(un)Requited Love

 

Author : Yuyu a.k.a Younji

Genre : Romance, Sad,

Type : Oneshot

Cast :

  • You as Kang Seoyoun
  • Choi Minho
  • Lee Taemin
  • Lee Jinki
  • Kim Jonghyun
  • Daemi (ocs)
  • Haejoo (ocs)
  • Jungri (Ocs)

A/N ::. Annyeong haseyo^^

The Newest Girlband last part dalam proses! Mohon bersabar chingu >.<

Beberapa hari yang lalu adalah hari yang terberat bagi author, pagi-pagi sekali sesuatu yang gak mengenakkan terjadi…

Meski bukan kali pertama, tapi author tetap aja sulit untuk menerima kenyataan itu, karenanya mood author down saat ini, author belum bisa lanjutin The Newest Girlband karena last part itu rencananya mau buat part yang ceria, jadi mohon bersabar *deep bow*

Nah! Jadi author muncul dengan oneshot untuk melampiaskan emosi author saat ini =P

Dan lagi author sedang mencoba membuat ff yang unik XDD

Jika biasanya chingu hanya bisa mengikuti alur/plot yang sudah dibuat oleh author, kali ini author ingin mengajak chingudeul untuk memilih plot kalian sendiri, dan tentunya setiap chingudeul akan mengalami plot yang berbeda sesuai dengan yang kalian pilih, bahkan endingnya pun akan ada yang berbeda =DD

Dibawah nanti akan ada pertanyaan yang disediakan 2 pilihan, silahkan klik pilihan yang kalian inginkan untuk melanjutkan ke cerita selanjutnya^^

Selamat membaca chingudeul =D

Jangan lupa tinggalkan komen dan beri tau ending yang kalian dapat ya =D

PS ::.

  1. Tulisan dengan warna ungu berarti fokus di cast minho
  2. Sebelum ada tanda pemisah *** berarti terjadi pada waktu yang bersamaan
  3. Foreword 100% based on tru story
  4. Alur cerita 50% rekaya & 50% nyata, jadi kalau ada kejadian yang sama harap dimaklumi karena ini murni ide saya selaku author
  5. Sebelum mulai baca, tolong baca foreworddulu ya supaya lebih ngeriti^^ (link dibawah)
  6. Foreword

© Yuyounji, 2011

***

Minho menguap lebar di depan meja makan. Tuan Choi mengintip dari balik koran pagi sambil menggeleng pelan melihat kelakuan putranya.

Minho bermain game online semalaman dan baru tidur beberapa jam sebelum akhirnya ia dipaksa bangun karena harus kuliah.

“eomma, appa, aku *menguap* pergi dulu.” Minho mengusap matanya yang berair karena menguap berkali-kali. Motor sport kesayangannya sudah terparkir manis di depan halaman rumahnya.

Minho melajukan motornya dengan kencang—meski ia tau ia belum terlambat, tapi ia sangat suka dengan kecepatan.

Minho berbelok, mengurangi kecepatan motornya begitu ia melihat Anguk Subway Station tak jauh dari hadapannya. Ia tau Anguk Subway Station itu selalu ramai oleh para mahasiswa yang akan menuju Sungkyunkwan dan ia tidak mau mengambil resiko mengalami kecelakaan konyol. Minho mendelik ke arah subway station, melihat sesosok yeoja yang tidak asing sedang berdiri di sana sambil meremas tali tasnya dengan erat.

Minho kembali memfokuskan penglihatannya ke jalan sambil berpura-pura ia tak melihat yeoja itu.

Sesampainya di Seoul University, Jonghyun—sahabat terbaiknya sudah menunggunya di sana.

“Yo! Kau datang terlalu pagi.” Sapa Jonghyun sambil meninju bahu Minho dengan pelan.

Beberapa mahasiswi senior berpapasan dengan mereka, Minho mendelik dan mengerling pelan, membuat para seniior tersebut riuh.

“astaga, berhentilah menjadi seorang player. Kau punya yeojachingu, ingat itu.” Protes Jonghyun. Minho hanya terkekeh pelan sambil menatap pesan dilayar hp nya yang baru saja ia terima.

FROM : My Beloved Daemi

Jagiya, kau sudah sampai di kampus? Mr. Lee baru saja masuk ke kelas, sampai jumpa nanti malam❤

TO : My Beloved Daemi

Ne, aku baru saja sampai. Belajarlah yang rajin, nanti malam aku akan menemui. Saranghae~

»»»»»»»»»»»»

Bright lights, fancy restaurant

Everything in this world that a man could want

I got a bank account bigger than the law should alow

Still I’m lonely now

Suara berisik dari alarm hp Kang Seoyoun membangunkannya. Dia meraba-raba permukaan meja untuk mengambil hp masih dengan mata tertutup. Perlahan-lahan Seoyoun buka sebelah matanya, lalu sebelah lagi dan membiasakan matanya terhadap cahaya dari layar hp.

Seoyoun menghela nafas pelan, satu lagi hari yang harus ia lalui. Sebelum Nyonya Kang sempat masuk dan menggedor pintu kamar, dia turun dan mengunci diri di kamar mandi. Hari ini adalah hari pertamanya kuliah di Sungkyunkwan university, karenanya ia tidak ingin terlambat.

Setelah mandi dan bersiap-siap, Seohyun menyantap sarapan yang telah dibuatkan Nyonya Kang.

“bagaimana? Apa kau gugup di hari pertamamu?” tanya Nyonya Kang sambil membereskan meja setelah Seoyoun selesai sarapan.

“ne eomma, aku sangat gugup.” Jawabnya sambil memasang wajah serius. Nyonya Kang hanya tersenyum hangat dan mengelus kepala putrinya, memberikan semangat tanpa kata-kata yang mengalir hangat ke seluruh tubuh yeoja itu, membuat ia menjadi sedikit lebih baikan dari tadi.

“baiklah, eomma. Aku harus berangkat sekarang. Sampa jumpa.” Seoyoun memakai sepatu dan berlari pelan menuju Anguk Subway Station. Dia melirik jam tangan miliknya dan menunjukkan pukul 8 lewat 18 menit. Seoyoun menggenggam tali tas semakin erat, mencoba untuk menyalurkan rasa gugup keluar dari dirinya sendiri.

