For you it’s separation, To me it’s waiting

Author : Yuyu a.k.a Younji

Type : Song Fic

Genre : PG 13

Cast :

  • You
  • Lee Taemin
  • Choi Minho

Recommanded : Listen to Jaejoong’s [For you it’s separation, to me it’s waiting]

The day seems to last forever
As if it read my heart
With passing time, will it fade?


Hujan rintik-rintik membahasi Seoul siang hari itu. Tidak ada terik cahaya matahari, tidak juga kebisingan dari kendaraan yang lalu lalang mengingat kesibukan di ibukota Korea Selatan itu.

Seorang namja duduk di tepi jendela, memandangi tiap tetes-tetes air hujan—setidaknya itulah yang dikira oleh setiap orang yang melihatnya dari luar jendela. Pikiran namja itu melayang jauh. Tidak pernah sekalipun ia membayangkan akan melalui satu hari seperti ini. Hari-harinya yang menyenangkan—atau itulah menurutnya selama ini—menguap begitu saja. Tidak ada lagi keinginan konyolnya untuk tidur lebih cepat di malam hari agar terbangun dan menyambut hari esok—memulai satu lagi hari yang menyenangkan.

Yang menjadi harapan utamanya saat ini adalah agar hari ini berlalu sangat cepat.

Rasanya sudah seperti seharian ia duduk ditepi jendela meski sebenarnya ia bahkan belum duduk di sana selama 10 menit pun.

Terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Namja itu terlalu malas untuk beranjak dari posisinya saat ini dan menghiraukan ketukan itu. Namja itu memalingkan wajahnya sedikit ke arah pintu yang telah terbuka. Seorang pria tua dengan pakaian rapi berdiri di sana dan membungkuk padanya.

“makan siang sudah siap, tuan muda.” Setelah mengucapkan itu dan yakin namja yang ia sebut tuan muda mendengarnya, pria tua yang merupakan kepala pelayan keluarga Lee undur diri.

Namja itu kembali memandang keluar jendela. Ia menghela nafasnya dengan berat, mengakibatkan hembusan nafasnya membentuk uap kecil di kaca jendela. Masih ada setengah hari lagi yang harus ia lalui untuk mengakhiri hari ini. Kenapa pelayan tua itu justru memanggilnya untuk makan siang padahal ia pikir sudah saatnya makan malam?

Namja itu tertawa pahit, menertawakan dirinya sendiri. Tidak habis pikir dia, bagaimana bisa ia menjadi seperti ini sekarang? Satu-satunya penerus Lee Corp yang menjadi pusat perhatian dunia, orang yang selalu di panggil Tuan muda Lee yang entah berapa banyak namja di Seoul yang berharap bisa berada di posisinya, seorang Lee Taemin yang dipuja-puja jutaan yeoja justru terlihat seperti orang gila. Selalu mengurung dirinya sendiri dalam ruangan super besar yang ia sebut kamar tidur—meski pada kenyataannya luas kamar tidur itu bahkan menandingi luas halaman rumahnya.

Taemin melangkah menuruni tangga dengan malas. Pandangan kosongnya tak lagi menaruh perhatian pada sekelilingnya. Seorang namja dengan tinggi 180cm memperhatikan gerak-gerik Taemin yang terlihat seperti mayat hidup di matanya. Namja itu mengernyit, merasa kasihan pada sahabat yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri.

“Taemin-ah, kalau kau melamun seperti itu terus, kau akan tersandung oleh kakimu sendiri.” Namja itu berdiri di pinggir tangga masih menunggu Taemin mengambil langkahnya hingga menginjak tangga terakhir.

“huh, Minho hyung? Apa yang kau lakukan di sini?” Taemin menghiraukan Minho dan berjalan mengarah ke ruang makan. Minho merangkul pundak Taemin dan sedikit menariknya agar melangkah lebih cepat agar sampai di ruang makan.

