I Wanna You Know!! Part 3 END

Reader . . . basa-basi dulu ya!!

pertama-tama aku mau minta maaf wat para reader, sebulan ini aku gak post ff karena ada urusan kuliah. makasih wat para reader yang kangen ma aku. (hehehe . . . author PD!!)

Ok, let’s chech this out!!

Part 1 Part 2

“Aku Siwon, ahjussi . . .!”

“Ah . . . mian, aku sedikit lupa denganmu. Dulu terakhir kita bertemu denganmu saat kalian datang ke Jepang. Saat itu umurmu masih lima tahun bukan?”

“Ne. Jongie aku ingat denganmu. Kau pasti sudah lupa denganku.” Ucap namja itu kemudian mengusap kepalaku lembut. “Dulu saat aku kesana kau baru satu tahun. Kau sering merengek minta dibelikan ice cream padaku. Sekarang kau sudah sebesar ini.” Tersenyum.

“Ya! Kalian mau mengobrol sambil berdiri seperti itu terus?” ucap seorang ahjumma yang sedari tadi berdiri disamping eomma.

“Jongie Taemin, kalian sudah member salam pada ahjumma?” Tanya eomma.

“Mianhamnida!” ucapku dan Taemin bersamaan. “Annyeonghaseyo!” ucapku dan Taemin bersamaan sambil membungkukkan badan.

“Ayo duduk, aku sudah pegal.” Ucapnya tertawa.

“Jongie, sekarang kau sudah kelas berapa?” Tanya Choi ahjussi.

“Sekarang aku kelas 3 SMA ahjussi.”

“Itu artinya kau seumuran dengan anak bungsuku.” Ucap Choi ahjumma. “Dia sedang keluar, mungkin sebentar lagi dia pulang. Kau dan Minho bisa berteman.” Sambungnya lagi.

“Ah ne . . .” jawabku kikuk.

Saat kami sedang mengobrol tiba-tiba sebuah suara namja menyapa kami.

“Mianhamnida aku terlambat!” ucapnya. Aku pikir itu pasti anak bungsu Choi ahjussi.

“Minho, kemarilah!” ucap Choi ahjussi lalu beranjak dari duduknya. “Lihat siapa yang datang, Lee ahjussi dan Lee ahjuma. Kau masih ingat mereka?” appa dan eomma pun beranjak dari duduknya.

“Minho, kau sudah tumbuh besar rupanya.” Ucap appa. “Jonghyun, kemarilah!” panggil appa. aku langsung beranjak dari dudukku dan membalikkan tubuhku.

“Kau?” ucapku dan namja itu.

“Kalian sudah saling kenal?” Tanya appa dan ahjussi bersamaan.

Aku tidak bisa berkata apapun. Aku benar-benar shok. Minho yang dibicarakan Choi ahjussi ternyata adalah Minho teman sekolahku sekaligus kekasih dari yeoja yang aku cintai.

“Dunia memang sangat sempit.” Ucap Minho saat kami sampai di balkon kamarnya. “Kita belum pernah berkenalan secara resmi. Choi Minho imnida.” Ucapnya sambil menyodorkan tangan kanannya.

“Lee Jonghyun imnida.” Akupun menyodorkan tanganku untuk menjabat tangannya.

“Kulihat kau cukup dekat dengan Ha Won.” Ucapnya tanpa menatap ke arahku. Matanya terus memandang kedepan.

“Menurutmu?”

“Aku bukannya ingin so tahu, tapi aku lihat kau menyukainya.”

“Menyukainya? Siapa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

“Kau jangan pura-pura tidak tahu, atau kau memang bodoh?” ucapnya sinis, aku semakin tidak mengerti.

“Mwo?” kutatap wajahnya yang kini sedang tersenyum sinis padaku.

“Ha Won, kau menyukainya kan?”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” Jawabku gugup.

“Dengan melihat sikap gugupmu yang seperti itu semakin membuatku yakin kalau kau memang menyukai Ha Won.” Ucapnya kemudian meninggalkanku di kamarnya. “Ha Won tidak akan mudah berpaling dariku.” Ucapnya sebelum benar-benar menghilang di balik pintu kamarnya. Tiba-tiba saja aku merasa suhu tubuhku menjadi panas. Keringat dingin mengalir diantar pelipis mataku. Mataku rasanya sangat panas. Kakiku menjadi lemas. Aku jatuh terduduk saat itu juga.

