun pada Berli. Tidak sapaan, tidak juga klarifikasi tentang gosip mereka berdua—tidak ada satu pun yang bisa ia ucapkan begitu melihat Berli.

Kenapa? Karena jantungnya selalu saja berdebar kencang meski ia hanya melihat sosok Berli. Sungguh, bahkan hanya dengan mendengar nama Berli disebut didekatnya pun, ia langsung salah tingkah seolah-olah Berli ada dihadapannya.

Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya—tidak sekacau ini. Donghae mendesah, entah sudah yang ke berapa kalinya dalam 10 menit terakhir.

Suara ribut-ribut di seberang jalan menarik perhatian Donghae. Ia memandang lurus ke depan, mencoba melihat apa yang sedang terjadi. Matanya menyipit, berusaha lebih memfokuskan pandangannya yang agak sulit karena cahaya remang-remang.

Oke, ia cukup yakin ia tidak sedang berhalusinasi. Yang ia lihat diseberang jalan benar adalah Berli. Jangan salahkan dia kalau butuh waktu cukup lama baginya untuk menyadari apa yang diperlihatkan matanya adalah benar. Ia sudah cukup banyak berhalusinasi melihat Berli di mana-mana.

Donghae melebarkan langkah, bahkan berlari untuk mencapai tempat Berli sekarang berada. Berdiri dua orang namja dihadapan Berli sekarang. Meski Donghae tidak bisa mendengar percakapan mereka karena jarak yang cukup jauh, tapi Donghae yakin kedua namja itu bukan teman Berli—terlihat jelas Berli memasang wajah tidak senang dan mencoba untuk menghindar. Mungkinkah fans gila?

Setelah jarak yang cukup dekat, Donghae bisa mendengar kata-kata namja itu.

“kau sendirian?” tanya seorang namja yang terlihat—sangat mesum di mata Donghae.

“ikutlah dengan kami, kau pasti akan senang.” Sahut seorang namja lainnya. Ia memegang pergelangan tangan Berli, mencoba untuk menariknya. Donghae mencengkram tangan pria dengan kuat. Sementara cengkraman pria itu pada Berli terlepas, Donghae berdiri ditengah-tengah mereka, menamengi Berli dengan tubuhnya sendiri.

“ada perlu dengan yeojaku?” tanya Donghae spontan. Ia bahkan bingung bagaimana ia bisa menyebut Berli sebagai yeoja-nya. Kedua namja itu saling bertatapan, lalu beranjak pergi karena tidak ingin terjadi keributan besar. Donghae masih bergeming ditempatnya berdiri. Ia memastikan kedua namja itu menghilang dari pandangannya dan berbalik pada Berli. Donghae menyentuh pundak Berli dengan kedua tangannya, memutar tubuh Berli ke sana kemari.

“gweanchanayo? Mereka tidak melakukan apapun padamu kan? Tidak terluka kan?” tanya Donghae bertubi-tubi akibat rasa paniknya yang ia yakin dianggap sangat berlebihan oleh Berli.

“eh, gweanchana…” Berli merasa gugup. Tidak pernah ada orang—namja—yang memperhatikan dia seperti ini sebelumnya.

“apa yang kau pikirkan? Keluyuran malam-malam seorang diri, kau tidak tau itu berbahaya!? Bagaimana kalau aku tidak melihatmu? Mereka bisa saja memperkosamu!!” Rasa panik Donghae berbalik menjadi amarah jika ia membayangkan apa yang mungkin saja terjadi jika ia tidak datang menolong Berli. Berli menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Berli mungkin memang berwajah cute, membuatnya terlihat lemah. Tapi pengalaman hidupnya tinggal di Eropa mengajarkan ia untuk tidak dengan mudahnya diinjak-injak oleh orang lain. Jika seseorang menggigitnya, ia akan balas menggigit. Jika seseorang memukulnya, ia akan balas memukul.

Begitulah seharusnya, Donghae memarahinya seharusnya ia balas memarahinya. Tapi lidah Berli justru kelu, tidak bisa memberikan perlawanan sedikit pun. Rasanya ia seperti dimarahi oleh Daddy nya yang sangat ketat dan disiplin.

“kemarikan hp mu.” Pinta Donghae dengan tangan kanannya terulur ke depan. Kening Berli berkerut, untuk apa Donghae meminta hp nya?

“ppaliwa!” Donghae menatapnya dengan galak. Berli merogoh saku celananya dan mengeluarkan Samsung Haptic miliknya pada Donghae.

Donghae mengetikkan sesuatu di hp tersebut, Berli berjinjit—karena perbedaan tinggi mereka—untuk melihat apa yang diketik Donghae tapi Donghae justru sengaja mengangkat hp tersebut lebih tinggi hingga Berli tidak bisa melihatnya.

Berli menyilangkan kedua tangannya, memandang ke jalanan yang masih cukup ramai dengan ekspresi kesal. Hampir saja Donghae terkikik geli, tapi ia berusaha menahan tawanya agar tidak membuat Berli semakin kesal padanya.

“igeo—“ Donghae mengembalikan hp Berli, “aku sudah menyimpan nomorku di sana. Lain kali kalau kau menemui orang-orang seperti yang tadi dan butuh bantuan, telpon saja aku. Aku pasti akan datang.”

Berli mengangguk malu-malu. Kenapa ia seperti mendapatkan perhatian dari namjachingunya?

“kau sudah selesai berbelanja?” Donghae melirik sekantong putih ditangan kiri Berli. “kajja, kuantar kau pulang.” Donghae berjalan tanpa menunggu Berli yang dengan susah payah mengejar langkah Donghae. Langkah Donghae melambat, lalu berputar menghadap Berli.