“aku datang untuk menemanimu makan siang, memang apa lagi yang bisa kulakukan di sini?” Minho balik bertanya dengan senyum lebar diwajahnya, memamerkan sedereran gigi putihnya yang rapi.

“oh..” balas Taemin singkat. Para pelayan hilir mudik di ruang makan untuk meletakkan sejumlah makan siang yang memang terlalu banyak meski ada dua orang yang akan melahapnya.

Taemin menyentuh sumpitnya dan mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya—tidak banyak memang, tapi itulah yang terbaik yang bisa ia lakukan. Ia sangat tidak berselera makan. Setiap masakan yang masuk ke mulutnya membuat perutnya mual, tapi ia juga tidak ingin membuat orang-orang disekitarnya menjadi khawatir dan menyia-nyiakan pekerjaan para pelayan.

Minho duduk di seberang Jaejoong dan mengamati Taemin dengan iba. Emosinya berkecamuk, Minho mengatupkan rahangnya dengan erat, mencoba menahannya luapan emosi itu. Ia tau jika ia mengungkapkan perasaannya saat ini, itu hanya akan membuat Minho semakin bersedih karena kembali memikirkanmu—meski memang Taemin selalu memikirkanmu tiap detik. Bahkan Minho saja yang hanya melihat hal itu terjadi tidak bisa menahan airmatanya begitu kejadian itu kembali terngiang di benaknya—yang hampir setiap malam menghantuinya. Tapi ia tau itu bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan penderitaan Taemin saat ini.

Minho diam-diam sangat merindukan senyum Taemin , Lee Taemin yang rendah hati dan selalu tertawa bodoh apapun yang terjadi. Tapi tidak setelah kau datang dan pergi begitu saja dengan membawa segalanya—Lee Taemin yang ia kenal.

Except for your empty space
Everything is the same
My heart must be broken
Can’t seem to accept that I sent you away
All my love is now in vain

I sent you away
But my waiting has just begun
Don’t leave my love
I may never see you again
You are still in my heart

Dengan sedikit bujukan dan paksaan dari Taemin, Minho pulang ke rumahnya. Taemin sedang ingin seorang diri, tidak ingin diganggu siapapun, makanya ia bersikeras meminta Minho untuk meninggalkan kediaman Kim sehabis makan siang. Rumah super mewah itu terasa sangat kosong bagi Taemin . Seseorang telah menghilang dari rumah itu meninggalkan Taemin seorang diri. Ya, kau telah meninggalkannya. Tapi ia tidak butuh orang lain untuk menggantikan dirimu, tidak akan ada artinya jika bukan orang kau.

Taemin duduk di ruang nonton, memutar-mutar siaran entah apa dan melirik jam dinding. Taemin menghela nafas berat—sesuatu yang memang menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini. Sudah sepuluh kali ia melirik ke arah jam, tapi mengapa jarum jam itu masih juga tidak bergerak sedikit pun? Taemin keluar dari rumahnya, melajukan mobilnya dengan cepat tanpa tujuan. Setidaknya itu akan lebih baik daripada ia terus berdiam diri di rumah. Setelah beberapa puluh menit berkeliling tanpa tujuan, Taemin menghentikan mobilnya di sebuah bioskop.

***

Taemin memandang bioskop itu secara menyeluruh. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Konyol rasanya. Semua tempat yang ia datangi bersamamu sama sekali tidak ada yang berubah, satu-satunya yang berbeda hanyalah kau tak lagi di sampingnya. Seolah-olah kau tidak pernah hadir dalam kehidupan Taemin sebelumnya.