Dua menit kemudian, bus yang ia tunggu datang. Seoyoun melangkah dengan cepat—takut ketinggalan bus. Meski sangat penuh, Seoyoun bersyukur karena masih tersisa satu kursi kosong di belakang. Ia menghempaskan diri di kursi itu lalu melihat sekeliling. Banyak remaja-remaja seusianya yang memenuhi bus itu. Hampir semua dari mereka adalah mahasiswa Sungkyunkwan seperti dirinya. Rasa gugup Seoyoun sedikit berkurang, tidak hanya dirinya yang antusias hari ini, tapi semua mahasiswa baru di Sungkyunkwan.

Kurang lebih 10 menit setelahnya, bus berhenti di exit 2 dan Seoyoun turun dari bus yang ditumpanginya. Beberapa mahasiswa lainnya ikut turun dan mereka menunggu sebentar sebelum akhirnya bus hijau nomor dua berhenti di hadapan mereka dan kalian kembali melanjutkan perjalanan.

Kali ini Seoyoun agak santai, karena dia tidak perlu menyambung bus lagi. Yang perlu dilakukannya hanyalah duduk hingga pemberhentian terakhir dan  dan dia akan tiba di lapangan parkir Sungkyunkwan.

Hampir saja Seoyoun tertidur pulas jika kepalanya tidak terantuk jendela bus saat bus tersebut berhenti. Ya, semalam ia terlalu bersemangat menantikan hari ini hingga baru bisa terlelap larut malam.

Seoyoun turun dari bus, mengamati gedung Sungkyunkwan yang dihiasi oleh dua pohon Ginkgo raksasa. Ia bersyukur karena kau bisa diterima di universitas terbaik ini. Ia mengambil jurusan Fine Art karena kecintaannya di dunia lukis.

Selama perjalanan menuju gedung utama Sungkyunkwan Seohyun tak henti-hentinya berdecak kagum mengamati pemandangan disekitarnya.

Apa yang akan kau lakukan? (Silahkan klik salah satu link di bawah)

1. Mengambil kamera digitalmu dan memotret pemandangan tersebut

2. Berhenti dan mengeluarkan buku sketsa dan melukis pemandangan tersebut

WARNING !!

baca sesuai ending yang kalian dapatkan^^

bagi yang belum meng-klik link diatas, tolong klik link dan ikuti alur ceritanya tersebut sebelum kalian membaca ending dib awa ya =D

ENDING 1

“kau tau, perasaanmu tidak akan pernah bebas kalau kau tidak mengatakannya langsung. Apa kau mau aku membantumu untuk bertemu dengannya?” tawar Jinki. Saat ini detak jantung Jinki sangat cepat karena menantikan jawaban dari Seoyoun. Dari apa yang Jonghyun katakan, Minho mulai memikirkan ingin kembali mengejar Seoyoun. Dan Jinki tau, jika hal itu terjadi kesempatannya yang semula hanya 30 persen akan menjadi nol sama sekali.

Gila memang kedengarannya karena saat ini ia justru menawarkan bantuan yang seperti itu pada Seoyoun. Kalau Seoyoun menemui Minho, pasti tekad Minho untuk mengejar Seoyoun semakin kuat. Tapi apa daya, satu-satunya yang Jinki inginkan saat ini adalah senyuman tulus Seoyoun. Ia tak akan pernah sanggup lagi jika harus melihat Seoyoun menangis dan menderita karena namja lain.

“benarkah? Kau akan membantuku bertemu dengannya?” tanya Seoyoun.

“ne, aku akan membantumu.” Jawab Jinki dengan suara bergetar. Ketakutannya terjadi. Ia benar-benar akan kehilanga Seoyoun.

“kalau begitu, aku akan menghubungi Jonghyun dulu. Sampai bertemu di kelas nanti.” Pamit Jinki.

Jinki melangkah keluar dari cafetaria dengan cepat dan mencari tempat sepi yang tidak akan ada orang mengganggunya.

Ia sudah memikirkannya masak-masak sebelum menawarkan bantuan pada Seoyoun. Tapi tetap saja rasanya berat harus melihat Seoyoun bersama namja lain.

“animida, kau sudah melakukan yang terbaik Lee Jinki. Jangan pernah menyesalinya.” Tegas Jinki pada dirinya sendiri. Dengan cepat Jinki menyeka airmatanya sebelum terjatuh.

***

Seoyoun duduk di sebuah cafe sambil mengaduk-aduk minumannya dan menunggu kedatangan Minho.

“mian, apa aku terlambat?” tanya Minho sambil memposisikan diri dihadapan Seoyoun.

“ani, kau tidak terlambat. Gomawo, karena kau sudah mau datang.” Ujar Seoyoun.

“seharusnya aku yang berterimakasih karena kau mau menemuiku.” Minho melipat kedua tangannya diatas meja dan menatap Seoyoun. Wajah yang sangat ia rindukan sekarang ada dihadapannya. Ia bisa memandangi Seoyoun tanpa ragu ataupun merasa bersalah.

“aku, merasa diriku terlalu bodoh. Kenapa aku harus menghabiskan 4 tahun dengan menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata? Menghabiskan 3 tahun dengan yeoja lain dan melukai orang yang kusayangi?” tatapan Minho menyiratkan ketulusan, tatapan yang selalu berhasil meluluhkan hati Seoyoun.

“aku ..” Seoyoun menggantungkan kalimatnya dan berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, “selama 4 tahun ini, aku melaluinya dengan penyesalan karena telah kehilangan saat aku baru menyadari perasaanku padanya. Aku melalui 4 tahun ini dengan terus berpikir bahwa Tuhan hanya sedang menghukumku, bahwa suatu saat nanti akan ada sebuah akhir yang bahagia untuk kita. Aku terus meyakinkan diriku bahwa hari itu akan datang, pasti.” Seoyoun menatap lurus ke mata Minho.

“aku tau aku sangat bodoh, tapi bisakah kita mencoba dari awal? Meski aku berpikir bahwa selama 3 tahun bersama yeoja lain, perasaanku padamu sudah terkikis, tapi pada kenyataannya hanya dengan melihat wajahmu sebentar saja sudah bisa membangkitkan perasaan itu lagi. Aku pasti akan mengakhiri kisah kita dengan bahagia, bisakah kau percaya padaku?” Minho mengulurkan kedua tangannya dan menggenggam erat tangan Seoyoun. Seoyoun menatap tangan mereka, kehangatan yang diberikan Minho menyebar ke setiap sel Seoyoun.

“aku percaya padamu..”