“wae?” tanya Berli bingung karena Donghae justru berjalan ke arahnya. Berli mundur setiap kali Donghae melangkah maju. Donghae menarik tangan Berli, menahannya agar tidak terus menjauh. Topi rajut yang dikenakan Donghae mendarat mulut di kepala Berli, membuatnya merasa lebih hangat.

“jauh lebih hangat kan?” Donghae tersenyum, memberikan kehangatan lain pada Berli.

Mereka kembali berjalan dengan diam—tidak terasa canggung,  hanya diam. Langkah Donghae terhenti, gedung dorm H:ART sudah ada dihadapan mereka—saatnya untuk berpisah.

“selamat malam, jangan lupa untuk menelponku kalau butuh bantuan.” Pinta Donghae.

“Donghae-ya, gomawo.”

Lagi-lagi Donghae tersenyum dan mengelus kepala Berli lalu berlalu pergi.

***

“topi baru?” tanya Heemi sambil menyesap segelas cokelat panas di hadapan Berli, tapi tidak direspon.

“wah~ topinya kenapa eon? Kok dipelototi terus?” Hyunmei ikut bergabung dan memperhatikan Berli dengan tidak kalah bingungnya dari Heemi.

“aniya, bukan apa-apa.” Berli menyembunyikan topi rajut yang diberikan padanya beberapa hari lalu di balik punggungnya dan mulai celingak-celinguk ke sekitar ruangan. “mana Hyewon eonni dan Jihae eonni?”

Hyunmei mendengus kesal, “biasa, Hyewon eonni sedang pergi dengan Onew oppa. Jihae eonni pergi ke dorm Bigbang. Enaknya yang punya pacar!!”

“kau tidak pergi bersama Kibum?” Berli mendelik ke arah Heemi yang sedang asyik menonton.

“ani, dia sedang syuting.” Jawab Heemi santai.

“eon, sepertinya kita saja yang tidak punya pasangan.” Hyunmei memberengut, menunjukkan wajah cutenya.

“loh, bukankah Berli punya Donghae-ssi?”

“MWOO!?”

Hyunmei dan Heemi terkekeh berbarengan melihat reaksi Berli. Ia menolak, padahal dari ekspresinya terlihat jelas kalau dia juga menyukai Donghae.

“aku mau keluar dulu.” Pamit Berli yang dijawab dengan anggukan dari Heemi.

Berli kembali menyusuri jalanan malam sendirian. Teringat bagaimana pertama kali ia bertemu dengan Donghae, dan juga pertemuan-pertemuan selanjutnya. Kenapa rasanya selalu dipenuhi oleh kesalahpahaman? Lucu rasanya. Berli tersenyum pada dirinya sendiri setiap kali kejadian-kejadian ia dan Donghae terputar kembali di benaknya.

Yah, setelah ia pikirkan dengan kepala dingin, Donghae sama sekali bukan orang jahat—kecuali tentang insiden first kiss itu.

Kata-kata Donghae terngiang di benak Berli, benarkah namja itu benar-benar akan datang kalau ia menelponnya? Berli mengeluarkan hpnya, mencari nama namja itu dari kontak hp nya dan menekan tombol dial. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya telpon terangkat. Suara pertama yang Berli dengar adalah suara teriakan. Apa yang terjadi? Suara berikutnya adalah suara sapaan ‘yeoboseyo?’ yang diikuti oleh teriakan-teriakan lain dan suara berisik lainnya.

“yeoboseyo? Yeoboseyo?” sapa Berli berkali-kali karena ia masih belum bisa mendengar suara Donghae. Apa mungkin ia salah menelpon?

“Berli-ya, waeyo?” akhirnya setelah beberapa menit, suara diseberang sana terdengar jernih dan suara Donghae muncul di permukaan.

“suara apa tadi?” tanya Berli.

“ah, mian, Leeteuk hyung dan yang lainnya sedang bermain. Ada apa?” tanya Donghae lagi.

“hmm, aku sedang di minimarket yang biasa…” Berli terdengar ragu untuk menyuruh Donghae datang atau tidak dan tidak melanjutkan kata-katanya.

“araseo, tunggu aku di sana. Aku ke sana sekarang.” Donghae memutuskan saluran telpon sebelum Berli sempat menjawabnya. Berli tersenyum pada dirinya sendiri. Akhirnya ia akan bertemu dengan namja itu lagi setelah beberapa hari tidak bertemu. Apakah ia merindukannya? Ia tidak tau, perasaannya saat ini sulit untuk ia sendiri mengerti.

Berli menanti kedatangan Donghae dengan bersemangat. Ia berjalan mondar-mandir di depan minimarket tanpa henti-hentinya tersenyum. Ia menggambar bentuk hati menggunakan ujung sepatunya pada tanah yang tertutup salju, lalu tertunduk dan kembali tersenyum.

***

Donghae menatap layar ponselnya dengan sedikit tidak percaya. Ia bahkan tidak menghiraukan suara-suara yang sangat mengganggu disekitarnya. Matanya terus terpaku pada layar ponselnya. Tidakkah ia sedang bermimpi? Ia melihat nama Berli pada caller id hpnya. Ia memang memasukkan nomornya sendiri di hp Berli dan meminta yeoja itu untuk menelponnya jika butuh bantuan, tapi ia sungguh tidak menyangka Berli akan menelponnya. Dipikirkan yeoja itu hanya akan mengabaikan atau bahkan menghapus nomornya.