Taemin duduk di kursi yang ia tempati terakhir kali ketika datang bersamamu. Terdengar suara tawa yang menggelitik di telinga Taemin. Ia memalingkan wajahnya dengan sangat perlahan. Kau tengah duduk di sampingnya, menatap layar besar di bioskop dengan mulut yang sibuk mengunyah popcorn dan menyesap cola. Kau tertawa sangat lebar setiap kali ada kejadian lucu yang kau tonton, dan kau selalu mengernyit setiap kali adegannya berubah menjadi agak mengerikan. Taemin mengulurkan tangannya menutupi matamu, menghalangi pandanganmu dari adegan mengerikan yang tidak kau sukai. Beberapa menit kemudian Taemin menurunkan tangannya tanpa sekalipun pandangannya lepas darimu. Kau menoleh ke arah Taemin dan tersenyum manis sebagai ucapan terima kasih. Taemin balas tersenyum—senyum tulus yang ia hampir lupa bagaimana caranya untuk menunjukkan itu pada semua orang.

Tapi senyum itu tak bertahan lama, senyum itu menghilang segera setelah kau menoleh ke namja yang duduk di sampingmu, kau merangkul lengannya dan bersandar manja di bahu bidang namja itu. Bibir  Taemin  yang semula melengkung membentuk senyuman kini hanya menjadi garis sejajar diwajah pucatnya.

Kau dan namja itu menghilang dari sisinya. Kini Taemin bahkan tidak bisa melihatmu tersenyum. Taemin meluruskan tubuhnya, tidak ingin melihat ke samping dan mendapatkan halusinasi lainnya.

Mungkin memang itulah yang terbaik yang bisa Taemin lakukan untukmu. Kau mungkin tunangannya—dulu. Kau mungkin yeoja yang diinginkan keluarga Lee untuk menyandang nama depan mereka dan kau mungkin satu-satunya orang di dunia yang memiliki cukup keberuntungan untuk mendapatkan hatiTaemin . Tapi Taemin tidak bisa melakukan apapun untuk mengikat hatimu tetap berada di sisinya.

Kau mungkin selalu tertawa dihadapan Taemin, kau mungkin berpura-pura kuat dan menerima pertunangan yang awalnya merupakan keputusan sepihak dari para orangtua. Tapi kau tidak bisa membohongi Taemin bagaimana terlukanya kau harus berpisah dari orang yang telah kau cintai bertahun-tahun hanya untuk menikah dengan namja yang kau kenal tidak lebih dari satu bulan.

Tapi kau tidak menyadarinya, namja yang kau kenal tidak lebih dari satu bulan itu mencintaimu sepenuh hatinya. Ia tidak tega melihatmu terluka, maka ia membiarkanmu bebas. Ia memberontak, memutuskan rantai pertunangan kalian meski ia tau setelahnya kalian tidak akan bisa bersama. Tapi apa yang bisa Taemin lakukan? Memaksamu untuk tetap berada di sisinya? Melihat kau terluka dan membiarkanmu melakukan hal nekat yang justru akan membuat Taemin kehilangan dirimu selamanya? Ia bisa kehilangan dirimu, ia bisa bertahan melihat kau berada dalam dekapan namja lain, tapi hanya satu yang tak mampu ia tahan. Ia tak akan dapat bertahan jika ia tidak akan pernah bisa melihatmu lagi selamanya, hanya itu yang ia takutkan.

Ini bukan akhir dari segalanya, kau meninggalkan Taemin—tak lagi berada di sisinya. Tapi baginya, ini adalah awal yang baru. Ia memulai kembali, menunggumu untuk kembali padanya. Hanya dengan sedikit pengharapan bahwa suatu saat—entah kapan itu—kau akan kembali padanya, itu mampu membuat ia menjaga detak jantungnya agar terus berdetak, hanya untukmu. Selama apapun, ia akan terus menunggu karena kau masih—dan akan selalu—ada di hatinya.

Except for your empty space
Everything is the same
My heart must be broken
Can’t seem to accept that I sent you away
All my love is now in vain

I sent you away
But my waiting has just begun
Don’t leave my love
I may never see you again
You are still in my heart

Taemin bangun dari tidurnya dengan kepala yang terasa sangat berat. Semalam lagi-lagi ia tak bisa tidur dan hanya terlelap satu jam sebelum ia terbangun saat ini. Taemin mengangkat tangannya, menghalangi cahaya matahari yang menyeruak masuk dari celah-celah tirai yang tidak tertutup rapat dan memicingkan matanya.