“Aneh, apa yang terjadi padaku? Kenapa tiba-tiba saja aku jadi seperti ini. Padahal yang diucapkan Minho menurutku tidak terlalu menyakitkan. Tapi kenapa reaksi tubuhku seperti ini?” gumamku.

Untuk beberapa saat posisiku tidak berubah. Setelah merasa baikan, aku kembali bergabung dengan yang lainnya di lantai satu.

“Jongie, kau dari mana saja?” Tanya appa yang melihatku turun dari tangga.

“Tadi aku terlalu asyik menghirup udara segar di kamar Minho.” Jawabku setenang mungkin yang kini sudah duduk di samping Taemin.

“Makan siang sudah siap, ayo kita makan!” ucap Choi ahjumma yang datang menghampiri kami dari arah dapur.

“Baiklah, kaja!” sambung Choi ahjussi.

Selama seharian penuh kami berada di rumah Choi ahjussi. Tak banyak yang aku dan Taemin lakukan, kami hanya mendengarkan obrolan orang tua kami dengan Choi ahjussi dan Choi ahjumma. Siwon hyung dan Minho aku tidak tahu keberadaan mereka. Tadi siang mereka tiba-tiba saja meminta ijin keluar karena ada urusan.

“Taemin!” bisikku di telinganya.

“Wae?” jawabnya.

“Kau sudah bosan kan disini?” dia mengangguk semangat. “Ayo kita beli ice cream keluar. Kau mau?”

“Ne.”

“Appa, Taemin ingin makan ice cream. Aku akan mengantarnya keluar.”

“Baiklah, jangan lama-lama!” jawab appa.

“Ne.”

Segera kutarik tangan Taemin keluar dari rumah Choi ahjussi.

“Aaaahhhh . . .” teriakku setelah berada di depan rumah Choi ahjussi. “Akhirnya bisa keluar juga.”

“Hyung, ayo cepat!”

“Ne.”

Kuhentikan sebuah taksi dan naik kedalamnya.

“Hyung, kenapa harus naik taksi?” Tanya Taemin.

“Jadi kau mau kembali ke rumah itu?” dia menggeleng cepat.

“Jadi, aku kau jadikan alasan untuk kabur?”

“Jadi kau tidak mau? Kalau begitu nanti setelah membeli ice cream kita kembali.”

“Ani, aku tidak mau kemabali kesana. SANGAT MEMBOSANKAN!”

“Baguslah.” Aku tersenyum lalu mengusap kepalanya lembut.

Akhirnya kami sampai di toko yang berada di ujung jalan rumah kami.

“Hyung, aku tahu kenapa kau memilih toko ini.” Taemin tersenyum jail.

“Wae?”

“Karena dia kan?” mata Taemin mengarah pada seorang yeoja yang berada di balik meja kasir. Kuikuti arah matanya.

“Aish kau ini masih kecil. Kaja!”

“Annyeonghaseyo . . . selamat datang . . .!” ucap seorang yeoja yang suaranya sudah sangat aku kenal. “Oh kalian?” ucapnya saat melihat kami.

“Ne, Taemin ingin makan ice cream.”

“Silakan!” Taemin langsung berlari menuju tempat ice cream berada. Sementara aku menunggu di meja kasir sambil mengobrol dengan Ha Won.

“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanyaku berbasa basi.

“Ne, aku baik-baik saja. Kau?”

“Tentu aku selalu baik.”

“Kau darimana? Sepertinya baru menghadiri acara yang sangat penting. Kau rapi sekali.”

“Oh, aku baru mengunjungi teman lama appa.”

“Begitu.”

“Hyung, aku mau beli ini.” Taemin datang dengan beberapa ice cream di tangannya.

“Mwo, sebanyak itu?”

“Ne. aku beli sebanyak ini karena aku tahu kau pasti akan mengobrol lama dengan Ha Won nuna jadi aku beli banyak.”