***

Seoyoun tidak bisa tidur malam itu. Ia mengenakan jaketnya dan keluar dari rumah, berjalan-jalan santai sekitar lingkungan rumah. Tanpa tujuan, kakinya melangkah ke taman bermain beberapa blok dari rumahnya. Seoyoun duduk di salah satu ayunan, menjejakkan kakinya ke tanah dan menggoyangkan ayunan dengan pelan.

“tidak bisa tidur karena terlalu senang?” suara Jinki sedikit mengejutkan Seoyoun. Rumah mereka memang tidak terlalu jauh, masih berada di lingkungan yang sama. Tapi ini kali pertama mereka bertemu di malam hari.

Jinki duduk di ayunan di sebelah Seoyoun, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket dan sedikit membungkuk badannya untuk menahan cuaca dingin.

“sedang apa kau di sini malam-malam?” tanya Seoyoun bingung. Jinki sedikit memiringkan tapi tidak menghadap Seoyoun.

“ada beberapa hal yang tidak bisa membuatku tidur nyenyak.” Sahut Jinki seadanya.

“bagaimana tadi siang?” tanya Jinki dengan suara tercekat. Sesuatu menyumbat kerongkongannya, mengocok isi perutnya hingga membuat ia mual. Tidak ada jawaban dari Seoyoun, Jinki pun tidak mendesak Seoyoun untuk menjawab—karena ia sudah bisa mengira apa yang terjadi.

“dia memintaku untuk percaya padanya kali ini, dan aku bilang aku akan percaya padanya.” Seoyoun tersenyum mengingat kejadian tadi siang.

Jinki berdiri dari ayunan yang ia duduki dan berjalan ke belakang Seoyoun, membantu Seoyoun mendorong ayunan tersebut dengan pelan tapi berirama. Lagi-lagi keheningan menyelimuti mereka.

“aku senang kalau akhirnya kau bisa bersama dengan orang yang sukai.” Itu adalah ungkapan tulus dari dalam hatinya yang bisa Jinki ucapkan. Seoyoun tidak menjawab dan hanya menikmati keheningan yang lagi-lagi menghampiri mereka.

Jinki menahan airmatanya yang sekarang siap menyeruak. Kenangannya bersama Seoyoun selama 3 tahun terakhir berputar-putar dihadapannya. Andai saja ada yang bisa dilakukannya agar yeoja itu bisa menjadi miliknya—atau setidaknya mengungkapkan sendiri perasaannya pada yeoja itu. Bukannya Jinki tidak punya keberanian untuk itu, tapi ia tau Seoyoun tidak akan membalas perasaannya dan ia tidak ingin kehilangan Seoyoun seutuhnya. Menjadi teman, setidaknya itulah yang terbaik dibandingkan Jinki harus kehilangan Seoyoun karena penolakkannya.

Seoyoun terus memandang jalanan kosong yang gelap, merasa nyaman dengan keheningan yang melanda mereka. Seoyoun tersentak kaget ketika setetes cairan dingin menyentuh kulit pundaknya. Seoyoun menengadah mengira itu adalah tetesan air hujan—tapi malam itu sama sekali tak hujan.

Seoyoun mengadah ke belakang dan dengan cepat Jinki membalikkan punggugnya menghadap Seoyoun. Ia tak bisa menahan airmatanya lebih lama lagi. Ia tidak ingin Seoyoun melihat sosoknya yang lemah seperti ini, ia tidak ingin merusak kebahagiaan Seoyoun.

Jinki tau Seoyoun sekarang sudah berdiri dari ayunan dan mendekati Jinki. Dengan cepat Jinki menyeka airmatanya yang masih mengalir menggunakan ujung ibu jarinya—tapi sia-sia karena airmatanya justru semakin banyak mengalir.

“Ji-Jinki-ya …” Seoyoun meletakkan tangannya diatas pundak Jinki, bermaksud untuk membuat Jinki merasa lebih baik. Jinki sedikit menurunkan bahunya dan menghindari sentuhan Seoyoun. Ia tidak ingin yeoja itu tau bahwa sekarang tubuhnya sedang bergetar pelan.

“gwaenchana… naega …” kata-kata Jinki terputus-putus, setiap satu kata yang keluar dari mulutnya membuat tenggorokannya tercekat. Jinki membuka mulutnya, membiarkan udara masuk dan keluar memenuhi paru-parunya.

Tanpa aba-aba Seoyoun melingkarkan tangannya ke pinggang Jinki, memeluk namja itu dari balik punggungnya. Jutaan kupu-kupu berterbarang di perut Jinki menggantikan rasa mual karena perutnya terpilin-pilin beberapa saat lalu.

“Lee Jinki, neo paboya…” ucap Seoyoun sambil menyenderkan kepalanya di punggung Jinki. Jinki sedikit menoleh ke belakang untuk merasakan kehadiran Seoyoun.

Seoyoun memejamkan matanya dan tersenyum kecil meski Jinki tak bisa melihatnya.

“tadi Minho memintaku untuk percaya padanya, dan aku bilang aku percaya bahwa jika kami mencoba, akan ada akhir yang bahagia untuk kami..” gumam Seoyoun. Ekspresi Jinki kembali berubah, tapi ia masih mencoba untuk bersikap tenang.

“tapi bagaimana aku dan Minho bisa mencoba jika ternyata itu hanya akan menyakitimu? Sudah berapa banyak hal yang kau korbankan untukku—perasaanmu? Dan setelahnya mana mungkin aku bisa membiarkan menderita seorang diri?” lanjut Seoyoun.

Ia tidak pernah berpikir bahwa Seoyoun juga memikirkan dirinya, tentu saja ia merasa senang. Tapi tidak dengan pikiran untuk mengasihaninya. Ia menyukai Seoyoun—yeoja yang hanya menatap seorang namja saja selama 4 tahun—yang tidak pernah membalas perasaannya, tapi ia bahkan tidak pernah mengasihani dirinya sendiri karena ia merasa pantas untuk berkorban demi seorang Kang Seoyoun. Lantas apa yang membuat yeoja itu mengasihani dirinya saat ini?

Seoyoun melepaskan pelukannya dari Jinki. Ia menunggu namja itu untuk bereaksi, tapi Jinki sama sekali tidak bersuara.

“geumanhae.. berhentilah mengasihaniku. Yang kuinginkan hanyalah kebahagiaanmu, jadi berhentilah mengasihaniku dengan mengorbankan kebahagiaanmu sendiri.” Ucap Jinki dengan dingin.