Dengan langkah berat Taemin menuruni tempat tidur ukuran king size miliknya dan melangkah dengan malas. Ia bisa saja kembali berbaring dan memejamkan matanya agar tertidur, mengistirahatkan otaknya untuk memikirkanmu. Tapi ia tak ingin. Taemin berjalan mengarah ke dapur, beberapa orang pelayan sibuk memasak sarapan tanpa menyadari Tuan muda mereka mengamati secara diam-diam. Taemin memandang sayu, tidak ada sosokmu diantara beberapa orang pelayan itu. Kau yang biasanya dengan ceria bergurau dengan para pelayan dan membantu mereka memasak sudah tak ada lagi di sana.

Taemin kembali ke lantai dua, terhenti di sebuah pintu yang setiap hari ia pandang. Tangannya terangkat ragu, menyentuh ganggang silver yang menggantung di daun pintu. Sesaat ia ingin berbalik, melangkah mundur dan lari dari kenyataan. Tapi sebagian dirinya justru memaksa dia untuk membuka pintu tersebut. Sebuah ruangan luas terhampar dihadapannya. Taemin melangkah dengan pelan, berdiri di tengah-tengah ruangan kosong itu. Semuanya belum berubah, sebuah pigura foto yang berisi dirimu dan Taemin sedang tersenyum lebar terpajang manis diatas meja kecil di samping tempat tidurmu. Buku-buku yang Taemin belikan untukmu masih berderet rapi diatas rak buku di samping pintu. Lagi-lagi Taemin merasa seperti kau tidak pernah meninggalkannya—atau bahkan tidak pernah ada dalam kehidupannya?

Taemin meringkuk diatas tempat tidurmu, menggenggam erat selimut yang pernah kau gunakan. Masih ia bisa mencium aroma vanila yang menempel di tempat tidurmu, membuat ia semakin merindukan sosokmu disekitarnya.

“apa yang kau lakukan di sini?” Minho berdiri diambang pintu, memperhatikan Taemin yang terlihat lebih merana dibanding biasanya. Kegiatan pagi hari yang sangat dibenci Minho —melihat Taemin berdiam diri di kamarmu. Taemin tidak menjawab, entah karena terlalu asyik mengingat kenangan kalian atau karena menghayalkan akhir yang bahagia untuk kalian.

“YAAAAA, LEE TAEMIN!!” Minho tak lagi bisa menahan emosinya. Hatinya tercabik-cabik melihat sahabatnya menjadi seperti ini. Minho melangkah lebar-lebar dan menghampiri Taemin. Ia mencengkram kerah kemeja putih milik Taemin dengan kasar, memaksa agar Taemin meresponnya.

”berhentilah memikirkannya! Ia tak pantas untukmu! Lupakan dia dan kembalilah menjadi Lee taemin  yang kukenal!!” teriak Minho dengan geram.

Taemin masih tak merespon kata-katanya. Minho mengguncang tubuh Taemin perlahan, berharap emosi namja yang lebih muda itu akan meluap keluar. Ia rela menjadi pelampiasan emosinya, asalkan Taemin bisa mencurahkan segala perasaannya.

“Kau pikir siapa dirimu? Kau adalah seorang Lee Taemin, Lee Taemin yang bisa mendapatkan apapun—siapapun—yang kau inginkan!!” teriak Minho lagi lebih tidak sabar. Taemin mendelik, menatap Minho dengan sinis. Taemin menghempaskan tangan Minho dengan keras dan balik menatapnya.

“apa artinya semua yang kudapatkan? Apa artinya jika aku seorang Lee Taemin?? Semuanya tidak berarti karena dia tak ada disisiku.” Ujar Taemin lirih.