“yeoboseyo… Yeoboseyo?” sapa Donghae begitu ia mengangkat telponnya. Suara Berli diseberang sana tidak terdengar jelas olehnya karena suara para hyungnya yang sangat berisik. Donghae menjauhkan hpnya sedikit dan berteriak pada para hyung untuk diam, tapi tidak ada yang menanggapinya karena mereka semua sudah sangat ‘high’ dengan permainan konyol mereka. Donghae menghela nafas pelan lalu menyelinap keluar dari dorm mereka yang ada dilantai 12.

“Berli-ya, waeyo?” tanya Donghae setelah suasana disekelilingnya menjadi hening.

“suara apa tadi?” tanya Berli terdengar sedikit penasaran.

“ah, mian, Leeteuk hyung dan yang lainnya sedang bermain. Ada apa?” tanya Donghae lagi sambil menggaruk lehernya sendiri.

“hmm, aku sedang di minimarket yang biasa…” Berli terdengar ragu untuk menyuruh Donghae datang atau tidak dan tidak melanjutkan kata-katanya. Kedua sudut bibir Donghae tertarik ke atas, membentuk sebuah senyum yang sangat manis.

“araseo, tunggu aku di sana. Aku ke sana sekarang.” Donghae memutuskan saluran telpon sebelum Berli sempat menjawabnya. Tidak hanya telpon dari Berli yang membuatnya senang, ia juga senang karena Berli ingin dia menjemputnya. Akhirnya ia bisa bertemu Berli lagi karena ada beberapa masalah yang dialami oleh Heechul, semua member ikut prihatin dan mencoba untuk menenangkan dirinya.

Donghae kembali menyusup masuk ke dalam dorm yang masih hiruk pikuk dan menyambar jaket yang ia letakkan di sandaran sofa.

“Leeteuk hyung, aku keluar dulu.” Pamit Donghae.

“yaaaa! Kau mau ke mana lagi? Kenapa kau selalu keluar malam-malam?” suara teriakan Leeteuk perlahan-lahan  tenggelam karena Donghae telah berlari cepat ke arah lift dan keluar dari gedung dorm mereka. Donghae bersenandung pelan sambil berjalan dengan langkah lebar-lebar—tidak sabar ingin bertemu dengan Berli.

“Donghae-ya?” suara seorang yeoja menghentikan langkah Donghae. Donghae menoleh ke belakang dan melihat seorang yeoja yang wajahnya tertutupi hood hijaunya. Donghae menyipitkan matanya, mencoba mengingat-ingat siapa yeoja yang ada dihadapannya.

Yeoja itu tertawa pelan lalu menurunkan hoodienya.

“ah, Dara noona, annyeong.” Donghae membungkukkan badannya untuk memberi salam secara sopan pada yeoja yang ia panggil Dara noona, Sandara Park.

“mau ke mana kau malam-malam begini?”

“hmm, ada sedikit urusan. Noona sendiri?” Donghae balik bertanya.

“hanya sekedar berjalan-jalan. Oh ya, aku sudah lihat berita itu, tentang kita di WGM.”
”ahh! Aku tidak tau kenapa Eunhyuk harus repot-repot mendaftarkan diriku.” Rutuk Donghae mengingat kejadian tadi pagi.

“aku awalnya juga sedikit panik. Tapi setelah melihat gosip itu—meskipun belum bisa dipastikan—bahwa aku akan berpasangan denganmu, kurasa aku akan bisa melakukan yang terbaik jika kita memang benar-benar terpilih.” Dara tersenyum pada Donghae yang justru merasa sedikit kikuk. Ia tidak begitu dekat dengan Dara, baginya hanya sekedar tau saja. Tapi kalau sampai harus ikut WGM dengannya, bukankah itu berarti mereka harus menghabiskan banyak waktu bersama? Donghae bukannya tidak suka, ia hanya merasa sedikit tidak nyaman berada didekat Dara.

“oh! H:ART??” Dara mengarahkan jari telunjuknya ke samping dan diikuti oleh Donghae. Berli berdiri tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang. Berli berjalan mendekati mereka dengan ragu lalu membungkuk pada Dara.

“Annyeonghaseyo Dara sunbaenim..” sapa Berli.

“ini yang kau bilang ada urusan?” Perhatian Dara teralih kembali pada Donghae yang tersenyum tipis sambil mengelus rambut belakangnya.

“araseo, sampai jumpa!” Dara melenggang pergi dan melambai pelan.

“mian, apa kau menunggu lama?” tanya Donghae setelah Dara tidak terlihat lagi.

“hmm, kupikir kau tidak jadi datang.” Nada suara Berli terdengar agak dingin ditelinga Donghae, tapi ia menepis pikiran aneh yang mulai menguasainya.

“kalau kau tidak bisa menjemputku, seharusnya kau bilang saja, aku juga tidak akan memaksamu.” Berli tidak sekalipun menatap mata Donghae ketika ia berbicara. Tanpa menunggu Donghae, Berli berjalan pergi. Donghae sedikit berlari dan mengejar langkah Berli.

“jangan-jangan… Kau cemburu?” Donghae menyenggol lengan Berli dengan menggunakan sikunya. Berli memalingkan wajahnya ke arah berlawanan, tidak ingin menatap Donghae.

“yaaa, jawab aku!” Donghae menarik lengan Berli dengan keras dan hampir saja Berli terjatuh karena ditarik tiba-tiba. Kedua tangannya mendarat di dada bidang Donghae sementara ia bisa mendengar desah nafas Donghae di telinganya. Berli tidak berani mendongak, takut kalau ia akan berhadapan langsung dengan wajah Donghae.

“hei, lihat aku…” Donghae berbisik pelan ditelinga Berli, membuat yeoja mungil itu terkesiap pelan.

“le-lepaskan aku..” Berli sedikit tergagap dan mencoba untuk melepaskan dirinya dari dekapan Donghae.