Jinki melangkah meninggalkan Seoyoun di taman sendirian. Seoyoun melangkah lebar dan menarik tangan Jinki—memaksa namja itu berhenti. Jinki masih bersikeras tidak ingin menatap Seoyoun. Dengan geram Seoyoun melangkah ke depan Jinki, merengkuh wajah lembab Jinki dengan kedua tangannya yang mungil dan sedikit mencondongkan tubuhnya.

Jinki terbelalak lebar. Jika tadi Seoyoun memeluk, itu bukan apa-apa di bandingkan apa yang dilakukan Seoyoun sekarang. Seoyoun memejamkan matanya dan menempelkan bibir mereka selama beberapa detik sebelum ia melepaskan diri dan membuka matanya perlahan. Semburat merah menyebar dengan cepat di wajah Seoyoun.

“kau pikir apa yang sedang kulakukan? Mengasihanimu!? Tidak taukah kau kalau aku juga sulit untuk mengambil keputusan ini? Aku menunggu dia selama 4 tahun, selama itu aku hanya menunggu agar dia memberanikan dirinya untuk kembali mengejarku, tapi semuanya hancur karena bayangan wajahmu muncul dalam benakku. Membayangkan kau sedih membuatku hancur berkeping-keping!” isak Seoyoun.

“mi-mianhae …” Jinki mengangkat tangannya untuk menyeka airmata Seoyoun—bukankah ia sudah pernah bilang bahwa ia tidak ingin melihat Seoyoun menangis lagi? Seoyoun menepis tangan Jinki dengan kasar, tidak mempedulikan kecemasan di wajah Jinki.

“kau pikir apa yang sedang kulakukan? Mengasihanimu!? Tidak bisakah kau berpikir kalau aku memiliki perasaan yang sama denganmu?”

Entah sudah kali ke berapa ia terkejut malam itu—atas semua tingkah laku dan kata-kata Seoyoun. Benarkah yang dikatakan Seoyoun seperti yang ia pikirkan?
”paboya, saranghae.” Gumam Seoyoun.

Oke, kali ini Jinki yakin benar apa yang ia dengar. Jinki memeluk Seoyoun dengan erat, sesuatu yang sudah sejak lama ia inginkan—menyentuh Seoyoun. Jinki melepaskan pelukan dan tersenyum lebar pada Seoyoun. Seoyoun membalas senyuman Jinki dengan malu-malu lalu menundukkan kepalanya. Jinki mengangkat dagu Seoyoun, memaksa yeoja itu menatap matanya.

Dalam hitungan detik bibir Jinki menyapu bibir Seoyoun, melumatnya dengan cepat.

“kau adalah milikku sekarang. Kau tidak boleh menyesal. Jangan harap kalau aku akan melepaskanmu begitu saja.” Bisik Jinki setelah ia mengakhiri ciuman mereka.

Seoyoun dan Jinki berjalan bergandengan tangan, menikmati hari-hari mereka yang baru saja akan dimulai.

Seoyoun tidak tau sejak kapan ia menyukai namja yang ada disampingnya itu karena 1.440 hari dalam 4 tahunnya yang dipikirkannya adalah namja lain.

Tapi hanya dalam 1 hari ia sudah takut kehilangan namja itu hanya dengan memikirkan kemungkinannya.

Tidak ada yang tau siapakah cinta sejati kita. Kita bisa saja menduga bahwa orang yang telah kita berikan pengorbanan sedemikian banyak adalah cinta sejati kita. Tapi siapa yang tau kalau ternyata cinta sejati kita adalah orang yang bahkan tidak pernah kita pikirkan lebih dari orang lain. Orang yang selalu ada di sisi kita, memberikan cintanya tanpa lelah.

THE END

ENDING 2

“kau tau, perasaanmu tidak akan pernah bebas kalau kau tidak mengatakannya langsung. Apa kau mau aku membantumu untuk bertemu dengannya?” tawar Jinki. Saat ini detak jantung Jinki sangat cepat karena menantikan jawaban dari Seoyoun. Dari apa yang Jonghyun katakan, Minho mulai memikirkan ingin kembali mengejar Seoyoun. Dan Jinki tau, jika hal itu terjadi kesempatannya yang semula hanya 30 persen akan menjadi nol sama sekali.

Gila memang kedengarannya karena saat ini ia justru menawarkan bantuan yang seperti itu pada Seoyoun. Kalau Seoyoun menemui Minho, pasti tekad Minho untuk mengejar Seoyoun semakin kuat. Tapi apa daya, satu-satunya yang Jinki inginkan saat ini adalah senyuman tulus Seoyoun. Ia tak akan pernah sanggup lagi jika harus melihat Seoyoun menangis dan menderita karena namja lain.

“benarkah? Kau akan membantuku bertemu dengannya?” tanya Seoyoun.

“ne, aku akan membantumu.” Jawab Jinki dengan suara bergetar. Ketakutannya terjadi. Ia benar-benar akan kehilanga Seoyoun.

“kalau begitu, aku akan menghubungi Jonghyun dulu. Sampai bertemu di kelas nanti.” Pamit Jinki.

Jinki melangkah keluar dari cafetaria dengan cepat dan mencari tempat sepi yang tidak akan ada orang mengganggunya.

Ia sudah memikirkannya masak-masak sebelum menawarkan bantuan pada Seoyoun. Tapi tetap saja rasanya berat harus melihat Seoyoun bersama namja lain.

“animida, kau sudah melakukan yang terbaik Lee Jinki. Jangan pernah menyesalinya.” Tegas Jinki pada dirinya sendiri. Dengan cepat Jinki menyeka airmatanya sebelum terjatuh.

***

Seoyoun duduk di sebuah cafe sambil mengaduk-aduk minumannya dan menunggu kedatangan Minho.

“mian, apa aku terlambat?” tanya Minho sambil memposisikan diri dihadapan Seoyoun.

“ani, kau tidak terlambat. Gomawo, karena kau sudah mau datang.” Ujar Seoyoun.

“tidak perlu sungkan. Sebenarnya, aku juga ingin membicarakan suatu hal padamu.” Minho melipat kedua tangannya diatas meja dan menatap Seoyoun. Wajah yang sangat ia rindukan sekarang ada dihadapannya. Tapi apa gunanya? Rasanya semua sudah sangat terlambat.