“lalu kenapa kau membiarkan dia pergi? Kau seharusnya berpura-pura tidak tau, biarkan pertunangan kalian berlanjut dan kalian menikah. Dia akan menjadi milikmu selamanya. Tapi kau terlalu bodoh, terlalu bodoh untuk memberontak kedua orangtuamu sendiri, membiarkan dia lari bersama namja lain. Kau yang membiarkan dia pergi, kau yang memberikan tangannya pada namja lain, jadi kau tidak punya hak untuk meratapi kepergiannya saat ini.”

“LALU APA!!? Mengikat dia terus berada disisiku sementara hatinya milik namja lain, sementara ia terluka selama berada di sisiku? Apa kau pikir aku akan lebih bahagia!!?” Taemin berteriak sekeras mungkin, sedikit membuat Minho kaget. Sedetik kemudian, setetes cairan bening meluncur turun dari pelupuk matanya. Bayangan kau terluka, membencinya membuat hatinya semakin sakit.

“benar, aku sangat bodoh karena membiarkan dia pergi. Tapi aku lebih bodoh lagi karena masih menyukai. Aku lebih bodoh kali karena menunggunya, berharap suatu hari nanti ia akan meliahtku, merasakan hal yang sama denganku meski hanya sedikit. Apakah yang kulakukan itu salah?” Taemin menatap Minho dengan wajah berlinang airmata.

Memang benar Minho ikut menderita bersama Taemin selama ini, ia selalu menderita karena melihat Taemin memendam perasaannya seorang diri. Tapi dengan apa yang ia lihat saat ini—Taemin yang lemah—membuat Minho menyesal telah memancing emosi Taemin . Kedua bibir Taemin tertutup rapat dan bergetar hebat mencoba menahan isakannya. Minho mendongak ke atas dan menahan airmatanya yang juga siap tumpah. Tapi ia tak bisa dan tak boleh menangis. Saat ini hanya dialah satu-satunya orang yang menjadi tumpuan Taemin. Minho mengulurkan tangannya, mendekap Taemin ke dalam pelukannya.

Tangisan Taemin semakin menjadi, membasahi kaos v-neck yang dikenakan Minho saat itu. Ia tak pernah merasa selemah ini seumur hidupnya. Ia selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan—seperti yang Minho  katakan. Tapi ia justru tidak bisa memiliki dirimu yang menjadi prioritas utama dalam hidupnya.

“Taemin-ah.” Suara Minho terdengar lirih ditelinga Taemin , ia tau apa yang akan Minho katakan padanya. Dengan cepat Taemin memotong pembicaraannya, ia tidak ingin mendengar orang-orang terus merongrongkan hal yang sama padanya.

“jebal, jangan minta aku untuk melupakannya. Jangan minta aku untuk melepaskannya. Hanya dengan berharap suatu saat nanti dia akan kembali padakulah, maka aku bisa dengan tenang membuka mataku di pagi hari. Hanya dialah orang yang mampu membuatku bertahan hidup sampai detik ini.”

***

Minho duduk di tepi tempat tidur, memandang wajah lusuh sahabatnya yang kini tengah tertidur. Setelah menangis berjam-jam dipelukannya, Taemin terlelap. Ia terlihat sangat lelah. Entah kapan terakhir kali Taemin bermimpi indah dalam tidurnya.

Ia tak tau harus berbuat bagaimana, bagaimana caranya agar Taemin bisa kembali bahagia. Jatuh cinta padamu, hanyalah awal penderitaan untuk Taemin di mata Minho. Apa yang tidak ia korbankan untuk kebebasanmu? Nama baik keluarga Lee, rasa kecewa dari orangtuanya, hari-hari yang ia lalui bagai di neraka, dan yang terpenting adalah hatinya. Tidakkah kau sadar bahwa kau pergi dari kediaman Lee tidak hanya membawa barang-barang yang kau bawa ketika pertama kali masuk ke dalam kediaman ini? Kau sudah membawa pergi sesuatu yang paling berharga yang ada di kediaman itu.