“Aish anak ini. Kau beli dua saja. Kembalikan yang lainnya, aku tidak akan lama.”

Setelah membayar ice cream Taemin, aku langsung pulang. Aku tidak mau lama-lama di dekat Ha Won.

“Hyung, kau aneh sekali. Ada apa?” Tanya Taemin yang melihat wajah murungku.

“Ani, ayo jalannya lebih cepat. Aku ingin mandi!” ucapku sambil merangkul pundak Taemin.

“Ya! Hyung sakit, kau terlalu keras.” Ucap Taemin yang kesakitan karena rangkulanku.

=====================================================================================

“Jonghyun, aku bisa minta  tolong padamu?” pinta Ha Won saat kami bertemu di parkiran sekolah.

“Mwo?” tanyaku bingung.

“Kau tahu, minggu depan adalah ulang tahun Minho. Aku mau kau membantuku untuk . . .” Ha Won membisikkan sesuatu padaku yang membuat hatiku ini sangat sakit. “Bagaimana, kau bisa membantuku?” tanyanya riang setelah berbisik padaku.

“Ne.” jawabku datar.

“Gomawo!” ucapnya riang. Aku bahagia melihat tertawa senang seperti itu, tapi akupun kecewa karena senyum bahagia itu bukan untukku.

Aku dan Ha Won jalan bersama menuju kelas. Di tengah perjalan kami bertemu dengan Minho. Ha Won langsung membuang muka dan menarikku masuk kedalam kelas. Aku bisa merasakan kalau Minho sangat marah padaku. Tapi tak kupedulikan dan terus berjalan masuk kedalam kelas bersama Ha Won. Saat sampai di kelas, Ha Won sibuk menengok keluar kelas. Dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Minho, dia terus terkikik .

“Jongie, ada apa dengannya?” Tanya Key saat aku sampai di bangkuku. Aku menggeleng lemah menjawab pertanyaan Key lalu mengeluarkan buku tugasku.

“Jongie, kita berhasil!” teriak Ha Won berlari ke arahku. Wajahnya terlihat sangat bahagia.

“Chukkae!” jawabku sambil tersenyum paksa.

“Ada apa sebenarnya?” Tanya Key.

“Kau tidak boleh tahu.” Ha Won menyentil kecil hidung Key.

“Ya!” teriak Key karena tidak terima. Sementara aku masih serius dengan tugas dari Kim seongsaenim yang belum aku selesaikan semua.

Saat aku berjalan pulang ke rumah, seseorang menghadangku di tengah jalan. Siapa lagi kalau bukan Choi Minho, wajahnya terlihat sangat marah. Kudekati dirinya, tatapan matanya seakan-akan ingin memakanku hidup-hidup.

“Waeyo?” tanyaku ketus.

“Kau, sebenarnya apa yang kau rencanakan?” tanyanya tidak kalah sinis.

“Apa maksudmu?” tanyaku heran.

“Kau berusaha merebut Ha Won dariku, seberapapun kerasnya usahamu Ha Won tidak akan pernah berpaling dariku.” Ucapnya langsung pergi dengan menggunakan motor besarnya.

***

Kudengar seseorang memanggilku saat aku berjalan di koridor kelas. Aku sangat mengenal suara itu. Ha Won. Aku tidak membalas panggilannya dengan pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan.

“Jongie, kau tidak mendengar panggilanku?” tanyanya saat muncul di mulut pintu kelas.

“Kau memanggilku?” tanyaku bohong.

“Ne, kau tahu ini adalah harinya.” Ucapnya antusias. Benar, ini adalah waktunya. Hari ini Choi Minho berulang tahun, keluargaku pun di undang. Tentu saja, karena orang tuaku dan orang tua Minho bersahabat. Tapi aku benar-benar tidak tertarik untuk datang, meskipun Ha Won meminta bantuanku untuk memberikan pesta kejutan untuk Minho tapi aku tidak bisa melakukannya. Itu hanya akan membuat hatiku semakin sakit. Sudah cukup selama seminggu ini aku membantunya untuk membuat Minho cemburu.