“aku… Sudah menyukaimu sejak 4 tahun yang lalu, sebelum kita masuk ke SMA yang berbeda. Aku tau aku terlambat menyadari perasaanku padamu, tapi jika kau masih memiliki perasaan yang sama denganku, bukankah kita bisa memulai semua dari awal?” ujar Seoyoun. Perutnya terasa terpilin-pilin dan membuatnya mual. Ia mengerahkan segala keberanian yang ia punya untuk mengungkapkan isi hatinya. Ia tidak berharap akan ada penyesalan yang lain lagi. Sudah cukup ia menyesal selama 4 tahun karena perasaannya sendiri.

Minho menatap Seoyoun dengan sendu. Ingin sekali ia merengkuh yeoja itu, membiarkan yeoja itu berada di dalam dekapannya selama mungkin.

“selama 3 tahun terakhir aku bersama dengan yeoja lain, aku tidak bisa memungkiri bahwa aku masih memikirkanmu—tidak hanya kadang, tapi sering. Awalnya aku selalu berpikir akan lebih baik jika Daemi adalah kau. Seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa menerima dia di sisiku, tidak lagi membandingkan kau dengan dirinya—tidak juga memikirkanmu lagi. Lama kelamaan aku terbiasa dengan kehadirannya dan kekosonganmu. Mungkin benar, perasaanku padamu, masih sama seperti yang dulu. Tapi 3 tahun bersama Daemi, aku mulai merasa tidak bisa hidup tanpanya. Jadi, kumohon lupakanlah aku. Kita berdua, adalah hal yang tidak mungkin terjadi.” Minho menatap Seoyoun yang matanya kini berair untuk terakhir kalinya sebelum ia melangkah keluar dari cafe, meninggalkan Seoyoun sendiri.

Tangis  Seoyoun pecah detik itu juga. Ia sudah berpikir kemungkinan terburuk yang akan terjadi, tetap saja ia tidak bisa menerimanya.

Jinki diam-diam mengikuti Seoyoun karena ia merasa khawatir. Jinki mendekati Seoyoun, merangkul pundaknya dan membiarkan Seoyoun menangis hingga ia merasa lebih baikan.

“kau tau, ada seseorang yang mungkin akan bisa membahagiakanmu dibandingkan namja itu.” Ujar Jinki.

“aku tau tentang perasaanmu, Jinki-ya. Aku sangat berterimakasih karenanya, tapi aku tidak bisa membalas perasaanmu, mian. Mataku selamanya hanya bisa menatap namja itu.”

Jinki terdiam, ia tau ia sudah tidak punya kesempatan lagi. Meskipun Minho tak membalas perasaan Seoyoun, Seoyoun pun tak akan pernah bisa membalas perasaan Jinki. Jinki merasa mereka seperti berputar-putar di lingkaran perasaan yang tak berujung, terlalu melelahkan.

“aku, mendapatkan tawaran kuliah di Canada sebagai mahasiswi pertukaran untuk semester 3 dan kurasa aku akan menerimanya.”

4 Years Later

Seoyoun membenarkan letak kacamatanya dan melirik jam tangan. Ia berjanji untuk bertemu seseorang di café ini dan ia segera datang begitu kembali ke Seoul beberapa saat lalu, tapi orang itu justru belum datang.

“mian, Seoyoun-ah, sudah menunggu lama?” panggil Jinki, akhirnya orang yang ia tunggu-tunggu datang juga—bergandengan tangan dengan seorang yeoja.

“ya, sudah lumayan lama.” Seoyoun melirik yeoja itu lalu menatap Jinki, meminta penjelasan.

“ah, ini Kim Jungri, naui yeojachingu iyeo.” Ujar Jinki dengan malu-malu. Seoyoun tersenyum ramah dan berjabat tangan dengan yeoja bernama Jungri itu.

“kau pintar mencari pacar, dia sangat cantik.” Puji Seoyoun.

Jinki hanya tersenyum tipis lalu menggaruk bagian belakang kepalanya.

“hmm, kalian mau menemaniku mencari hadiah?” tanya Seoyoun pada Jinki dan Jungro.

“hadiah? Untuk siapa?”
”Untuk Minho…”

Meski sudah berlalu 4 tahun, Jinki masih merasa sedikit risih mendengar namja itu.

“Minho? Kalian …” Jinki menggantungkan kalimatnya, tidak yakin apa yang harus ia katakan.

“dia mengirimkan undangan merah padaku beberapa hari yang lalu.” Seoyoun menampilkan ekspresi sedatar mungkin. Tapi ia sepertinya lupa, ada seorang namja yang mengenal ekspresi wajahnya bahkan jauh lebih baik dari dirinya sendiri. Jelas sekali Seoyoun masih terluka.

“kau harus segera melupakannya, kau tau? Ada yang bilang untuk melupakan seseorang kita butuh waktu yang sama dengan ketika kita mencintainya. 8 tahun, apakah itu tidak cukup? Kalau kau terus menyukainya setahun lagi, kau harus menghabiskan 9 tahun untuk melupakannya. Jangan siksa dirimu sendiri.” Ujar Jinki tidak tahan membayangkan Seoyoun memikirkan namja itu seorang diri selama 4 tahunnya di Canada.

“araseo, aku juga berpikir bahwa aku harus berhenti mencintainya. Tapi apa yang bisa kulakukan? Hatiku tidak bisa memilih untuk tidak mencintainya meski pikiranku sudah memerintahkannya.”

Suasana di meja yang mereka tempati menjadi hening. Jinki tidak tau harus berkata apa lagi agar Seoyoun bisa terus melanjutkan hidupnya dengan baik—bukan berarti sekarang hidupnya tidak baik. Sejak dua tahun lalu Seoyoun sudah mulai dikenal masyarakat karena lukisannya, kariernya sangat bagus. Tapi akan lebih baik kalau Seoyoun mendapatkan pengganti Minho untuk mengisi hari-harinya ke depan.

Seoyoun menyesap kopinya dengan diam. Ia tau Jinki bermaksud baik dan tidak ingin ia larut dalam kesedihan. Tapi ia sungguh tidak bisa berbuat apa-apa.

Jungro menatap Jinki dan Seoyoun bergantian, bingung dengan apa yang harus dilakukannya.

Terkadang, tidak semua perasaan cinta terbalaskan. Ada suatu hubungan di mana hati kalian saling berhubungan tapi takdir kalian justru berselisih jalan. Hubungan yang seperti itu, tak akan bisa kita hindari.