Masa depan Taemin yang cemerlang kini meredup. Rasa kecewa dari orangtua Taemin tidak lah main-main. Taemin membatalkan pertunangan dengan alasan dia tidak ingin di kekang oleh aturan lama, bahwa ia tidak ingin bersama dengan orang yang tidak ia cintai—meski pada kenyataannya kau adalah satu-satunya dan yang paling ia cintai. Taemin tidak bisa mengatakan alasan yang sesungguhnya, ia tidak bisa mengatakan jika alasannya adalah agar kau bisa bersama dengan orang yang kau cintai karena Taemin tau orangtuanya tidak akan bisa menerima alasan semacam itu.

Sejak saat itu, kedua orang tua Taemin melepaskan hak warisnya. Mereka memilih Jinki—yang notabene adalah sepupu Taemin—untuk mewariskan Lee Corp meski berita itu masih menjadi rahasia keluarga. Sejak saat itu, kedua orangtuanya tak lagi mengunjungi, atau sekedar menelpon untuk menanyakan kabar Taemin seperti dulu.

Tidak ada lagi Lee Corp, tidak ada lagi kasih sayang dari orangtuanya, dan tidak ada lagi kau. Tapi ia masih memiliki Minho, karena itulah Taemin tidak bisa marah pada Minho   apapun yang Minho katakan padanya. Karena ia tidak akan memiliki siapapun lagi jika Minho meninggalkannya.

Minho memperhatikan setetes airmata yang kembali mengalir turun dari mata Taemin yang terpejam. Ia mungkin tidak tau bagaimana rasanya berada di posisi Taemin , tapi ia bersumpah akan selalu berada di sisinya apapun yang terjadi.

Don’t leave my love
I may never see you again
Wherever whenever
When you’re tired and discouraged, come back to me
Be happy my love
Until that day, forever that day (when we can be together)

Taemin memarkirkan mobilnya diujung jalan sempit di daerah Cheongsam. Dari kejauhan dia bisa melihat sebuah toko bunga kecil, tapi tertata manis dan rapi—sangat khas dirimu.

Kau keluar dari toko dan mengambil beberapa tangkai mawar putih kemudian menatanya dengan cekatan. Taemin bersyukur kau tidak meninggalkan dia terlalu jauh dan dia masih melihatmu seperti ini. Sejak awal kepergianmu dari kediaman Lee, Taemin telah mengutus orang kepercayaannya untuk mengikutimu dan mencari tau di mana kau tinggal bersama namja itu. Tapi baru hari inilah ia berani datang dan melihatmu secara langsung. Sedikit banyak Taemin harus berterima kasih pada Minho yang telah memberikannya semangat untuk datang melihatmu. Sejak teriakan di sana sini seminggu lalu, Minho berubah. Ia tak lagi memaksa Taemin untuk melupakanmu atau berpura-pura tidak tau, tapi ia justru selalu memberi dorongan-dorongan pada Taemin.

Taemin tersenyum kecil, tidak tau dari mana ia punya keberanian untuk turun dari mobilnya dan berjalan ke arahmu.

Kau berjalan bolak-balik keluar masuk toko dan menyimpan bunga-bunga yang kau pajang di depan toko. Terakhir kalinya kau keluar bersama seorang namja. Kau mengunci pintu toko yang terbuat dari kayu itu dibantu namja yang berdiri di sampingmu. Namja itu berbisik sesuatu ditelingamu, kau menoleh padanya dan tersenyum lebar. Setelah selesai mengunci pintu, kau dan namja itu berjalan bersama. Tangannya melingkar erat dipinggangmu, begitu pula sebaliknya.

Taemin berdiri tepat dihadapanmu, terpaku tak bergerak menatap bola mata yang juga balik menatapnya.

