Love Sick (2 of 2)

LOVE SICK [Part 2]

Author        : Anis Eka Dewanti / @anispeverell

Kategori     : Two Shoot / [part 2]

Gendre        : Romence

Cast               :

  • Lee Hana
  • Lee Jinki
  • Choi Minho
  • Kim Jonghyun
  • Lee Taemin
  • Kim Kibum

Backsaund “The name I loved” by Onew. “Quasimodo“ by Shinee and “Hello” by Shinee

Makasih buat para Reader yang udah baca part 1 dan udah mau repot repot untuk komentar. Percaya deh komntar kalian itu membantu buat FanFict yang selanjutnya bakal bibuat.. Gumawo^^

Jonghun pun mulai membacakan tulisan di dalam buku catatanku, “Kau adalah cinta pertama ku. Kau cantik, bukan hanya wajah dan penampilan mu yang membuat kau tampil cantik, tetapi hati mu. Karena hal itulah aku terpikat oleh mu. Aku mencintai mu lebih dari yang kau tahu. Oh bahkan kau tak tau. Cinta harus mengerti bukan? Aku selalu mengerti keputusan mu, bahkan keputusan mu untuk mencintai namja lain sekalipun. Cinta tak harus saling memiliki bukan? Benar.. seperti aku yang mencintai mu dan kau bukan milik ku. Cinta harus mau berkorban bukan? Ya. Rasa sakit ini lah yang harus aku terima karena mencintai mu. Aku terima itu. Akan ku sembunyikan rasa cinta ini, hanya untuk tetap bisa berada di samping mu sebagai seorang teman. Dan aku berjanji akan menunggu mu. Sarangeoo Lee Ahhhh??.” Jonghyun terpekik membaca nama gadis yang ku maksudkan. “Terimkasih tidak membacakan namanya, walaupun itu percuma. Karena hanya ada seorang gadis yang memiliki marga Lee dikelas ini.” batin ku.

Aku hanya menunduk terpejam sambil memegangi kepala ku. “Ini bukan hanya sekedar hari yang buruk, tapi benar benar hari yang sial. Biasakah ini menjadi tak nyata? Bisakah ini hanya sekedar mimpi buruk? Ayoo bangun dari tidur mu Jinki.. Ayoo bangun!” batinku, walau ku tau ini adalah nyata.

☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺

Apa yang ku takutkan benar benar menjadi kenyataan. Hana menjauhi ku setelah ia mengetahui perasaan ku padanya. Ini sudah berjan selama hampir sebulan. Aku tak kuat untuk terus seperti ini. Bagaimana bisa jika ujian kelulusan tinggal 2 bulan lagi dan aku tidak bisa berkonsentrasi untuk belajar karenanya. Setiap detik yang ku miliki hanya untuk memikirkannya. Ini benar benar gila. Sudah ku putuskan untuk menemuinya mala mini juga.

Kebulatan tekat ku goyah ketika sampai di depan rumah Hana. Adrenalin ku mulai membakar tulang tulang ku. Tidak.. Tidak boleh. Mana bisa aku kembali setelah sampai disini? Dan aku tak mau ujian ku gagal hanya karena tidak bisa bekonsentrasi karenanya. Bukannya aku tak mau memikirkannya lagi, hanya saja aku tak mau usaha ku sia sia untuk mendapatkan nilai terbaik di angkatan ku. Sudah cukup kehancuran nilai ku di test praujian kemarin.

“Ting.. Tong.. Ting.. Nong..” ku tekan bel rumah itu dengan mantap. “Tunggu sebentar chagia. Aku sedang memakai sepatu. Kau datang terlalu cepat,” teriak sebuah suara yang sangat amat ku kenal dari dalam rumah. Ohh jadi ia sedang ada janji dengan Minho. Aku jadi tak terkejut melihat ekspresi diwajah Hana saat melihat ku, ia tidak mengira bahwa yang datang adalah aku, bukan pacarnya yang sedang ia tunggu.