“Ha Won-ah, mianhae sepertinya aku tidak bisa membuat kejutan untuk Minho. Aku ada urusan keluarga, kau minta bantuan pada Key saja. Dia lebih jago dari pada aku, dia selalu puny aide-ide yang gila untuk membuat pesta kejutan.

“Wae, kau sudah janji akan membantuku bukan? Kenapa sekarang kau mengingkarinya?” tanyanya manja.

“YA! AKU KAN SUDAH BILANG, AKU TIDAK BISA. KENAPA KAU TERUS MEMAKSAKU?” ucapku kehilangan control. Dia terlihat shok dengan sikapku, matanya mulai merah kemudian dia lari dari hadapanku. Ada rasa penyesalan yang sangat dalam diriku, tapi aku harus membuatnya membenciku. Hanya itulah satu-satunya cara agar aku bisa jauh darinya.

“Jongie, apa yang kau lakukan barusan? Tidak biasanya kau bersikap seperti itu pada Ha Won?” Tanya Key mendekatiku.

“Entahlah, aku pun bingung kenapa aku bisa bersikap seperti tadi kepada Ha Won.”

Malam harinya, seluruh keluargaku sudah bersiap-siap untuk menghadiri acara ulang tahun Minho. Tapi aku masih berdiam diri di dalam kamar.

“Hyung, kau sudah siap? Ayo keluar, kita mau berangkat.” Teriak Taemin dari balik pintu kamarku. Kulangkahkan kakiku lalu membuka pintu kamar. “Hyung, kau belum siap?” Tanya Taemin dengan suara lantang sampai-sampai aku harus menutup telingaku.

“Ya! Memangnya harus kau berteriak seperti itu? Kau mau membuat telingaku ini tuli?” jawabku tidak kalah lantang.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Tanya eomma yang tiba-tiba dating. “Jonghyun, kenapa kau belum bersiap-siap?” Tanya eomma heran ketika melihatku hanya memakai kaus tidur dan celana boxerku.

“Aku tidak akan ikut eomma, aku mau membereskan barang-barangku untuk besok.”

“Hyung, kau tidak mau bertemu dengan teman-temanmu untuk terakhir kalinya?”

Aku menggeleng, “Aniyo, kau tidak boleh memberitahukan rencanaku besok pada siapapun. Terutama Key dan Ha Won, arraseo?” ancamku sambil melotot padanya.

“Jongie-ah, sebenarnya ada apa? Kau ada masalah dengan teman-temanmu? Sehingga kau harus pergi secara tiba-tiba seperti ini.” Ucap eomma khawatir.

“Aniyo, eomma tenang saja. Aku tidak ada masalah dengan teman-temanku eomma, ini adalah murni keputusanku. Eomma aku mohon, jangan beritahu kepergianku ini pada orang tua Minho. Kumohon!” ucapku memasang wajah memelas.

“Ne, kami berjanji.” Jawab appa bijak yang tiba-tiba datang.

Malam itu, semua keluargaku pergi menghadiri pesta yang diadakan keluarga Choi. Sementara aku berdiam diri di rumah mempersiapkan semua barang-barang yang akan aku bawa besok.

Keesokan harinya . . .

Kudengar suara berisik dari arah dapur. Suara yang biasa aku dengar setiap pagi. Kulihat eomma sedang memasak dan appa sedang membaca koran pagi sambil meminum teh hangat disampingnya.

“Good morning . . .!” sapaku sambil duduk di meja makan.

“Morning, bagaimana tidurmu?” jawab eomma tanpa mengalihkan pandangannya padaku, beliau masih sibuk dengan sesuatu yang dimasaknya.

“Pesawatmu berangkat jam berapa?” Tanya appa.

“Jam 10.” Jawabku singkat.

“Kau benar-benar yakin akan berangkat kesana dan melanjutkan sekolahmu disana. Nanti kau akan hidup sendiri tanpa kami. Kau harus hidup mandiri, kau yakin?”

“Appa, jangan ragukan keputusanku ini. Kumohon, aku melakukan ini karena aku sudah benar-benar yakin.”

“Ne, appa percaya. Kau sudah besar dan bisa memutuskan pilihan hidupmu sendiri.”