“wae? Tidakkah kau menyukainya?” goda Donghae.

“n-nanti akan ada orang yang melihat, da-dan muncul goisp yang aneh lagi..” Berli masih meronta, tapi Donghae justru semakin mengecangkan dekapannya, membuat tubuh mereka lebih menempel. Donghae menaikkan hoodie milik Berli, menutupi wajahnya agar tidak ada orang yang mengenali mereka.

Berli mendongak—sesuatu yang salah—dan dengan cepat matanya bertemu dengan mata Donghae. Donghae menatapnya cukup lama, sebelum akhirnya Donghae memajukan wajahnya, mendekati wajah Berli. Ia menyapukan bibirnya diatas bibir Berli tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu.

Awalnya Berli terkesiap, tapi toh bukan yang pertama bagi mereka. Berli menutup matanya tanpa ia sadari, membiarkan Donghae melumat bibirnya dengan lembut. Ciuman Donghae berubah menjadi lebih dalam, Donghae memainkan lidahnya, menyapu bibir bawah Berli lalu sedikit demi sedikit mencari jalan masuk ke dalam mulut yeoja itu. Sesuatu yang hangat memasuki mulut Berli, menyentuh lidahnya dan seluruh rongga mulut miliknya. Berli membelalakkan matanya tidak percaya. Ciuman mereka kali ini jelas berbeda dengan yang sebelumnya. Donghae tidak mempedulikan keterkejutan Berli dan terus memainkan lidahnya, memaksa Berli untuk membalas perlakuannya.

Donghae menghentikan ciuman mereka karena ia dan Berli sama-sama butuh oksigen untuk bernapas. Donghae tersenyum puas pada Berli, menarik tangannya dan menyatukan tangan mereka lalu menarik Berli untuk ikut berjalan dengannya.

***

Berli duduk di sofa sambil menekuk kedua lututnya di depan dada dan memandangi layar tv dengan pandangan kosong. Pikirannya terus melayang ke beberapa jam yang lalu dan jantungnya masih belum bekerja dengan normal, rasanya ia hampir saja meledak.

Kehangatan bibir Donghae masih tercetak jelas di dalam ingatan Berli hingga rasanya ia hampir bisa merasakan suara detak jantung Donghae disisinya.

“OMO! Benarkah ini!!?” suara teriakan Hyunmei menyadarkan Berli dari dunianya sendiri. Heemi yang pertama kali mendekati Hyunmei ditempatnya biasa duduk menghadap komputer diikuti Berli dengan malas-malasan.

“eonni! Donghae oppa ikut We Got Married?” Hyunmei memalingkan wajahnya menatap Berli yang tidak kalah terkejutnya.

We Got Married? Bukankah itu berarti Donghae akan menjadi ‘suami’ dari Sandara? Dan bukankah itu berarti mereka akan menjadi pasangan seperti Khuntoria ataupun Adam Couple?

Berli terpaku di tempatnya berdiri, tidak tau harus bereaksi seperti apa. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di benaknya. Apakah Donghae sudah tau hal ini? Kenapa ia mendaftarkan diri di acara We Got Married? Apa maksud Donghae menciumnya tadi? Ia pikir, setelah kejadian itu, mereka kini adalah pasangan.

Oh, naif sekali kau, cemooh Berli pada dirinya sendiri. Dengan tidak mudah, Berli akhirnya menautkan hatinya pada seorang namja. Ia mulai memikirkan hari-hari ke depan yang akan mereka lalui dengan menyenangkan, tapi hanya dengan satu artikel ini, semua mimpinya hancur berantakan.

“eon, gweanchana?” Hyunmei menyadari perubahan raut wajah Berli dan tampak khawatir pada Berli.

“Berli-ya, kau kelihatan pucat.” Heemi juga menyadarinya. Padahal baru beberapa menit yang lalu wajah Berli merona merah, sekarang sudah menjadi putih pucat hanya dalam hitungan detik.

“gweanchana, aku hanya kecapekan. Aku tidur dulu, goodnight.”

Berli mengurung dirinya di sebuah kamar yang ia tempati bersama Heemi. Ia duduk meringkuk diatas tempat tidur, selimut biru langitnya menutupi hampir seluruh tubuhnya. Tidak ada cahaya dalam ruangan gelap tersebut—tidak ada cahaya lampu, tidak ada juga cahaya bulan yang menyusup masuk dari balik tirai jendela.

Terdengar derap langkah pelan menuju ke kamarnya, lalu terhenti. Berli tau itu langkah Heemi yang ragu untuk masuk atau tidak. Berli merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga menutupi lebih diatas kepalanya. Ia tidak ingin ada cahaya yang masuk ke matanya, ia juga tidak ingin teman sekamarnya melihat wajahnya yang cukup kacau saat ini.

Pintu kamar terbuka, Berli masih bergeming ditempatnya, berpura-pura ia telah terlelap dan tak ingin menjelaskan apapun pada Heemi.

***

“Donghae hyung, kau kenapa? Dari tadi senyum-senyum terus?” Kyuhyun sudah memperhatikan Donghae dari tadi dan akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, ada apa dengan hyung yang satu ini? Dari pagi ia sudah tersenyum lebar sambil membenahi dirinya di depan cermin. Belum lagi senandung lagu aneh yang selalu di kumandangkannya, sedikit membuat Kyuhyun ngeri, apakah mungkin Donghae telah diculik oleh makhluk planet? Jelas sekali Donghae terlihat sedikit tidak normal.

Donghae tidak menjawab, hanya memperlebar senyumnya dan terus bersenandung selama perjalan ke kelas mandarin.