THE END

 

ENDING 3

“kau tau, perasaanmu tidak akan pernah bebas kalau kau tidak mengatakannya langsung. Apa kau mau aku membantumu untuk bertemu dengannya?” tawar Jinki. Saat ini detak jantung Jinki sangat cepat karena menantikan jawaban dari Seoyoun. Dari apa yang Jonghyun katakan, Minho mulai memikirkan ingin kembali mengejar Seoyoun. Dan Jinki tau, jika hal itu terjadi kesempatannya yang semula hanya 30 persen akan menjadi nol sama sekali.

Gila memang kedengarannya karena saat ini ia justru menawarkan bantuan yang seperti itu pada Seoyoun. Kalau Seoyoun menemui Minho, pasti tekad Minho untuk mengejar Seoyoun semakin kuat. Tapi apa daya, satu-satunya yang Jinki inginkan saat ini adalah senyuman tulus Seoyoun. Ia tak akan pernah sanggup lagi jika harus melihat Seoyoun menangis dan menderita karena namja lain.

“tidak perlu. Kami hanyalah orang asing yang tidak ada satupun hal untuk dibicarakan.” Ujar Seoyoun dingin.

“jinja? Kau tidak akan menyesal?”

Seoyoun mengangguk mantap. Ya, kini ia dan Minho hanyalah dua orang asing yang tidak saling menyapa ketika berpapasan di jalan.

Ia, sudah terbiasa kecewa. Dan ini adalah kekecewaan terbesarnya. Mendengar orang yang ia sukai memintanya untuk bersikap seperti orang asing telah melukainya lebih dari apapun.

***

Seoyoun berjalan dengan malas ke kedai jajangmyun dekat rumahnya. Jam baru menunjukkan pukul 4 sore, tapi ia sudah merasa lapar.

Baru saja Seoyoun akan memesan, ia melihat sepasang kekasih di dalam kedai sedang menikmati jajanmyun sambil tertawa bahagia.

Namja itu menoleh dan melihat Seoyoun. Kenapa Seoyoun masih saja merasa sedih? Perasaannya campur aduk. Perutnya yang tadi kosong sekarang terasa penuh dan ia bisa muntah kapan saja kalau dia memasukkan sesuap makanan ke dalam perutnya.

Ya, selera makan Seoyoun menghilang begitu saja. Seoyoun melangkah keluar kedai dan berjalan tanpa arah—otaknya terasa kosong.

Ia bahkan tidak tau sudah berapa lama, sudah berapa jauh ia melangkah. Bunyi klakson yang nyaring menyadarkan Seoyoun. Ia berada di tengah jalan, sebuah mobil melaju kencang ke arahnya tapi ia sama sekali tidak bisa menyingkir. Kakinya terlalu lemas untuk digerakkan dan pikirannya terlalu kosong—ia tidak tau apa yang harus ia lakukan.

Seoyoun memejamkan matanya, tidak ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebuah tangan besar mencengkram lengannya dengan erat dan menariknya dengan cepat ke pinggir jalan. Seoyoun membuka matanya perlahan, melihat dirinya mendarat diatas tubuh Minho.
”MICHEOSO!!? Apa yang baru saja kau lakukan!!? Apa kau mau mati, hah!?” bentak Minho. Segala emosi yang dimiliki Seoyoun bergabung menjadi satu—rasa sedihnya karena Minho, rasanya takutnya ketika membayangkan ia akan mati. Luapan emosinya mengalir turun bersamaan dengan airmatanya. Dengan cepat Seoyoun mengusap airmatanya dan mencoba untuk bangkit, tapi tangan kanan Minho melingkar erat di pinggang Seoyoun, memaksa yeoja itu kembali menindih tubuhnya.

“aku bertanya padamu, kau tidak mau menjawab?” tuntut Minho?

“apakah kita saling mengenal?” ujar Seoyoun dingin.

“jangan bertingkah seperti ini Kang Seoyoun.” Cibir Minho.

“kau sendiri yang mengatakannya padaku! Kau sendiri yang ingin kita menjadi orang asing Choi Minho!” teriak Seohyun.

“aku menyesal, oke? Aku tidak ingin menjadi orang asing denganmu. Aku… Tidak ingin kehilanganmu lagi, tidak untuk yang kesekian kalinya.” Bisik Minho.

“pembohong! Berhentilah bersikap seperti ini padaku. Berhentilah mempermainkan perasaanku. Aku sedang berusaha keras untuk melupakanmu, kumohon hentikan semua ini.” Seoyoun tertunduk sementara airmatanya kembali turun.

“aku tidak berbohong. Sudah cukup 4 tahun kulalui tanpamu, aku tidak ingin melalui 4 tahun yang akan datang tanpamu lagi.”
”sudah kubilang berhentilah mempermainkanku. Jelas-jelas kau sudah punya yeojachingu yang baru. Dan kau terlihat sangat bahagia bersamanya, lalu apa artinya orang seperti ku bagimu!? Aku bukan barang yang bisa kau gunakan sesuka hatimu lalu kau buang ketika kau tidak menginginkannya lagi. Aku—“ Minho memotong kata-kata Seoyoun dengan mendaratkan sebuah ciuman hangat di bibirnya. Jelas Seoyoun terdiam. Minho mengakhiri ciuman mereka dan menatap Seoyoun yang masih kehilangan kata-kata.
“memang setelah putus dari Daemi aku berpacaran dengan yeoja lain, tapi kami sudah putus. Dan yeoja tadi bukan pacarku, dia Kim Jungri—yeodongsaeng Jonghyun. Dan aku tidak pernah menganggapmu sebagai mainanku. Kau, adalah satu-satunya yeoja yang kucintai. Hanya kau.” Wajah Minho melembut. Minho mengusap-usapkan telapak tangannya diwajah sendu Seoyoun.

“kenapa kau membiarkanku menjadi seperti ini? Kenapa kau harus melukaiku seperti ini baru kau mengatakannya padaku? Kau brengsek, Choi Minho!” Seoyoun memukul-mukul dada bidang Minho berkali-kali, melampiaskan rasa kesalnya.

Minho tersenyum dan memeluk Seoyoun. Awalnya Seoyoun masih mencoba memukul Minho namun pada akhirnya Seoyoun berhenti. Ia balas memeluk Minho, tidak mempedulikan bahwa mereka masih terduduk di jalanan yang ramai.

Cinta adalah sesuatu yang membutuhkan pengorbanan. Mungkin bukan berupa materi, tapi tetap saja akan meninggalkan bekas dalam ingatan kita. Terkadang yang kita butuhkan hanyalah menunggu dan menunggu sedikit lebih lama hingga perasaan kita terbalaskan.