“Hyung, kau pengecut.” Ucap suara tiba-tiba sehingga membuat appa, eomma dan aku mengalihkan pandangan kami pada sumber suara. Taemin yang turun dari lantai dua langsung berjalan mendekati kami di ruang dapur.

“Taemin, jaga bicaramu.” Perintah eomma.

“Mian eomma! Aku bicara seperti ini karena aku sudah tidak tahan dengan sikap pengecut hyung. Eomma tahu, Jongie hyung mencintai yeoja chingu Minho hyung. Dan aku yakin, dia melakukan ini karena ingin menghindar dari mereka. Bukankah itu adalah sikap seorang pengecut? Memang benar Ha Won nuna sangat mencintai Minho hyung, aku tahu itu. Tapi kau sebagai seorang namja seharusnya mengakui kalau kau memang tidak dicintai Ha Won nuna.” Jelas Taemin panjang lebar.

“Aku memang seorang pengecut. Lalu kau mau apa?” tantangku pada Taemin.

“Terserah padamu hyung, aku hanya tidak mau mempunyai seorang hyung yang pengecut.” Ucapnya datar, kemudian masuk kedalam kamarnya.

“Jongie, kau tidak perlu menanggapi dongsaengmu itu. Eomma yakin, keputusan yang sudah kau ambil ini adalah yang terbaik untukmu.” Ucap eomma bijak. Aku hanya tersenyum.

Kini aku sudah berada di bandara. Appa, eomma dan Taemin mengantarku. Rasanya ada sesuatu yang hilang, tidak ada Key dan Ha Won. Aku merindukan mereka.

“Sayang, saatnya kau pergi.” Ucap eomma.

“Ne eomma.” Kupeluk satu persatu anggota keluargaku sebelum aku pergi.

“Jaga dirimu!” pesan appa.

“Jangan lupa untuk sering-sering menelpon kami.” Pesan eomma.

“Cepat carikan nuna untukku hyung. Aku bosan hanya mempunyai seorang hyung.” Pesan Taemin, aku hanya tersenyum simpul mendengarnya.

“Taemin, jangan lupa pesanku.” Ucapku sebelum akhirnya masuk kedalam pesawat. Taemin hanya mengangguk dan tersenyum.

Author POV

Setelang mengantarkan Jonghyun ke bandara. Taemin dan kedua orang tuanya kembali ke rumah mereka. Tapi saat di jalan, tiba-tiba Taemin meminta untuk turun.

“Appa, aku turun di depan saja. Aku mau ke rumah kakak kelasku. Aku harus meminjam sebuah buku darinya.”

“Baiklah, hati-hati di jalan. Dan jangan pulang malam-malam. Ara?”

“Ne.” Taemin mengangguk senang.

Setelah Taemin turun dari mobil, appanya langsung melajukan mobilnya ke rumah mereka. Taemin menghentikan sebuah taksi yang lewat di depannya. Setelah Taemin menyebutkan sebuah alamat yang menjadi tujuannya, supir taksi itu pun langsung melajukan mobilnya ke tempat tujuan. Kini Taemin sudah ada di depan sebuah rumah yang warna catnya didominasi oleh warna merah. Taemin melangkah dengan mantap memasuki halamannya. Taemin menekan bel rumah itu. Tidak berapa lama seseorang membukakan pintunya dari dalam.

“Taemin?” ucapnya heran saat melihat Taemin tiba-tiba datang ke rumahnya. Taemin hanya tersenyum dan memasang wajah lugunya. “Taemin? Ada apa kau tiba-tiba datang kesini? Kau sendirian kesini? Mana Jonghyun?” tanyanya bertubi-tubi.

“Kau memberikanku banyak pertanyaan tanpa mempersilakan aku masuk hyung?” ucap Taemin polos.

“Mian, masuklah! Kau mau minum apa?” tawarnya saat Taemin sudah duduk di sofa ruang tamu.

“Kau tahu minuman favoritku bukan?” Tanya Taemin balik.

“Ne, kau ini tidak beda jauh dengan Jonghyun.”