Donghae membuka pintu kelas dengan harapan besar bahwa Berli sudah menunggunya di dalam, tapi tidak ada Berli. Semua member H:ART berkumpul mengerumuni sang leader, tapi jelas sekali tidak ada Berli.

Bahkan sampai pelajaran berakhir pun, Berli tidak kelihatan. Donghae mulai sedikit gelisah—sebenarnya ia sangat gelisah hingga tidak mendengarkan pelajaran mandarinnya dengan benar.

“Hyewon-ah!” Donghae berteriak memanggil Hyewon yang sudah berada beberapa meter darinya. Hyewon yang merasa namanya dipanggil berhenti berjalan dan menoleh ke sumber suara. Donghae berlari dengan cepat untuk menghampiri Hyewon dan menanyakan keadaan Berli.

“Berli ada jadwal hari ini, makanya dia tidak bisa ikut kelas mandarin.” Jelas Hyewon dengan singkat dan kembali melanjutkan perjalanannya. Donghae bisa bernapas lega sekarang karena Berli ternyata baik-baik saja dan tidak sedang menghindarinya—itulah yang ditakuti Donghae sebenarnya.

Donghae mengeluarkan hpnya, mengirimi pesan singkat untuk Berli.

Donghae menunggu dan terus menunggu balasan dari Berli, tapi balasan itu tak kunjung datang bahkan hingga esok paginya.

“Donghae-ya, ppaliwa!” Panggil Hankyung pada Donghae yang masih terpaku di tempatnya duduk. Donghae memandang layar ponselnya untuk yang terakhir kali, memastikan tidak ada balasan dari Berli. Ia telah menelpon Berli berkali-kali, tapi tidak diangkat dan Berli juga tidak membalas panggilannya. Ada apa dengan Berli? Benarkah ia baik-baik saja? Suara-suara member Suju-M semakin heboh memanggil Donghae untuk segera mengikuti mereka sebelum ketinggalan pesaawat. Donghae mendesah kasar, meng-nonaktifkan hpnya untuk perjalanan ke China.

***

“aaaaah! Capek!” gerutu Berli sambil menyeka keringat disekujur tubuhnya. Member lain tak kalah capeknya dari Berli sehabis latihan.

“eh, ada panggilan masuk untukmu, Berli.” Jihae menyodorkan hp milik Berli yang tergeletak begitu saja diatas ransel merah mudanya.

“Donghae oppa? Bukankah Suju-M akan berangkat ke China hari ini?” Hyunmei menjulurkan kepalanya, melihat caller id di hp Berli.

“waah~ apakah dia ingin berpamitan denganmu sebelum pergi?” goda Hyewon sambil menyikut pelan lengan Berli. Berli memaksakan sebuah senyum canggung, meraih hp nya lalu keluar dari ruang dance. Pandangan Heemi terus mengikuti gerak-gerik Berli hingga yeoja itu menghilang dibalik pintu. Ia tau ada sesuatu yang sedang Berli sembunyikan dari mereka semua.

Berli menyandarkan tubuhnya pada dinding yang dingin sambil terus-terusan menatap layar hpnya yang masih berkedap-kedip karena panggilan masuk. Ia tidak tau apa yang harus ia katakan. Ia bahkan tidak tau mengapa ia harus marah pada Donghae karena alasan yang tidak diketahui namja itu. Bukan, sesungguhnya itu bukanlah amarah. Hanya rasa percaya dirinya yang tidak cukup tinggi tentang dirinya di mata Donghae. Perasaan gelisah terus membayanginya. Bagaimana jika seandainya Donghae lebih memilih Sandara Park daripada seorang Lee Sihyun? Ia tidak ingin hal itu terjadi, hanya inikah jalan yang bisa ia pilih untuk saat ini—menghindar?

Bisa bertahan berapa lama usahanya untuk menghindari Donghae? Bisa berapa lama perasaan tertarik Donghae pada dirinya dapat bertahan? Bisa bertahan berapa lama ia menahan tangisnya?

Apa yang kalian lakukan ketika patah hati? Tidak makan, tidak tidur? Itu jugalah yang dialami Berli.

Sudah 4 hari sejak terakhir kali Donghae menelpon Berli, Berli kini tidak berselera makan, ia bahkan kesulitan tidur, matanya sama sekali tidak bisa terpejam karena terus memikirkan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tau. Terkadang waktu terlewati begitu saja. Begitu tersadar dari dunianya sendiri, tidak terasa langit sudah gelap. Sehari 24 jam rasanya tidak benar bagi Berli sekarang karena beberapa jam terlewati begitu saja tanpa ia sadari.

Dan tentu saja member H:ART sangat mengkhawatirkannya. Tidak ada lagi suara berisik di pagi hari yang mengomeli leader mereka yang susah bangun. Tidak ada lagi suara bawel yang selalu mengomeli hampir setiap hal yang dilakukan Hyunmei. Tidak ada lagi suara merdu yang bersenandung ketika Seungri menelpon Jihae. Dan tidak ada lagi suara yang sangat antusias menceritakan segala hal pada Heemi saat malam hari sebelum mereka tertidur.

Rasanya sudah cukup melihat sahabatnya bertingkah aneh, Heemi tidak bisa menolerir keadaan ini lebih lama lagi. Bukannya Heemi tidak mengerti bahwa Berli sedang dilema menghadapi masalahnya—yang entah apa. Heemi, Jihae dan Hyewon sendiri pernah mengalaminya, tapi masalah apapun  itu selalu harus ada penyelesaian. Jika Berli tidak ingin menyelesaikan masalahnya, maka Heemi yang akan bertindak.