THE END

ENDING 4

“kau tau, perasaanmu tidak akan pernah bebas kalau kau tidak mengatakannya langsung. Apa kau mau aku membantumu untuk bertemu dengannya?” tawar Jinki. Saat ini detak jantung Jinki sangat cepat karena menantikan jawaban dari Seoyoun. Dari apa yang Jonghyun katakan, Minho mulai memikirkan ingin kembali mengejar Seoyoun. Dan Jinki tau, jika hal itu terjadi kesempatannya yang semula hanya 30 persen akan menjadi nol sama sekali.

Gila memang kedengarannya karena saat ini ia justru menawarkan bantuan yang seperti itu pada Seoyoun. Kalau Seoyoun menemui Minho, pasti tekad Minho untuk mengejar Seoyoun semakin kuat. Tapi apa daya, satu-satunya yang Jinki inginkan saat ini adalah senyuman tulus Seoyoun. Ia tak akan pernah sanggup lagi jika harus melihat Seoyoun menangis dan menderita karena namja lain.

“tidak perlu. Kami hanyalah orang asing yang tidak ada satupun hal untuk dibicarakan.” Ujar Seoyoun dingin.

“jinja? Kau tidak akan menyesal?”

Seoyoun mengangguk mantap. Ya, kini ia dan Minho hanyalah dua orang asing yang tidak saling menyapa ketika berpapasan di jalan.

***

Seoyoun membungkukkan badannya 90 derajat pada Mr. Hwang. Setelah Mr. Hwang menghilang dari pandangannya, Seoyoun menghela nafas.

“waeyo? Kenapa Mr. Hwang mencarimu?” Jinki yang sejak tadi sudah menunggu Seoyoun cepat-cepat menghampiri Seoyoun, berharap Mr. Hwang bukannya memberikan dia hukuman.

“Mr. Hwang menawarkanku untuk menjadi mahasiswi pertukaran di Canada untuk semester 3 nanti.” Jelas Seoyoun. Ekspresi cemas Jinki berubah menjadi sedih.

“kau… Menerimanya?”

Seoyoun mengangguk, tidak berani melihat Jinki.

“kau tau apa artinya itu? Selama beberapa tahun kita tidak akan berada di kampus yang sama. Aku tidak lagi bisa berada di sisimu sebagai teman, kau tau itu kan?” tanya Jinki. Ia tidak pernah membayangkan jika mereka akan terpisahkan seperti ini. Sejak awal dia tidak menuntut terlalu banyak, ia tidak berharap Seoyoun akan pernah membalas perasaannya, tapi setidaknya ia ingin bisa selalu menemani Seoyoun dan memberikannya semangat untuk apapun yang ia lakukan.

“aku tau. Ini kesempatan yang baik bagiku untuk memulai hidupku dari awal lagi, tidakkah itu baik?”
Jinki tidak menjawab, terlalu sedih membayangkannya.

“Jinki-ya, terima kasih untuk semuanya, sungguh. Kebaikanmu, pengorbananmu untukku.. Juga perasaanmu.” Ucap Seoyoun dengan pelan.

Jinki tersenyum, merasa lega karena Seoyoun mengetahui perasaannya meski ia juga tau bahwa maksud kata-kata Seoyoun adalah penolakan. Tapi ia tetap merasa lega karena Seoyoun menghargai apa yang ia lakukan untuk yeoja itu—menghargai perasaannya.

“Baik-baiklah di sana. Carilah setidaknya satu teman untukmu bergantung. Ketika kau kembali nanti, kita harus sama-sama bahagia, ara?” Jinki berpura-pura mengeluarkan suara mengancam yang disambut dengan kekehan pelan dari Seoyoun yang kemudian mengangguk.

4 Years Later

Seoyoun berjalan keluar dari gerbang kedatangan di bandara Incheon bersama seorang namja berambut cokelat.

“kenapa kau cemberut terus? Harusnya kau senang karena kita kembali ke Seoul.” Ucap Seoyoun sambil menatap namja disampingnya yang masih terus menekuk wajahnya.

“yaaaa, apa kau mendengarkanku?” tanya Seoyoun agak meninggikan suaranya.

“kau tau kenapa aku tidak suka kembali ke Seoul.” Namja itu menatap Seoyoun dengan sinis. Seoyoun mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti membuat namja itu mendesah frustasi, “apalagi kalau bukan karena Choi Minho itu. Kau masih memikirkannya kan?” Lanjut si namja.

Seoyoun tak mampu menahan tawanya setiap kali melihat namja imut itu cemburu.

“aigoooo~ neomu kyeowo!” Seoyoun mencubit pipi putih namja itu yang segera di tepis dengan kesal.

“berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil!” Namja itu berjalan lebih cepat, meninggalkan Seoyoun di belakang.

“aigooo! Jangan marah-marah terus dong, Lee Taemin.” Protes Seoyoun yang mengejar langkah Taemin.

“katakan padaku, apa kau berharap akan bertemu dengan Minho lagi?” Taemin berhenti berjalan memutar balik tubuhnya dengan mendadak, hampir saja Seoyoun menabraknya kalau ia tidak segera berhenti.

“harus kukatakan berapa kali agar kau percaya? Aku sudah tidak memikirkannya lagi, karena sekarang aku hanya memikirkanmu seorang, puas?” jawab Seoyoun kesal.

Taemin tersenyum puas dan mengangguk.

“jangan salahkan aku kalau aku bertingkah seperti ini. Aku hanya merasa takut kehilangan noona, noona tau kan? Susah payah aku membuat noona menerima perasaanku hingga dua bulan lalu noona benar-benar menerimanya, aku tidak ingin begitu saja kehilangan noona.” Taemin meletakkan kedua tangannya diatas pundak Seoyoun dan semakin mendekat. Taemin memberikan ciuman kilat selama sedetik namun berhasil membuat Seoyoun merona.

“noona, jangan pernah tinggalkan aku, araseo?” bisik Taemin.

“araseo, geogjonghajima uri Minnie~~” balas Seoyoun.

Taemin terkekeh pelan. Taemin merangkul pundak Seoyoun dan menarik Seoyoun berjalan bersamanya.

“aneh, 4 tahun lalu saat pertama kali kita bertemu, aku sangat marah pada noona karena memanggilku ‘Minnie’, tapi sekarang aku justru sangat menyukainya ketika noona menyebutku seperti itu.”

“apa kau senang aku memanggilmu seperti itu?”
”hmm.” Gumam Taemin dengan malas.