Setelah menunggu kurang lebih selama lima menit, akhirnya minuman favorit Taemin datang bersamaan dengan orang itu. Taemin tersenyum lebar melihat minuman favoritnya datang. Segera Taemin meminum minumannya itu sampai habis.

“Taemin, kau haus?” tanyanya tapi Taemin tidak memperdulikannya. Dia masih terus asik meminum minuman kesukaannya itu. “Kenapa kau tiba-tiba datang kesini?” Taemin tidak langsung menjawabnya, dia hanya menatapnya tajam.

“Ige.” Taemin memberikan sebuah amplop pada orang itu.

“Ige mwoya?” tanyanya heran.

“Baca saja, nanti juga hyung akan tahu.”

Mianhae . . . Gomawo . . .!!

Saat kau baca surat ini aku pasti sudah pergi meninggalkan tanah Korea. Terima kasih karena kau sudah menjadi sahabat terbaikku selama ini. Aku bukan sahabat yang baik untukmu, aku tidak pernah menceritakan masalahku padamu. Aku hanya ingin meminta tolong padamu untuk menjaga Taemin selama aku tidak ada. Maaf bila aku tidak berpamitan padamu sebelum aku pergi. Karena aku tidak sanggaup mengucapkan kata perpisahan padamu. Oh ya . . . kalau Onew hyung sedang berlibur di Korea, ajaklah dia ke rumahku. Eomma dan appaku sangat merindukannya.

Salam manis dari sahabatmu, Jonghyun.

“Taemin, kemana Jonghyun pergi?” teriak Key pada Taemin. Tapi Taemin tidak kaget dengan reaksi Key, Karena dia tahu hal itu akan terjadi.

“Tenang hyung, Jonghyun hyung hanya pergi ke Inggris. Dia akan melanjutkan sekolahnya disana. Hyung, maukah kau mengantarkanku ke suatu tempat? Aku tidak mau ke tempat itu sendirian. Aku takut.”

“Odi?” Tanya Key lemas. Dia masih tidak bisa menerima perginya Jonghyun, apalagi sahabatnya itu tidak berpamitan padanya terlebih dahulu.

Kini, Taemin dan Key sudah berada di depan sebuah rumah.

“Hyung, kau saja yang menekan bel rumahnya. Kau kan lebih mengenalnya.” Pinta Taemin manja.

“Ya! Kau kan yang disuruh oleh hyungmu, kenapa jadi aku?” Key tidak mau terima.

“Please . . .!!” Taemin mengeluarkan puppy eyesnya. Dan akhirnya hati Key pun luluh.

“Kulakukan ini karena hyungmu menyuruhku untuk menjagamu.” Ucap Key dengan nada sebal tapi tetap melakukan permintaan Taemin.

Tidak berapa lama menunggu, akhirnya pintu rumah itu terbuka. Seorang wanita yang sudah cukup tua, mungkin sekitar 60 tahun membukakan pintu untuk mereka.

“Annyeong . . . ada yang bisa saya bantu?” sapanya saat melihat mereka berdua.

“Ne, annyeong! Ahjumma, bisakah kami bertemu dengan Minho? Aku teman SMA-nya.”

“Oh, ne. Silakan masuk, aku akan memanggilkan tuan muda.” Pelayan itu mengantarkan Key dan Taemin ke ruang tamu rumah itu. Setelah menunggu selama kurang lebih selama 5 menit, Minho datang menghampiri mereka.

“Kalian?” Tanya Minho heran melihat ternyata Key dan Taemin yang datang. “Ada apa?” Tanya Minho sembari duduk di sofa.

“Taemin, dia ada sedikit urusan denganmu.” Minho mengalihkan pandangannya pada Taemin.

“Ada apa bocah kecil? Hyungmu yang menyuruhmu kesini?” ucap Minho meremehkan. Taemin tidak banyak bicara, dia langsung memberikan sebuah amplop kepada Minho.  Minho mengerutkan keningnya sambil menerima amplop itu. “Apa ini?” Minho kemudian membukanya. Ternyata sebuah surat.

Hai . . .

Kau boleh langsung mengadakan pesta besar-besaran setelah selesai membaca surat dariku ini.