“Jin..Jinki? mau apa kau ke rumah ku?”, tanya hana dengan terbata. “Ada yang perlu ku bicarakan dengan mu.” “sebentar saja” sambungku setelah melihat ekspresi wajahnya yang menyiratkan bahwa ia menolak. “Maaf. Ku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan. Dan sebaiknya kau segera pulang”, suara Hana menyiratkan permohonan. “Hana ku mohon, sebentar saja.” Ucap ku sambil menatap matanya, namun Hana memalingkan wajahnya. “Tidak Jinki. Sebaiknya kau pulang. Kau yang mengatakan kau selalu mengerti keputusan ku, inilah keputusan ku Jinki, member jarak antara diri ku dan diri mu. Demi kebaikan mu dan kebaikan ku. Mengertilah posisi ku saat ini. Kau terlambat Jinki, sangat amat terlambat. Aku lelah menunggu mu.” Dari semua ucapan Hana aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan. Apa ia sedang mengigau? “Apa yang kau bicarakan? Aku sama sekali tak mengerti?”, tanya ku bingung. “Kau sangat amat terlambat memberi respon atas perasaan ku. Aku memang sempat menyukai mu, tapi sekarang tidak lagi. Bahkan kau membalas surat ku pun tidak.” Jelas Hana. “Surat? Surat apa yang kau bicarakan?”, tanya ku lebih bingung, otak ku terasa konslet. “Surat yang ku titipkan kepada Jonghyun pada saat Valantine hampir 2 tahun lalu, bersama sekotak coklat? Ahh.. jangan katakana kau tidak menerimanya? Ternyata dugaan ku benar! Sudahlah lupakan saja. Itu sudah berlalu.” Ucapnya sambil menengok ke arah pintu gerbang. “Minho?? Maaf Jinki aku harus pergi.” Ucap Hana sambil meninggalkan ku. Aku masih membatu di tempat ku berdiri. “Jonghyun.. yak! Jonghyun!!”, suara ku amat sangat bergetar karena kemarahan. Ku kepalkan telapak tangan ku dengan sekuat tenaga, hingga terasa sakit, karena kuku jari ku yang menekan telapak tangan ku.

☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺

“Jinki? Ada apa ku ke rumah ku? Tumben sekali”, Jonghyun bukan hanya terkejut akan kehadiran ku, namun ia juga terkejut karena ekspresi wajah ku. Mungkin ini kali pertamanya melihat ku marah. Karena aku sama sekali tidak pernah marah di depan umum. “Apa benar kau menyembunyikan surat dan coklat dari Hana untuk ku?” pertanyaan ku membuat Jonghyun tercengang. “Apa yang sedang kau bicarakan? Tidak aku tidak pernah!”, elak Jonghyun meyakinkan. Ku tarik kerah bajunya yang membuat ia terjinjit. “Yaa yak au benar! Lalu kau mau apa sekarang?”, ucap Jonghyun menantang, sambil melepas tangan ku dari kerah bajunya dengan kasar. “Teman macam apa kau ini haaa?  Berani beraninya kau mengambil barang yang bukan milik mu. Pencuri! Bisa bisanya kau melakukan hal ini kepada ku! Kaurang baik apa aku pada mu??”, ku bentak bentak jonghun sambil menahan tangan ku yang sudah gatal untuk memukul wajahnya. “Aku tahu ak berhutang budi banyak pada mu. Tapi jangan berani beraninya kau menyebutku sebagai pencuri. Aku hanya belum memberikannya pada mu. Tunggu sebentar”, ucap Jonghyun lalu masuk ke dalam rumah. Tak memakan waktu lama untuk menunggu Jonghyun keluar. “Lihat kan. Aku hanya belum memberikannya pada mu. Nih!”, ucap jonghyun sambil melempar sebuah kotak berwarna pink. “Maaf, coklatnya telah lama membusuk, makanya sudah ku buang. Yang tersisa hanya kotak dan suratnya”, ucap Jonghyun sinis lalu masuk ke dalam rumahnya. Berbeda dengan sebelumnya, kini ia benar benar tidak kembali.