Masih beberapa meter darinya, kau balas menatap namja berkulit putih yang cenderung terlihat pucat belakangan ini. Tawa diwajahmu menghilang. Namja yang berdiri disampingmu menyadari perubahan ekspresimu dan ikut menatap Taemin dengan seksama.

I want you to forget me
Don’t hesitate
For now.

Sementara Taemin tidak bisa melangkah mendekatimu, kau masih terus melangkah bersama namja di sampingmu. Kau melepaskan tanganmu yang mendekap pinggang namja itu, sebagai gantinya kau mendekap lengan namja itu dan sedikit menariknya. Kau kembali tertawa dan melanjutkan pembicaraanmu sebelumnya. Kalian berjalan melewati Taemin begitu saja, tidak ada sapaan, tidak ada senyuman, tidak ada juga basa basi seperti ketika kau bertemu seorang teman lama.

Kau melewatinya seolah-olah kau tidak mengenalnya, seolah kau tidak tau ada orang itu di dunia yang kau tinggali.

Taemin menoleh ke belakang, melihat punggungmu dan namja itu yang semakin menjauh dari jangkauan pandangnya. Taemin tersenyum kecil, bahagia karena kau terlihat baik-baik saja.

Ia tidak akan pernah bisa membencimu, meski kau bersikap dingin padanya, meski kau menghinanya. Baginya, kau boleh saja melupakan dia untuk saat ini, karena kau merasa bahagia, ia tidak membencimu. Tapi ingatlah, ketika kau sedang terluka dan membutuhkan seseorang, Taemin akan selalu ada untukmu.

Yang diinginkannya hanyalah melihat senyum diwajahmu lagi—tidak peduli siapa yang membuatmu tersenyum, tidak peduli siapa yang mendapatkan senyumanmu.

Untuk terakhir kalinya—sebelum ia meninggalkan Seoul—ia ingin melihat senyuman yang ia rindukan. Ia akan mengingat senyum milikmu yang ia lihat hari ini.

Taemin kembali masuk ke dalam mobilnya. Pandangannya tertuju pada selembar tiket yang tergeletak diatas dashboard mobilnya. Ia tidak tau kapan ia akan kembali, tapi satu hal yang pasti, ia akan selalu menunggumu.

The End


a/n ::.

Sad ending =(

Or, anyone want a sequel??
lol XDD

18 thoughts on “For you it’s separation, To me it’s waiting”

  1. berasa bgt sedihnya….sampe nangis aku…
    mana bacanya sambil denger lagunya Jang Jae In – Please….
    gag tega aku ngliat taemin kea gitu…..
    TT_TT
    FFnya daebak, klo bs buat lagi FF kea gini…
    oya, sequel jg oke…

  2. aaaa bagus bgt. Daebak author. Jarang2loh nemu sad ending. 2min emang daebak. Cinta bgt sama minho taemin. Taemin yg sabar ya sayang.. Aku sama minho selalu merhatiin kamu kok. #gila

  3. Tragis banget.. TT^TT
    andwaee.. Oppaku tersayang.. Sini..sini.. Jangan nangis utk ‘dy’.. Dong saengmu ini akan selalu mensupportmu.. =(

  4. Taemin-ah ~
    lupakan ‘dia’ ada aku disini :’)

    sekuelnya wajib thor,
    pengennya taemin ketemu ama yeoja yg bisa bikin taemin ngelupain ‘dia’. Soalnya gak tega liat taemin kek gitu ToT *peluk taemin*

  5. Haduh.. Taemin oppa nya kasian banget.
    Nyedihin banget deh ngeliat taemin oppa kayak gitu.
    Unn, kalo mau bikin sequelnya yang happy ending ya unn.
    Huhuu. ._____.

  6. Duuuuuhhh…kasihan bgt Taemin oppa… Lupain ‘dy’ ada aq dsini yg slalu mnemanimu baik sk maupn duka…
    Mau donk squelx..yg happy ending z ya..!!! Daebak bwt author!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s