Siang ini, Berli akhirnya bisa tertidur pulas—berkat obat tidur yang dicampur di minumannya oleh Heemi. Dan tentu saja semua member setuju dengan yang dilakukan Heemi, terutama Hyewon. Ia tau benar bagaimana lelahnya ketika ia hanya bisa tertidur sekitar 1-2 jam seharinya.

Heemi mengambil hp Berli, mencari kontak nama Donghae dan menekan tombol dial. Seluruh member—kecuali Berli—berkumpul untuk mendengarkan percakapan mereka.

“Berli-ya, kenapa kau tidak mengangkat telponku beberapa hari terakhir?” cerocos Donghae tanpa mengetahui siapa yang sebenarnya menelponnya. Member H:ART tertawa kecil mendengar reaksi Donghae—meski sebenarnya tawa mereka hampir saja meledak kalau mereka tidak mengingat bahwa sekarang adalah saat genting.

“yeoboseyo, oppa. Ini Heemi.” Balas Heemi. Donghae terdiam selama beberapa saat untuk mencerna keadaan yang terjadi.

“ah, waeyo? Kenapa kau menggunakan hp Berli? Apakah terjadi sesuatu padanya?” cerocos Donghae lagi. Hyunmei merebut hp dari tangan Heemi dan menjawab pertanyaan Donghae.

“tidak ada sesuatu yang terjadi pada Berli eonni.” Jawab Hyunmei.

“bagaimana mungkin tidak terjadi sesuatu? Jelas-jelas Berli tidak baik-baik saja.” Protes Jihae.

“sudah-sudah, kalian diam saja. Biarkan Heemi yang berbicara pada Donghae.” Hyewon merebut hp tersebut dan memberikan kembali pada Heemi.

“ada apa sebenarnya?” tanya Donghae kebingungan.

***

Sekarang, jelas semuanya kenapa Berli bersikap dingin pada Donghae. Untunglah member H:ART mau menceritakan apa yang terjadi pada Berli. Meski mereka tidak yakin, tapi mereka mengatakan bahwa penyebab utama Berli bersikap aneh adalah gosip tentang We Got Married dirinya dan Sandara Park.

Apa yang harus dilakukannya agar Berli bisa dengan tenang menyerahkan hatinya pada Donghae? Orang-orang sering berpikiran bahwa ia adalah casanova—salahkan wajahnya yang terlihat sangat menawan—meski sebenarnya ia hanya mencoba bersikap baik pada semua orang. Itu jugakah yang membuat Berli tidak bisa mempercayainya begitu saja?

“Donghae-ya, berhentilah melamun. Kita sudah sampai.” Manager Suju menepuk pundak Donghae dan mengajaknya keluar dari van.

Donghae sedikit bertanya-tanya, mengapa managernya mengajak ia seorang. Mereka memasuki sebuah gedung besar dan diarahkan ke sebuah ruangan luas yang besar.

“untuk apa ktia di sini hyung?” tanya Donghae bingung.

“Produser We Got Married ingin bertemu denganmu, kupikir ia berminat menjadikanmu salah satu bintang diacara itu.” Jawab manager sambil melihat ke sekeliling ruangan.

“ini kesempatan yang sangat baik, jangan sia-sia itu, araseo? Aku akan menunggumu diluar.” Lanjut manager lalu beranjak keluar. Produser yang dimaksud memasuki ruangan dan menyapa Donghae yang dibalas dengan sopan.

“jadi, kau pasti sudah mendengar desas-desus itu kan? Aku sudah memikirkannya, dan kurasa pasangan Lee Donghae dan Sandara Park akan menghasilkan sesuatu yang baik.” Jelas Produser tanpa basa-basi. Donghae membungkukkan badannya sebagai permintaan maaf, membuat produser sedikit mengernyit bingung.

“maaf, tapi aku terpaksa harus menolaknya.” Tolak Donghae dengan tegas.

“kau yakin kau akan menolaknya? Apa kau tau bahwa dengan mengikuti acara ini popularitasmu akan semakin menanjak? Ini adalah kesempatan yang sangat berharga bagi seorang selebritis.”

“aku tau, kebanyakan pasangan yang mengikuti acara ini menjadi semakin populer dalam sekejab. Tapi ada orang yang sangat berharga yang ingin kulindungi. Aku bisa membuang semua kesempatan untuk menjadi semakin populer, karena tanpa kehadiran yeoja itu semuanya akan menjadi sia-sia saja. Dan aku tau bahwa jika aku mengikuti acara ini, aku akan kehilangan dirinya—seluruhnya. Jadi, maafkan aku.” Donghae membungkuk sekali lagi lalu keluar dari ruangan tersebut.

***

“BERLI EONNI!!! GAWAT!!!” suara teriakan Hyunmei memenuhi seluruh ruangan dorm. Semua member berhamburan ke ruang tamu dan menatap Hyunmei dengan tatapan meminta penjelasan.

“D-donghae oppa! Kudengar tadi ia mengalami kecelakaan dan mendapati luka serius…” jelas Hyunmei dengan panik. Berli menatap Hyunmei tanpa berkedip. Apakah yang baru saja ia dengar itu benar? Tidak mungkin namja itu mengalami kecelakaan.

Berli mencoba untuk bersikap tenang dan menelpon hp Donghae. Tapi tidak tersambung, nomornya tidak aktif. Rasa panik mulai melanda Berli. Bagaimana jika Donghae luka parah? Bagaimana jika… Jika…

Setetes airmata turun dari pelupuk matanya begitu saja setelah membayangkan hal terburuk yang mungkin saja terjadi. Tidak, ia tidak siap jika harus kehilangan namja itu selamanya.