Saat kau baca ini, aku pasti sudah meninggalkan tanah Korea. Aku menyerah, aku tidak akan memperjuangkan cintaku lagi pada Ha Won. Kau berhasil, kau menang. Ha Won sangat mencintaimu. Kau boleh menyebutku sebagai seorang pengecut, aku terima itu karena itu memang kenyataan. Aku tidak berani memperjuangkan cintaku pada Ha Won. Jaga dia untukku, jebal. Jangan sakiti dia. Bila aku mendengar kau menyakitinya, aku akan langsung datang dan menghajarmu habis-habisan. Aku tidak akan mengatakan kemana aku pergi pada Ha Won. Jadi, kau tenang saja. Ha Won tidak akan mengejarku ke Inggris.

Jonghyun.

“Ternyata hyungmu itu sadar diri ya?”

“Aku sudah melaksanakan tugasku, sekarang aku mau pulang.” Ucap Taemin ketus sambil melangkah menuju pintu keluar.

“Katakan pada hyungmu, aku sangat-sangat berterima kasih padanya.” Minho tertawa senang.

“Sekarang kita kemana?” Tanya Key lantang karena kini mereka sedang berada di jalanan kota Seoul dengan menggunakan sepeda motor Key.

“Kita ke rumah Ha Won nuna.” Teriak Taemin.

Saat Key dan Taemin tiba di rumah Ha Won, kebetulan Ha Won sedang menyiram bunga di halaman depan rumahnya. Dia melihat kedatangan Key dan Taemin.

“Kalian? Ada apa?” sapanya riang.

“Aku hanya mau memberikan ini pada nuna.” Ucap Taemin to the point.

“Apa ini?”

“Baca saja, nanti kau juga akan tahu.” Jawab Key cepat.

Ha Won segera membukanya.

Ha Won . . .

Maaf karena aku tidak memberitahumu sebelumnya tentang rencanaku ini. Aku tahu kau pasti marah padaku. Kini aku sudah tidak berada di Korea lagi. Semoga hubunganmu dengan Minho berjalan dengan lancar.

Jujur aku tidak bisa menyembunyikan perasaan ini padamu. You know, I Love You. Aku tahu kau menganggapku hanya sebagai sahabat, maka dari itu aku pergi. Aku tidak bisa melihatmu dengan Minho. Semoga saat aku pulang nanti, kita akan tetap menjadi sahabat. Maaf karena aku terlalu pengecut.

Saranghaeyo

Ha Won menitikkan air matanya setelah membaca surat dari Jonghyun, “Nuna, gwaenchana?” Tanya Taemin khawatir.

Ha Won menggeleng, “Aku tidak baik-baik saja Taemin.” Pertahanan Ha Won runtuh. Dia menangis sambil memeluk Taemin. Taemin yang mengerti perasaan Ha Won saat ini, hanya bisa pasrah membiarkan Ha Won menangis di pelukannya.

The End

Maaf banget kalo endingnya gak sesuai ma yang di harapkan. Tapi mu gimana lagi, author dah mati-matian meres (emas baju??) otak wat nyelesein ff ini. sekali lagi mian banget.

Iklan

8 thoughts on “I Wanna You Know!! Part 3 END”

  1. Wah….g terasa habis. Hehe~

    Huhuhuhu…Jonghun kasian pergi s’diri mending ma aku. Keke~
    Aigo……g bisa ngebayangi gaya imut & Lucunya Taemin 🙂
    Nice ff 😀

    Dtunggu karya Lainnya ya Saeng ^^
    HWATING 🙂

  2. dsini jjongie jadi pengecut #plak
    trus taemin jadi sok polos #emng bener kan?
    key jadi sahabat yang baik #apaancobak?
    trus minho jadi JAHAT! paling gag terima sama yang ini . huhu -.- tapi mukanya minho cocok jadi jahat sih :p #digampar flames

    udah ah, aku jadi komen geje >.<
    keyens banget dh eonni~ daebak daebak~!
    dtunggu ff yang lain 😀 whohoho

  3. yampun.. Enggak jong gua banget #soktahu hahaaa gua selalu suka sad ending. Suka jg sm gaya nulis sang author. Di tunggu karya selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s