“kalau begitu, bisakah lain kali kau tetap memanggilku noona meskipun kau sedang cemburu atau marah?” pinta Seoyoun.

“ne?”
”kau terlihat sangat dingin setiap kali memanggilku dengan sebutan ‘kau’.” Protes Seoyoun. Taemin terkekeh pelan dan mengencangkan rangkulannya dipundak Seoyoun. Tidak akan pernah ia ingin kehilangan yeoja itu.

Di dunia ini, ada orang yang kau cintai—tapi tidak mencintaimu. Ada orang yang mencintaimu—tapi kau tidak mencintainya. Ada orang yang kau cintai dan juga mencintaimu—tapi kalian tidak bisa bersama. Sebelum cinta sejatimu datang, kau akan mengalami 3 hal tersebut. Tapi jika kau terlalu serakah dan tetap bersama orang yang kau cintai, terlalu lemah dan menerima orang yang mencintaimu atau terlalu bodoh dan berlarut-larut dalam hubungan yang menyedihkan, maka kau tidak akan pernah menemukan cinta sejatimu.

THE END

28 thoughts on “(un)Requited Love”

  1. miiann,,!!
    sebnrnya aku udah baca dr td,, tp baru ninggalin jejak,,!!
    coz,, signal intrnetannya lg gk brsahabat,,!!
    **curcol**

    my coment ::
    uuwaww,,!! setelah ngklik sana-sini ngikutin perintah author-nya,, akhirnya aku dapet ending yg ketiga,,!!
    hihihiii~ ;D

    gilla niih author-nya,,!!
    kreatif abiss,,!! ;D
    dapet ilham drmana niih bisa bikin niih FF jd rumit tp bikin aku trbelalak ngbacanya saking kerennya,,!
    uuwaww,,!!
    SUPER DAEBAK niih author,,!! ;D

    Lanjutkn trus ya!!
    aku tunggu karya2 author selnjutnya!

    1. gak apa2 chingu =D
      gak penting kapan, yang paling penting tetap ninggalin jejak😄

      jeongmal gomawoyo^^~
      ide ini udah dari dulu nongol, tapi baru akhir2 ini bener2 buat nya =D
      kekeke~ soalnya author pikir menarik kalo jalan ceritanya sesuai yang diinginkan kita selaku reader =D

      oke chingu =)

  2. Mian baru komen eonni -.- aku gag bole ol d kompi , trus pulsaku kmaren abiis *curcol

    tau gag eon ? Stelah ngklik sana sini aku dpt ending kedua T~T hiks hiks *mewek
    keren nih eon😀 gmna caranya sih ? *pengen tau😀

    daebak deh buat eonni😉

    1. gak apa-apa saeng =D
      😦

      yang penting saeng buat aja beberapa opsi yang mungkin terjadi pada ff saeng.
      nah ntar saeng publish aja di post yang berbeda, trus link deh =D

  3. onni!!!
    sumpah!!! keren banget!!!
    tragis cerita.a enth kenapa bukan karena ada pembunuhan,,
    tpi membunuh perasaan sendiri (ending yg aq pilih adalah no 4)

    beneran gak tw lgi hrs gmna klo crta cintaQ knds kyk gitu,,
    sumpah…seumur hidup aq rela sendiran!!!!!
    T^T

  4. wowhh… ceritanya seru banget…
    q dapet ending ke-3…. kerenn…. akhirnya seoyoun ma minho bisa bersatu… gg sia-sia penantian mereka selama 4 tahun…. ^___^

  5. dapet ending ke 4 T.T

    Ahhhh~ minnie kan adikku masa jadian sama adek sndiri /plaak

    Wkkwkwk hikz… Tapi mw nya sama jinki T.T * ditabok taemin*

    Chingu keren bisa mikir begini🙂 cuman 1 kritik. Kurang panjang /plaak
    Wkwwkw engga kok nice ending🙂

    Sepertinya aku memang berjodoh dgn jinki(?),soalnya tadi nyaris milih 1 (maksa) wkwkwk

    1. coba lagi chingu =D
      kurang panjang kah??
      oke, ntar kalo buat kayak gini lagi aku usahain buat lebih panjang =D
      kemarin pingin cepet publish, jadinya cuma segini^^

      gomawo udah baca, comment anda kasih pendapat =D

  6. waaaaaaah keren keren keren bgt pokonya thor😄
    aku dapet ending yg 2 T.T
    sedih bgt dia jadinya masih sendiri. DAEBAK!!! ditunggu ff2 lainya ya thor ^^v

  7. Keren chingu ,,,
    aq ska na ma ending iiang ke 3 ,,,,
    wah ,,,
    bener2 ff iiang keren bgd ,,,
    hahahahahahahahahahaha ,,,,

  8. aku dapet ending 4….hehe….asiiikk,sama taemin!!
    aku jg sering blg “aigoooo~ neomu kyeowo!” klo liat minnie…kk~
    oya,thor,makasih ya bwt kalimat” terakhirnya…
    kena bgt!hahaha~
    buat lg yg kea gini,kreatip soalnya….^^d
    hwaiting,thornim!

  9. author maaf… aku lpa ninggalin komen gra2 gk sbar (Dan lupa…) nerusin ceritanya.
    Aku dpt ending 3. Gyaa.. aku kira bkal sad… but, It’s happy ending.
    Gk kbaca sma skali!!!
    Keren….. ( 4 jempol(?) !!!)

  10. ffnya keren…
    Baru kali ini baca ff yg ceritanya bisa dipilih sendiri..Aku dapat ending3, tapi ntar mau baca lagi ah. Biar ketahuan semua endingnya. Hehe..

  11. yuyu eonni daebak luar biasa!!!!!!
    aku sebenernya dapet ending 4, mungkin kalo di kehidupan nyata, aku juga bakal dapet ending ini dan menurutku ini ending paling adil buat semuanya.
    tapi, aku coba baca ending 1 (tentu saja karena onew oppa hahaha), itu kata-kata akhirnya ngena banget. karena manusia lebih sering fokus sama apa yang mereka kejar, tapi malah suka gak sadar bahwa sebenernya mereka gak perlu ngejar hal itu karena apa yang mereka cari udah ada di deket mereka *huueeekk,kata-kata apa deh ini.hahaha*
    ending 1 paling daebak!! suka sama semuanya, ending gak bisa ditebak *bener-bener kaya hidup manusia*
    sekali lg, yuyu eonni, TOP BGT!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s