“aku sudah menelpon Younji eonni, ia akan ke sini sebentar lagi.” Hyewon meremas kedua pundak Berli karena ia tau bagaimana shocknya Berli hingga ia tak bisa berkata apa-apa.

“di mana… di mana dia sekarang?” tanya Berli pada Heemi.

“ah, kudengar dia ada di dorm-nya.”
”MWO? Bukankah dia kecelakaan? Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit!!!?” teriak Berli mulai menunjukkan rasa paniknya. Hyunmei menggeleng dengan cepat, karena dia memang tidak tau. Ia hanya mendapat kabar dari Cho Kyuhyun dan menyampaikan seperti apa yang ia dengar.

“aku harus ke sana sekarang.. aku harus ke sana sekarang!” Berli berlari membuka pintu dorm mereka, bersiap-siap untuk berlari ke dorm Suju.

“tunggulah sebentar lagi! Bukankah Hyewon eonni sudah menelpon Younji eonni? Sebentar lagi Younji eonni akan sampai dan mengantar kita ke sana.” Heemi menarik tangan Berli, memaksanya untuk kembali masuk. Mana mungkin mereka membiarkan Berli yang sedang dalam keadaan panik berlari ke dorm Suju, bisa-bisa justru Berli yang kenapa-kenapa.

“annyeong~~~” Seungri muncul diambang pintu dengan senyum merekah, tapi senyumnya segera menghilang begitu melihat keadaan dorm yang diliputi suasana tegang.
”Seungri-ya, bisakah kau antar Berli ke dorm Suju?” pinta Jihae.

“oh.” Seungri hanya mengangguk meski ia tidak tau keadaan sesungguhnya.

***

Kyuhyun mencoba menahan tawanya agar tidak meledak dihadapan Berli—ia tidak ingin dihajar oleh yeoja yang sedang sangat sangat panik itu.

Berli menyerbu masuk ke dorm Suju dilantai 12 dengan serentetan pertanyaan pada Kyuhyun—satu-satunya orang yang sedang berada di dorm bersama Donghae—seperti, apakah Donghae terlukan parah, kenapa tidak membawa Donghae ke rumah sakit dan sebagainya. Kyuhyun mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah pintu—kamar yang ditempati Donghae dan Berli langsung terdiam. Berli berjalan dengan pelan, kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam.

Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak disangka Berli benar-benar panik. Ia ‘sedikit’ berbohong pada Hyunmei tentang kondisi Donghae dengan tujuan ini—Berli dengan sukarela datang mengunjungi Donghae. Kyuhyun sudah tidak tahan melihat Donghae yang seperti orang gila karena tidak mendapatkan balasan telpon ataupun pesan dari Berli. Kejadian kecil yang baru saja terjadi tadi memberinya sedikit inspirasi untuk membuat ‘naskah drama’ untuk kedua orang itu.

Donghae terduduk di tepi tempat tidurnya, terlalu berkonsentrasi untuk membersihkan luka di sikunya hingga tidak mendengar suara Berli ataupun pintu kamarnya yang terbuka.

“YAAAAA! Kau membohongiku??” teriak Berli dengan tidak percaya. Ia melihat namja dihadapannya sehat bugar—kecuali beberapa memar ditangannya, yang lainnya terlihat sangat sehat. Bukankah katanya luka serius? Harusnya namja itu bahkan tidak bisa duduk dengan santai di kamarnya saat ini.

Donghae mendongak, tidak kalah terkejutnya dengan Berli, sejak kapan yeoja ini berada di kamarnya? Apakah ia sedang bermimpi? Tidak, karena ia kesakitan saat ini—Berli memukulkan tasnya ke tubuh Donghae untuk meluapkan rasa jengkel, panik dan amarahnya.

“jangan berbohong seperti itu! Apa kau tidak tau betapa paniknya aku!? Kupikir kau benar-benar akan mati! Dasar brengsek!” Berli terus memukulkan tasnya tanpa ampun, meski pukulannya mengenai memar Donghae dan membuat namja itu benar-benar kesakitan.

Donghae mengulurkan tangannya, meraih pinggang Berli dan menariknya hingga terjatuh diatas tubuhnya yang mendarat diatas tempat tidur empuk—agar Berli berhenti memukulnya

Berli terdiam. Jarak sedekat ini lagi-lagi membuat jantungnya tidak bisa bekerja secara normal. Nafasnya masih memburu karena luapan emosi, tapi tidak ada kata-kata yang ia ucapkan.

“aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, aku tidak membohongimu.” Donghae menatap mata Berli, mengucapkan kata-katanya dengan lembut.

“Kyuhyun mengatakan kalau kau kecelakaan dan luka serius.” Berli seperti terhipnotis, ia membalas ucapan Donghae dengan tenang.

“hah, bocah itu. Aku memang mengalami kecelakaan kecil, tapi selebihnya aku baik-baik saja.”
”lalu kenapa hp mu tidak aktif?” tanya Berli lagi.

“kurasa, itu satu-satunya yang tidak terselamatkan. Hpku hancur.” Donghae menunjuk serpihan hp yang tergelatak diatas meja. Pandangan Berli mengikuti arah jemari Donghae dan melihat hp namja itu memang benar-benar hancur.

“jadi …” bisik Donghae.

“KYAAAA!” Berli berteriak ketika Donghae memutar posisi tubuh mereka, membaringkan Berli diatas tempat tidur dan memposisikan dirinya sendiri diatas tubuh Berli.

“jadi, apa kau mencemaskanku? Kau tau bagaimana rasanya cemas? Aku mencemaskanmu selama kau tidak menghiraukanku, rasanya sangat tidak enak. Jangan pernah melakukan hal itu lagi padaku.”