Ketika sampai di rumah, aku langsung masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya. Semenjak aku memegang kotak ini aku sudah sangat tidak sabar untuk membukanya. Namuan juga ada rasa takut. Aku takut semakin terluka. Namun karena rasa penasaran ku yang lebih besar maka aku beranikan diri untuk membuka kotak ini dan membaca suratnya.

Surat itu terbungus oleh amplop berwana pink dan terdapat beberapa gambir Love dan malaikat cinta/ Cupid. Saat aku mulai mengeluarkan isi surat dari amplopnya aku merasa darah yang mengalir dipunggungku tidak normal, darahnya tidak turun kebawah, melainkan naik keatas.

Sayang kamu gak tahu apa yang telah berubah. Sesuatau yang kujaga kerahasiaannya. Aku berbicara tentang kau dan aku. Apa kita merasakan hal yang sama? Sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kalau kamu tertarik, aku akan memberitahu mu lebih. Kau seperti lagu yang ada di kepala ku dan tak mau berhenti. Dan aku memikirkan mu setiap detik yang ku punya. Mungkin kita mempunyai sebuah potensi. Siapa yang tahu? Katakana kau merasakan hal yang sama dengan ku. Karna aku begitu. Aku akan tahu. Izin kan aku melihat apa yang kau lihat. Izinkan aku memasuki dunia mu. Biarkan aku tahu apa yang ada didalamnya. (Ada yang bisa nebak ini diambil dari lirik lagu apa? Yak benar. Lirik aslinya Hello, English vertion nya. Bukan transletan nya loh ya)

Dari Lee Hana yang  mengagumi mu. Tertulis di pojok kanan bawah surat.

Emosi ku sudah meluap luap. Kemarahan, Benci, sakit hati, sesal, sedih, semua bercampur menjadi satu. Ku tonjok pintu lemari dengan sekuat tenaga, sebagai pelampiasan emosi. Kurasakan buku buku jadi ku berdenyut yang menandakan rasa sakit. Ya memang terasa sakit, tetapi tak sesakit rasa sakit di hati ku. Tanpa terasa air mata ku jatuh membasahi lantai. Tetes demi tetes jatuh bergantian. Aku menangis tanpa suara. Hanya meratapi segalanya. Otak ku bermain dengan kata kata andai saja. Andai saja Jongyun memberikan kotak dan surat it pada ku. Andai saja Jongyun tidak memiliki perasaan lebih terhadap Hana. Andai saja Hana memberikan lansung kotak dan surat itu pada ku. Andai saja.. Andai sajaa.. dan Andai saja…

Badan ku merosot hingga terduduk. Kini surat hana basah oleh air mata ku. Ku jauhkan surat itu dari diri ku. Aku tak mau surat itu rusak. Aku tak mau satu satu nya bukti bahwa Hana mencinta, atau pernah mencintai ku hilang. Aku mau surat itu menjadi spirit untuk tetap mencintai Hana dengan sepenih hati.

Ku keluarkan telefon genggam ku dari saku celana jins yang ku kenakan. Aku mengirim pesan ke pada Hana. “Lelaki hidup dalam kesetian. Aku akan selalu memegang janji ku pada mu.”

☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺THE END☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺

8 thoughts on “Love Sick (2 of 2)”

  1. Wah….Jonghun jahat bgt sich!!! Seandainya surat itu dkasih Jinki past Jinki ma Hana 🙂
    Keren….keren…..aku suka kata2 Jinki yg dia tuLis dbuku ma yg dia smsin kHana. Daebak author 🙂

  2. tersayat hatiku mmbacanya,,!!
    *lebaymodeon*
    tp bener kok,, nyelekit bgt niih ceritanya,,!!
    gk sanggup ngbayanginnya klo jadi Onew,,!!
    aiiishhh..!!!
    nyeri,,nyeri,, nyeri..,!

    Good Job author,, ;D
    Nice FF,,!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s