“bu-bukankah kau tidak membutuhkanku?” Berli memalingkan wajahnya, tidak bisa menatap Donghae lebih lama lagi.

“aku membutuhkanmu, sangat membutuhkanmu.”

Kata-kata Donghae sontak membuat Berli kaget dan kembali menghadap Donghae yang tersenyum padanya.

“seharusnya kau katakan padaku kalau kau tidak suka melihatku ikut acara We Got Married, meskipun sebenarnya bukan aku yang mendaftar untuk ikut. Lagipula aku sudah menolaknya, jadi kau bisa tenang sekarang karena aku tidak akan pernah menjadi ‘suami’ Dara noona, ataupun yeoja-yeoja lainnya” Lanjut Donghae.

“jinjja?” jawab Berli dengan cepat. Donghae tidak bisa menahan tawanya begitu melihat reaksi Berli yang sangat langsung berubah 180 derajat.

“hmm, kau tidak seharusnya meragukanku. Yeoja-ku hanya kau seorang.”

“ye-yeo-yeo-yeoja-mu?”

“wae? Kau tidak mau?” tanya Donghae. Dengan cepat Berli menggelengkan kepalanya karena ia tau suaranya akan kembali terputus-putus begitu ia membuka mulutnya.

Donghae mengecup bibir Berli dengan cepat, lalu kembali menatap Berli.

“kalau begitu, mulai sekarang aku adalah milikmu, araseo?”

Wajah Berli memerah, membayangkan Donghae adalah miliknya rasanya sungguh tidak masuk akal.

“yaaaa, araseo?” Donghae menyentuh pipi Berli dengan jari telunjuknya, menyentuhnya pelan sambil menunggu jawaban Berli. Dengan cepat Berli mengangguk.

Donghae mendekatkan wajahnya, ingin kembali merasakan bibir lembut Berli. Berli memejamkan matanya, bersiap-siap membalas ciuman Donghae, tapi ciuman yang mereka inginkan tidak pernah terjadi…

“ahem! Hyung, bisa kau lanjutkan nanti saja? Member H:ART dan Younji eonni sedang berkumpul di ruang tamu sekarang.” Kyuhyun berdiri diambang pintu, tanpa sedikitpun merasa bersalah karena sudah mengganggu kemesraan hyungnya lalu kembali beranjak keluar.

Berli mendorong tubuh Donghae agar menyingkir dan segera berdiri.

“aissssh!” gerutu Donghae pelan sambil mengacak-acak rambutnya.
”ayo, keluar.” Berli bersiap untuk keluar, tapi Donghae kembali menariknya hingga terjatuh dipangkuan Donghae.

“kau menambah parah memarku karena pukulanmu tadi, kau harus bertanggungjawab dulu.” Donghae berbisik ditelinga Berli, meletakkan mulutnya sangat dekat dengan telinga Berli, membuat tubuh Berli sedikit bergetar karena sensasi yang dirasakannya.

“HYUNG !!!!!!” teriak Kyuhyun dari luar ruangan.

“aisssh, bocah itu benar-benar mengganggu!” dengan tidak rela Donghae melepaskan Berli. Berli terkekeh pelan lalu mencondongkan tubuhnya dan mengecup bibir Donghae sekilas, membuat namja itu terbelalak.

“anggap saja sebagai ganti ruginya.” Sahut Berli sambil menjulurkan lidahnya dan berjalan ke arah pintu. Donghae tersenyum dibalik punggung Berli.

Yah, tidak perlu terburu-buru, waktu yang akan mereka lalu bersama masih panjang. Donghae beranjak dari tempat tidur dan berlari kecil untuk menghampiri Berli lalu menautkan tangan mereka dan membukakan pintu untuk Berli.

Mulai sekarang akan ada banyak hal yang akan mereka lalui bersama, tapi mereka yakin, selama mereka saling berpegangan satu sama lain, tidak akan ada hal apapun yang bisa memisahkan mereka.

The End Of Berli’s Story

20/01/2011 – 27/01/2011

Iklan

18 thoughts on “The Newest Girlband (News 9) Berli’s Story”

  1. Wah….seru bgt 🙂
    DAEBAKKKKK…… 😀
    Aduh dkira Hae yg sengaja Boong t’nyata sich Kyu toch!!! Keke~
    Aiss….Hae nyiumnya hot bener. Keke~
    Dtunggu part seLanjutnya ya 🙂
    Hwating ^^

  2. keren eon..
    Kyu kejam bgt.. Hyung ny sendiri d kerjain. Ckck
    hae romantis sekali. Ampe senyum-senyum sendiri aku bacany

    next part cerita mei ama kyu nih.. ASAP ya eon..

  3. Wueh , , kereeennn..
    Ciumannya hot bner 😄
    si kyu jahiL banget sih . Awww :3 critanya romantis banget 😀
    daebak eon !

  4. SHOCK!!! i can;t take my breath….*megap2*
    bacanya…. panas dingin
    kyu iseng..dah.. aku mau di isengin kyu..#plak! di tabok teuki umma*

  5. huaaaa donghaeeeeee~~~~~~~~~~!!!! bikin aku makin kesem2 nih (?)

    hot bgt cipokkannya 😄
    ceritanya bikin penasaran onn
    kirain berli beneran gk suka sama hae hehehe

    kyu bohong bgt dah ! =_____=

    chapter berikutnya part aku ya ??!!
    jangan lama2 ya onn 🙂

  6. wkwkwkw
    dasar kyu kasian kan hyunmei dikerjain hemm nanti berli bakal marah ma hyunmei ga ya?
    😄

    waduh.. sweet bgd dberli ma donghae..
    aku baru tau lanjutannya 😦 lanjuut berikutnya chingu 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s